*4 tahun kemudian*

Hari ini tepat 4 tahun hari dimana meninggalnya Tsui Ling dan Kazuma. Ayano memakai yukata bewarna hitam rambutnya ia sanggul rendah, ia bersiap pergi ke makam keduanya. Misao sudah siap dengan membawa sekeranjang bunga dan wine.

Nanjou dan Haruto mendekatinya bersiap mengantarnya. Namun Ayano menolak. Ia berkata bahwa ia hanya ingin pergi berdua saja bersama Misao. Keduanya mengerti dan meminta agar Ayano berhati-hati.

Beberapa jam lamanya mengenderai mobil Ayano dan Misao telah tiba disebuah pemakaman. Ayano menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya. Beberapa kali ia mencoba menenangkan hatinya. Misao melihat Ayano yang matanya sudah berkaca-kaca. Sudah 4 tahun berlalu tapi kesedihan Ayano belum hilang sepenuhnya. Ia menggenggam erat tangan Ayano.

"Ini sudah 4 tahun berlalu nona. Jangan menangis bersedih terus-menerus. Tuan dan Nona Tsui Ling sudah bahagia disana" ujar Misao. Ayano mengangguk mencoba tersenyum tegar. Ia mengambil keranjang berisi bunga dan wine dari tangan Misao.

"Apa anda ingin aku menemani anda?" tanya Misao.

"Tidak.. Aku ingin pergi sendirian" ujar Ayano tersenyum. Misao mengerti. Ia membiarkan nonanya pergi sendirian. Dari arah berlawanan ada sebuah mobil yang mendekat. Mobil itu berhenti lalu pemiliknya keluar. Ia adalah Kazuma.

"Tuan Kazuma jika anda membutuhkan sesuatu katakan saja pada Ku" ujar sang supir bernama Akebi. Kazuma hanya diam saja lalu berjalan pergi meninggalkan Akebi. Akebi hanya menghela nafas melihat kelakuan Kazuma.

Kazuma terus berjalan ia tiba dimakam Tsu Ling. Ia terkejut melihat sosok wanita yang dikenalnya. Wanita itu adalah Ayano. Sepupu yang sangat disayanginya dimasa lalu. Setelah 4 tahun lamanya akhirnya untuk pertama kalinya ia melihat Ayano.

"Sudah lama kita tidak bertemu. Apa kalian bahagia disana, Kazuma ? Tsui Ling? Lihat ini. Aku membawakan wine kesukaan mu Kazuma." Ayano menyirami kubur itu dengan Wine. Kazuma memandang Ayano tajam. Ia murka melihat Ayano mendatangi makam Tsui Ling, ingatannya tentang kematian Tsui Ling kembali memenuhi kepalanya. Ia mengambil pistol dibalik jasnya berniat membunuh Ayano. Namun terhenti ketika melihat tubuh Ayano bergetar. Ia tau Ayano sedang menahan tangis dan pada akhirnya Ayano tak sanggup lagi, ia menangis tersedu-sedu diatas makam Tsui Ling. Kazuma tak tahan lagi melihat Ayano menangis. Ia berjalan pergi meninggalkan Ayano.

Sorenya Ayano pulang bersama Misao. Tanpa mereka ketahui Kazuma selama ini mengikuti mereka. Ia berada dibelakang mereka. Misao berjalan mendahului Ayano. Langkah Ayano terhenti. Ia mulai merasakan kehadiran Kazuma. Ia membalikan tubuhnya berharap mendapati sosok yang sangat dirindukannya itu muncul dihadapannya.

"Kazuma..." gumamnya pelan. Tapi disitu tak ada siapa-siapa hanya dedaunan yang bergoyang karena tertiup angin. Ayano menghela nafas. Ia tak putus asa. Ia kembali berbalik berharap Kazuma melakukan hal yang sama seperti dihari ulang tahunnya. Tetap saja tak ada sosok Kazuma yang muncul. Ayano menahan tangisnya dan berjalan masuk ke rumahnya. Kazuma keluar dibalik pohon. Ia memandangi Ayano yang sudah jauh dari jangkauan pandangannya.

Didalam Juugo sudah menunggu Ayano. Ia mengajak putrinya itu untuk membicarakan sesuatu.

"Ini mengenai lamaran yang ayah terima sejak 4 bulan yang lalu. Pihak keluarga Ikezawa juga sudah pernah berkunjung kesini. Apa pendapat mu tentang Minoru?" tanya Juugo antusias.

*flash back*

Juugo mengundang salah satu sahabatnya bernama Mitzuke Ikezawa untuk makan malam bersama. Ia Bermaksud menjodohkan Ayano dengan putra sahabatnya itu, Minoru Ikezawa. Saat Ayano dipanggil untuk makan malam bersama, Minoru langsung jatuh cinta pada pandangan pertama ketika melihat Ayano berjalan mendekati mereka. Ia sangat sering mengunjungi Ayano. Keduanya sangat dekat namun Ayano tak tau bahwa mereka dijodohkan. Semakin hari rasa suka dan sayangnya bertambah. Ia bahkan meminta Ayahnya segera mengirim surat lamaran untuk melamar Ayano. Ayano terkejut saat tau bahwa dirinya akan dijodohkan bahkan sudah dilamar oleh Minoru. Ayano selalu mencari alasan untuk menolak perjodohan itu tapi Juugo tak terima. Kini setelah 4 bulan lamanya, Juugo benar-benar serius. Ia ingin segera menikahkan Ayano dengan Minoru.

*Flash back end*

Ayano terlihat tak tertarik dengan pembicaraan itu. "Aku sedang tidak ingin membicarakan hal ini Ayah"

"Putri ku umur mu sekarang sudah 26 tahun. Cukup matang untuk membina rumah tangga. Minoru adalah calon suami yang baik untuk mu." ujar Juugo.

"Tapi ayah..."

"Tidak ada tapi-tapian. Ini sudah kesekian kalinya kau seperti ini. Ayah sudah tidak bisa berkompromi lagi. Kau harus menikah dengan Minoru. Hari pernikahan kalian sudah ditetapkan"

Ayano berdiri meninggalkan tempat itu. Nanjou dan Misao yang ada disitu mengehela nafas melihat kelakuan Ayano.

Ayano memasuki kamarnya. Ia jatuh terduduk dilantai. Kembali memikirkan Kenangannya bersama Kazuma lalu acara pernikahannya yang sudah dekat. Misao mendekatinya.

"Nona. Lupakan tuan Kazuma. Mulai sekarang belajarlah untuk mencintai tuan Minoru."

Misao menyuruh Ayano melupakan saja semua masa lalunya. Ayano hanya diam. Ia menelungkupkan wajahnya dikedua lututnya.

Kazuma ditemani oleh Yutaka supir sekaligus anak buahnya. Mereka berada dibar. Ia sedang minum-minum. Para wanita disekitarnya tampak takjub melihat ketampanannya. Beberapa dari mereka mencoba menggodanya, tapi Ia sama sekali tak tertarik pada mereka. Kazuma kembali mengambil wine lalu meminumnya.

"Setelah semua ini selesai aku ingin kita hidup bahagia" -Tsui Ling-

"Dari pada barang-barang itu kau lebih penting untuk ku" -Ayano-

"Aku bosan kau selalu mementingkan Ayano" -Tsui Ling-

"Kau harus kembali hidup-hidup untuk membuat ku mati ditangan mu. Aku akan menunggu hari disaat aku mati ditangan mu" -Ayano-

"Nona sangat mencintai mu. Kau bukan satu-satunya orang menderita. Nona jauh lebih menderita dari mu" -Nanjou-

Memori Kazuma memutar kembali ingatannya 4 tahun yang lalu. Ia memejamkan matanya dan kembali meminum wine. Yutaka khawatir melihat tuannya yang sudah banyak minum.

Paginya Ayano meminta Izin pada Ayahnya untuk berdoa dikuil. Juugo mengizinkannya. Ayano berjalan sendirian ke kuil tanpa pengawalan Nanjou dan Haruto. Misao mencegahnya tapi Ayano meminta untuk tidak menemaninya, ia ingin menenangkan dirinya. Pagi itu juga Kazuma mengamati kediaman Kannagi. Ayano berjalan keluar. Kazuma megamatinya lalu akan mengikuti Ayano.

Tapi ia melihat seorang pria yang datang. Kazuma bersembunyi. Ia mengenalinya. Pria itu adalah Minoru. Ia ingin menemui Ayano. Misao berkata kalau Ayano pergi berdoa di kuil. Misao melihat bungkusan ditangan Minoru. Ia tanya pada Minoru "Apa anda ingin menitipkan sesuatu untuk nona Ayano?"

"Aku akan memberikan langsung padanya" ujar Minoru tersenyum bahagia. Ia tanya dimana lokasi kuilnya.

Sementara itu Ayano tidak langsung ke kuil. Ia jalan ke arah taman yang sering dikunjungi Kazuma dan Tsui Ling.

Kazuma juga sudah mengikuti Ayano. Ia berniat ingin menculik Ayano, tapi matanya berkata lain. Ia benar-benar merindukan Ayano. Ia hanya ingin berlari memeluknya untuk melepas kerinduannya tapi Kazuma kembali mengeraskan hatinya.

Minoru sudah tiba duluan dikuil. Ia mengeluarkan hadiah untuk Ayano. Minoru berniat memberikan barcelet untuk Ayano, calon istrinya. Ayano jalan ke arah kuil. Jalan itu sepi sekali dan Kazuma mulai bersiap ingin menculik Ayano. Ia mengeluarkan tali dari balik bajunya. Siap menjerat leher Ayano. Tiba-tiba terdengar suara Minoru. "Ayano-san!"

Kazuma bersembunyi lagi.

Ayano heran melihat Minoru.

"Aku kesini ingin memberikan ini" Minoru memberikan barcelet untuk Ayano. "Ini hanya sebuah barang kecil tapi ini mewakili isi hatiku. Aku sangat bahagia besok kita akan menikah"

"Terimakasih" Ayano menerimanya dan berkata akan berdoa dulu. Ayano masuk ke dalam dan berdoa, "Besok adalah hari pernikahan ku. Tapi sampai sekarang aku tidak bisa melupakan perasaan ku begitu saja. Aku tidak tau harus berbuat apa. Apa jika kau masih berada disisi ku kau akan mencegah pernikahan ku? Aku sangat berharap kau melakukan itu. Tapi memikirkan begitu besarnya kau mencintai Tsui Ling itu membuat ku tau harapan ku itu sia-sia." Ayano menangis terisak didalam doanya. Entah sudah berapa banyak ia menangis.

Kazuma berada dibalik pohon mendengar semua percakapan Ayano dan Minoru serta doa Ayano. Untuk sesaat Kazuma goyah karena mendengar doa Ayano. Namun ia kembali pada tujuan utamanya. Ia kesal lalu mengepalkan tangannya erat. Ayano pergi. Ia melewati pohon tempat Kazuma bersembunyi dan tak sengaja menabrak punggung Kazuma. Kazuma terkejut. Sekilas Ayano melihat wajah Kazuma. Ia tertegun "Kazuma..." namun ia segera menunduk meminta maaf. Ia berpikir mungkin itu hanya halusinasinya. Kazuma tak menggubrisnya. Ia berjalan pergi meninggalkan Ayano. Tanpa disadarinya sapu tangan miliknya terjatuh. Ayano memungutnya. Ia berlari mengejar Kazuma.

TBC