Disclaimer: Reiichiro Inagaki & Yusuke Murata
Story Line by: Morveren Petra
.
.
.
BAB IV
HIRUMA YOUICHI
Sepasang emerald hijau menerawang kesetiap ruangan bercahayakan remang, memperhatikan gerak-gerik dan tingkah laku orang-orang disekitarnya, ada yang bercakap santai, tertawa-tawa, adapun yang merasa gelisah, frustasi dan juga menatap lawan bicaranya penuh amarah. Sebagian besar dari mereka banyak yang datang berkelompok, sisanya berpasang-pasangan, dan sebagian kecil sendiri. Pria berwajah keras dan datar ini adalah salah satu bagian dari tiga yang terakhir. Alunan melodi melantun lembut melalui Gramophone menyebar keseluruh ruangan, kedua mata pria itu terpejam menikmati setiap melodi yang masuk melalui gendang telinga. Ujung jemarinya yang panjang mengetuk-ngetuk pelan meja, mengikuti irama lantunan melodi. Kemudian pria itu membuka mata, menatap kosong gelas kecil dihadapan dirinya yang berisi Jagermeister lalu menenggak minumannya habis.
"Tumben sekali kau datang kesini, Youichi. Apa ada masalah?"
Hiruma Youichi dengan enggan menatap pria yang perbandingan umurnya terlampau sangat jauh dengan dirinya. Surai putihnya sangat elok yang tertata dengan rapih, serta jenggot dan kumis yang berwarna senada telah dicukur sangat tipis, menghiasi sekitar wajah pria paruh baya tersebut. Keriput kulit-nya terlihat di ujung mata, tulang pipi, dagu, leher dan tangannya yang asyik menggosok-gosokan gelas menggunakan kain pembersih. Mata sayu pria paruh baya itu menatap lembut Hiruma, lalu tersenyum.
Tepat di dada kanan pria itu terdapat tanda pengenal bertuliskan Hiro Akiyama
"Bukan urusanmu kakek tua sialan" Desis Hiruma.
Akiyama menaruh gelasnya dan menuangkan Jagermeister digelas Hiruma yang sudah kosong.
"Apa tidak apa-apa seorang atlet sepertimu meminum-minuman yang kadar alkoholnya cukup tinggi?"
"Asalkan tidak membuatku mati, tidak masalah"
"Yang tadi itu tuangan terakhir Youichi"
"Kau terlalu khawatir kakek sialan, aku tidak akan mabuk semudah itu" Jawabnya, Hiruma menenggak minumannya, lalu dengan kasar meletakkan gelasnya.
Akiyama memperhatikan pria dihadapannya seksama, mengambil gelas Hiruma yang tadi ia gunakan.
"Bukan satu atau dua tahun aku mengenalmu Youichi" Katanya "Semenjak Yuuya…." Kata-katanya terpotong ketika Hiruma menggebrak keras meja didepan-nya, memperingatkan.
"Jangan kau sebut nama bajingan sialan itu lagi dihadapanku kakek tua" Hiruma menilik tajam Akiyama.
"Baiklah maafkan aku…" Pria paruh baya itu menghela nafas "Tapi setidaknya jawab pertanyaanku. Apa yang membuatmu begitu gusar?"
"Bukan urusanmu" Hiruma menjawab tak acuh.
Akiyama memegangi kepalanya yang tak sakit, ia melepaskan apron hitamnya, melipatnya dan meletakkan-nya disisi kanan meja panjang bar. Mengambil sebotol Vodka dan satu gelas kecil, berjalan keluar tender, menghampiri pria berambut spike kuning yang memperhatikan setiap langkahnya. Pria paruh baya itu kini duduk disamping Hiruma.
Akiyama menuangkan Vodka ke gelas kecilnya "Sebelum itu aku ingin meminta maaf" Katanya, lalu menenggak minumannya
"Maafkan aku, sepertinya aku sudah gagal mendidikmu Youichi" Pria paruh baya itu tersenyum kecut, menatap gelas kosong digenggaman tangan.
Hiruma menyandarkan diri dikursi, memasukkan sebatang permen karet ke mulut, kemudian melipat kedua tangan di depan dada.
"Bicara yang jelas kakek tua sialan"
"Akulah yang selama ini telah merawatmu semenjak saat itu. Kau tinggal bersamaku selama dua belas tahun Youichi, dan aku tak menyangka kau akan tumbuh menjadi seorang pria yang gagah" Lelaki paruh baya itu tersenyum, lalu mengaitkan jemari-jemarinya " Sejujurnya aku sangat bahagia dan bangga terhadapmu. Tapi, sepertinya aku gagal memberikanmu sesuatu yang berharga untuk hidupmu ah atau lebih tepatnya tidak mengajarkanmu juga suatu hal yang sangat penting itu" Ujar Akiyama dan mengeratkan genggaman tangan.
Hiruma hanya melirik Akiyama melalui ujung mata, sembari mengunyah permen karet dimulutnya, membuat balon kecil dan meletupkannya, begitu berulang-ulang.
"Kasih sayang…"
.
.
.
Hiruma tertawa ia merasa geli mendengar ucapan Akiyama"Kekeke, kau tahu kakek tua sialan? Kata-katamu barusan itu sangat menjijikan"
"Aku tak perlu membuktikannya kan Youichi?" Akiyama tersenyum penuh arti, Hiruma mengalihkan pandagan matanya, terdiam "Dan lagi, aku belum mampu untuk menghilangkan rasa bencimu yang sudah terlalu lama, dan sampai saat ini masih melekat di dirimu, mengenai ayahmu"
"Jangan membuat diriku tertawa mengejekmu kakek tua sialan. Bajingan berengsek sialan itu memang pantas untuk dibenci"
"Yah, aku akui cara ayahmu memang berengsek dan keterlaluan. Tapi masih banyak hal yang belum kau ketahui sepenuhnya Youichi"
"Seperti apa?" Hiruma tersenyum sinis "Apa yang belum aku ketahui sepenuhnya? Kau tahu kakek tua sialan, aku melihat semuanya dengan jelas. Dengan mata kepalaku sendiri, jadi apa yang kau maksud dengan aku belum mengetahui semuanya?"
"Youichi, mengertilah karena—"
"Ya ya ya, simpan itu untuk nanti kakek tua sialan. Aku tak pernah peduli mengenai pria berengsek itu lagi. Kau tau kakek tua sialan? Berkat dia hidupku menjadi sangat gelap dan suram, apakah aku harus berterima kasih untuk itu? Persetan. Lagipula…" Hiruma terdiam sejenak "Kau tidak penasaran dengan apa yang sedang aku pikirkan?"
Akiyama menghela napas pasrah ia tahu bahwa Hiruma tak akan mendengar perkataannya, ia hanya mengagguk pelan, menuangkan Vodka-nya kembali kegelas dan meminumnya.
Tatapan mata hiruma berubah menjadi sangat tajam, pandangannya lurus kedepan. Mungkin dia akan mengakui satu hal tentang dirinya yang selama ini memang enggan ia ceritakan, bahkan ke satu orang sekalipun. Namun, ia berpikir kembali, ia ingin mencobanya dengan cara membuka perasaannya sedikit, khusus kali ini saja. Setidaknya orang yang akan mendengarnya bukan musuhnya atau siapa pun itu yang akan menggunakan kesempatan ini untuk balik menyerangnya, bisa jadi mengancamnya karena mengetahui sisi lain yang baru ia sadari juga selama ini, dengan cerita sialan yang menyedihkan pikir Hiruma.
"Aku malas mengatakan hal sialan ini, cih! rasanya bukan diriku dan membuat lidahku kelu jika mengucapkannya. Tapi, aku akan mengatakannya sekali dan aku pikir ini bisa menghilangkan rasa cemas sialanmu yang berkepanjangan itu, jadi pasang telinga sialanmu itu baik-baik kakek sialan" Akiyama menoleh kearah Hiruma, jakunnya bergerak naik lalu turun. Mata abu-abunya menatap Pria di sampingnya lekat, jantungnya sedikit berdetak lebih cepat.
"Apa yang kau sebut tadi itu, sepertinya telah aku dapatkan" Hiruma juga menoleh ke pria paruh baya disampingnya "Wanita sialan itu sungguh cerewet, hanya dia satu-satunya wanita sialan yang berani melawanku, yah aku pernah beberapa kali dikalahkan oleh wanita sialan itu, dia wanita yang cerdas, tipe wanita yang sangat bisa dimanfaatkan dan dibanggakan dalam hal apapun. Hanya dia yang mampu menyeimbangkan diriku. Dan lagi… Dia memberikan apa yang kau dan mungkin ayah sialan itu tak dapat lakukan kepadaku" Hiruma menghentikan kata-katanya.
Rasa risau, cemas dan bersalah hancur begitu saja bagaikan bongkahan es yang mencair, mengalir keseluruh pembuluh darah. Aliran air yang mengalir itu berubah menjadi suatu zat yang mampu memberikan kelegaan tiada tara di dalam hati pria yang sudah menginjak umur enam puluh lima tahun. Pria paruh baya itu tersenyum penuh kebahagiaan, walaupun ia tidak terlalu menunjukkan-nya. Tangan keriputnya menepuk pelan bahu kokoh Hiruma.
"Sepertinya aku terlalu khawatir kepadamu ya, Youichi?"
"Aku sudah mengatakannya sebelum itu Akiyama-san" Hiruma tersenyum, untuk yang satu ini ia tidak perlu menutup-nutupinya. Karena pria yang duduk disampingnya adalah sesosok orang yang sangat berjasa untuk hidupnya. Tanpa dirinya mungkin kehidupan pria yang dijuluki "The Commander From Hell" akan jauh lebih kelam dan tak akan pernah mempunyai rasa emosi di dalam dirinya, selamanya ia akan merasakan sepi dan selamanya merasakan kebencian untuk dunia yang ia tempati. Kalau saja tangan hangat pria itu tidak pernah menggenggam tangan Hiruma Youichi kecil dulu.
"Siapa nama wanita itu?" Akiyama bertanya.
"Anezaki Mamori"
.
.
.
Baik Hiruma dan Akiyama menoleh kearah sumber suara yang bukan milik mereka berdua, suaranya sangat berat dan tegas. Pria berbadan kekar itu mengambil tempat duduk di sebelah Akiyama. Ia mengenakan kaos polos berwarna putih yang menampakkan bentuk otot tubuhnya juga berlengan pendek dan celana jeans berwarna biru gelap, kulitnya sedikit kecoklatan, rambutnya cepak dibagian kanan dan kiri, hanya menyisakan sisa rambut dibagian tengah yang berantakan. Ia menuangkan isi botol minuman di gelas kecil yang Akiyama bawa dan menenggaknya habis.
"Setidaknya Vodka bisa menghilangkan penat sehabis bekerja keras, ngomong-ngomong… Apa kabarmu Akiyama-san?" Ucap pria itu tersenyum lembut.
Akiyama membalas senyumannya "Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja, Musashi. Bagaimana dengan ayahmu?"
"Beliau semakin membaik dari hari ke hari. Yah, beliau baik-baik saja" Jawabnya santai.
"Syukurlah kalau begitu". Baik Akiyama dan Musashi tersenyum.
"Apa kau mengenal Anezaki Mamori ini, Musashi?" Akiyama bertanya seraya menuangkan minuman ke gelas Musashi.
"Tentu… Dia manajer tim kami sewaktu SMA dulu dan menjadi manajernya Hiruma sampai sekarang" Jawab Musashi santai memandang Hiruma, berupaya menggodanya.
"Jangan bicara yang tidak-tidak tua bangka sialan!" Hiruma melemparkan tatapan membunuh kearah Musashi.
"Dia wanita yang sangat baik, dia cantik, persis seperti yang setan itu katakan. Walaupun sifatnya bertentangan dengan Hiruma… Yah siapa yang bisa menduganya, kan?" Musashi membalas Hiruma dengan melemparkan senyum mengejek.
" Kan apanya tua bangka sialan?!"
Musashi bersiul "Yah, Setan-pun bisa roboh juga oleh seorang wanita" Katanya, mengangkat bahu.
"Berengsek kau!" Umpat Hiruma ketus menunjuk kearah pria yang telah menjadi sahabat baiknya selama bertahun-tahun.
"Jarang-jarang aku bisa menggodamu"
Hiro Akiyama tersenyum simpul melihat kearah mereka berdua. Setidaknya ia merasa sangat bersyukur ia melakukan tindakan yang tepat untuk menolong seseorang yang ia anggap sebagai anak-nya sendiri selama ini. Dalam hati ia sangat berterima kasih, ia juga telah merasa lega, ia dapat menebus dosa-dosanya.
"Cih! Lagi pula apa yang kau lakukan disini tua bangka sialan?"
"Ah benar! Maaf saja aku tidak bermaksud mengganggu, menguping atau semacamnya mengenai pembicaraan kalian yang bisa jadi sangat penting. Tapi sepertinya Hiruma..." Jari telunjuk Gen Takekura atau pria yang akrab di panggil Musashi mengarah ke orang yang duduk dua baris disamping kirinya.
Hiruma mengangkat sebelah aslisnya tajam.
"Apa yang telah kau lakukan kepadanya?" Tanya Musashi yang sukses membuat Hiruma memalingkan wajahnya.
Hiruma teringat tadi sore bahwa ia memang telah menjadi orang yang sangat berengsek, setelah apa yang baru ia ungkapkan ke Akiyama dia benar-benar tersadar akan suatu hal, bahwa dia benar-benar telah jatuh hati kepada manajernya sendiri, yang juga selalu bersamanya selama lima tahun terakhir, dan benar-benar merutuk dirinya sendiri lantaran telah menyakiti hati wanita yang sedari tadi menjadi topik pembicaraan yang sangat sensitif yang pernah Hiruma perbincangkan selama hidupnya.
"Kau bertengkar dengannya?" Musashi kembali bertanya.
Tidak ada respon apapun dari Hiruma, Musashi hanya melirik pria yang memang sahabatnya semenjak mereka duduk dibangku SMP itu hingga saat ini, ia menerka raut wajah Hiruma, lalu Musashi menghela napas dalam.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi, sepertinya dia sangat kacau—Kau tahu, aku bertemunya di trotoar penyebrangan jalan berjongkok sambil menangis terisak yang juga sukses menjadi perhatian banyak orang, aku pikir itu bukan dia dan setelah aku menepi untuk memastikan itu memang Anezaki" Ucap Musashi datar.
Akiyama yang mendengar percakapan itu hanya terdiam, menyimak. Yang dilihat Hiruma menutup matanya dengan sebelah tangan, sedikit memijat pelipisnya.
"Lalu dimana dia sekarang?" Tanya Hiruma.
"Aku mengantarkannya pulang, aku tanya ia hanya diam dan menggeleng tanpa menjawab apapun, ya dia hanya berterima kasih kepadaku ketika mengantarkannya dengan selamat aku lihat wajahnya juga sangat pucat sepertinya dia sakit, apa yang telah kau perbuat?" Jawab Musashi.
Dilubuk hati Hiruma ia sedikit lega karena Musashi mengantarkan Mamori dengan selamat kerumahnya, tapi sakit, manajernya sakit ia mengingat kembali percakapan meraka tadi sore bahwa Mamori berkata bahwa Yamato telah merawatnya dengan baik. Untuk satu kali didalam hidupnya Hiruma merasa seperti orang yang sangat tolol di dunia dan tak punya akal sehat. Hiruma menghela napas pelan.
"Aku membentaknya dan mengatakan kata-kata yang memang membuat hatinya sakit, karena si rambut sialan itu" Ucap Hiruma pelan.
"Yamato Takeru?" Tanya Musashi.
"Hn" Jawab Hiruma singkat.
"Dengan alasan apa?" Musashi lalu menjauhkan gelas dan botol vodkanya, matanya menerawang jauh.
"God Damn It fucking old-man!" Hiruma menaikkan intonasi suaranya "Karena ia ingin merebutnya dariku sialan! Aku tak bisa melihat si brengsek itu terus-terusan menempeli si manajer sialan!" Hiruma mengacak rambutnya frustasi "Apa yang harus aku lakukan? Aku juga sangat gusar! Berengsek! Maka dari itu aku sangat menghindari perasaan seperti ini! Aku tak bisa berpikir normal!" Ucap Hiruma dengan berteriak yang sukses menyita perhatian beberapa pengunjung yang berada di bar itu, mereka semua melihat ke arah Hiruma, namun Hiruma tak mengindahkannya.
"Kau cemburu"
"Cemburu?" Hiruma menatap Musashi dengan bingung beserta nada yang terdengar penasaran.
"Kau memang payah sekali jika masalah seperti ini Hiruma. Jelas saja kau itu cemburu, kau bilang hatimu sakit jika melihat Yamato dan Mamori bersama, atau Mamori sedang berbicara akrab dengan seorang laki-laki kan?" Musashi menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Hiruma membulatkan mata. Memang dia buta akan permasalahan seperti ini, ia baru pertama kali mengalaminya. Lalu ia membuang muka, setidaknya ia benar-benar tidak salah dalam menceritakan hal yang selama ini mengganggu pikiran dan hatinya dan ia sedikit lebih tenang.
Musashi tersenyum samar, ia memejamkan matanya menopangkan dagunya dengan sebelah tangan.
"Mungkin ini adalah salah satu keajaiban yang terjadi padaku selama aku mengenalmu" Ujar Musashi "Tapi apapun itu, cepatlah meminta maaf padanya sesegera mungkin yang kulihat dia juga mencintaimu Hiruma dan sangat menderita karena sikap ketidak jujuranmu itu"
"Kau tahu aku tak pernah meminta maaf soal apapun! Dan jangan sok tahu orang tua sialan tentang perasaan manajer sialan itu!" Jawab Hiruma sinis.
Musashi mengangkat bahunya "Kau harus melakukannya, jika tidak, mungkin dia akan memilih seseorang yang lebih lembut darimu, ya itu jika kau memang masih bersikeras tak mau meminta maaf dan ingin melepaskannya. Dan ya aku tahu, semua orang juga tahu, kalian saja yang terlalu lamban dalam menyadari hubungan satu sama lain. Kalu dia tidak mencintaimu, dia tidak akan mengikutimu sampai sejauh ini Hiruma, kau juga membutuhkannya, Anezaki sudah sangat ahli dalam menanganimu sementara orang lain tidak, dan dia sangat membutuhkanmu sekarang atau kau akan menyesalinya seumur hidup"
Hiruma berdecih, ia mulai berpikir secara rasional, mungkin juga ia memang harus sedikit mendobrak dinding keegoisannya untuk yang satu ini, untuk seseorang yang tak pernah lepas dari pikirannya untuk seseorang yang selalu bersamanya tanpa ia sadari.
"Apapun itu segeralah meminta maaf Hiruma, aku tekankan sekali lagi, kau yang telah menyakitinya bukan Yamato, ingat itu" Musashi lalu menatap tajam Hiruma.
Akiyama lalu tersenyum "Tidak ada salahnya Youichi untuk sesekali mengungkapkan apa isi hatimu. Itu akan membuatmu sangat lega nantinya. Bicaralah baik-baik dengannya. Betul apa yang dikatakan Musashi tadi, Youichi, kesempatan memang datang berkali-kali, tapi untuk dapat memilih kesempatan yang tepat hanya satu kali dalam seumur hidup. Jadi, jangan pernah menyesalinya. Penyesalan itu sangat menyakitkan"
Akiyama memegang pundak Hiruma lembut berserta senyuman tulus yang terpatri diwajahnya.
"Aku ingin kau mendapatkan kebahagiaanmu sendiri Youichi".
Hiruma tertegun, hatinya perlahan mulai menghangat, ia sudah bukan Hiruma yang dulu, yang tak mengenal apa itu rasa cinta atau kasih sayang. Yang membenci setiap kata-kata itu bahkan menghindarinya, atau menatap jijik orang-orang yang menganggap perasaan itu adalah suci, tetapi kini ia mengerti. Dalam diam Hiruma merasa bersyukur untuk hidup, ia mungkin akan lebih menikmatinya. Lalu ia menangkupkan wajahnya menggunakan kedua tangan dan tersenyum.
"Kalian berdua orang tua sialan, benar-benar cerewet"
Musashi dan Akiyama hanya tersenyum penuh arti, Musashi menuangkan minuman ke gelas Akiyam dan miliknya sendiri, gelas mereka berdua berdentingan, merayakan momen yang menurut mereka sangat luar biasa.
"Pergilah, temui dia" Ucap Akiyama.
Tanpa pikir panjang Hiruma berdiri dari kursinya, mengambil tas ILBE yang ia letakkan dibawah kursi, dan hanya memakainya di sebelah pundak. Sebelum itu ia mengeluarkan sebuah benda berbentuk persegi, sampulnya berwarna biru gelap bergambarkan menara Eifel yang dihiasai cahaya lampu tembak dikedua sisi, beserta taburan bintang-bintang kecil beserta bulan sabit menghiasi langit malam dan langsung menyerahkannya kepada Akiyama.
"Untukmu kakek tua"
Akiyama mengernyitkan dahinya dan lalu tertawa.
" La Vie Parisenne – French Chansons From1930s & 40s (Perfect Album) Full Album. Hahaha Youichi darimana kau mendapatkannya? Barang ini sulit dicari. Tapi terima kasih banyak, aku sangat menghargainya" Ujar Akiyama masih dengan tertawa.
"Keh! Untuk piringan hitam sialan macam itu dengan sangat mudah aku mendapatkanya. Secepatnya kau ganti lagu di bar sialan milikmu ini, aku mulai bosan mendegarkan hal yang sama selama tiga tahun kakek tua" Jawab Hiruma tak acuh, lalu beranjak pergi, Akiyama hanya menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum.
"Semoga berhasil" Kali ini Musashi yang berbicara.
Hiruma tak membalasnya, hanya memngangkat sebelah tangannya.
"Terima kasih" Balas Hiruma dalam hati.
.
.
.
Tak lama Hiruma meninggalkan bar, Akiyama beranjak dari kursi mendekati Gramophone miliknya yang memang sudah sangat tua, ia mendapatkannya sebagai hadiah dikala usianya berumur tujuh tahun, ayahnya yang memberikannya. Perlahan ia mengusap Gramophone miliknya, memejamkan mata, mengingat semasa ia kecil dulu. Ia menatap bingkai foto berukuran 40x30 cm yang tergantung di dinding tepat diatas Gramophone, seorang wanita berambut pirang panjang teruari memamerkan senyuman yang indah, matanya berwarna biru terang dan sangat teduh. Lalu Akiyama tersenyum. Ia amat bersyukur hidupnya penuh kebahagiaan.
"Kau bahagia? Rosemarry?" Ujar Akiyama pelan.
Akiyama mengangkat jarum penggores piringan dan mengambil piringan hitam yang lama utnuk di ganti dengan piringan hitamnya yang baru Hiruma berikan untuknya. Setelah itu menekan kebawah jarum penggores piringan, lalu perlahan memutar piringan hitamnya hingga berputar mengikuti arus. Akiyama sangat menyukai mekanisme Gramophone, karena cara kerjanya yang unik. Pringan hitam akan berputar pada tabung lilin dan menghasilkan suara. Dengan bantuan mikrofon dan pengeras suara maka akan terdengar gelombang suara musik yang romantis.
Musashi lalu menghampiri Akiyama yang berdiri terpaku menatap bingkai foto.
"Selera musikmu bagus Akiyama-san" Desis Musashi, yang juga menikmati lantunan suara musik yang menyebar keseluruh ruangan. Menciptakan suasana ceria disekitarnya.
Akiyama hanya balas dengan tersenyum.
"Mau taruhan Akiyama-san? mengenai anak itu?" Tiba-tiba Musashi mengatakan hal yang membuat Akiyama sedikit kaget, lalu ia kembali menyunggingkan sudut bibirnya yang keriput.
"Hahaha baiklah" Akiyama mengangguk setuju.
Akiyama dan Musashi mulai membicarakan serangkai tarauhan apa yang mereka buat. Juga dengan kebahagiaan yang tertanam dibenak mereka masing-masing, dan terkadang mereka bedua tertawa lepas.
"Kau setuju?" Tanya Musashi
"Tentu" Jawab Akiyama sembari tertawa.
Menutupi perasaanmu bukanlah hal yang baik, yang hanya akan membuatmu tersiksa karenanya. Jadi sebisa mungkin ungkapkanlah walaupun itu memang menyakitkan.
To Be Continue
Morveren: Waah~ ada banyak yang review yah, terima kasih sekali lagi aku terharu banget T^T. Semoga kalian gak cape yah bacanya entah mengapa ini jadi cerita yang panjang padahal awalnya aku pengen buat cerita singkat, hehe tapi terima kasihh banyak yah semuanya, aku semangat banget nulis ceritanya, semoga bertemu lagi di chapter berikutnya ^^.
Catatan Author:
Jagermeister: Minuman beralkohol yang kadar alkoholnya mencapai 35% paling tinggi 45 %, yang terbuat dari bahan-bahan herbal alami. Bagi yang gak kuat minum biasanya sekali tenggak bisa bikin langsung mabuk, ada ketentuan khusus untuk minum alkohol berkadar tinggi dan memang batas konsumsi alkohol buat manusia hanya 45%, karena minum alkohol yang kadarnya lebih tinggi dari batas bisa merusak kesehatan dan organ tubuh.
Gramophone: Alat yang fungsinya memutar musik pakai piringan hitam, kalau sekarang mungkin dvd ya dan kaset cd. Cuma gramophone versi jaman dulunya. Penciptanya orang jerman yang lahir di Amerika, namanya Emelie Berliner tahun 1887. Namun pencipta sebenarnya Thomas Alva Edison tahun 1877, namun di sempuranain sama Emelie tahun itu.
ILBE: Tas militer khusus untuk Angkatan Amerika, yang warnanya loreng-loreng khas tentara Amerika. Sebenarnya orang lain diperaturan gak boleh punya kecuali memang angkatan dan dilarang keras diperjual belikan, bisa kena sanksi. Tapi mungkin Hiruma bisa punya itu dari temannya dulu yang di militer Amerika secara illegal.
