Goodbye for Now
.
Twins (Knock Out)
Chapter 6
.
Donghae masih berusaha mengejar langkah panjang Kyuhyun yang berjalan cepat di depannya. Setelah keluar dari ruang diskusi, Kyuhyun langsung pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun. "Kyuhyun, berhenti" Donghae menarik lengan Kyuhyun ketika tangannya sudah cukup jarak untuk mencapai tubuh tinggi kurus itu.
"kita tak punya banyak waktu, hyung" Kyuhyun kembali berjalan cepat. Kakinya dengan terburu menuruni tangga. Tujuannya adalah parkiran, lebih tepatnya mobil Donghae.
"yak, Kyuhyun!" dan Donghae kembari berlari mengikuti Kyuhyun.
Donghae menutup kembali pintu mobil yang hendak dimasuki Kyuhyun. "aku tidak tau apa yang kau maksud dengan tak punya banyak waktu. Aku paham kau sangat geram dengan tingkah mereka. Namun, sesedikit apapun waktu yang kau punya, tidak bisakah kau memberikan perhatian pada dirimu sendiri? Lihatlah betapa pucatnya dirimu. Apa kau tak merasakan sedikitpun sakit? Kejadian gagalnya Kibum membujukmu untuk kembali ke rumah sakit tadi pagi membuatku berkesimpulan, seharusnya sekarang kau masih harus dirawat disana. Benar bukan?"
Kyuhyun benci jika harus diingatkan kembali tentang rumah sakit. Kyuhyun jelas merasakan sakit, nyeri dan lemas. Tapi dia sedang dikejar waktu dan kesempatan. "appa sedang berada diluar kota untuk beberapa hari. Namun appa pasti akan segera pulang, jika tau apa yang akan aku lakukan. Aku yakin Kibum akan segera menghubunginya. Kibum sangat paham akan seperti apa aku jika sedang tersulut marah"
"apa yang sebenarnya sedang kau bicarakan?" Donghae bingung, Kyuhyun berbicara sangat panjang dan setiap kalimatnya bahkan tak dapat dia mengerti. Memang seperti ini Kyuhyun, tipe orang yang tak bisa berpikir dingin dan terkesan terburu-buru.
"aku tau dimana mendapatkan barang bukti itu" untuk sesaat, mata penuh keyakinan milik Kyuhyun menatap mata Donghae yang hanya diam. Namun demikian Kyuhyun yakin Donghae sekarang paham dengan maksudnya. Tidak ingin membuang banyak waktu, Kyuhyun kembali membuka pintu mobil dan hendak masuk sebelum dia merasakan tubuhnya yang tiba-tiba terasa ringan.
"Kyuhyun!" Donghae tentu terkejut melihat Kyuhyun yang tiba-tiba limbung dengan tubuh yang sepenuhnya bersandar pada badan mobil. "rumah sakit atau tidak ada tumpangan".
Mata cokelat sayu milik Kyuhyun menatap tajam Donghae. Dia ingin menumpang mobil Donghae agar cepat sampai rumahnya, bukan agar cepat dimasukkan kembali ke rumah sakit. Menutup pintu dengan kasar, Kyuhyun mencoba kembali menegakkan tubuhnya yang sebenarnya masih sangat lemas. Matanya menatap Donghae, seolah mengatakan 'kau aneh. Kekhawatiranmu berlebihan. Aku tak butuh tumpanganmu'. "Kau tunggu saja aku di apartemenmu." Kyuhyun mulai berjalan menjauh dengan Donghae yang akan kembali mencoba mengejarnya. "aku tak bisa dibujuk" dan Kyuhyun kembali berjalan. Dia harus segera menemukan taksi untuk sampai rumah. Paling tidak harus lebih cepat dari Kibum yang sekarang masih ada di dalam kampus.
Melihat kepergian hoobaenya, Donghae hanya bisa diam. "arrgghhh" diacak-acaknya rambutnya. Memutari bagian depan mobil, namja bermarga Lee tersebut kemudian masuk ke dalam mobil pada pintu bagian supir. Tangannya terkepal dengan memukuli setir meluapkan emosi.
Tanpa Kyuhyun dan Donghae sadari, seseorang mengamati interaksi mereka sedari awal. Dari balik dinding pembatas antara parkir mobil dan sepeda yang hanya setinggi pinggang itu, seorang namja kecil menatap mereka –bergelut dengan batinnya sendiri-. Aku tau apa yang telah aku lakukan adalah sebuah kesalahan. Tapi... Ryeowook masih menatap sendu Donghae yang masih terus meluapkan emosi dan berteriak dalam mobil dan memukuli setir. Memantapkan diri, Ryeowook mulai melangkahkan kakinya ke arah Donghae.
Tok Tok Tok
Donghae menengadahkan kepalanya yang ia telangkupkan di setir, menatap seseorang yang barusaja mengetuk kaca pintu mobilnya
.
Knock Out
.
Kibum hanya bisa berdiri membeku melihat keadaan ruangan yang barusaja dimasukinya. Ruang kerja appanya yang ada di rumah megah mereka nampak tak lebih rapi dari sebuah gudang. Keadaannya sangat kacau. Tak perlu dijelaskan secara detail, Kibum sudah paham apa yang telah terjadi. Dia terlambat untuk menghentikan Kyuhyun. Meski dia tak tau apa saja yang telah diambil Kyuhyun, namun melihat Kyuhyun sudah tidak ada di ruangan ini -tak terlihat ada di dalam rumah-, Kibum yakin satu-satunya dongsaengnya itu sudah mendapatkan apa yang dia inginkan.
"ya Tuhan" Nyonya Kim hanya bisa membekap mulutnya tak percaya ketika melihat keadaan ruang pribadi suaminya. "apa yang sudah terjadi?" yeoja yang telah mempunyai dua anak itu memang tidak tau apapun tentang apa yang terjadi. Dia hanya dihubungi via telpon oleh suaminya, memintanya untuk segera pulang dan memastikan keadaan rumah masih tetap aman hingga dia kembali pulang.
Dddrrttt…ddrrttt…
Suara gemetar dari handphone Kibum yang ada di dalam saku celananya membuyarkan keterkejutannya. Appanya menelpon.
"bagaimana?" sapa tuan Kim setelah terdengar suara sambungan diterima. Dirinya saat ini sedang dalam perjalanan kembali ke Seoul setelah membatalkan seminar yang seharusnya dia hadiri. Menekan gas semakin dalam, tuan Kim mempercepat laju mobilnya. Pikirannya diisi dengan kekalutan. Dia harus segera sampai. Beruntung jalanan cukup lenggang meski dengan penerangan yang minim. Perasaan tuan Kim semakin gelisah tak mendengar reaksi anaknya. "Kibum, masuklah ke kamar mandi-"
Mendengar penuturan appanya, Kibum langsung melangkahkan kakinya ke kamar mandi pribadi yang ada di ruangan tersebut.
"-di balik kaca, masukkan kode tanggal lahirmu dan Kyuhyun" masih dengan mata yang terfokus pada jalanan, tuan Kim mencoba memberikan arahan pada Kibum untuk memeriksa berkas yang ada di brangkas tersembunyinya.
"Kyuhyun sudah tau, appa" Kibum menatap nanar sebuah kaca yang awalnya tertempel di dinding kini sudah berada di lantai. Dengan keadaan pintu brangkas yang sudah terbuka. Tak perlu mengeceknya, Kibum yakin Kyuhyun sudah berhasil membobol isinya. Bolehkan Kibum memaki appanya karena kecerobohannya mengatur brangkas dengan password yang mudah ditebak?
Di seberang line, tuan Kim benar-benar terkejut dengan pernyataan Kibum, membuatnya tanpa sadar menginjak rem meski keadaanya masih berada di tengah jalan. Sebuah mobil yang ada dibelakangnya pun mencoba untuk mengerem melihat mobil di depannya berhenti mendadak.
TTTIIIIINNNNNNNNNNNNNNNNNN
.
Knock Out
.
BRUK
Kyuhyun melempar kasar benda-benda yang diambilnya dari dalam tas ke atas meja.
"apa ini?" tanya Donghae menatap heran beberapa barang yang berserakan dihadapannya.
"aku memang belum menemukan buku laporan itu. Tapi aku sudah menemukan bukti lainnya. Seperti janjiku, ini semua bukti yang cukup untuk bisa menjebloskan professor Kim ke dalam penjara" hati Kyuhyun berdenyut ketika mengucapkan kalimat terakhirnya. Namun dia mencoba kembali ke pahamnya tentang kebenaran yang harus menemukan jalannya "laporan pajak, gaji hingga rekening-rekening dari berbagai bank, semua traksaksi di dalamnya terlihat begitu mencurigakan hanya dengan melihat nominal uang yang masuk dan keluar. Aku sudah menandai beberapa diantaranya ketika dalam perjalanan kemari. Dan ini-" Kyuhyun menyerahkan sebuah buku yang cukup tebal pada Donghae.
Donghae mulai membuka buku setebal kamus yang juga membuatnya penasaran. Mengamati secara acak wajah dan nama yang ada pada setiap lembar buku tersebut.
"-aku tidak tau apa. Di dalamnya berisi sekumpulan nama yang diurutkan sesuai abjad. Berisi kumpulan biodata diri seperti pada umumnya. Namun anehnya, di setiap daftar nama yang ada dalam buku itu, ada informasi tentang tindak kriminalitas yang dilakukan-" Kyuhyun menghentikan kalimatnya ketika melihat tangan Donghae meremas halaman yang sedang dibukanya.
"Kim Youngwoon biad**" lirih Donghae namun masih terdengar di telinga Kyuhyun.
Mendengar nama orangtuanya dihina di depan mata, hati anak mana yang tak sakit. Kyuhyun ingin marah, namun lidahnya terlalu kelu. Dia sedang tidak pada posisi untuk membela appanya, seorang kriminal, seorang pemakan beasiswa, yang jelas pantas untuk diberi umpatan-umpatan kasar. Matanya mulai memanas. "ah, mengobrak-abrik rumahku benar-benar membuatku kepayahan. Sepertinya aku perlu tidur". Kyuhyun menguap dan kemudian mulai berjalan ke sisi lain apartemen. "hyung, aku pinjam kamarmu" berjalan membelakangi Donghae, Kyuhyun mulai membiarkan airmatanya mengalir.
Di dalam kamar, Kyuhyun berbaring dengan menatap kosong jendela dengan air mata yang masih terus mengalir. Otaknya terus berpikir tentang kebenaran semua langkah yang telah dia pilih. Untuk apa sebenarnya dia melakukan semua ini? Jika semua dilakukan untuk menegakkan apa yang seharusnya ditegakkan, kenapa hatinya tidak merasakan kepuasan sama sekali. Apa ini benar-benar akhir yang diharapkannya? Andai, Kyuhyun benar-benar berhenti ketika Kibum memintanya untuk berhenti, apa yang sekiranya akan terjadi. Menutup mata dan telinga agar hati tak terluka. Membiarkan dunia hanya berwarna abu-abu dengan segala hal yang ditutupinya.
Tok tok
Mendengar suara pintu diketuk, Kyuhyun menenggelamkan kepalanya dalam guling. Dia tak ingin Donghae melihatnya menangis. Bukan hanya karena ingin menutupi titik lemahnya, namun Kyuhyun lebih tak ingin melihat Donghae merasa bersalah.
"Kyu, apa kau sudah tidur?" Donghae berjalan mendekati badan Kyuhyun yang berbaring membelakanginya. Perlahan Donghae duduk di pinggir ranjang dan mengelus lembut lengan kurus hoobae yang sudah dianggapnya saeng. "menangislah. Menangislah Kyuhyun ah" Donghae memeluk tubuh yang mulai bergetar dan isakan yang mulai terdengar itu. Donghae sendiri sudah mengeluarkan liquid bening yang berasal dari matanya. "mianhae, Kyu..mianhae". Melawan keluarga sendiri bukanlah hal yang dapat dilakukan setiap orang. Dibutuhkan tekad dan keteguhan hati yang kuat. Bahkan jika dirinya berada di posisi Kyuhyun, Donghae jelas tak mungkin mampu melakukan semuanya. "mianhae.." Kyuhyun tak bersalah. Anak polos itu seharusnya tak berada disini bersamanya sekarang. "mianhae Kyuhyun ah.."
Kyuhyun bangun dari posisi berbaringnya, duduk menghadap Donghae dengan mata yang sudah sembab. Kyuhyun menggelengkan kepalanya dan memeluk namja yang dianggap sebagai panutannya. Jangan meminta maaf, hyung. Kau sudah benar. Kita sudah mengambil jalan yang benar. Ku mohon, yakinkah aku bahwa aku tidak salah mengambil keputusan. Aku mohon, hyung. Jangan biarkan aku goyah. Kyuhyun mengeratkan pelukannya, masih terus menangis keras seperti anak kecil. "appa.." Lidah Kyuhyun hanya bisa berucap dan memanggil appanya. Dia sungguh merasa telah menjadi anak durhaka.
Donghae dan Kyuhyun masih terus berpelukan, menyalurkan rasa sakit dan juga saling menguatkan. Mereka bukanlah orang-orang yang bersalah mengambil keputusan, hanya keadaan yang membiarkan mereka harus berjalan di jalan ini.
.
Knock Out
.
Sebuah mobil berwarna putih sedang terparkir di pinggir jalanan yang lenggang. Terlihat body belakang mobil tersebut sedikit penyok, dengan lampu sein yang terus berkedip –tanda yang pengemudi masih ingin berhenti di pinggir jalan-.
Tuan Kim hanya memandang kosong pemandangan jalanan yang gelap di hadapannya. Masih sangat terekam dengan jelas, bagaimana barusaja istrinya menelpon sambil terisak keras. Nyonya yang menyandang marga Kim miliknya itu menangis kencang, memohon (untuk kesekian kalinya) padanya agar menghentikan segalanya. Meminta dirinya untuk menyerah karena jika hal ini terus dilakukan, maka tak akan ada akhir yang mereka temui.
Benarkah tak akan ada akhir yang akan mereka temui? Lalu, jika dia menyerah sekarang, akhir seperti apa yang akan dirinya dan keluarganya temui? Jika dirinya menyerah pada mereka yang telah berkhianat, apa dia akan bebas? Tidak. Dirinya tak akan pernah bebas dari organisasi gelap yang telah digelutinya bertahun-tahun itu. Jadi, bisakah setidaknya dia berharap keluarga yang sangat disayanginya akan selamat?
Istri yang selalu bertutur lembut memperingatkan kesalahan yang diperbuatnya, selalu dia abaikan. Istri yang selalu berada di belakangnya, pada ujungnya tak bisa dilindunginya dan justru menjerumuskannya ke dalam jalan salah bersamanya.
Kedua buah hati yang selalu ingin dia berikan yang terbaik, apa benar dia sudah memberikan yang terbaik? Anak sulungnya sudah tumbuh begitu dewasa, pendiam dan penurut. Bahkan ketika Kibum tau tentang semua hal, dia hanya diam menurut dan memandang semuanya secara realistis. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan anak bungsunya yang sulit diatur. Kyuhyunnya tumbuh dengan kepercayaan penuh tentang ideologinya. Apa dia salah mendidik? Kyuhyun dan Kibum adalah saudara kembar, namun kenapa sifat mereka terlampau berbeda?
'appa menyalahkanku, eoh?' seorang anak lelaki berumur sekitar enam tahun menyilangkan kedua tangannya di depan dada, memandang tuan Kim dengan pandangan jengkel namun begitu manis dengan rambut ikal cokelatnya.
Tuan Kim menatap sekilas pada kursi di sampingnya, lebih tepatnya pada bayangan anak bungsunya. Matanya kembali menatap depan dengan pandangan kosong dan berucap sendu "benar. appa menyalahkanmu. Andai kau juga mempunyai sifat 'tak banyak bertingkah' seperti hyungmu, mungkin semuanya masih akan berjalan semestinya"
'appa, bukankah dari awal appa memulai, semuanya sudah tidak berjalan dengan semestinya?' ekspresi Kyuhyun berubah seolah seperti menuntut. Namun pipinya yang bulat justru membuatnya nampak begitu lucu.
Bayangan Kyuhyun seolah menjadi sisi tuan Kim yang lain, yang menolak segala tindakan yang telah dia lakukan. Menyentaknya hingga ke ulu hati paling dalam. Air mata pun mengalir dengan sendirinya. "kau benar. Keputusan appa memasuki organisasi itu adalah sebuah kesalahan. Jika appa tidak mengambil uang beasiswa hanya untuk kemajuan organisasi ilegal itu, andai appa tak terlalu royal pada-" suara tuan Kim tercekat, seolah tertahan sebongkahan batu di tenggorokannya. Untuk pertama kalinya, dirinya mengaku bersalah.
Tuan Kim mulai manangis dalam diam, meratapi waktu yang telah salah menggiringnya. Bukan, bukan waktu ataupun keadaan yang patut disalahnya. Tersangka utama semuanya adalah dirinya sendiri.
'appa, uljima..' Kyuhyun melingkarkan tangan kecilnya di leher sang appa. Diikuti bayangan Kibum yang muncul dari bangku belakang, mengikuti apa yang dilakukan Kyuhyun. 'Appa, kita hentikan semuanya, ne? Aku dan Kibum berjanji tidak akan pernah meninggalkan appa'. Bayangan Kyuhyun mencium pipi kanan tuan Kim, diikuti bayangan Kibum yang juga mencium pipi tuan Kim. 'kami menyayangimu, appa. Jeongmal'.
.
Knock Out
.
Kyuhyun menghentikan langkah tertunduknya di depan pintu besar rumahnya. Untuk beberapa saat memilih berdiam diri, memikirkan pilihan tepat yang akan diambilnya. Antara memutar kenop pintu atau berjalan berbalik menjauh dari rumahnya.
Fajar di langit sudah mulai nampak di ujung langit timur. Semalaman dirinya memilih tidak pulang. Bagaimana bisa dia pulang dan menatap mata kedua orangtuanya. Sedangkan rasa bersalah memenuhi hatinya.
Dirinya sudah selesai melaporkan semuanya kepada kepolisian. Kyuhyun yakin, segera setelah polisi selesai memproses semuanya, mereka akan datang beramai ke rumahnya untuk menangkap tersangka penggelapan uang dana beasiswa. Kyuhyun tidak bodoh untuk menduga apa yang akan terjadi selanjutnya. Pertama mereka akan membawa appanya untuk dimintai keterangan, menggeledah seluruh rumahnya untuk mencari barang bukti yang lainnya, menyidang dan memberikan hukuman. Jadi, sekali lagi, bagaimana bisa Kyuhyun melihat itu semua dengan mata kepalanya sendiri.
"kajja, Kyu" suara itu berasal dari namja yang berdiri di samping Kyuhyun, Kibum. Kyuhyun hampir lupa dirinya sedang tak sendiri.
Kyuhyun mengangguk ragu, dirinya hanya mengikuti langkah Kibum yang menggiringnya masuk ke dalam rumah. Matanya tak lepas dari tangan Kibum yang menggenggamnya erat. Tangan saudaranya itu begitu hangat dan terasa melindungi.
Ingatan Kyuhyun menguar bagaimana dia bisa berada disini saat ini, semuanya karena kembarannya itu. Kibum dengan tiba-tiba muncul di depan apartemen Donghae, meminta (memohon) agar dirinya ikut pulang bersamanya. Ekspresi Kibum saat itu, Kyuhyun sendiri tidak bisa mendeskripsikannya. Ekspresi Kibum saat itu, telah membuat Kyuhyun yang seharusnya bersikukuh untuk tak menurut hanya bisa mengangguk pasrah.
Langkah Kyuhun terus digiring menuju bagian lebih dalam rumah mereka, ruang makan. Tidak seperti biasa, tempat duduk yang biasanya kosong itu, saat ini sudah terisi. Lebih terasa janggal lagi bagi Kyuhyun, ketika appa dan eommanya tersenyum padanya seolah mengucapkan selamat datang.
"kenapa hanya berdiri disana? Kajja, duduklah. Kita mulai makan malamnya" tuan Kim tersenyum pada Kyuhyun dan Kibum yang hanya terpaku di ujung ruangan. "ah, sepertinya lebih tepat kalau kita menyebutnya sarapan, bukan?"
Bahkan Kibum yang sudah mengetahui bahwa ini adalah makan bersama terakhir mereka hanya bisa diam saja. Pemandangan di hadapan mereka, bagi Kibum dan Kyuhyun, adalah sesuatu yang sangat langka. Appanya yang tersenyum begitu hangat dan sang eomma yang sedang sibuk bolak-balik meja makan dan dapur untuk mempersiapkan semuanya.
Kibum tidak ingin berpikir terlalu rumit tentang kemana semua pembantu yang bekerja di rumahnya. Kibum hanya berpikir mungkin semuanya sudah diminta untuk mengundurkan diri, mengingat rumah besar ini akan segera ditinggal pemiliknya. Mata Kibum mulai memanas "Kajja Kyu, kita makan. Kau belum makan, bukan?"
Kibum tersenyum, kembali menggiring kembarannya yang masih dengan mode bingungnya untuk duduk di kursinya.
"tidak banyak bahan yang bisa dimasak di dalam lemari es. Maafkan eomma yang hanya memasak sekedarnya" tak seperti tuan Kim, senyum yang ditampilkan nyonya Kim sangat terlihat dipaksakan. Bahkan jejak airmata masih terlihat di pipi putih tersebut. Satu persatu piring diisinya dengan nasi dan lauk pauk. "eomma berjanji akan kembali belajar memasak dan memberian kalian makanan yang lebih enak dari ini". satu isakan akhirnya tak dapat dibendungnya. Nyonya besar itu kembali menangis sesenggukan, namun yang lainnya seolah tak mendengar dan tetap fokus pada makanan mereka.
Eomma, jangan seperti ini. Kyuhyun hanya bisa memandang keluarganya dengan hati yang berkali lipat teriris. Lidahnya masih terasa kelu setelah melihat kejadian-kejadian langka yang dilakukan keluarganya.
"ini sangat enak" terdengar suara parau Kibum. Dia masih tersenyum, meski dengan airmata yang telah lolos dari matanya.
Hyung..jangan tersenyum. Itu lebih menyakitkan daripada melihatmu bersikap dingin. Liquid itu akhirnya meleleh dari manik karamel Kyuhyun. Semuanya sungguh diluar perkiraanya.
"benar yeobo. Ini adalah makanan yang paling enak-" tuan Kim menutup hidungnya. Berusaha menahan isakan tangis. "-yang pernah aku makan".
"hentikan..jebal.." lirih Kyuhyun memohon. "rasanya sangat sakit" tangan pucatnya mulai menepuk-nepuk dadanya yang terasa begitu sesak. "maafkan aku..jeongmal mianhae.." appa seharusnya marah padaku. Ini bahkan lebih menyakitkan dari hukuman cambuk. Tangis Kyuhyun semakin tak terbendung. Melihat keluarganya seperti ini, pikirannya tiba-tiba diisi dengan hal-hal yang jauh lebih buruk dari yang sebelumnya dipikirkannya.
Kibum mengarahkan tubuh yang meringkuk dalam kursinya itu dalam pelukannya. "gwenchana, Kyunnie..semuanya akan baik-baik saja" merasakan tubuh Kyuhyun yang bergetar hebat begitu membuat hati Kibum tercabik. Seorang Kibum yang selalu ingin melindungi dongsaengnya, namun tak ada yang bisa dia lakukan.
"kyuhyun.." suara lembut seorang tuan Kim mengalun lembut. Kepala rumah tangga itu sudah beralih duduk di samping anak bungsunya "coba lihat appa, nak.."
Perlahan, Kyuhyun, dengan keadaannya yang kacau melepaskan pelukan Kibum. Matanya menatap benda yang diangsurkan tangan sang appa di atas meja. Sebuah buku. Buku laporan keuangan yang selama ini dicarinya.
"appa mengaku telah menggelapkan dana itu. Appa-" tuan Kim menangkup wajah Kyuhyun dengan kedua tangan besarnya. Liquid itu masih terus mengalir dari ujung matanya. "-appa sangat bangga padamu, nak." Kedua ibu jarinya mulai mengelus pipi Kyuhyun, menghapus air mata yang masih belum mau berhenti. "appa..maafkan appa..appa tak pernah bisa menjadi appa yang baik untukmu dan juga Kibum" pertahanan tuan Kim akhirnya jebol. Hatinya semakin luruh ketika sebuah pelukan dari istrinya merengkuhnya. Diikuti sebuah pulakan dari Kyuhyun dan Kibum. Mereka akhirnya bisa merasakan arti sebuah keluarga sesungguhnya.
.
Knock Out
.
Pagi hari yang disambut hangat oleh sang embun dan suara cicit burung akhirnya datang. Jika setiap manusia seharusnya bersyukur masih dapat melalui waktu ini, namun tidak bagi keluarga Kim. Pagi ini begitu sulit bagi mereka. Meski sudah tak ada lagi tangis berderai airmata, namun mereka masih tak percaya ini semua adalah sekumpulan kenyataan yang harus diterima.
Waktu ini bahkan tak pernah terbayangkan dalam benak masing-masing dari mereka. Sebuah waktu penanda perpisahan, antara tuan Kim dan ketiga orang yang paling disayanginya. Meski hati nyonya Kim, Kibum ataupun Kyuhyun memprotes namun pada kenyataanya mereka hanya bisa menurut. Semua sudah diputuskan oleh sang kepala keluarga demi kebaikan masing-masing.
Tuan Kim memilih menyerah.
"Ini-" tuan Kim mengangsurkan tiga paspor pada nyonya Kim.
Nyonya Kim mengernyitkan dahinya ketika dilihatnya bukan namanya, Kibum dan Kyuhyun yang tertera. Meski wajah mereka terpasang disana.
"aku sudah meminta tiga orang untuk terbang ke Amerika dengan paspor kalian. Kalian akan terbang ke China. Hankyung akan menjemput kalian di bandara"
"apakah ini semua harus dilakukan? Lalu bagaimana denganmu? Tak dapatkah kau juga ikut pergi?" nyonya Kim mencoba kembali menego. Bolehkah dia berharap, semuanya ikut pergi.
Membangun kembali keluarga kecil di tempat yang baru bukanlah pilihan yang buruk. Pikiran itu sudah nyonya Kim utarakan kemarin malam. Namun suaminya itu hanya tersenyum menolaknya. Jika tuan Kim ikut kabur, maka mereka akan semakin gencar melakukan pencarian. Dirinya lah pelaku utama semuanya. Oleh karena itu tuan Kim memilih menyerahkan diri dan mengakui kesalahannya. Tanpa menyangkut pautkan semuanya dengan organisasi illegal yang sudah dia geluti.
"percayalah. Ini yang terbaik" tuan Kim masih terus tersenyum. Tidak dipungkirinya, dirinya masih mencoba untuk merelakan semua.
"aku tak ingin meninggalkanmu sendiri, yeobo" mata nyonya Kim menatap lembut mata kelam milik tuan Kim. Dirinya begitu khawatir meninggalkan suaminya sendirian, bersama orang-orang yang bisa dengan nekad melakukan apapun.
Tuan Kim tersenyum menggeleng. "aku tak sendirian". Mata tuan Kim melirik pada dua bayangan anaknya yang sedang berdiri di belakang istrinya. Bayangan Kibum dan Kyuhyun sedang tersenyum memberi dukungan padanya. "lagipula kantor polisi dan penjara jauh lebih aman untukku. Aku justru takut jika mereka berhasil menyakiti kalian." Tuan Kim membelai pipi lembut Kim Hanna istrinya. "apalagi kau dan Kibum sudah tau segalanya. Mereka tak akan melepaskan kalian begitu saja"
"berjanjilah padaku kau akan baik-baik saja" nyonya Kim ikut mengelus bulu lembut yang mulai tumbuh di wajah tuan Kim. Tuan Kim selalu bermanja padanya untuk membantunya bercukur. "jangan lupa untuk bercukur."
"hem. Aku berjanji akan baik-baik saja dan tidak akan lupa untuk bercukur" tuan Kim kembali tersenyum, mencoba menahan diri untuk tidak meminta keluarganya pergi "jaga diri kalian. Aku berjanji kita akan bisa bersama lagi" tuan Kim mulai mencium istrinya, sekilas namun sarat akan curahan kasih sayang.
Tuan Kim kemudian berjalan ke arah Kibum yang sudah duduk di dalam taksi. Kyuhyun sedang tertidur dengan paha Kibum sebagai bantal. Tuan Kim berjongkok di sisi pintu tempat Kibum duduk, dirinya ingin menyimpan wajah kedua anaknya lebih banyak. Mengingat selama ini dirinya terlalu banyak mengabaikan perkembangan buah hatinya. Namja berstatus kepala keluarga tersebut tersenyum hangat pada anak sulungnya dan meneacak-acak rambut Kibum. "kau sungguh sudah dewasa, Kibum. Setelah ini kau akan menjadi lelaki tertua dalam keluarga. Kau harus bisa melindungi eomma dan dongsaengmu. Appa percayakan mereka padamu."
Setelah mendapatkan reaksi sebuah anggukan dari Kibum, tuan Kim beralih menatap anak bungsunya yang sedang tertidur tenang. Memperbaiki jaket yang membungkus tubuh kurus itu, matanya memanas melihat wajah pucat Kyuhyun. Keadaan Kyuhyun sempat menurun tadi pagi. "kau harus selalu sehat, Kyuhyun. Ketika kita bertemu lagi nanti, kau harus dalam keadaan yang jauh lebih baik."
Kyuhyun sedikit membuka matanya, menatap sayu appanya yang sedang tersenyum padanya. Hanya beberapa detik, sebelum matanya kembali memberat dan kantuk kembali mendera. Kyuhyun kembali tertidur akibat suntikan obat yang sudah diberikan tuan Kim sebelumnya.
Penuh sayang, tuan Kim mencium kening Kyuhyun dengan airmata mulai kembali menetes tanpa bisa di tahan. Kau sungguh harus berjanji selalu sehat. Satu yang terlupa oleh tuan Kim dan baru dia sadari, bahwa tidak menutup kemungkinan penyakit itu akan kembali.
Tuan Kim beralih mencium kening Kibum. Maafkan appa yang telah melupakan mimpimu. Memori tuan Kim berputar ke belakang ketika dirinya dengan tugas menolak Kibum yang ingin memasuki jurusan hukum. Padahal dia jelas tau apa yang Kibum impikan.
"jja, sudah waktunya pergi atau kalian akan tertinggal pesawat". Masih penuh kelembutan, tuan Kim menggiring nyonya Kim untuk duduk di samping supir. Menghantarkan perpisahannya dengan sebuah pelukan untuk sang istri. "kau adalah istri tercantik dan eomma terbaik yang pernah aku temui" bisiknya membuat tangis nyonya Kim kembali meleleh.
Perlahan taksi yang ditumpangi ketiga anggota Kim keluar dari gerbang. Baik nyonya Kim dan Kibum hanya bisa terus menahan tangisnya untuk tak pecah. Bahkan di bawah alam sadarnya, Kyuhyun juga ikut meneteskan air mata. Merelakan semua dan mengikhlaskan adalah dua hal yang masih terus mereka coba lakukan.
Pada akhirnya, mereka yang berkedudukanlah yang menang. Mereka yang mempunyai martabat tinggi adalah mereka yang berkuasa untuk mengatur berputarnya dunia. Memang dari awal, dunia dan segala rahasia yang disimpannya, memang tak seharusnya disentuh.
Tuan Kim terus melambaikan tangannya hingga taksi yang ditumpangi orang terkasihnya menghilang dalam tikungan. Perlahan dia kembali memasuki rumahnya.
Ingatannya menguar sesaat pintu rumahnya terbuka. Semua kenangan itu terasa berputar kembali seperti roll film. Kenangan di awal tahun kedua pernikahannya, dirinya memberikan rumah ini sebagai hadiah perayaan pernikahan. Kenangan berikutnya, tentang kedua buah hatinya yang bermain di ruang tengah keluarganya. Kibum kecilnya sedang memutar-mutar kursi roda yang ditumpangi Kyuhyun, menghasilkan gelak tawa di keduanya. Dirinya dan sang istripun turut tertawa lepas saat itu. Kenangan berikutnya yang menguar adalah saat dirinya yang menghukum Kyuhyun dengan cambukan. Bukankah itu sangat keterlaluan? Kenapa dia baru menyadarinya ketika rumahnya terasa begitu kosong saat ini.
Tuan Kim hanya bisa tergugu dalam tangisnya. Berharap waktu di masa yang akan datang memberikannya kesempatan untuk kembali berkumpul.
.
Kenangan yang dipenuhi penyesalan selalu membawa tangis dan harapan kosong untuk dapat mengulang waktu
.
Knock Out
.
.
End
.
Fiksi ini untuk kalian:
Empu, yang telah menertawakan kemunafikanku sepuluh tahun yang lalu. Aku baru menyadari setiap wejanganmu setelah beranjak tua. Haha.
Kak A**, yang telah mengorbankan otak cerdas dan kemampuannya hanya demi perjuangan panjang yang berujung kata menyerah.
.
.
Tittt…titttt..
Bel apartemen Donghae berbunyi. Dengan mata yang masih sangat mengantuk, namja yang dikenal dengan wajah kekanakannya itu melangkahkan kakinya malas ke arah pintu. Namun, Donghae hanya bisa mengernyitkan dahinya karena tak ada seorangpun disana.
'orang iseng'
Dia hendak menutup kembali pintu sebelum matanya menangkap sesuatu di bawah kakinya. Buku yang sangat dikenalnya. Buku laporan yang selama ini dicari olehnya dan juga oleh Kyuhyun.
Menengok kanan dan kiri sisi apartemennya, sepi. Firasat Donghae mulai tak enak. siapa yang meletakkan buku itu di depan pintu? Apakah mungkin Kyuhyun? Lalu, kenapa dia tidak memberikannya-
"Donghae?"
Belum sempat Donghae selesai dengan spekulasi dan dugaannya, sebuah panggilan menggertaknya. Donghae baru teringat ada orang lain di dalam apartemennya. Orang yang juga menginginkan buku ini.
Donghae berbalik, menatap raut tua berwibawa dihadapannya sambil berusaha menyembunyikan buku itu di balik badannya. Namun gagal. Namja itu, Lee Jihoon, masih menatapnya dengan sebuah senyum dan perlahan menjulurkan tangannya ke balik punggung Donghae.
"syukurlah buku ini sudah berada di tangan kita." Namja yang telah menurunkan marganya pada Donghae itu mengelus permukaan buku lembut. "Kajja, lakukan tugasmu selanjutnya" Jihoon kembali memberikan buku itu pada Donghae yang hanya menatapnya diam penuh ketakutan. Kaki tuanya kembali berayun pelan menuju sisi lebih dalam apartemen. "ah, Donghae ya." Namja berstatus dekan di fakultas kedokteran itu kembali memberikan senyum pada anaknya. "jangan sekali-kali mencoba menyembunyikan sesuatu dari appa".
Sebuah kalimat bernada hangat namun begitu menusuk. Donghae hanya mampu menunduk dalam di tempatnya berdiri. "Ne" lirihnya. Tangannya menggenggam erat buku, menyalurkan segala emosi yang tidak bisa dikeluarkannya. Sekali lagi, Donghae merutuki dirinya yang selalu kalah pada secuil dendam di dalam hatinya.
.
Knock Out
.
.
Jangan dianggap serius cerita ini. "Ini Hanya FanFiction" yang aku tulis untuk terus mendukung dunia per-ff-an SuJu. "Hanya karangan Fiksi", tidak lebih dan banyak kekurangannya.
Maaf jika akhir yang ditulis jauh dari apa yang sudah diharapkan. Menggantung, sedikit part Kyuhyunnya, tidak ada feelnya atau bahkan menggelikan, tapi memang akhir yang seperti ini yang aku pikirkan sejak awal berniat menulis ff ini. Hehe.
Twins (Knock Out) season 2 (?). Ada yang berminat? Aku tidak. Entahlah. Aku belum menulis sama sekali season duanya. Meski setiap reka adegan sudah terbayangkan, ending season 2 pun sudah tergambar jelas di otakku. Jika memang ada season dua, mungkin aku butuh waktu untuk menuliskannya hingga selesai dulu baru aku up. Selain itu, kemungkinan besar season dua akan aku letakkan di luar file ini. Dengan kata lain, akan aku buat judul baru. Hal ini untuk menghilangkan nuansa 'kampus' yang ada di Season pertama dan kesan 'mirip real life' seperti yang sering pembaca utarakan.
Terimakasih untuk semua yang sudah memfollow, memfavoritkan dan meriew. Semua dukungan itu sungguh memberiku semangat. Untuk yang punya perasaan 'biasa saja' terhadap SuJu, maaf jika aku mengganggu acara membaca kalian dengan A/N yang sering membahas Super Junior. Untuk para ELF, sekali lagi, terima kasih untuk terus berada dalam fandom ini (membungkuk dalam).
Anggota termuda sedang pergi wajib militer. Jika kita biasanya merangkai kata-kata sedih untuk melepas uri ahjussi pergi menjalankan kewajibannya, sekarang waktunya kita merangkai kata-kata indah untuk menyambut kedatangan mereka satu persatu. Jika biasanya kita berhitung jumlah member untuk mencari tau siapa yang tak ikut berpartisipasi karena wamil, mulai saat ini kita akan terbiasa menghitung jumlah member untuk mencari tau siapa yang sudah kembali berpartisipasi. Dan aku berharap suatu saat nanti hitungan ku berhenti di angka tigabelas.
Selanjutnya yang aku up mungkin adalah oneshoot BL KiHyun, jadi nunggu selesai lebaran dulu. Hehe. Terakhir, selamat menunggu adzan magrib berkumandang bagi yang menjalankan ibadah puasa Ramadhan.
Balasan comments:
Michhazz: ada keadaan dimana seorang pahlawan harus menyerah. hehe. Apakah KiHyun berhasil? Bagaimana dengan penyakit Kyuhyun? semuanya masih jadi rahasia. Hehe. Maaf mengecewakan kamu, final nya menggantung banget. Hehehe. Kenapa ngga mencoba nulis? Hitung-hitung buat ngisi waktu kosong. Aku juga ngga bisa nulis, kemampuan bahasa Indonesiaku jauh di bawah rata-rata kemampuan menghitungku. Haha. Iya, aku juga suka ekspresi Kyu waktu di ig, baik waktu pemotretan lotte, duty, free atau waktu perpisahan dia sebelum wamil. Ngga nyangka, namja dengan wajah polos tapi bermulut evil itu sudah pergi wamil. Wah, makasih ya udah dikasih tau typo nya. Kasih tau aku juga typo di chapter ini ya?
Yulianasuka: denger kata ex-elf memang sudah biasa. Ngga serantan langsung bilang gitu sih. Biasanya mereka akan bilang "dari super junior aku mengenal k-pop" dan sebagainya. Gembul sehat ko..udah lihat fotonya pake baju tentara kan?
SparkyuNee13: tanggal 25 sudah terlalui. Ngga kerasa ya? Aku nangis lihat Kyu nynayi goodbye for now di RS. Beneran bakal ditinggal si embul 2 tahun. Tapi katanya dia akan mencoba untuk terus memberi kabar di setiap awal bulan(?)
Cuttiekyu94: syukur lah kalau bisa merasakan feel Kibum dan Kyuhyun. sayangnya, mungkin di chapter ini ngga dapet feelnya.
Yolyol: ah, aku sebenarnya ngga pengen nyiksa Kyu kaya gini. Aku sudah kena getahnya sering bikin kyu kesiksa di ff. Iya, keadaan kyu memang sering drop, karena masalah yang menimpa keluarganya.
Meimeimayra: bapaknya KiHyun itu korup. Lebih tepatnya dia, dekan dan wadek terlibat. Tapi Cuma tuan Kim yang dijebak. Chapter ini hampir full momen keluarga Kim, termasuk momen kyu dan appanya.
Kiyuh: season 2 banyak siksaannya. Makanya aku butuh waktu untuk menyiapkan mental. Aku susah cari feel untuk mendeskripsikan rasa sakit. Hehe. Jadi maaf kalau aku nanggung nyiksa, Kyu nya.
Nizaa13: bakal dipanjangin ko. Di season 2. Hehe.
Yuniimnida18: sama. Aku bahkan ngga bisa ngebayangin kalo BB lain yang jadi main castnya. Kenapa ngga nyoba nulis? Ff suju semakin jarang..
Sparkyubum: wah, perjalanan jadi ELF kamu cukup panjang ya? Dan bertahan samapi sekarang. kamu keren~ Super Junior juga keren -luar dalam-. Bahkan aku pernah denger sebuah kalimat, kalau mau mencintai SuJu itu harus mengenal dalamnya terlebih dahulu. Mereka memang sudah berubah jadi ahjussi, tapi mereka adalah ahjussi pencipta legenda. Iya, sudah banyak yang ke lain hati. Biarkan saja deh. Memang banyak idol 'yang lebih' dari pada SuJu. Mungkin ELF sejati adalah yang menerima bukan hanya kelebihan, tapi juga kekurangan SJ. Karena hubungan yang kita rajut bukan hanya sekedar idol dan penggemar, tapi sebuah jalinan keluarga.
Ladyelf11: iya..tapi masih di season 2 mereka kelihatan kompaknya. Hehe.
Arietha13: haha. Harus xtra sabar lah pokoknya. Ujian bapernya sampe tahun 2019. Sampe Kyu keluar wamil. Haha.
Emon204: Membaca komentarmu juga mengiangkatku sesuatu. Aku juga pernah merasakan membaca ff yang bahkan membacanya hanya dengan sistem scanning karena saking..errrr..gitu deh. Jangankan ff punya orang lain, aku sering kehilangan feel waktu baca ff ku sendiri. Hehe. Mon, kamu senior. Kemampuan menulis kamu sudah diakui. Bahkan kalau kamu seorang idol, aku bisa saja jadi fans kamu. Ini beneran! Jangan nangis, jangan menyerah. Mereka dan aku masih dalam tahap belajar dalam menulis. Tolong beri dukungan dan masukan untuk kami. Apalagi kalau support itu berasal dari kamu yang lebih ahli dalam pembendaharaan bahasa dan sastra. Kalau seniornya aja mau nyerah, gimana juniornya mau berkembang? *hehehe. maafkan aku telah menjadi junior yang cerewet.
Nurani: sekarang udah ketebak kan endingnya seperti apa? Maaf jika endingnya hancur. Maksudnya ff nya iyagi? Aku juga mengenal lebih dalam tentang SuJu, salah satunya dari ff nya iyagi ko. Jadi kita sama. Khikhikhi.
Intan: tenang aja, aku juga udah tua ko. Lagipula, kebanyakan elf juga sudah 20 tahun ke atas. Terimakasih atas sanjungannya. Karyaku itu jauh dari kata indah, bahkan dulu, para mantan editorku sampe geleng-geleng lihat tulisanku. Mohon doanya saja agar aku selalu diberi kesempatan untuk menulis ff .
Kyudo99: semua tebakanmu benar. Akan ada sequel dan akan ada ff KiHyun yang baru. Haha. Aku juga reader. Aku juga tau, membaca kyu yang tersiksa itu rasanya serasa baca drama korea yang berderai air mata. Tapi maaf, aku susah kalo harus nyari feel untuk menulis Kyu yang kesakitan. Makanya dalam ff ku ngga banyak penyiksaannya. Mungkin nanti season dua, aku sedikit banyakin penyiksaannya. Wah, kamu 99 line? Seumuran kamu biasanya suka EXO, blankpink dan sejenisnya. Tapi kamu menyukai para ahjussi yang bedanya lebih dari 10 tahun dari kamu? Daebak.. apa yang bikin kamu jatuh cinta sama Suju?
Songkyurina: tuan Kim beneran korup, bersama dekan dan wakil dekan. Tapi Cuma dirinya yang dijebak sehingga terlihat hanya dialah tersangkanya. Iya, banyak author yang hiatus. mohon doanya saja agar aku selalu diberi kesempatan untuk terus menulis.
Kyuonata: maaf, aku hanya up 20 hari sekali. Biar aku ngga bosen. Takutnya aku excited di awal, tapi malah ngegantungin cerita di tengah karena alasan bosen dan kesibukan real life. Sampe akhirpun, masih banyak misterinya ya? Dan seperti dugaan kamu, aku ngegantungin cerita. Tapi memang sengaja aku buat seperti ini agar pesan yang ingin disampaikan dapat tersampaikan.
Ailedachangkyu: aku juga bukan kpopers kok, aku cenderung ke jpopers dan anime lovers. Yang aku sukai dan ikuti di Korea tak jauh dari kata Super Junior. Ah, sama~ aku juga suka momen Kibum masih di SuJu. Kalo lagi kangen si wajah datar itu, aku sering lihat film dan varshow yang ada dianya. Dan waktu lihat dia di event perayaan ultahnya kemarin, rasanya sedikit shock. Tapi aku tetep suka. Hehe. Dana bos sekolah yang susah turun. Haha. Itu banyak alasannya. Ikhlaskan dan terima saja. Bukan sesuatu yang patut disalutkan aku bisa buat ff dengan judul lagu suju. Semua terlewat dari apa yang aku dengar saja. hanya sebuah keberuntungan. Hankyung akan berperan di season dua. Hehe. Ff nya iyagi memang super duper. Gimana kerasnya dia nyari sumber, dia bener-bener elf sejati.
Sparkyucho0: iya. Jarang banget. Sampe aku sering kekurangan stock ff.
Diah retno: chukkae..kamu berhasil menjadi reviewer terpanjang di chapter ini. Ff ini memang berakhir dengan tidak terburu-buru (menurutku) tapi berakhir dengan keadaan yang super duper menggantung. Hehe. Daebak, kamu sudah baca ff rising star sampe chapter terakhir up? Berkali-kali? Aku pengen tanya, gimana cara menahan baper selama membacanya? Bahkan aku beberapa kali kebawa mimpi selesai membaca satu chapternya (ini beneran). Ff ku jauh dari kata bagus. Makanya aku beberapa kali memberi saran untuk membaca karya orang lain yang nyaman untuk dinikmati. Semua doa kamu aku aamiin i. Bener-bener berharap Suju memperoleh masa emasnya lagi. Aku juga sama kaya kamu, sungguh ngga ada minat untuk sekedar melirik BB lain, apalagi para rookie. Suju selalu menjadi legenda bagiku. Hehe.
Kuroi Ilha: ah, iya..aku kangen kebersamaan mereka saat tinggal seatap, juga..bahkan sekarang aku sedang (mengulang) menonton super junior mystery 6. Haha. Jadul banget memang. Tapi disana aku bisa lihat masa muda para ahjussi lagi. Kebanyakan aku taruh di chapter ending memang. Hehe.
Elf: wah, kata-kata mu..mirip sama kata-kata nya Siwon. "kalian tak pelu jadi awal untuk menjadi seorang elf, cukup menjadi elf hingga akhir"
Close: sebenarnya chapter sebelumnya lebih panjang dari chapter sebelumnya lagi. Cuma mungkin kerasa pendek karena hanya ada satu scene. Ada readers yang merasa ada masalah dengan chapter tiga, dan sebelum reader itu komen, aku juga sudah merasa feel chapter 3 berbeda dengan chapter sebelumnya. Errr..chapter tiga menurutku terlalu mendayu, kalau aku terusin (ngga aku hapus) aku takut kesan crime nya menghilang. Ff yang di aff ya? Mungkin tak akan aku lanjutkan. Bukan karena aku kehilangan ide, bahkan setiap reka adegan hingga ending sudah aku rencanakan dan sebagian sudah aku tulis. Aku hanya merasa belum siap untuk menyiksa Kyu sampe segitunya. Haha. Terakhir, I'm sorry. Hehe.
SiCa: aku selalu salut pada mereka yang berhasil membaca sampai update an terakhir rising star. Aku ngga kuat sama bapernya. Ff suju semakin lama memang semakin sedikit. Huft.
Dewiangel: arrgghhhh..aku tak mau memikirkan jika suatu saat mereka akan bubar. Tidak tidak! meski tanpa sadar aku pernah membayangkan mereka akan mengadakan conpers dan menyatakan tentang pembubaran. Tidak tidak! tidak bisa melihat 'label SJ' lagi? Tidak tidak! mereka boleh menikah, boleh punya anak atau bahkan cucu. Mereka juga boleh untuk tak berdance dan bernyanyi lagi, tapi tidak dengan melepas gelar super junior di belakang nama mereka. Tidak boleh! Haha.
Electra Bomer: sudah pernah nyoba ngobok-ngobok ff KiHyun di ffn? Banyak yang lebih cool dan keren dari ff ku.
Dewi leitte: ff ku bikin bingung ya? Hehe. Aku memang jauh dari kata ahli dalam ilmu sastra. Iya..bener, appa nya dijebak, tapi bukan dijebak yang dia dijadikan kambing hitam. Tersangka sebenarnya ada tiga orang, tapi yang diseret hanya namanya. Dari 2007? Daebak.. bahkan di tahun itu aku masih sekedar tau Suju dan lebih tertarik dengan dunia komikku. Iyagi memang menjadi salah satu penulis favoritku.
TriPutriSabrina: hehe. Di chapter ini KiHyun ngga jadi beragumen lagi.
Ii: 20 hari dari chapter sebelumnya. Hehe. Lama ya?
Kyuhaeteuk: ah, hyungdeul suju memang sayang banget sama magnae itu, meski kelakuannya kaya setan. Haha. Ah, perjuangan SuJu memang daebak. Jadi sudah sepantasnya kalau sekarang mereka dapat menikmati buah kerja keras mereka. terima kasih sudah menunggu ff ku. Hehe.
Guest: sudah janji loh ya? Akan menjadi elf sampai akhir? Hehe.
Feragita: wow? Yang bener kamu masih 14 tahun? bahkan orang-orang di sekitarku yang seumuran kamu pernah aku tanya, "kalian kenal super junior?" dan mayoritas menjawab "siapa kak?", "apa itu kak" atau geleng-geleng kepala. Haha. Bener kata kamu, bukan bermaksud membanding dengan BB lainnya. Tapi super junior memang legenda. Aku bener-bener salut sama kamu. Mungkin kamu akan menjadi elf Indonesia termuda diantara para elf lainnya yang nanti nonton SS7. Bener, jangan malu jadi elf. Bukan dosa kok.
Guest: makasih..sudah dilanjut ini..
Maya Kyu: terkadang yang bersalah lah yang berkuasa. Hehe.
Okaocha: iya. Ff ini sedang kelar, tapi masih gantung. Perjuangan mereka masih akan berlanjut di season 2. Ah, bisa jadi ff ini masih akan end satu tahun lagi. Hehe.
