ii (a).
Taeyong sedang berjalan lambat saja di koridor, pelajaran Kimia membunuhnya perlahan.
Tadi bukannya ia tak mendengar bahwa Yuta memanggil namanya, kali ini lebih baik Taeyong berjalan ke kafetaria sebelum susu stroberi itu habis.
Setiap sapaan hanya ia balas senyum tipis, terkadang membungkuk ringan dan sesegera mungkin berjalan lebih jauh, sehingga tak ada basa-basi yang diperlukan.
Ia hanya sedang tidak dalam perasaan yang baik. Tidak dalam keadaan yang baik. Tidak dalam kisah cinta yang baik pula.
Siswa kelas tiga itu mengusak rambutnya frustasi, sejak kapan mencoba berbicara kepada Yuta jadi sesulit ini?
Paling tidak sampai kedua matanya mendapati sosok tegap yang menyenderkan diri di koridor kelas dua, terdiam.
"Wajahnya tak asing," gumam Taeyong, berjalan ke arahnya, tanpa hesitat.
"Hei―"
