SMILE FLOWER

©dyn_amity

.

.

Kim Mingyu & Jeon Wonwoo

And Other

.

.

Rated : T

.

Genre : Romance / Drama

.

WARN! BL! Bromance! Yaoi! BXB!

DON'T BE A PLAGIAT

DON'T JUDGE AUTHOR. OK

.

.

SEVENTEEN – SMILE FLOWER

.

.

100% Mine

Chapter 2

I Will Become The Spring To Your Smile's

0o0o0o0o0o SMILE FLOWER o0o0o0o0o0

..

.

Disinilah dia, duduk dengan kepala didaratkan didepan meja belajarnya yang terhitung sempit. Dihadapannya ada sebuah PC yang masih menyala, dengan disekitar dinding kamarnya ada banyak kertas menempel yang berisi quote motivasi, ditambah dengan sebuah lampu belajar menempel diatas untuk menjadi penerang kegiatannya. Meja belajarnya sudah penuh dari awal, dan ditambah lagi dia tadi sudah meminjam banyak buku dari perpustakaan.

Matanya melelah setelah 3 jam berkutat dengan buku pelajaran dan PC. Otaknya sudah mencapai batas, dan juga kedua onix matanya sudah meredup seiring dengan uapan yang keluar dari mulutnya.

Raga kurusnya sesekali direnggangkan kekanan dan kekiri secara bergantian. Hawa yang panas yang menguar ke seisi ruangan kamar berhasil diredakan dengan kipas angin sedang yang terpasang disebelah kanan meja belajarnya. Menyadarkan dirinya lagi melalui belaian buatan dari kipas angin tersebut untuk tidak terlelap dan melanjutkan soal essaynya.

Wonwoo mengusak pelan seluruh permukaan wajahnya menggunakan tangan kirinya. Menghembuskan nafas kasar bercampur lelah. Terlihat beberapa soal masih belum terjawab, tapi Wonwoo sepertinya kelihatan sangat letih. Jadi dia memutuskan untuk beranjak dari meja belajarnya setelah mematikan PC dan membereskan bukunya. Memindahkan tempat berdirinya kipas angin tersebut jadi lebih dekat dengan tempat tidur Wonwoo.

Wonwoo merebahkan diri di kasurnya yang terhitung sempit untuk disebut kasur. Menatap langit – langit atap kamarnya dengan tatapan sendu khas miliknya. Mengulang kembali ingatannya dengan apa yang telah ia lakukan hari ini. Dia teringat saat dirinya pulang bersama dengan tetangga barunya Mingyu. Sesaat dia pikir bertemu dengan Mingyu tidak akan membuatnya menjadi terbebani. Tapi nyatanya dia terbebani, bukan tepatnya hati kecilnya berbicara bahwa seharusnya dia menjaga jarak dengan Mingyu.

Dia mengingat persis ucapan Mingyu saat itu

"Mari kita bertemu lagi seperti ini. Aku ingin mengenalmu lebih jauh. Kau maukan?"

Tapi dia tak tahu persis maksudnya apa.

"Mari kita bertemu lagi seperti ini." Sudah pasti mereka akan sering bertemu mengingat bahwa mereka satu sekolah dan juga rumah yang berdekatan. Dan juga akan saling mengenal jika selalu bertemu. Tapi nyatanya otak jenius Wonwoo seolah buntu untuk mengetahui apa yang Mingyu maksud itu.

"Aku ingin mengenalmu lebih jauh." Otaknya berpikir keras untuk menemukan jawaban dari pernyataan Mingyu tersebut.

Wonwoo yang sedari tadi sedang bergelut dengan pemikirannya seperti ditarik kembali kesadarannya. Dia menggeleng pelan dan bergegas mengulung dirinya dengan selimut tebal nan lembut peninggalan Ibunya. Tangannya terulur sebatas menggapai jam tangan yang ia letakan diatas meja belajarnya.

11.07 PM terpampang di jam tangannya. Ia mendengus pelan lalu menaruh kembali benda tersebut. Berlanjut lengannya meraih tombol off kearah lampu utama kamarnya dan menyalakan lampu tidur kecil yang diletakan disampingnya. Suasana kamar Wonwoo menjadi hangat dan tak lama terdengar suara dengkuran halus keluar dari mulut Wonwoo.

Dia benar – benar kelelahan sepertinya.

.

.

06.00 AM alarm berdering otomatis. Wonwoo yang berada dibawah selimut itu mengulurkan tangan menuju ponsel yang berdering itu yang berada diatas nakas. Matanya setengah terpenjam tapi dia seolah sudah hapal apa yang dia lakukan. Wonwoo menekan tombol on yang berada dipinggir ponselnya, sedikit menekannya dengan keras. Layar ponsel itu menyala, dia menggeser layar ponselnya yang terkunci. Menampilkan gambar alarm yang berbunyi dan jari Wonwoo menggeser kearah kanan untuk mematikannya. Setelahnya dia meletakan lagi ponselnya asal kekasur.

Dia masih terbaring dikasurnya, berusaha menetralkan lagi jiwanya yang mungkin sedang bergabung untuk mengumpulkan lagi tenaga Wonwoo untuk bangun. Wonwoo menegakan tubuhnya, mengusak halus wajahnya lalu menjatuhkan kakinya kearah lantai. Dia berjalan gontai menuju dapur hendak meminum air. Kebiasaan Wonwoo sehabis tidur yaitu minum segelas air putih.

0o0o0o0o0o SMILE FLOWER o0o0o0o0o0

..

.

Wonwoo keluar rumah dengan memakai hodie kebesaran miliknya dipadukan dengan celana training yang berwarna senada dengan sepatunya. Menapaki jalan setapak yang tertuju kearah pagar rumahnya. Dia menjejakan kakinya diatas aspal jalan lalu tak lupa dia menutupnya lagi. Wonwoo bermaksud untuk lari pagi hari ini. Dia memasang headset dikedua kupingnya, menyetel lagu kesukaannya dan langkah ringannnya dimulai.

.

Satu hal yang tidak disadari Wonwoo ialah kalau dia tidak sendiri dipagi buta seperti ini. Ada seorang pemuda mengikuti setiap langkah Wonwoo. Tersenyum tipis menatap punggung Wonwoo yang berjalan didepannya. Langkah panjangnya menyamakan laju kaki Wonwoo agar tidak tertinggal. Sementara Wonwoo sedang menggumam tak jelas mengikuti irama musik yang disetelnya. Saking asiknya, Wonwoo tak sadar bahwa ia menginjak batu dan membuatnya tergelincir jatuh.

Mingyu yang berada dibelakang Wonwoo terkejut melihatnya. Dia bergegas menjumpai Wonwoo yang sedang merintih kesakitan. Lutut Wonwoo sedikit meninggalkan bercak goresan kemerahan dan juga sepertinya kaki kanan Wonwoo terkilir.

"Wonwoo kau tak apa?" Mingyu bertanya kepada Wonwoo.

"Mingyu?" batin Wonwoo berujar.

Wonwoo hanya mengangguk sebagai jawabannya. Tangan Wonwoo mengurut bagian kakinya yang terkilir. Mingyu berinisiatif membantu untuk Wonwoo berdiri, tapi kaki Wonwoo tak bisa digerakan. Dia masih bergeming ditempatnya, badan Mingyu beringsut turun berjongkok dengan punggung membelakangi Wonwoo. Wonwoo heran, dia masih tak mengerti maksud Mingyu.

"Naiklah, kupikir kau takan sampai kerumah dengan kaki seperti itu." Mingyu berujar dengan tangannya terulur kebelakang membiarkan Wonwoo beranjak dengan tertatih kearah punggung Mingyu.

0o0o0o0o0o SMILE FLOWER o0o0o0o0o0

..

.

Mingyu menggendong tubuh Wonwoo dengan tenang. Wonwoo mendekap leher Mingyu dengan erat. Menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Mingyu. Wonwoo ingin bertanya kepada Mingyu bagaimana bisa dia ada disana membantunya. Tapi lidahnya kelu, enggan membiarkan kata keluar dari mulut Wonwoo. Jadi semua itu tertahan begitu saja. Mengamati wajah Mingyu dari jarak sedekat ini, membuat hatinya menghangat. Entah apa yang dirasakannya kini, tapi hatinya terasa nyaman berada sedekat ini dengan Mingyu.

.

.

Wonwoo berangkat sekolah meski dengan keadaan kakinya yang masih sakit. Berdalih kalau dia tak mau lagi ketinggalan pelajaran. Dia berjalan disepanjang trotoar menuju halte bus. Mengesampingkan rasa sakit yang mendera ditulang kakinya, berjalan dengan gontai diselingi dengan rintihan kecil keluar dari bibirnya.

Mobil Mingyu bergerak perlahan mengikuti langkah kecil Wonwoo. Dia melihat dibalik kaca mobilnya yang duduk dibelakang kursi supir. Ada rasa aneh menyelinap masuk ke inti hati Mingyu. Melihat bagaimana Wonwoo duduk dengan tenang menunggu bus datang. Mobil Mingyu berhenti didekat halte tersebut. Mingyu berkata kepada supirnya agar menunggu sebentar untuk memastikan Wonwoo mendapatkan bus.

"Apa sebaiknya kita mengajaknya daripada menunggu lama disini, Tuan?" supir itu bertanya kepada Mingyu.

"Tidak, kita tetap menunggu disini." Jawab Mingyu dengan tatapan mengarah kearah Wonwoo. Supirnya tidak membalas lagi perkataan Mingyu.

Satu hal yang bisa Mingyu simpulkan mengenai sosok itu. Begitu sederhana dan juga mengagumkan disaat bersamaan.

.

Wonwoo berharap bus akan datang cepat agar dia tidak terlambat. 10 menit dia menunggu, akhirnya bus datang juga. Wonwoo melangkahkan kaki kearah bus dengan gerakan lamban. Menaiki anak tangga bus dengan menahan rasa sakit mendera kakinya. Mendudukan diri di deret bangku kelima sebelah kiri bus dekat dengan kaca.

Suara mesin mobil Mingyu terdengar dan melaju mengikuti mobil bus didepannya. Mingyu menghela nafas lega dengan kedatangan bus tersebut.

.

.

Wonwoo menghela nafas tak beraturan, dia sangat kelelahan menaiki anak tangga menuju kelasnya yang berada dilantai 2. Tiga anak tangga lagi harus ia lewati untuk mencapai lantai dasar ruangannya.

" Huh, akhirnya sampai juga." Gumam Wonwoo pada diri sendiri.

Dia berjalan menyusuri lorong menuju kelasnya. Jarak antara kelas Wonwoo cukup dekat dengan tangga, setidaknya Wonwoo tak perlu lagi menahan rasa sakit yang dialami kakinya. Wonwoo membuka knop pintu belakang kelasnya, berjalan perlahan menuju tempat duduknya. Dahinya mengernyit menemukan ada kotak susu kedelai berada diatas mejanya. Dia duduk sembari melepas tas dan menyimpannya disamping bawah meja. Setelah itu Wonwoo meraih kotak susu tersebut yang dibawahnya ada sebuah kertas terselip.

"Minum ini, aku tak tahu apa minuman kesukaan mu jadi aku berikan ini saja, semoga kau suka. Dan juga kau pasti lelah."

Wonwoo menatap tulisan itu dengan ekspresi datarnya. Beralih kearah kotak susu yang ada digenggamannya dia berpikir siapa yang sudah memberikan ini kepadanya. Otaknya berputar mencari orang siapa yang memberikan ini. Wonwoo menoleh kesebelah kanan tempat duduknya.

" Jisoo~ya kau yang memberiku ini?"

Jisoo menoleh kearah Wonwoo dengan tatapan heran. "Apa?" Jisoo bertanya balik ke Wonwoo. Wonwoo mengerti bahwa orang itu bukan Jisoo. Jadi dia menggeleng menanggapi respon Jisoo. " Aniya, bukan apa-apa." Ujar Wonwoo sembari menatap lagi kotak susu itu. Jisoo tidak bodoh untuk tidak mengetahui gelagat aneh Wonwoo. Dia menanyakan apakah Wonwoo baik – baik saja.

"Wonwoo~ya kau kenapa?" Wonwoo beralih menatap kearah Jisoo lagi. Jisoo menunggu jawaban dari Wonwoo, belum sempat Wonwoo menjawab pertanyaan Jisoo. Teman berdarah campuran tersebut bertanya lagi tentang kaki Wonwoo. " Wonwoo~ya ada apa dengan kakimu, apa kau terluka?" tanya Jisoo dengan nada khawatir sambil menatap kebawah kaki Wonwoo.

Wonwoo menjelaskan kepada Jisoo perihal kakinya yang terluka. "Seharusnya kau dirumah saja, kenapa harus berangkat sekolah segala." Nada bicara Jisoo masih sama dengan sebelumnya kepadaWonwoo. " Aku tidak ingin ketinggalan pelajaran lagi, setidaknya aku harus masuk setengah hari. Benarkan ?" Wonwoo menanggapinya disertai senyuman tipis. Jisoo mengangguk, benar juga dengan begitu Wonwoo tidak akan ketinggalan lebih pelajaran. "Tapi kalau nanti kau merasa tak enak badan, izin saja ke UKS ok." Ujar Jisoo masih menatap bola mata Wonwoo. Wonwoo mengangguk ringan sebagai jawaban. Jisoo masih terpaku menatap Wonwoo yang sedang menundukkan kepala tak membalas tatapan Jisoo kepadanya.

Tapi suara bising dari teman sekelas yang mendudukan diri dibangku masing dengan terburu - buru dan juga derap langkah sepatu pantopel memasuki kelas mereka membuat Jisoo dan Wonwoo mengalihkan pandangannya kedepan kelas. Park Ssaem datang dengan membawa buku absen dan buku paket pelajaran matematika berada ditangannya. Memulai pelajaran tapi sebelumnya Park Ssaem mengabsen kehadiran para muridnya.

.

.

.

Kkeut.

End or Tbc

16'04'2017

AN Time :

Chapter 2!

Masih ngga percaya saya bisa bikin nih chap ke-2. Sebenernya masih mau lanjut ngetik lagi, tapi ah nanti lagi biar bikin penasaran /heeeu/

Special Thank's u/ yang sudah review dan foll/fav FF saya yang sebelumnya. Maaf baru bisa bilang makasih nya sekarang. Sekali lagi maafkeun saya yess, dan juga jangan bosen baca ff saya.

Kyunie || Beanienim || deppsooh || daejae9394 || hasniyah nia || pizzagyu || cancie17 || yeri960 || egatoti

dan untuk yang belum disebut, cuz saya belum check lagi.

Maafkeun daku yang tak bisa mengontrol banyak typo yang bertebaran dimana-mana.

Last but not Least

Review Juseyoo!

©dyn_amity