Let Me Love You

Chapter 2

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Romance, Tragedy

Rate : Teens

Main Cast :

Haruno Sakura

Warning : Seluruh karakter ini milik Masashi Kishimoto, sedangkan ide ceita ini seratus persen milik saya. Pemain lain dapat kalian temukan di sini. Kemungkinan yang akan readers temui adalah typo(s), alurnya ngalur-ngidul, serta kejelekan lainnya. Oleh karena itu, harap berhati-hohoho.

Preview :

"Ibuku… meninggal?" Sakura bertanya dengan nada tak percaya.

Sakura terdiam dengan tatapan kosong. Tubuhnya menjadi lemas seketika sampai-sampai ponsel yang dipegangnya jatuh bebas begitu saja. Ia menahan napas. Tiba-tiba saja mulut serta kerongkongannya terkunci. Air matanya berlinang di pipi, jatuh dua-tiga titik tanpa sepengetahuannya.

Tentu saja Ino terkejut sekaligus cemas ketika ia mendengar berita dukacita ini. Dia tak tahu harus berbuat apa. Yang dapat ia lakukan hanya menggenggam tangan Sakura karena dia juga tak tahu harus berkata apa.

"I-ini tidak mungkin kan, Ino? Tadi pagi Ibu masih lancar menendangku agar aku bangun. Dia masih membuatkan sarapan untukku. Dia masih menceramahiku dengan sindiran pedasnya. Ibuku.. I-Ibu masih sehat-sehat saja, Ino! Ini semua bohongan kan? Ya kan?" Sakura berseru sendirian dengan lelehan air mata yang makin deras mengalir dari pelupuknya. Suaranya melemah, bahunya bergetar. Tidak, seluruh badannya gemetar ketakutan.

"Bagaimana bisa Ibunya meninggalkannya seperti ini? Bagaimana bisa Ibunya tega meninggalkannya sendirian?" Sakura bertanya dalam hati. Ino hanya menggenggam kepalan tangan Sakura lebih erat. Ia mengusap-usapnya, menenangkan Sakura yang tengah kalut.

Tiba-tiba saja air matanya berhenti mengalir, bagaikan anak sungai yang kering di musim kemarau. Haruno Sakura yang berusia dua puluh tahun kini mengerti. Hidup ini tak semudah yang ia bayangkan. Ia tinggal di dunia yang selalu menyimpan kenyataan pahit yang siap membuatmu terguncang kapan saja. Salah satunya adalah apa yang dia alami sekarang. Hari ini akan ia kenang sebagai memori abadi.

Tanggal 24 Desember 2017, hari dimana naskahnya diterima adalah hari dimana Ibunya meninggalkannya sendirian.

Happy Reading^^


Chapter 2 : New Game

Sakura hanya berdiri, mematung di samping ranjang tempat Ibunya berbaring. Wajah Ibunya pucat pasi, bibirnya pun mulai membiru. Wajah itu masih sama seperti yang ia ingat sejak dulu. Rambut merah muda yang dipotong pendek membingkai wajah Ibunya yang sebenarnya cantik kalau dia tidak berekspresi menakutkan seperti preman. Hidungnya mancung, bibirnya tipis, kulitnya putih mulus. Garis rahangnya tajam dengan pipi tirus yang menggambarkan bahwa ia kurang makan.

Air mata kembali menetes turun dari pelupuk mata gadis itu ketika ia menyentuh kulit Ibunya yang mulai terasa dingin. Ia tak lagi menangis seengukan seperti anak kecil yang terpisah dari Ibunya. Mungkin stok air matanya telah habis karena sedari tadi ia menangis tak berhenti. Mungkin badannya juga sudah lelah. Namun hatinya tak dapat berbohong. Hatinya masih terluka, tak bisa dijahit atau ditampal dengan apapun sehingga luka yang membekas belum jua kering. Kesedihan yang tak dapat ia ungkapkan masih membuat dadanya dipenuhi rasa sesak. Ia tidak bisa apa-apa lagi. Untuk berkata-kata, sekadar mengungkapkan betapa terpukulnya dirinya pun ia tak punya tenaga. Untuk sekarang ini, ia hanya ingin memandang wajah Ibunya, sebelum beliau dikebumikan.

Ino ikut menangis, turut berdukacita akan kepergian Ibu sahabatnya. Namun ia sudah lebih tenang begitu melihat Sakura tak lagi menangis. Hanya saja, Sakura terlihat berbeda dari Sakura yang dulunya ia kenal. Aura yang keluar dari Sakura gelap, memancarkan duka dan dendam. Gadis cerewet itu kini diam seribu bahasa. Mulut dan kerongkongannya terkunci rapat. Senyum hangat, tawa ceria, eskpresi bahagia, berganti dengan wajah datar dan sorot mata dingin. Namun Ino tak berkomentar apa-apa mengenai hal itu. Ia tetap setia berdiri menemani Sakura yang sepertinya tidak ingin bicara dengan siapapun saat ini. Dari tadi Ino pun tak banyak bicara. Ia hanya mengusap pundak Sakura, mengenggam tangannya, dan berbisik pelan, "Kau pasti bisa melaluinya."

Ino mengikuti arah pandang sahabatnya. Wajah Ibu Sakura memang bersih tanpa cacat. Tapi tidak dengan anggota badannya yang lain. Perutnya ditusuk beberapa kali dengan pisau. Memar dan luka bertebaran di sekitar lengan Ibunya, begitu juga dengan kakinya. Siapapun yang melakukan ini tak hanya ingin membunuh, tetapi menyiksa korbannya sampai mereka merasa ingin menjemput ajal lebih cepat.

"Siapa yang tega melakukan hal seperti ini? Memangnya apa salah Ibuku pada mereka?" Sakura berbisik pelan. Ino menggapai tangan Sakura kemudian meremasnya, berusaha menguatkan sahabatnya lewat sentuhannya.

"Kita akan cari tahu. Kita akan mengungkapkan kebenarannya bersama-sama, Sakura. Aku akan membantumu menangkap pelakunya." ujar Ino dengan tegas. Air matanya sempat menetes keluar saat Sakura kembali menangis tanpa suara. Sakura tak merespon, ia hanya mendengar janji itu. Namun ia menyimpannya dalam hati. Ia akan mengingat janji Ino hari ini.

Ibunya telah dikebumikan dengan isak tangis dari penduduk desa, lain dengan Sakura yang hanya diam saja ketika jenazah Ibunya dikubur dengan timbunan tanah. Beberapa jam kemudian, para pelayat beranjak meninggalkan Sakura dan Ino yang masih setia berdiri di samping kubur. Ino menangis sejadi-jadinya sembari memeluk batu nisan yang baru dibuat itu. Sementara Sakura menatap sedih tanah yang masih basah itu. Tangannya terulur untuk menggenggamnya dan menumpahkan kekesalannya.

"Aku akan balas dendam, Bu. Aku akan menangkap pelakunya dengan tanganku sendiri." tekad Sakura dalam hati sembari menggenggam erat tanah itu.


"Sakura?" Suara baritone khas pria itu menggema di seluruh penjuru rumah. Matanya yang hitam tajam bak elang menjelajahi isi ruangan itu.

Kosong.

Rumah ini sunyi senyap, persis seperti kuburan lama yang terbengkalai. Bedanya rumah ini bersih dan masih terawat sampai sekarang. Perabotan ala kadarnya tertata rapi. Debu tidak bertumpuk karena si empunya rumah memang tipikal orang pembersih. Ia tak suka rumahnya berantakan. Berbagai lembaran kertas yang harusnya berhamburan di meja kerjanya kini lenyap. Entah dimana ia menyimpan semua kertas itu.

Setelah melepas sepatunya, pria itu melangkah masuk ke ruang tamu. Ia duduk di sofa, menantikan kedatangan si tuan rumah. Kenapa ia bisa masuk? Tentu saja bisa, ia punya kunci cadangan rumah ini. Baginya rumah ini sama seperti ruamhnya sendiri. Tidak, memang begitu kenyataannya. Dialah yang membeli rumah ini agar Sakura dapat tinggal di sini. Namun gadis keras kepala itu menggeleng tak mau, karena itulah seperempat gajinya selalu ia setorkan untuk pria itu. "Aku benci berhutang budi." Begitulah jawabannya.

Pria itu melirik jam dinding. Waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam, tetapi gadis itu belum pulang juga. Pria itu menghembuskan napas. Ia bangkit berdiri, berjalan ke arah dapur. Ia mengambil mug lalu menuangkan bubuk kopi serta gula kemudian menyeduhnya dengan air panas dari termos. Sembari mengaduk-aduk kopi itu, pikirannya melayang. Tentu saja memikirkan bagaimana ia bisa sangat mencemaskan gadis berambut merah muda itu. Memikirkan hal itu, seulas senyum datang menghiasi wajahnya.

Menunggu kopinya sedikit dingin, pria itu merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya. Saat menghidupkan benda persegi panjang itu, hal pertama yang dilihatnya adalah foto seorang gadis berambut merah muda yang tengah menghadap ke samping. Sudut bibirnya sedikit terangkat ke atas, membentuk satu lengkungan manis yang disebut dengan senyum tipis. Ia mengenakan setelan bebas, sweater hijau tangan panjang dan celana jeans hitam. Berkat tiupan angin, rambut merah mudanya berkibar bebas. Gadis itu nampak cantik. Namun perhatiannya tak lagi tertuju ke sana, melainkan kepada tanggal dan jam yang tertera di sana.

23 Desember 2027.

09.03 PM

Pria itu kembali menghembuskan napas berat. Pantas saja kalau gadis itu belum pulang. Biasanya dia tidak akan pulang ke rumah. Gadis itu akan bermalam di rumah lama, yang ada di desa. Tempat yang paling dekat dengan lokasi pemakaman ibunya. Gadis itu akan pulang keesokan harinya dengan wajah datar, seperti biasanya.

Begitulah kebiasaan gadis itu. Sehari sebelum hari peringatan kematian Ibunya, ia akan menginap di rumah lamanya. Ketika pagi tiba, ia akan bergegas ke makam Ibunya dengan membawa bunga dan peralatan untuk membersihkan makam itu. Selesai dengan urusan makam, ia kembali melaksanakan rutinitasnya seperti biasa. Ia melakukan hal ini setiap tahunnya.

Sementara itu, Sakura yang memang berada di rumah lamanya tengah duduk dalam diam. Kemeja putih berbalut blazer biru dongker dengan celana dasar senada itu masih setia melekat di tubuhnya. Tas kerjanya ia letakkan di atas meja. Dia menghela napas berat kemudian menyesap kopi panas yang baru saja ia buat.

Pikirannya terbang ke masa dimana ia masih berusia dua puluh tahun. Usia dimana ia masih bertingkah layaknya remaja puber. Usia dimana dia masih bercita-cita menjadi seorang penulis. Dan itu adalah usia terakhirnya untuk merasakan kasih sayang sang Ibu yang diwakilkan dengan perilaku kasar andalannya. Usia itu juga usia dimana ia mulai berjuang untuk hidup sebatang kara.

Sakura kembali menghembuskan napas. Kini ia menyandarkan punggungnya, mencoba duduk lebih santai. Ia memejamkan matanya, beristirahat sejenak sembari melupakan pekerjaan yang menumpuk di kantor. Malam ini ia hanya ingin mengenang serpihan masa lalunya, sekaligus mengingat Ibunya. Hanya di rumah ini dia bisa merasakan kenangan itu karena rumah ini adalah saksi bisu atas apa yang telah terjadi pada Ibunya. Rumah ini merupakan saksi bisu yang tak dapat mengatakan betapa bahagianya mereka dan siapa yang membunuh Ibunya.

Memikirkan hal itu membuat Sakura frustasi. Sudah sepuluh tahun berlalu, tetapi kasus kematian Ibunya tak pernah dianggap sebagai suatu hal yang harus ditinjau lebih lanjut. Kasus ini hanyalah pembunuhan biasa, begitulah anggapan para polisi bahkan publik. Namun bagi Sakura ini adalah pembunuhan yang tak bisa ditolerir. Ini adalah pembunuhan yang keji!

Tanpa mengharapkan bantuan pihak berwenang, Sakura mencoba menguak alasan di balik kematian Ibunya bersama Ino. Sayangnya pencarian mereka tak pernah membuahkan hasil yang berharga. Sebenarnya alasan mengapa Sakura kembali ke rumahnya setiap hari peringatan kematian Ibunya adalah ia ingin mencari bukti yang mungkin saja tertinggal dalam rumah ini atau sebuah petunjuk yang dapat membantu menyelesaikan penyelidikan mereka. Hebatnya sampai sekarang ia tidak menemukan apapun. Pembunuh itu begitu teliti dan cerdik, ia bermain dengan rapi. Tak ada jejak yang ia tinggalkan.

Sakura menenggak habis kopinya. Ia menatap gelas kosong itu dengan tatapan hampa kemudian meletakkannya kembali. Sakura menatap ponselnya yang bergetar di atas meja. Tangannya terulur untuk mengambil benda persegi panjang itu. Ada panggilan masuk, Sakura yang malas melihat siapa sang penelepon langsung menjawabnya.

"Usahamu sia-sia."

Sakura yang tadinya ingin tidur kini membelalakkan matanya. Napasnya tertahan. Badannya menegang. Sakura membetulkan posisinya. Ia duduk dengan tegap, kemudian pandangannya mulai mengedar ke seluruh penjuru rumah. Ia tidak tahu ini suara siapa, yang jelas ini bukan suara dari orang-orang yang dikenalnya. Teman-temannya tidak mungkin meneleponnya dengan nada mengejek dan tawa jahat seperti ini.

"Siapa ini?" tanya Sakura dengan sinis. Sang penelepon kembali tertawa. Entah itu mengejek atau kasihan, yang jelas Sakura benci mendengar suara tawa itu. Sakura yang berpikir cepat langsung memutuskan untuk merekam percakapan mereka.

"Kau tumbuh menjadi wanita yang cantik, persis seperti Ibumu. Kenapa kau tidak memotong pendek rambutmu? Aku benci wanita berambut panjang." Sang penelepon mendengus kesal. Sakura mengerutkan keningnya. Bagaimana orang ini tahu bahwa rambutnya panjang? Ya, walaupun itu hanya setengah dari panjang punggungnya. Bagaimana dia tahu rupanya persis seperti Ibu? Apakah orang ini adalah orang yang membunuh Ibunya?

"Memangnya saya harus mengikuti selera anda? Maaf ya, ini hidup saya. Saya mau bertingkah bagaimana, itu urusan saya. Lagipula saya tidak mirip Ibu. Jangan bertingkah seolah anda tahu segalanya." balas Sakura dengan tegas. Penelepon itu tertawa lagi kemudian berdecak sebal.

"Untuk gadis yang hidup sendirian, kau patut dipuji. Berbicara dengan formal, bekerja dengan baik, punya rumah dan teman-teman, bahkan kau punya pacar. Sepertinya kau tak perlu lagi peran sosok Ibu, eh? Ya kan?"

Sakura mendengus kesal. Ia mulai merasa jengkel dengan penelepon misterius yang bertingkah seolah-olah dia mengenal baik lingkungan Sakura. Sakura memindahkan posisi ponsel itu ke hadapan matanya. Tidak ada nama, hanya ada sederet nomor yang tak ia ketahui milik siapa. Sakura kembali mendengus lalu kembali menempelkan ponsel itu ke telinganya.

Sebenarnya siapa penelepon ini? Kenapa dia terus-terusan bicara tentang Ibunya? Apakah dia pembunuhnya? Atau hanya orang yang ingin menakut-nakutinya? Sakura menghela napas sambil memijit pelipisnya.

"Saya sudah memperingtkan anda! Jangan bertingkah seolah anda tahu segalanya. Anda membuat saya jengkel. Apa yang saya lakukan, bakhkan saya rasakan, itu bukan urusan anda!"

"Aku juga mulai kesal karena kau terus bicara formal. Ah, tapi aku punya satu pertanyaan. Apa kau merindukan Ibumu? Besok adalah hari peringatan kematiannya kan?"

"Anda tidak berhak untuk tahu."

Penelepon itu mendengus kesal. "Ya, kau selalu bertingkah sesukamu. Kau ingin bertemu dengannya? Kalau iya, aku bisa mempertemukanmu dengannya. Lagipula waktunya cukup tepat."

"Saya akan menutup teleponnya. Saya tidak perduli dengan semua yang anda katakan. Se.."

Sang penelepon memotong kalimat Sakura. "Kau mau mendengar berita baik?"

Kening Sakura berkerut. Memangnya kabar baik apa yang dapat disampaikan oleh penelepon misterius ini? Sebelum Sakura berpikir lebih jauh lagi, penelepon itu kembali bersuara, "Aku adalah pembunuh Ibumu. Kalau kau mau menangkapku, kau harus mau bermain denganku."

Bahu Sakura kembali menegang. Mulutnya terkunci rapat-rapat. "Permainannya sederhana. Kau yang menangkapku atau aku yang membunuhmu."

Sambungan telepon terputus begitu saja. Sakura menghela napasnya kemudian meletakkan ponselnya ke atas meja dengan kasar. Ia memejamkan mata, berusaha melepas stres setelah diteror penelepon misterius itu. Ia kembali duduk dengan punggung yang bersandar pada kursi. Helaan napas berat kembali terdengar.

Sakura menatap jam dinding. Sekarang waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Bukannya mengantuk, matanya malah terang-benderang. Ia tidak merasa ngantuk bahkan tak ada niat ingin pergi beristirahat. Sakura masih memikirkan pembicaraannya dengan penelepon misterius.

Permainan baru? Berarti dia sudah pernah memainkan hal yang sama sebelumnya? Apa selama ini dia mengincar keluarganya? Jadi karena itulah dia mengenal kehidupan Sakura dengan baik? Atau dia menentukan korban secara acak?

Sakura mendesah frustasi. Selama sepuluh tahun ia mencari petunjuk kematian Ibunya, namun ia tidak pernah mendapat apapun. Sekarang di saat dia ingin melupakan sakit hatinya perlahan-lahan, ia dihadapkan dengan permainan bodoh yang entah apa maksudnya. Tetapi Sakura meyakini hal ini sebagai titik terang dari pencariannya.

Memikirkan semua hal dan kemungkinan yang akan terjadi membuat Sakura lelah sendiri. Ia memejamkan mata lalu tertidur pulas. Ia tertidur di atas kursi dengan setelan kerja dan wajah lelahnya.

Esok paginya, Sakura bersiap untuk pergi ke makam. Pagi-pagi sekali ia mandi lalu mengganti setelan kerjanya dengan pakaian yang ia bawa dalam tasnya. Ia memakai baju kaos hitam tangan panjang dan celana jeans biru pudar. Sakura meninggalkan rumahnya setelah ia selesai memakai sepatu dan mengikat rambutnya. Sebelum ke makam Ibunya, Sakura mampir ke toko bunga. Ia menjatuhkan pilihannya pada sebuket bunga mawar putih yang masih harum baunya. Setelah itu, ia bergegas menuju makam Ibunya.

Sakura menghela napas ketika ia melihat sudah ada orang yang sampai sebelum dia. Sakura melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Waktu menunjukkan pukul delapan pagi. Sakura mendekat, menghampiri makam Ibunya yang sedang dikunjungi itu.

"Kamu terlambat." tegur pria yang ada di sampingnya. Sakura menghela napas, kemudian tersenyum tipis.

"Maaf aku terlambat, Bu. Aku kalah cepat dari orang ini." Sakura mengabaikan pria yang menegurnya. Pria bermanik hitam kelam itu tersenyum tipis.

"Walaupun kita bodoh tentang bunga, aku tetap membawanya. Aku bawa mawar putih, baunya masih harum. Bunganya juga masih segar. Aku akan meletakkannya di sini." ucap Sakura sebelum ia meletakkan buket bunga mawar putihnya. Ia mencium bunga itu lalu tersenyum.

"Aku baik-baik saja, Bu. Aku harap Ibu juga begitu. Sampai sekarang aku sibuk dengan pekerjaan. Kalau Ibu masih ada, pasti Ibu akan bangga karena aku berhasil bekerja berkat jerih payahku sendiri. Mungkin Ibu akan menyuruhku segera menikah karena sekarang umurku sudah tiga puluh." Sakura berbicara sendiri sambil mengusap batu nisan Ibunya dengan lap basah yang dibawanya.

"Ah, rumput-rumputnya sudah tinggi, ya? Pasti sangat menganggu." Sakura ingin bergerak untuk mencabut rumput liar itu, namun pria di sampingnya menghentikan pergerakannya dengan menggenggam halus tangannya.

"Biar saya saja."

Sakura mengangguk setuju. Tanpa disuruh lagi, laki-laki bermanik obsidian itu segera mencabuti rumput liar yang tumbuh di sekitar makam. Sakura hanya tersenyum dan lanjut mengobrol dengan Ibunya. Tangannya tak pernah diam. Sambil berbicara dengan Ibunya, ia menyiram tanah itu agar tetap basah dan mencabut rumput yang masih tumbuh di sana. Sampai tak terasa, mereka sudah menghabiskan waktu satu jam.

"Saya duluan, ya? Saya mau kembali ke kantor." Pria jangkung itu berdiri sembari menepuk-nepukkan kedua tangannya untuk menghilangkan debu yang menempel. Sakura menghentikan acara bicara bersama Ibunya, ia menoleh.

"Ikut." Sakura turut berdiri. Ia tersenyum lalu mengusap nisan Ibunya dengan lembut.

"Aku pergi dulu, Bu. Sudah waktunya untuk kembali ke kantor. Aku akan mengunjungi Ibu lagi." pamit Sakura dengan seulas senyum tipis. Pria itu juga tersenyum.

"Ayo." ajak pria itu dengan menggenggam tangan Sakura. Sakura yang diperlakukan seperti itu hanya diam saja. Ia terlalu bahagia karena mengunjungi Ibunya, jadi untuk protes akan tingkah laku orang di sebelahnya, itu bisa dilakukan nanti saja.

Mereka masuk ke dalam mobil. Pria itu menyetir dengan tenang, sedangkan Sakura masih melayangkan pikirannya. Ia masih teringat pembicaraannya dengan penelepon misterius kemarin.

"Aku mau cerita."

Tiga kata yang keluar dari mulut Sakura itu sukses membuat pria di sampingnya menoleh kaget. "Kamu mau bercerita? Tumben sekali. Biasanya kamu hanya diam."

Sakura menarik napas lalu menghembuskan napas pendek. Tanpa mengindahkan komentar orang di sebelahnya, Sakura mengeluarkan ponselnya dan membuka rekaman percakapannya dengan penelepon misterius kemarin.

"Kemarin aku diteror." Sakura menjelaskan. Ia memutar rekaman itu sampai ke bagian akhir, laki-laki itu menghentikan mobilnya secara tiba-tiba. Ia membulatkan matanya tak percaya. Ia mencengkram erat kedua bahu Sakura dengan pandangan khawatir.

"Kamu baik-baik saja? Kenapa kamu tidak langsung menelepon?" tanya laki-laki itu dengan cemas.

"Entahlah. Aku ketiduran." Sakura menjawab pendek. Laki-laki itu mendesah frustasi.

"Bagaimana kalau dia menyerangmu tiba-tiba? Bagaimana kalau dia tahu dimana kamu dan langsung membunuhmu? Aku tidak mau kehilanganmu!"

Sakura tidak berkedip. Ia mematung, menatap manik obsidian gelap itu lebih dalam. Kekhawatiran tergambar jelas di sana. Tanpa harus melihat matanya, sebetulnya ia sudah merasakan betapa besar rasa tak mau kehilangan dari pria jangkung ini.

Namun yang membuat Sakura tak bergeming adalah cara bicara laki-laki itu. Selama ini ia tidak pernah mendengar nada bicara yang setengah berteriak seperti tadi. Ia juga belum pernah mendengar kata aku keluar dari mulut manis pria itu.

"Kau kesurupan?" tanya Sakura bingung. Tingkahnya seperti orang bodoh, ia kelihatan linglung. Sakura menempelkan punggung tangannya ke kening mulus pria itu, berusaha mengecek apakah ia sedang sakit atau tidak. Tetapi tidak ada hangat yang menyergap punggung tangannya. Mendapat pertanyaan bodoh dari Sakura, pria itu mendengus kesal. Tanpa aba-aba, pria itu mendekatkan dirinya dan membuat Sakura jatuh ke dalam dekapannya yang hangat.

"Aku serius! Aku tidak mau kehilanganmu! Jangan anggap aku sedang bercanda. Kalau aku jadi wanita, aku langsung menelepon pacarku! Memangnya kamu tidak takut diteror seperti itu?" Sakura hanya diam, menikmati ocehan panik dari pria itu. Tanpa pria itu ketahui, dalam dekapannya, Sakura tersenyum. Ia benar-benar merasakan kecemasan dari pria ini. Dan hal itu membuat dirinya merasa bahagia.

Tak mau berlama-lama, Sakura melepaskan pelukan pria itu. Mata mereka bertemu seolah ingin berkomunikasi lewat tatapan. Mata hitam kelam itu menatap iris emerald Sakura dengan khawatir, sedangkan emerald itu tidak menyiratkan apa-apa selain ketenangan. Pandangan mata pria itu juga berubah menjadi teduh. Sakura tersenyum tipis ia jadi ingat bagaimana perjumpaan mereka untuk pertama kalinya.


Selesai dengan acara pemakaman, Ino mengajak Sakura untuk pergi ke rumahnya. Ino merasa bahwa lingkungan rumah Sakura tidak aman. Lagipula sekarang gadis berambut merah muda itu tinggal sendirian tanpa pengawasan siapa-siapa. Ia juga tidak punya siapa-siapa sebagai tempat bersandar.

Niat Ino membawa Sakura ke rumah adalah agar dia mau tinggal dengannya. Toh, Ino sudah menganggap Sakura sebagai saudarinya. Ayah dan Ibunya pun menganggap Sakura sebagai anak mereka yang harus diasuh dan diurus. Karena itulah, saat berita dukacita ini menyebar, Ino langsung menghubungi kedua orang tuanya untuk meminta persetujuan agar Sakura tinggal di rumah mereka. Niat Ino itu disambut baik oleh orang tuanya. Permasalahannya sekarang adalah Sakura, anak yang tidak mau berhutang budi sepertinya pastilah akan menolak tawaran itu. Karena itu, Ino sudah menghubungi Ibunya agar membujuk Sakura.

"Saku, kamu tinggal di sini saja. Tante rasa bahaya kalau kamu tinggal sendirian di sana." Ibu Ino yang baik berkata sambil menggenggam kedua tangan Sakura. Sakura menganggukkan kepalanya dengan rasa tidak enak karena merepotkan keluarga Ino.

"Saku bisa jaga diri kok." Ibu Ino menggeleng, begitu juga dengan Ino yang berkacak pinggang dengan wajah galak.

"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi! Kalau pembunuh itu mengincarmu bagaimana? Kau hanya sendiri di sana!" Ino berseru kesal. Sikap protektif Ino yang jarang ditunjukkan kepada orang lain kini keluar demi kebaikan sahabat tercintanya itu.

"Lagipula Ayah sudah mengambil barang-barangmu. Mau tidak mau, kau harus tinggal di sini! Aku dan Ibu memaksamu. Titik." Ino memutuskan setelah berpandangan dengan Ibunya yang kini melipat tangan. Sakura hanya tersenyum. Ia bersyukur karena ia punya Ino dengan keluarga yang mengganggapnya seperti saudari.

"Nanti kamu tidur sama Ino di kamar atas. Ya?" Ibu Ino mengusap pucuk kepala Sakura dengan lembut. Sakura mengangguk patuh.

"Kalian pasti lelah. Makanlah dulu, Ibu sudah selesai masak." Ibu Ino menutup pintu rumah begitu Ino dengan semangatnya menarik tangan Sakura yang lemas untuk makan.

Tanpa bisa menolak, Sakura tinggal bersama Ino. Seminggu setelah ia tinggal di sana, Sakura mencoba untuk bangkit dari keterpurukannya. Dia yang biasanya mengurung diri di kamar kini mencoba untuk keluar dari kamar. Walaupun ia hanya ke restoran Ino yang ada di samping rumah, setidaknya di sudah mencoba kan? Sakura yang biasanya tidak punya nafsu makan pun mulai memaksakan dirinya untuk makan. Sejujurnya ia merasa tidak enak dengan keluarga Ino yang sudah repot-repot menampungnya.

Sakura mencoba untuk bepikir realistis. Tak mungkin selamanya ia bisa tinggal di rumah Ino dan merepotkan mereka. Ia harus mencari kerja dan tinggal di rumahnya sendiri. Berkat dorongan dan semangat dari keluarga Ino, Sakura mencoba untuk melupakan kesedihan karena kehilangan Ibunya. Toh dari dulu ia tidak pernah diajarkan untuk menangis dan bersedih seperti mau mati. Ibunya selalu mengajarkannya untuk kuat karena hidup ini keras. Dan apa yang dikatakan Ibunya memang benar karena itu sudah terjadi padanya.

Sakura berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan karena selama seminggu ia benar-benar menjadi pribadi yang baru. Sakura yang ceria, optimis, dan selalu bahagia telah mati bersamaan dengan kepergian Ibunya. Sekarang hanya ada Sakura yang pendiam, berpikiran realistis, dengan wajah datar tanpa ekspresi. Bahkan Sasuke menyebut Sakura sebagai robot.

"Bisakah kau kembali seperti semula? Kau yang sekarang menyebalkan. Kau persis seperti mayat hidup, Sakura." Sasuke berkomentar dengan sebal. Ino melirik Sakura yang masih duduk tenang. Walaupun Sakura tak memberi respon apapun, ocehan Sasuke sudah kelewatan. Ino pun menjitak kepala Sasuke sampai laki-laki berambut biru dongker itu mengaduh kesakitan.

"Jangan dengarkan dia, Sakura. Dia memang tidak bisa mengontrol mulutnya." Ino tertawa hambar, tetapi Sakura masih tak merespon. Sakura memang berada bersama mereka tetapi pikirannya tengah melayang entah kemana. Hal itu dapat dilihat dari tatapan matanya yang kosong. Ino menghela napas kemudian memandang Sasuke yang balas menatap dengan pandangan yang mengatakan 'apa?'.

Bel yang berbunyi ketika pelanggan datang kini berbunyi. Pandangan Ino dan Sasuke langsung tertuju pada pintu masuk. Pria bertubuh jangkung itu tersenyum tipis. Ino balas tersenyum, sedangkan Sasuke mendengus. Pria bersetelan formal itu berjalan ke tempat Ino dan Sasuke duduk.

"Halo Ino." Pria itu menyapa dengan suara beratnya. Ino balas tersenyum.

"Boleh saya duduk di sini?" Pria itu bertanya sebelum ia duduk di samping Sakura. Namun Sakura yang masih hanyut dalam lamunannya tidak mendengar apapun.

"Duduk saja, kak. Dia tidak bisa mendengarmu, dia sedang melamun." Ino menyela dengan sopan. Pria itu mengangguk sekali lalu duduk di samping Sakura. Manik obsidian-nya memandang Sakura, mengikuti kemana arah mata itu pergi. Ino tersenyum sedangkan Sasuke kembali mendengus.

"Lebih baik kita pergi. Mereka sudah masuk ke dunia yang sama." ujar Sasuke dengan menarik pergelangan tangan Ino setelah ia beranjak berdiri. Ino menggeleng, menatap Sakura dan pria itu secara bergantian kemudian menatap Sasuke yang memandangnya dengan tatapan yang mengatakan 'ayo-kita-tinggalkan-mereka.'

"Kau yakin?" tanya Ino dengan ragu. Sasuke menganggukkan kepalanya.

"Hal buruk tak akan terjadi. Si tua bangka itu menyukai mayat hidup." Sasuke menjawab dengan gusar. Ino masih menggeleng ragu, ia hendak membuka mulutnya untuk membantah Sasuke namun kalimatnya dipotong dengan tarikan Sasuke sambil berkata, "Lebih baik kita tinggalkan mereka."

PRANG!

Lamunan Sakura hancur seketika. Ia menoleh ke sumber suara, begitu juga dengan pelanggan lainnya. Mata mereka terfokus pada seorang pelayan wanita yang sedang memungut pecahan beberapa gelas kaca. Dua pelayan lainnya juga datang membantu, bersama-sama mereka membersihkan gelas-gelas yang pecah itu. Setelah semuanya beres, mereka kembali menikmati hidangan masing-masing. Beda dengan Sakura yang terkejut akan kehadiran seorang pria di sampingnya. Sakura yang kaget secara refleks menjaga jarak sehingga ia duduk berdempet dengan jendela yang ada di belakangnya.

Sakura mengamati pria itu tanpa bicara apa-apa. Pria di hadapannya ini benar-benar mirip dengan Sasuke. Yang membedakan mereka hanya postur tubuh, gaya dan warna rambut, serta ada garis tua di sana. Sedangkan yang lainnya sama. Ada satu lagi yang berbeda, matanya mereka. Ia memiliki mata hitam kelam yang teduh, beda dengan punya Sasuke yang memancarkan kearoganannya.

"Kamu Sakura kan?" Pria mirip Sasuke itu bertanya dengan senyum tipis di wajahnya. Sakura menjawab pertanyaan itu dengan menganggukkan kepalanya sekali.

"Ternyata benar, kamu orang yang pendiam." Pria itu membuka bahan obrolan, tetapi Sakura tidak menanggapinya. Ia hanya diam dan menatap kedua manik obsidian itu, berusaha mencari tahu apa maksud pria ini lewat tatapan matanya.

"Saya kakaknya Sasuke, Itachi." Pria bernama Itachi itu menjulurkan tangannya dengan senyum tipis. Sakura masih diam, memandangi Itachi dengan tatapan datar. Manik gioknya masih setia menatap Itachi, mencoba menyusuri pikiran pria jangkung di depannya ini.

"Ah, kamu sudah tahu, ya?" Itachi menarik tangannya. Ia masih menatap Sakura, bahkan senyum tipis itu masih setia menghiasi wajahnya. Sedangkan Sakura yang ditatap hanya diam seperti patung. Bagaikan sebuah raga tanpa nyawa.

Seperti itulah awal perjumpaan mereka. Hanya Itachi yang membuka mulut. Sakura hanya menatapnya.


"Kalau ada apa-apa telepon aku! Langsung telepon, aku pasti akan mengangkatnya." Pria itu melepaskan pelukannya lalu menatap mata Sakura lekat-lekat. Sakura mengangguk sekali.

Ia kembali mendekap Sakura, membiarkan Sakura kembali jatuh ke dekapannya yang hangat. Ia ingin Sakura merasakan kenyamanan sehingga segala rasa cemas, takut, dan resah sirna dari benaknya. Nyatanya Sakura tidak apa-apa, dia baik-baik saja. Tidak ada perasaan takut. Dari dulu dia memang anak yang kuat. Teror dari penelepon misterius semalam tidak menggetarkan bahunya. Ia hanya syok, itu saja.

Tanpa mereka sadari, di pojok jalan. Ada sepasang mata yang sedari tadi mengawasi gerak-gerik mereka. Beberapa detik kemudian, orang berjaket hitam itu memasukkan kedua tangannya lalu menghilang ditelan keramaian.


To Be Continue

Halo semuanya! Kembali lagi bersama saya, author mangoesdown.

Sebelumnya author minta maap karena author bisa gonta-ganti penname tapi ga bisa update. Sebenarnya author sedang mencari identitas, jadi besar kemungkinannya penname author bakal berubah lagi hehe.

Jujur author seneng karena author ga nyangka kalau responnya bakal begini, author kira dulu yang bakal ff ini cuman tiga ternyata banyak hehe.. Banyak juga yang meninggalkan jejak dengan review, author senang sekali. Rasanya mau melayang wkwk

Yahh, author minta maaf karena updatenya terlalu lama ya? Tapi mau gimana lagi, author sudah mengupayakan buat update sekilat-kilatnya tapi.. ya.. begitulah. Author rasa untuk masalah update, jangka waktunya begini terus, agak lama, cukup lama kali ya? Terus author juga berterima kasih untuk semua pembaca yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca ff amatiran ala author ini. Terima kasih loh sudah mau mampir ke sini, author mencintai kali semua. Muah.

Oh iya, ini balasan untuk review yang masuk di chap kemarenn

DeidaraTamvanJualPetasan : Makasih loh;) Btw, emang ada di wattpad kok. Author juga buat di wattpad, tapi di sini juga ada. Tapi update nya pasti lama karena author ngepost di sini duluan hehe. Author juga seneng ItaSaku kok

Matarinegan : Kamu bingung di bagian mana?:( Yaudah, baca chap ini ya. Semoga ga bingung lagi

Sharohana : Waduhh tersanjung kan authornya wkwk, makasih yaa;)

Hanazono Yuri : Iyaa, ini lanjutannya yaa;)

Ibnu999 : Iyaa, ini lanjutannya yaa;) (2)

Siti Lafifah : Siapa hayoo? Tebak ajalah yah wkwk

Guest : Iyaa sama-sama loh;)

Hannysha : Iyaa, makasih loh. Ditunggu aja ya, ini ada transformasinya kok, jadi bahasanya nanti ga formal amat wkwk

Tectona Grandis : Iyaa, makasih yahh;)

Udah yaa? Sekian dari author. Sampai jumpa di chap selanjutnya. Makasih banyak semuannyaa3333