.

.

.

.

Jungkook menaruh rangkaian bunga di etalase toko dengan hati-hati. Di sebelah rangkaian itu, dia menaruh satu bucket bunga lili dengan warna bermacam-macam. Matanya mengedar, memperhatikan setiap detail toko. Setelah itu, dia berjalan ke arah pintu, membalik papan closed, lalu menuju kasir. Mendudukkan dirinya di kursi kasir, Jungkook mengambil ponselnya untuk mengusir rasa bosan.

Kling

Suara bel berbenturan dengan pintu. Jungkook menaruh ponselnya, dan segera menghampiri pelanggannya yang ternyata seorang laki-laki. Orang itu tengah melihat seikat bunga mawar putih yang berada dekat etalase.

"Selamat pagi. Ada yang bisa kubantu?" sapa Jungkook seraya tersenyum lebar. Laki-laki itu mendongak, lalu balas tersenyum. Tangannya menunjuk etalase.

"Rangkaian bunganya bagus," ucapnya. "Aku mau membelinya, tapi aku tidak yakin suamiku mengizinkanku."

Jungkook sama sekali tidak merasa terganggu karena ucapan itu. Dia mengambil setangkai aster, lalu memberikannya pada laki-laki itu. "Aster. Cinta, kerapian." Tangannya kembali meraih bunga lain. "Anemone, ketulusan." Kembali mengambil yang lain. "Baby's breath, cinta yang tiada berakhir. Setiap bunga memiliki maknanya masing-masing. Kalau suamimu tidak mengizinkanmu, berarti dia tak tau indahnya makna bunga."

Lelaki itu tertawa. Dia mengulurkan tangannya. "Kim Seokjin."

Jungkook membalas uluran itu. "Jeon Jungkook."

"Kau orang yang menarik, Jungkook. Mungkin aku akan menjadi langganan barumu."

"Aku tersanjung, Seokjin-ssi." Jungkook tersenyum lebar. Tangan Seokjin meraih pipi gembil Jungkook gemas.

"Panggil aku Hyung saja. Omong-omong, kau sendirian menjaga toko ini?" mata Seokjin menatap ke segala arah.

"Hyung ku sedang pergi. Jadi, yah, aku sendiri."

Seokjin menyerahkan bunga-bunga yang tadi diberikan Jungkook. "Aku pesan masing-masing satu ikat bunga-bunga ini. Oh, tambah yang di etalase. Berapa totalnya?"

Jungkook meraih katalog. Mencari nama setiap bunga yang Seokjin pesan, lalu mencatat harganya. Menjumlahkan totalnya dengan kalkulator, lalu menunjukkannya pada Seokjin.

"Kalau menurut Hyung ini terlalu mahal, aku akan memberikan diskon pemborong di pagi hari."

Seokjin terkekeh. "Tidak, kalau menurutku, ini murah."

"Oh, Hyung orang kaya? Kalau begitu, beli semuanya, Hyung. Aku malas menjaganya," dan Seokjin langsung menoyor kepala Jungkook. Entah kenapa, rasanya nyaman mengobrol dengan pemuda itu.

"Mau atas nama siapa, Hyung?" Jungkook mengangkat buku kecil dan pulpennya.

"Namaku saja. Ini," Seokjin menyerahkan black card miliknya, yang langsung diterima Jungkook dengan antusias.

"Black card?! Wah...Hyung tidak main-main soal harga murah ternyata, kau benar-benar bisa membeli semua bunga disini, Hyung!"

"Rumahku tidak sebesar itu untuk dihias dengan bunga."

"Terus? Rumahmu dihias guci?" setelah tranksaksi selesai, Jungkook mengembalikan black card Seokjin.

Seokjin kembali terkekeh. "Sudahlah, Jungkook. Aku masih ingin mengobrol denganmu, tapi waktuku tidak banyak. Ini, kirimkan bunganya ke sini." Seokjin menyerahkan sebuah kartu nama.

"Baiklah, Hyung. Akan kupastikan bunga-bunga ini masih mekar sampai di rumahmu."

Laki-laki berbahu lebar itu tersenyum, kemudian melangkah keluar. Jungkook tersenyum, merasa bangga pada dirinya sendiri. Dia tidak gugup berbicara dengan orang asing, itu suatu kemajuan. Dia akan menelepon Yoongi nanti.

Jungkook menatap kartu nama yang tadi diberikan Seokjin. Membacanya lamat-lamat, lalu terdiam. Seketika pikirannya kosong.

Kim Namjoon

Kim Ent. Manager

Alamat : XXX

Jungkook tidak bodoh. Dia tau betul, hanya ada satu perusahaan Kim di daerahnya. Dia mendudukkan dirinya pada kursi, memijat pangkal hidungnya. Menyiapkan mentalnya, kalau-kalau nanti dia bertemu Taehyung. Toko bunga ini memang tidak menggunakan jasa kurir, karena menghemat biaya.

"Kenapa aku merasa dunia lebih sempit daripada celana dalamku?"

.

.

.

.

Dan, disinilah dia. Jungkook mendongak, menatap gedung pencakar langit itu lamat-lamat. Menghitung jumlah lantainya, yang sebenarnya tak perlu dia lakukan. Dia hanya terlalu gugup untuk melangkah masuk. Seseorang menabrak bahunya, membuatnya tersadar.

"Huh? Jungkook?"

Jungkook menoleh. Alisnya berkerut, mencoba mengingat siapa orang itu. Namun, hasilnya nihil.

"Apa yang kau lakukan disini? Kau mencari seseorang?"

Jungkook menggaruk tenguknya. Entah kenapa, dia merasa tidak nyaman. "Aku mengantarkan bunga. Apa Seokjin Hyung ada disini?"

"Seokjin?" orang itu mengernyit. Berlagak berpikir, lalu berseru. "Oh! Seokjin-ssi? Dia belum datang. Biasanya, dia baru datang satu jam lagi. Kau boleh menunggu di dalam, Jungkook. Aku akan menemanimu." Dia menarik lengan Jungkook, mengajaknya duduk di salah satu sofa. Jungkook menggigit bibir bawahnya, gugup.

"Sudah lama kita tak bertemu. Kau tinggal dimana sekarang? Rumahmu kosong sejak hari itu,"

"Eung...apartemen, dekat dari sini. Tapi...apa maksudmu dengan 'sejak hari itu'?"

Orang itu tampak bingung. "Kau lupa?"

"Aku bahkan tidak tau kau siapa."

Dia terdiam. Matanya sedikit membola, menatap Jungkook kaget. Jungkook pun tak berniat membuka suara. Dia hanya perlu menunggu Seokjin datang, bukan berbincang dengan orang asing.

Dan, Yoongi pernah memperingatkannya. Jika ada seseorang yang mengaku mengenalmu, jangan mencoba untuk mendekatinya.

"Jungkook?"

Jungkook mendongak. Tubuhnya membeku. Orang itu, mengapa semakin tampan jika menggunakan jas formal?

"Hyung,"

Taehyung mengangkat sebelah alisnya. "Kau memanggilku apa?"

Jungkook mengernyit. "Hyung...?"

Taehyung menatapnya datar. "Tidak sopan." dan berlalu pergi menuju lift. Membuat Jungkook terheran.

"Taehyung-ssi. Kau harusnya memanggil dia Taehyung-ssi, Jungkook."

Jungkook menoleh. Dia mengerucutkan bibirnya. Hell, Taehyung sendiri yang memintanya agar memanggilnya dengan sebutan 'Hyung'. Apa otak Taehyung bergeser?

"Oh? Jungkook?"

Ketiga kalinya nama Jungkook disebut. Mendadak Jungkook merasa dirinya terkenal disini. Dia kembali mendongak, dan menghembuskan nafas lega kala melihat Seokjin tengah menggendong V.

"Akhirnya kau datang juga, Hyung." Jungkook berlari kecil menghampiri Seokjin, mencoba menjauhi sosok yang mengenalnya tadi. "Bunganya masih di mobil. Mau kubawakan?"

"Eits, tidak perlu." Seokjin memanggil beberapa karyawan. "Berikan kunci mobilmu, biarkan mereka membawa bunga-bungaku. Kau temani aku saja,"

Jungkook memberikan kunci mobilnya seraya menjelaskan tempat dia memarkir mobilnya. Seokjin mengajaknya duduk, dan Jungkook bersyukur orang yang tadi sudah pergi.

"Apa aku membuatmu lama menunggu? Maafkan aku, setiap pagi aku selalu mengajak keponakanku jalan-jalan," Seokjin mengangkat V.

"Jungkook Hyung!"

V menatap Jungkook berbinar. Dia meronta, minta dilepaskan Seokjin, lalu melompat ke pangkuan Jungkook. Jungkook terkekeh, mengusap lembut kepala V. Dan itu membuat Seokjin melongo.

"Kau kenal dengannya?"

"Aku pernah bertemu V, Hyung."

"Kau bahkan tau namanya?" Seokjin berseru heboh. "Wah, kau keren, Jungkook. Dia baru akrab denganku setelah satu bulan, dan kau? Kau membuatku iri,"

Karyawan yang membawakan bunga tadi menghampiri mereka. Seokjin menyuruh mereka membawa bunga itu ke ruangannya. "Kita ke ruanganku, Jungkook. Disini banyak penggosip." Mata Seokjin melirik beberapa karyawan wanita yang tengah berkaca. Jungkook mengangguk, mengikuti langkah Seokjin menuju lift dengan V di gendongannya. V tak henti membicarakan mengenai aku-punya-anjing-baru, membuat Jungkook maupun Seokjin terkekeh.

Lift berhenti di lantai lima. Seokjin keluar, Jungkook dan karyawan-karyawan itu mengekor.

"Seokjinnie?"

Seokjin menoleh, lalu tersenyum sumringah. "Namjoonie, ini orang yang mengobrol denganku kemarin," Seokjin menarik lengan Jungkook mendekat, sedangkan Jungkook tersenyum kaku.

"Oh? Kau yang membuat Seokjin membeli banyak bunga?" Jungkook menggaruk tenguknya. Merasa tak enak.

"Kau juga yang berkata aku tak tau indahnya makna dari bunga?"

Jungkook tau, dia hanya bercanda. Namun, entah kenapa dia takut. Takut pada orang itu. Tangannya memeluk V erat.

"Jungkook Hyung? Terlalu kencang," V memukul pelan tangan Jungkook.

"Hei? Jungkook? Kau baik-baik saja? Namjoonie, kau membuatnya takut," Seokjin mengusap bahu Jungkook, membuat Jungkook merasa aman.

"Jungkook? Kau Jeon Jungkook?"

Tubuh Jungkook menegang. Orang itu tau namanya. Rasanya, dia ingin berlari. Menjauhi orang itu, menjauhi gedung ini, menjauhi rasa takutnya.

"Kau Jeon Jungkook yang menciptakan lukisan ungu di dagu Taehyung?"

Jungkook mengernyit. Perlahan, dia mengangkat kepalanya, menatap orang itu. Dengan ragu, dia mengangguk.

"Oh! Sudah kuduga!" dan setelahnya, dia tertawa keras. Membuat Jungkook, V maupun Seokjin terheran.

"Namjoonie, ada apa?"

"Seokjinie, dia yang memukul dagu Taehyung dan membuat Taehyung galau semalam suntuk karena tak dapat menemuinya,"

"Eh?" Seokjin ikut tertawa. Sedangkan Jungkook mengerucutkan bibirnya. Merasa malu ditertawakan oleh mereka.

"Aku merinding. Kalian membicarakanku?"

Suara Taehyung.

"Papa!"

Taehyung tersenyum, mengangkat V dari gendongan Jungkook. "Kau, bocah nakal, meninggalkanku saat aku masih tidur tadi,"

V tertawa saat Taehyung mencium wajahnya bertubi-tubi. Pemandangan itu membuat Jungkook terpaku. Matanya kembali disuguhkan masterpiece.

Seokjin dan Namjoon menghentikan tawa mereka. Dengan masih terkikik, Namjoon menghampiri Taehyung. "Jungkook bahkan lebih muda darimu, bung. Bagaimana bisa lukamu belum sembuh sampai sekarang?" Namjoon kembali tertawa melihat warna ungu samar di dagu Taehyung.

"Astaga, Hyung! Ini sudah seminggu dan kau masih tertawa karenanya? Otakmu baik-baik saja?" Taehyung berdecak sebal. Matanya menatap Jungkook tajam.

"Apa yang kau lakukan disini?"

"Ei, Tae," Seokjin mengalungkan lengan kirinya pada leher Jungkook. "dia tamuku. Jangan kasar begitu,"

Taehyung melengos, lalu menarik lengan Jungkook setelah memberikan V pada Seokjin. "Taehyung! Mau kemana?"

Taehyung tak membalas, dia tetap menarik Jungkook ke sebuah ruangan. Sepertinya ini ruangan Taehyung. Dia mengunci pintu, lalu membanting Jungkook ke sofa. Mengukung Jungkook seraya menatap Jungkook seakan-akan ingin menelan Jungkook. Jungkook menelan ludahnya kasar.

"Taehyung-ssi?"

Tatapan Taehyung menyendu. Tangannya mengusap wajah Jungkook lembut. "Panggil aku Hyung."

What the actual fuck happen?

Tadi, dia mengatai Jungkook tidak sopan karena memanggilnya Hyung. Sekarang?

"Tapi—"

"Katakan."

Jungkook menatap Taehyung ragu. "Hyung..."

Taehyung langsung menempelkan bibirnya pada bibir pink Jungkook. Melumatnya, menyesapnya dalam-dalam. Jungkook membalas sesekali, karena dia memang tak mengerti bagaimana cara ciuman. Tangan Taehyung mendorong tenguk Jungkook mendekat, tak ingin ada jarak sedikitpun.

Jungkook memukul dada Taehyung pelan, kehabisan nafas. Taehyung mengerti, dia menurunkan ciumannya pada leher Jungkook. Membuat Jungkook yang masih terengah, mendesah pelan.

"Hyung, lepas,"

Taehyung mendongak. "Tubuhmu tak menolaknya. Jangan berbohong, Jungkook. Kau pasti merindukanku."

Apanya rindu? Jungkook berdecak, mendorong bahu Taehyung kasar. "Tidak. Aku masih punya harga diri."

Taehyung melengos. Dia menarik bahu Jungkook, menurunkan sedikit kaos yang dipakainya. Tersenyum melihat tanda buatannya masih tercetak keunguan di pundak Jungkook.

"Jangan menolakku," Taehyung memeluk Jungkook erat, membuat Jungkook bingung. Dia memekik kaget, saat merasakan pundaknya kembali digigit.

"Hei—"

"Aku memperbarui tandaku. Seokjin Hyung seenaknya mengalungkan tangannya disini tadi, membuatku kesal."

"Apa-apaan..." Jungkook kesal. Dia dilecehkan lagi. Tapi, entah kenapa, dia tak merasa takut. Membiarkan Taehyung menjilat daun telinganya.

"Aku menahan diriku untuk tidak membawamu ke sini sejak aku melihatmu di lobi."

Jungkook jadi teringat tentang orang yang tak dikenalnya itu.

"Siapa nama orang tadi? Yang sedang bersamaku di lobi?"

Taehyung menjilat leher Jungkook. "Kau mengobrol dengan orang yang tidak kau kenal?"

"Bukan begitu," Jungkook menggelinjang, geli. "aku lupa dia siapa,"

"Kim Mingyu."

Jungkook merinding, saat Taehyung mengucapkan nama itu seraya meniup telinganya. Tangannya merambat naik, menarik pelan rambut Taehyung, membuat Taehyung menggeram rendah. Saat Taehyung akan menciptakan tanda baru di leher Jungkook, bunyi telepon menginterupsi.

"Ponselku," Jungkook kembali mendorong bahu Taehyung. Taehyung berdecak sebal. Dia menatap Jungkook yang tengah bertelepon, membuat Jungkook sedikit salah tingkah.

"Yoongi Hyung?"

"Bocah, kau lupa mengabariku lagi."

Jungkook terkekeh. Membuat Taehyung yang melihatnya tertegun. "Maaf, Hyung. Kapan kau pulang? Aku merindukanmu."

Taehyung mendorong tubuh Jungkook, menyuruhnya membelakanginya. Dan dia mendekap tubuh Jungkook dari belakang setelahnya. Dia menjatuhkan kepalanya pada bahu kiri Jungkook, membuat Jungkook merasa geli saat rambut Taehyung menggelitik lehernya. Menyelami wangi stroberi yang menguar dari tubuh Jungkook.

"Aku sedang dalam perjalanan. Awas saja kalau kau tidak ada saat aku datang."

"Roger that. Hyung dimana?"

"Jalan."

"Iya maksud—ahh..." Jungkook membola. Taehyung memelintir putingnya dari balik kaos.

"Jung? Kau kenapa?"

"Ti-tidak Hyung! Kututup dulu," Jungkook langsung memutuskan sambungan. Menatap Taehyung tajam, sedangkan yang ditatap hanya diam dan kembali menjilat bahu Jungkook.

"Hyung, kau keterlaluan."

"Hm."

"Kau bangsat."

"Hm."

"Cabul."

"Hm."

"Aku mau pulang."

"Tidak boleh."

Jungkook memutar kedua bola matanya malas. "Hyung ku sebentar lagi sampai di rumah."

"Hm."

"Astaga, apa aku sedang berbicara dengan batu?"

"Tidak."

"Aku akan berteriak."

"Kalaupun ruangan ini terbakar, takkan ada yang berani masuk ke sini."

Mereka terdiam. Jungkook memejamkan mata, sebenarnya dia menikmati hangatnya pelukan Taehyung. Namun bagian dirinya yang lain menampik, tak ingin jatuh dalam pesona Kim Taehyung.

"Aku akan mengantarmu."

Jungkook menoleh. "Eh?"

"Aku akan mengantarmu." Ulang Taehyung seraya menciumi perpotongan leher Jungkook.

"Oke. Kau akan mengantarku. Sekarang." Jungkook melepas pelukan Taehyung kasar, lalu berdiri sambil berkacak pinggang. Membuat Taehyung terkekeh melihatnya.

"Kau persis seperti ahjumma yang marah pada suaminya."

Kedua mata Jungkook membola. "Ap—sial..."

Taehyung ikut berdiri. Tangan kirinya menggamit telapak tangan kanan Jungkook, sedangkan tangan kanannya mendekap pinggang Jungkook. Melumat bibir Jungkook kasar sebentar, lalu melepasnya. Terkekeh lagi saat melihat wajah memerah Jungkook.

"Kau malu?"

Jungkook kembali ditarik ke realita. Dia memukul pelan dada Taehyung, menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajah memerahnya.

"Kita baru kenal beberapa hari, bodoh."

"Aku penganut istilah jatuh cinta pada pandangan pertama, sayang."

Jungkook menghentakkan kakinya, lalu berjalan keluar ruangan. Meninggalkan Taehyung yang gemas dengan tingkah laku Jungkook. Dia segera berlari mengejar Jungkook yang berada di depan lift, tak mempedulikan tatapan heran para karyawan.

.

.

.

.

"Dia menemukannya lagi."

Seokjin yang tengah menyusun bunganya menoleh. Di sofa sudut ruangan, Namjoon tengah memejamkan kedua matanya.

"Jungkook itu luar biasa. Dia bahkan dapat membuat Taehyung meninggalkan meja kerjanya. Itu suatu perkembangan yang terlampau bagus." Seokjin berjalan menghampiri Namjoon, duduk di sebelahnya. Namjoon menarik pinggang Seokjin mendekat. Seokjin memandang setangkai bunga di tangannya. Dia memberikannya pada Namjoon. "Aster, cinta. Harusnya kau yang memberikan bunga padaku, bodoh."

Namjoon terkekeh. Dia menggenggam tangan Seokjin yang memegang aster. "Aku menerimanya, dan kukembalikan lagi. Bagaimana?"

"Bodoh."

Untuk sesaat mereka terdiam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hingga akhirnya Namjoon bersuara.

"Sudah saatnya Taehyung kembali mengejar kebahagiaannya."

"Soal kebahagiaan," Seokjin memejamkan kedua matanya. "Jungkook...takkan ada yang akan terjadi padanya, kan? Dia takkan meninggalkan Taehyung, kan?"

Namjoon mengeratkan pelukannya. "Kita akan melindunginya. Kejadian itu takkan terulang lagi."

Seokjin mulai terisak. Dadanya terasa sesak. Namjoon mencium pelipis Seokjin lembut, berusaha menenangkannya.

"Hoseok..."

.

.

.

.

TBC

.

.

Masuk konflik kuy :")

Baru dibikin udah masuk konflik aja :V

Kecepetan alurnya? Maafkan :") kena writer's block :")

Hope you enjoy this story! Cya!

Kiika246.