Pagi menyapa dan Taehyung kecil sudah siap dengan seragam sekolahnya. Ia sudah tampan siap menyambut cerah lingkungannya. Taehyung melangkahkan kakinya menuju tangga turun ke ruang makan untuk melakukan sarapan bersama keluarganya. Namun ia menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah kamar yang setahunya kosong disebelah kamar adiknya. Entah kenapa ia ingin mengecek kamar tersebut, karena setahunya si bocah Jungkook menempati kamar itu. Well, jangan bertanya bagaimana ia mengetahuinya. Satu-satunya ruangan kosong adalah kamar ini, dan kamar bawah adalah kamar tamu berseberangan dengan kamar orangtuanya.
Taehyungpun memutuskan untuk melihat kamar Jungkook. Dengan perlahan ia membukan pintu kamar tersebut, dan hal pertama yang ia lihat adalah si bocah Jungkook yang sedang merapikan tempat tidurnya. Taehyung mengkerutkan dahinya, untuk apa Jungkook membereskan sendiri kasurnya jika nanti ada maid yang bertugas membersihkannya? Itulah kira-kira yang dipikirkan Taehyung kecil.
Jadi dengan perlahan ia masuk ke kamar Jungkook dan menutup pintu kamar perlahan."selamat pagi," sapanya ramah membuat Jungkook menoleh dan sedikit terkejut dari hal yang ia kerjakan.
"e-euhm, n-ne, selamat pagi," jawab Jungkook dengan tergagap dan malu membuat Taehyung gemas dengan pipi tembam yang kini dihiasi rona peach yang samar. Tapi kenapa si surai tembaga terasa kaku? Padahal semalam ia bermain sebentar dengannya, yaa walaupun kebanyakan ia yang bicara.
"kau tidak turun untuk sarapan?" tanya Taehyung dan mendapatkan gelengan dari si surai tembaga.
"a-aku, t-tidak la-lapar" jawab Jungkook yang nyatanya sebuah kebohongan. Siapa yang tidak lapar jika sedari kemarin ia tidak makan apa-apa, hanya sebuah roti dan segelas susu dari si Tuan pemilik rumah.
"tapi appa dan eomma pasti juga menunggumu. Ayo kita kebawah" ajak Taehyung menarik tangan Jungkook pelan membuat Jungkook terkejut dan terpaksa mengikutinya.
Belum Taehyung membuka pintu untuk keluar, pintu kamar Jungkook sudah terbuka terlebih dahulu dan menampilkan sang ayah yang sudah tampak rapi dengan kemejanya.
"selamat pagi appa," sapa Taehyung dan mendapat senyum hangat dari sang appa.
"selamat pagi juga Taehyung. Juga selamat pagi Kookie,"
"se-selamat pagi, Tuan" sapa balik Jungkook mendapat kerutan dari Youngha, "panggil appa, Kookie. Jangan tuan oke?"
"t-tapi...", belum selesai Jungkook menyela, Youngha sudah memberinya tatapan memohon, "b-baik, a-appa"
"nah sekarang Taehyung dan Jungkook segera kebawah untuk sarapan oke. Ayo, tampan-tampanku" ajak sang appa menggandeng tangan Taehyung dan Jungkook masing-masing ditangannya.
Di ruang makan, sudah terlihat Yoona yang sedang menyuapi Joohee. Mereka bertiga menuju ke meja makan, Youngha yang duduk di ujung meja lalu diikuti Taehyung kemudian Jungkook disebelahnya. Taehyung menghadap Yoona dan Jungkook menghadap Joohee. Youngha dan Taehyung mengambil dua helai roti dan mengoleskan selai kacang dan coklat. Jungkook masih terdiam, entah mengapa ia merasa tidak nyaman karena sesekali Yoona meliriknya sinis. Ia masih anak-anak, jelas ia merasa takut.
"eomma, oppa itu siapa?" tanya Joohee menatap Jungkook penasaran.
"entahlah, kau sudah selesai bukan? Ayo ikut eomma ke butik" ajak Yoona menggendong Joohee dan mengajaknya keluar tanpa pamit kepada suaminya, "Tae, eomma berangkat ke butik dulu."
"hhh, dia sangat keras kepala," Youngha menghelakan nafasnya keras, dan Jungkook yang berada disebelahnya entah mengapa merasa bersalah. Ia masih anak-anak, tapi kehidupannya di panti asuhan membuatnya lebih peka terhadap sekitar.
"paman, lebih baik Jungkook kembali ke panti asuhan. Jungkook rasa, tante Yoona tidak nyaman berada didekat Jungkook." Ucap Jungkook dengan menundukkan kepalanya.
"anni Jungkookie, panggim appa jangan paman, dan appa tidak akan mengembalikan Jungkook ke panti asuhan karena sekarang Jungkookie adalah anak appa Kim Youngha." Ucap Youngha final.
"ne Jungkookie, dan panggil aku Tae hyung, Taetae hyungie juga lebih lucu, heheh" dan perkatan Taehyung membuat senyuman muncul di garis bibir Jungkook.
~Hopelees~
[Future]
Taehyung memasuki kamarnya, ia meletakkan tasnya di atas meja belajar dan segera membaringkan tubuh lelahnya di kasur king sizenya. Ia memejamkan kedua mata tajamnya, entah kenapa ia merasa begitu lelah.
Saat ini pikirannya terus tertuju kepada adik laki-laki manisnya yang tidak ada perubahan untuk kesembuhan. Tubuhnya semakin kurus dan dia terlihat lebih sakit. Terkadang ia menemukannya tertidur hingga dua hari, namun perawat disana berdalih bahwa Jungkook baru tidur ketika dia datang. Taehyung merasa aneh, ia merasa sesuatu telah terjadi, namun ia tak tahu appa.
Perasaan ini sudah timbul ketika Jungkook dibawa ke RSJ. Ia merasa sesuatu yang janggal telah terjadi. Jungkook adalah anak yang baik, terlalu baik jika ia boleh katakan. Ia tak pernah menangis ataupun marah terhadap sesuatu apapun yang sepatutnya ia tangisi atau merasa marah.
Misalnya saat dirinya masih berumur 8 tahun, saat itu Jungkook mengalami pembulia disekolahnya. Awalnya ia tak pernah mengadu kepada siapapun dirumah, kejadian pembulian inipun diketahui ketika Taehyung tidak sengaja melihat Jungkook digeret teman-temannya menuju kolam kecil di taman dan medorongnya hingga jatuh dan membuatnya basah kuyup.
Jungkook memang selalu meminta pulang sekolah sendiri karena memang sekolahnya tidak terlalu jauh dari rumah. Youngha awalnya tentu menolak namun Jungkook terlalu keras kepala. Jadi setelah kejadian di kolam taman itu, Taehyung menyuruh supir untuk segera menjemputnya.
Taehyung juga mengetahui bahwa adiknya sering dimintai uang dan juga dikerjai habis-habisan namun ia tak pernah menangis atau melaporkannya, ketika ditanya ia menjawab, "aku sudah terbiasa hyungie, mungkin dengan ini mereka merasa lebih senang," dan seketika Taehyung heran, setangguh apa hati sang adik hingga begitu sabar.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu terdengar oleh pendengaran Taehyung membuatnya mengernyitkan dahinya dan melihat kearah pintu kamarnya.
Tok tok tok
"Tae, kau sudah tidur?" tanya suara seseorang yang begitu ia hafal, appanya, Kim Youngha.
"tidak, appa. Buka saja pintunya." Jawab Taehyung, dan Youngha yang mendapat jawaban membuka pintu kamar anaknya dan masuk ke dalamnya.
"ada apa, appa?" tanya Taehyung mengubah posisinya menjadi duduk dan sang appa menghampirinya dan duduk di bangku belajar sang anak.
"kau ke rumah sakit hari ini?" tanya Youngha menatap Taehyung.
"ne, dan jika appa menanyakan kondisinya, ia tidak membaik malah terlihat lebih buruk dari sebelumnya." Ucap Taehyung memandang lantai kamar, dan ucapannya berhasil membuat Youngha terdiam khawatir.
"maksudmu?"
"appa, dia begitu kurus, wajahnya juga sangat pucat, dan pandangannya sangat kosong," Taehyung rasanya ingin menangis melihat keadaan adiknya. Ia sungguh menyayangi adiknya itu, sangat.
"appa belum sempat mengunjunginya, mungkin besok pagi appa akan mampir dan mengunjunginya,"
Hening, tidak ada yang bersuara setelah ucapan terakhir Youngha. Mereka sibuk dengan pikiran mereka sendiri mengenai sang pemuda manis, Jungkook. Lalu tiba-tiba Taehyung mengucapkan sesuatu yang membuat Youngha tertegun.
"appa, tidak bisakah Jungkook dikeluarkan dari rumah sakit?"
"Tae,-"
"kalau perlu aku akan tinggal di apartemenku dengannya, biarkan aku yang merawatnya. Aku merasa tidak percaya terhadap rumah sakit itu," Youngha menatap sang putra dengan sendu, ia ingin membebaskan Jungkook, namun banyak pihak yang tidak mndukungnya.
"kau tahu Tae, eommamu dan kakekmu akan marah jika Jungkook dibebaskan." Jawab Youngha.
"tapi appa, disana Jungkook malah terlihat seperti berda diambang kematiannya. Ia terlihat kosong dan kesakitan." Argumen Taehyung.
"Tae, sudahlah, kita harus percaya terhadap sistem disana. Dokter yang menangani Jungkook itu profesional dan dia dokter kepercayaan kakekmu."
"apa, appa tidak merasa janggal jika tiba-tiba Jungkook divonis mengidap gangguan jiwa karena mencelakai Joohee? Bisa jadi ini hanya sebuah kecelakaan appa" Youngha tetap diam.
"appa, aku mohon. Aku merasa Jungkook difitnah," lanjut Taehyung.
"Tae, ada apa denganmu? Jangan seperti ini, kita hentika percakapan ini. Appa kembali ke kamar dulu," Youngha menyerah dan berjalan keluar kamar Taehyung.
"appa!" teriakan Taehyung mengakhiri pertemuan mereka.
~Hopeless~
Ruangan kecil salah satu kamar rumah sakit jiwa itu terasa suram. Disana Jungkook terduduk dilantai menghadap pintu. Jam di kamar itu menunjukkan pukul 23:35 dan ia baru saja kembali tiga jam yang lalu sebagai kelinci percobaan. Kini suaranya hilang setelah obat yang dicecoki oleh dokter gila itu.
Ini sudah biasa, Jungkook mengalaminya semenjak ia datang ke rumah sakit jiwa ini. Ia digunakan sebagai kelinci percobaan, dan semua ini gara-gara 'dia'. Sebegitu bemcinyakah hingga 'ia' tega membuatnya sebagai kelinci percobaan untuk dokter gila itu.
Ia selalu diberi obat-obat temuan untu hal-hal yang aneh, bahkan racunpun ia menjadi bahan percobaannya, dan dokter gila itu selalu bisa menyelamatkannya. Rasanya mati lebih indah daripada Jungkook harus hidup seperti ini.
Kenapa tidak ada yang berjalan baik dikehidupannya? Dipungut oleh seseorang yang baik, namun dienci oleh sosok yang seharusnya ia panggil eomma. Ia merindukan Taehyung dan appa. Sangat.
Jungkook mengalihkan pandangannya menuju pintu dan dahinya mengernyit. Pintunya tidak terkunci, ya Jungkook harus memastikannya.
Dengan bantuan tembok ia mencoba berdiri dan berjalan terseok kearah pintu. Ia memutar pengangan pintu itu dan benar saja, pintu itu terbuka lebar menampilkan sebuah pintu lain untuk keluar dari ruangan yang ia tempati.
Apakah ini adalah kesempatan yang diberikan Tuhan untuknya? Apa akhirnya ia bisa bebas?
TBC
File 03. Escape?
