Recomended song : Basick & Inkii - In The Ilussion

.

.

.


==== Missing You ====


.

.

.

Jam di tangan kiri Baekhyun sudah menunjukan pukul 22.05, udara malam di tengah kota Seoul terasa semakin dingin, Baekhyun pun mengeratkan kembali mantelnya dan sesekali ia menggesekan kedua tangan untuk mengurangi rasa dingin. Sudah lima menit berlalu dia menunggu taxi pesanan yang tak kunjung tiba, pegangan koper besar yang ada didepannya kembali digemgam erat. Lalu ia melirik Chanyeol disampingnya tengah memandang lurus kedepan dengan masing-masing tangan dimasukan pada saku mantel, Chanyeol juga pasti merasa kedinginan, tadinya Chanyeol akan mengantar Baekhyun sampai bandara, namun Baekhyun bersikeras melarangnya. Dan Baekhyun harus mengalah, saat Chanyeol memaksa menemaninya menunggu sampai mendapat taxi.

Namja tinggi yang akan menjadi mantan suaminya itu masih menggunakan setelan kerja dibalut dengan mantel tebal yang terlihat pas ditubuhnya. Baekyun pun tersenyum kecil, melihat Chanyeol yang selalu terlihat tampan dengan pakaian apapun. Tapi, Tiba-tiba saja raut wajahnya kembali sedih, mengingat sebentar lagi hubungannya dengan Chanyeol akan segera berakhir.

Apa Baekhyun terlihat menyedihkan bila dia ingin sekali Chanyeol menahannya pergi?

Merasa di perhatikan Chanyeol pun meilirik Baekhyun yang masih menatap Chanyeol dengan sendu. kedua mata Chanyeol pun melebar ketika melihat wajah pucat Baekhyun.

"Baekhyun..."

Apa Chanyeol bisa membaca pikiran? Apa dia akan menahannya pergi dan mengajaknya kembali bersama? Jika saat ini juga Chanyeol merubah pikirannya,maka Baekhyun akan dengan senang hati kembali padanya dan melupakan masalah yang terjadi diantara mereka.

Baekhyun sedikit tersenyum dengan pemikiran konyolnya.

"Tunggu sebentar, aku akan segera kembali." Ucap Chanyeol sebelum berlari kembali menuju gedung apartemen.

Butuh beberapa menit, Chanyeol kembali membawa syal rajut berwarna merah dan segera melilitkannya di leher Baekhyun. Dengan jarak yang hanya beberapa centi meter itu Baekhyun dapat merasakan deru nafas Chanyeol yang memburu karena baru saja berlari, Wajahnya pun seketika menghangat, rona merah terlihat jelas di kedua pipinya.

"Cuaca diluar sangat dingin. Kenapa kau ceroboh sekali tidak memakai syal ini. Aku yakin cuaca di sana juga sangat dingin. Setelah sampai nanti hubungi aku."

Baekhyun mengernyitkan alisnya.

"Maksudku, anak-anak nanti akan mencarimu."

Aku kira kau benar-benar peduli padaku Chan. Ya, selama ini kita bertahan hanya untuk anak-anak. Tapi pada akhirnya aku menyerah untuk kebaikan anak-anak kita. Mereka lebih membutuhkan ayahnya daripada ibunya yang penyakitan.

"Baekhyun? Wajahmu memerah, apa kau demam?"

Chanyeol segera menangkup wajah Baekhyun dengan kedua tangannya, kemudian tangan kanannya ia tempelkan di dahi Baekhyun sedangkan tangan satunya dia tempelkan pada dahinya sendiri untuk mengecek suhu tubuh namja manis di depannya.

"Tidak, aku baik-baik saja. Cuaca disini sangat dingin jadi wajahku memerah" Baekhyun berbohong untuk hal itu, dia tidak mungin mengatakan jika jarak mereka terlalu dekat hingga membuatnya tersipu kan?

"Dan tentang hal tadi aku sudah memberitahu anak-anak. Mereka anak yang pintar. Mereka pasti mengerti kondisi ibunya." Ujar Baekhyun melepaskan tangan Chanyeol dan sedikit tersenyum.

Chanyeol menganggukan kepalanya, dan mengeratkan kembali syal merah di leher Baekhyun. Sementara Baekhyun hanya mampu menundukan kepala, dia menyesal telah berpikir Chanyeol akan menahannya pergi. Tidak. Itu tidak akan pernah terjadi.

Suara klakson taxi menyadarkan Baekhyun dari lamunannya. Supir taxi segera turun dan membawa koper besar milik Baekhyun menuju bagasi belakang.

"Baiklah, terimakasih Chan. Aku pergi." Baekhyun hendak membuka pintu belakang mobil. Namun ia terdiam cukup lama, dan tiba-tiba saja Baekhyun berbalik dan memeluk leher Chanyeol erat, sedikit berjinjit karena perbedaan tinggi mereka.

Disisi lain, Chanyeol hanya memasang tampang bodohnya karena pelukan tiba-tiba namja mungil yang masih menjadi istrinya itu.

Hening beberapa detik, sampai akhirnya Baekhyun membuka suara.

"Jiwon... alerginya semakin parah. Kau hanya tahu Jiwon akan merasa gatal setelah memakan kacang kan? Tidak, Dia hampir meninggal karena ulahku"

Baekhyun terdiam sejenak, dia tidak ingin mengingat hal itu lagi, namun dia harus mengatakannya agar Chanyeol tidak salah paham padanya dan agar kejadian yang hampir merenggut nyawa Jiwon tak terulang kembali.

Baekhyun menarik nafas dan kembali melanjutkan kata-katanya. " Saat itu... Jiwon sangat rewel karena merindukan appanya yang berada di Jeju. Aku sudah coba beberapakali menghubungimu, tapi ponselmu tidak pernah aktif." Gumam Baekhyun

Tanpa sadar Chanyeol mengepalkan tangannya. Ya, dia hanya tahu Jiwon akan kembali seperti biasa jika sudah meminum obat alerginya. Dan dia juga sadar saat meninjau proyek di Jeju ponselnya memang jarang aktif bahkan tidak pernah.

"Aku terlalu lelah karena terapi sialan itu, jadi aku memberinya sebungkus kue milik Jesper tanpa melihatnya itu... kue selai kacang. Chanyeol-ah, kau tahu betapa takutnya aku saat itu? Separuh jiwaku melayang saat dokter berusaha menyelamatkan Jiwon tapi aku ibunya tak bisa melakukan apapun. saat itu aku berpikir, kenapa bukan aku yang terbaring lemah disana? Kenapa harus Jiwon? Aku tidak sanggup melihat Jiwon terbaring lemah di ranjang rumah sakit Chan,"

Chanyeol mulai merasakan kemeja dibalik mantelnya basah. Baekhyun menangis. Tangan Baekhyun sudah turun tak lagi memeluk leher Chanyeol, namun kepalanya masih bersandar di dada bidang namja tinggi itu.

Chanyeol mengusap punggung Baekhyun berusaha menenangkannya, padahal Chanyeol sendiri pun merasa gelisah,dia tak pernah tahu, jika Baekhyun yang menurutnya ibu paling sempurna untuk anak-anaknya dapat melakukan hal yang dapat membunuh Jiwon.

"Maaf baru mengatakan ini padamu Chan, aku hanya tidak ingin kau membenciku. Aku takut kau akan meninggalkanku dan membawa Jiwon pergi bersamamu karena aku ibu yang bodoh. Karena kecerobohanku, aku hampir membunuh anakku sendiri Chan. Maafkan aku." Gumam Baekhyun terisak, masih menundukan kepalanya.

Mendadak, dada Chanyeol terasa sesak, bagaimanapun Chanyeol sadar, dia lah yang pantas disalahkan dalam kejadian itu. Meski sedikit kesal karena Baekhyun baru memberitahu hal penting ini padanya. Tapi jika saja Chanyeol mengaktifkan ponselnya saat itu, Jiwon tak akan rewel karena terlalu merindukannya, kejadian itu tak akan pernah terjadi jika Chanyeol sering menghubungi Baekhyun dan ketiga anaknya saat itu. Semua yang terjadi adalah salahnya. Dia tahu itu, dan kala itu ia hanya terlalu dibutakan oleh cinta masa lalunya. Ya hanya itu.

Baekhyun melepaskan pelukan Chanyeol, dia mengusap cepat air mata yang masih mengalir di wajanhya dan kembali menatap sendu kedua mata bulat Chanyeol.

"Sekali lagi, maaf karena membuat Kyungsoo pergi darimu. Chanyeol-ah, jangan membenciku ne? Jika dengan kepergianku kau bisa memaafkanku, maka aku akan pergi. Tepati janjimu kali ini, jagalah ketiga malaikat kecilku, aku..."

Baekhyun terdiam sejanak dan menundukan kepalanya kembali, dia pun beralih mengusap perutnya, jika saja Chanyeol memperhatikan dengan jelas, perut Baekhyun tidaklah rata seperti biasanya. Perut namja manis itu terlihat sedikit buncit.

"Aku..juga akan menjaganya semampuku. Selamat tinggal. " aku mencintaimu.

Chanyeol masih diam membeku. dia tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya, , dia merasa sesuatu mengganjal di hatinya, dadanya seakan ditikam pedang tajam saat mendengar setiap kata yang diucapkan Baekhyun. kenapa rasanya sakit sekali.

Chanyeol masih belum memahami keadaan saat ini, Sementara itu taxi yang membawa Baekhyun sudah berlalu pergi.

Tanpa sadar air matanya mengalir. Dia menyesal. Mungkin?

.

.

.

.

.

.

.

.

Chanyeol berjalan gontai menuju ruangan tempat ibunya berada, saat Chanyeol baru saja akan kembali ke apartemennya ia mendapat panggilan dari ibunya untuk bertemu.

Sesekali Chanyeol mengedarkan pandangannya melihat keadaan mansion yang sudah lama ia tinggalkan itu tampak tidak ada yang berubah sedikitpun kecuali pigura besar yang berada didinding ruang utama mansion megah itu memajang foto pernikahannya dengan Baekhyun. Seketika Chanyeol menghela nafas berat. Dia berniat melepas foto besar itu, mengingat hubungannya dengan Baekhyun akan berakhir.

"Kau datang?" tanya Sandara-nyonyapark- setelah Chanyeol menutup pintu dan berjalan menghampiri Sandara yang duduk di kursi bacanya.

"Ne. Kapan eomma kembali dari Busan? Dan kenapa Aku tidak melihat appa disini?"

Sandara tidak menghiraukan pertanyaan Chanyeol, ia melepas kacamata baca dan menaruhnya di atas meja. Wanita paruh baya itu masih sangat cantik diusianya yang tak lagi muda. Dia berjalan anggun menuju Chanyeol yang masih berdiri menatapnya dalam diam.

"Ada yang ingin kau beritahu pada eomma, sayang? Aku mendapat laporan dari pengacara song tentang gugatan ceraimu. Apa itu benar?" tanya Sandara. Tangannya ia arahkan untuk mengusap lembut rahang tegas sang putra.

"Ne eomma " jawabnya singkat,ingatkan Chanyeol untuk membunuh pengacara tua itu agar tidak lagi membocorkan masalah pribadinya sebelum diperintah olehnya. Bagaimanapun, ia sadar dalam bahaya karena ibunya sangat menyayangi Baekhyun.

"Kau pikir kau siapa? Jika bukan karena keluarga Byun kau tidak akan bisa mendapat apa yang kau dapat sekarang Chanyeol." Nada bicara Sandara berubah sinis menatap tajam pria tinggi didepannya.

"Aku tidak pernah meminta untuk itu, kalian berdua lah yang memaksaku untuk menikahi namja aneh itu. Padahal eomma tahu aku sudah punya kekasih yang akan kunikahi. Ya, demi kesenagan kalian berdua, aku sudah merebut semua harta Byun. Semua kekayaannya sudah tertulis dengan namaku. Apakah eomma senang?"

PLAKKK!

Wajah tampan itu seketika berbalik kesamping karena tamparan keras ibunya.

"Ya, eomma memang memaksamu. Tapi jangan sekalipun kau mengatai Baekhyun! Bagaimanapun juga dia yang telah melahirkan anak-anakmu! DAN KAU..." geram Sandara mengarahkan telunjuknya tepat di wajah Chanyeol. wanita itu menatap tajam kedua manik Chanyeol yang melebar, terkejut karena bentakan dan tamparan keras tadi.

"Kau,benar-benar tidak mengingat siapa Baekhyun hah?"

.

.

.

.

"Baekkie! Temani Chanie menangkap ikan di kolam itu. tapi jangan beri tahu para penjaga." ajak anak kecil bertelinga lebar itu sambil menarik-narik lengan baju anak kecil lain yang sedang mengerucutkan bibirnya kesal.

"Tidak mau! nanti dimarahi, Kita main rumah-rumahan saja. Aku akan jadi ibunya kau ayahnya. Ne?"

"Ish, kita sudah sering main itu, aku bosan. Yasudah kalau Baekkie tidak mau. aku memancing sendiri saja, Chaniie gamau main lagi sama Baekkie!" ketus anak itu sambil menghentakan kakinya kesal meninggalkan Baekhyun kecil yang menatap sedih punggung Chanyeol.

Baekhyun pun berlari cepat menggenggam tangan Chanyeol membuat Chanyeol menghentikan langkahnya.

"Baekkie ikut, jangan tinggalkan Baekkie!. Baekkie akan menemani Chaniie selamanya."

Baekhyun kecil tersenyum memamerkan gigi susunya,mata sipitnya semakin tidak terlihat karena cengiran lebar itu, membuat anak kcil di depannya juga tersenyum senang.

.

"Chanie, kita sudah satu jam berada disini. Apa dikolam ini tidak ada ikannya?"

"Tidak mungkin, aku selalu memancing disini bersama appa."

Tidak lama kemudian umpan pancing itu bergerak.

"Chaniie tarik pancingannya!" jerit Baekhyun histeris.

Chanyeol segera menarik pancingan, namun bocah itu terlihat kesusahan karena ikan yang memakan umpannya cukup besar. Dan dia segera menoleh ke samping, meminta bantuan Baekhyun

"Ini berat. Bantu aku Baekkie."

Baekhyun pun segera memeluk erat pinggang Chanyeol dan menariknya, namun sayang kaki-kaki kecil Baekhyun tersandung batu yang membuat dia langsung terjungkal kebelakang, "akh" Baekhyun sempat meringis saat kepalanya terbentur keras pada batu besar, sementara Chanyeol jatuh terduduk, pantatnya terasa sakit namun dia tertawa karena ikan mas itu berhasil ditangkapnya. Dia segera berbalik untuk memberitahu Baekhyun, dan mata bulatnya semakin melebar ketika melihat batu telah berlumuran darah yang berasal dari kepala Baekhyun. Chanyeol yang panik segera menghampiri Baekhyun, dan mengguncang pelan tubuh kecil Baekhyun yang tak sadarkan diri.

"huwaaaaa... Baekkie bangun! Maafkan Channie "

.

.

.

.

"Dan setelah kejadian itu, Baekhyun koma dan kehilangan semua ingatannya, sementara Chanyeol kecil tidak berhenti menyalahkan dirinya sendiri, bahkan kau melukai dirimu sendiri. Dan karena itu, kami memisahkan kalian."

Chanyeol menundukan kepalanya, setelah mendengar cerita Sandara, bayangan tentang masa kecilnya tiba-tiba saja berputar seperti film lama di pikirannya.

"Aku kira kau akan langsung mengenali Baekhyun setelah berpisah beberapa tahun darinya. ya, mungkin karena usia kalian sangat kecil waktu itu, jadi kau dengan mudah melupakan Baekhyun, dan juga salah eomma dan appa tidak menceritakan ini dari awal, kami hanya takut kau melukai dirimu sendiri lagi. Aku mengatakan ini karena sekarang kau sudah dewasa"

Sandara memegang pundak lebar Chanyeol dan menatapnya sendu. Chanyeol masih menundukan kepala tidak berani menatap ibunya, wajahnya sudah memerah menahan tangis.

"Chanyeol-ah... aku juga menyayangi Kyungsoo walaupun dia berasal dari panti asuhan, aku tidak pernah melarangmu untuk dekat dengan Kyungsoo. Tapi aku pikir inilah saat nya menebus kesalahanmu, dan kau masih akan tetap menceraikan Baekhyun? Tidak cukupkah kau meninggalkan Baekhyun saat dia tengah mengandung si kembar? Saat itu aku masih bisa menjaganya. Tapi Jika dia pergi seperti sekarang? Apa kau yakin dia akan baik-baik saja? Kau sudah melukainya beberapa kali, dimana hati nuranimu? Kau sudah memiliki 4 anak Chanyeol! kau sudah dewasa." Nada suara wanita 50tahunan itu berubah tinggi.

Chanyeol yang sedari tadi menundukan kepala seketika menatap Sandara terkejut. Dia merasa janggal dengan ucapan ibunya.

" Tunggu, 4 anak? eomma bercanda? Eomma lupa cucu eomma hanya ada tiga?" Chanyeol tertawa konyol berusaha menyangkal. Sandara menggeleng pelan.

"Baekhyun tengah mengandung anakmu saat ini, beberapa minggu lalu nada bicaranya sangat bahagia saat memberitahuku kehamilan anak keempatnya. Kau tidak tahu? Baekhyun tidak memberitahumu? Ah, aku lupa. Kau sudah menceraikannya." Sandara terkekeh pelan, dan menatap Chanyeol seakan tengah mengejek anak satu-satunya itu.

Fakta yang dikatakan ibunya itu mampu membuat lutut Chanyeol lemas seketika, dia tidak mampu menopang berat tubuhnya lagi. Sehingga Chanyeol pun jatuh berlutut dan langsung meremas kemeja hitam di bagian dadanya. Entah kenapa rasanya seluruh oksigen yang ada tidak dapat dihirup olehnya, dadanya sangat sesak sampai dia pikir akan mati.

"aku tidak pernah tahu, aku menyesal eomma. Aku melupakan Baekkie. Maafkan aku."

Chanyeol tidak dapat lagi menahan air matanya, belum lama setelah kepergian Baekhyun karena keputusan bodohnya dia mengetahui kenyataan bahwa ditubuh lemah Baekhyun terdapat janin yang akan menjadi anaknya, calon buah hatinya. hatinya sangat sakit sekali mengingat betapa bodohnya dia tidak menyadarinya dari awal..

Sandara tidak pernah melihat Chanyeol menangis hebat seperti ini, dia tidak sanggup lagi melihat kondisi Chanyeol yang hancur karena perbuatannya sendiri, ia pun segera menyamakan posisi dan memeluk putranya erat.

"Chanyeol-ah, eomma tahu semua hal yang terjadi di keluargamu. Tapi ayahmu tidak, dia tidak boleh tahu kau menceraikan Baekhyun. Penyakit jantungnya akan kambuh dengan berita tiba-tiba ini, jadi Aku akan menyusulnya ke Swiss, mungkin tak akan kembali?. Maka dari itu, cepatlah selesaikan kekacauan ini, jangan terlalu larut dalam penyesalan, kau masih mempunyai Jesper,Jackson dan Jiwon yang harus kau jaga. Eomma percaya kau dapat mengatasi semua ini sayang."

Sandara mencium lama puncuk kepala putra sematawayangnya. Dengan berat hati, dia bangkit dan berjalan pergi meninggalkan Chanyeol yang masih menangis dan sesekali berteriak memanggil Baekhyun. Sandara mengelap air mata disudut matanya, walaupun pernikahannya dengan Baekhyun karena paksaan, tapi dia tahu Chanyeol sangat mencintai Baekhyun selama ini, dan dia percaya Chanyeol dapat menyelesaikankesalah pahaman yang terjadi.

.

Sementara itu, Air mata tidak berhenti mengalir di wajah tampan itu, Chanyeol memukul keras dadanya kirinya, dia kembali teringat ucapan terakhir Baekhyun.

"sekali lagi, maaf karena membuat Kyungsoo pergi darimu."

Itu bukan salahmu Baek, itu salahku sepenuhnya. jika aku bisa mengendalikan egoku pada Kyungsoo, jika aku tidak membawa Kyungsoo ke rumah kita saat itu, Kyungsoo akan baik-baik saja,dia akan bahagia dengan kehidupannya sebelum bertemu denganku. dan aku tidak akan menyakitimu, disaat kau tengah berjuang melawan rasa sakitmu sendirian karena penyakit itu. dan surat sialan itu tak akan pernah ada!

"Chanyeol-ah, jangan membenciku ne? Jika dengan kepergianku kau bisa memaafkanku, maka aku akan pergi. Tepati janjimu kali ini, jagalah ketiga malaikat kecilku, aku..."

Aku tidak membencimu, justru aku takut kau akan sangat membenciku setelah apa yang kulakukan padamu. kau dan aku akan menjaga anak-anak kita bersama setelah kau kembali dengan sembuh. Aku janji. Dan kali ini aku tidak akan pernah mengingkarinya. Baekhyun-ah, maafkan aku.

"aku..juga akan menjaganya semampuku. Selamat tinggal. "

Kenapa kau tidak memberi tahuku jika kau hamil? Mungkin aku tidak akan semenyesal ini Baek, apa ini hukuman untuk pria brengsek sepertiku karena menyakitimu? Kau ingin aku menyesal? kau berhasil. Aku sangat menyesal Baek, Kembalilah setelah kau sembuh dari rasa sakitmu disana. Aku akan menunggumu.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Jesper! kau yang membeli dua permen kapas ini, kenapa aku yang membawanya! Kembali kesini. Yak Jesper!" Teriak Jackson kesal pada Jesper yang berlari begitu saja setelah memesan dua bungkus besar permen kapas . Chanyeol yang sedari tadi berdiri di samping Jackson hanya menggelengkan kepalnya dan tersenyum kecil melihat keusilan Jesper.

"Biar appa saja yang membawanya." Chanyeol mengulurkan tangannya untuk mengambil dua bungkus besar permen kapas di tangan Jackson.

"Tidak appa, harusnya Jesper yang membawa ini! Dia harus bertanggung jawab." ketus Jackson karena masih kesal pada saudara kembarnya yang kini sedang mengantri untuk naik wahana kincir raksasa. Terlihat antrian disana cukup panjang, banyak orang mengantri dengan sabar untuk menaiki wahana itu.

"appa cepat! Antriannya sudah maju."

Chanyeol dan Jackson segera berjalan menghapiri Jesper dan masuk antrian diikuti Jungkook dengan Jiwon yang tertidur dipangkuannya.

Mereka tengah menghabiskan waktu sore hari di Lotte World. Sejak pagi, Jesper, Jackson dan Jiwon tidak berhenti mencoba seluruh permainan yang sesuai dengan umur mereka. ketiga anak berbeda usia itu terlihat sangat bahagia berlari kesana kemari, membuat Chanyeol ikut tersenyum lega, setidaknya, ketiga anaknya itu sejenak dapat melupakan keriduan mereka pada Baekhyun. dan ketika chanyeol melirik Jungkook, dia merasa bersalah melihat Jungkook yang terlihat lelah karena menjaga mereka yang hiper aktif.

Sejak kepergian Baekhyun tiga bulan lalu ,Chanyeol secara rutin meluangkan waktu di hari Sabtu dan Minggu untuk mengajak ketiga anaknya pergi liburan. Urusan kantornya kini ia batasi, dia akan pulang kerumah setelah jam sudah menunjukan pukul 4 sore dan membawa pulang urusan kantornya untuk dikerjakan dirumah, sehingga banyak waktu untuk istirahat dan menghabiskan waktu dengan ketiga anak nya.

Chanyeol tidak lagi tinggal di apartemen. Baginya, disana hanya akan mengingatkan betapa kejam dan bodohnya dia, dan terlalu banyak kenangan tentang Baekhyun diapartemen lamanya, karena itu dia mengajak anak-anaknya untuk tinggal di mansion utama. Walaupun banyak maid yang bekerja disana, dalam mengurus ketiga anaknya Chanyeol tetap mempercayakannya pada Jungkook sesuai perintah Baekhyun.

.

.

.

.

Chanyeol menarik nafas lega setelah menyelesaikan berkas terakhirnya karena setelah itu dia tidak akan terlalu sibuk seperti sebelumnya. Chanyeol tersenyum memikirkan rencana liburan akhir pekan nanti bersama Jesper, Jackson dan Jiwon. tapi Tiba-tiba saja dia menguap merasa kantuk dia pun melirik jam yang ada di ruang kerja pribadinya telah menunjukan pukul 11 malam. Setelah menutup laptop silvernya pandangan Chanyeol teralihkan pada pigura kecil yang menampilkan namja manis yang selama ini ia rindukan, tersenyum lembut ke arah kamera sambil menggendong bayi yang masih merah. Chanyeol mengingat foto itu diambil olehnya saat bayi Jiwon baru saja pulang dari rumah sakit.

Baekhyun,Aku merindukanmu.

Untuk kesekian kalinya Chanyeol menghela nafas panjang dan mengeluarkannya pelan. Selama tiga bulan ini, Baekhyun tidak pernah sekalipun menghubunginya ataupun anak-anak. Dan Chanyeol tidak pernah sekalipun, tidak merindukan namja mungilnya itu.

Sebenarnya kau ada dimana?

Raut wajah Chanyeol berubah sedih, dia sudah mengerahkan para detektif ahli untuk mencari keberadaan Baekhyun. Baekhyun berbohong , dia tidak pergi ke Amerika seperti yang dikatakan olehnya. Chanyeol baru mengetahui kebohongan itu ketika keesokan harinya setelah Baekhyun pergi, sekertarisnya melaporkan bahwa tidak ada nama Byun Baekhyun di penerbangan menuju Amerika pada tanggal itu atau tanggal-tanggal setelahnya. Jujur saja Chanyeol sangat kecewa,tapi dia tidak bisa menyalahkan Baekhyun, karena kepergian Baekhyun adalah kesalahan Chanyeol sendiri yang tidak dapat menahannya.

Apa kabar? Kau baik-baik saja kan? Anak kita tidak menyusahkanmu kan?

Chanyeol sangat khawatir pada Baekhyun, mengingat ketika terakhir kali Chanyeol melihat Baekhyun , ia sudah kehilangan indra pengecapnya. Apakah penyakitnya semakin parah? Chanyeol tidak tahu. Terlebih lagi, kini Baekhyun tengah mengandung anak keempatnya, di dalam tubuh lemah lelaki manisnya itu terdapat janin yang akan menjadi calon anaknya.

Chanyeol tersenyum kecut memikirkannya, dia terlambat menyadari kehadiran anak keempatnya itu, dan dia hanya dapat menyesali kebodohannya.

TOK..TOK..TOK..

Suara ketukan pintu membuat Chanyeol sadar dari lamunanannya. Dia mengerinyitkan alisnya menebak siapa yang menemui dirinya di jam yang sudah larut seperti ini, tanpa berpikir panjang Chanyeol menyuruh seseorang itu untuk masuk.

"Maaf Chanyeol-ssi, apa aku menganggumu?"

Tanya Jungkook setelah menutup pintu putih besar itu.

"Tidak, ada apa Jungkook?"

Setelah mendengar ucapan Chanyeol, Jungkook segera berjalan pelan ke arah Chanyeol yang tengah duduk di kursi ruangan kerjanya.

"i...itu, a..aku ingin meminta cuti, saudaraku di desa sedang sakit. Jadi aku akan pulang ke..kesana" jelas sekali nada suara Jungkook sangat gugup, Chanyeol berpikir apakah Jungkook setakut itu padanya? Tapi Chanyeol enggan untuk menanyakan alasannya, mungkin Jungkook hanya khawatir karena saudaranya sakit, pikir Chanyeol.

"Tentu saja kau harus kesana, maid disini cukup banyak untuk bisa menjaga anak-anak. Kau tidak perlu khawatirkan anak-anak. Pergilah dengan nyaman" Chanyeol tersenyum mencoba membuat Jungkook sedikit tenang.

Jungkook tersenyum kecil dan membungkukan badannya mengucapkan terimakasih, kemudian dia keluar dari ruang kerja Chanyeol.

Setelah beberapa lama,Chanyeol tersadar, ia lupa memberitahu Jungkook bahwa pak Shin-salah satu supirnya- akan mengantarkannya ke desa, dia pun segera bangkit dan berjalan cepat menuju kamar Jungkook yang berada di lantai dua, tepat berada di tengah kamar Jiwon dan Jesper.

Pintu putih itu sedikit terbuka, menampilkan Jungkook yang tengah berbicara melalui telepon dengan seseorang, Chanyeol sempat ragu untuk melanjutkan langkahnya, namun dia terkejut setelah mendengar nama Baekhyun disebutkan disana.

"Apa Jungkook tahu sesuatu?" tanya Chanyeol pada dirinya sendiri, tanpa sadar dia berjalan pelan memasuki kamar itu.

.

.

"Ne, V hyung. Besok aku akan kesana. Terimakasih sudah menjaga Baekhyun hyung, aku juga mencintaimu."

Setelah sambungan terputus, Jungkook menyimpan handphonenya dinakas dan bersiap untuk tidur. Tapi dia merasakan ada seseorang dibelakangnya.

"Jungkook-ah..." Jungkook terlonjak kaget dan mata bulatnya melebar ketika mendengar suara berat Chanyeol. Dia pun segera memutar tubuhnya pelan ke arah Chanyeol sambil menundukan kepalanya takut. Apa Chanyeol mendengar semuanya?

"Kau mengetahui sesuatu tentang Baekhyun?" benar, Chanyeol menguping pembicaraan Jungkook dengan kekasihnya. Apakah harus berakhir sekarang?

"Tatap aku Jungkook!" bentak Chanyeol menyadarkan lamunan Jungkook.

Jungkook segera menatap Chanyeol takut, ini pertamakalinya Chanyeol membenatak Jungkook, dan Jungkook sadar apa kesalahannya sekarang.

"Maafkan aku, Chanyeol-ssi. Ini salahku" kedua mata Jungkook berkaca-kaca hendak menangis. Chanyeol masih menatap tajam pada Jungkook.

"Kenapa tidak memberitahuku dari awal? Kau tahu betapa menyesalnya aku, betapa kacaunya aku mencari keberadaannya, setelah tahu dia berbohong."

"Maaf, aku sudah berjanji pada Baekhyun hyung untuk tidak mengatakannya."

Chanyeol mendengus. Dia mengacak rambutnya kasar setelah mendengar jawaban Jungkook. Dia memang bersalah, tapi dia sudah menyadari kesalahannya, kenapa Jungkook menyembunyikan Baekhyun? . Chanyeol mengatur nafasnya kembali, Dia harus mengontrol amarahnya. seharusnya dia bersyukur mengetahui keberadaan Baekhyun..

"Baiklah, dimana Baekhyun ku?"

.

.

.

.

.

.

.

.

Perjalanan yang harus ditempuh sekitar 3,5 jam menggunakan bus hanya butuh 1,5 jam untuk Chanyeol membawa kendaraannya dari Seoul menuju Daegu. Untunglah jalanan cukup sepi hanya ada beberapa mobil yang melintas karena saat itu sudah tengah malam. Jungkook sampai harus memekik beberapa kali, karena Chanyeol hampir menabrak mobil lain yang melintas dijalan.

.

.

BRUKK!

Terdengar suara pintu dibuka dengan kasar, Taehyung terlonjak kaget melihat namja tinggi yang terlihat kacau berjalan cepat menuju ranjang Baekhyun. dan Dia merasa kasihan melihat namja itu menagis sambil menggenggam tangan Baekhyun yang terbebas dari infusan dengan sangat erat.

"Baekhyun-ah, akhirnya aku menemukanmu." Ucap pria asing itu. Taehyung yang tersadar dengan kehadiran pria aneh yang tiba-tiba saja datang, baru akan marah, tapi Jungkook terlebih dahulu menahan lengannya. dan ia sedikit terkejut. Sejak kapan kekasihnya berada disini? Bukankah dia akan datang besok? Pikir Taehyung. Jungkook yang mengerti arti tatapan kekasihnya segera tersenyum lembut.

"Dia suaminya Baekhyun hyung, yang aku ceritakan padamu."

Taehyung pun mengangguk paham, pantas saja pria tinggi itu langsung menagis ketika datang, Taehyung banyak tahu mengenai betapa menyesalnya Chanyeol setelah Baekhyun pergi, Jungkook selalu menceritakan padanya ketika ia melaporkan kondisi Baekhyun pada kekasihnya itu.

Taehyung menatap sedih pada Chanyeol dan Baekhyun yang masih memejamkan matanya. selama ini, pasangan itu hanya menyiksa diri masing-masing. Baekhyun mengetahui semua tentang Chanyeol, tapi dia memohon pada Taehyung dan Jungkook untuk merahasiakan keberadaannya, dan bertingkah seolah semua baik-baik saja.

Dan saat ini, Taehyung dan Jungkook hanya dapat mendoakan yang terbaik untuk pasangan itu, setidaknya, mereka harus memiliki moment indah bersama, mengingat kondisi Baekhyun semakin hari semakin lemah, ditambah Baekhyun telah kehilangan bayinya. Entah apa yang harus dikatakan Taehyung nanti pada Baekhyun ketika dia sadar.

"Chanyeol-ssi" panggil Taehyung pelan. Chanyeol yang masih terisak, meksakan untuk mengangkat kepalanya menatap Taehyung.

"Baek hyung, sedang tertidur saat ini, dia sudah melewati masa kritisnya beberapa menit lalu dan dokter bilang, Baek hyung harus istirahat"

Chanyeol mengangguk dan merasa sedikit lega karena Baekhyun telah melewati masa kritisnya. Tapi kata-kata Taehyung selanjutnya membuat Chanyeol seakan di hempas ke dasar jurang.

"Tapi, bayi kalian tidak selamat. Sore tadi setelah aku pulang bekerja, aku menemukan Baekhyun sudah tak sadar diri di kamarnya dengan darah yang cukup banyak diantara kedua kakinya, aku sangat panik dan langsung membawanya kesini, dan dokter menduga bahwa baek hyung terjatuh dengan keras. Maaf aku tidak bisa menjaganya dengan baik, aku menyesal untuk itu."

"Kau tidak sepenuhnya salah. Akulah satu-satunya orang yang bersalah disini. Aku yang membuat Baekhyun seperti ini"

.

.

.


==== Missing You ====


.

.

.

"Baekhyun-ah, kau masih tidak ingin membuka matamu? Ini sudah hari ketiga, aku terpaksa meninggalkan anak-anak di Seoul. Mereka sangat patuh karena aku berjanji akan membawamu pulang kerumah. Jadi, cepatlah sadar ne? Aku sangat merindukan suara indahmu."

Chanyeol dengan sabar menunggu Baekhyun mebuka matanya. namun,Baekhyun masih betah dengan mimpi indahnya, tidak ada tanda Baekhyun akan sadar dari tidur panjangnya.

Sudah tiga hari pula Chanyeol tinggal dirumah sakit, dia membeli semua keperluan dari mulai pakaian, peralatan mandi dan keperluan lainya secara mendadak karena dia tidak membawa apapun kecuali pakaian yang dipakainya pada malam itu. Jungkook dan Taehyung sering menugunjunginya saat waktu makan, membuat Chanyeol sedikit bersalah karena merepotkan pasangan muda tersebut. Dia bisa saja membeli makanan dikantin rumah sakit, namun Jungkook keras kepala untuk mengantar makanan-makanan enak yang dibuatnya sendiri pada Chanyeol. dan Chanyeol bersyukur akan hal itu.

Chanyeol tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya,dia dengan setia duduk di samping ranjang Baekhyun mengelus tangan namja mungil itu lembut, sesekali Chanyeol mengelus surai hitam Baekhyun dengan sayang.

sudah 3 jam berlalu setelah Chanyeol mengajak bicara Baekhyun yang terpejam, Chanyeol sangat terkejut dan segera bangkit dari duduknya ketika jari-jari Baekhyun menunujukan sedikit pergerakan.

"Baekhyun-ah kau sudah sadar?" Chanyeol mengelus kepala Baekhyun pelan dan dia dapat melihat mata Baekhyun perlahan terbuka.

"Baekhyun-ah... kau dengar aku? Apa ada yang sakit? Aku akan memanggil dokter."

"Chanyeol?" gumam Baekhyun pelan.

Langkah Chanyeol yang hendak memanggil dokter terhenti, dan dia segera menuju ranjang Baekhyun dengan cepat setelah mendengar Baekhyun memanggilnya.

"ne. Ini aku Baekhyun. Kau baik-baik saja?"

"Chanyeol-ah, ini bukan mimpi kan? Ketika aku terbangun kepalaku selalu terasa sakit, dan aku selalu melihat byanganmu disana. Apakah ini hanya bayangan" Baekhyun mengarahkan kedua tangannya untuk menangkup wajah tampan mantan suaminya itu.

sementara Chanyeol hanya diam tidak menjawab, entah kenapa hatinya sakit mendengar pengkuan Baekhyun beberapa saat lalu. kau menahan sakit itu sendiri Baek? . Tangannya ia arahkan membalas usapan pelan Baekhyun dan membuat namja mungil dibawahnya terkejut. Mengerjapkan mata sipitnya lucu.

"Kau nyata?"

Chanyeol tersenyum, dan meraih kedua tangan Baekhyun yang berada diwajahnya kemudian Chanyeol mencium tangan itu lembut menyalurkan rasa rindunya pada namja manis itu yang kini mulai terisak.

"Kenapa menangis hm? Apa aku menyakitimu lagi? Maafkan aku sayang." Ucap Chanyeol sambil mengusap air mata di sudut mata Baekhyun.

Baekhyun menggeleng pelan, dia tersenyum samar.

"Aku sangat bahagia melihatmu."

Chanyeol membolakan matanya terkejut, dia tidak habis pikir tentang reaksi Baekhyun ketika melihatnya, apakah Baekhyun tidak sedikitpun ada rasa benci pada namja brengsek seperti Chanyeol? Chanyeol tidak mengharapkan situasi seperti ini, Chanyeol membayangkan Baekhyun akan memakinya,membentaknya dan marah padanya. bukan dengan senyuman lembut yang kini terpasang diwajah manisnya. Karena hal itu, Chanyeol merasa sangat bersalah telah menyakiti namja berhati malaikat seperti Baekhyun.

"Kenapa kau tidak membentakku? Memakiku? Kenapa tidak marah padaku?" Chanyeol akhirnya mengeluarkan pertanyaan yang sedari tadi berputar-putar dikepalanya.

"Karena aku mencintaimu."

Singkat. Chanyeol bingung untuk bereaksi seperti apa. jujur dia sangat bahagia mendengar hal itu, tapi lagi-lagi dia merasa sedih saat mengingat perbuatannya pada Baekhyun.

Baekhyun yang seakan baru mengingat sesuatu, segera meraba perut ratanya, dan pandangan hangatnya tadi seketika berubah kosong. Baekhyun terdiam.

"Baekhyun-ah, kau baik-baik saja?" tanya Chanyeol khawatir, Baekhyun pun menoleh dengan mata yang sudah berkaca-kaca hendak menangis lagi.

"Chanyeol-ah, dia pergi. Aku tidak menjaganya dengan baik. Aku membunuhnya Chanyeol. aku membunuhnya" teriak Baekhyun merasa frustasi karena baru menyadari perut buncitnya sudah kembali rata, dia sadar telah kehilangan bayinya.

Chanyeol mengangkat tubuh Baekhyun kedalam dekapannya. Baekhyun sempat memberontak dalam pelukan dengan memukul pelan dada bidang Chanyeol karena kehabisan tenaga . jelas tenaga Chanyeol lebih besar dan ia mengeratkan pelukannya pada tubuh lemah Baekhyun tanpa berniat melepasnya

"Tenanglah sayang, kau sudah berusaha keras. Bayi kita sudah berada di tempat yang lebih baik. Kau tidak membunuhnya sayang, kau ibu yang hebat." Gumam Chanyeol berusaha kuat untuk menenangkan Baekhyun, dia juga merasa kehilangan sama seperti Baekhyun. Dia juga hancur saat pertama kali Taehyung memberi tahu kabar buruk itu.

Baekhyun masih memberontak dipelukan Chanyeol.

"Baekhyun-ah, Jesper Jackson dan Jiwon sudah menunggumu dirumah. Kau tidak merindukan mereka?" seketika Baekhyun sedikit tenang setelah nama ketiga anaknya disebutkan. Chanyeol memanfaatkan hal itu untuk membuat Baekhyun sejenak melupakan tentang calon bayinya yang sudah tidak ada.

"Jesper, Jackson dan Jiwon sangat merindukan ibunya. Kau ingin bertemu mereka?" Chanyeol melepaskan pelukannya saat dirasa Baekhyun sudah kembali tenang.

"hm? Kau ingin pulang bersamaku?" tanya Chanyeol lagi.

Baekhyun mengangguk pelan, dia masih menangis, namun jauh lebih tenang dari sebelumnya.

"Baiklah, aku akan memanggil dokter untuk memeriksa keaadaanmu, jika dokter mengijikanmu pergi ke Seoul, kita akan langsung berangkat kesana, oke?" ucap Chanyeol lembut seperti membujuk anak kecil agar menurut pada perintah orang dewasa.

Dan Baekhyun menganggukan kepala dengan semangat, mengingat dia sudah sangat merindukan ketiga anaknya dan akan bertemu mereka sebentar lagi.

.

.

.

.

.

.

.

.

To be continue...


.

Yaah, dengan sangat menyesal ff ini masih belum waktunya tamat. lagu recomended diatas adalah lagu yang menginspirasi terciptanya chapter ini, jd maafkan kalo liriknya ga terlalu sesuai dengan cerita. Dan kyura sangat-sangat menyesal pada readers semuanya karena lama update missing you ini. Dimaafkan?

selama sebulan ini ceritanya kyuraa gaya-gayaan kena writer's block, tapi beneran kyuraa gaada ide buat lanjutin cerita ini, tulisan yang udah diketik serasa ganyambung setelah dibaca ulang terus menerus, dan akhirnya tercipta part gaje ini, ga nge fell ya? Sama saya juga.

Dan sejujurnya, kyura masih bingung akhir ff ini, ada yang nyumbang ide? Sok di pm. Hehehe.

Please don't bash me :( kyuraa udah berusaha yang terbaik untuk chapter ini. Dan aku harap readers dapat mereview kesan dan pesannya setelah baca part ini, oke?

Kyura sangat-sangat berterimakasih untuk yang review fav dan follow chapter sebelumnya yang tidak bisa disebutin satupersatu. Aku baca semua review kalian kok, jadi bikin aku semangat lanjutin ff abal ini. Thankyou so much guys!

Love you.