Disclaimer: Reiichiro Inagaki & Yusuke Murata
Story Line by: Morveren Petra
.
.
.
BAB III
KETIDAK SUKAAN (II)
"Mou! Hiruma-kun! Apa yang kau lakukan?"
"Jangan cerewet manajer sialan! Cepat bereskan barang-barangmu dan pergi dari sini. Atau kubakar semua benda-benda sialan ini seperti cream puff beracun itu!"
Safir biru Mamori menatap lamat-lamat emerald hijau Hiruma. Matanya menyiratkan kemarahan, walaupun tidak terlihat diraut wajahnya yang keras dan datar. Gadis berambut auburn itu sangat mengenal pria yang ada dihadapan-nya. Mamori menghela napas, memaklumi. Tidak terlalu baik jika ia membantah ucapan Hiruma Youichi untuk saat ini.
"Tunggu… Hiruma-kun, tolong lepaskan dulu tanganmu"
Hiruma melepaskan pergelangan tangan Mamori.
"Lima belas detik manajer sialan, kuberi kau waktu limas belas detik"
"Setidaknya bantu aku merapikan barang-barangku Hiruma-kun!" Protes Mamori.
"Lakukan sendiri manajer sialan, Aku tunggu kau di depan" Hiruma mengambil jaket kulit berwarna hitamnya yang ia lempar sembarang diatas meja yang juga bersebrangan dengan meja Mamori, memakainya sembari berjalan keluar ruangan "Satu…" Katanya mulai menghitung.
"Geez" Mamori menggeleng pelan dan secepat mungkin merapikan barang-barangnya yang berserakan dan berantakan.
"Kau terlambat dua puluh detik manajer sialan" Ucap Hiruma seraya menatap arloji-nya yang ia kenakan di tangan kiri.
"Baikalah, maafkan aku tuan tepat waktu" Mamori mendegus.
"Keh! Cepat jalan manajer sialan"
"Tunggu Hiruma-kun! Aku harus mengumpulkan tugas-tugas ini dulu untuk dosenku" Ucap Mamori memamerkan tumpukan tugas yang ia dekap di depan dadanya.
"Kumpulkan besok"
"Tidak bisa, harus dikumpulkan sekarang"
Dari kejauhan mata Hiruma menangkap sesosok pria setinggi seratus sembilan puluh centimeter berjalan ke arahnya dan Mamori, jaraknya cukup jauh. Pria itu belum melihat sosok Mamori dan Hiruma, karena tertutup mahasiswa dan mahasiswi Universitas Saikyoudai yang ramai berlalu lalang di koridor, pria itu berjalan seraya membalas sapaan setiap wanita-wanita yang memberikan salam kepadanya atau sekedar menegurnya. Yamato Takeru terkenal dikalangan wanita-wanita karena ketampanan dan keramahan-nya kepada semua orang. Hiruma berdecih.
"Kau merepotkan manajer sialan"
Tangan jenjang Hiruma secara cepat menarik kerah belakang baju seorang laki-laki yang berjalan tepat disampingnya.
"Oi babi sialan!" Jari telunjuknya ia letak-kan dikening laki-laki itu dan sedikit menekan-nya "Berikan ini ke ruang dosen untuk si Murakami botak sialan itu di fakultas pendidikan! Berikan sekarang juga, atau kau akan kujadikan babi guling sialan untuk thanksgiving tiga bulan mendatang" Ucapnya kasar seraya menyambar setumpuk tugas-tugas Mamori dan memberikanya kepada laki-laki malang tersebut.
Laki-laki bertubuh gemuk itu bergetar seluruh tubuhnya mendapat tatapan dan ucapan mengintimidasi serta pemaksaan dari Hiruma.
"Ba…Baiklah! Maafkan aku tuan Hiruma!" Laki-laki itu lari terbirit-birit menuju fakultas pendidikan membawa setumpukan tugas perkuliahan Mamori. Saat itu juga Mamori khawatir apakah laki-laki itu akan mengantarkan tugasnya dengan benar dan juga merasa iba atas nasib sial yang menimpa laki-laki tersebut. Jika bertemu lagi Mamori ingin meminta maaf. Pikirnya.
"Bukankah kau terlalu kasar Hiruma-kun?"
"Aku tidak peduli, cepat kita pergi dari sini"
Jemari ramping Hiruma memegang tangan mungil Mamori dan menuntun-nya. Mamori menutup dan membuka kelopak matanya berkali-kali secara cepat, gadis itu tampak kebingungan. Baik, Hiruma bertingkah aneh sekali kali ini. Batin Mamori.
"Lewat sini manajer sialan"
"Ta..Tapi, bukannya pintu keluar lebih dekat lewat sana?" Kata Mamori menunjuk arah yang berlawanan, kearah datangnya Yamato.
"Keh, ikuti saja aku manajer sialan"
Gadis bersurai merah kecoklatan yang panjangnya sudah melewati batas dada itu hanya menrut saja, mengikuti langkah kaki yang jenjang di depan-nya, bersusah payah menyamakan iramanya. Pemilik manik safir biru menatap lekat-lekat bahu pria yang berada di hadapan-nya. Gadis itu membandingkan perubahan tubuh pria itu sekarang dan semasa SMA dulu. Cukup banyak perubahan pada dirinya, ia jauh lebih tinggi, dengan postur tubuh yang tegap dan mantap, bahu yang lebar menambahkan kesan kekokohan. Badan-nya kini sedikit berisi tidak sekurus dulu dan beserta otot-otot yang kuat terbentuk dan kekar. Mamori dapat merasakan dari cara Hiruma menggenggam tangan-nya. Erat.
Mamori tak pernah memperhatikan Hiruma sedetail ini lagi. Sejak saat itu, empat tahun yang lalu.
Kemudian, Hiruma menarik tangan Mamori dan membuatnya berada tepat disamping pria yang kini menggenggam tangan-nya.
"Jalan yang cepat manajer sialan".
Mamori merasakan jantungnya berdebar cepat, wajahnya memanas dan memerah. Mungkin ini adalah suatu pemandangan langka yang terjadi di Universitas Saikyoudai. Semua pasang mata menatap menuju kepada mereka berdua. Ayolah tidak ada yang tidak tahu siapa Hiruma Youichi dan siapa Anezaki Mamori. Sepanjang mereka berjalan, orang-orang disekitar mereka sebagian merasa shock dan heran, ada juga yang berbisik-bisik mengenai mereka. Mamori menundukan wajah, sangat tidak nyaman jika orang-orang memandanginya dan Hiruma seperti itu.
Disatu sisi pria jangkung itu melirik manajernya, ia juga mulai gerah dengan pandangan orang-orang dan suara ribut-ribut kecil yang menurut Hiruma merusak pendengaran telinganya yang tajam.
"APA YANG KALIAN LIHAT BOCAH-BOCAH SIALAN?!"
Hiruma mumuntahkan isi peluru yang keluar dari senjata api *HK MP5* kesembarang arah. Orang-orang disekitarnya lari tunggang langgang takut-takut pelurunya bersarang di tubuh mereka.
"Hiruma-kun, sudah cukup" Mamori menarik sedikit jaket yang Hiruma kenakan "Terima kasih".
"Ck… Merepotkan"
Mamori tersenyum simpul.
"Kita mau kemana Hiruma-kun?"
Sejujurnya, Hiruma tidak tahu harus membawa kemana manajer sialan-nya, untuk masalah yang satu ini ia tidak dapat berpikir panjang, tidak sedikit lebih cepat dan sedikit agak lambat. Hiruma hanya beripikir setidaknya ia, walaupun sekali lagi ia enggan untuk mengakuinya, adalah untuk menjauhkan Mamori dari Yamato. Hiruma hanya menatap lurus kejalan tanpa menggubris pertanyaan Mamori. Kedua tangan-nya ia letakkan di stir kemudi.
Mamori yang mulai merasa tidak nyaman karena keheningan mereka berdua, akhirnya angkat bicara.
"Baiklah Hiruma-kun, dari mana kau mendapatkan uang yang saangaat banyak, sampai kau mampu membeli mobil ini? Padahal kau baru kuliah".
"Apa yang kau tahu mengenai mobil sialan ini? Manajer sialan?" Hiruma terkekeh.
"Hmm… Mobilmu ini tipe SUV (Super Unit Vehicle)"
"Jelaskan secara detail manajer sialan"
"Apa imbalan-nya?" Mamori menoleh ke arah Hiruma.
"Kau sudah berani ya manajer sialan? Kekeke"
"Aku tidak pernah takut padamu tahu!"
"Kekekekeke"
"Jadi, apa imbalan-nya?"
"Apapun" Jawab Hiruma santai.
"Kau yakin?" Mamori menyipitkan kedua matanya.
"Kapan aku pernah berbohong jika masalah taruhan heh? Kekekeke"
"Baik…" Mamori mengaitakan jari telunjuk dan ibu jari di dagu, berupaya mengingat "Jeep Wrangler Rubicon 4-Doors Anniversary"
Kembali Hiruma memamerkan sederetan gigi runcingnya.
"Mobil buatan Amerika yang diproduksi oleh Perusahaan Chrysler melalui anak perusahaan-nya Jeep" Lanjut Mamori "Secara teknis, mobilmu memiliki dimensi atau ukuran panjang body 4223mm , lebar 1865 mm dan tinggi 1873 mm. Ground Clearance. Jeep Wrangler cukup tinggi yakni 254 mm atau 25,5 cm, memiliki jarak sumbu roda (wheelbase) 2423 mm dan ukuran ban 255/75R17. Oh, dan mampu berjalan di air setinggi 70 centimeter juga menghantam batu sebesar bola sepak dan harganya… Sembilan Juta Empat Ratus Empat Puluh Tiga Ratus Sembilan Puluh Enam koma Tujuh Puluh Sembilan Yen. Wow Hiruma-kun, dari mana kau punya uang sebanyak itu?"
Mamori melipat kedua tanganya di depan dada, merasa puas akan penjelasan yang ia berikan untuk Hiruma, dan berbangga hati. Sedikit bingung bagaimana cara Pria berambut spike kuning mendapatkan uang dengan jumlah sebanyak itu. Hiruma terkekeh.
"Kekekeke, sialan. Kau ingin menguras habis semua uangku heh?"
"Taruhan tetap taruhan Hiruma-kun, tepati janjimu"
"Kau mau apa manajer sialan?"
"Akan aku tunjuk-kan jalan-nya"
"Kekekekeke" Hiruma menyeringai "Mau lihat kehebatan performa dari mobil ini secara langsung manajer sialan? Kau pasti menyukai-nya. Ya-Ha" Aura hitam ditubuh Hiruma menguar.
"Kau… Jangan coba-coba Hiruma-kun" Perasaan Mamori tidak enak, ia tahu apa yang ingin kapten-nya itu lakukan.
"Sebaiknya kau cari pegangan, karena ini kendaraan 'OFFROAD' KEKEKEKEKE"
"Kau… tidak waras Hiruma-kunnn!"
Mobil Hiruma melaju dengan kecepatan tinggi, menyalip mobil lain membuat kalkson bertebaran disepanjang jalan, berkelok tanpa mengurangi kecepatan. Ia benar-benar menunjuk-kan performa mobil-nya yang sebelum-sebelum itu disebutkan oleh Mamori. Memilih jalan berbatu membuat guncangan yang kencang dan juga mencari jalan berpasir sebelum Hiruma memacu mobil-nya kembali kejalan besar.
"Hiruma-kun! Kau gila! Kau terlalu cepat! Detensi! Pelanggaran! Pelanggaran! Kau sudah banyak melakukan pelanggaran!" Mamori berteriak, ia memegang seat belt dengan erat, menutup kedua matanya, tidak ingin melihat bahaya dan kegilaan Hiruma. Dan juga ia berdoa kepada 'Kami-Sama' untuk menjaga keselamatan mereka berdua.
"Kekekeke! Kau cerewet! Kau bukan lagi anggota komite disiplin sialan itu!"
Hiruma terus memacu mobil-nya tanpa mengurangi kecepatan, tidak memperdulikan teriakan-teriakan manajer yang duduk disampingnya, malah, tawa kekehan setan-nya menjadi-jadi, Hiruma sangat menikmatinya. Berkali-kali juga mobil polisi datang mengejarnya saat mereka tiba dijalan besar dan yang satu ini sudah ke-sepuluh kalinya, meneriak-kan peringatan melalui pengeras suara, perintah untuk menepikan mobil-nya. Hiruma hanya cuek, ia bahkan semakin mengemudikan mobil-nya dengan asal. Tapi tidak bertahan lama sekelompok mobil polisi mengejar mobil yang Hiruma kendarai, dikarenakan Hiruma akan mengeluarkan kepalanya melalui kaca jendela dan menyeringai lebar kepada polisi-polisi itu. Akhirnya mereka tidak mengejar lagi, mereka takut mengetahui siapa yang mereka kejar. Kemudian ia akan mengacungkan jari tengahnya untuk segerombolan mobil polisi itu.
"Fuck the rules" Hiruma menyeringai.
Mamori memegangi kepalanya yang pusing, perutnya mual, merasakan sedikit mabuk dikarenakan, betapa gilanya Hiruma menyetir.
"Keh, kau jauh-jauh kesini hanya untuk makan kue-kue beracun itu?"
Mamori membenamkan wajahnya diatas meja makan.
"Kekekeke kau mabuk heh? Kau takut?"
"Kau sinting Hiruma-kun masih bersyukur kita tidak mati dan masuk ke dalam sel tahanan" Jawab Mamori pelan.
"Mereka tidak akan berani asal kau tahu itu manajer sialan, tidak akan kekeke"
"Yakin sekali kau Hiruma-kun"
Hiruma menyilangkan kakinya, melipat tanganya di dada, mengunyah permen karet free sugarnya. Seringai tipis kembali menghiasi wajah Hiruma. Ia mengetuk pelan kepala Mamori.
"Kekekeke"
Mamori tersenyum kecil didalam benaman wajahnya.
Tidak lama seorang pelayan lelaki menghampiri Hiruma dan Mamori takut-takut, menanyakan apa yang ingin mereka pesan. Hiruma menatap tajam pelayan itu.
"Berikan aku kopi hitam robusta, tanpa gula"
"Ba…Baiklah, satu kopi hitam robusta tanpa gula" Pelayan itu menuliskan pesanan Hiruma sedikit gemetar "Dan untuk nona ini?"
Perlahan Mamori mengangkat kepala dan menopangnya dengan tangan kanan, dengan lembut Mamori menatap pelayan itu.
"Berikan aku sepuluh porsi Cream Puff semua rasa, pastikan isi creamnya banyak, oh dan… satu teh chamomile rendah gula" Ia tersenyum.
Siapa yang tidak terpana dengan wanita cantik blasteran Jepang – Amerika ini hingga pelayan itu-pun terpana dengan pesonanya. Walaupun pelayan itu tidak menyadari pesanan yang diminta terlalu banyak untuk porsi seorang wanita.
"Lihat apa kau pelayan sialan? Cepat pergi" Bentak Hiruma
"Maafkan saya" Pelayan itu tersadar dari lamunanya, sedikit membungkuk dan lalu pergi secepatnya meninggalkan customer yang unik ini tentunya. Gadis blasteran itu hanya menghela napas dalam.
"Lebih sopan sedikit Hiruma-kun"
"Siapa peduli manajer sialan?"
"Mou!"
"Lagi pula porsi makanmu itu setara sekali dengan gendut sialan, pantas gula ditubuhmu menumpuk dan kau jadi membengkak kekeke" Hiruma mengejek Mamori
"Apa pedulimu kalau aku gendut huh?"
"Kekeke, aku kira kau akan meminta dibelikan kapal pesiar atau… Pabrik Cream Puff sialan atau… pabrik yang berisi cemilan makanan beracun kekekekeke"
"Hei! Untuk apa aku meminta itu?"
"Tidak heran jika kau yang memintanya" Katanya menunjuk ke arah Mamori.
"Singkirkan tanganmu, lagian jika aku meminta hal semacam itu, seperti kau akan memberikanya"
"Tentu"
"Benarkah?" Mamori memicingkan kedua matanya, tak percaya.
"Tentu saja… TI-DAK MUNG-KIN" Balas Hiruma dengan menekankan beberapa kalimat, ia terkekeh geli.
Mamori jengkel, ia menendang tulang kering kaki Hiruma cukup keras, membuat Hiruma sedikit meringis.
"Rasakan itu!" Mamori menjulurkan lidahnya.
"Kau…!" Hiruma balas menatap galak Mamori.
"Biar saja kau menyebalkan dan aku tidak takut denganmu" Tunjuk Mamori.
"Ck… Manajer sialan!"
Terjadi pertengkaran kecil diantara mereka berdua, pertengkaran yang juga memberikan arti kecil yang mendalam diantara dua insan yang berbeda. Semua orang dimeja makan memperhatikan mereka, lucu. Namun, yah, Hiruma dan Mamori tidak pernah menyadarinya,. Sesampai pesanan mereka berdua diantarkan mereka tidak kunjung berhenti. Sesekali Mamori memakan Cream Puff sambil mengomeli Hiruma yang mencacinya atau Cream Puff-nya dengan kata-kata kasar. Atau mengomelinya ketika Hiruma memberikan julukan-julukan aneh tidak lupa dengan embel-embel 'Sialan' ke pejalan kaki di trotoar yang ia lihat.
"Sudah cepat habiskan makananmu, monster sus sialan. Jangan terlalu banyak mengoceh. Kelamaan disini aku bisa mati keracunan kebanyakan menghirup gas metana".
"Huh!"
Hiruma menyesap kopinya, pandanganya menerawang jauh keluar jendela, lalu dalam diam melirik Anezaki Mamori. Kali ini ia tersenyum samar. Dan kali ini pula dirinya mengakui, ada kebahagiaan yang tersirat di hatinya dan kehangatan yang menjalar masuk di tubuhnya. Tidak lama air mukanya kembali mengeras, mengingat setiap kata-kata Yamato Takeru. Ia mengakui di dalam hatinya, tidak ada satupun yang bisa merebut Anezaki Mamori dari dirinya.
Pria berwajah tampan dengan rambut spike kuning itu kini sedikit demi sedikit mulai bisa menerima kehadiran sesuatu yang asing di dirinya, pada awalnya ia tidak mau mengakui perasaan yang tumbuh di dalam dirinya, ia hanya beranggapan perasaan itu hanya akan mengganggu dirinya dan karakteristiknya sebagai 'The Commander From Hell'. Dikarenakan juga gengsi-nya yang luar biasa besar. Namun seiring waktu berjalan, semua manusia berubah, tidak terkecuali Hiruma, dia tetaplah seorang manusia biasa yang mungkin memang 'melebihi batas normal,' tapi manusia tetaplah manusia. Hiruma juga berhak merasakan 'Kasih Sayang' yang tak pernah ia dapatkan selama hidupnya. Anezaki Mamori lah yang dapat menghancurkan dinding pertahanan terkuat di dalam diri Hiruma Youichi. Sedikit demi sedikit, dan secara perlahan.
"Jauhi si rambut liar sialan itu"
Mamori menatap Hiruma bingung.
"Maksudmu?"
"Aku bilang jauhi si rambut sialan itu"
"Untuk apa? Yamato-kun orang yang baik kok"
Hiruma Tidak menyukai kata-kata yang terlontar dari bibir mungil Mamori.
"Kalau aku bilang jauhkan ya jauhkan manajer sialan! Tidak usah kau banyak tanya!"
"Kau aneh Hiruma-kun, kau bersikap aneh akhir-akhir ini. Kau membakar Cream Puff-ku tanpa alasan, dan kau tiba-tiba membawaku pergi. Sebenarnya kau ini kenapa?"
"Dengar…" Kesabaran Hiruma mulai habis, ia memajukan wajahnya mendekati wajah Mamori hingga tersisa jarak sejengkal diantara mereka "Cukup jauhi dia manajer sialan! karena aku tak suka melihatnya" Katanya, sangat pelan seperti berbisik di akhir kalimat.
Hiruma kembali duduk, menyelipakan kedua tangan disaku celana, mengalihkan pandanganya keluar jendela. Mamori membulatkan matanya, mulutnya tertahan di udara.
"Karena aku tak suka melihatnya" Kalimat itu terus berputar di pikiran Mamori.
Ia menatap Hiruma. Matanya mencari-cari berupaya menerka air wajah yang saat ini Hiruma tampak-kan.
"Tatap aku Hiruma" Ucap Mamori.
Hiruma menoleh.
Sekali lagi Mamori membulatkan mata-nya, menyiratkan kilatan di mata hijau Hiruma.
Ini kah sosok lain yang aku tahu dari seorang Hiruma Youichi?
Disisi lain-nya.
Yamato Takeru, bersandar di dinding dekat pintu masuk ruang klub, tangan-nya terlipat di dada, tersenyum yang menyiratkan perasaaan benci atau tidak suka. Sebelum itu, ia melihat pria yang membawa pergi manajer tim-nya ke arah lain, menjauh dari diri-nya.
"Lain kali Hiruma Youichi, lain kali…"
Pria berambut hitam dan memang sedikit liar itu pergi meninggalkan koridor ruang klub.
To Be Continue
Morveren: Terima kasih untuk yang sudah membaca dan yang mereview, silahkan ditunggu chapter berikutnya ^^ Ini ceritanya agak saya panjangin nih hahahaha XD. Oh iya, cerita ini akan di update 1 minggu sekali. Dan kalau author sibuk mungkin paling telat 2 minggu sekali, mohon pengertiannya. Saya juga agak kesulitan untuk membuat setiap karakter tetap pada sifat aslinya. Tapi untuk Hiruma menurut saya, he's not bad at all, kalau di review-review anime sama manga-nya (saya maraton nonton lagi dan baca lagi hahaha ) yang saya liat terkadang Hiruma nunjukin sisi kebaikannya kadang juga suka senyum (bukan seringai) ya walaupun gak diliatin ke lawan bicaranya sih. Tapi ya saya berusaha gak menghilangkan sifat aslinya Hiruma, dia emang paling susah (jedotip kepala ketembok). Yah At last but not least, tolong tinggalkan review kalian dikolom komentar, review dari para pembaca sangat berarti untuk saya agar tetap semangat melanjutkan fic ini. Terima Kasih :)
Catatan Tambahan:
*HK MP5*
HK MP5 (Heckler & Koch Machinepistol 5) adalah pistol mitraliur yang diproduksi oleh perusahaan senjata Jerman Heckler & Koch mulai tahun 1960-an.
Sejarah
MP5 diperkenalkan oleh Heckler & Koch (HK) pada tahun 1966, dengan nama HK54. Nama ini berdasarkan cara penamaan lama HK: "5" untuk pistol mitraliur, dan "4" berarti berkaliber 9 x 19 mm. Nama barunya mulai dipakai ketika senapan ini resmi diadopsi oleh Jerman Barat untuk dipakai polisi dan penjaga perbatasan, yaitu Maschinenpistole 5 atau MP5. GSG-9, unit anti-teroris penjaga perbatasan, lalu memperkenalkan MP5 ini ke satuan anti-teroris Barat lainnya.
Tidak mudah memiliki senjata jenis ini, karena penjualan-nya sangat dibatasi. Bahkan TNI pernah ditolak membeli senjata ini.
Senjata tersebut memiliki tingkat akurasi dan keandalan yang tinggi, serta di produksi denga banyak varian, sehingga menjadi kebutuhan militer dan para penegak hukum di lebih dari 50 negara di dunia. Selain itu sangat mudah dioperasikan dan mudah perawatan-nya.
Tipe
Pistol Mitraliur
Negara Asal
Jerman
Sejarah Pemakaian
Masa penggunaan: 1996-Sekarang
Perancang Produksi
Perancang: Tilo Moller, Manfred Guhring, George Seidl, Halmut Baureuter
Tahun: 1994
Produsen: Heckler & Koch
Diproduksi: 1996-
Spesifikasi
Berat: 2,54 kg (MP5A2), 2,88 kg (MP5A3)
Panjang Popor Tetap: 680 mm (26,8 in)
Popor Lipat:
*490 mm (masuk)
*660 mm (keluar)
Panjang Laras: 225 mm
Peluru: 9x19 mm Luger
Mekanisme Blowback, bolt tertutup, rata-rata tembakan \t800 butir/detik
Kecepatan Peluru: 270 m/s
Jarak Efektif: 200 m
Amunisi Magazen Box: 30 atau 100 butir
Alat Bidik
Bidikan besi
