Malam itu Taehyung yang maih berumur 10 tahun sedang membaca buku pelajarannya dengan sesekali mencomot kue coklat yang berada disebelahnya. Malam pukul 19.00 itu terasa sunyi karena saat itu appanya memang masih belum pulang dan sang eomma sedang ke rumah sakit untuk memeriksakan adiknya yang sedang demam. Kesunyia terus melanda hingga ia mendengar suara sang ayah yang memanggilnya dari arah bawah, tepatnya ruang tamu.

"Taehyung, kemari" teriak sang appa dari bawah membuatnya mengerutkan keningnya dan turun ke bawah menuju ayahnya.

Sesaat ia menginjak lantai ruang tamu dapat ia lihat sang appa yang sedang duduk di sofa dengan anak kecil laki-laki dipangkuannya. Anak kecil itu terlihat memandangi seisi ruang tamu dengan mata bulatnya yang memancarkan ketertarikan pada sekitarnya. Lalu pandangannya tertuju pada Taehyung yang juga menatapnya sehingga pandangan mereka bertubrukan.

"Taehyun, kemarilah" ucap sang appa menyuruhnya untuk mendekat kearahnya, dan Taehyung menyanggupinya hingga ia duduk disebelah sang appa yang memangku anak kecil itu.

"appa, dia siapa?" tanya Taehyung yang tak dapat memendung rasa penasarannya kepada anak kecil itu.

"dia adalah Jeon Jungkook. Appa mengangkatnya menjadi anak appa, jadi sekarangmarganya berubah menjadi Kim Jungkook. Dia lucu bukan?" tanya sang appa menghadapkan Jungkook kesamping, menghadap Taehyung.

"Jungkookie?" panggil Taehyung dan mendapat senyum menggemaskan darinya.

Dia sangat manis dan lucu, kulitnya putih tidak sepertinya yang sedikit tan, gigi depannya yang lucu bagaikan kelinci, juga jangan lupakan mata bulat yang berbinar-binar itu. Jungkook menggunakan sweeter putih dan membuatnya tampak hugable. Astaga, apa Taehyung boleh memeluknya sebentar saja?

"sepertinya kau sangat menyukainya. Ingin menggendongnya?" tawar sang appa melihat ketertarikan dimata sang anak.

"ne, appa" ucap Taehyung ceria dan menerima Jungkook dipangkuannya.

Setelah memangku Jungkook, Taehyung mulai bermain bersamanya. Dasarnya Taehyung memang pecinta anak kecil dan Jungkook berbeda lima tahun darinya. Taehyung juga mempunya adik perempuan bernama Kim Joohee, ia berbeda enam tahun darinya dan satu tahun lebih muda dari Jungkook.

Hampir lima belas menit mereka bercanda dengan sang appa yang kini telah kembali dari kamarnya mengganti baju kerjanya dengan yang lebih santai. Hingga suara seseorang terdengar dari arah belakang mereka yang ternyata sang eomma dengan menggendong adiknya yang tertidur pulas.

"kau sudah pulang, sayang? Bagaimana Joohee?" tanya sang appa kepada eomma menghampirinya dan mengambil alih menggendong Joohee.

"dokter bilang ia hanya kelelahan dan makan yang kurang teratur. Bagaimana pekerjaamu?" tanya balik eomma belum menyadari kehadiran Jungkook diruang tamu.

"lancar, oh iya aku ingin mengenalkan seseorang padamu" appa mulai menggandeng tangan eomma untuk mendekati Taehyung yang sedang memangku seorang anak kecil.

"ini Jungkook, aku mengankatnya menjadi anak kita. Bagaimana menurutmu?" tanya appa menatap eomma yang menatap Jungkook dengan dalam dan dapat dilihat kerutan didahinya.

Lama ruang tamu itu hanya diisi kesunyian. Sang eomma masih belum membuka suaranya membuat appa dan Taehyung was was. Tatapan dari sang eomma tidak bisa diartikan oleh keduanya.

[FUTURE]

Siang itu suasana kampus sedang ramai karena perlombaan basket antar kampus yang sedang berlangsung. Mahasiswa dan mahasiswi yang menonton menyoraki tim masing-masing. Tim basket dari Hangguk University yang pemilik rumah dengan Lim University. Suasana sangat ramai dan panas karena saat ini permainan telah memasuki babak final.

Hangguk University memimpin permainan dengan sang ketua tim Kim Taehyung. Ya, Kim Taehyung mahasiswa tampan dan pintar yang sangat dieluk-elukan oleh mahasiswa dan mahasiswi Hangguk University. Oh, tidak hanya Hanggu University, namun setiap kampus di Korea mengenalnya.

Tidak berlebihan karena memang Taehyung adala anak dari pemilik Kim Company dan selain itu ia adalah pemuda yang tampan dan bertalenta. Cerdas, pemain basket, penari, bahkan bernyanyipun ia bisa melakukannya.

"AAAAAAAHHHH, HANGGUK UNIVERSITY MENANGGGG."

"KIM TAEHYUUUNNNGGG, FIGHTING"

"KIM TAEHYUNG KAU KEREN"

Dapat kita dengar teriakan-teriakan yang berasal dari kaum hawa yang kini meneriaki Kim Tehyung dan tim atas kemenangannya. Mereka bersorak dan berpelukan, ini adalah kemenangan kesekian untuk mereka. Mari kita lihat dari sisi Taehyung.

Kini Taehyung meminum minuman isotoniknya sambil mengelap keringat yang berada di dahinya. Temannya berbincang satu sama lain dengan semangat atas kemenangan mereka. Taehyung berdiri dan mengambil barangnya untuk keluar dari arena.

"Taehyung, kau sudah akan pergi?" tanya seorang namja tampan yang melihat Taehyung sudah akan meninggalkan arena.

"ne hyung, aku ada urusan" jawab Taehyung menatap namja tampan itu yang berjalan mendekatinya dan teman-temannya yang lain kembali mengobrol satu sama lain.

"menjenguk adikmu?" tanya sang hyung tersenyum kearah Taehyung.

"ne. Sudah dua hari aku tidak bisa menjengukanya hyung" ucap Taehyung tersenyum simpul walau dalam hati ia sangat merindukan sang adik.

"hati-hati dijalan, semoga adimu lebih baik"

"gumawoyo, Seokjin hyung" dan Taehyung pergi meninggalkan Seokjin yang menatap punggungnya sedih.

Ia selalu merasa bahwa Taehyung sangat menyayangi adik angkatnya itu. Ia dapat melihat kesedihan dimatanya setiap kali Seokjin menanyakan adiknya. Taehyung pernah sekali mengajaknya namun tak sampai keruangannya karena ruangan untuk adik Taehyung tidak mengijinkan orang asing masuk tanpa izin dari kakek Taehyung.

Taehyung POV

Aku memakirkan mobilku diparkiran Soul Kim Hospital dan keluar berjalan memasuki rumah sakit jiwa milik keluarga Kim. Hari ini adalah hari Minggu dan rumah sakit jiwa tidak menerima tamu, namun siapa yang berani melarang anak pemilik rumah sakit untuk datang?

Aku berjalan dilorong yang menuju sebuah ruangn yang berada dipojok lorong. Pintu berwarna putih yang menghubungkan kepada sebuah ruangan yang adiknya berada disana. Duduk diatas kasurnya dengan kedua tangan yang terikat didepan. Ada kaca yang membatasi ruangan sang adik. Hanya aku yang dapat melihat Jungkook sedangkan Jungkook tidak akan dapat melihat diriku.

Ia menatap jendela yang berada disamping kanan atasnya. Menatap dengan pandangan yang kosong. Tubuhnya dibalut baju rumah sakit berwarna putih dengan celana kain yang berwarna sama dengan bajunya. Tubuhnya semakin kurus, dan kulitnya semakin pucat karena sudah hampir satu setengah tahun ia diisolasi diruangan ini dengan kasus depresi.

Awalnya aku tidak percaya bahwa Jungkook yang berani menusuk Joohee dengan sebuah pisau yang berada didapur. Entah bagaimana namun dokter pribadi keluarga Kim menyatakan bahwa Jungkook mengalami gangguan kejiwaan.

Saat itu aku hanya dapat melihat Jungkook yang diseret ke rumah sakit jiwa ini saat setelah Joohee mendapatkan penanganan utama. Jungkook terus menangis dan menundukkan kepalanya menggumamkan sesuatu yang entah apa. Aku ingin sekali memeluk dan membawanya kembali ke kamar. Namun, bagaimana bocah sepertiku melawan keputusan tertua.

Appa hanya dapat menangis menatap kepergian Jungkook dengan kakek yang berada disebelahnya menepuk bahu appa. Sedangkan eomma hanya menatap kepergian Jungkook dengan diam dan dingin, entah apa yang dipikirkanya. Dari awal eomma memang tidak pernah menganggap Jungkook bagian dari keluarga Kim. Karena yang aku ketahui, Jungkook adalah anak dari selingkuhan appa yang telah meninggal, aku mengetahuinya ketika appa dan eomma bertengkar hebat malam itu. Walaupun mengetahui jati diri Jungkook, aku tidak pernah membencinya bahkan aku sangat menyayanginya seperti adikku sendiri.

Aku mendekat kearah jendela yang menjadi pelindung dari ruangan Jungkook. Aku menatapnya lekat mengingat masa-masa kecil kita saat bermain bersama. Jungkook adalah anak yang baik dan cerdas. Ia juga sangat mandiri dan tidak pernah mau menyusahkan orang lain. Setiap pagi ia selalu merapikan kasurnya, padahal saat itu ia masih berumur tujuh tahun dan aku sudah dua belas tahun.

"Jungkookie" lirihku, dan seolah mendengar ucapanku yang aku tahu bahwa ia tidak bisa mendengar dan melihatku dari sisinya.

"entah apa yang terjadi padamu, aku harap kau cepat sembuh dan kita bermain bersama seperti dulu" lanjutku menatap matanya yang memandang kosong kearahku. "aku merindukanmu, saengi"

Beberapa saat hening, aku menikmati waktu sunyiku memandan wajah Jungkook yang kini menatap tembok dengan kosong. Lalu aku mendengar sebuah senandung yang keluar dari bibir pucatnya dengan indah. Jungkook sangat suka menyanyi, ia juga suka bermain piano yang berada di ruang keluarga. Walaupun eomma sering memarahinya karena piano itu adalah piano kesayangan eomma, dan aku sering mendapatinya diam-diam memainkan piano itu ketika eomma sedang pergi.

Jarum jam terus berdetak hingga menunjukkan tepat pukul dua belas siang, dan tepat itu juga Jungkook menghentikan senandungnya dan suara pintu terbuka terdengar diruangan ini. Aku menoleh kearah pintu dan mendapati Dr. Jung bersama dengan dua perawat lainnya.

"Dr. Jung" sapaku sopan namun ia terlihat terkejut begitu juga dua perawat laki-laki disampingnya. Aku mengernyitkan dahiku melihatnya.

"o-oh, Taehyung, kau datang? Sudah lama tidak mengunjungi Jungkook," suara Dr. Jung terdengar gugu dan ragu.

"ya, sudah lama aku tidak mengunjungi adikku," jawabku, lalu pandanganku tertuju pada nampan yang berada ditangan perawat laki-laki yang bername tag Nam Woohyun, "mengantar obat?" tanyaku.

"ya, sekarang jam makan dan minum obatnya. Kalau begitu saya akan memberikannya segera" jawab Dr. Jung lalu memasuki ruangan Jungkook diikuti dua perawat tadi.

Aku dapat melihat Dr. Jung yang mendekati Jungkook lalu duduk dipinggir ranjang. Jungkook terlihat gelisah, ia mulai menampakkan wajah ketakutan yang tak aku ketahu kenapa. Jungkook mulai memberontak dan kedua perawat tadi memegangi kedua lengannya sedangkan Dr. Jung mmberi suntikan di lengan kirinya.

Setelah selesai, Jungkook terlihat lebih tenang namun pandangannya lebih terlihat kosong dari sebelumnya.

Dr. Jung dan kedua perawat tadi keluar dari ruangan dan tersenyum sebentar sebelum keluar dari ruangan ini. Namun aku dapat melihat wajah gelisah dari perawat bernama Woohyun tadi. Ia terlihat takut dan khawatir, entah kenapa.

AUTHOR POV

Dr. Jung keluar dari kamar Jungkook dan berdiri didepan pintu dengan raut kesal. Ia menggibas tangannya di bajunya seperti membersihkan debu dan berdecih kesal membuat dua perawat tadi terlihat takut.

"sial, kenapa si bocah itu datang disaat seperti ini? Sial" kesalnya lalu menghadap kedua perawat yang bersamanya.

"kerja bagus hari ini, jaga mulut kalian. Jika terbongkar, hidup kalian juga keluarga kalian akan dipertaruhkan" ucapnya tajam lalu pergi meninggalkan dua perawat tadi yang menahan gelisah dan ketakutan.

WELL, ini chapter satunya. eotte? hhehehe, hope u like it *komen plisss...