Jungkook yang berumur 10 tahun itu sedang membaca sebuah buku cerita di taman sekolah yang berada di belakang. Jarak yang agak jauh dan hanya terdapat lapangan berumput membuat taman sekolah tersebut tidak ada yang mengunjungi. Mungkin hanya jika ada kegiatan yang berhubungan dengan pelajaran baru taman itu akan dikunjungi para murid.
Namun Jungkook sangat menyukai taman ini. Tidak ada yang menarik, namun tenang dan sejuk yang membuat Jungkook betah berlama-lama di bawah sebuah pohon yang berada dipinggir taman. Ia selalu mengunjungi taman belakang sekolah ini jika ia sedang bosan di dalam kelas saat jam istirahat.
Biasanya Hoonmeong juga menemaninya namun hari ini Hoonmeong tidak masuk karena demam. Mungkin karena kemarin ia bersikeras bermain bola saat hujan turun. Jungkook sudah melarangnya, namun Hoonmeong itu sangat keras kepala, sangat. Ck, bahkan Jungkook heran darimana ia mendapat sifat keras kepala itu.
BYUURRR
Jungkook yang masih asik membaca buku ceritanya terkejut karena tiba-tiba tubuhnya terasa dingin karena siraman air. Ia secara reflek langsung berdiri dan menatap pelaku yang menyiramnya. Melihat tiga siswa kakak kelas yang melakukannya tidak membuatnya terkejut. Jungkook sudah terbiasa dikerjai oleh kakak kelasnya jika Hoonmeong tak masuk sekolah.
"hahahaha, astaga maafkan kami. Kami hanya disuruh mem-pfft-membuang air bekas praktek ini, hahah" ucap salah satu kakak kelas yang bername tag Kim Kihyun, jelas sekali ia tidak benar-benar menyesal.
"lagipula sedang apa kau disini? Ckckck, dan wajah cantikmu itu tidak cocok memakai celana, lebih baik kau memakai rok, ck" kini siswa bername tag Seo Sunghyun menimpali.
"bukankah kita membawa satu? Kenapa tidak kita bantu Jungkookie mengganti pakaiannya?" kini Lee Jonghyun menimpali.
"benar juga" dan senyuman mengejek terpampang diwajah ketiga siswa tingkat 6 itu, membuat Jungkook ketakutan dan menggelengkan kepalanya.
.
Pukul 17.00 dan Jungkook masih berada di dalam kelasnya mengambil tas dan jaketnya ia lilitkan dipinggangnya menutupi rok yang ia pakai. Ya, mereka benar-benar membuat Jungkook mengenakan rok, dan celananya mereka basahi dengan air kotor dan bau.
Jungkook rasanya ingin menangis, tapi apa dengan menangis membuat celananya bersih? Tentu saja tidak, jadi dengan menahan tangisnya Jungkook berjalan pulang dengan keadaan seperti itu. Untungnya bajunya yang terkena air tadi sudah kering jadi Jungkook tidak akan merasa terlalu dingin saat berjalan kaki untuk pulang.
Tentu saja jalan kaki karena Yoona tentu tidak akan mau menunggunya yang telat keluar. Youngha sendiri masih pulang pukul 19.00 dan Taehyung masih mengikuti les sampai pukul 18.00, jadi Jungkook harus berjalan kaki ke rumah keluarga Kim.
Jungkook memang masih belum terbiasa untuk menyebut rumah yang kini ia diami adalah rumahnya. Jungkook bahkan masih memanggil Youngha dengan sebutan paman, walaupun terkadang Youngha memaksa Jungkook menyebutnya appa, tapi Jungkook masih tidak berani? Nyaman? Entahlah Jungkook hanya merasa tidak enak.
Jungkook adalah anak panti asuhan, ia dibuanga oleh orangtuanya dan ditemukan kepala panti disebuah halte pada malam hari. Saat itu udara sangat dingin, dan ibu kepala panti mengatakan Jungkook meringkuk di dalam sebuah keranjang bayi yang kecil dan bibirnya mulai membiru karena kedinginan. Jelas saja ibu kepala panti langsung membawanya disebuah puskesmas terdekat untuk memeriksanya.
Dokter bilang jika saja setengah jam saja ibu kepala panti telat membawa bayi Jungkook telat maka bayi Jungkook pasti telah meninggal karena kedinginan dan kelaparan karena terlalu lama berada diluar. Daerah halte disana memang sangat sepi, entah apa yang dipikirkan oleh kedua orangtuanya meninggalkan seorang bayi disana.
Jungkook marah? Tidak, kecewa? Tidak juga, sedih? Tentu saja. Ia tidak marah dan kecewa hanya saja ia sedih bagaimana orangtuanya membuangnya di tempat yang sangat sepi, setidaknya jika mereka tidak menginginkannya mereka membuangnya di tempat yang pejalan kaki sering lewat. Tidak masalah jika orangtuanya membuangnya karena Jungkook yakin mereka memiliki alasan tersendiri.
FUTURE
Jungkook POV
Hari semakin gelap dan aku menatap bintang-bintang yang bertebaran di langit dengan begitu indahnya. Mereka memenuhi seluruh langit dengan sinarnya, bertaburan dengan bebasnya. Indah dengan bulan yang berada ditengah-tengahnya. Seperti induk yang mengawasi anak-anaknya.
Aku duduk di depan rumah kecil dan kumuh milik Yoon ahjumma, seorang wanita paruh baya yang merawat Hyunseob. Walaupun begitu rumah kecil dan kumuh ini lebih indah daripada sebuah kamar rumah sakit yang ia tempati.
Yoon ahjumma adalah sosok yang sangat baik dan ramah, sekali bertemu dengannya Jungkook dapat merasakan aura keibuan dari sosok wanita tersebut. Senyum yang selalu berkembang diwajahnya sangat hangat dan menenangkan. Namun, wanita itu ternyata memiliki sebuah penyakit parah. Saat makan malam dengan nasi dan kimchi tadi Yoon ahjumma tebatuk dengan keras dan mengeluarkan darah.
Sebenarnya ia tak tahu apa yang dideritanya karena ia takut untuk memeriksakannya di rumah sakit. Bukan apa, hanya saja biaya pemeriksaan lanjut menggunakan alat-alat yang entah apa namanya pasti memungut biaya. Yoon ahjumma juga mengatakan bahwa ia sudah mencoba ke sebuah pukesmas namun mereka tidak sanggup dan meminta Yoon ahjumma untu periksa ke rumah sakit.
"hyung," aku menolehkan kepalaku mendengar Hyunseob memanggilku lalu tersenyum.
"ada apa Hyunseob-ah?" tanyaku menyuruhnya duduk disebelahku.
Ia tetap diam, memilih duduk disebelahku sembari menatap langit. Entah apa yang dipikirkannya namun Jungkook yakin bahwa Hyunseob memikirkan sesuatu yang berat untuk usianya. Tidak kunjung mendapat jawaban, aku memutuskan mengikuti pandangannya yang menatap hamparan bintang di langit.
"aku takut hyung," aku menolehkan kepalaku menatapnya yang masih menatap langit,"penyakit Yoon ahjumma semakin parah, aku takut terjadi apa-apa dengannya."
Aku tahu bahwa Hyunseob pasti memiliki ketakutan terhadap penyakit Yoon ahjumma. Yoon ahjumma adalah satu-satunya keluarga untukny dan mungkin untukku juga saat ini. Aku sudah menganggap Yoon ahjumma dan Hyunseob seperti keluargaku sendiri, aku hanya merasa nyaman dengan mereka.
"hhh tentu upahku setiap harinya tidak akan mencukupi biaya Yoon ahjumma. Mengantar susu dan koran, mencuci piring di rumah makan dan mebersihkan ikan-ikan nelayan tidak akan cukup."
"aku juga akan mencari kerja besok, apapun. Aku akan membantu kalian" ucapku membuatnya menolehkan pandangannya kepadaku dan tersenyum.
"maafkan kami hyung. Kau bahkan baru datang dikediaman kumuh kami dan sudah menanggung beban seberat ini" ucapnya menundukkan kepalanya.
"heyyy, apa yang kau katakan. Masih untung kalian mau menampungku, entah bagaimana nasibku malam ini jika kau tidak menemukanku. Mungkin aku akan tidur bersama seagull-seagull di pantai kkkk" dan kami tertawa sejenak melepaskan topik berat.
Jungkook POV End
~Hopeless~
"bagaimana bisa kalian lengah dan membuatnya kabur hah? Ketua saat ini pasti sangat kesal, bisa-bisa dia memenggal kepala kita," kini Dr. Jung melampiaskan kemurkaannya kepada bawahan-bawahannya yang lalai mengerjakan tugasnya.
"k-kami tidak tahu bagaimana pintu itu bisa terbuka padahal kami yakin jika saat itu kami sudah mengunci pintu tersebut," ucap salah satu perawat ketakutan.
"bagaimana dengan cctv?"
"saat itu listrik sedang konslet dan semua komputer yang menghubungkan dengan cctv mati, sajangnim"
"brengsek" kini Dr. Jung tak bisa menahan amarahnya dan memukul wajah perawat yang berada didekatnya.
"DR. JUNG!!" terdengar teriakan menggema menuju kantornya dan sukses membuat Dr. Jung dan perawat lainnya merinding.
"sial, mati kita semua" ucap Dr. Jung risau.
Suara mobil memasuki pekarangan rumah keluarga Kim. Namja tampan yang ternyata Taehyung keluar dari dalamnya. Rambutnya acak-acakan dan wajahnya terlihat sangat kusut dan lelah walaupun ketampanannya tak pudar sedikitpun. Memang apa yang kau harapkan dari gen Kim family?
Taehyung memasuki rumahnya dengan memijat kepalanya yang terasa berdenyut. Ia eharian berkeliling Seoul untuk mencari adik manisnya yang hilang. Ia mengunjungi tempat-tempat yang bahkan ia tak tahu keberadaannya sebelumnya namun nihil hasilnya. Ingin rasanya ia mencari keluar kota, namun kemana.
"Tae, kau darimana? Kau terlihat kacau sayang" suara eommanya terdengar membuatnya menghentikan langkahnya melewati ruang keluarga.
"mencari Jungkook" jawab Taehyung singkat dan akan kembali ke kamarnya namun perkataan eommanya membuatnya menghentikan langkah.
"ck, untuk apa kau repot-repot begini? Biarkan suruhan kakekmu saja yang mencarinya. Ini tidak penting" ucap Yoona dengan dahi yang mengkerut tidak suka.
"eomma, selama ini aku menghargai eomma dan tidak pernah melewati batasku sampai membentak eomma karena ucapan penuh kebencian eomma terhadap Jungkook. Jadi, bisakah eomma sehari saja tidak memancing emosiku?"
"Tea-"
"oke, eomma memang membencinya tapi sekali saja hargai Jungkook atau hargai aku. Aku tidak mengerti kenapa eomma sangat membencinya, aku merasa eomma kekanakan" setelah itu Taehyung pergi menaiki tangga menuju kamarnya.
"karena dia anak dari selingkuhan appamu Tae. Apa jika kau mengetahuinya kau akan membencinya juga?" ucap Yoona lirih.
Taehyung memasuki kamarnya, ia melepas jaket kulitnya dan menaruhnya asal di meja belajarnya. Setelah itu ia langsung menjatuhkan tubuhnya di kasur king sizenya. Menatap langit-langit kamar dengan lelah.
Pikirannya terus berkecamuk, ia merasa bersalah. Ia berjanji akan menjaga adiknya namun apa, kini bahkan ia kehilangan jejak sang adik. Lebih parahnya dengan kondisi yang buruk. Jungkooknya menghilang dan ia tak tahu dimana mencarinya.
Hyung, kau tak akan meninggalkanku kan?
Suara Jungkook kecil terngiang dikepalanya. Dia mengingat dengan jelas ketika Jungkook pulang dengan keadaan menangis karena sahabat terbaiknya pergi meninggalkannya tanpa satu katapun. Itu adalah pertama kali Taehyung melihatnya menangis.
Tidak apa-apa jika eomma Yoona membenciku, asalkan hyung selalu berada disisiku, melindungiku.
Dan perkataan ini muncul dari bibir mungilnya setelah ia mendapat pukulan dari eommanya karena membuat Joohee jatuh dan menangis. Saat itu Yoona menyuruh Jungkook mengawasinya namun naas Joohee terpeleset dan membuat lututnya terluka.
Mereka memang membullyku, aku tidak apa-apa hyung.
Sampai SMP-pun Jungkook masih menjadi bahan bully, karena ia anak pungut keluarga Kim dan karena wajahnya yang cantik dan juga sikapnya yang lemah membuatnya menjadi sasaran empuk.
Kau percaya padaku kan hyung? Sungguh bukan aku hyung. Percayalah.
Dan ini adalah ketika Taehyung mengunjungi Jungkook untuk pertama kalinya di dalam ruangan isolasinya.
"AAARRGGHHH" Taehyung berteriak dengan kencang tidak peduli jika sampai semua mendengarnya. Kepalanya sakit, hatinya sesak dan ia sangat frustasi.
"hiks, maafkan hyung, hyung salah Jungkook-ah, seharusnya hyung percaya padamu, hiks" dan tangisan Taehyung pecah saat itu juga. Memeluka boneka kelinci besar yang berada disampingnya. Boneka ulang tahun dari Jungkook yang terakhir kalinya.
Sedangkan diluar pintu Youngha berdiri dan meneteskan air matanya untuk yang ke sekian kalinya. Ia gagal menjaga keluarganya.
T.B.C
Ada yang lagi galon malam minggu ini? TT
