Semenjak kejadian Jihoon yang berpura-pura tak mengenalnya kini Jungkook tak pernah lagi bertemu dengannya. Jungkook sudah beberapa kali mencoba untuk menemui Jihoon namun kejadian menyakitkan itu terus berulang-ulang hingga genap satu tahun kemudian Jungkook tak melihat Jihoon berada di sana, ia mendengar bahwa Jihoon pindah ke luar negeri. Jungkook sangat sedih, sampai iapun menangis seharian di kamarnya membuat Taehyung khawatir terhadap apa yang terjadi terhadap adiknya itu.

Jungkook kini berumur 14 tahun dan bersekolah di Serin JHS. Sama seperti dulu Jungkook tak memiliki teman sama sekali, mungkin hanya teman sebangkunya yang masih menyapanya, itupun sangat jarang mungkin ketika mereka memiliki tugas saja. Jungkook itu terlalu pemalu dan terkesan menyendiri membuat teman-temannya segan untuk mendekatinya. Terlebih mereka mengetahui jika Jungkook adalah anak angkat keluarga Kim membuat mereka berspekulasi bahwa Jungkook adalah anak yang sombong. Padahal ia ingin sekali berteman namun rasa percaya dirinya sangat rendah.

Kini ia berada dikamarnya mengerjakan tugas rumah yang menumpuk menunggu belaiannya. Benarbenar, guru-gurunya sangat memperhatikan muridnya hingga memberikan porsi pr yang begitu banyak.

"Jungkook-ah, kau di dalam?" Jungkook menoleh keasal suara yang berada di balik pintu kamarnya, sebuah suara yang sangat ia kenal masuk ke gendang telinganya.

"ne, hyung, masuk saja" jawab Jungkook mempersilahkan seseorang di balik pintu kamarnya-Taehyung- masuk dan sang hyung masuk begitu mendengar jawaban adiknya.

"kau sedang mengerjakan tugas?" tanya Taehyung mendapati Jungkook terlalu fokus menatap buku pelajarannya dengan raut berfikir.

Tak ada jawaban membuat Taehyung mendengus kesal. Taehyung bosan dan Jungkook adalah satu-satunya yang dapat membuat rasa bosannya hilang. Jika dengan Tzuyu dia akan tambah merasa bosan menemani adiknya berbelanja atau ke tempat-tempat girly, astaga sampai teman-temannya menyangka Tzuyu adalah kekasihnya. Asal kalian tahu saja, walaupun masih seorang pelajar SMP Tzuyu mempunyai postur tubuh yang ehhhmm seperti pelajar SMA ataupun kuliah. Dia tinngi semampai wajahnya juga cantik dan terlihat lebih dewasa.

"Jungkook-ah? Jungkookie? Kookie? Bunny?" Taehyung mencoba mendapatkan perhatian Jungkook dengan bergelayut dipunggung sang adik sambil menggoyangkan tubuh mereka ke kana dan ke kiri.

"kelinci... ayo keluar, hyung bosan ne ne ne?" ajak Taehyung manja karena tak mendapat respon dari Jungkook.

"aku sibuk hyung, tugasku banyak dan ajaklah sekali-kali Tzuyu pergi, kenapa kau selalu mengajakku terus sihhh"kesal Jungkook. Bukannya apa tapi tugsanya benar-benar banyak, entah kenapa semua guru untuk pelajaran kamis di kelas Jungkook begitu kompak memberi kelasnya tugas rumah yang soalnya walaupun hanya tiga, namun jawabannya seperti dongeng.

"shireooo,aku maunya denganmu saja. Kau pengobat bosankuuuu"

Oke, Jungkook mulai merinding mendengar nada diimut-imutkan hyungnya ini dan memutuskan menutup tugas rumahnya. Ia akan mengerjakan nanti malam lagi. Daripada ia dihantui suara besar hyungnya yang berlagak imut, astaga, no no haeng.

"baiklah, kita akan kemana kali ini?" tanya Jungkook melepaskan pelukan Taehyung dan berbalik menghadapnya, tetap duduk di kursi belajarnya.

"pantai? Sudah lama aku tidak kesana" jawab Taehyung sekenanya membuat Jungkook membuang nafas malas. Hyungnya ini selalu mengajaknya kemana-mana tanpa tujuan, ketika dia bosan dia akan menghamburkan uangnya dengan ringan.

Berkeliling Korea, ke tempat makan yang diinginkan dan memesan semua yang diinginkannya, berbelanja baju dengan merek-merek terkenal. Astaga seharusnya keluarga Kim tidak memberikan Taehyung black card di usia segini, ini apa Jungkook yang katrok atau keluarga Kim saja yang terlalu kaya?

"hyung, bagaimana kalau kita ke panti asuhan saja. Daripada menghamburkan uangmu untu bersenang-senang saja, bukankah lebih baik membuat orang lain senang juga?" Jungkook memberi saran kepada hyungnya yang dibalas hyungnya dengan tatapan berfikir.

"benar juga. Aahhh, Jungkookie-ku memang benar-benar malaikat yang manisssss, sini beri hyung ppoppo, mu mu mu" seketika Jungkook menegang dan menatap hyungnya horor.

Astaga, hyungnya ini habis melewati jalan apa? Apa dia kerasukan sesuatu?

"hyung, berhenti, kau menggelikan, aaaaaahhh" dan Jungkook hanya dapat berteriak dan tertawa ketika Taehyung tiba-tiba mendorongnya dan menggelitik pinggangnya.

"hyung hentihkan, ahahaha"

Mereka terus bercanda dan tidak menyadari Tzuyu yang mengintip dibalik pintu dengan pandangan kesal.

FUTURE

"bagaimana appa? Apa ada kabar tentang Jungkook?"

Kini Taehyung sedang berada di kantor sang appa. Sepulang dari kuliahnya ia langsung menuju kantor pusat dimana sang appa berada. Ia sungguh khawatir dengan adiknya, terhitung sudah hampir tiga minggu semenjak Jungkook menghilang, dia benar-benar khawatir.

"tidak ada Tae, kau tahu sendiri petugas rumah sakit kehilangan jejak dan mereka tidak tahu ke arah mana Jungkook menghilang. Orang suruhan appa juga sudah menyuruh anak buahnya mencari sampai ke pedesaan, mereka juga akan mencari sampai keluar Seoul" jawab sang appa menatap anaknya dengan sedih.

"appa," panggil Taehyung ragu-ragu sambil menatap Youngha.

"ada apa Tae?"

"Dr. Jung itu, apa dia dekat dengan keluarga kita? Maksudku, seperti hubungan dokter pribadi, ya seperti itu" Taehyung menatap Youngha penasaran, ia merasa aneh dengan Dr. Jung itu.

"bisa dibilang begitu, Dr. Jung itu dokter psikis keluarga kita. Dia juga adalah kakak kelas eommamu saat kuliah sekaligus anak dari teman kakekmu. Kenapa?" tanya Youngha menatap Taehyung bingung.

"anni, hanya merasa ada sesuatu yang aneh darinya. Ia terlihat misterius dan pinta?" ucap Taehyung tak yakin.

"dia memang seperti itu. Selain seorang psikolog ia juga suka membuat eksperimen-eksperimen, katakan ia tergila-gila dengan obat-obatan dan tubuh manusia" jawab Youngha terkekeh namun tidak dengan Taehyung, entah mengapa tiba-tiba jantungnya berdetak dengan cepat mendengar jawaban sang appa.

"o-oh, appa, kalau begitu aku pulang. Banyak tugas yang belum aku kerjakan" Taehyung berdiri dari duduknya dan segera keluar setelah berpamitan dengan appanya.

~Hopeless~

Siang yang cerah dan sebuah tempat makan seafood terlihat ramai oleh pengunjung. Aroma masakan berbahan lauk dari lautan tercium dengan sedap. Pengunjung yang asyik bercengkrama dengan keluarga, teman, atau bahkan kekasihnya, dan para pelayan yang sibuk mengantarkan pesanan.

"Jungkook, ini piringnya lagi, semangat nee" salah seorang pelayan mengantarkan tumpukan piring bekas kepada Jungkook yang berada di belakang restoran mencuci semua peralatan yang telah dipakai.

"ne, hyung" jawab Jungkook dengan tersenyum.

"kalau begitu aku kembali ke dalam, di dalam sangat kacau" ucap pelayan tadi meninggalkan Jungkook.

"/gumawo hyung/" Jungkook berucap ingin memberi terima kasih namun suaranya tak keluar membuatnya mengernyitkan dahinya bingung.

Akhir-akhir ini entah kenapa terkadang tenggorokannya terasa sakit dan suaranya akan hilang beberapa saat. Pernah hampir setengah hari suaranya tak dapat ia keluarkan sama sekali. Hyunseob dan Yoon Ahjumma sangat khawatir namun ia segera mengatakan bahwa ia tidak apa-apa dan membuat alibi bahwa mungkin ia hanya kelelahan.

Berbicara tentang Hyungseob, ia kini membantu Yoon Ahjumma mencuci baju-baju yang dititipkan. Awalnya ia ingin pergi bekerja seperti Jungkook namun Jungkook menolak karena nanti tidak ada yang menjaga dan membantu Yoon Ahjumma yang keadaannya semakin menurun. Ia sering tidak sadarkan diri ketika sangat kelelahan, dan Yoon Ahjumma adalah pekerja keras. Ia terlalu memaksakan dirinya.

Ia sendiri sangat beruntung dapat diterima sebagai pencuci pirin di tempat makan ini. Pemiliknya juga masih sangat muda mungkin seumuran dengan Taehyung hyung. Ahhh memikirkan Taehyung hyung membuatnya sangat merindukan hyungnya itu. Ia tidak pernah bertemu dengan hyungnya semenja ia diisolasi. Aahhh, jadi terbawa perasaan jadinya, kann..

Ngomong-ngomong nama pemiliknya Park Jimin dan dia sangat tampan dan baik, dan sialnya ia memiliki teman luar biasa menjengkelkan bernama Cha Eunwoo. Namja asing yang menolongnya saat dikejar preman gadungan waktu itu. Dia sangat menjengkelkan, wajahnya saja bak pangeran baik hati tapi jahilnya tidak dapat dideskripsikan, Jungkook rasanya ingin mencekiknya hingga tewas ketika Eunwoo menggodanya saat bekerja. Andaikan membunuh orang tidak dosa, sudah Jungkook lakukan saat pertemuan kedua mereka.

Kini waktu menunjukkan pukul 16.00 dan Jungkook telah selesai dengan pekerjaannya. Ia berpamitan dengan pelayan disana dan keluar menuju tempat bekerja selanjutnya. Jungkook mempunyai dua pekerjaan etiap hari senin sampai jumat yaitu sebagai pencuci piring dan sebagi karyawan di toko kecil penjual kain-kain, benang, manik-manik dan sebagainya. Sedangkan sabtu dan minggu ia bekerja sebagai pengantar koran dan susu di pagi hari bersama hyunseob dan sebagai pengangkut barang di pasar ikan pada sore hari.

Jungkook sangat bersyukur ia mendapat pekerjaan banyak walaupun gajinya tak seberapa. Lelah tentu sering Jungkook alami, namun mengingat Yoon Ahjumma dan Hyunseob yang bekerja keras dan selalu memperlakukannya dengan baik mmbuatnya kembali bersemangat. Ia merasa nyaman dan hangat. Ini yang tak pernah ia rasakan meskipun di panti maupun keluarga Kim.

"euhmm?" Jungkook bergumam dan menatap bawah merasakan sepatunya tak nyaman dipakai dan ia mendapati bahwa bagian bawah sepatu bututnya terbuka semakin lebar. Well, apa yang kau harapkan dari sepatu buangan yang hanya ia lem denga lem kayu yang murah?

"hhh, sebaiknya aku lem dulu sebelum semakin parah" ucap Jungkook mendudukkan dirinya dipinggir jalan dan mulai melepas sepatunya dan melemnya dengan lem kayu yang selalu ia bawa. Untuk jaga-jaga.

Untuk fokus dengan sepatunya, mengabaikan beberapa pejalan kaki yang menatapnya kasihan. Jungkook hanya memakai kaus putih tipin dengan jaket yang tak dapat melindungi tubuhnya dari dinginnya hawa saat ini. Hidung dan telingnya bahkan sudah memerah namun Jungkook sudah terbiasa beberapa minggu ini, lagupula nanti ia akan meminta teh panas saat kembali ke rumahnya.

"HYUNG!" seseorang menepuk pundaknya dengan keras dan tiba-tiba membuat Jungkook terperanjat dan sepatu yang ia pegang lepas.

"hyung, apa yang kau lakukan dipinggir jalan seperti ini?" tanya Hyunseob namun Jungkook tetap menatapnya kosong.

"hyung astaga, aku memanggilmu sedari tadi bahkan tepat disebelah telingamu. Apa kau tak mendengarnya? Atau kau pura-pura?" Hyunseob menatap Jungkook kesal, sedari tadi ia memanggil Jungkook bahkan tepat ditelinganya namun sama sekali tak ada jawaban dari Jungkook yang fokus terhadap sepatunya.

Jungkook tetap memandang Hyunseob kosong, ia memandang setiap gerak bibir Hyunseob dan ia tahu bahwa ia kacau. Telinganya tak berfungsi...

Disebuah ruangan dokter itu terlihat dua laki-laki yang saling berbicara serius. Yang satu adalah Dr. Jung dan yang satu lagi adalah seorang laki-laki yang berhadapan dengan Dr. Jung.

"lagipula, ketika ia kembalipun semuanya akan terlambat, sajangnim" ucap Dr. Jung sambil tersenyum licik menatap laki-laki paruh baya dihadapannya.

"obat itu akan menyerah sel otak dan membuat beberapa panca indranya mulai merusak, kau tak perlu mengotorkan tanganmu untuk menyingkirkan bocah itu" lanjut Dr. Jung tersenyum menang, dan dibalas kekahan oleh si sajangnim.

"apa tak ada penawarnya?" tanya si sajangnim membuka suaranya.

"sebenarnya jika malam itu ia tak kabur makan ia masih akan terselamatkan, namun ini bahkan lebih dari satu, tidak, dua minggu. Tak ada harapan" jawab Dr. Jung mengendikkan bahunya.

"tapi aku juga merasa sedih karena aku kehilangan kelinci percobaanku yang terfavorite" ucap Dr. Jung berpura-pura sedih.

"kau bahkan dapat menggunakan orang-orang gila disini. Apa susahnya"

"tapi mereka benar-benar gila, sedangkan Jungkook tidak..." jawab Dr. Jung memberi jeda,

"Kim sajangnim" dan lanjutnya menatap Kim sajangnim, kakek dari Kim Taehyung, mertua dari Kim Youngha.

TBC