Taring Merah
Story by Kadalbotak
Characters by Masashi Kishimoto
Enjoy
Chapter 2
Gadis kecil itu sedang bermain seorang diri di bawah pohon di pekarangan rumahnya. Ia tertawa-tawa sambil asyik menggambar di atas tanah. Menggoreskan dengan bebas ranting pohon yang di genggamnya seperti pensil ataupun krayon. Ia lalu berlarian kearah semak belukar di pojok pekarangannya untuk mencari kumbang yang sering bersembunyi disana.
Mata putih keunguannya berbinar tatkala menemukan satu kumbang yang sedang menempel di salah satu semak. Ia ambil kumbang itu dan memperhatikannya dengan seksama. Melihat warnanya yang coklat tua, begitu menarik, pikirnya. Ia lalu memainkan sayap-sayap transparan kumbang kecil itu sebelum akhirnya ia terbangkan ke udara dan menangkapnya kembali.
Tak terasa, hari telah merambat naik tepat menuju puncak. Gadis kecil itu pun mulai merasa kelelahan. Ia sandarkan badannya di bawah pohon sambil mengusap keringat yang menetes di pelipisnya. Bunyi perut laparnya terdengar keras. Inilah saatnya permainan usai, pikirnya.
Saat berdiri dan mencoba untuk pergi kedalam rumah, ia melihat banyak orang yang datang. Ia terdiam untuk sesaat sebelum akhirnya berlari menuju ibunya yang entah sejak kapan sudah berdiri di dekat pintu masuk tanpa sepengetahuannya.
"Okasan. Kenapa banyak sekali paman polisi yang datang ke rumah kita?" tanya gadis kecil itu sambil menarik baju ibunya. Ia mengarahkan wajahnya ke arah wajah sang ibu lalu kembali memperhatikan polisi-polisi yang memasuki rumah bergaya jepang miliknya.
Sang ibu menatap gadis kecil itu sambil mengusap lembut pipinya. "Tidak ada apa-apa sayang, mereka hanya datang untuk mengurus suatu hal."
Beberapa menit kemudian para polisi itu keluar membawa seorang pria dengan borgol di tangannya.
Gadis kecil itu terdiam untuk sesaat sebelum akhirnya berbicara, "Okasan, kenapa mereka membawa Tousan? Okasan, apa yang terjadi? Okasan, Okasan." Gadis kecil itu menarik-narik baju ibunya.
Si ibu hanya terdiam diantara pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan anak gadisnya. Wajahnya pucat, senyuman-senyuman yang biasa menghiasi wajahnya setiap hari sirna entah kemana.
Si gadis kecil berlari kearah polisi-polisi itu.
"Lepaskan Otousan! Lepaskan Otousan!" teriaknya. Ia mengepalkan kedua lengan disamping badannya dengan sorot mata yang marah. Ia lalu berlari kearah ayahnya melewati polisi-polisi itu.
"Jangan pergi Tousan!" teriak gadis itu. Ia memeluk erat kaki ayahnya. Mencoba menghentikannya agar tak pergi.
Si ayah hanya bisa terdiam melihat tingkah anak gadisnya. Ia lalu membelai lembut pipi anak gadisnya sambil menyeka air mata yang jatuh di sudut matanya. "Tenang saja sayang, Tousan hanya akan sedikit berbincang dengan paman-paman polisi ini."
Si gadis memeluk ayahnya semakin erat. Ia berharap, dengan cara seperti itu, maka polisi-polisi yang hendak membawa ayahnya mengurungkan niatnya.
Si ibu yang melihat itu langsung berlari menuju anak gadisnya dan membawanya menjauh. Dengan suara lembut ia berbicara, "Sayang, kamu tidak boleh seperti itu."
Mata si gadis berkaca-kaca. "Tapi, Tousan orang yang baik, kenapa paman-paman polisi membawa mereka? Kenapa kaasan? Kenapa? Kenapa?"
Hinata terus mengulangi kata-katanya sambil mengguncang-guncang ibunya. ada jawaban satupun.
Di depan jendela yang terbuka, Hinata terdiam dengan tatapan kosong. Ingatan-ingatan masa kecilnya mengapung kembali di kepalanya seolah baru saja terjadi kemarin.
"Hinata" sebuah panggilan terdengar. Hinata menoleh. Sasuke mendekat perlahan ke arah Hinata. "Pekerjaan belum selesai, jangan terlalu lama bersantai."
Hinata bangkit dari kursi dan berjalan menuju meja kerjanya.
xxx
Dengan teropong berwarna hijau tua yang melekat di matanya, pria itu mengawasi dengan seksama gedung besar yang tak jauh dari sana. Teropong dengan fitur pembesaran 5 kali itu digenggam dengan kuat oleh tangan kanannya, sementara tangan kirinya terlihat memegang sebuah handphone canggih berwarna hitam.
Celana hitam berbahan ripstop itu terlihat mengetat di beberapa bagian, mengikuti posisinya yang saat ini sedang berjongkok dengan salah satu lutut yang bertumpu pada permukaan atap. Suara berdecit sesekali terdengar saat sepatu boot hitamnya bergeser tempat.
Angin dingin sesekali menghempas rambut pria itu. Menggerakkannya ke kiri dan kanan dengan lembut. Namun, angin itu tak mampu menembus tubuhnya yang terbalut rompi anti peluru berwarna hitam yang ia pasang dengan kuat. Bahkan peluru kaliber 9mm yang ditembakan dari jarak dekat pun takkan bisa menembusnya.
Earphone wireless di telinganya bergetar seketika dan membuat perhatiannya sedikit terpecah. Dengan hati-hati, ia tekan tombol kecil di earphone itu sambil mengalungkan teropong di dadanya. Tak lama kemudian, suara seorang lelaki terdengar.
"Yamato, Bagaimana perkembangan situasi disana?" Suara dari dalam earphone terdengar pelan namun tegas. Menyiratkan wibawa yang besar.
"Sejauh ini, belum ada yang mencurigakan." Yamato terdiam sejenak sambil sesekali melirik kearah handphone yang berisi petunjuk-petunjuk. Pandang matanya tak henti menoleh ke arah bangunan di depannya. "Saya tak tahu, apakah memang belum ada kegiatan atau mereka terlalu pandai menyembunyikan pergerakkan."
"Begitukah?" Ada sedikit keraguan dalam nada suara pria di earphone itu. "Bisa kau jelaskan kondisi saat ini?"
Tanpa menunggu lama, Yamato lalu menjelaskan.
"Bangunan itu berukuran cukup besar." Ia terdiam sejenak -mencoba mengkalkulasi. "Mungkin sekitar 5 lantai, atau mungkin juga lebih. Ini hanya perkiraan kasar saja. Ada CCTV yang terpasang di beberapa titik di luar gerbang dan kemungkinan besar di dalam pun pasti ada. Serta, kita tidak boleh menghilangkan kemungkinan adanya sensor, baik itu sensor panas atau pun sensor gerak. Kita harus mewaspadai setiap kemungkinan yang akan membahayakan pergerakan kita nantinya."
Sambil memakai teropongnya, Yamato lalu mengalihkan sedikit pandangannya."Serta, kalau saya boleh berpendapat, panjagaan mereka di pintu gerbang boleh juga. Mereka memiliki 2 lapis gerbang dengan setiap penjaga yang saya yakin memiliki lebih dari sekedar pemukul dan handgun saja, mungkin sebuah uzi atau P90, AK47 pun saya tak terkejut."
Yamato lalu menyeringai, matanya berkilat dibalik teropong. "Sudah lama kami tidak mendapat pekerjaan yang menarik."
"Apa kau dan pasukanmu akan kesulitan menembusnya?" kata suara dari earphone. Suara itu terdengar ragu.
Yamato terduduk dengan kedua tangan yang bertumpu ke belakang. Ia lalu mengerutkan alisnya yang diikuti sesimpul senyum. "Anda sungguh tahu cara bercanda, Jendral," singkatnya diikuti tawa kecil. Sorot matanya lalu berangsur-angsur menjadi tajam. Ia kemudian menjawab dengan suara yang pelan namun tegas. "Jangan khawatir, anda akan mendengar laporan keberhasilan secepatnya."
"Baiklah kalau begitu, aku tak akan banyak memantau, aku tahu kalian seperti apa dan aku berharap tidak sering bekerja sama dengan kalian."
Yamato memandang ke langit sambil tersenyum"Apa anda ingin oleh-oleh, Jendral?"
"Jika yang kau maksud itu bagian tubuh, maka tidak terima kasih. Aku tahu sifatmu."
Yamato terbahak. "Saya tidak seperti yang anda bayangkan, Jendral."
"Aku akhiri percakapan kita sampai disini."
"Tentu."
Pria itu kembali memakai masker hitam bergambar mulut tengkorak bertaring yang sedari tadi menjuntai di lehernya, kemudian mengambil teropong dan kembali mengamati markas Akatsuki dari kejauhan. Mengamati mobil van hitam yang baru saja datang.
xxx
Empat puluh lima menit telah berlalu sejak pertama kali Naruto terbangun. Ia mengetahuinya dengan jelas lewat jam dinding yang tergantung di depan kursi besi yang saat ini ia duduki. Cahaya temaram kekuningan dari lampu pijar menerangi seluruh ruangan kecil itu dengan sempurna dan membuat borgol di tangan kiri dan kanannya berkilat menyilaukan.
Dengan sedikit tenaga yang tersisa, ia lalu mencoba menggerakkan seluruh badannya. Satu sensasi yang seketika ia rasakan : sakit. Sungguh sakit. Namun, untungnya, tak ada satu pun bagian tubuhnya yang patah. Ia bisa menggerakkan seluruh tubuhnya dengan leluasa.
Dengan atasan yang hanya memakai kaos, ia bisa dengan jelas melihat perban yang melilit tangan kanannya. Tangan yang sebelumnya tergerus aspal dengan keras dan membuatnya mendapat sensasi seperti diparut, namun berkali-kali lipat lebih buruk.
Semut kecil merayapi kakinya yang hanya memakai celana pendek. Bergerak ke kaki kiri dan melintasi perban yang terbalut disana. Dengan sekuat tenaga, Naruto menggerakkan kakinya, tapi sensasi menyakitkan langsung menyerangnya tanpa ampun. Ia mengerang lupa, meskipun tak ada yang patah, namun, luka gores yang ada di kakinya masih memberikan rasa sakit. Ia lalu menggoyangkan kakinya lagi, namun kali ini dengan perlahan. Semut itu terjatuh dan pergi ke surga lewat kaki Naruto.
Berkali-kali ia menoleh ke arah pintu coklat di samping kanannya. Berharap seseorang akan datang dan membawa nampan besar penuh makanan dan minuman yang enak lalu menyapanya dengan hangat seperti sahabat. Namun itu semua tidak mungkin bukan?
Satu hal yang terpikir saat ia pertama terbangun dengan tangan terborgol: Akatsuki. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya. Sejujurnya, bukan tak bisa, ia tak ingin. Sejak pertama bertemu dengan mereka beberapa malam sebelumnya. Ia sudah yakin bahwa hidupnya takkan sama lagi seperti semula.
Entah berapa kali ia terbangun dari tidur dan mendapati dirinya bermandi keringat dingin. Terbangun dengan wajah pucat dan jantung yang berpacu cepat. Dan akhirnya, kini apa yang dimimpikannya menjadi kenyataan.
Ia tak pernah sekalipun memiliki keinginan untuk berurusan dengan Akatsuki. Yakuza kejam yang semuan anggotanya seperti malaikat maut tanpa sayap. Hari-hari damainya kini berakhir semenjak kejadian pengantaran itu. Entah berapa kali Naruto mengumpat karena nyawanya hampir terbang.
Pintu coklat itu terbuka dengan keras. Naruto tersentak kaget dengan mata terbelalak. Keringat dingin mulai mengucur deras. Ia sangat tahu siapa yang masuk ke ruangan itu.
Itu dia, Si Rambut merah gila, pekik Naruto dalam hati.
Si rambut merah gila yang Naruto sebut adalah Sasori. Dia adalah salah seorang dari petinggi Akatsuki. Dan merupakan salah seorang yang paling kejam setelah Uciha Sasuke sang pemimpin dan Orochimaru sang pendiri Akatsuki.
Setelah menendang pintu dengan keras, Sasori masuk perlahan. Ia berjalan perlahan. Namun, matanya beringas seperti hewan yang haus darah. Ia paling senang ketika Akatsuki mendapat tahanan. Itulah saatnya untuk Deidara melakukan 'pendekatan' agar tahanan tersebut menjadi teman 'Akatsuki'. Namun semua orang tahu, bahwa apa yang disebut dengan pendekatan dan teman hanyalah nama lain dari penyiksaan agar orang tersebut mau buka mulut dan bermanfaat bagi Akatsuki, menjadi temannya.
Sasori berdiri di depan Naruto dan tersenyum manis. "Halo. Aku Sasori"
Sejenak Naruto bisa melihat wajah Sasori. Namun, sekejap kemudian, semua nampak menghitam. Naruto tak sadarkan diri.
"Hei...! Hei...! kau tidak sopan, aku baru memperkenalkan diri, tapi kau sudah tidur," singkat Sasori sambil menyimpan kembali stun gun miliknya ke dalam saku.
TBC
