Discalimer: Reiichiro Ingaki & Yusuke Murata

Story Line by: Morveren Petra

.

.

.

BAB III

KETIDAK SUKAAN (IV)

Mamori terduduk disudut tempat tidurnya, kedua kakinya ia tekuk di depan dada, kepalanya ia topangkan diatas lutut., gadis besurai auburn itu masih memikirkan pernyataan yang terlontar dari mulut kapten klub American Football-nya, beberapa kali Mamori menghela napas dalam, tidak mendapatkan jawaban apapun. Gadis itu sama sekali tidak mengerti. Kenapa ia harus menjauhi Yamato Takeru secara tiba-tiba, kenapa Hiruma begitu tidak suka ketika setaip kali Mamori menyebutkan nama Yamato. Mamori tambah tidak mengerti, lalu ia mengacak surai indahnya yang basah, gundah.

Tepat satu jam lalu Hiruma mengantarkan Mamori ke apartemen dimana ia tinggal dengan selamat. Mamori bersyukur masih ada kewarasan yang tertinggal di otak Hiruma, ia tidak memicu kendaraannya seperti orang kesetanan ketika mengantarkannya pulang.

"Oh dia itu terkadang sungguh sangat sulit untuk ditebak" Gerutu Mamori.

Lalu Mamori menghempaskan tubuhnya ke kasur yang berseprai merah muda, menatap langit-langit kamar bercat putih, sebenarnya, seluruh ruangan yang di dalam apartemenya bercat putih, gadis itu tak berniat mencampurkan warna lain, menurutnya warna putih adalah yang terbaik, warna itu bersih dan netral.

Ruangan apartemennya bertipe 42 yang sebenarnya terlalu besar untuk di tempati sendiri. Namun, kedua orang tua Mamori memaksanya "Agar putri semata wayangnya hidup dengan nyaman" dalih mereka. Gadis itu seringkali menolak merasa tak enak, karena biaya sewa apartemen yang ia tempati terbilang cukup mahal. Tapi seberapa keras pun Mamori menolak, maka kedua orang tuanya akan dua kali lipat lebih keras lagi, Mamori menyerah. Barang-barang beserta perabotan juga tersusun dengan sangat rapi masing-masing itu diletakkan ditempat yang tepat dan enak untuk dipandang, sepertinya Mamori juga memilik sense desain interior. Sangat cocok dengan kepribadian gadis itu.

Tak lama pandangan gadis bermanik biru safir itu sedikit demi sedikit memburam. Rasa kantuk tak bisa dibendung lagi olehnya, tubuh dan manik biru itu perlu beristirahat. Mamori jatuh tertidur dengan pulas.

.

.

.

Keesokan harinya, gadis bersurai auburn itu berjalan dengan langkah gontai disepanjang koridor Universitas, kelas keduanya telah usai dan tak ada jadwal lagi untuk memasuki kelas berikutnya. Hari ini ia tidak memperhatikan betul dosen yang memberikan materi kuliah, kepalanya terasa sedikit berat dan pening. Ia berniat mengecek ruang klub terlebih dahulu sebelum pulang ke apartemennya, beruntung Hiruma meliburkan latihan selama satu pekan, karena beberapa diantara anggota tim sedang melangsungkan ujian tengah semester. Sesekali ia berhenti berjalan untuk memijat pelan keningnya yang sedikit berdenyut sakit.

Mamori juga memegangi perutnya yang mulai terasa mual, ia bersandar di dinding bermaksud beristirahat sementara menghilangkan rasa mual namun malah pandangannya semakin mengabur dan bertambah gelap. Ia kehilangan kesadaran.

Dengan cepeat sepasang tangan kekar menangkap tubuh Mamori yang hampir terjatuh kelantai.

"Safe—" Katanya, kemudian menggendong Mamori dipelukannya "Kau kacau sekali Anezaki-san".

.

.

.

Mamori mengerjapkan matanya berkali-kali, pandangannya sedikit mengabur. Perlahan manik biru safir Mamori terlihat jelas warnanya begitupun juga pandangannya. Ia menatap kosong langit-langit ruangan yang bercat putih seperti apartemennya. Mamori juga tidak yakin bahwa ia sedang berada dikamarnya, karena pondasi langit-langit kamarnya tidak bersekat-sekat kecil berbentuk persegi seperti yang ia lihat saat ini, dan ia sangat yakin tidak memiliki lampu penerang yang berukuran panjang di apartemennya. Lagi pula ruangan ini berbau obat-obatan yang cukup menyengat.

"Kau sudah baikan Anezaki-san?"

Mamori melirik pria bersurai hitam disampingnya, eskpresi kecemasan terlihat di wajah pria itu.

"Yamato-kun? Sedang apa disini?" Tanya Mamori yang suaranya sedikit serak.

"Kau tak ingat apapun Anezaki-san?" Yamato balas bertanya.

"Nee?"

Mata Mamori terpejam, otaknya berusaha mengingat apa yang telah terjadi dengannya. Oh baiklah ia ingat, ia kehilangan kesadaran saat ingin menuju ruang klub karena rasa pening dikepalanya yang luar biasa. Tapi ia tidak ingat siapa yang membawanya keruang Unit Kesehatan Mahasiswa.

"Kau yang membawaku kesini Yamato-kun?" Tanya Mamori.

"Yeah" Yamato tersenyum.

Mamori bangkit dari posisi tidurnya, "Ah—" Ia memegangi kepalanya yang masih sakit.

"Ya Tuhan, harusnya kau tidak perlu bangun dulu Anezaki-san, kau masih belum baikan" Yamato memgangi kedua lengan Mamori, matanya menatap wajah gadis itu dengan penuh kecemasan.

Mamori tersenyum lembut "Maafkan aku telah sangat merepotkanmu Yamato-kun".

Pria bersurai hitam itu menggeleng pelan "Bukan masalah besar Anezaki-san, jangan kau pikirkan" Pria itu menyunggingkan senyumnya, membalas Mamori, lalu ia memberikan segelas air putih dan dua butir obat pereda demam dan mual.

"Minumlah, pengurus UKM yang memberikannya kepadaku, ini obat penurun demam dan mual" Katanya.

"Terima kasih Yamato-kun, kau baik sekali"

Mamori lalu meminum air yang Yamato berikan dan obatnya sekaligus, menenggak airnya habis, entah mengapa tenggorokannya terasa kering sekali, dan terasa panas.

"Omong-omong, kenapa kau bisa roboh seperti ini Anezaki-san? Aku tak pernah melihatmu sakit?"

"Ah mungkin aku terlalu lelah dan semalam aku mandi tanpa mengeringkan rambut terlebih dahulu" Mamori menaruh gelas di meja tepat disebelah kanan kasurnya "Mungkin aku tidak enak badan…" Lanjutnya.

"Aku antar kau pulang Anezaki-san, dimana rumahmu?" Yamato lalu berdiri dari posisi duduknya.

"Eh? Aku masih mampu pulang sendiri Yamato-kun, lagi pula aku sudah mulai baikan, jadi terima kasih, tak perlu repot-repot" Tolak Mamori.

Yamato menghela napas "Oh ayolah Anezaki-san, aku akan terlihat seperti pria yang tidak punya hati dan tidak bertanggung jawab membiarkan seorang gadis yang sedang sakit pulang sendiri, padahal aku yang memapahnya sampai Unit Kesehatan Mahasiswa" Yamato terlihat lesu, ia menundukkan wajahnya dalam.

"Apa… Hiruma-san menyuruhmu untuk menjauhiku?" Manik Hitam Yamato menatap manik biru safir Mamori "Benar kan?" Lanjutnya.

"Um… Itu" Jawab Mamori tergagap.

Mamori yang merasa tak enak berpikir sebentar. Ia juga kembali mengingat ucapan Hiruma "Jangan dekati si rambut sialan itu" ya, pertanyaan Yamato tadi memang benar, tapi Mamori tak mungkin meng 'Iya' kan. Kepalanya kembali berdenyut, kenapa juga ia harus menjauhi Yamato? Lagipula ia tidak jahat sama sekali. Mamori menepis ucapan Hiruma yang berngiang selama ini di dalam pikirannya. Ia menghela napas.

"Baiklah, tapi jangan mengeluh jika aku merepotkanmu" Mamori terkikik.

"Tidak akan pernah Anezaki-san" Yamato tersenyum lebar, merasa sangat senang ketika Mamori menerima tawarannya.

"Oh iya, ngomong-ngomong… Apa Yamato-kun tahu dimana barang-barangku?" Tanya Mamori.

"Ah! Tentu, aku akan mengambilkannya"

Yamato bergegas menuju meja yang berada di balik tirai sebelah kanan Mamori, mengambil tas jinjing Mamori dan beberapa buku-bukunya. Tak lama ia kembali lagi membawa semuanya.

"Apa kau bisa berjalan Anezaki-san? Kepalamu sudah tidak sakit?" Yamato memberikan tas dan buku-buku Mamori kepadanya.

"Kurasa iya, dan sudah lebih baik" Jawab Mamori tersenyum.

"Kau yakin?" Yamato menegaskan sekali lagi.

Mamori membalas hanya dengan anggukan kecil.

"Kau ingin pulang sekarang atau menunggu beberapa menit lagi?"

"Jam berapa sekarang Yamato-kun?"

Yamato mengecek arlojinya yang ia kenakan di tangan kanan.

"Jam enam lewat lima belas menit" Jawabnya.

" Astaga sudah berapa lama aku tertidur?" Mamori mendelik kaget.

" Tiga setengah jam Anezaki-san"

"Jadi kau menungguku selama itu?" Ucap Mamori sedikit meninggikan suaranya.

Yamato hanya membalasnya dengan senyuman kecil. Gadis itu tak habis pikir mengapa Yamato mau membuang-buang waktunya hanya untuk menungguinya tertidur. Lalu Mamori menggeleng pelan.

"Ah, maafkan aku Yamato-kun" Mamori berkata lirih.

"Untuk apa Anezaki-san meminta maaf? Hahaha itu tidak jadi masalah Anezaki-san, justru… Aku… lebih khawatir… kalau kau kenapa-kenapa… jadi yah…" Semburat merah terlihat diwajah pria berparas tampan tersebut, sedikit terbata dalam berucap, jantungnya berdegup cepat pandangannya ia alihkan kearah lain.

Gadis bersurai merah kecoklatan itu hanya tersenyum simpul melihat gelagat Yamato.

"Baiklah ayo kita pulang Yamato-kun" Ucap Mamori, sedikit terkikik melihat Yamato yang salah tingkah.

"Y… Ya" Jawab Yamato menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

Dengan cekatan Yamato membantu Mamori berdiri dari ranjang yang gadis itu tiduri, menawarkan untuk membawakan tas jinjing Mamori, dan Mamori mempersilahkannya. sejujurnya Mamori masih merasa lemas di seluruh badan, namun ia memaksakan untuk tetap berdiri dan segera pulang agar ia bisa beristirahat dengan baik dirumah, hari juga sudah mulai sore dan dalam satu jam lagi seluruh kegiatan di Universitas akan berakhir tak ada gunanya juga ia berlama-lama beristirahat di UKM, pikirnya tegas.

Yamato mengulurkan tangannya kepada Mamori, dengan sedikit ragu Mamori menerima sambutan tangan Yamato.

.

.

.

Hanya derap langkah kaki mereka yang membuat bising koridor lantai dua, dikarenakan sudah banyak mahasiswa dan mahasiswi meninggalkan gedung Universitas Saikyoudai, perlu diingatkan di Universitas ini tidak memiliki kelas malam atau kelas karyawan, dan mewajibkan seluruh mahasiswanya pulang sebelum jam yang ditentukan. Yamato yang terus menggenggam tangan Mamori selama perjalanan hanya terdiam dan menatap lurus kedepan. Mamori memperhatikan tangan mereka yang berpegangan. Ah ya, jika dibandingkan denga tangan Hiruma jelas tangan Yamato lebih besar dari Hiruma sehingga telapak tangan Mamori tenggelam digenggaman tangan Yamato. Dan Yamato sangat tinggi, cukup jauh perbedaan tinggi diantara dirinya dan pria bersurai hitam itu. Baik debaran jantung Mamori dan Yamato berdetak dengan cepat. Mungkin jika derap langkah kaki mereka tidak terlalu bising, mereka berdua bisa mendengar debaran satu sama lainnya.

Kejadian ini mirip hari kemarin, dimana Hiruma juga menggandengnya selama perjalanan keluar kampus. Dan mengingat itu jantung Mamori berdebar lebih cepat dan semburat merah menghiasi pipi mungil gadis bermanikkan biru safir tersebut, lalu ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, membuang ingatan-ingatan yang masih tersimpan di memori otaknya yang cerdas.

"Tenanglah jantungku… tenanglah" Ucap Mamori dalam hati berupaya menenangkan dirinya sendiri, ia tidak mengerti kenapa ia bisa sangat berdebar bila mengingat nama Hiruma Youichi.

Yamato yang merasakan pergerakan dari arah belakang, menghentikan langkahnya dan menengok kearah gadis yang ia genggam.

"Kau tidak apa-apa Anezaki-san? Kepalamu sakit lagi?" Ujar Yamato cemas.

"Ah! Maaf Yamato-kun aku tidak apa-apa" Jawab Mamori sembari menyunggingkan senyuman kikuk.

Yamato melepaskan genggaman tangannya dan berkacak pinggang.

"Hah~ Sepertinya memang harus kugendong ya".

Tanpa meminta persetujuan dari Mamori, Yamato langsung mengangkat tubuh Mamori, tangan kirinya menahan punggung gadis itu dan satunya lagi menumpunya dibawah kedua lutut Mamori, lalu ia mengertakan pegangannya.

Mamori yang sangat kaget tak bisa berkata apa-pun, wajahnya memanas secara tiba-tiba. Yah kali ini jantung gadis itu berdebar dengan sangat cepat.

"Turunkan aku Ya…Yamato-kun!" Mamori sedikit meronta sekujur tubuhnya benar-benar memanas "Tidak enak dilihat yang lain nanti"

Yamato menerawang keseluruh sudut koridor.

"Oh ya? Disini sepi tuh, jadi tak masalah" Ucap Yamato santai sembari tertawa, ia merasakan tubuh Mamori yang menegang, Yamato makin mengeratkan otot-otot tangannya.

"Ta... Tapi kalau ada yang lihat bagaimana?" Mamori masih berusah mencoba melepaskan dirinya dari Yamato, mengingat tubuh Mamori yang masih lemas dan sedikit bertenaga mungkin itu adalah hal yang sia-sia.

"Bagaimana ya~ hmm…" Yamato berpikir jahil "Ah ya bagaimana kalu… Yah… Setidaknya aku pernah menyandang julukan Eyeshield-21 kan?" Bola mata hitam milik Yamato menatap manik biru safir wanita yang digendongnya, Yamato tersenyum lebar kepada Mamori memamerkan deretan giginya yang putih bersih dan rapi.

Ucapan Yamato membuat Mamori tertegun dan membulatkan bola matanya.

"Oh tidak Yamato, jangan kau lakukan" Nada mengancam terdengar dari suara Mamori.

Namun Yamato tak mengindahkannya, ia sedikit melebarkan kedua kakinya lalu menekuknya, mengambil ancang-ancang dan bersiap memperkuat otot-otot paha, betis dan telapak kakinya. Mamori menatap Yamato tak percaya, pria itu masih menyunggingkan senyum lebar di wajahnya. Kemudian ia melesat dengan cepat. Mamori yang berada di gendongannya melingkarkan kedua tangannya di leher Yamato dengan sangat erat, matanya terpejam sedikit takut, namun anehnya walaupun Yamato berlari dengan sangat cepat Mamori hanya merasakan bahwa tubuhnya seperti melayang diterpa angin serta wangi tubuh Yamato yang maskulin menyeruak ke penciumannya, membuat jantungnya lagi-lagi berdebar dengan cepat. Wajah Mamori ia benamkan di dada Yamato yang bidang.

.

.

.

"Anezaki-san… Anezaki-san"

Perlahan Mamori membuka matanya, menatap wajah pria dihadapannya, pria itu hanya balas tersenyum. Lalu matanya menelusuri sekeliling, Yamato membawanya ke area parkir kendaraan di lantai dua. Hanya tersisa dua mobil, yang terletak di paling ujung dan mobil sedan hitam terparkir tepat disamping Yamato dan Mamori.

"Kita sudah sampai" Dengan perlahan Yamato menurunkan Mamori. Lalu ia bersandar di mobil sedan bercat hitam metallic yang moncongnya terparkir menghadap utara, dada Yamato bergerak naik dan turun secara cepat, menghirup oksigen sebanyak mungkin, peluh terlihat di kening dan lehernya, mungkin ia berlari terlalu cepat menurutnya. Mamori yang melihatnya khawatir seketika.

"Yamato-kun! Kau baik-baik saja?" Tangan mungil Mamori mengelus-elus punggung Yamato secara perlahan, ia khawatir. Pria dihadapannya menoleh kearah Mamori dan mulai tertawa.

"Hahahaha kau tahu Anezaki-san? Ini pertama kalinya dalam hidupku aku melakukan hal seperti tadi! Sangat menyenangkan sekali" Ucap Yamato, ia tertawa cukup keras, bisa dilihat kebahagiaan yang terlihat sebagaiman ia tertawa.

"Mou Yamato-kun! Tidak lucu tahu!" Jawab Mamori sebal.

"Maaf-maaf… setidaknya" Tangan jenjang Yamato mengambil segenggamg surai cokelat kemerahan milik wanita disampingnya, tawanya berubah menjadi sebuah senyuman lalu ia mengecup surai auburn milik Mamori "Saat ini aku sangat bahagia" Kemudian ia menatap Mamori teduh. Pandangan matanya tak lepas dari safir biru Mamori.

Lagi-lagi Mamori merasakan wajahnya memanas melihat ketulusan dari Yamato, ia menundukkan wajah menghindari kontak mata dengan Yamato, kedua tangannya memainkan ujung kausnya dan sedikit meremasnya. Wanita itu sedikit malu.

Secara perlahan Yamato mengelus-elus kepala Mamori, membuat Mamori menjadi salah tingkah.

"Yasudah mari kita pulang" Ucap Yamato sembari merogoh sesuatu dari kantung celana disebalah kiri, ia menarik benda tersebut dan itu adalah sebuah kunci mobil. Lalu ia menekan tombol kecil bergambar gembok yang terbuka di bantalan hitam terbuat dari pelastik yang tergantung di lubang kepala kunci. Lampu depan mobilnya berkedip sekali dan terdengar suara kunci dalam mobil yang terbuka. Yamato lalu membuka pintu sebelah kiri mobilnya dan mempersilahkan Mamori masuk.

"Masuklah Anezaki-san" Ucap Yamato

"Terima kasih Yamato-kun" Balas Mamori tersenyum.

Tepat sebelum Mamori memasuki mobil Yamato. Mamori merasakan sesuatu yang menarik tangannya dan menahannya untuk masuk. Lalu ia menoleh. Dihadapannya terlihat Hiruma yang menggenggam pergelangan tangan Mamori. Emerald hijau Hiruma menatap mata Mamori tajam, Mamori membulatkan matanya lebar, balas menatap pria dihadapannya. Napas pria bersurai kuning pucat itu memburu, terlihat peluh keringat di sekitar wajahnya.

"Jangan pulang bersamanya" Ucap Hiruma, ia melontarkan kata-katanya dengan nada tinggi. Lalau ia menarik Mamori pergi tanpa memperdulikan Yamato yang tepat berada disampingnya.

Mamori tidak dapat mengucapkan sepatah kata apapun, wanita itu masih terlihat shock lantaran bagaimana Hiruma bisa tahu ia berada disni.

"Apa yang kau lakukan Hiruma?" Yamato ikut menarik sebelah tangan Mamori, Mamori menatap kearah Yamato nada suaranya berubah meninggi, manik hitamnya berkilat marah. Hiruma lalu menghentikan langkahnya dan menoleh. Mamori juga melihat manik emerald hijau Hiruma yang berkilat penuh kemarahan.

"Aku membawanya pergi, ada masalah rambut liar sialan?" Ucap Hiruma sinis.

"Tentu menjadi masalah, aku yang akan membawanya Hiruma, jadi lepaskan tanganmu" Jawab Yamato tak kalah sinis.

"Che! Dia manajerku dan aku ada urusan dengannya, kau yang harusnya melepas tangan sialanmu itu berengsek" Hiruma makin mempererat genggaman tangannya membuat Mamori sedikit meringis.

"Dia manajermu? Jangan seenaknya, Anezaki-san manajerku juga! Dan kau tidak ada hak untuk membawanya pergi" Yamato juga makin mengeratkan genggamannya.

Hiruma menatap Yamato dengan sangat tajam, giginya bergemelatuk, ia terlihat sangat marah. Mamori yang berada ditengah keduanya merasa tak enak dan makin tidak mengerti apa yang terjadi diantara mereka berdua.

"Oh, jadi kau benar-benar ingin merasakan kepalamu berlubang dengan pistolku rambut liar sialan?"

"Silahkan kau ancam aku, aku tidak takut terhadap ancamanmu Hiruma"

Kali ini Hiruma benar-benar marah, wajahnya memerah, ujung pistol miliknya ia letakkan di kening Yamato dan menekannya kuat. Mamori tahu ini sangat berbahaya, bisa jadi Hiruma tidak main-main atas ucapannya kali ini. Sorot mata Yamato juga seakan menantang Hiruma dan berkata "Coba saja ledakkan kepalaku jika kau berani'. Hiruma lalu menggeram, kemarahannya mulai memuncak terlihat di urat-urat lehernya yang menyembul keluar.

"Sudah cukup Hiruma-kun, Yamato-kun!" Mamori sedikit berteriak mencoba meleraikan perdebatan diantar mereka berdua yang jelas Mamori tidak mengerti.

Baik Yamato dan Hiruma bersama-sama memandang kearah wanita yang berada di tengah-tengah mereka berdua.

"Kau bisa turunkan senjatamu Hiruma-kun" Pinta Mamori dengan nada tegas "Dan Yamato-kun, tolong lepaskan tanganmu"

Hiruma lalu menurukan senjatanya yang bertengger dikening Yamato dan berdecih, namun kedua matanya memicing tetap mengawasi pria bersurai hitam di depannya, begitu pula dengan Yamato, melepaskan pergelangan tangan Mamori yang ia genggam. Mamori masih merasakan kemarahan di dalam diri Hiruma, lalu ia mendekat kepada Hiruma dan sebelah tangannya yang bebas menyentuh dada Hiruma, tubuh Hiruma sedikit tersentak lalu ia menatap wanita yang berjarak satu centimeter dihadapannya, manik biru Mamori menatap sayu wajah pria dipelupuk matanya saat ini dan menggeleng pelan, berusaha menenangkan pria yang memang ia kenal temperamen. Darah mendidih yang seakan meluap dan siap membuat kepalanya meledak-ledak kini mulai mereda, napasnya mulai teratur tidak memburu seperti tadi.

Pria bersurai kuning itu mulai tenang, kemarahan di dalam dirinya perlahan hilang, setidaknya ia bisa berpikir normal kali ini, jika saja Mamori tidak menghentikannya ia mungkin akan benar-benar meledakkan kepala Yamato tanpa segan-segan.

"Yamato-kun aku rasa aku harus pulang bersama Hiruma, maafkan aku" Mamori sedikit membungkuk. Dengan pasrah Yamato hanya menghela napas dalam dan menyunggingkan senyum yang memang terpaksa ia merasa sangat tak enak dengan Yamato, bagaimanapun Yamato telah menolong Mamori dan merawatnya ketika ia sakit.

"Lain kali kita akan pulang bersama, Yamato-kun dan terima kasih telah merawatku" Ujar Mamori sembari memegang lengan Yamato dan tersenyum, tersirat pula di mata Mamori rasa penyesalan dan tidak enak hati.

Melihat senyum tulus Mamori kemarahan yang berada di dalam diri Yamato juga sedikit demi sedikit mereda. Sungguh senyuman yang memang bisa meluluhkan hati siapapun yang melihatnya, bahkan Hiruma yang terkenal dengan arogansi—nya dapat luluh lantah, untuk yang satu itu Yamato mengakuinya. Yamato tidak membalas ucapan Mamori, ia hanya menganggukkan kepalanya pelan. Otak Yamato yang juga cerdas telah kembali berfungsi normal, menurutnya pilihan Mamori untuk pergi bersama Hiruma memang tepat, lebih baik seperti itu pikirnya. Walaupun jauh didalam hati pria jangkung itu sangat tersayat.

"Tidak ada lain kali" Ucap Hiruma menggenggam tangan Mamori dan pergi meninggalkan Yamato yang masih mematung ditempatnya.

Mamori menoleh kearah Yamato, ia hanya mengangkat sebelah tangannya berisyarat bahwa ia baik-baik saja dan dibalas Mamori dengan anggukan singkat.

.

.

.

Kini Hiruma dan Mamori duduk terdiam didalam mobil milik Hiruma, ia tak menyalakan mesin mobilnya, hanya terpaku menatap kosong kedepan dan kedua tangannya mencengkram setir kemudi. Begitupun dengan Mamori, ujung jari-jarinya ia mainkan, wanita itu gelisah. Ia sangat merasa tidak enak sama sekali dengan Yamato. Namun disisi lain ia juga tidak dapat mengabaikan Hiruma yang seperti tadi, Mamori telah mengenal Hiruma tidak satu atau dua tahun lamanya ia tahu seperti apa Hiruma itu dan Mamori pikir mungkin ia memilih pilihan yang tepat. Dan mengapa juga ia harus memilih Hiruma? Itu menjadi sebuah tanda tanya besar di benak Mamori.

"Apa yang kau lakukan bersamanya?" Hiruma berbicara datar tanpa menoleh kearah Mamori.

"Tidak ada Hiruma-kun" Jawab Mamori

"Jangan mengelabuiku manajer sialan"

"Kami tidak melakukan apapun, kenapa kau begitu marah?"

Hiruma memandang Mamori dalam, memamerkan senyum sinisnya.

"Kau masih Tanya kenapa heh? Apa yang telah ia berikan untukmu?"

Mamori mengerenyitkan dahinya, tak percaya apa yang diucapkan Hiruma.

"Apa maksudmu Hiruma-kun? Kau pikir aku ini apa?" Intonasi suara Mamori mulai meninggi, Hiruma memberikan pertanyaan yang seolah-olah Mamori sangatlah rendahan.

"Jawab saja pertanyaanku sialan!" Hiruma kini berteriak.

Tubuh Mamori tersentak dan bergetar, matanya mulai berkaca-kaca, tanpa sadar air mata turun perlahan membasahi kedua pipinya. Ia mulai terisak. Hiruma yang mendengarnya menoleh.

"Kau mau tahu?" Suara Mamori sedikit bergetar "Aku sakit dan dia yang merawatku sedari tadi siang hingga aku kembali sadar, apa itu yang dilakukan macam-macam hei Hiruma?" Mamori tersenyum sangat sinis, air matanya mengalir bertambah deras merasakan sakit dihatinya.

Hiruma tertegun. Pria bermanik hijau itu tak dapat berkata-kata, tenggorokannya seakan tercekat sehingga tak mampu mengucapkan sepatah kata apapun. Mamori langsung membuka tuas pintu mobil Hiruma dan beranjak keluar.

"Mau kemana kau manajer sialan?"

"Pulang dan jangan coba-coba mengikutiku" Mamori berbalik menghadap Hiruma "Kau tahu, kau itu sungguh keterlaluan Hiruma-kun" Kemudian ia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat "Aku… sangat membencimu" Ucap Mamori lirih dan membanting pintu mobil Hiruma dengan cukup keras. Lalu ia berlari dengan sisa tenaganya.

Mamori benar-benar merasakan pilu dihatinya, kenapa Hiruma bersikap seperti itu terhadapnya dan kenapa Hiruma tak pernah mau jujur sedikitpun dengan Mamori atau perasaannya. Wanita bersurai auburn itu terus berlari dan menangis meluapkan kekesalan juga kesakitan dilubuk hatinya.

Hiruma Youichi membenamkan kepalanya di setir kemudia, giginya bergemelatuk, ia menyadari bahwa dia memang sangat keterlaluan, padahal bukan maksud Hiruma seperti itu. Entah perasaan apa hingga mampu mendorong Hiruma mengeluarkan kata-kata yang memang menyakiti Mamori. Memang bukan gayanya untuk berbicara dengan baik namun kali ini ia benar-benar keterlaluan.

"Aku benar-benar berengsek" Ucap Hiruma kepada dirinya sendiri.

To Be Continue

Morveren: Terima kasih sekali lagi untuk reader yang sudah mereview, follow, ataupun favorite cerita ini. Aku senang sekali, semoga kalian suka dengan ceritanya ya~. Sekali lagi terima kasih banyak. Ah iya karena Hiruma tidak mengeluarkan senjata yang aneh-aneh mungkin pojok author akan diisi sesi Tanya jawab karakter aja kali yah, bagi yang mau Tanya silahkan engga juga gak apa-apa huhuhu dan kalau gak ada yang tanya mungkin dari aku semua hohohoho. Dan pertanyaan pertama dari aku! *angakt tangan* *girang sendirian*

Hiruma: Heh author sialan, gausah bikin yang aneh-aneh *tunyuk-tunyuk Mor pake pistol* terus kok part gue cuma sedikit disini? Isinya si rambut sialan gendong-gendongan lagi sama manajer sialan. gue cuma nongol di akhir-akhir doang.

Morveren: *angkat tangan* Ah ya! Maap Cuma buat selingan aja kok hehehe. Sekali-sekali ngalah sama Yamato kasian dia perannya dikit. Ngalah dulu satu chapter, chapter berikut isinya lu semua deh.

Hiruma: *seringai* kekeke bagus-bagus.. *usap-usap senjatanya*

Morveren: Fuh selamat… Eh kebetulan nih lo ada disini gue mau Tanya.

Hiruma: Pertanyaan gak jelas gue bunuh ditempat *aura setannya keluar*

Morveren: eng…enggak kok *elap keringet* pertanyaan pertama emang bener ya lu cuma bisa makan permen karet tanpa gula?

Hiruma: *duduk dikursi kakinya dinaekin* Gosip dari mana? Kadang gue makan juga yang ada gulanya tapi yang kadar gulanya rendah, bukan yang rasa macem-macem yang gulanya bikin diabetes kayak manajer sialan! gue lebih suka yang rasa mint atau menthol, soalnya di permen karet rasa mint atau menthol kadar gulanya rendah bisa cuma sampe lima persen atau kurang. Lebih enak lagi emang yang bebas gula, gue lebih sering beli yang itu *makan satu bungkus permen karet beserta bungkusnya*

Morveren: *kaget* kok bungkusnya dimakan juga?

Hiruma: Karena bungkusannya juga enak

Morveren: *nyatet* okay okay (Hiruma sinting juga)… Terus kan lu suka nendang-nendangin gak pake ngomong kalau lu muji orang. Terus kalo muji Mamori lu nendang dia juga gak?

Hiruma: *diem* …

Musashi: *tiba-tiba nongol* Kalo itu setan gak mau jawab biar gue yang jawab. Biasanya kalau muji Mamori Hiruma cuma nyentuh pundaknya sambil nyengir ala setannya, kadang juga pake ngatain sih, intinya kalo muji Mamori pundaknya dipegang-pegang *ngorek kuping*

Hiruma: Urus aja urusan lo tua bangka sialan *tembak Musashi pake basoka*

Musashi: *kontal jauh*

Hiruma: Kekekeke pertanyaan aneh-aneh atau yang jawab aneh-aneh gue bunuh ditempat *aura setannya makin kuat* kekekeke

Morveren: *merinding* udah deh segitu dulu *ketakutan*, sampai ketemu di chapter selanjutnya ya semua *kabur dengan kecepatan kilat*

Hiruma: Kekekeke pengecut ~ jangan lupa review reader sialan ! Ya-Ha!