jungkook kini berumur 12th dan Hoonmeong hyungnya telah lulus dan bersekolah di Hwayang Junior High School ditingkat ke dua. Sistem sekolah di Korea Selatan ini memang ketat dan membuat Hoonmeong hyungnya sibuk dan jarang menemuinya.
Dulu ia masih sering mengunjungi Jungkook disaat senggang, namun semenjak tengah semester Hoonmeong jarang menemuinya, bahkan sudah terhitung hampir tiga minggu Jungkook tidak bertemu dengan hyungnya. Jungkook rindu dan sangat penasaran bagaimana hyung tampannya itu sekarang.
Hari ini sekolah Jungkook dipulangkan lebih awal karena sekolah sedang mengadakan rapat, kata sang guru. Dengan ini memberi Jungkook kesempatan untuk mengunjungi hyungnya, ya karena jarak antara sekolahnya dan sekolah hyungnya tidak terlalu jauh. lagipula ia bisa lewat sana untuk pulang. Tidak akan ada yang mengkhawatirkannya jika ia pulang terlambat. Youngha jelas masih di kantor dan Tae hyung masih disekolahnya.
Dengan senang Jungkook berjalan menuju Hwayang JHS dan melewati taman kota yang berada disana. Iseng Jungkook berjalan ke arah danau buatan yang kecil diujung taman. Ia berdiri dan menatap ikan-ikan yang berada disana, Jungkook penyuka hewan dan hewan kesukaannya adalah anjing.
Setelah puas melihat ikan-ikan yang berenang dengan tenang dan indahnya seakan mereka menari dengan bebas di dalam air Jungkook akan berbalik dan lenjut menuju tujuannya namun belum sempat ia berbalik seseorang mendorongnya dan membuatnya jatuh ke dalam danau kecil itu, dan setelahnya Jungkook mendengar suara tawa.
"hei, cantik, sedang apa kau disini? Apa kau sedang menunggu pangeranmu, HAHAHA" suara yang lama tak didengarnya masuk ke dalam telinganya. Kim Kihyun dan Lee Jonghyun.
"ckckck, dasar namja jadi-jadian" setelah itu mereka pergi dengan tawa yang masih mereka lakukan. Sedangkan Jungkook hanya dapat menghelakan nafasnya dan berjalan ke pinggir.
Jungkook keluar dari air dan meremas seragamnya mencoba mngurangi air yang meresap banyak diseragamnnya. Hari ini tidak akan lebih buruk lagi kan? Pikir Jungkook sembari menghelakan nafas dan berjalan menuju Hwayang JHS.
Sepanjang jalan orang-orang menatap iba maupun aneh kepada Jungkook namun memang dasarnya Jungkook cuek ia tak memperdulikan sama sekali, malah sesekali ia bersenandung kecil lagu pororo yang sangat ia suka.
Sampai di gerbar Hwayang JHS, dapat Jungkook lihat bahwa sekarang adalah jam istirahat dan banyak siswa siswi berkeliaran diluar. Jungkook hanya dapat melongokan kepalanya mencari hyungnya, namun tentu saja hanya ada 1% hyungnya akan keluar melewatinya yang ada di gerbang. Pada akhirnya Jungkook terus menunggu di bawah sinar matahari hingga bel sekolah tanda pulang berbunyi.
Jungkook terus mencari-cari wajah sang hyung membuatnya ditatap aneh oleh siswa siswi disana yang melihatnya. Seragamnya sudah lumayan kering namun warna bajunya tentu saja sangat kotor dan kusut, terlihat buruk.
"Jihoon oppa" hingga akhirnya ia mendengar suara seseorang memanggil nama hyung yang ia cari, walaupun di sekolah ini mungkin banyak yang bernama Jihoon tapi apa salahnya memastikan? Dan yup Jihoon itu adalah hyungnya, Park Jihoon.
"ne, Nayeon-ah ada apa?" Jihoon menghentikan langkahnya menatap yeoja yang ia sukai itu.
"heheh, apa oppa hari ini akan latihan bola?" taya Nayeon dengan senyum yang ia sematkan.
"anni, hari ini aku akan pergi ke-"
"HOONMEONG HYUNG" kini ucapan Jihoon terpotong karena Jungkook memanggilnya dan melambaikan tangan dengan semangat ke arahnya.
"uhm? Siapa dia? Kau kenal dengannya oppa?" tanya Nayeon mengerutkan dahinya menatap penampilan Jungkook aneh.
"anni, a-aku tidak mengenalnya. Lebih baik kita ke lapangan saja, kkajja Nayeon-ah" dengan ucapannya itu Jungkook menghentikan langkah dan senyumannya mendengar apa yang dikatakan hyung yang dia rindukan itu.
"hyung..." ucapnya lirih menatap sepetu yang ia kenakan.
FUTURE
Youngha POV
Disini aku berdiri di depan sebuah rumah minimalis yang gelap, suasana malam yang sunyi membuat rumah tanpa penghuni itu terlihat semakin suram. Aku sangat ingat, senyuman hangat yang ia berikan setipa aku mengunjunginya. Dengan ramah dan terbuka ia selalu membuka pintu rumahnya untukku. Orang yang telah membuatnya tersakiti.
Jeon Seomi, yeoja cantik, cinta pertamaku saat SMA. Ia cantik, ia sangat cerah, dan ia sangat baik. Anak yatim piatu yang diasuh oleh pamannya sejak berumur 7 tahun. Keadaan yang sederhana membuatnya tidak pernah membeda-bedakan teman, walau mereka dari kalangan kaya maupun tidak.
Yeoja cantik pemilik gigi kelinci itu adalah sahabat dari anak teman ayahnya, Lim Yoona. Anak dari pengusaha tekstil yang terkenal sampai ke pasar uang pasar modal. Kesuksesannya tidak hanya sampai disana, keluarga Lim adalah seorang pemilik apartemen mewah yang namanya berada di negara-negara bagian asia maupun lainnya.
Hari itu aku bertemu dengannya dirumah Yoona saat aku dan ayahku mengunjungi mereka. Dengan piyama tidur ia menguap lucu dan berdiri disamping Yoona yang menatapnya berbinar. Saat itu juga aku menyadari bahwa aku jatuh cinta padanya, cinta pada pandangan pertama, terdengar menggelikan memang, namun pesonanya tak bisa diragukan.
Mata lebarnya, hidung mancung, bibir peach yang dilengkapi gigi kelincinya dan tubuh mungilnya terlihat begitu ingin dipeluknya. Namun, ternyata ia telah memiliki seorang kekasih, yaitu Ong Seungwon. Pemuda sederhana yang tampan.
Saat itu aku hanya seorang bocah SMA yang kekanakan. Aku mencari segala cara agar Seomi putus dengan kekasih 3 tahunnya dan ya pada akhirnya aku berhail membuat mereka terpisah dan saat ia bersedih aku menghampirinya bak seorang pahlawan.
Kami semakin dekat dan aku berhasil mengambil hatinya untuk kugenggam. Yoona? Tentu saja ia mengetahuinya, awalnya ia kecewa dan berhenti bertegur sapa dengan kami namun lambat laun ia bisa membuka diri dan kembali seperti semula walaupun kami akan menjaga sikap saat bersamanya.
Tapi cinta mereka ternyata tak semulus yang aku bayangkan. Ia dijodohkan dengan Yoona dan ini adalah keputusan mutlak. Aku ingin sekali kabur dan melarikan diri bersama Seomi namun ia menolak. Aku marah dan kecewa namun aku tahu ia lebih sakit. Sedangkan Yoona ia juga tak bisa berbuat apa-apa karena usulan perjodohan ini bahkan dari ayahnya.
Dan semua semakin kacau ketika orangtua Yoona kecelakaan dan meninggal. Yoona dalam masa terpuruknya dan disana aku harus berada disampingnya meninggalkan Seomi yang saat itu bahkan sama kacaunya karena masalah besar yang ia hadapi.
Hari H tiba, disana aku bersama Yoona mengikat janji disaat hubunganku dan Seomi tak pasti. Saat itupun Seomi menghilang, tak ada kabar ataupun jejak darinya hingga hampir lima tahun kemudian aku bertemu dengannya bermesraan dengan mantan kekasihnya Ong Seungwon.
Aku marah dan aku gelap mata membuatku melakukan hal mengerikan tersebut. Aku memperkosanya, aku membuatnya mengandung anakku. Aku menyakitinya untuk yang kesekian kalinya. Hingga ia tak kuat dan kabur membawa anakku dan rasa bencinya.
"mian, mianhae, Seomi-ya. Aku tidak bisa menjaganya, aku tidak bisa menjaga anak kita. Maafkan aku, aku salah, aku adalah sebuah dosa yang susah dihapus, aku menyesal. Tolong aku, aku ingin menyelamatkan anak kita, Seomi-ya. Apa kau bahagia disana?" ucapku menatap rumah kosong itu. Jeon Seomi, cinta pertamaku, telah pergi jauh ke tempat yang tak mungkin aku temui
Youngha POV END
~Hopeless~
"Jungkook! Cepat bawa kardu ini. Ck, jangan lelet" teriakan pria tambun kepada Jungkook yang keluar dari gedung penyimpanan barang yang besar.
"ne, maaf Kang sajangnim, saya akan bekerja lebih cepat" ucap Jungkook dengan cepat membawa salah satu kardus yang lebih besar dari tubuhnya dan tentu saja berat.
Jungkook saat ini adalah bekerja sebagai buruh pengangkut, ia tentu saja tidak bisa terus terusan diam dirumah yang ia tampungi. Mereka sekarang adalah keluarga maka mereka harus saling menompang satu sama lain.
Awalnya Jungkook mencoba mencari disebuah supermarket ataupun toko-toko kecil namun tentu saja akan sangat susah karena ia tidak memiliki ijazah ataupun dokumen pendukung lainnya. Sekarang pekerjaan sangat susah dicari, seorang pelayan saja harus mengirim surat lamaran pekerjaan dan lainnya, sedangkan Jungkook? KTP-pun ia tak ada.
Dan sampailah ia melihat orang-orang yang mengangku barang dari truk ke sebuah gudang. Dengan berani ia mencoba melamar disana. Awalnya Kang sajangnim menolak, melihat postur tubuh Jungkook yang sangat kurus, namun melihat buruh-buruhnya kekurangan orang ia terima saja Jungkook. Lagipula ia pekerja keras, pikir Kang sajangnim.
Hari sudah sore dan Jungkook akan kembali kerumhnya. Ia berjalan melewati jalan-jalan yang sepi karena disini tidak seperti Seoul yang selalu terlihat gemerlap walaupun tengah malam. Jungkook sedikit memukul-mukul kecil pundaknya yang terasa sakit. Ia juga melihat tangannya yang terdapat banyak goresan karena barang-barang yang ia angkut. Namun tak apalah, upahnya juga lumayan untuk ditabung dan membawa Yoon ahjumma berobat. Semoga saja besok Kang sajangnim masih membutuhkannya, heheh.
"hoi, bocah" seseorang memanggilnya dengan keras, membuatnya menoleh terkejut, dan ia melihat dua orang preman yang menatapnya garang.
"a-apa?" tanya Jungkook takut-takut.
"hhh, apa kau buruh Kang sajangnim?" tanya salah satu preman yang lebih tinggi.
"ne, w-waeyo?"
"ck, beri kami sebagian upahmu. Hitung-hitung sebagai pajak keselamatanmu melewati jalan ini" ucap yang lebih pendek dingin.
Sial, Jungkook tidak tahu bahwa disini juga ada preman-preman seperti di drama yang ia tonton. Jungkook juga bukan petarung, melihat kondisinya saja kita tahu bahwa dia itu lemah, sangat.
"t-tidak mau. Kalau mau kerja sendiri sana" ucap Jungkook lalu melarikan diri dari sana.
"YA! DASAR BOCAH KURANG AJAR" dan terjadilah aksi kejar-kejaran antara Jungkook dan para preman tadi.
Jungkook berlari sekuat tenaga yang tersisa, ia mengikuti langkah kaki yang membawanya kemana saja. Jungkook harus menyelamatkan uangnya untuk mereka. Hingga diperempatan sebuah gang lengannya ditarik dan mulutnya dibekap membuatnya panik bukan main.
"hmmppp,.. hmpp..." Jungkook mencoba memberontak namun sial sekli tenaga namja dibelakangnya sangat kuat.
"diamlah, kau tak ingin mereka menemukanmu kan" ucap namja tersebut membuat Jungkook sedikit tenang, ingat sedikit.
Hingga suara preman tadi berhenti disamping mereka, membuatnya diam tak berkutik. Setidaknya namja dibelakangnya tida semenyeramkan bentuk preman tadi, pikirnya sembrono. Padahal ia tak mengetahui rupa di penolongnya.
"sial, mungkin ia ke arah sana" ucap di preman tinggi dan mereka pergi dari sana.
Melihat ada kesempatan, Jungkook dengan segera menyikut namja dibelakangnya dan menginjak kaki kirinya membuat ia terlepas dan namja tersebut meringis.
"sial, apa yang kau lakukan? Masih untuk kutolong" ucap namja tadi memegang perutnya.
Jungkook menatap tajam namja asing tersebut. Ingat, 'jangan percaya dengan orang asing' dan tentu dengan motto seperti itu Jungkook tetap waspada terhadap namja disampingnya.
"ck, kau bisu? Tidak bisa mengucapkan terima kasih. Bocah jaman sekarang sangat tidak sopan, ck" ucap namja asing tersebut dan pergi meninggalkan Jungkook yang melongon karena ditinggal begitu saja. Appa-apaan? Pikir Jungkook.
Tak mau ambil pusing, Jungkookpun pergi dan kembali kerumahnya, tentu dengan masih waspada takut-takut ada preman lain atau orang aneh lagi. Jungkook kan parno kalau-kalau ia menemukan namja aneh seperti tadi. Tanya sendiri, dijawab sendiri, bingung sendiri.
Dan Jungkook berjalan kerumah kecil yang ia dan keluarga barunya tempati dengan senang. Melupakan fakta bahwa, 'ucapkan terima kasih kepada siapapun yang membantumu'.
T.B.Csorry for typos guys ToT
