ii (b).
Sebelum Taeyong sempat menaikkan volume suaranya agar terdengar oleh adik kelasnya yang oh-betapa-tidak-asingnya itu, suatu pesan masuk ke dalam ponselnya.
Pemuda bersurai merah muda cerah itu menahan langkahnya agar tidak berjalan lebih jauh, paling tidak ia tak harus canggung bila harus membuka pesan di depan pemuda jangkung itu. Lebih baik Taeyong membalas apapun itu sekarang juga.
From : Yukkuri
Taetae, kau dimana? (ㆆ_ㆆ)
Tidak lucu meninggalkanku di kelas seperti ini, kamu sedang marah?
From : Yukkuri
Menjijikkan! Aku baru saja menggunakan kata 'kamu'!
From : Yukkuri
Serius, deh. Kau ke kafetaria tanpa aku? (´-ι_-`)
Kali ini kau sungguh jahat, artinya.
From : Yukkuri
Kau sungguh marah? Kenapa? Biasanya kau mengirimkanku pesan duluan...
From : Yukkuri
Taeyong, kau dimana? Ayolah...
Untuk beberapa saat, Taeyong tertegun.
Ia kira hanya ada satu pesan yang masuk. Kenyataannya ada beberapa pesan yang sedari tadi terkirim dan dua panggilan tak terjawab. Pemuda itu tersenyum sedih, mengolok Yuta dalam hati mengenai betapa manjanya dia.
Namun jarinya tertahan sebentar di layar keyboard, matanya tak berkedip, ibu jarinya juga belum menyentuh huruf yang tersedia disana. Menyadari sesuatu yang sebenarnya sedari tadi cukup mengganggunya.
Kalau ia membutuhkan Taeyong sefrekuen ini, mengapa bukan dia yang Yuta sukai?
