.

.

.

.

Sialan.

Keparat.

Bangsat.

Brengsek.

Bajingan.

Itu definisi Taehyung menurut Jungkook. Karena lagi-lagi Taehyung mendominasinya. Dan dirinya lagi-lagi membiarkan Taehyung melakukan segalanya. Memegang kendali penuh atas dirinya, yang terlanjur takluk dalam pesona Kim Taehyung.

Saliva mengalir turun dari mulut Jungkook.

"Hyung—" Jungkook menekan pelan dada Taehyung. Matanya berulang kali melirik jam dinding, hampir sepuluh menit Taehyung bermain dengan bibirnya. Menjilat, menyesap, melumat, menggigit. Lidahnya mendominasi lidah Jungkook, membelitnya, membuat Jungkook melenguh.

Jungkook ingin sekali menendang Taehyung, tapi dia masih ingat bagaimana dagu Taehyung yang membiru akibat lukanya. Bagaimana jika tendangannya merusak aset masa depan Taehyung?

"Diam Jungkook," Taehyung menggeram. Tangannya mengunci kedua pergelangan tangan Jungkook, membawanya ke atas. Dia mulai menenggelamkan kepalanya pada ceruk leher Jungkook, mengusakkan hidungnya disana. "kau menginginkanku. Katakan saja."

"Sial," kaki Jungkook melemas. Mulai berdoa, semoga Yoongi dan Jimin terjebak macet dan—

"Oh astaga,"

—kenapa Jungkook sial sekali.

.

.

.

.

Jungkook menggigit bibir bawahnya. Ekor matanya melirik Taehyung yang tengah tersenyum tampan, membalas tatapan tajam nan sinis Yoongi. Sudah lima menit mereka terdiam. Jimin mengelus punggung Yoongi tanpa henti, takut pemuda pucat itu meledak.

"Ja—"

"Kim Taehyung. Dua puluh lima tahun. Manajer di Kim Ent. Kekasih Jeon Jungkook."

Mata Jungkook membola. Dia langsung mendongak, dan hampir terjungkal melihat ekspresi Yoongi melunak. Melunak? Kenapa?

"Kutinggal seminggu, kau sudah menjadi bocah nakal, Kookie." Yoongi menghela napas. "Baguslah. Aku mendukung kalian."

"Serius, Hyung?" Jungkook memastikan. Apa-apaan ini. Yoongi bukan orang yang mudah percaya pada orang lain. Tapi, kenapa si brengsek Kim Taehyung bisa mendapatkan restu Yoongi bahkan hanya modal berkenalan?

"Mau bagaimana lagi. Kau itu pintar bela diri, tapi lihat lehermu. Kau membiarkan dia menggigitmu, itu berarti kau percaya padanya. Dan aku percaya padamu. Jadi, kapan kalian menikah?"

"Hyung!" Jungkook merengut. Seminggu berduaan bersama Jimin telah membuat otak Hyung kesayangannya itu sedikit bergeser. Lain kali, Jungkook takkan membiarkan mereka pergi berdua lagi. Masa bodoh dengan Jimin yang akan menganggapnya sebagai pengganggu.

"Well, karena sudah direstui, kurasa kami akan menikah bulan depan. Ya kan, bunny?" tubuh Jungkook merinding seketika. Apa katanya? Bunny? Apa dia tak bisa membedakan mana kelinci dan mana manusia?

"Hyung, kau salah paham," Jungkook menggenggam tangan kanan Yoongi. "Aku dan Taehyung bukan pasangan, serius!"

Yoongi mengangkat sebelah alis. "Kalau begitu, kuumumkan kalian resmi berpacaran sekarang. Tak ada bantahan, Jungkookie." Dia terkekeh kala melihat wajah tertekuk Jungkook. Tangan kirinya mengusap kepala Jungkook, lalu dia berdiri. "Aku ke kamar dulu. Kalian boleh berciuman lagi."

Jimin yang sedari tadi hanya melongo melihat perubahan Yoongi, sedikit terkejut saa Yoongi menarik lengannya. Begitu sampai di kamar, Yoongi langsung mengunci pintu dan menghembuskan napas panjang.

"Dear, kau serius?"

Yoongi membalik tubuhnya. Menatap Jimin yang menunjukkan pandangan bertanya.

"Kim Taehyung. Kau lupa, Jim?"

Jimin mengerutkan alisnya. "Kenapa? Hyung kenal dia?"

"Tidak." Yoongi mendudukkan dirinya di kasur. Memijat pelan pangkal hidungnya, dia kembali bersuara. "Tapi aku pernah melihat namanya. Entah dimana, aku pernah melihatnya. Aku terus mengingat nama itu, karena menurutku nama itu adalah petunjuk. Ah, aku tak bisa mengingatnya,"

Jimin menahan tangan Yoongi yang memukul kepalanya sendiri. "Jangan pukul kepalamu. Nanti kepalamu sakit," dia mengecup pergelangan tangan kanan Yoongi lembut. Menenangkan Yoongi hanya dengan satu kecupan itu.

"Santai saja, dear. Pelan-pelan. Aku akan mencari tau tentang Kim Taehyung itu. Umurnya sama denganku, mungkin aku bisa mengajaknya mengobrol nanti. Jangan terlalu dipikirkan. Lihat, kau mengerut lagi," Jimin mengusap alis Yoongi yang mengerut karena berpikir. Membuat Yoongi merasa rileks.

Dengan perlahan, Jimin menidurkan Yoongi di kasur. Yoongi mengerang kecil, punggungnya nyeri karena terlalu lama duduk di mobil tadi. Jimin ikut merebahkan tubuhnya di sebelah Yoongi, telunjuknya bermain di sekitar bibir Yoongi.

"Kau menggodaku, Jim?"

"Aku menahan diriku, Hyung. Aku ingin menggagahimu, tapi aku tau kau lelah."

"Kau lebih lelah dariku, bodoh." Yoongi memeluk Jimin, menyembunyikan wajah memerahnya dibalik dada yang lebih muda. Membuat Jimin terkekeh, lalu mengusap lembut punggung Yoongi. Beberapa saat kemudian, napas teratur Yoongi terdengar, menandakan pemuda pucat itu sudah tertidur.

"Kim Taehyung. 'Kim', ya..."

.

.

.

.

"Singkirkan tanganmu, Hyung!"

Jungkook mendengus melihat senyum idiot Taehyung. Dia kembali memfokuskan pandangannya pada kentang yang tengah digorengnya. Si brengsek itu tak berhenti mengganggu Jungkook. Awalnya Jungkook biasa saja ketika Taehyung mengalungkan lengannya pada leher Jungkook, namun ketika Taehyung mulai memeluknya dari belakang, dia mulai risih.

"Jangan marah, bunny. Kita resmi pacaran sekarang, jadi wajar, kan?" Taehyung mengangkat sebelah alis. Dia kembali melingkarkan lengannya di perut Jungkook, dan tersenyum senang saat Jungkook hanya mendengus tanpa berusaha melepaskan pelukannya seperti tadi. Taehyung menaruh dagunya di bahu kiri Jungkook, membuat Jungkook sedikit merinding.

"Aku tidak menyukaimu, Hyung. Yoongi Hyung salah paham. Aku tinggal bilang kau ini pedofil cabul tingkat tinggi, dan dia akan menendangmu jauh-jauh dari hidupku."

"Ei," Taehyung memanyunkan bibirnya. "kau jahat sekali padaku, bunny. Aku kan pacarmu."

"Kau bukan pacarku. Dan hentikan panggilan menjijikkan itu, pedofil."

"Kenapa? Lucu kan? Itu panggilan kesayanganku untukmu, bunny."

Jungkook menghentakkan kakinya. "Aku manusia, bukan kelinci."

"Oh?" Taehyung tersenyum. Dia mengangkat sebelah tangannya untuk menyentuh bibir bawah Jungkook, lalu menariknya perlahan ke bawah. "Apa perlu kubawakan cermin? Gigimu seperti kelinci, bunny."

Jungkook kembali menghentakkan kakinya. Benar-benar bajingan yang satu ini. Berani-beraninya menggoda Jungkook.

"Hey, kau tau, kelinci juga menghentakkan kakinya untuk melompat."

"Ah, Hyung!"

Taehyung terbahak. Masih dengan sebelah tangan memeluk Jungkook, dia mengusap air mata yang keluar dari matanya dengan tangan lain. Dan tawanya itu berhasil membuat Jungkook marah sampai ke ubun-ubun. Dia mengambil dua kentang yang masih digoreng dengan capitan, lalu memasukkannya ke mulut Taehyung yang terbuka karena tertawa.

"Panas!" Taehyung berlari ke tempat sampah. Membuang kentang itu, lalu berlari lagi ke keran dan membasahi lidahnya dengan air. Jungkook terbahak melihatnya. Pembalasan dendam berhasil.

"Kau tega padaku, bunny."

Masih dengan terkikik, Jungkook mengangkat kentangnya dari penggorengan. Menaruhnya di piring, dan menaruh saos di sisi piring. "Setidaknya aku tak menendangmu lagi, Hyung." dia berkacak pinggang, menatap Taehyung yang tengah menjulurkan lidah memerahnya.

"Hyung, kau bukan ular, jangan mengeluarkan lidahmu begitu," dia kembali terkikik.

Taehyung menyipit. Dia melangkah mendekati Jungkook, masih dengan lidah yang dijulurkan. Tangan kanannya mencekan kedua tangan Jungkook, dan tangan kirinya menarik pinggang kecil itu. Lidahnya mendorong belahan bibir Jungkook, membuat kedua belah bibir itu terbuka. Dia memasukkan lidahnya dalam-dalam, membelit lidah Jungkook, bermaksud menghukum Jungkook.

Kaki Jungkook setengah terangkat untuk menendang aset Taehyung, namun diturunkan lagi. Dia menyeringai, lalu menghisap kuat lidah Taehyung. Menimbulkan bunyi kecupan yang terdengar hingga ruang tamu.

"Aw!" Taehyung lantas menghentikan ciuman itu. Dia memandang Jungkook tajam. "Kelinci nakal, kau menggodaku?"

"Hah? Siapa?" Jungkook menahan senyumannya. Dia membawa kentang gorengnya ke ruang tamu, menyalakan televisi, lalu mendudukkan dirinya di sofa. Meninggalkan Taehyung yang masih memegangi lidahnya.

Sofa itu sedikit bergoyang, saat Taehyung ikut duduk di sebelah Jungkook. Dia menyandarkan tubuhnya, menatap Jungkook yang asyik memakan kentang goreng. "Kau tak merasa bersalah padaku, bunny?"

"Kenapa aku harus?" menggigit kentangnya, Jungkook tak menengok ke arah Taehyung. Membuat Taehyung mendecih.

Dan Jungkook tersentak kala Taehyung menarik tenguknya, menggigit ujung kentang yang menjuntai dari mulut Jungkook.

.

.

.

.

"Lima juta."

"Tujuh juta."

"Sepuluh juta."

"Lima belas juta."

Yoongi kecil mengintip dibalik dinding. Sedikit menjulurkan kepalanya, memperlihatkan poni hitamnya yang menjuntai. Tangannya yang satu mengucek mata. Yoongi masih mengantuk, dan suara orang yang tengah berdebat membuatnya pusing.

"Dua puluh juta."

Dua puluh juta? Banyak sekali. Yoongi bisa membeli MP3 player baru.

"Ayolah, anak itu bisa bermanfaat untuk kalian. Sekali melihat wajahnya, semua orang pasti ingin menungganginya."

Anak siapa? Menunggangi? Menunggangi seperti menunggangi kuda? Bukannya itu berat? Siapa yang mau ditunggangi?

Dengan bermacam pertanyaan di otaknya, Yoongi kecil berjalan mendekati ketiga orang itu. Tangan kecilnya menarik ujung kemeja yang diyakini milik Ayahanda. Mulutnya dia kerucutkan kala sang ayah masih asyik berbicara dengan dua orang lainnya.

"Ayahanda?"

Pria tinggi itu berhenti tertawa. Dia menunduk, lalu berlutut mensejajarkan tingginya dengan Yoongi. Mengusap puncak kepala Yoongi lembut.

"Hey jagoan, kau bangun?"

"Ayahanda berisik."

Sambil terkekeh, Ayahanda mengusak rambut Yoongi. "Tidurlah. Sebentar lagi Ayahanda selesai."

"Tapi Ayahanda," Yoongi kembali menarik kemejanya kala Ayahanda mulai beranjak berdiri. "kalian sedang bicara anak siapa? Siapa yang ditunggangi? Ayahanda mau pergi ke peternakan kuda?"

Rahang Ayahanda mengeras, membuat tubuh Yoongi sedikit bergetar. Beliau mencengkram pundak Yoongi seraya berkata dengan nada rendah. "Kembali tidur. Lupakan apa yang kau dengar."

"Hey, Min, yang itu cantik juga. Berapa harganya?"

Wajah Ayahanda berangsur datar. Tangannya mengisyaratkan agar Yoongi kembali ke kamarnya, dan Yoongi menurut.

"Anak yang itu tidak kujual."

.

.

.

.

"Dear?"

Yoongi langsung terduduk. Terkejut mendapati napasnya yang tak beraturan dan keringat yang mengalir turun dari pelipisnya. Dia menatap Jimin panik seraya mencengkram lengannya, tak bisa menetralkan napasnya sendiri.

"Hey," Jimin menangkup wajah Yoongi. Mengusap dahi Yoongi, membuat gerakan memijat. "Aku disini, Jimin disini. Kau tak sendirian, dear. Aku disini," Yoongi memejamkan kedua matanya. Berusaha mengatur napasnya, yang kemudian berangsur normal.

Jimin mengecup dahi Yoongi. "Mau minum?"

Yoongi menggeleng pelan. Dia membuka kedua matanya saat kehangatan bibir Jimin tak lagi terasa di dahinya. Jimin tengah tersenyum, yang sialnya tampan. Mengerang kecil, Yoongi menarik pelan kaos Jimin.

"Kenapa, Hyung?"

Yoongi menunjuk dahinya. Membuat Jimin terkekeh. Dia menarik tenguk Yoongi, mengecup dahi, pipi, hidung, dagu, dan bibir Yoongi lembut. Bermain sebentar di bagian bibir, lalu melepasnya hingga menciptakan benang saliva antara bibir keduanya. Yoongi mengibaskan tangannya, memutus benang saliva itu kasar, lalu merambat naik ke pangkuan Jimin.

"Astaga Hyung," suara Jimin tercekat. "aku benar-benar menahan diriku sekarang."

"Ya, aku tau. Aku bisa merasakan milikmu keras dibawah sana."

"Hyung," Jimin mengusap kasar wajahnya. Berusaha menghilangkan nafsunya, dia melingkarkan tangan di perut Yoongi. Menunggu Yoongi menceritakan mimpinya, yang membuat Jimin panik setengah mati karena Yoongi yang terus meracau dalam tidurnya.

"Taehyung, dia sudah pulang?"

"Aku tak tau. Aku juga baru bangun."

"Hmm."

Mereka sama-sama terdiam. Yoongi mengusap punggung tangan Jimin yang ada di perutnya.

"Ayahanda," mulai membuka suara, Yoongi menatap langit-langit apartemen. "aku memimpikannya. Tidak, itu bukan mimpi. Itu terjadi padaku. Tawar menawar, aku sama sekali tidak sadar kalau mereka sedang membicarakan itu. Bodohnya kukira menunggangi yang dimaksud Ayahanda itu adalah menunggangi kuda. Kalau saja aku sadar..." Yoongi menghentikan ucapan, juga usapannya. Dia menghembuskan napas panjang.

"Masa bodoh," Jimin mengeratkan perlukannya. "yang penting sekarang kau bersamaku, dear. Jungkook juga bersama kita. Yang lalu itu tak penting,"

"Ya, tak penting." Yoongi memejamkan matanya kala merasakan bibir Jimin mencumbu lehernya. Sudahlah, Yoongi akan membiarkan Jimin melakukan semaunya. Dia sudah menahan diri terlalu lama.

Prang!

"Heung?" Yoongi mengernyit. "Apa itu?"

"Mungkin Taehyung main kasar," Jimin berucap tanpa melepas ciumannya pada leher Yoongi.

Sementara Jungkook pun tak tau, bagaimana dirinya bisa berakhir dengan berada di bawah kukungan Taehyung tanpa atasan. Matanya menatap lirih piring yang tersenggol tangannya tadi. Sial, apa Yoongi Hyung terbangun?

"Bangsat," Jungkook meremat surai Taehyung saat pemuda itu dengan sengaja menjilat dadanya. Menciptakan beberapa tanda kemerahan disana. "kau baru memberikan tanda sialanmu dua jam yang lalu,"

"Siapa suruh kau memiliki kulit menggoda begini?"

Taehyung menyeret jari telunjuknya, melakukan gerakan memutar pada dada lalu turun ke perut Jungkook. Menyeringai melihat Jungkook bergerak gelisah dibawahnya.

"Hey, bunny, apa kau pernah berpacaran?"

Tak ada jawaban. Hanya ada suara gesekan tubuh Jungkook yang bergerak gelisah pada sofa.

"Jawab, bunny," Taehyung mendekatkan wajahnya dengan telunjuk yang terus menjelajahi setiap lekuk tubuh Jungkook. Menghembuskan napasnya di wajah Jungkook dengan sengaja, berniat menggoda Jungkook.

Namun, yang didapatinya malah membuatnya panik.

Napas Jungkook tak beraturan. Dia memejamkan kedua matanya rapat-rapat, pusing mendera kepalanya. Tangannya menggenggam telunjuk Taehyung lemah seraya berucap lirih, meminta agar Taehyung berhenti. Dengan panik, Taehyung bangkit dari sofa, lalu menggenggam jemari Jungkook.

"Bunny? Hey, kau baik-baik saja? Jungkook? Buka matamu, aku ada disini, ada apa denganmu Kook?" dia mengusap peluh yang mengalir dari pelipis Jungkook.

Jungkook masih bergerak tak menentu, membuat Taehyung semakin panik. Dia mengambil kaos Jungkook yang tadi dilemparnya, lalu memakaikannya pada Jungkook. "Oh astaga, bagaimana ini?"

Suara ponsel berdering mengagetkan Taehyung. Dia merogoh kantong, lalu menggeser tombol hijau dengan tangan lain. "Kim."

"Papa! Papa kemana? Aku bosan,"

"Nanti kutelepon lagi, kau main dengan Seokjin Hyung sana,"

"Aku bosan, Papa!"

"Dah."

Dia langsung mematikan sambungan. Biarlah anaknya merajuk malam ini. Yang terpenting adalah keadaan Jungkook. "Yo-Yoongi Hyung! Hyung!" dengan kaku, dia memanggil Yoongi. Dia berjalan ke kamar Yoongi, lalu mengetuknya. "Hyung! Jungkook, dia kenapa? Hyung, tolong! Aku tak mengerti!" bahkan rangkaian kata Taehyung pun berantakan.

Suara pintu terbuka, seiring gumaman mengantuk seseorang. "Ada apa? Lakukan dengan tenang, apa yang kalian pecahkan tadi? Kau harus ganti rugi, bocah."

"Jungkook, Hyung, Jungkook," Taehyung menyeret Yoongi yang masih mengucek matanya, tak mempedulikan tatapan tajam Jimin.

Yoongi membelalakkan kedua matanya begitu melihat kondisi Jungkook. Dia segera memeluk Jungkook, membisikkan kata-kata penenang. Tangannya mengusap dahi Jungkook tanpa henti, sedangkan tangan yang lain menggenggam tangan Jungkook erat.

"Tuhan," Jimin bergumam. Dia mengambil kunci mobilnya di meja. "kau, bawa mobilku." Jimin memberikan kunci mobilnya pada Taehyung. Dia mengangkat Jungkook, dan Yoongi berjalan mendahului.

.

.

.

.

Aku yang ngetik, aku yang baper pake panggilan dear buat mas agus.

Ini cerita aku bikin niat ga niat ya lord.

Betewe, akhirnya tanggal keramat udah lewat ya :")

Hope you enjoy this story! Cya!

Kiika246.