Let Me Love You
Chapter 1
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Tragedy
Rate : Teens
Main Cast :
Haruno Sakura
Warning: Seluruh karakter ini milik Masashi Kishimoto, sedangkan ide ceita ini seratus persen milik saya. Pemain lain dapat kalian temukan di sini jika membacanya hehehe. Kemungkinan yang akan readers temui adalah typo(s), alurnya ngalur-ngidul, serta kejelekan lainnya. Oleh karena itu, harap berhati-hohoho.
Summary : Kenangan buruk yang terjadi sepuluh tahun yang lalu. Hal itulah yang dijadikan alasan mengapa seorang gadis manis periang berubah menjadi sang penyendiri yang paling kesepian. Namun dunianya mulai berwarna ketika seorang pria asing masuk ke dalam kehidupannya dan merubah semua persepsi negatifnya.
Happy Reading!^^
Chapter 1 : 24 Desember
"Apa yang kamu lamunkan, Sakura?"
Suara berat itu sukses membuat semua lamunan Sakura buyar seketika. Sakura menggelengkan kepalanya lalu berkedip beberapa kali. Ia menatap layar laptop yang sedang menampilkan file yang sedang dikerjakannya. Dia kembali meletakkan jemarinya di atas keyboard laptopnya dan lanjut mengetik dengan lincahnya.
"Tadi kamu melamunkan apa, Ra?"
Pria yang berdiri di belakang Sakura itu mengulang pertanyaannya. Merasa bahwa kehadirannya tidak dipandang, pria itu berusaha menampilkan dirinya. Ia mengambil kursi yang menganggur lalu meletakkannya di samping kursi Sakura dan duduk manis di sana. Ia menopang pipinya dengan tangan kanan lalu menatap Sakura yang terlihat kembali fokus pada suatu dokumen yang sedang ia kerjakan.
"Apa yang kamu lamunkan tadi?"
Untuk ketiga kalinya, pria itu bertanya dengan harapan Sakura akan menjawab pertanyaannya. Namun, Sakura tetap melanjutkan pekerjaannya tanpa menghiraukan pria bermanik obsidian di sampingnya.
"Apa rumor itu memang benar?"
Pria itu kembali bertanya, tetapi dengan topik yang berbeda. Tentu saja tujuannya ialah memancing Sakura untuk mengalihkan perhatiannya dari laptop yang ada di depannya. Sayangnya, Sakura sama sekali tak tergoda.
"Kamu adalah ratu es yang bersikap dingin pada siapapun. Jadi itu bukan rumor, tetapi fakta."
Pria itu mengangguk-anggukkan kepalanya, seolah tengah memainkan peran monolog dalam sebuah drama karena tokoh yang satunya lagi bersikap seperti patung. Tetapi Sakura tetap tidak memperdulikan semua celotehan tak bermutu dari pria di sampingnya. Ia tetap fokus pada kerjaannya.
"Bahkan dengan pacarmu sendiri, kamu tidak mau bicara."
Pria itu bergumam pelan. Mendengar gumaman itu, Sakura menghentikan kegiatan mengetiknya. Ia menoleh ke samping sehingga ia dapat melihat seulas senyum tulus terpatri di wajah pria itu. Manik gioknya beradu dengan iris obsidian teduh yang menatapnya penuh kehangatan.
Sakura menghela napasnya. "Kau menjijikkan." Sakura berkata dengan wajah datar dan nada bicara yang dingin. Namun pria itu membalasnya dengan senyuman lebar.
"Saya lupa. Saya pikir kamu adalah orang bisu."
Candaan dari pria itu membuat Sakura mendengus lalu kembali menatap laptopnya. Ia kembali mengetik dan tak menghiraukan gangguan dari pria yang menyebutnya sebagai pacar. Pria itu menyerah. Ia mengembalikan kursi yang dipakainya ke tempat semula, yaitu di hadapan Sakura.
Sedetik pria itu duduk, Sakura menutup laptopnya. Setelah menarik flashdisc dari laptop itu, dia memasukkan benda itu ke dalam tas selempangnya. Kemudian tanpa bicara sepatah kata pun, Sakura keluar dari ruangan luas itu, meninggalkan pria yang duduk di depannya sendirian. Tangan kurus pria jangkung itu terulur, mengambil kalender duduk yang ada di meja Sakura. Manik hitam obsidiannya menjadi redup seketika. Ada satu tanggal yang dilingkarinya dengan spidol.
Tanggal 24 bulan Desember.
"Saya tahu, kamu akan terus mengingat kejadian itu." Pria itu bergumam dengan senyum pahit dalam air muka sedihnya. Ia tidak beranjak dari tempat duduknya sampai punggung Sakura benar-benar menghilang dari pandangannya.
DUAKKK!
"Cepat bangun!"
Seorang wanita paruh baya menendang seorang gadis yang tidur seperti sushi gulung dengan selimutnya. Gadis itu mengaduh kesakitan saat badannya jatuh menghempas lantai. Dengan dengusan sebal, dia melepaskan selimutnya lalu berdiri tegak menghadap wanita yang sudah mematahkan nikmatnya tidur dengan mimpi indah.
"Apa? Kau ingin protes?" tanya wanita paruh baya itu dengan berkacak pinggang. Matanya memicing tajam seperti laser yang siap membutakan mata.
Tak mau melakukan kontak mata dengan tatapan menyeramkan seperti itu, sang gadis menundukkan kepalanya. Tanpa disuruh, tangannya mulai bergerak untuk melipat selimut yang ia gunakan untuk menggulung badannya tadi malam. Tentu saja dengan mulut yang bergerak untuk melancarkan sejuta umpatan kesal dalam bentuk gumaman yang tak dapat didengar.
"Kalau kau ingin menjelek-jelekkan Ibu, bicara dengan jelas! Jangan seperti pengecut yang setara dengan tikus rendahan yang berkeliaran di got!" Wanita paruh baya itu berteriak dengan wajah sebal. Telinga gadis itu terasa panas ketika ia mendengar Ibunya berteriak-teriak merendahkannya. Ia melakukan kegiatannya sambil menatap wanita paruh baya itu dengan tatapan datar.
Gadis itu pun menghembuskan napas lelah. "Wajar kalau aku suka menulis. Ibuku saja orang yang pandai berkata-kata." Gadis itu membalas dengan senyuman sinis yang jelas-jelas tujuannya mencibir Ibunya yang cerewet. Wanita yang mengaku sebagai seorang Ibu itu hanya berdecak kesal.
"Kalau itu benar, mana mungkin naskahmu ditolak sembilan kali oleh semua penerbit!" Sang Ibu menjawab dengan tatapan tajam dan lirikan super sinis. Gadis itu tak mau kalah. Ia balik mendelik dan menatap langsung kedua mata Ibunya setelah ia selesai melipat selimutnya dan meletakkannya dengan bantingan sedikit kasar.
"Aku bilang aku suka menulis! Catatannya adalah suka tidak berarti pandai, Bu!" Sang anak berseru tak setuju. Matanya yang serupa dengan permata zamrud itu berkilat tajam. Melihat tingkah anaknya yang menyebalkan, Ibu itu naik pitam.
"Dasar nakal! Kalau kau memahami hal seperti itu, kau harusnya mencari kerja! Bukan bermain-main seperti ini!" Sang Ibu berteriak kesal sambil memukul kepala sang anak dengan buku tipis yang sedari tadi dipegangnya. Remaja tanggung itu mengaduh kesakitan sambil mengusap-usap kepalanya. Ia kembali memandang Ibunya, kemudian mendengus kesal lalu melengos menatap jendela kamarnya yang menjadi jalan masuknya sinar mentari pagi.
"Aku sedang berusaha, Bu! Aku pasti akan mendapat pekerjaan!" Anak itu berseru dengan percaya diri. Ia mengepalkan tangannya di udara, tanda bahwa ia sedang semangat-semangatnya untuk bekerja keras. Sang Ibu hanya bisa menghela napas seraya mengurut-urut pelipisnya.
"Jangan banyak bicara. Buktikan saja pada Ibu kalau kau mampu bekerja dengan baik." Setelah menyelesaikan kalimatnya, sang Ibu berbalik badan. Lalu dia berjalan keluar dari kamar anak itu dengan langkah perlahan. Tangan kanannya masih setia mengurut pelipisnya karena kepalanya terasa berputar-putar karena tingkah anaknya. Mungkin inilah akibatnya kalau dia marah-marah pada usia yang sudah bisa dikatakan tua seperti ini. Kepalanya berdenyut pusing.
"Bos para gengster? Apa itu pekerjaan?" tanya si gadis dengan sudut bibir yang terangkat ke atas. Sang Ibu menghentikan langkahnya lalu berbalik ke belakang. Ia menatap anaknya dengan wajah super serius. "Ibu akan memecahkan kepalamu kalau kau jadi bos-nya gengster." Sang Ibu menjawab dengan nada penuh penekanan dan ketegasan. Anak itu hanya tertawa pelan, menganggap itu sebatas lelucon biasa.
"Tenang saja. Aku hanya bercanda, Bu." Anak itu menjawab dengan kekehan. Ibunya menghembuskan napas lega lalu mengangguk mengerti.
"Lebih baik kau bereskan kamarmu. Setelah itu, bersihkan dirimu sebelum sarapan yang kubuat jadi dingin." ujarnya dengan berjalan keluar dari kamar anaknya.
"Siap! Laksanakan bos besar!" Gadis itu menjawab dengan gaya hormat ala pasukan kepada komandannya. Ibu itu tidak perduli, ia hanya terus berjalan meninggalkan kamar menuju meja makan.
Selesai dengan masalah tempat tidur dan dirinya sendiri, gadis itu kembali muncul di hadapan Ibunya. Kini dia sudah berdiri tegap dengan penampilan barunya. Rambut merah mudanya ia kuncir tinggi-tinggi sehingga keningnya yang luas terpampang nyata. Untuk menjalani hari ini, pilihannya jatuh pada kaos hitam tangan pendek yang dibalutnya dengan mantel coklat yang hangat. Kemudian, sebagai bawahan, ia memilih celana hitam yang dilengkapi dengan sepatu kets bertali. Tak lupa tas selempang hitam menyilang di bahunya.
"Kau sudah siap untuk ditolak lagi?" tanya sang Ibu seraya mengoleskan mentega pada sehelai roti tawar. Tanpa menjawab pertanyaan Ibunya, dia duduk di hadapan Ibunya dengan wajah yang ditekuk sembilan. "Kau selalu membuat anakmu, pesimis, Bu." Gadis itu menjawab sambil menuangkan susu encer ke gelasnya. Ibunya hanya mendengus kasar.
"Pada anak sepertimu? Aku tidak mempunyai harapan apapun."
Sebelum membalas ocehan Ibunya, gadis itu lebih memilih untuk menghabiskan segelas susu yang baru saja dituangnya sampai habis. Dengan bantingan yang sedikit keras, ia meletakkan gelas itu. Manik emerald miliknya langsung menyorot tajam.
"Aku ini Haruno Sakura! Aku pasti bisa melakukan apapun yang aku mau!" Gadis itu berseru dengan mengepalkan tangannya di udara. Ibunya hanya mengangguk asal-asalan.
"Terserah kau saja. Kalau hari ini kau gagal, kita akan merayakan kesepuluh kalinya kau ditolak." Ibunya bekata setelah mengunyah roti.
"Kali ini, aku pasti berhasil!" Gadis bernama Sakura itu berseru seyakin-yakinnya. Ibunya hanya tersenyum lalu mengangguk setuju.
Sakura berjalan dengan percaya diri tinggi. Beberapa penduduk menyapanya dengan ceria. Sakura membalas sapaan mereka tak kalah ceria. Ia membalasnya dengan melempar senyum manis dan lambaian tangan.
Ketika sampai di halte bus, ia berdiri di sana, menunggu bus merah untuk berhenti. Dalam halte itu hanya ada Sakura seorang. Maklumlah, ia tinggal di kawasan yang cukup jauh dari keramaian kota.
Kawasan yang ia tinggali masih seperti desa yang belum tersentuh majunya teknologi. Para penduduk desa rata-rata sehat karena makan sayuran hasil panen sendiri. Udara yang mereka hirup pun bersih tanpa polusi. Belum ada penduduk yang memakai mobil atau motor, mereka masih menggunakan sepeda lama untuk berpergian. Untuk keluar dari daerah desa, mereka menggunakan bus sebagai transportasi umum. Jiwa sosial mereka pun masih tinggi. Pagi-pagi mereka kerap senam pagi bersama. Mereka sering menghabiskan sore hari dengan main ke rumah tetangga sekadar untuk bermain catur atau menikmati hasil panen bersama. Hari-hari mereka dipenuhi dengan kegiatan yang diikuti embel-embel bersama. Internet juga belum ada, jadi untuk memakai internet mereka harus pergi ke kota.
Seminggu sebelumnya Sakura sudah pergi ke kota untuk mengirimkan naskah ceritanya kepada beberapa penerbit. Ya, cita-cita Sakura adalah mengubah hobi menjadi sebuah pekerjaan sehingga ia dapat bekerja tanpa beban. Sakura memang hobi menulis cerita. Berbagai genre cerita ia tekuni, dari roman sampai misteri. Tetapi ia lebih senang menulis cerita romantis yang menyentuh hati nurani. Untuk menyalurkan hobinya, Sakura memposting ceritanya di blog yang sudah ia buat. Jadi sekali bulan, ia pergi ke kota untuk memberi cerita baru.
Saat bus merah berhenti, Sakura segera melompat masuk ke dalam bus begitu pintunya terbuka. Pagi hari begini bus diramaikan oleh para ibu yang baru saja pulang dari pasar induk, sehingga Sakura menjadi penumpang pertama menuju kota. Ia mengeluarkan ponsel flip hitamnya dari dalam tas. Jemarinya sibuk menekan tombol yang merupakan kombinasi nomor seseorang yang sudah ia hapal. Ia menempel ponsel itu ke telinga kananya.
"Halo? Ino!" Sakura menyapa dengan ceria.
Ino. Ino adalah teman yang sempat satu sekolah dasar dengannya. Mereka adalah teman baik. Teman yang benar-benar sedekat nadi sehingga tak dapat dipisahkan lagi. Mereka kerap menghabiskan waktu bersama-sama. Sekadar untuk bermain atau belajar, mengerjakan tugas, dan saling menceritakan rahasia. Sayangnya, saat kenaikan kelas mereka harus berpisah karena Ayah Ino dimutasi ke kota sehingga Ino juga harus pindah sekolah. Namun, sampai sekarang mereka berdua masih berteman baik.
"Sakura! Kau ingin ke kota, ya?!" Dari seberang sana, Ino membalas tak kalah ceria. Sakura tertawa kecil saking bahagianya. Ya, tujuannya ke kota bukan untuk melamar kerja saja, tetapi juga untuk bertemu sahabat baiknya.
"Tentu saja! Kau bisa menjemputku?"
Ino tertawa bahagia. Tentu saja ini adalah kesenangan tersendiri untuk Ino yang sangat merindukan sahabat karibnya itu. "Tentu saja aku bisa! Aku akan menjemputmu. Telepon aku kalau kau sudah sampai di terminal."
"Baiklah. Aku akan meneleponmu kalau aku sudah sampai."
"Hm. Hati-hati di jalan!"
"Tenang saja. Aku selalu hati-hati."
"Oke. Aku tutup teleponnya, ya? Dah!"
Sakura menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Ia memandang ponselnya dengan senyum bahagia. Ia menutup ponselnya lalu memasukkannya ke dalam tas. Ia duduk manis sambil menatap pemandangan yang ada lewat jendela di sampingnya. Sakura menggerak-gerakkan kedua kakinya dengan senandung ceria. Ia sudah tak sabar untuk menapakkan kakinya di kota!
Memakan waktu sekitar dua puluh menit, Sakura akhirnya sampai di terminal. Sakura mencari tempat aman agar ia dapat duduk sambil menelepon dengan leluasa. Begitu menemukan tempat yang strategis, cepat-cepat ia mengeluarkan ponselnya dan menelepon Ino agar datang menjemputnya.
Tiga puluh menit kemudian, mobil Jazz hijau lumut keluaran baru membunyikan klakson panjang yang membuat beberapa orang berhenti dan menoleh. Mengenali seperti apa mobil Ino, Sakura berlari ke arah mobil itu. Tanpa babibu lagi, Sakura masuk ke dalam mobil.
"Hai, Sakura. Apa kabarmu?" Ino bertanya sambil memutar stir mobilnya, sehingga mereka segera meninggalkan terminal bus yang cukup ramai. Sakura memasang seat belt lalu menghembuskan napas.
"Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Restorannya lancar?" Sakura balas bertanya dengan memandangi Ino yang masih fokus untuk melewati kemacetan ibukota. Meskipun macet, wajah Ino tak berubah menjadi kusut. Wajahnya malah bersinar terang, lengkap dengan senyuman manis.
"Tentu saja lancar! Berkat menu baru yang kau usulkan, restoranku dipenuhi oleh banyak pengunjung. Nasi sup ikan di hot plate itu brilian sekali. Aku bersyukur karena kecerdasanmu." cerocos Ino dengan semangat. Sakura terkekeh mendengar jawaban Ino yang dipenuhi hasrat menggebu-gebu untuk menceritakan kabar bahagia itu.
"Ah, ngomong-ngomong, kenapa kau terlihat tidak semangat? Baru kali ini aku melihatmu menghembuskan napas lesu seperti tadi. Kau persis seperti ayam sakit, Sakura."
Sakura kembali menghembuskan napas lesu. Ia sedikit tertunduk, seperti energinya hilang begitu saja karena baterai semangatnya tercabut lepas. Percaya diri tingkat tingginya meredup seketika. Ino yang melirik Sakura sekali-sekali, mengernyit bingung akan tingkah sahabatnya yang persis seperti anjing yang diberi racun sehingga lemas mau mati.
"Entahlah, sudah sepuluh kali aku mengirimkan naskah ke penerbit. Tetapi sudah sembilan kali naskahku ditolak. Kalau yang kesepuluh ini gagal, Ibuku akan merayakan kegagalanku." Sakura bercerita dengan lesu. "Apa kali ini aku akan gagal lagi? Kalau gagal, mungkin aku akan mempertimbangkan nasihat Ibuku yang menyuruhku untuk bekerja dalam artian yang sesungguhnya. Kau tahu, rasanya rasa percaya diriku menurun drastis. Aku bukan lagi Sakura si gadis tersemangat, tapi Sakura si pesimis." lanjut Sakura. Ino menganggukan kepalanya. Ia mengerti apa maksud Sakura.
Berkali-kali ditolak memang bisa membuat seseorang jadi pesimis. Penulis buku Harry Potter, si tuan Rowling saja ditolak delapan kali. Setelah itu, naskahnya diterima dan ia meraup keuntungan besar saat kisah imajinatifnya diangkat menjadi film layar lebar yang luar biasa sukses. Selama ini Sakura mengikuti jejak itu. Ia percaya bahwa setelah beberapa kali ditolak, naskahnya pasti akan diterima oleh suatu penerbit. Lalu karena ada produser film yang tertarik dengan ceritanya, kisah dalam bukunya dijadikan film layar lebar yang tak kalah sukses dengan film ternama lainnya. Setidaknya, begitulah pola pikir Sakura si nona optimis.
Namun batasan itu sudah Sakura lampaui. Ia sudah ditolak sembilan kali. Sembilan kali! Dan itu semua penerbit yang berbeda. Sakura tidak tahu bagaimana nasibnya kali ini. Kemungkinan naskahnya akan diterima terlihat tipis sekali. Sakura kembali menghembuskan napas. Ia begitu pesimis kali ini.
"Jangan pesimis begitu! Kau Sakura si nona optimis! Tunjukkan semangatmu, Sakura! Percaya dirilah. Kau bisa melakukannya. Naskahmu pasti akan diterima oleh penerbit kali ini. Cukup berdoa dan yakinlah!" Ino berseru memberi semangat. Ia menepuk pundak Sakura dengan mantap, seolah dengan tepukannya, semangat yang menggebu-gebu dalam dirinya dapat mengalir ke Sakura yang sedang lesu.
Sakura tersenyum samar. "Kau selalu bisa menghiburku, Ino. Kau memang yang terbaik!" Kini Sakura benar-benar tersenyum lebar. Ino yang meliriknya juga ikut tersenyum. "Begitu dong! Inilah Sakura yang kukenal." Ino menyikut lengan Sakura yang terlipat di depan dada. Sakura hanya tertawa saja.
Mobil Ino berhenti tepat di depan sebuah restoran yang cukup ramai untuk pagi hari. Namun bukan itu tujuan mereka. Tujuan mereka adalah rumah yang terletak persis di samping restoran. Sakura dan Ino keluar dari mobil.
Sekarang mereka tengah berdiri di depan rumah bercat putih dengan pekarangan penuh bunga berwarna cerah. Ino menarik lengan Sakura, menuntun Sakura untuk masuk ke dalam sana.
"Ayo, masuk!" ajak Ino saat ia sudah memutar knop pintu sehingga pintu terbuka lebar. Ino melangkah masuk duluan lalu menyeret Sakura yang masih terpaku di depan pintu.
"Bukannya kita biasa melihatnya di restoran?"
Ino menggelengkan kepalanya. "Kau itu tamuku. Tidak mungkin aku menjamu tamu di restoran. Aku harus menyambut tamu spesialku dengan sambutan hangat ala rumah Yamanaka!"
Sakura hanya bisa menurut pasrah, mengikuti kemauan Ino yang menyuruhnya untuk duduk di sofa ruang tengah. Ino menyuruhnya untuk menunggu sebentar, katanya dia mau ke kamar untuk mengambil laptop dan camilan. Sakura yang disuruh menunggu, memilih untuk menatap interior rumah Ino yang terlihat cerah dan rapi. Barang-barang tersusun rapi sehingga mata nyaman memandang. Tak lama kemudian, Ino muncul dengan laptop hitam dan toples kue kering yang ia letakkan di atas keyboard laptop.
Melihat Ino yang kesusahan, Sakura bangkit berdiri dan membantu Ino untuk membawa laptop sedangkan Ino memegang toples. Sakura menatap Ino dengan tatapan tajam. "Kalau punya barang bagus itu jangan disia-siakan! Kalau rusak, kamu juga yang susah. Servis laptop kamu kan mahal. Toples kaca seperti itu juga mahal. Kalau semuanya jatuh, kamu yang rugi!"
Ino tertawa geli. Begitulah sikap Sakura saat ia melakukan sesuatu yang salah di matanya. Gadis berambut merah muda itu pasti langsung menceramahinya dengan logat aneh yang lebih sopan. Dan pasti terselip kata kamu dengan nada penekanan setiap ia bicara. Ya, kalau Sakura sedang mengomelinya, ia tidak pernah menyebut nama Ino. Ia mengantinya dengan sebutan kamu.
"Kalau lagi diomongin itu, dengerin! Jangan ketawa-ketawa. Kamu nggak sopan namanya. Saya ngomong begini demi kebaikan kamu, supaya kamu lebih hati-hati dan bisa jaga barang!" Sakura menegur dengan wajah sebalnya. Ino kembali terkekeh geli.
"Lama-lama cara ngomong kamu mirip orang tua! Nggak usah kayak gitu, ah. Geli jadinya!" komentar Ino dengan tawa kecil. Ia meniru gaya bicara Sakura yang aneh.
Sakura memberengut kesal. Beginilah Ino, kalau ditegur pasti menganggap Sakura sedang bermain drama. Ia selalu menganggap ocehan Sakura yang benar adanya sebagai lelucon, padahal Sakura sedang serius. Kalau sudah begini, Sakura yang sebal sendiri. Rasanya percuma saja ia menegur Ino yang selalu bercanda seperti ini. Lihat saja bagaimana respon Ino. Sekarang si pirang itu malah tersenyum sendiri sambil melahap camilan yang dibawanya. Ino memang kekanak-kanakan.
"Buka saja laptopnya. Tanganku kotor."
Mendapat persetujuan dari sang pemilik, Sakura segera menghidupkan laptop Ino. Jantungnya berdegup kencang saat ia mengakses akun email-nya. Ada satu email masuk dari penerbit. Ino yang juga dilanda rasa pensaran mengambil tempat di sebelah Sakura. Ino meletakkan toples yang sedari tadi ia peluk erat.
Sakura melirik Ino dengan ragu. "Kau saja yang lihat."
Ino mengangguk mantap lalu memajukan laptop itu ke arahnya. Sedangkan Sakura menggeser tempat duduknya. Ia memejamkan mata erat-erat dan menutup kedua telinganya, tak siap mendengarkan jawaban yang akan dilontarkan Ino.
"Sakura," Ino memanggil dengan intonasi gantung. Ia menatap laptop itu dengan pandangan tak percaya. Sakura yang masih mendengar panggilan Ino menoleh. "Apa? Apa aku gagal lagi?"
"Kau berhasil! Mereka menerima naskahmu!" Ino berteriak dengan gembira. Dia langsung menarik Sakura ke dalam dekapannya. Sakura yang dipeluk hanya celingak-celinguk seperti orang bodoh.
"Kau tidak bohong kan?" Sakura menggeser laptop itu ke arahnya. Di sana terpampang jelas balasan email dari penerbit yang menerima naskahnya. Sakura tertawa bahagia sampai air matanya menerobos keluar.
"Akhirnya! Akhirnya! Naskahku diterima!" Sakura bersorak senang dengan mendekap Ino lebih erat. Tangannya berada pada punggung Ino. Ia menepuk-nepuk punggung Ino, menyalurkan kebahagiaannya.
"Aku tahu, kau memang bisa melakukannya! Selamat Sakura!"
Ino melepaskan pelukannya. "Hal ini harus kita rayakan. Bagaimana kalau makan di restoranku?" Sakura mengangguk setuju.
Sakura dan Ino masuk ke restoran lewat pintu penghubung yang ada di dapur. Mereka muncul di dapur restoran. Di sini para pegawai Ino nampak bekerja keras. Mereka masih berkutat dengan kerjaan masing-masing. Tumpukan piring kotor tak pernah menyusut, selalu ada piring kotor baru yang membuat si pencuci piring harus terus mencuci tanpa henti. Para koki sibuk memasak hidangan sesuai dengan pesanan pelanggan. Ada yang bertugas memasak, menghidangkan semua di piring, dan memberikan garnish yang membuat hidangan itu menarik untuk dimakan. Saking sibuknya dengan kegiatan masing-masing, mereka tidak menyadari bahwa sang pemilik restoran tengah berjalan memperhatikan kegiatan masak-memasak di dapur besar ini.
Lengkungan bibir Ino menghasilkan senyum manis yang menghiasi wajah cerianya. Ia begitu bahagia melihat karyawannya bekerja keras. Sakura yang merasa tidak enak segera menghentikan keasyikan Ino dengan menarik pergelangan tangan Ino dan keluar pelan-pelan dari dapur.
Pemandangan berganti menjadi puluhan pengunjung yang asyik dengan kegiatan mereka. Ada yang makan sambil bergosip, ada yang membeli makanan untuk difoto lalu diunggah di sosial medianya, ada yang mampir untuk memulai hari dengan secangkir kopi hangat, atau membicarakan hal yang serius. Sakura segera duduk di meja dekat jendela besar yang memberinya gambaran betapa sibuknya ibukota di pagi hari. Ino duduk di hadapannya dengan tangan menopang dagu.
"Bagaimana? Kau mau ke kantor penerbit?"
"Tidak. Aku akan mengabari Ibu dulu."
"Bukannya di sana tidak ada telepon?"
"Kami punya satu. Ada di balai desa, semua orang bisa memakainya. Ada satu orang yang menjaga telepon itu. Saat ada telepon masuk, maka dia akan menyampaikannya pada orang yang dituju dengan mengetuk pentungan. Kau berharap aku akan menjawab begitu?" Sakura bertanya dengan nada menyindir. Ino terkekeh.
"Kami sudah lebih maju daripada yang kau pikir, Ino. Kami sudah punya ponsel masing-masing!" Sakura berseru kesal.
Ino tersenyum tipis. Pandangannya menerawang. Ia menghembuskan napas dengan ekspresi wajah yang sedikit murung. "Aku jadi rindu desa."
"Kau bisa-
"Ino?"
Sakura menyikut Ino sehingga gadis pirang itu mengikuti arah pandang sahabatnya. Tepat di samping meja mereka, seorang laki-laki jangkung berdiri dengan membawa paper bag berwarna ungu –warna kesukaan Ino. Sebentar, Ino terperanjat.
"Sasuke?" Ino menatap pria bernama Sasuke itu dengan wajah bodohnya. Sakura hanya memandang Ino yang masih terpaku. Tanpa dipersilahkan siapa-siapa, ia mengambil inisiatif untuk duduk di depan Ino, tepatnya di samping Sakura. Sakura yang tak mau mengganggu pun bergeser sampai mentok ke jendela.
"Kau tidak ke kantor? Ada apa ke sini?"
Sasuke menggelengkan kepalanya. Ia menjawab pertanyaan Ino dengan seulas senyum menawan yang membuat tampangnya semakin rupawan. Ino ikut tersenyum.
"Ini untukmu?" Sasuke memberikan paper bag yang dibawanya ke hadapan Ino. Ino menerimanya dengan senang hati. Ia melihat isinya karena penasaran. Tetapi yang dapat ia lihat hanya sebuah kotak.
"Apa ini?" tanya Ino dengan wajah sumringah.
Sasuke hanya tersenyum dan menjawab, "Hadiah." Ia beranjak dari tempat duduknya lalu berdiri di samping Ino.
"Aku harus pergi untuk perjalanan bisnis selama tiga hari. Aku tidak bisa meneleponmu. Setelah pulang, aku akan menemuimu." Selesai dengan penjelasannya, Sasuke mencium kening Ino.
"Jaga dirimu. Pastikan kau tidak selingkuh, ya? Aku akan merindukanmu." bisik Sasuke sebelum pergi. Mendapat perlakuan manis itu, Ino hanya diam. Terpaku akan segala hal yang dilakukan oleh Sasuke. Laki-laki itu memang manis sekali.
Sakura yang sedari tadi memperhatikan ekspresi Ino juga tersenyum, ikut bahagia akan keromantisan Ino dan Sasuke. Pipi Ino bersemu merah, seperti kepiting yang direbus dengan air mendidih. Seulas senyum malu-malu menemani wajah bahagianya.
"Ada apa dengannya? Tiba-tiba bertingkah manis seperti itu, membuat terkejut saja sih!" Ino mengoceh sembari menepuk-nepukkan kedua pipinya yang terasa panas. Ia mengipas-ngipaskan kedua tangannya, berusaha meredakan suhu pipinya yang merah padam.
Sakura hanya terkekeh. "Kau harusnya bersyukur bisa berpacaran dengan orang sepertinya. Tingkahnya manis, wajahnya tampan. Kelihatannya dia orang baik." komentar Sakura dengan tangan kanan yang menopang wajahnya. Ino hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, masih tak percaya akan tingkah Sasuke yang berhasil membuatnya memerah di depan khalayak umum.
"Ah, sudahlah! Aku tidak mau memikirkannya lagi." Ino berseru kesal dengan mengacak-acak rambutnya. Sakura hanya tersenyum memaklumi.
Drrrt..
Merasa bahwa ponselnya bergetar, Sakura segera mengeluarkan ponselnya dari saku. Ia membuka ponselnya dan mengangkat telepon masuk dari Ibunya. Sakura tersenyum saat Ino bertanya dengan penasaran, "Siapa itu?"
"A-apa…?" Sakura memberi jeda panjang. Matanya seketika menjadi kosong. Ia terdiam dengan wajah yang pucat pasi. Ino yang melihatnya berfirasat tidak enak. Ia menggenggam kepalan tangan Sakura.
"Ibuku… meninggal?" Sakura bertanya dengan nada tak percaya.
Sakura terdiam dengan tatapan kosong. Tubuhnya menjadi lemas seketika sampai-sampai ponsel yang dipegangnya jatuh bebas begitu saja. Ia menahan napas. Tiba-tiba saja mulut serta kerongkongannya terkunci. Air matanya berlinang di pipi, jatuh dua-tiga titik tanpa sepengetahuannya.
Tentu saja Ino terkejut sekaligus cemas ketika ia mendengar berita dukacita ini. Dia tak tahu harus berbuat apa. Yang dapat ia lakukan hanya menggenggam tangan Sakura karena dia juga tak tahu harus berkata apa.
"I-ini tidak mungkin kan, Ino? Tadi pagi Ibu masih lancar menendangku agar aku bangun. Dia masih membuatkan sarapan untukku. Dia masih menceramahiku dengan sindiran pedasnya. Ibuku.. I-Ibu masih sehat-sehat saja, Ino! Ini semua bohongan kan? Ya kan?" Sakura berseru sendirian dengan lelehan air mata yang makin deras mengalir dari pelupuknya. Suaranya melemah, bahunya bergetar. Tidak, seluruh badannya gemetar ketakutan.
"Bagaimana bisa Ibunya meninggalkannya seperti ini? Bagaimana bisa Ibunya tega meninggalkannya sendirian?" Sakura bertanya dalam hati. Ino hanya menggenggam kepalan tangan Sakura lebih erat. Ia mengusap-usapnya, menenangkan Sakura yang tengah kalut.
Tiba-tiba saja air matanya berhenti mengalir, bagaikan anak sungai yang kering di musim kemarau. Haruno Sakura yang berusia dua puluh tahun kini mengerti. Hidup ini tak semudah yang ia bayangkan. Ia tinggal di dunia yang selalu menyimpan kenyataan pahit yang siap membuatmu terguncang kapan saja. Salah satunya adalah apa yang dia alami sekarang. Hari ini akan ia kenang sebagai memori abadi.
Tanggal 24 Desember 2017, hari dimana naskahnya diterima adalah hari dimana Ibunya meninggalkannya sendirian.
To Be Continue..
Halo semuanya! *bungkukhormat
Perkenalkan saya manggoesdown, seorang author baru yang berusaha menyalurkan hobi mengarangnya. Author mengerti banyak sekali kekurangan yang terdapat dalam fic ini, jadi untuk kurang lebihnya saya ucapkan maafkan saya hehe.. Tapi untuk ke depannya saya akan belajar untuk menulis dengan lebih baik lagi. Terima kasih sudah sudah membaca fic amatir author ini. Mohon bantuannya! *bungkukhormat
Saya harap readers bisa meninggalkan jejak dengan meninggalkan review ya hehe..
Sampai jumpa di chapter selanjutnya! *bungkukhormat
