"Jungkook? Hyunseob, ada apa dengan hyung-mu?" tanya Yoon ahjumma melihat Hyunseob menggandeng Jungkook yang terlihat menundukkan wajahnya.

"ano, t-tadi aku bertemu Jungkook hyung di jalan, ahjumma. Jungkook hyung terlihat tidak sehat jadi hyung ijin untuk tidak bekerja hari ini" jawab Hyunseob menatap Yoon ahjumma dengan wajah terlihat khawatir.

Hyunseob tidak sepenuhnya berbohong. Jungkook memang tidak baik, namun ia tidak mungkin mengatakan bahwa pendengaran Jungkook bermasalah. Ini terjadi seperti ketika Jungkook kehilangan suaranya untuk untuk pertama kali. Awalnya Hyunseob akan memberitahu Yoon ahjumma namun Jungkook mencegahnya dengan airmata yang mengalir dari matanya. Dengan tulisan ia menjelaskan kalau Jungkook tidak ingin membuat Yoon ahjumm khawatir.

Hyunseob awalnya ragu, namun karena ia menghormati keinginan Jungkook maka ia menyanggupinya. Jadi seharian itu Hyunseob beralasan jika Jungkook sedang sakit tenggorokan kepada Yoon ahjumma ketika Jungkook tidak menjawab perkataan Yoon ahjumma.

"astaga, sebaiknya Jungkookie jangan bekerja terlalu keras. Jika seperti ini ahjumma merasa merepotkan kalian karena penyakit ahjumma" ucap Yoon ahjumma sedih membuat Hyunseob langsung menggelengkan kepalanya.

"astaga, ahjumma, Jungkook hyung dan Hyunseob tidak merasa direpotkan kok. Jangan berpikir seperti itu lagi, oke. Kalau begitu Hyunseob antar hyung ke kamar sekarang, sebaiknya Yoon ahjumma juga beristirahat" ucap Hyunseob membawa Jungkook ke kamar mereka.

"Kimtae!" seorang namja tampan memanggil Taehyung yang sedang berjalan di koridor kampus dengan satu headset hitam di telinga kirinya.

"ada apa hyung?" tanya Taehyung ketika namja tadi –Kim Seokjin- sudah berada tepat dihadapannya.

"ck, kali ini mereka keterlaluan" ucap Seokjin dengan wajah yang terlihat kesal.

"siapa?"

"siapa lagi kalau bukan Jeongyeon dan serdadunya" dan jawaban Seokjin membuat Taehyung menghelakan nafasnya kasar. Yeoja-yeoja itu memang membuatnya kesal setiap hari, pikir Taehyung.

"apalagi yang mereka lakukan hyung?" tanya Taehyung lelah mengikuti langkah Seokjin menuju tempat yang menuai masalah.

"kau lihat saja sendiri"

Dan merekapun segera menuju tempat lapangan kampus, tempat kejadian perkara. Disana sudah banyak mahasiswa dan mahasiswi yang berkumpul menatap di tengah lapangan kampus. Taehyung melihat beberapa mahasiswi yang menatap iba dan ada juga yang menahan tawa entah kenapa.

"permisi" ucap Taehyung kepada segorombol mahasiswi yang ada dihadapannya membuat mereka menoleh dengan wajah terkejut dan segera memberi jalan kepada Taehyung begitu seterusnya, hingga ia dapat melihat pemandangan yang membuatnya geram seketika.

"YOO JEONGYEON" teriak Taehyung geram membuat tiga yeoja yang berada dilapangan ditambah seorang yeoja yang diikat ditiang bendera menatapnya. Bedanya yeoja yang diikat menatapnya meminta tolong dengan air mata yang mengalir deras dari kedua matanya sedangkan ketiga yeoja lainnya menatapnya takut namun juga arogan disaat yang bersamaan.

"Taehyung oppa" ucap Jeongyeon dengan ceria mengesampingkan rasa takutnya menatap Taehyung dengan senyuman.

"apa yang kau lakukan?" tanya Taehyung geram menghampiri mereka. Wajahnya sudah memerah menahan marah.

"kami hanya memberi pelajaran kepada jalang ini karena sudah menggoda oppa" jawab Jeonyeon menatap seorang yeoja yang nyatanya seorang senior dengan sinis.

"menggoda? Apa yang kau katakan?" Taehyung kini benar-benar mencapai batasnya.

"dia menggoda oppa dengan pura-pura menanyakan mata kuliah dan mengambil kesempatan mendekati oppa" kini Taehyung mengerti apa yang dimaksud Jeongyeon dan menghampiri seniornya yang kini terlihat mengenaskan.

Bajunya compang-camping dan bahkan beberapa bagian terlihat robek, entah apa yang dilakukan yeoja-yeoja ini. Wajahnya juga terlihat memar dibagian pipinya dan tubuhnya basah kuyup. Sial, ini benar-benar keterlaluan.

"dengar Jeongyeon dan kalian berdua. Siapa, kapan, dan bagaimana ada seseorang yang mendekatiku bukan urusan kalian. Lebih baik kalian belajar dengan benar dan jangan hanya mengandalkan kekuasaan kalian hanya karena orangtua kalian investor universitas ini." Taehyung menjeda kalimatnya dan memegang seniornya yang terlihat lemas.

"ingat baik-baik, sekali lagi kalian membuat ulah karena diriku, aku pastikan kekuasaan kalian hilang dalam sekejap mata" ancam Taehyung dan membawa sang senior menuju klinik kampus.

Sedangkan ketiga yeoja tadi menatap punggung Taehyung takut. Ayolaahh, walaupun ayah-ayah mereka adalah seorang investor di Hangguk University, tidak ada apa-apanya dengan keluarga Kim. Sekali senggol mereka bisa menjadi gelandangan.

Taehyung membawa seniornya di klinik Universitas. Ia mendudukkan sang senior di atas kasur yang ada di klinik lalu pergi meninggalkan sang senior bersama perawat di sana.

"terima kasih,Taehyung-ah" ucap sang senior tersenyum kepada Taehyung sebelum Taehyung sempat keluar dari pintu klinik

"tidak masalah Tiffany sunbae" jawab Taehyung dan meninggalkan klinik menuju kelasnya.

Dalam perjalanannya Taehyung hanya menghelakan nafasnya lelah berkali-kali. Sungguh Jeongyeon dan serdadunya itu benar-benar meningkatkan darahnya. Apa tidak ada hal lain yang bisa mereka lakukan selain semena-mena? Ck.

Drtt drrrt drrrttt

Taehyung merasakan handphonenya bergetar berhenti untuk melihat siapa yang menghubunginya. Dahinya mengkerut melihat appanya menelphon dirinya di jam jam kerja seperti ini. Dengan segera Taehyung mengangkat panggilan dari appanya.

"yeoboseyo?"

"Tae, Appa menemukannya" dan ucapan sang appa membuat Taehyung membatu seketika.

~Hopeless~

Jumat mendung dan Jungkook masih bergelung di dalam selimutnya yang tipis. Udara terlalu sejuk dan membuat badan Jungkook malas untuk digerakkan. Hari ini restoran tempatnya bekerja libur dalam tiga hari, jadi Jungkook tidak ada kerjaan untuk tiga hari ke depan di pagi sampai sore hari. Niatnya sih ia akan mencarinya nanti siang untuk pengganti sementara.

"hyung bangun. Astaga, ini sudah pukul sembilan dan kau masih tidur" Hyunseob datang dengan berkcak pinggang melihat Jungkook belum juga bangun dari kasurnya.

"ne, ne, astaga Hyunie kenapa kau cerewet sekali di pagi yang mendung ini" balas Jungkook mendudukkan dirinya sambil menguap setelah meregangkan tubuhny dengan malas.

"bagus. Kau sudah bangun dan keadaan panca indramu bagus, aku senang hyung" ucap Hyunseob tersenyum sedih, menghampiri sang hyung dan duduk disebelahnya.

"heheh, iya Hyunie-ya. Aku bersyukur tidak ada yang bermasalah dengan panca indraku hari ini" balas Jungkook tersenyum dan mengelus surai Hyunseob sayang.

Hyunseob sangat ingin bertanya sebenarnya ada apa denganan hyungnya. Mereka sudah tinggal bersama hampir sebulan namun ia sama sekali tidak mengetahui asal usul Jungkook kecuali fakta bahwa ia dari Seoul. Jungkook selalu menghindari topik mengenai keluarganya, entah kenapa.

"dimana ahjumma?" tanya Jungkook menatap Hyunseob yang bengong menatapnya.

"ahjumma tidur di kamarnya, hyung" jawab Hyunseob menatap Jungkook serius membuat Jungkook sedikit mengernyitkan dahinya.

"jangan menatap hyung begitu. Kau menakuti hyung, Hyunie-ya" Jungkook mendorong dahi Hyunseob pelan dengan telunjuknya.

"hyung!"

"mwo?"

Dan hening untuk beberapa saat. Hyunseob menatap Jungkook dengan mata yang berkaca-kaca membuat Jungkook kaget menatap Hyunseob. Dengan segera Jungkook mendekap tubuh Hyunseob pelan.

"ada apa hmm? Apa kau sakit?" tanya Jungkook mengelus kepala Hyunseob sayang dan seketika tangisan Hyunseob pecah. Ia memeluk Jungkook erat dan menenggelamkan kepalanya di bahu Jungkook.

"ada apa Hyunseob-ah? Jangan seperti ini, hyung juga ikut sedih jika kau seperti ini" tanya Jungkook melepas pelukannya, menangkup wajah yang lebih mudah yang kini telah dibanjiri air mata.

"ada apa hmm?"

"aku takut hyung" ucap Hyunseob diantara isakannya.

"takut kenapa?" Jungkook menatap Hyunseob bingung dan menghapus air mata sang adik.

"sebenarnya ada apa dengan hyung? Kenapa pendengaran, suara bahkan penglihatan hyung bisa menghilang sewaktu-waktu? Apa hyung juga mengidap penyakit yang serius?"

Pertanyaan Hyunseob membuat Jungkook tersenyum sedih menatapnya. Jujur Jungkook juga tidak mengerti ada apa dengannya. Walaupun faktanya Jungkook juga mempunyai firasat bahwa apapun yang dialaminya sekarang ada kaitannya dengan percobaan-percobaan yang dilakukan Dr. Jung dulu padanya.

"hyung?" Hyunseob menyadarkan Jungkook dari lamunannya.

"h-hyung, hyung juga t-tidak tahu Hyunseob-ah. Hyung juga tidak megerti" Jungkook menundukkan wajahnya membuat Hyunseob meneteskan air matanya kembali.

"hyung lelah Hyunseob-ah. Sebenarnya hyung sudah lelah dengan kehidupan hyung" Jungkook tetap menundukkan kepalanya, namun Hyunseo dapat merasakan tetesan air mata yang mengenai punggung tangannya yang berada diatas pangkuan Jungkook.

"ceritalah hyung, aku juga ingin mengetahui siapa hyung sebenarnya. Siapa keluarga baru Hyunseob ini" ucap Hyunseob sedih menatap Jungkook yang setia menundukkan kepalanya.

Jeda sebentar, tidak ada yang beranjak dan mengeluarkan suara. Hyunseob yang menunggu jawaban Jungkook dan Jungkook yang sibuk dengan pikirannya. Haruskah ia menceritakan semuanya?

"kejadiannya terlalu panjang dan rumit, Hyunseob-ah" ucap Jungkook menatap Hyunseob ragu.

"dengar hyung. Aku tahu aku masih bocah tapi aku akan mencoba mengerti hyung. Pertama kali aku melihat hyung, aku tahu bahwa kau sudah melewati banyak beban yang kau alami. Sinar matamu meredup, hingga kinipun aku tahu bahwa kebahagiaan dariku dan ahjumma tidak mampu membawa sinar mata hyung yang tak pernah kami lihat kembali. Jadi, buat Hyunseob mengerti dan Hyunseob akan mencoba membantu dan memahami, hyung. Kita keluarga bukan?" ucap Hyunseob membuat Jungkook menatapnya dalam.

"baiklah, hyung akan menceritakan semuanya kepadamu" putus Jungkook memegang tangan Hyunseob erat.