ii (d).

"Hei,"

Taeyong mengerjapkan mata, jemarinya masih memegang ponsel, namun kali ini lebih erat. Ia tak lagi menyentuh layarnya untuk mengetik, otaknya sedang memproses sesuatu. Suara berat dan pelan baru saja menyapa ragu, dari nada yang ia pakai pada Taeyong.

Bukannya pemuda dengan jaket yang diikat asal di pinggang itu merasa familiar atau kenal dengan suara tersebut, hanya saja, bukankah itu harusnya menjadi apa yang Taeyong ucapkan? ―pada adik kelas yang tadi?

Tangannya terjatuh ke samping tubuh, memasukan ponselnya ke saku celana dan sedikit mendongak, sebab akibat anak ini lebih tinggi darinya. Lebih dari satu dua senti, mungkin? Itu bukan promblema disaat ini, sebenarnya.

"Ya?" Suara Taeyong tak kalah serak dari suara yang tadi menyapa, "maksudku ... ada apa?"

"Lee Taeyong ... benar?"