A/N: Ku saran kan mendengarkan lagu Le Noir B.A.P.
Silahkan membaca.
Alunan musik jazz mengalun memenuhi ruangan ketika seorang pria tampan memasuki bar terkenal di ujung kota. Bar yang mengangkat tema tahun 90'an itu tergolong sepi hari ini saat langkah kaki sang pria tampan membawanya masuk lebih dalam. Alunan musik dari sang pianis begitu memukau menemani para pengunjung walau alunan musik dari tangan terlihat itu sarat akan kesedihan.
Meja panjang pembatas sang peracik minuman di bar ini di isi beberapa orang yang tengah menikmati minum mereka dalam tenang atau sekedar menunggu minuman yang tengah di racik oleh peracik handal bar. Keadaan penerangan yang redup kekuningan sedikit remang menambah suasana tenang namun sedikit mellow.
Melangkahkan kaki menuju meja dimana peracik handal bar berada, sang pria tampan baru sadar beberapa pengunjung di deretan meja bundar yang terpisah-pisah terlihat murung, lima dari sepuluh pengunjung memilih menikmati dua sampai tiga batang rokok dengan asap yang berhembus dari celah bibir mereka, sisanya memilih menikmati tegukan scotch di dalam gelas bening mereka yang sudah beberapa kali kosong.
"Selamat malam tuan. Ada minum yang ingin anda nikmati?"
Sang peracik minuman menyapa ketika pria tampan bersandar di meja panjang pembatas sang peracik tersebut menggunakan siku tangannya. Cara sang peracik menyapa terdengar cukup unik di telinganya, perawakan tubuh yang tinggi berisi dengan wajah yang cukup tampan di balik sapaan unik setidaknya mampu menarik hati kaum hawa jika beruntung kaum adam.
"Malam, Red Wine."
Sang peracik mentapnya lalu memberikan senyum miring. "Jarang sekali ada yang memesan minum Red Wine disini tuan, lebih banyak para pelanggan memilih Bir atau pun Whiskey sebagai peneman malam mereka."
Pria tampan itu hanya mengangguk, matanya memandang sang pianis yang masih asik bersama pianonya lalu mentap kearah panggung yang kali ini terlihat ada seorang pria manis duduk disana.
"Jika, boleh tahu siapa nama anda tuan?"
Pria tampan itu mengembalikan fokus pada peracik minuman. "Kim Himchan."
"Baiklah, tuan Kim."peracik tersenyum lebar. "Nikmati malam mu dan minuman mu akan di antar kan sebentar lagi."
Pria tampan kita yang memasuki bar bernuansa tahun 90'an itu memilih menunggu minumnya di meja pojok yang jauh dari pengunjung lainnya. Dari tempat Himchan duduk ia bisa melihat jelas sang pianis masih asik menekan tuts tuts piano dengan penuh kehati-hatian, di atas panggung seorang pria berwajah manis mengelus mic layaknya seorang kekasih saat suara lembutnya mengalun indah memenuhi bar. Mata pria manis memandang sendu demi menghayati lirik lagu yang terucap di kedua belah bibir itu, sesekali matanya terpejam saat mengucapkan lirik lagu.
"Ini minum anda, selamat menikmatinya tuan."
Seorang pelayan wanita datang mengatar minumannya, segelas Red Wine telah menunggu dalam tenang di suasana tenang. Mengambil gelas berisi Red Wine tersebut tangannya mengelus pinggiran mulut gelas perlahan dengan mata yang masih tertuju pada sang pria manis, menghentikan acara mengelus, tangannya membawa gelas lebih dekat dan menghirup aroma Red Wine begitu di gilai semua orang.
Memutuskan untuk menikmati minum mahal tersebut secara perlahan matanya tak lepas memandang dari sosok sang penyanyi yang kini balas menatap kearahnya walau keadaan pencahayaan yang minim. Menyesap sedikit demi sedikit Red Wine di temani alunan lagu dari suara lembut sang penyanyi bar membuatnya terhanyut, lagu berganti walau musik tetap begitu mellow, pandangan mata mereka berdua tidak terlepas satu sama lain.
Setiap tegukkan yang diambil Himchan membawa sensasi menyenangkan, saat mata itu terpejam lagi mata begulir memperhatikan bentuk wajah yang begitu pas bagi pria manis itu. Menuang kembali minuman berakoholnya dan di biarkan begitu saja, Himchan bersandar pada sandaran sofa untuk menikmati iringan musik berserta lagu yang di nikmatinya biar pun baru pertama kalinya di dengar olehnya.
Sejam berganti dua jam hingga bar mendekati waktu tutup penyanyi berwajah manis itu pun turun terburu-buru dari panggung saat alunan musik berhenti, meninggalkan sedikit kekecewaan Himchan yang berniat mengenal sosok manis memikat hatinya tersebut.
"Kau memenuhi undangan ku?"
Sang pianis yang begitu di kenal olehnya telah mendudukkan diri di sampingnya begitu dekat, suara berat membawa candu menyapa gendang telinga.
"Ya."
Ia menjawab pertanyaan itu sambil menikmati Red Wine yang sempat terabaikan. Matanya sempat mencuri pandang kearah pintu yang menelan sosok manis itu.
"Kau sepertinya menikmati keadaan Bar ini bukan?"
Ia memoles sebuah senyum, kini fokusnya di haruskan kearah sang pianis. Seseorang yang telah mengundangnya kesini.
"Ya, aku menikmatinya."
Mata tajam, tertutupi oleh anak rambut yang sengaja di tata berantakan menyiratkan makna lain dari pertanyaan tadi.
"Bagaimana dengan permainan piano yang ku bawakan?"
"Aku sangat menyukainya."terutama pada pria manis di atas panggung tadi. Himchan hanya berani meneruskan perkataannya darinya dalam hati.
"Bagaimana dengan pria di atas panggung tadi?"
"Cukup mengimbangi permainan piano mu."
Sang pianis tersenyum sinis, tangan kanan yang sejak tadi bertengger di bahun kananya meremas bahu itu pelan, tangan kiri mengusap pelan sisi wajahnya. Himchan menggigit pipi bagian dalam. Suasana bar yang sepi hanya tertinggal ia, sang pianis , serta peracik minuman yang berusaha tak tahu menahu sedikit membuat ia gelisah.
"Bagaimana dengan pria itu sendiri?"
Himchan berkedip lalu memberanikan diri mengecup bibir tebal sang pianis bersamaan matanya menangkap wajah manis pria yang memikat hatinya. Menjauhkan wajah ia menatap mata yang masih memberikan tatapan yang sama.
"Cukup sempurna."
"Bukan itu jawaban yang ku inginkan, Kim Himchan."
Ia berusaha membuat wajah agar tidak terlihat panik saat sang pianis menyebutkan nama lengkapnya. "Apa jawaban yang kau inginkan, Yongguk-ah?"
Sang pianis -Bang Yongguk- memberi seringai mengerikan bersamaan dengan di tariknya ia keluar bar tanpa sempat membayar minumnya. Malam ini mungkin menjadi malam yang panjang lagi baginya di bawah kukungan posesif Bang Yongguk tanpa mampu bebas mengejar kebahagiaannya sendiri yang telah terpikat oleh pesona pria manis penyanyi bar milik Bang Yongguk yang menjabat menjadi kekasihnya tersebut.
Le Noir
If I never knew you
If never knew the love
I Just wanna feel this moment
Le Noir
never knew you
If I never knew the love
I don't hate you like yesterday
The End
A/N: Cerita ini terinsipirasi dari salah satu blog yang membahas tentang album baru B.A.P Noir kemarin. Ada kata-kata dari sang pemilik blog sangat ku suka maka dari itu aku berusaha menuliskan apa yang aku pikirkan saat membaca kata-kata itu walau tidak sempurna sih cerita ku. Dimedia itu ss dari link yang kata-kata ku suka.
