Part 2

Taeyong menatap deretan alphabet yang tersusun rapi di depan pintu kelas barunya. Bertuliskan Welcome to 10-Anjay

Kedua alis Taeyong bertautan, tak mengerti kenapa nama kelasnya 10 anjay, biar kekinian atau apa?

"LEE TAEYONG"

Otomatis leher Taeyong menoleh ke belakang dan mendapati teman Jepang nya itu sedang berlari kearahnya, senyum Taeyong pun mengembang.

"Halo, Nakamoto!" seru Taeyong sambil menghambur ke dalam pelukan Yuta.

"Wah, aku kira kau akan lanjut homeschooling"

"Tidak! Homeschooling itu sangat membosankan, Yuta"

Yuta mengangguk setuju, ia tahu bagaimana bosan nya homeschooling. Bisa dilihat dari aktivitas belajar privat Taeyong dengan gurunya, hanya berdua, Yuta tahu karena ia pernah mengintip dari jendela besar yang berada dirumah Taeyong. Berkali-kali Yuta melihat Taeyong mendesah pelan akibat suasana belajar yang terlalu monoton.

"Kau tahu, Tae? Aku tidak menyangka kalau Daddy mu yang super protektif itu membiarkanmu keluar dari rumah seperti ini. Apalagi jadwal kita di sekolah sangat padat, pasti bisa-bisa kita pulang sore"

Taeyong blushing seketika. Mendapatkan izin untuk sekolah diluar seperti sekarang ini tidak mudah untuk Taeyong, ia harus rela mendesah hingga pukul empat pagi serta berjalan terseok-seok selama seminggu untuk mendapatkan kesempatan emas ini, ya walaupun sebenarnya Taeyong juga mendapatkan keuntungan yang lebih sih.

"Uhm ya aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba Daddy mengizinkan ku" ucap Taeyong berdusta dan tentu saja Yuta tidak tahu.

Taeyong dan Yuta meletakkan tas mereka di dalam kelas kemudian mereka bergegas ke lapangan untuk mengikuti upacara siswa baru ketika pengumuman di kumandangkan melalui speaker sekolah.

.

.

Taeyong menekuk wajahnya kesal. Gara-gara Yuta ia jadi kena hukuman dari sunbae nya.

Tadi, saat upacara pembukaan, Yuta meminta Taeyong untuk menemaninya ke toilet karena ia sudah tidak tahan untuk buang air besar.

Taeyong mau tidak mau ikut dengan Yuta dan menunggu di depan. Namun sialnya salah satu sunbae nya mendapati Taeyong yang sedang berdiri menyender di dinding dekat toilet.

"Hey, sedang apa disitu? Kabur upacara ya?"

"Ne? ah t-tidak sunbae aku—"

"Ikut aku sekarang"

Sekarang disinilah Taeyong, ruang OSIS. menunggu sunbae yang akan memberi nya hukuman. Karena sunbae yang tadi sudah lebih dulu pergi karena katanya ada urusan. Cih sok sibuk.

Sosok bertubuh tinggi dengan lengan atletis yang kekar muncul ketika Taeyong sedang asik-asiknya ngupil, sontak Taeyong menarik jari telunjuknya yang tadi sempat mengoyak-ngoyak isi lubang hidungnya kemudian berpura-pura bersenandung.

"Jadi, kau murid tingkat satu yang kabur saat upacara tadi?"

Taeyong menggeram kesal.

"Tidak sunbae, aku tidak kabur!"

"Lalu apa yang kau lakukan bersender di dinding dekat toilet belakang, Lee Taeyong?"

Mata Taeyong membulat, darimana sunbae nya itu tahu nama nya. Setahu Taeyong ia belum mendapatkan badge nama deh.

"Aku menemani temanku yang sedang di dalam toilet, memangnya kenapa? Aku salah?" kata Taeyong yang terdengar menantang di telinga si sunbae itu.

"Aku kira kau tidak berani bicara seperti itu, Taeyongie"

Apa? Taeyong tidak salah dengar kan? Taeyongie?

"Maaf sebelumnya sunbae, yang boleh memanggilku seperti itu hanya Daddy dan Yuta"

Sunbae itu mengangkat satu alisnya kemudian terkekeh pelan.

"Anak papa, hm? Menarik juga"

Taeyong mengepalkan tangan nya berusaha tidak marah akibat kata-kata sunbae itu.

"Aku bukan anak papa!" tolak Taeyong

"Yah, terserah. Hukuman mu sekarang adalah rapikan buku di perpustakaan sesuai dengan data ini"

Sunbae nya itu memberikan sebuha kertas kecil yang berisikan data-data buku perpustakaan, dan seketika Taeyong ingin muntah melihatnya. Sangat banyak. Taeyong jadi tidak yakin kalau hukuman nya bisa cepat selesai.

"Tenang saja, perpustakaan kita punya komputer"

Taeyong mendesah lega, setidaknya benda itu dapat membantunya.

.

.

"Jadi, bagaimana hari pertamamu, yongie?"

Jaehyun membenarkan posisi duduk Taeyong dipangkuan nya, agar Taeyong dapat duduk dengan nyaman.

"Tadi aku di hukum, Daddy"

Jaehyun mendelik, siapa yang berani menghukum Taeyong nya?

"Di hukum karena apa, sayang?"

Taeyong menarik nafasnya kemudian langsung menceritakan apa yang terjadi pada nya saat di sekolah tadi secara cepat. Kemudian Jaehyun -sang ayah over protektif- mengepalkan tangan nya hingga telapak tangan nya memutih, ia menahan amarahnya. Hanya Jaehyun lah yang boleh menghukum Taeyong, orang lain tidak memiliki hak atas Taeyong nya dan Jaehyun akan membuat orang yang berani macam-macam dengan Taeyong dikuburi secepatnya.

"Siapa nama sunbae mu itu?" tanya Jaehyun sambil menghirup aroma tubuh Taeyong, cara paling ampuh untuk meredam amarah nya.

"Ahh— Jennie? Junnie? Johnny? Aku tidak tahu, Daddy! Namanya susah!" Taeyong mendesah pelan ketika bibir Jaehyun menempel sempurna di ceruk lehernya.

"Baiklah, Daddy akan memberinya pelajaran besok"

"Ja—Ahh!"

Taeyong tidak bisa menahan teriakan nya ketika tangan Jaehyun mulai menelusup ke dalam baju sekolahnya dan mengelus dada nya.

"Daddy.. Jangan disini, sempit" bisik Taeyong pada Jaehyun.

Kemudian Jaehyun langsung menancap gas dan melesat pergi. Jaehyun harus menuntaskan ini dulu, setelah itu baru urusan si sunbae sialan yang menghukum Taeyong nya itu.