Tak tau harus memulai menyapa kembali dengan mengucap apa. Haruskah aku bilang 'annyeong', 'hai', 'maaf'? yang jelas aku benar-benar minta maaf karena baru bisa update. Lewat lebih dari satu bulan dari masa yang aku janjikan. Hiatus ngga pake acara ngomong dulu, tapi jujur aku lagi ngga ada waktu buat nulis ff. Jangankan nulis ff, tugas akhir ku aja terbengkalai. Semua karena pekerjaan yang setiap aku kira akan berkurang, tapi justru bertambah. Apalagi aku kerja dan kuliah di dua kota berbeda (dengan jarak tempuh 5 jam). Aku jadi benar-benar ngga ada waktu. Huft. Tapi tenang aja, kemarin aku ngga sepenuhnya hiatus kok, aku sudah mengetik hingga ending ff twins(knock out), Cuma belum di edit. Khikhikhi. Jadi aku ngga akan menghiatuskan ff ini lagi. Akhir pembukaanku: Selamat menikmati
.
.
Twins
.
Knock Out
.
Kyuhyun tersentak dari tidurnya dibarengi dengan ringisan karena merasakan nyeri yang tiba-tiba. Dia lupa bahwa kakinya sedang dalam keadaan tak baik-baik saja, sehingga tidur dengan posisi tenang menjadi suatu keharusan. Dilirik kakinya yang sudah berbalut perban elastis dan ditempatkan di atas dua tumpukan bantal.
Matanya mengedar ke samping tempat tidur king size nya yang sudah kosong. Bukankah tadi malam Kibum sudah berjanji untuk menemaninya tidur? Atensinya kemudian berubah pada jendela dengan korder yang sudah terbuka dan jam dinding di atasnya. Sudah hampir tengah hari. Pantas, anak rajin itu sudah bangun. Atau itu karena Kyuhyun sendiri yang terlalu malas. Tapi dia sedang sakit bukan, jadi tak masalah bangun siang.
"aku sedang sakit ya?" matanya menerang menatap langit-langit kamarnya. Kyuhyun membencinya. Membenci ketika dia tidak bisa melakukan apapun seperti saat ini, seperti masa lalu dan mungkin akan juga sama pada suatu masa yang akan datang.
Kyuhyun menyerngit ngilu ketika dia mencoba berdiri. Tapi itu tak membuatnya untuk kembali berbaring. Dengan langkah tertatih, meringis ngilu dan berpegangan pada apapun Kyuhyun mencoba berjalan keluar kamar.
Perlahan menuruni tangga dan satu kata yang terpintas menggambarkan keadaan rumahnya –sepi-. Kyuhyun menghembuskan nafas. Meskipun selama seumur hidupnya telah dihabiskannya di rumah megah ini, tapi dirinya tidak pernah bisa terbiasa dengan keadaan tak hangat di dalamnya. Terkesan dingin, atau kadang justru memanas seperti semalam.
Dia mengarahkan kakinya ke arah pintu kamar orang tuanya. Perlahan masuk, dan seperti dugaanya, eommanya sedang tidur dengan memiringkan tubuhnya. "eomma.." panggil lirihnya ketika dia sudah duduk di pinggir ranjang sambil menatap sayu wajah eommanya yang sudah mulai menua. "pasti sakit..". yang dimaksud Kyuhyun adalah luka di punggung eommanya karena cambukan sang suami. "mianhae.." dikecupnya dahi yeoja yang sudah melahirkannya. Puas memandangi wajah sang eomma dengan perasaan bersalah, Kyuhyun kembali berdiri dan berjalan keluar kamar milik keduaorangtuannya.
Tepat setelah pintu kamar terdengar tertutup, airmata menetes di ujung mata nyonya Kim. satu, dua, hingga akhirnya mengalir tanpa jeda. Membuat isakan yang harus dia tahan agar Kyuhyun yang mungkin masih berada di luar kamarnya tak mendengar tangisannya. Jangan ucapkan kata itu, chagi..bukan kau yang seharusnya meminta maaf. Mianhae sayang..mian..
Nyonya Kim ingin merangkul anak bungsunya itu. Tapi tidak untuk saat ini. Dia terlalu malu pada Kyuhyun meski hanya sekedar menatap mata berwarna karamel yang diwariskannya darinya.
.
Setelah selesai dengan acaranya berkunjung ke kamar orangtuanya untuk meminta maaf, Kyuhyun melangkahkan kakinya -masih dengan tertatih- menuju meja makan. "ahjumma.." Kyuhyun tersenyum menyapa Shim ahjumma yang sedang sibuk dengan acara memasak untuk makan siang.
"ah, nde tuan muda. Anda sudah bangun? Bagaimana keadaan kaki anda?" dan Shim ahjumma selalu menjadi yang pertama menanyakan keadaannya.
Perlahan Kyuhyun mendudukan dirinya di salah satu kursi makan. "tidak perlu cemas, ahjumma. Besok atau lusa mungkin sudah bisa lepas perban. Hm..tapi sepertinya aku akan cepat sembuh jika keinginan perutku segera dikabulkan" Kyuhyun tertawa garing menunjukkan jejeran gigi putihnya.
"baiklah. Saya akan menyiapkannya. Apa anda juga ingin saya buatkan susu coklat?" tanya ahjumma sembari kembali melanjutnya acara memasaknya.
"hem" Kyuhyun mengangguk antuas. "juga ramen porsi besar"
"tapi-"
"ayolah ahjumma..mumpung appa dan Kibum tidak ada di rumah.." Kyuhyun hendak bermanja dengan mengayunkan kakinya, namun sesaat nyeri langsung menjalari kakinya.
Shim Ahjumma tersenyum, lucu melihat polah sang majikan bungsu yang sebenarnya. Dia yang sudah lama bekerja di kediaman Kim, sangat tau watak dan sifat setiap anggota keluarga Kim. Jika Kibum atau tuan Kim ada di rumah, sudah dipastikan Kyuhyun tak akan mungkin diperbolehkan untuk mengkonsumsi makanan instan tersebut. Kyuhyun akan dipaksa untuk memakan sayuran yang bahkan tak jarang dia lihat sang tuan muda bungsu kesulitan menelannya. "baiklah tuan muda".
Kyuhyun hanya menatap Shim ahjumma dari arah ruang makan. Shim ahjumma yang begitu hangat. Ah, eomma nya yang sebenarnya juga begitu hangat jika tidak disibukkan dengan kegiatan diluar rumahnya. Jadi, bolehkah Kyuhyun berharap suatu saat nanti dia bisa melihat eommanya sedang sibuk memasak di dapur? Kyuhyun tersenyum sepah, mengejek pada angan-angan kosongnya. Hal yang tidak mungkin terjadi pada keluarganya.
Kyuhyun membuyarkan lamunannya. Diamatinya Shim ahjumma yang tersenyum sambil melihat handphone ditengah acara memasaknya. "apakah ada kabar menggemberikan sehingga ahjumma terus tersenyum seperti itu?"
"hanya sebuah kabar dari Changmin, tuan muda.." Shim ahjumma memang barusaja mendapatkan pesan chatting dari anak semata wayangnya yang sedang menempuh pendidikan keguruan di salah satu universitas di luar kota Seoul. "Changmin sedang berada di Seoul sekarang" ada raut bangga pada yeoja yang sudah mengabdikan diri lebih dari separuh hidupnya di keluarga terpandang Kim, melihat anaknya akhirnya dapat menempuh jalan menuju mimpinya.
"Changmin di Seoul?" ada raut keterkejutan dari wajah pucat Kyuhyun.
Shim ahjumma kemudian memasukkan kembali handphone nya dalam saku, berjalan menuju meja makan dengan baki berisi semangkok ramen dan segelas susu cokelat. "Ne, dia sedang magang menjadi guru di Dong Bang Elementary School". Shim ahjumma menunjukkan sebuah foto di layar handphonenya kepada Kyuhyun. Sebuah foto seorang namja yang sedang berjongkok dikerubungi anak-anak kecil seolah berebut mengambil posisi foto paling dekat dengannya. Senyum begitu lebar tersungging di setiap wajah yang terpampang dalam foto, membuat Kyuhyun tanpa sadar juga ikut tersenyum.
"Changmin di Seoul tapi sama sekali tak menghubungiku" Kyuhyun kembali menyerahkan handphone Shim ahjumma pada pemiliknya "sepertinya dia masih marah padaku" Kyuhyun memaksakan dirinya untuk terenyum. Menunjukkan rasa sakit bukanlah ekspresi yang seharusnya ditunjukkan oleh namja yang sudah menginjak umur dewasa seperti dirinya. "aku akan kembali ke kamar." Kyuhyun memilih beranjak dari kursi dan mulai berjalan kembali menuju tangga.
"makanannya, tuan muda?"
"ahjumma makan saja." dan Kyuhyun berbalik "ah, sekalian tolong bangunkan eomma untuk makan siang". Kyuhyun memaksa untuk tersenyum sebelum kembali berjalan.
Shim ahjumma hanya bisa memandang punggung Kyuhyun yang berjalan dengan kaki pincangnya. Harus dia akui dia kelepasan bicara. Dirinya terlalu senang melihat foto yang dikirimkan Changmin hingga terlupa seperti apa sekarang hubungan anak semata wayangnya itu dengan anak bungsu majikannya.
'Changminie, kau tak ingin mengabarkan pada Kyuhyun bahwa kau sedang ada di Seoul?'
Di seberang line, Changmin hanya bisa terdiam menatap balasan dari eommanya. Matanya kembali mengarah mengamati siswa-siswanya yang sedang bermain air di kolam renang dangkal. Dirinya terus tersenyum melihat polah unik mereka, seperti berlomba siapa yang paling lama dapat menahan nafas dalam air atau mereka yang mencoba duduk di atas pelampung dan berakhir kembali tercebur dalam air.
Dia tidak pernah berhenti bersyukur dapat mengambil jalan seperti apa yang dia cita-citakan sejak kecil. Namun terkadang terselip rasa sedih karena tak bisa menikmati ini semua bersama sahabatnya. Dia sadar, hal yang dipermasalahkannya dengan Kyuhyun selama ini bukanlah sesuatu yang rumit. Hanya pertengkaran karena janji masa kecil yang tak bisa ditepati. Namun ketika keadaan yang memisahkan serta waktu yang terlampau berlalu untuk mengucap maaf, maka kerengganganlah yang akan hadir sebagai pengisi.
Flashback on
"kau bodoh, Kim!" Changmin berdiri terkejut masih tak percaya dengan apa yang diucapkan sahabat yang sedang duduk di sampingnya.
"jika yang kau maksud adalah Kim Kibum, anak itu memang sangat bodoh" Kyuhyun menggeleng-gelengkan kepalanya, seolah memberikan ekspresi ketertakpercayaan.
"Kibum memang bodoh. Tapi kau, kau jauh lebih bodoh dan tolol! Apa tadi kau bilang? Melepaskan beasiswa itu hanya karena orangtua kolot-"
"Shim Changmin!" Kyuhyun berdiri dari duduknya, menatap tajam Changmin yang sebelumnya duduk di sampingnya "orangtua kolot yang kau maksud itu adalah orangtuaku! Kau tidak berhak mengatai mereka. Bahkan tanpa appa, kau tidak akan bisa melanjutkan sekolahmu hingga sekarang!"
"jadi kau mengungkit tentang jasa sekarang, hah? Aku akui berkat kebaikan tuan Kim padaku, aku yang hanya seorang anak pembantu bisa menjadi sekarang, semua berkat campur tangan tuan Kim!" Changmin menghembuskan nafas mengatur emosi, ketika melihat mata sahabatnya itu mulai berair. "tapi kau jelas tau bukan sisi kepahlawan tuan Kim yang sekarang kita bahas disini." Changmin menarik tangan Kyuhyun, meminta sahabatnya itu untuk kembali duduk di bangku taman "Kau sahabatku, dan tuan Kim adalah appa dari sahabatku."
Kyuhyun sudah mulai terisak di hadapan Changmin.
Changmin menghapus airmata di pipi pucat orang yang disayanginya. "kyuhyun ah, kau berhak menentukan jalanmu sendiri. Bukan karena alasan Kibum memilih melepaskan mimpinya, kau jadi ikut-ikutan sepertinya. Kibum memang memilih melepaskan beasiswanya di bidang hukum, tapi dia masih dapat bertahan hingga dapat kembali memperoleh beasiswa di bidang kedokteran. Tapi aku jelas tau dirimu, Kyuhyun. Kau memang mempunyai otak sebelas duabelas dengan saudaramu itu. Tapi kau adalah tipe seseorang yang hanya akan belajar jika itu atas kemauanmu sendiri. Otakmu akan menolak segala bentuk informasi yang dipaksakan untuk masuk."
Kyuhyun sadar, Changmin adalah sahabat yang paling mengerti dirinya. memang benar apa yang dikatakan namja dengan julukan tiang tersebut. Jelas masih diingatnya, bagaimana bahasa China atau bahasa Jepang sangat mudah masuk dalam otaknya daripada bahasa inggris. Padahal dirinya hanya belajar sendiri kedua bahasa asing itu. Sedangkan untuk bahasa inggris, sang appa memberikan tutor padanya. "appa menginginkannya.."
Changmin kembali mulai tak bisa kembali menahan emosinya "kau kan bisa menolaknya, kyu.. kita jelas tau ini bukan yang kau harapkan. Ini bukan mimpi yang kau inginkan sejak kecil"
"kita sudah tertalu tua untuk membicarakan mimpi."
Sekarang giliran Changmin yang berdiri dari bangku taman "terserah kau saja. berbicara dengan orang sekeras batu sepertimu tidak akan ada gunanya. Seperti yang kau bilang, kau sudah terlalu tua, sudah dewasa untuk dapat memilih mana yang terbaik. Besok aku akan kembali ke asrama. Libur semesterku sudah hampir selesai" dan Changmin akhirnya memilih beranjak dari bangku taman, meninggalkan Kyuhyun. Mungkin yang dibutuhkan Kyuhyun sekarang adalah waktu untuk merenung sendiri. Namun baru beberapa langkah, terdengar suara Kyuhyun yang mulai parau karena menangis.
"aku yakin Kibum sebenarnya belum melupakan mimpinya. Dia hanya sudah menguburnya. Untuk itu-" Kyuhyun terisak "-untuk itu aku akan melindungi itu (mimpinya)." Inilah salah satu alasan kuat Kyuhyun sehingga memilih melepaskan mimpinya, bukan hanya karena ketakutannya kepada sang appa, tapi juga karena alasan yang sama seperti Changmin -menyadarkan seseorang untuk kembali pada mimpinya-. "aku akan mengikuti kemauan appa untuk masuk fakultas kedokteran. Paling tidak, aku bisa dekat dengan Kibum dan mencoba untuk terus menyadarkannya."
"dia bahkan sudah tak mempan diingatkan dengan mulut olehku bahkan olehmu" Changmin akhirnya memilih kembali berbalik menatap sahabatnya. Menatap greget pada kekeras kepalaan Kyuhyun.
"aku akan mengingatkannya dengan tindakan" Kyuhyun menatap mata Changmin penuh keyakinan. "aku yakin suatu saat nanti dia akan sadar"
Changmin hanya bisa terdiam di tampatnya. Dia tak ingin melepaskan tangan sahabat yang sedang membutuhkannya, tapi bahkan diberi nasihat pun tak akan dihiraukan oleh Kyuhyun. Dia sudah memutuskan untuk mengorbankan mimpinya, melupakan janji kecil mereka berdua.
Flashback off
.
Kyuhyun menyerngit heran ketika dilihatnya appa dan satu-satunya saudaranya pulang bebarengan ketika dia barusaja menyelesaikan makan malamnya. Suatu kebetulankah atau mereka memang mempunyai kepentingan bersama hari ini? "kalian darimana?"
Kedua pasang mata yang barusaja datang itu langsung mengarah ke mata cokelat Kyuhyun. Diam untuk beberapa saat, tak ada yang ingin menjawab pertanyaan.
"cepat naik ke kamarmu dan tidur" ini adalah jawaban dari tuan Kim diikuti dengan menghilangnya tubuhnya di balik pintu kamarnya bersama sang istri.
Kyuhyun kembali berjalan naik ke atas tangga mengekori Kibum. "Kibum, kalian darimana?"
Kibum berhenti di depan pintu kamarnya yang berada di samping kamar saudara kembarnya. Kyuhyun tidak akan berhenti bertanya jika belum mendapatkan jawaban, sifat Kyuhyun yang seperti ini Kibum jelas tau. Tapi bolehkah untuk kali ini dia kabur. Jika dia bisa jujur, dia ingin menjelaskan semuanya, akan jauh terasa lebih melegakan. Tapi sayangnya dia tak bisa, lebih tepatnya tak boleh mengungkapkan semuanya. "aku lelah". Sama seperti orangtuanya, Kibum lebih memilih menghindar dengan menghilangkan diri di balik pintu kamar.
Di balik pintu, Kibum merosotkan dirinya. Tubuhnya lelah, itu benar. Kakinya sudah tak punya tenaga untuk menopang semua yang dia ketahui hari ini. Andai dia bisa secengeng Kyuhyun, dia ingin air mata menetes dari matanya. Andai mulutnya dapat mengungkapkan segala isi hatinya seperti Kyuhyun, dia ingin berteriak sangat keras. Hingga dunia mendengar apa yang sebenarnya terjadi.
Di kamar sebelah, Kyuhyun mendudukkan dirinya di ujung tempat tidur. Otaknya mencari jawaban tentang apa yang sebenarnya terjadi. "argghh.." Kyuhyun merasakan ngilu di kakinya. Sepertinya dia memang sudah harus mengistirahatkan tubuhnya. Diangkatnya kakinya ke atas tumpukan bantal dan kepalanya mulai direbahkan sebelum sebuah pesan masuk ke handphonenya. Satu pesan dari Donghae.
'kau sudah selesai mempelajarinya?'
Kyuhyun tau yang dimaksud Donghae adalah buku berisi laporan keuangan yang diberikan Donghae kemarin. Sepertinya malam ini dia akan begadang lagi.
Kling~
Satu pesan masuk lagi. Kali ini sebuah foto diikuti sebuah pesan dibawahnya. 'ini adalah kesempatan untuk kita'. dibukanya foto yang dikirim dari orang yang sama. Sebuah gambar tentang akan diadakannya open discuss mengenai masalah beasiswa.
Gelora mulai kembali membakar Kyuhyun. Bukankah semua sudah semakin jelas? Dia hanya perlu bertahan sebentar lagi dan berusaha lebih keras. Kembali diturunkannya kaki dari atas ranjang dan beranjak menuju meja belajar yang diatasnya tergeletak tas kampusnya. Mengeluarkan buku laporan keuangan dan mulai mempelajarinya.
.
Kibum masih bertahan dengan tubuhnya yang masih bersandar di balik pintu kamarnya meski beberapa jam sudah berlalu. Matanya kosong menatap gelap kamarnya.
"Bummie.."
Mata sekelam malam itu akhirnya mendapatkan kembali fokusnya ketika sebuah suara menyeruak di telinganya. Dilihatnya dua balita yang berada di atas ranjangnya. Kyuhyun balita sedang mengguncang-guncangkan tubuh kecil Kibum yang sedang tertidur.
"Kyunnie mimpi buluk.. Kyunnie tidul disini malam ini, ne?"
Kibum kecil yang sudah mulai sadar dari tidurnya langsung menarik tubuh gempal kembarannya ke dalam selimut. Di dekapnya erat tubuh Kyuhyun kecil.
"nanti kalo Bummie juga mimpi buluk, Bummie juga boleh kok tidul baleng Kyunnie.. Pasti mimpinya ngga akan datang lagi."
Kibum hanya diam menanggapi ocehan saudaranya bukan.
Cup. Kyuhyun kecil mencium hidung Kibum kecil. " Jaljayo Bummie.."
Perlahan Kibum berdiri dari duduk diamnya. Dia akan menagih ucapan Kyuhyun semasa kecil. Kibum membuka pelan pintu kamar kembarannya. Takut-takut kalau ternyata Kyuhyun belum tidur dan justru menagih jawaban dari pertanyaan yang sebelumnya dilontarkan untuknya. Dilihatnya Kyuhyun sedang ada di kursi belajarnya, dengan kepala diletakkan di atas sebuah buku dan mata terpejam.
Kibum tersenyum tipis mengamati wajah terlelap di hadapannya. Meskipun saat ini dirinya dan Kyuhyun sudah besar, tapi wajah polos ketika tidur itu selalu menjadi penghangat hatinya. Meski Kibum bahkan tak bisa membayangkan akan seperti apa hubungan antara dirinya dan Kyuhyun nantinya, dia ingin selalu ada di samping Kyuhyun.
Kibum mengangkat tubuh Kyuhyun dengan hati-hati ke atas tempat tidur. Kaki berbalut perban itu diletakkan di atas bantal tinggi. Setelah itu dia perlahan merangkak ke atas kasur dan memeluk erat tubuh Kyuhyun. Dikecupnya ujung hidung Kyuhyun seperti yang dilakukan dongsaengnya itu semasa kecil. Matanya mulai terpejam. Biarkan Kibum memdapatkan mimpi indahnya malam ini. Berharap kenyataan berat yang harus dipikulnya akan menjadi sebuah mimpi buruk ketika dia bangun besok pagi. Jaljayo Kyunnie..
Setelah Kibum benar-benar terlelap dalam mimpi indahnya, Kyuhyun mulai membuka matanya. Menemukan tubuhnya yang didekap erat oleh Kibum dan perlahan tangannya terangkat untuk mengusap pipi sang hyung. Kenapa kau menangis saat tertidur, Bummie?. Dan tanpa sadar, airmata Kyuhyun ikut menetes.
.
Tbc
.
Ini chapter pemanasan. Lama tidak berkutat dengan untaian kalimat, jadi agak ribet ketika membuat deskripsi. Maaf jika kualitasnya menurun. Makasih berat buat yang selalu comment atau PM.
Dari awal, aku belum memperkenalkan diri ya? Jadi sekarang ijinkan aku untuk sedikit mendekatkan diri dengan kalian. Niatnya mau pakai nama panggilan. Tapi karena si Ann pernah menyebutkan identitas asliku di salah satu comment, aku putuskan pakai real name. Namaku Vica. Dan bagi kalian yang tau akun fb atau wattpadku, maka kalian akan tau nama panjangku. Jadi jangan panggil aku writer ya? Apalagi author. Jujur, in real life nya aku seorang kedal. Ngga bisa ngomong 'r'. Jadi rasanya seperti dipanggil wliter atau authol. Hihihi. Akhir salam, sampai ketemu di chapter berikutnya
Balesan review:
All guests: makasih sudah mengingatkan dan maaf telat. Khikhikhi.
Mikhaela Zivanna Kim: kamu beneran hiatus kah? Ayo muncul, ff kihyun sudah hampir punah
AlifiaR2012: makasih sudah nunggu. Masihkah ini ff ditunggu sampai sekarang (?)
Fuyuhime Ryuu: hm, yoroshiku ne Ryuu-san ganbarimasu! Sankyu~
sparkyuNee13: hwaiting! Jawabannya ada di chapter berikutnya. ditunggu saja
LittleEvil19: ini bukan ff mahasiswa ko..Cuma ambil latar belakang di kampus. Nanti ke belakangnya akan jarang ada hal yang bersangkut paut dengan kampus. Ini keputusan mendadak, soalnya aku di tengah pembuatan cerita kehilangan jejak dua narasumber aktivis mahasiswa. Huuwwwaaaa…
Dewiangel: dua chapter di depan memang aku buat tegang, beberapa chapter berikutnya aku buat agak lempeng untuk sebelum mencapai klimaks (?). ntahlah, aku ngga bisa dan ngga paham tentang 'bagaimana membuat cerita'. Yang aku tau Cuma ngetik. Khikhikhi.
Dewi leitte: jawabannya akan mulai terbongkar dari chapter ini dan kedepan.
Emon204: Emon~ Emon~ Emon~ aku panggil tiga kali ngga muncul ini kamu hiatus kah? Cepetan balik, aku kangen ff kamu.
Kyuna: iya..aku juga suka ff Kihyun kembar. Sayangnya sekarang sudah langka. Huhuhu.
Lalololo: sudah dilanjut
Nurani506: makasih udah comment :*
Angel sparkyu: jawabannya sudah mulai terkuak
Abelkyu: mungkin di chapter ini kamu bisa menebak Kyuhyun dulu sakit apa?
Rain: ini bahkan sudah .
Choding: ini sudah dilanjut. Maaf telat… makasih atas dukungannya
Yong Do Jin 316: aku pernah lihat akun kamu di wattpad ya? Ini sudah dilanjuttt
Ladyelf11: ini mulai dilanjut lagi
Sheeha89: bukan sadis menurutku appanya.. hanya tiap orang punya pemikirannya sendiri-sendiri. Percaya, bahkan seorang teroris saja punya kepercayaan yang dianggapnya benar. meski kepercayaan itu dianggap orang lain sebagai sesuatu yang sangat kejam.
Michazz: makasih buat review mu yang super duper puanjjaannngggg..semua pertanyaan kamu itu mulai terjawab di chapter ini
Kyuchoco13: buat apa uang dana itu? nah, ini comment yang aku tunggu-tunggu. Hahahaha. Jempol lah buat kamu.
Readlight: yaps, bener banget. Kamu keren bisa nebak kenapa mereka beda semester. Itu karena Kyuhyun pernah sakit. Aku males mendeskripsikan ini di cerita, bikin panjang cerita aja. Hehe. Makanya aku biarkan reader menebak sendiri. Kamu kereeen
Siyohyyuncho: mohon selalu dukungannya untuk aku bisa melanjutkan ff ini sampai end..
Atik1125: maaf ya kalo aku buat deskripsi cerita terlalu rumit. Aku memang dikenal orang sebagai seseorang yang rumit. Baik dari pemikiran dan lisan. Jadi mohon dimaafkan. Maaf juga bikin kamu bolak-balik baca chapter berikutnya.
Sparkyucho0: yaps. Betul bangeets
Sparkyubum: makasih buat review kamu yang super duper panjang. mohon dukungannya untuk terus melanjut ff ini. Semoga masih berkenan membacanya. Hehehe.
Desviana407: ini sudah dilanjut. Maaf sudah nunggu lama banget. Hiks hiks.
Nikmah444: kamu punya akun wattpad kah? Kayaknya aku pernah tau kamu deh
Awaelfkyu13: yang sebenarnya Kyuhyun adalah anak bungsu yang cengeng. Tapi dia berubah menjadi seorang mahasiswa dengan loyalitas tanpa batas, itu semua untuk Kibum. Wak, jangan-jangan kamu jenis mahasiswa kura-kura ya? Hahaha.
Atichata1803: ini udah lanjut. Maaaf sudah membuat kamu nunggu lama banget
Diahretno: semoga ngga lupa dan masih menunggu cerita ini. Maaf membuat lama .
Cuttiekyu94: aku kangen ff kamu , jangan hiatus jebaaalll
Meymeimayra: masa lalu dan masalah yang menerpa mereka mulai terjawab di chapter ini dan berikutnya
