"Lepaskan aku.."

Ayano meronta berusaha melepaskan diri. Namun tak bisa. Ikatan ditubuhnya sangat kuat. Chen memasuki ruangan tempat Ayano disekap. Ia tersenyum menyeringai.

"Jadi ini putri Kannagi. Kita akan lihat apa Ayah mu yang pengecut itu akan datang menyelamatkan mu..." ujar Chen. Ayano emosi ia berteriak pada Chen.

"Apa yang kau inginkan hah?"

Chen mendekatinya dan menodongkan senjata dikepala Ayano. Ayano tak takut sama sekali. Ia menatap tajam Chen. Chen takjub pada keberaniannya.

"Untuk putri seumuran mu kau cukup tangguh juga"

Chen melepas Ikatan ditubuh ayano. Ia menyuruh Ayano agar membuat video berisi permohonan agar ayahnya menyelamatkannya. Ia juga memaksa Ayano untuk menyuruh Juugo segera turun dari jabatannya sebagai wali kota. Ayano tak mau kemudian ia memikirkan sesuatu dan melihat ke luar ruangan yang tembus pandang itu. Ia sadar kalau ia mengenali tempat mereka berada.

"Baiklah aku setuju. Tapi aku ingin secara langsung menelfon Ayah"

Chen tertawa menyeringai. "Rupanya kau sangat pintar. Kau pikir aku tidak tau apa yang ada diotak mu? Aku peringatkan bahwa telpon yang ku gunakan tidak akan bisa dilacak."

Ayano tersenyum sinis. "Kau mau agar aku berakting yang bagus untuk meyakinkan Ayah ku kan? Kalau benar kau ingin aku melakukan seperti itu, bukankah akan lebih baik kalau kita menelfonnya secara langsung?"

Chen tampak berpikir. Ia setuju dengan perkataan Ayano. "Baiklah kita akan menelfon ayah mu. Tapi jika kau tidak berhati-hati maka kau akan kehilangan nyawa mu"

Tsui Ling yang berada disitu berteriak histeris meminta Ayahnya agar melepaskan Ayano. "Ayah aku mohon jangan sakiti Ayano"

Chen terpaksa meminta anak buahnya untuk memukul tengkuk Tsui Ling. Tsui Ling langsung jatuh terkapar tak sadarkan diri, mereka menyeretnya pergi. Chen meminta agar Tsui Ling juga disekap. Ayano sangat khawatir namun ia tak bisa berbuat apa-apa.

"Ingat kau harus pura-pura bersedih dan ketakutan" ujar Chen. Ayano hanya diam saja. Sementara itu diMansion Kannagi. Kirika kazuma Genma serta Juugo sedang mendengarkan laporan kirika.

"Pesawat itu tidak ditemukan mendarat dibandara manapun" ujar Kirika. Tiba-tiba ponsel Juugo bergetar. Ia menerima pesan dari Chen yang menyuruhnya agar segera menelfon. Mereka semua melihat pesan itu. Kazuma sangat marah. Kirika mencoba menenangkannya lalu membawanya keluar dari situ. Juugo menghela nafas sesaat. Ia menekan no dan beberapa saat kemudian wajah ayano muncul dilayar. Juugo bertanya apa Ayano baik-baik saja lalu dibalas oleh anggukan Ayano.

"Kau tidak usah memikirkan apapun. Ayah akan mengurus semua ini. Mulai sekarang kita akan hidup dengan tenang"

Ayano sedikit terkejut, ia tau ayahnya akan benar-benar menuruti permintaan Chen. Ayano menangis tersedu-sedu. Juugo tak bisa menyembunyikan raut wajah kesedihnnya.

"Ayah aku mohon selamatkan aku.. Aku tidak ingin mati disini"

Chen tersenyum puas. Genma beserta para pengawal tak bisa melacak dari mana telpon itu berasal.

"Ayah... Ayah ingat bukan saat Ayah mengajak ku liburan dan memancing bersama ditempat favorit kita. Aku ingin kita pergi lagi kesana bersama"

Chen mulai merasa curiga. Juugo ingat ia tau dimana Ayano berada sekarang.

Chen berteriak. "Hei"

Juugo tanya "Kau sedang bersama siapa?"

Ayano menghapus air matanya dan tersenyum menyeringai ke arah Chen. "Tidak ada Ayah. Ayah sampai kapan pun jangan pernah Ayah meninggalkan jabatan Ayah. Ayah ingat kan tempat Kita menghabiskan waktu bersama. Aku berada ditempat itu.."

Chen geram. Anak buah Chen mengokang senjatanya. Juugo mendengar suara kokangan itu. "Apa yang tejadi?"

"Ayah jangan khawatir mereka cuma menggertak. Mereka tidak akan berani membunuh ku" jawab Ayano.

Chen menyuruh anak buahnya mengakhiri sambungan telpon. Ia mendekati Ayano.

"Apa yang kau lakukan hah?" Tanya Chen.

"Apa? Tentu saja memberitau Ayah ku dimana aku berada. Kau ingat? Aku ini seorang putri!" (seorang putri = sudah banyak tempat yang dikunjungi Ayano. Jadi ia tau hanya dengan sekilas melihat pemandangan ditempat itu)

Chen sadar. Ia menampar Ayano. Anak buah Chen menodongkan senjata pada Ayano.

"Aku memang tidak bisa membunuh mu, tapi aku bisa menyiksa mu"

Ayano tak tinggal diam ia merebut salah satu pistol milik anak buah Chen lalu meletakan pistol itu dikepalanya. Chen kaget.

"Kau sudah tau siapa aku kan? (Ayano yang keras kepala dan bisa nekat melakukan hal apapun) Aku masih hidup itu bukan karena keberuntungan tapi karena aku belum memutuskan kapan aku ingin mati."

Ayano tahu, jika ia mati maka semuanya akan sia-sia untuk Chen. Chen tidak akan bisa

tawar menawar dengan Juugo. Karena itu Ayano tau Chen tak akan membiarkan dirinya mati.

"Biarkan aku berada disisi Tsui Ling dan aku akan bersikap baik" kata Ayano.

Chen tertegun mendengarnya. Ia membiarkan Ayano menemui Tsui Ling.

Ayano dipertemukan dengan Tsui Ling. Tsui Ling yang baru sadar terkejut melihat beberapa bagian tubuh ayano yang memar. Ia berjalan mendekati Ayano dan memegang pipi ayano yang memar Ayano meringis kesakitan namun berusaha menyembunyikannya dengan beralasan bahwa ia tersenyum. Tsui Ling sedih ia meminta maaf pada Ayano.

"Maafkan aku. Aku tadi tak berguna aku juga tak bisa menyelamatkan mu!" ujarnya menahan tangis. Ayano menguatkan Tsui Ling. "Jangan khawatir. Aku baik-baik saja"

Pertahanan Tsui Ling runtuh ia menangis. Ini pertama kalinya Ayano bersikap tulus padanya. Ia tau selama ini Ayano juga menyukai Kazuma karena itulah Ayano kerap kali terkesan tak suka padanya. Ayano bingung melihat Tsui Ling menangis.

"Apa bekas pukulan itu sangat sakit? Aku akan meminta mereka membawa sesuatu"

Ayano bergegas pergi namun Tsui Ling menahannya. "Aku tidak apa-apa. Jangan pergi dari sini aku takut mereka menyakiti mu"

Ayano menurut ia kembali duduk didekat Tsui Ling. Tsui Ling menatap sebuah jendela yang berada diruangan itu. Kemudian ia menyarankan agar Ayano kabur lewat jendela itu.

"Kau ingin aku melarikan diri dari sini?"

"Ya cepatlah sudah tidak ada waktu lagi. Di sebelah rumah ini ada sebuah gudang. Didalamnya ada beberapa mobil milik ayah. Gunakan salah satu mobil itu. Pergilah dari sini mencari bantuan." Tsui Ling memberikan kunci mobil pada Ayano. Ayano terkejut dengan permintaan Tsui Ling.

"Kau memaksa ku pergi lalu meninggalkan mu dalam bahaya sendirian? Aku tidak mau melakukan itu. Aku akan pergi jika kau juga ikut dengan ku"

Tsui Ling putus asa. Ia berkata bahwa ia akan baik-baik saja karena Ia adalah putri Chen. Tapi Ayano berkata bahwa itu tak menjamin keselamatan Tsui Ling setelah apa yang menimpa Tsui Ling tadi.

Juugo sudah tiba di Okinawa tempat Ayano berada. Genma juga ikut serta dengannya. Sementara Kazuma beserta dua orang rekannya, Nanjou dan Haruto. telah lebih dulu pergi ke kediaman Chen. Mereka menyamar dan mengambil posisi masing-masing untuk melakukan pengintaian.

Tsui Ling bekerja sama dengan Ayano untuk melarikan diri. Mereka melompat melalui jendela lalu pergi ke mengambil mobil digudang. Saat mereka hampir sampai seorang anak buah Chen mendapati mereka. Ia bersiap mengokang senjatanya namun dengan mudah Ayano membalikan senjata itu hingga membuat Pria itu tewas terkena tembakan. Suara tembakan itu membuat Chen serta anak buahnya yang lain curiga, Kazuma beserta rekannya juga mendengar suara tembakan itu. Ayano sadar ia memgambil senjata milik pria itu lalu menarik Tsui Ling segera pergi dari situ. Dari kejauhan Chen melihat mereka. Ia sangat marah lalu menyuruh anak buahnya mengejar mereka.

Tsui Ling memasang seatbelt miliknya. Ayano mulai menyalakan mesin mobil. Anak buah chen sampai disitu mereka berniat menembak mobil yang ditumpangi Ayano. Namun salah satu dari mereka mengingatkan untuk tidak menembak karena Tsui Ling juga berada disitu.

"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Tsui Ling cemas. Ayano tetap tenang. Ia mulai menancap gas dan menabrak mobil yang menghadang mereka.

Mereka pergi dari situ diikuti dua mobil anak buah chen.

Tsui Ling mulai resah. Ayano memintanya untuk tenang.

"Tenanglah. Kita hanya perlu keluar dari sini. Kazuma akan menyelamatkan kita"

Tsui Ling memandangi ayano. "Bisakah kau menjaga kazuma untuk ku?"

Ayano bingung. "Apa maksud mu?"

"Aku tidak yakin apa kita akan selamat dari sini. Tapi aku berjanji akan melindungi mu. Jika nanti aku sudah tak ada didunia ini maukah kau menggantikan ku menjaga Kazuma? Aku sangat menyayangi Kazuma tapi aku membuatnya kecewa. Kazuma memang terlihat kuat diluar namun didalam ia sangat rapuh. Aku mohon tolong jaga dia. Hanya kau yang tulus mencintainya didunia ini. Terimalah ini jika aku sudah tidak ada berikan ini pada Kazuma" ujar Tsui Ling tulus sambil menyerahkan amplop putih pada Ayano. Ayano kesal.

"Kau bicara apa? Kazuma hanya mencintai mu. Jangan pernah membuatnya sedih. Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada mu!"

Tsui Ling tersenyum. Ia berterima kasih namun memaksa Ayano agar menerima itu untuk diserahkan pada Kazuma. Mau tak mau Ayano menerimanya.

TBC