Recomended song : Park Hyo Shin – Snow Flower
.
.
.
==== Missing You ====
.
.
.
Baekhyun memejamkan matanya dan menghela nafas panjang menikmati angin sore di sebuah taman dekat Sungai Han. Suasananya cukup sepi, hanya ada beberapa pejalan kaki dan pasangan kasmaran yang bergandengan tangan menikamati indahnya pemandangan disana. Membuat Baekhyun mengingat masalalunya dengan Chanyeol. Dulu Chanyeol akan menitipkan si kembar yang masih bayi pada mama Park, sementara dia dan istrinya berkencan, walaupun hanya sekedar berjalan mengelilingi taman tapi mereka menikmati waktu berdua yang terbilang jarang karena kesibukan Chanyeol menjadi seorang direktur baru.
Baekhyun ingin sekali mengulang memori indah , seketika dia tersenyum pahit, mengingat kejadian pagi tadi, dia seolah dapat melihat apa yang akan terjadi pada keluarganya setelah dia mati. Jiwon yang sangat bahagia dengan kedatangan 'hyung' –nya itu. Jesper yang sempat marah, berubah menjadi akrab karena Kyungsoo menjanjikan boneka baymax besar seperti aslinya pada Jesper, dan Jesper suka itu, karena dia tidak bisa membujuk Baekhyun beratus kali pun. Baekhyun selalu bilang bahwa Jesper sudah memiliki satu, tapi dia harus berbagi dengan kembarannya yang juga penggemar robot putih gembul itu. Jesper ingin egois kali ini. dia ingin Baymax seutuhnya menjadi miliknya. Dengan perubahan Jesper yang sudah menerima kehadiran Kyungsoo membuat Chanyeol yang awalnya terlihat canggung, kala itu senyum di bibirnya tak pernah luntur. Berbeda dengan Jackson yang hanya terdiam menikmati sup asin buatan ibunya, tidak sekalipun menyentuh makanan yang dibawa Kyungsoo, tidak pula tertarik dengan janji yang diucapkan Kyungsoo, dan kembali kekamar setelah sarapannya habis. Mebuat Baekhyun khawatir padanya.
Sudah 20 menit dia duduk di bangku taman itu untuk menunggu seseorang, sampai akhirnya suara yang sangat ia kenal membuat Baekhyun tersadar dari lamunannya.
"Baekhyun-ssi, maaf menunggu lama. Apa yang ingin kau bicarakan?"
"Oh, Kyungsoo-ssi. Kukira kau tak akan datang. Duduklah dulu."
.
.
.
.
.
.
.
.
"Monster! Matilah kau! Shut shut shut" Teriak Jiwon yang hanya menggunakan celana dalam melompat-lompat di kasur sambil mengarahkan pistol mainan yang bercahaya pada Chanyeol.
"Akh, tidak pangeran. Ampuni aku." Chanyeol meringis, memegang dadanya seolah terkena tembakan lalu terjatuh diatas ranjang sembari memeluk Jiwon.
Sudah satu jam Chanyeol menemani Jiwon bermain, tapi Jiwon masih sangat aktif, sementara Chanyeol sudah lelah berlari mengitari isi apartemen mengejar Jiwon yang tak mau mandi dan malah mengajaknya bermain 'Monster dan Pangeran' .
"Appa! Lepaskan!" Rengek Jiwon berusaha keluar dari kukungan Chanyeol. Tapi Chanyeol tidak menghiraukannya dan langsung menggendong anak bungsunya itu ke kamar mandi.
"Waktunya mandi pangeran, Monster sudah kalah, permainan selesai."
"Jiwon tidak mau!" Jeritnya. dia memberontak masih berusaha melepaskan diri dari gendongan ayahnya. Namun tenaga Chanyeol jauh lebih kuat, dia mendorong pintu kamar mandi dengan kaki kanannya, dan segera mendudukan Jiwon di bathtub. Saat Chanyeol tengah membuka bajunya agar tidak basah, Jiwon yang cerdik bangkit dan berlari keluar dengan mudah karena pintu tidak dikunci sebelumnya.
"Park Jiwon kembali!"
Chanyeol bergegas menyusul Jiwon dengan hanya memakai singlet hitam untuk menutupi perut kotak-kotaknya. Namun sayang, Jiwon anak yang lincah, dia sudah berlari jauh dan segera bersembunyi dibawah meja makan yang tertutup oleh taplak. Chanyeol sempat melihat kaki Jiwon sebelum anaknya itu bersembunyi. Dia hendak menangkap Jiwon tapi tangannya tiba-tiba di pegang Jesper yang membawa buku tulis dengan wajah yang cemberut.
"Appa! Bantu Jesper mengisi soal matematika ini."
"Sebentar ya sayang, appa mandikan dulu Jiwon. Kembalilah kekamarmu, tunggu di meja belajar. Nanti appa menyusul."
"Jesper ingin sekarang! Jackson menyebalkan appa, dia tidak mau memberitahuku padahal sudah selesai."
Dan saat itu juga Jiwon keluar dari tempat persembunyiannya dan kembali berlari."Appa tangkap Jiwon!"
Chanyeol menarik nafas dan mengeluarkannya kasar. Dia tak habis pikir bagaimana cara Baekhyun mengurus anak-anaknya yang sangat lincah dan cengeng ini. Walaupun Chanyeol adalah orang nomor satu diperusahaannya pekerjaannya selalu menempuk dan tidak bisa diwakilkan, oleh sebab itu dia selalu pulang ketika anak-anaknya bersiap untuk tidur, dan Chanyeol hanya tinggal membacakan buku dongeng jika mereka meminta, terkadang dia bermain sampai ketiga anaknya tertidur disofa karena kelelahan, lalu Chanyeol akan memindahkan mereka satu persatu ke kamar masing-masing. Dihari libur pun, dia tidak selelah hari ini, karena Baekhyun ada bersamanya. Ibu dari ketiga anaknya itu selalu punya cara untuk membuat anak-anak tenang.
Kini Chanyeol pulang sangat awal karena Baekhyun memintanya untuk menjaga anak-anak selagi dia pergi ke dokter untuk chek up rutin. Chanyeol hendak mengantarnya, namun Baekhyun bersikeras untuk meminta Chanyeol tetap menemani ketiga anaknya dirumah.
"Appa! Jiwon pipis di komik limited edisionku!" teriak Jackson dari dalam kamar, disusul suara tangisan Jiwon disana. Sementara Jesper masih merajuk dan memukul pelan kaki sang ayah.
Chanyeol kembali menghela nafas berat.
"Ya Tuhan"
.
.
.
==== Missing You ====
.
.
.
Keesokan harinya,
Baekhyun tengah mengganti sprai yang ada dikamar Jiwon. Serta memasang sarung bantal dan guling dibantu oleh Jesper dan Jackson.
"Umma, siapa yang datang? Apa halmeoni sudah kembali dari Busan? Apa halmeoni akan menginap disini?" Jiwon terus mengikuti langkah ibunya karena penasaran tiba-tiba saja ummanya meyuruh untuk tidur dengan kedua hyungnya malam ini.
"Bukan, hanya teman umma."
"Kenapa dia tinggal bersama kita?" giliran Jackson yang bertanya.
Baekhyun terdiam sejenak dan menoleh kearah Chanyeol yang menatap tajam kearahnya menyandar di ambang pintu dengan kedua tangan dilipat didada.
Kemarin malam Baekhyun pulang ketika anak-anak sudah tidur. Mereka tidur lebih awal dari jam biasanya./ Mungkin karena terlalu lelah membuat Chanyeol kesal?/ . dan dia melihat Chanyeol yang duduk diranjang dan menatap lurus ketika Baekhyun baru saja membuka pintu kamarnya.
"Apa Dokter Oh itu punya banyak pasien sehingga kau harus mengantri dan pulang terlambat? Lima jam Baek! Apa yang kau lakukan dirumah sakit? Setauku chek up tidak akan membutuhkan waktu yang lama."
Baekhyun menundukan kepalanya.
"Maaf. Tapi Chan..." Baekhyun berjalan menghampiri Chanyeol menyisakan jarak cukup dekat. Chanyeol pun berdiri dan menunggu Baekhyun menyelesaikan kalimatnya.
"Besok pagi temanku akan datang dan tinggal disini untuk membantuku. Jadi kau tidak perlu menyewa seorang maid."
"Apa dia orang baik-baik?"
"Tentu saja, kau juga mengenalnya." Baekhyun sedikit tersenyum.
"Siapa?"
"Kyungsoo."
Hening beberapa detik. Raut wajah Chanyeol pun berubah gusar.
"Kenapa harus dia?"
"Karena kau mencintainya, karena anak-anak sudah kenal dengannya. Jadi aku pikir inilah saatnya untuk berheti egois. Dan aku mencoba percaya pada Kyungsoo, sehingga nanti aku bisa pergi dengan tenang." kata demi kata diucapkan Baekhyun dengan lancar seakan dia sudah menyipaknnya. Tangannya terkepal erat, Baekhyun berusaha tidak menangis, untuk kali ini saja dia tidak ingin terlihat lemah dihadapan Chanyeol.
"Kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri Baek, aku tidak setuju. Aku bisa carikan yang lain untuk membantumu."
Chanyeol berbalik menuju ranjangnya dan bersiap untuk tidur meninggalkan Baekhyun yang masih diam mematung dengan air mata yang gagal ia tahan.
.
.
.
"Umma! Aku bertanya kenapa teman umma tinggal bersama kita?" tanya Jackson menyadarkan sang ibu.
Baekhyun tersenyum dan mengelus wajah Jackson.
"Untuk membantu umma. Jika dia sudah datang, Jesper, Jackson dan Jiwon harus membantunya juga oke?" Ucap Baekhyun sambil mengelus wajah ketiga anaknya satu persatu.
TING TONG. suara bel di kediaman keluarga Park berbunyi.
"Oh apakah itu dia? " Tanya Jesper.
"Jiwon akan membukanya." Teriak Jiwon berlari menuju pintu. Disusul oleh kedua hyungnya yang penasaran.
Baekhyun kini membereskan nakas kecil disamping ranjang dan melihat sebuah bingkai foto pernikahan dia dan Chanyeol yang selalu dipandangi Jiwon sebelum tidur. Baekhyun pandangi sebentar foto yang menampilkan dua pria dengan tuksedo hitam dan putih, pria yang menggunakan tuksedo hitam tersenyum terpaksa kearah kamera, sedangkan pria disampingnya terlihat bahagia. Baekhyun menghela nafas dan hendak memasukannya kedalam laci.
"Tetap disana." Chanyeol menghampiri Baekhyun dan mengambil pigura berukuran kecil itu dan meletakannya kembali seperti semula. Kemudian Chanyeol meraih tangan Baekhyun.
"Baekhyun, apa yang kau lakukan?"
"Apa yang bisa aku lakukan? Mereka membutuhkan sosok ibu setelah aku pergi."
"Tidak ada yang yang bisa mengambil tempatmu."
Baekhyun menatap Chanyeol dalam. Lalu apa maumu sialan!
"Umma! Kyungsoo hyung datang. Soo hyung datang!" Pekik Jesper dan Jiwon bersamaan.
"Soo hyung membawa boneka baymax yang besar! Ahjussi pengantar barang sedang meletakkannya dikamarku umma! Aku akan pergi melihatnya!" Jesper meloncat kegirangan memberitahu ibunya dan dengan cepat berlari kearah kamarnya.
Baekhyun merubah ekspresinya seketika, dia tersenyum menyambut kedatangan Kyungsoo yang membawa tas besar di genggamannya. Tapi disisi lain Jackson menatap tajam pada ibunya. Dia menggeleng pelan dan berlalu pergi. Kyungsoo melihatnya dan langsung menundukan kepala.
"Hai Kyungsoo" Baekhyun menghilangkan embel-embel ssi karena kesepakatan mereka kemarin untuk tidak terlalu formal.
"Mulai sekarang, ini adalah kamarmu." Baekhyun mempersilahkan Kyungsoo masuk.
"Ayo Jiwon, biarkan Soo hyung sendiri oke?" Baekhyun mengajak Jiwon keluar kamar dan meninggalkan Chanyeol dan Kyungsoo disana. sebelum pergi, Baekhyun menatap Chanyeol dan sedikit tersenyum kearaahnya.
Kyungsoo berjalan menghampiri ranjang dan menyimpan tas besarnya disana.
"Kyungsoo..." Gumam Chanyeol menghampiri Kyungsoo.
"Jika aku berada di posisi Baekhyun, aku juga akan melakukan hal yang sama" Kyungsoo tersenyum lembut menatap Chanyeol. Dan Chanyeol pun segera memeluk Kyungsoo erat.
.
.
.
.
Malam harinya, Kyungsoo memasak banyak makanan. Makanan enak yang memenuhi meja makan. Chanyeol menghampiri dengan Jiwon yang berada digendongannya.
"Wah kelihatannya sangat enak."
"Yeay! Jiwon suka sekali makanan Soo hyung!"
Kemudian Baekhyun datang menggandeng Jesper dan Jackson. Dan mereka pun mengambil tempat masing-masing bersiap untuk makan malam pertama dengan Kyungsoo^^
"Umma Jesper lupa, ada tugas membuat tabel perkalian 20-50 besok harus dikumpulkan. Umma bantu Jesper ya! Jackson pelit!"
Jesper memanyunkan bibirnya, mendelik kesal ke arah Jackson. Sedangkan saudara kembarnya juga menatap kesal kearah Jesper. Baekhyun terlihat berpikir sejenak. Dan akhirnya dia memutuskan memberi Kyungsoo kesempatan untuk lebih dekat dengan anak-anaknya.
"Mmm... hari ini umma sangat lelah dan ingin cepat tidur. Biarkan Kyungsoo hyung membantumu malam ini."
"Soo hyung pasti sibuk."
Kyungsoo lalu mentap Jesper dengan senyum berbentuk hatinya.
"Jangan khawatir! Hyung akan membantu Jesper menggunakan cara yang cepat."
"Wah daebak! Jika aku sudah besar, aku ingin menjadi pintar dan bekerja di perusahaan, seperti hyung." Jesper tertawa. Namun, Jackoson malah tersenyum mengejek.
"Aku akan mewujudkan impian umma menjadi seoarang dokter karena Aku sudah pintar! . Aku selesai!"
Jackson mendorong kursinya dan berjalan pergi meninggalkan ruang makan, panggilan Baekhyun dan Chanyeol pun tidak didengar olehnya.
"Aku akan menyusul Jackson" Kyungsoo bangkit dari kursinya dan pergi mengikuti Jackson.
.
Kyungsoo berjalan hati-hati menghampiri Jackson yang termenung di balkon kamarnya.
"Aku membencimu, kau tidak pernah bisa mengambil tempat umma" ketus Jackson melihat Kyungsoo sudah berada disampingnya.
"Aku tahu... aku juga tidak ingin." Jackson mendongakkan kepala menatap Kyungsoo yang lebih tinggi darinya.
"Lalu kenapa kau disini?"
"Aku akan membantu umma mu, tapi tanpa bantuanmu, semuanya akan menjadi sia-sia. Jadi tolong bantu aku."
Jackson terdiam cukup lama, namun akhirnya dia menyadari kondisi ibunya tak seperti dulu, umma butuh bantuan. Dan dia pun segera menganggukan kepalanya.
"Baiklah."
.
.
Kyungsoo kembali kekamarnya, melepas penat setelah menyelesaikan pekerjaannya yang baru selesai pada pukul 1 dinihari, besok dia harus menemani Kris menghadiri rapat penting, jadi dia harus segeraa tidur. Namun, sebuah bingkai foto menyita perhatiannya. Foto pernikahan Chanyeol dan Baekhyun. Kyungsoo mengambil figura itu dan tersenyum miris.
"Kau sudah berubah Chan. Kau berbeda dari Chanyeol yang kutinggalkan 9 tahun lalu."
.
.
.
.
.
==== Missing You ====
.
.
.
.
"Soo, aku tunggu di parkiran. Ayo anak-anak." Chanyeol meninggalkan Kyungsoo yang kebingungan mencari berkas penting untuk rapat siang ini bersama Kris.
setelah beberapa langkah Jackson menghentikan langkahnya.
"Appa, aku akan menyusul nanti." Jackson kembali ke apartemen.
"Kau ingat terakhir kali menyimpan berkas itu?" Tanya Baekhyun membantu mencari.
"Aku yakin meninggalkannya di meja ini. Tapi tidak ada. aku bisa terlambat." Kyungsoo panik mencari diseluruh celah. Tiba-tiba Jackson menghampiri dan memberikan sebuah map hitam pada Kyungsoo.
"Apa ini yang kau cari?"
"Oh benar." Kyungsoo mengambil map hitam itu dari tangan Jackson.
"Jackson menemukannya dimana?" Tanya Baekhyun.
"Tadi aku melihatnya dibawah meja, kukira kau sudah menemukannya, ternyata kau ceroboh." Ucap Jackson menatap Kyungsoo.
"Jackson jangan berbicara seperti itu." Baekhyun memperingati.
"Aku memang kadang ceroboh. Terimakasih Jackson." Kyungsoo tersenyum dengan lembut.
"Sama-sama... Hyung."
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kyungsoo kita mampir ke toko kue, " Chanyeol memarkinkan mobilnya didepan toko. Hari sudah malam, seperti biasa Chanyeol akan menjemput Kyungsoo setelah pulang bekerja.
"Bukankah seharusnya kita membeli makanan untuk makan malam?" Kyungsoo melepas seat belt dan menatap Chanyeol.
"Untuk Baekhyun. Dia sangat suka strawberrycake. Rasanya sudah lama aku tidak membelikan kue itu untuknya." Chanyeol segera keluar dari mobil, sementara Kyungsoo menatap Chanyeol dari dalam mobil.
Jangan berpura-pura lagi dihadapanku yeol... kau jelas sangat mencintainya. Dan aku hanya masa lalumu yang terpaksa kau cintai karena rasa bersalah.
"Kau tidak akan turun?" suara Chanyeol yang kembali membuka pintu mobil menyadarkan Kyungsoo.
"Aku menunggu disini saja."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hari ini adalah hari ulang tahun Jiwon, ruangan tengah apartemen dihias oleh balon berwarna warni serta berbagai hiasan pesta ulang tahun di setiap sudut, kue besar bertingkat 3 yang dihiasi lilin angka 5 dan lilin kecil disekitarnya sudah siap untuk ditup oleh sang pemeran utama hari ini yang telah memakai baju khas pangeran dengan mahkota berwarna emas dikepalanya, nampak nyata seperti seorang pangeran cilik di kartun-kartun yang ia tonton. Sementara Chanyeol memakai kostum raja, sedangkan Baekhyun harus rela memakai gaun seperti seorang ratu demi ulang tahun putra bungsunya itu. Jesper, Jacksoon dan Kyungsoo berkostum pengawal, yang sempat membuat Jesper marah karena Jiwon yang menyuruhnya. Menurutnya kostum itu tidak keren.
"Saengil chukha hamnida... Saengil chukha hamnida.. Saranghaneun uri Jiwon, Saengil chukha hamnida."
"Buatlah permintaan, dan tiup lilinnya sayang." Baekhyun tersenyum membelai kepala Jiwon lembut. Jiwon mengangguk semangat dan tersenyum bahagia.
Jiwon memejamkan matanya erat dengan kedua tangan yang terkepal didepan dada.
"Ya Tuhan, Jiwon ingin selalu bahagia bersama umma, appa, Jesper hyung, Jackson hyung, dan Kyungsoo hyung. Tapi apa Jiwon bisa? Kata jack hyung, umma sedang sakit. Jiwon mohon sembuhkanlah umma Ya Tuhan."
"Jiwon, tidak ingin kehilangan umma, Jiwon ingin umma menemani Jiwon hingga Jiwon menjadi harabeoji nanti, tapi kata Jesper hyung, umma akan pergi. Jiwon tidak tahu umma akan pergi kemana. Tapi jangan jauhkan Jiwon dari umma Ya Tuhan. Jiwon janji akan jadi anak baik. Karena Jiwon sayang umma, Jiwon juga sayang appa, Jes hyung, Jack hyung, Soo hyung. Jaga mereka untuk Jiwon Ya Tuhan." Jiwon segera meniup lilin dan membuka matanya kembali.
Suasana menjadi hening. Jiwon sempat kebingungan, namun pekikkan ibunya membuat semua orang tersadar dan langsung bertepuk tangan.
"Yeay, selamat ulang tahun sayang. Umma juga sayang Jiwon" Baekhyun memeluk erat Jiwon dan menghapus jejak air mata di pipinya,
"Appa juga menyayagi Jiwon. Kami semua sayang Jiwon."
"Selamat ulang tahun adik cengeng!"
"Aku juga menyayangimu uri Jiwon."
"Selamat ulang tahun yang ke lima Park Jiwon."
.
.
Saatnya membagi kue yang telah dipotong. Jiwon memberi Baekhyun potongan pertama, tapi tiba-tiba saja Baekhyun merasakan mual yang hebat dan segera membekap mulutnya lalu segera berlari ke kamar mandi dengan susah payah karena kostum ratu yang dipakainya.
"Huweeeek" Baekhyun hanya memuntahakan potongan kue tadi dan air liur.
"Baek, kau baik-baik saja?" Chanyeol segera menghampiri dan meraih bahu Baekhyun.
Baekhyun terus saja mencoba memuntahkan sesuatu diperutnya namun tak berhasil. Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya, jika karena penyakitnya, dia akan langsung memuntahkan isi perutnya, namun ini berbeda.
Baekhyun mencuci cepat mulutnya, dan menoleh ke arah Chanyeol.
"Aku tidak apa-apa, ayo lanjutkan pestanya."
"Tidak, kau harus berbaring sebentar" Chanyeol merengkuh pinggang Baekhyun dan berjalan ke ranjang mereka.
"Tapi Chan, Jiwon akan marah nanti."
"Dia tidak akan bisa marah pada ibunya, kau dengar permohonannya tadi? Kau harus sembuh."
Perlahan-lahan mata Baekhyun tertutup, dia memang cukup lelah karena menyiapkan pesta ulang tahun Jiwon bersama Kyungsoo. Tidak perlu waktu lama, Baekhyun pun tertidur.
Chanyeol menaikan selimut sebatas dada dan mengecup kepala Baekhyun.
"Maafkan aku."
.
"Jesper, Jackson kembali kekamar kalian oke? " Perintah Kyungsoo, mereka pun mengerti ibunya harus banyak istirahat dan berlalu pergi walupun mereka sangat mengkhawatirkan keadaan ibunya.
"Apa umma baik-baik saja?Kenapa umma muntah? Apa kuenya tidak enak? Ini pasti salah Jiwon." Jiwon terlihat sedih dan hendak menangis.
Kyungsoo buru-buru menghampiri Jiwon dan mensejajarkan posisinya.
"Tidak sayang, ummamu hanya sedang kambuh." Kyungsoo menghapus air mata yang ada di wajah manis Jiwon.
.
.
.
Setelah dua jam tertidur, Baekhyun kembali menghampiri Jiwon setelah mengganti kostum ratu dengan pakaian nyaman. Walaupun jelas sekali bibirnya terlihat pucat dengan pandangan sayu. Dia tetap ingin segera meminta maaf pada anak bungsunya karena telah menghancurkan pesta ulang tahun Jiwon. Dan kini dia melihat Jiwon bersama Kyungsoo sedang berada di counter dapur tengah membuka toples kue. Jiwon mengambil satu kue dan memasukkannya kedalam mulut.
"Kyungsoo, kue apa itu?"
Kyungsoo menoleh ke arah Baekhyun.
"ini? Kue kacang. aku membu-" Kyungsoo belum menyelesaikan kalimatnya, namun Baekhyun sudah berteriak panik melupakan niat awlanya untuk meminta maaf pada Jiwon.
"Apa?!" Baekhyun langsung menghampiri Jiwon.
"Jiwon muntahkan kue itu! cepat! Keluarkan!" Jiwon yang terkejut langsung mengeluarkan seluruh kue yang baru ia kunyah ditangan Baekhyun.
"Cepat pergi berkumur!" Jiwon berlari kearah wastafel, dan mencuci mulutnya dibantu Baekhyun.
"Jiwon, pergi kekamarmu, Waktunya tidur, umma akan menyusul. Oke?"
Jiwon mengangguk dan segera berlari menuju kamar.
Sementara itu, dihadapannya Kyungsoo menatap tajam kearah Baekhyun.
"Apa maksudmu? Itu kue Baek! bukan racun!" Kyungsoo meninggikan suaranya, dia merasa tersinggung karena kejadian tadi, Baekhyun seolah melarang Jiwon memakan kue buatannya.
"Jiwon alergi kacang, dia akan sesak nafas dan harus dibawa kerumah sakit jika memakan kacang." Ucap Baekhyun berusaha tenang.
Kyungsoo tersenyum sinis, menatap kedua mata Baekhyun dalam.
"Aku tahu kau membenciku, tapi kau keras kepala memintaku untuk membantumu! Ketika semua berjalan baik, anak-anak sudah ramah padaku. Tapi apa sekarang? Apakah alergi itu hanya alasanmu saja untuk menjauhkan Jiwon dariku? Kau iri bukan? Aku sudah mendapatkan apa yang telah kau rebut sebelumnya! aku juga akan merebut anak-anak darimu!"
PLAAK!
Tamparan keras berhasil mendarat di pipi mulus Kyungsoo. nafas Baekhyun memburu. Dia sudah mencoba tenang. Namun, Ucapan Kyungsoo sudah sangat keterlaluan. Dan Baekhyun benci itu. matanya sudah memerah, bibirnya bergetar hendak menagis.
Kyungsoo memegang pipinya yang terasa panas dan sakit. Namun dia malah tersenyum lemah dan mengangguk. Beberapa detik kemudian raut wajahnya kembali dingin.
"Baiklah, sikapmu sudah menjawab rasa penasaran. Aku tidak bisa melakukan ini lagi. Aku muak padamu!" Kyungsoo berjalan cepat pergi ke kamarnya dan segera mengemasi barang-barangnya kedalam tas besar yang dibawanya pertamakali.
Chanyeol yang sedari tadi memperhatikan, berjalan menghampiri Baekhyun dengan tatapan kecewanya. Baekhyun hanya bisa menundukan kepala, satu tetes air mata meluncur bebas di wajahnya. Tapi Dia tidak boleh menangis dihadapan Chanyeol! dan dia pun segera menghapus air matanya.
"Apa maksudnya ini Baek?" Ucap Chanyeol dingin.
"Dia berbicara keterlaluan, dia ingin mengambil anak-anakku"
"Bukankah itu yang kau mau? Aku sudah bilang padamu sejak awal,itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri! "
"Tapi Chan... Jika sesuatu terjadi pada Jiwon aku akan.-"
"Baekhyun, please jangan kekanakan! Kau terlalu berlebihan. Aku kecewa padamu."
Deg!
"Chan..."
.
.
.
Kyungsoo berjalan keluar gedung apartemen dengan tergesa, air matanyanya sudah tak dapat dibendung lagi, dia lelah. Pikirannya kacau, dia kecewa pada dirinya sendiri, yang belum pantas menjadi pendamping Chanyeol. tak terasa dia sudah berjalan cukup jauh dari apartemen Chanyeol.
Hari sudah mulai gelap. Kyungsoo berhenti sejenak, ini jalan satu arah, dia harus menyebrang untuk mendapat sebuah taksi menuju apartemennya. Tanpa sadar, disisi lain sebuah mobil melaju cepat . Namun sialnya,Kyungsoo sudah berada di tengah jalan, sepertinya pengendara mobil dalam keadaan mabuk karena mobil yang melaju cepat itu sempat menabrak mobil didepannya. Jeritan orang-orang disekitar membuat Kyungsoo semakin tidak bisa menggerakan kakinya dan hanya bisa melihat bahwa ajalnya semakin dekat.
Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit! Brugh!
Seketika Kyungsoo merasa sakit disekujur tubuhnya, darah muncul dimana-mana. Dan matanya terasa berat untuk tetap terbuka, diantara riuh orang yang mengerumuninya, terdengar teriakan orang yang sangat dicintainya. Chanyeol.
"Kyungsoo,tetap buka matamu! Ambulan akan segera datang! BUKA MATAMU KYUNGSOO! TAHANLAH SEBENTAR LAGI!"
Kyungsoo tersenyum lemah, mencoba meraih wajah yang ada dihadapannya.
Terimakasih Chanyeol-ah, kau sudah memberiku kesempatan dicintai olehmu lagi. Selamat tinggal, semoga kau berbahagia dengannya.
.
.
.
.
Chanyeol membuka pintu dengan kasar, dia berjalan gontai memasuki kamar. Baekhyun yang sedari tadi menunggu langsung memekik kaget melihat Chanyeol berpenampilan sangat kacau. Rambut acak-acakan dan noda darah yang terlihat sangat jelas di kemeja putihnya.
"Chanyeol-ah, apa yang terjadi? Kau terluka? Dimana? Aku akan mengobatimu."
"DIAMLAH!" Chanyeol menghempas kasar tangan Baekhyun yang berada diwajahnya. Membuat tubuh mungil Baekhyun terhuyung kebelakang mengenai sisi ranjang
"A-apa yang terjadi? A-aku mengkhawatirkanmu." Gugup Baekhyun , dia takut melihat wajah Chanyeol yang datar tapi menyiratkan emosi yang besar.
Hening sejenak, sebelum Chanyeol mencengkram bahu Baekhyun yang membuat dia meringis karena cengkraman Chanyeol sangat kuat.
"Apa kau puas? Akibat sikapmu Kyungsoo mati! Jika kau bisa mengendalikan sifatmu yang kekanakan itu Kyungsoo tidak akan pergi dari rumah ini! DIA TIDAK AKAN MATI TERTABRAK, BYUN BAEKHYUN."
Mata sipit Baekhyun terbuka sepenuhnya, dia sangat terkejut dengan ucapan Chanyeol. Kyungsoo... mati?
"Aku juga muak padamu! Aku tidak peduli lagi tentang penyakit sialanmu itu! Lebih baik kau mati saja!" Chanyeol menghempaskan Baekhyun keranjang.
Hati Baekhyun sakit, bagaikan ditusuk oleh seribu pedang sekaligus. Baekhyun mencengkram kuat dadanya dan memukul pelan, berharap rasa sakit di dadanya berkurang,walau sedikit. Sekarang , bahkan Chanyeol menginginkan kematiannya. Orang yang sangat dia cintai, ingin dia mati?.
Sementara Chanyeol bergegas kearah lemari, dia mengambil koper dan memasukan pakaian dan barang-barang miliknya dengan terburu –buru.
"Kau akan pergi kemana dengan koper besar itu?" Baekhyun mencoba sekali lagi berhadapan dengan Chanyeol. Dia berusaha menghentikan kegiatan Chanyeol.
"Aku Pergi." Tegas Chanyeol mennghempaskan tangan Baekhyun dan kembali memasukan pakaian kedalam koper.
"Chanyeol-ah jangan seperti ini. Kita bicara baik-baik. Bagaimana dengan anak-anak? Bagaimana denganku?"
"Jangan membawa anak-anak dalam masalah ini! Sudah kubilang aku tidak akan peduli lagi padamu! Aku tidak ingin tinggal dengan seorang pem-bu-nuh" Gumam Chanyeol menekankan kata terakhir.
Baekhyun terdiam membeku,Hatinya benar-benar terpecah belah, masa bodo dengan tekadnya yang tidak ingin terlihat lemah dihadapan Chanyeol. Ucapan Chanyeol kali ini lebih menyakitkan dibanding pertamakali Chanyeol mengajaknya bercerai. Baekhyun tidak mengerti kenapa dia di sebut sebagai pembunuh oleh suaminya sendiri? Baekhyun rela dimaki apa saja, asal jangan kata satu itu, pembunuh adalah kata yang paling mengerikan untuk nya. Dan yang lebih mengerikan lagi, kata itu diucapkan oleh pria yang menjadi cinta pertamanya. Pria yang membuat dia memeliki ketiga malaikatnya sekarang. Pria yang sudah hampir sepuluh tahun hidup bersamanya, mengucapkan langsung kata kejam itu di telinga Baekhyun.
Air mata sudah mengucur deras di pipi Baekhyun, Chanyeol benar-benar pergi dan tidak menoleh sedikitpun pada Baekhyun yang menangis terduduk dilantai yang dingin.
.
.
.
.
==== Missing You ====
.
.
.
.
Sejak saat itu, semua benar-benar berubah. Chanyeol mengabaikan Baekhyun, panggilan dari Baekhyun tak pernah diangkatnya, 1000 pesan yang sudah Baekhyun kirim berisi penyesalannya dan meminta Chanyeol untuk kembali, tak pernah di baca. Ponselnya selalu tak aktif. Tapi pak Kim –sekertaris Chanyeol- berkata bahwa Chanyeol masuk kantor seperti biasa, walaupun penampilannya sedikit kacau. Dan Pak Kim menambahkan jika dia tidak bisa memberitahu dimana Chanyeol tinggal saat ini, karena direktur itu akan langsung memecatnya, dan Baekhyun pun mengerti.
Sebegitu, benci kah dia padaku? Apa dia merasa sangat kehilangan dengan kepergian Kyungsoo? lalu bagaimana jika aku yang mati? Apa dia akan merasa hal yang sama?
Dua minggu berlalu sejak Chanyeol pergi, Baekhyun miminta seseorang untuk membantu mengurus anak-anaknya, karena kondisinya semakin hari semakin memprihatinkan. Dia bernama Jeon Jungkook. Pria manis bergigi kelinci yang membuat Baekhyun gemas dengan wajah pemuda itu langsung mengklaim Jungkook sebagai adiknya.
.
.
.
.
.
.
.
Satu bulan berlalu setelah kepergian Chanyeol, seiring waktu masalah selalu datang menghampiri Baekhyun. Tidakkah kepergian Chanyeol sudah cukup membuat dia hancur? sekarang Jesper juga kecewa padanya. Karena kejadian beberapa jam lalu.
"Jesper apa ini? Kau tahu sudah melakukan kesalahan? Kenapa kau memukul teman sekelasmu? Kenapa kau berubah menjadi kasar seperti ini?! Umma tidak pernah mengajarkanmu melakukan kekerasan untuk menyelesaikan masalah!" satu jam yang lalu Baekhyun di panggil oleh wali kelas –si kembar- karena Jesper terlibat perkelahian dengan teman sekelasnya, yang menyebabkan salah satunya dibawa kerumah sakit.
"Tapi Jimin yang mulai umma!" Jesper masih bersikeras bahwa dia tak salah.
"Tapi perbuatanmu salah Jesper! umma sudah bilang jangan melakukan kekerasan untuk menyelesaikan masalah! Jangan diulang lagi! Lihat Jackson! Kau harus belajar padanya! Nilai mu selalu menurun. Apa karena kau menjadi gangster di sekolah?"
"Apa umma sudah selesai menceramahiku?"
"PARK JESPER! Sekarang berani melawan umma?"
"Aku bukan melawan umma! Aku hanya tidak suka dibandingkan dengan Jackson! Aku bodoh, Jackson jenius, dia bisa membanggakan umma, sementara aku hanya bisa berkelahi! Apa itu yang ingin umma katakan padaku? Bukankah appa pergi juga akibat ulah umma? "
"Jesper." Jackson bersuara karena dia pikir ucapan saudara kembarnya sudah keterlaluan.
"Apa? kau juga mau memarahiku? Iya benar kau memang sempurna! Aku akan pergi ke tempat appa! Hiks."
Jesper menangis. Dia berlari dan menutup keras pintu kamarnya. Baekhyun diam membeku dan jatuh terduduk di sofa.
"Umma baik-baik saja?" Tanya Jackson terlihat khawatir dengan kondisi ummanya yang sudah sangat pucat. Tapi saat menatap Jackson senyum di wajahnya tidak pernah hilang.
"Hmm. Umma baik-baik saja. Apa umma terlalu kasar pada hyung mu?"
Jackson tidak menjawab. Dan beralih menatap sendu ibunya .
"Umma... aku ingin minta maaf." Gumamnya.
"Untuk apa? Jackson tidak salah apapun."
"Jesper memukul Jimin karena Jimin dan teman-temannya mengejek kami. Karena... umma seorang laki-laki."
Deg! Jadi penyebabnya adalah aku? Jesper memukul teman-teman sekelasnya dan harus rela di skorsing tiga hari karena membelaku? Ini semua salahku. Aku memang pria aneh. –Baekhyun.
"Jesper tidak tahan lagi dengan kelakuan mereka. dia melawan Jimin dan teman-temannya sendirian, sementara aku hanya bisa melaporkan kejadian itu pada guru. Maaf umma, aku tidak membantu Jesper dan membuatnya dihukum sendirian."
Baekhyun langsung memeluk Jackson sangat erat.
"Tidak. Apa yang Jackson lakukan sudah benar. Maafkan umma, karena kalian lahir dari rahim umma. Maaf."
Baekhyun mengecup puncuk kepala Jackson lama, lalu memejamkan matanya erat.
.
.
Dan disini lah Baekhyun sekarang, ia duduk di ranjang queen size milik anak kembarnya, untuk meminta maaf pada Jesper karena sudah terlalu kasar padanya. Dan di ranjang yang sama hanya ada Jesper yang menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, dia menyadari kehadiran Baekhyun dari aroma khas milik ibunya yang selalu membuat dia merasa nyaman , tapi sekarang dia masih sangat marah pada Baekhyun.
"Jesper. Maafkan umma karena sudah membentakmu tadi." Baekhyun menyentuh tubuh Jesper, berharap sang anak berbalik untuk melihat ketulusan hatinya meminta maaf. Tapi yang terdengar hanya suara ketus Jesper yang masih memunggungi Baekhyun.
"Aku berkelahi karena membela umma , karena aku menyayangi umma. Tapi aku sangat tidak suka jika umma sudah membandingkan kejelekanku dengan kebaikan Jackson. Aku bukan Jackson umma! Aku Jesper."
"Umma tahu, maaf. Umma sangat menyesal. Apa yang harus umma lakukan agar Jesper tak marah lagi pada umma?"
Jesper akhirnya membuka selimutnya dan menatap Baekhyun.
"Aku ingin appa. Aku ingin umma membawa appa kerumah ini."
Baekhyun terdiam sejenak, lalu mengusap rambut Jesper lembut.
"Tapi... saat ini, appa mu sangat marah pada umma"
"Aku tidak peduli dengan masalah kalian. Jika umma tidak bisa membawa appa kesini, aku yang akan pergi menemui appa sendiri."
"Jangan!Diluar sangat berbahaya. Umma tidak ingin kau terluka."
Jesper kembali memunggungi Baekhyun dan menaikan selimut sebatas dada.
"Tapi umma melukaiku! Ucapan umma melukaiku! Aku ingin pergi dari umma dan bertemu appa!"
Entah kenapa rasanya sakit sekali anak yang dilahirkannya dengan susah payah mengatakan hal itu, apakah Jesper juga ingin dia pergi?
"Baiklah, umma akan bawa appa mu kesini, Jesper jangan pergi dari umma hm? Jesper jangan marah lagi pada umma. Umma... akan sangat sakit, jika Jesper melakukan itu. Cha! sekarang istirahatlah, Jesper pasti sangat lelah. Umma tidak akan mengganggu mu lagi."
Baekhyun mengusap tubuh Jesper dan mencium lama puncuk kepala anak sulungnya.
"Jesper tetap jadi anak kebanggaanku, Jesper adalah malaikat kecilku. umma, sayang Jesper." Bisik Baekhyun pelan tidak ingin membangunkan Jesper yang terpejam.
.
.
.
Baekhyun membuka laci nakas dan menemukan sebuah amplop coklat berisi surat-perceraian- yang sangat ingin dia robek. Dua minggu lalu seorang pengacara atas nama Chanyeol berkunjung kerumahnya mengantarkan surat cerai yang sudah ditandatangani Chanyeol. tapi hingga saat ini Baekhyun masih belum menandatangani surat itu, dan sekarang dia berubah pikiran. Baekhyun sudah lelah dengan semua ini. Anak-anak sudah sangat merindukan appanya. Dia tidak boleh egois lagi. Dan Baekhyun pikir inilah saatnya.
TOK TOK TOK
Suara ketukan pintu membuat Baekhyun segera memasukan kembali amplop coklat itu kedalam laci seperti semula.
"Masuk, pintunya tidak dikunci." Lalu muncul lah seorang anak kecil dengan piyama tidurnya menghampiri Baekhyun.
"Jackson? Ada apa sayang?"
"Apa umma menangis?" Jackson megusap jejak air mata yang ada di pipi Baekhyun.
"Tidak, umma hanya mengantuk." Baekhyun tersenyum teduh memandang anak keduanya.
"Jika umma ingin menangis, menangislah umma, Jackson tidak akan memberitahu siapapun. Jackson akan membantu umma sebisa Jackson."
Baekhyun tersenyum simpul, lalu mencium pipi kanan Jackson. Dia sangat gemas, anak yang akan berulang tahun ke sepuluh itu, sudah bisa menenangkan hati ibunya yang gundah.
"Jackson mau mebantu umma?"
Jackson menganggukan kepalanya. "Tentu saja umma"
"Umma... akan pergi melakukan pengobatan di Amerika. Umma ingin sembuh dan bermain lagi bersama kalian. Jackson mau membantu umma menjaga hyung dan adikmu? Appa dan Jungkook hyung akan tetap berada disini."
"Umma... tidak bohong kan? Umma akan sembuh dan kembali?"
"Tentu, umma akan melakukan segala cara untuk sembuh."
"Baiklah umma. Umma harus berjanji padaku" Jackson megacungkan jari kelingking dan Baekhyun pun mengaitkan kelingkingnya pada Jackson.
"Sekarang bolehkah Jack tidur disini?"
.
.
.
.
.
.
Baekhyun berjalan mondar- mandir dengan ponsel di telinga kanannya, dia gelisah menanti seseorang menjawab panggilannya.
"Yeboseo, Siapa ini?" Suara bass yang sangat Baekhyun rindukan terdengar di sebrang telepon. Akhirnya Chanyeol bisa dihubungi setelah sekian lama.
"Channyeol-ah! Aku Baekhyun." Baekhyun memekik, karena terlampau senang.
Namun, disana Chanyeol menghela nafas berat.
"Jangan ditutup! Aku ingin membahas sesuatu denganmu. Kau bisa pulang hari ini?" Ujar Baekhyun sangat berharap.
"Tidak"
"Anak-anak sangat merindukanmu"
aku juga merindukanmu. Baekhyun berhenti senjenak dan kembali melanjutankan ucapannya
"Dan...aku sudah mendatangani surat perceraian. Kau bisa mengambilnya." Nada suara Baekhyun berubah sedih.
"Pengacaraku-."
"Tidak! Kau harus mengambilnya sendiri"
"Baik, aku akan datang siang ini."
Chanyeol menutup sambungan telponnya.
.
.
"Terimakasih Jungkook-ah, ini ponselmu."
Baekhyun memberikan benda persegi itu pada adiknya. dia pertama kali menghubungi Chanyeol dengan nomor Jungkook, karena 100 panggilan darinya tidak pernah dijawab.
"Hyung kau akan melakukan ini? Pasti ada cara lain, aku tahu hyung benar-benar mencintai Chanyeol-ssi, Bagaimana dengan anak-" perkataannya terhenti karena Baekhyun menggenggam tangannya erat
"Jungkook, tidak ada cara lain lagi, Chanyeol sangat membenciku, karena dia pikir aku penyebab meninggalnya Kyungsoo."
"Tapi bukan kau pelakunya hyung!"
"Tapi Chanyeol tidak berpikir seperti itu." Baekhyun tersenyum kecut menyadari sebulan ini Chanyeol masih menganggapnya sebagai pembunuh Kyungsoo. Meskipun sebenarnya Baekhyun tak salah apapun.
"Dan untuk anak-anak. Siang nanti, Bisakah kau membawa mereka pergi untuk sementara dari sini? Aku akan menghubungimu ketika urusanku dan Chanyeol selesai"
"Hyung..."
"Kumohon Jungkook-ah."
.
.
.
.
.
.
.
.
Chanyeol berulang kali melirik jam tangannya, dia terlihat gusar karena sudah sepuluh menit berlalu Baekhyun hanya menatapnya lekat.
"Kau terlihat tampan dengan janggut tipismu. Apa kabar Chanyeol?"
"Kau lihat sendiri keadaanku sekarang, urusan perusahaan membuatku semakin tercekik." Chanyeol melonggarkan dasinya dan melihat kesegala arah, menghindari tatapan Baekhyun.
"Kau pasti bisa melalui itu."
"Kau bilang sudah mendatanganinya! cepatlah aku sibuk!" Chanyeol kini berang dengan Baekhyun yang terkesan mengulur waktu.
Baekhyun mengangguk dan meraih amplop coklat di kursi sampingnya.
"Tapi... apa kau tahu? selama ini anak-anak selalu merindukan appanya. Aku terpaksa bohong, bilang pada mereka bahwa kau berada di luar negeri untuk bisnis. Aku merasa bersalah, menyembunyikanmu yang sebenanya masih berada satu negara dengan mereka. apa kau tidak merindukan si kembar dan Jiwon?" lirih Baekhyun.
"Tentu saja aku merindukan mereka. aku memang beberapa kali pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis, jadi kau tak sepenuhnya berbohong." Kini Chanyeol membalas tatapan Baekhyun, matanya bertemu kedua mata Baekhyun yang menyiratkan kekecewaan.
Baekhyun mengangguk. Dan tersenyum kecut.
"Jiwon selalu ingin appanya membacakan cerita sebelum tidur, Jackson mendapat nilai sempurna diujian matematika hari ini dan empat hari yang lalu aku dipanggil oleh pihak sekolah karena Jesper memukul temannya karena membelaku, Jesper harus di skorsing tiga hari karena membela pria aneh yang bisa menjadi ibu seperti ku. kau bahkan tidak tahu itu semua kan? Aku memang salah menjadi penyebab Kyungsoo pergi saat itu. Tapi aku mohon kembalilah kerumah ini, jika kau tidaak betah disini karena aku. Aku yang akan pergi dari sini, lagipula aku memang akan pergi."
Chanyeol tiba-tiba merasakan sakit di dadanya, rasa marahnya hilang begitu saja, namun dia masih merasa sangat bersalah terhadap Kyungsoo. dia masih terbayang wajah Kyungsoo yang menahan sakit dengan darah dimana-mana. Semua itu tidak akan terjadi jika Baekhyun bisa sedikit menahan emosinya kala itu.
Chanyeol menganggukan kepalanya pelan, dia tidak boleh goyah dan tetap kembali pada keputusan pertamanya.
Hening cukup lama, Baekhyun mengeluarkan isi amplop dan kembali menatap Chanyeol.
"Kau ingin aku mendatangani surat ini kan? " Baekhyun mengambil pena dihadapnnya, dan sekali lagi menatap Chanyeol.
"Apakah kau benar – benar menginginkannya? Aku kecewa, tapi aku akan tetap mendatanganinya dan mengirimkan pengacaraku. tapi aku mohon Kembalilah ke rumah ini Chanyeol." Katanya lagi
Baekhyun menghela nafas panjang sebelum kembali melanjutkan ucapannya.
"Aku akan meninggalkan rumah ini, aku akan pergi sejauh mungkin darimu. Tapi kau mau berjanji satu hal padaku? " Tanya Baekhyun, tangannya bergetar menggengam pena erat.
Chanyeol hanya mengangguk, masih dengan tatapan dinginnya. Baekhyun pun tersenyum simpul.
"Jangan tinggalkan anak-anakku apapun yang terjadi. Jangan membuat mereka kesepian. Luangkanlah waktu untuk mereka. Kau harus tetap bersama mereka sekalipun kau telah menikah dengan orang lain nantinya, mereka hanya punya kau. Ayahnya. Kau mau kan? "
Chanyeol hanya diam dan terus diam, di lubuk hatinya yang terdalam, dia harus menghentikan ini. Tapi mulutnya berkalata lain.
"Tentu saja. Mereka anak-anakku juga."
"Baguslah, Jungkook akan membantumu mengurus anak-anak. Aku akan mengemas barang-barangku dan pergi malam ini."
Baekhyun terdiam sejenak dan menghela nafas berat sebelum tangannya bergerak membubuhi tandatangan pada selembar kertas itu.
"Ini, kau bisa bebas dariku sekarang. Semoga kau bahagia."
Chanyeol menerima surat itu dengan tangan gemetar, tiba-tiba saja dia ingin sekali merobek kertas yang ada ditangannya, tapi wajah Kyungsoo kembali diingatnya. Dia harus melanjutkannya! Inilah yang Chanyeol inginkan.
"Kau akan pergi kemana? Aku akan membeli rumah dimanamun yang kau ingin kan. Setidaknya aku harus tau tempatmu, jika anak-anak merindukanmu aku akan mengunjungimu."
"Jangan mengunjungiku, aku akan mencoba pengobatan di Amerika, Dokter Oh bilang disana kemungkinan besar aku bisa sembuh, aku akan segera kembali, jika itu mungkin"
"Benarkah? Kau akan pergi ke Amerika?"
Baekhyun menganggukkan kepalanya
"Jangan merindukanku! Haha. Hubungan kita akan segera berakhir, aku harap kau menepati janjimu kali ini."
"Pasti, percaya padaku."
"Baik, aku akan mempercayaimu sekali lagi".
Maaf Chanyeol-ah, karena aku masih sangat mencintaimu sampai saat ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Masih Tbc.
Chapter 4 up! . 5K+ word!. Lebih panjang karena telat satu bulan :') . semoga ga ngebosenin ya. Semoga perasaan kyuraa sampai pada readers tercinta. Chapter depan diusahain udh end, happy ending kok, gatega Baekhyun kesiksa terus dan updatenya ga bakal nyampe sebulan lagi. Haha. /kaya ada yang nunggu aja-_-.
Btw, kyuraa baru bikin ig khusus, follow dong. Usernamenya kyuraapark. Wattpadd juga kyuraapark, bakal langsung aku follback. sebenernya kyuraa gapunya temen buat ngomongin hal berbau boyxboy. Kyuraa kesepian. /Malah curhat-_-.
Oke, big thanks to :
Baekhyun cantik /mamih, is that you?/ , chanbaek perfect, Chanyeol masih sixpack, timsehunnie, Galaxy Aquarius, ParkBaekhyunee07, Lywoo, Bhcunyul, auliaMRQ, spektrofotometri, Nunkookie819, zoldyk, Annisah795, Jang Ha Na, parkbaexh614, .9047, Love654, nadoxoxo, yeolloaddedbaek, n3208007, Ricon65, chepurple, kaibaiboo, GhanChan, yousee, LQ dan Guest.
Ko nama usernya bikin ketawa. Makasih masih setia ngisi kolom review ff abal ini.
Yang sudah mencet (?) fav dan follow nyaaa terimakasih. Love you.
