Shizuo membuka mata dan mendapati dirinya terbaring dengan perban di dadanya. Ruangan ini sudah pasti milik Shinra. Karena Shizuo beberapa kali berkunjung untuk mengerjakan tugas sekolah atau hanya sekedar bermain. Kini ia mengedarkan pandangannya, dan tepat saat ia menoleh ke kanan. Shizuo menemukan wajahnya sejajar dengan wajah orang yang kemarin hendak ditolongnya. Karena kemarin ia bertemu orang ini di ruangan yang gelap, Shizuo hanya dapat melihatnya samar. Namun kini berbeda, lampu kamar Shinra cukup terang untuk melihat wajah orang yang telah sukses membuat luka gores pada tubuh Shizuo. Wajahnya terlihat damai. Hidungnya kecil dengan bibir tipis berwarna merah muda. Dan lihat wajah cantiknya yang dibingkai poni panjang. Rambut hitamnya panjang dengan sedikit gelombang pada ujungnya. Shizuo berpikir seberapa panjang rambutnya. Kembali mengamati wajah cantik itu, ia sadar bahwa orang di depannya ini mempunyai kulit sepucat salju. Karena penasaran ia mengangkat tangannya dan mengelus pelan pipinya. Rasa lembut langsung menyapa indra perabanya tatkala menyentuh pipi yang sedikit tembam itu. Lucu sekali, Shizuo menyukai perempuan dengan pipi yang tidak terlalu gembul atau tirus.
Saat masih anteng mengelus pipi itu Shizuo dikejutkan oleh pikirannya sendiri. Kenapa ia dan orang di depannya ini seranjang? Bukankah Shinra cukup tahu untuk memisahkan pasien beda gender saat merawatnya? Shizuo langsung bangun dan turun dari kasur, menuju pintu lalu membukanya dan dengan tergesa-gesa mencari Shinra. Beruntung ia menemukan kawan pintarnya itu di ruang makan bersama wanita tanpa kepala atau yang dalam legenda disebut dullahan. Pacar sepihak dari Shinra, Celty Sturluson. Yah cukup aneh mengingat karakter dalam legenda ada di dunia nyata. Tapi itu adanya. Karena tidak punya kepala gadis itu berbicara dengan menggunakan PDA yang khusus diberikan oleh Shinra.
"Ada apa Shizuo?" tulis Celty di PDA nya.
"Oi Shinra kenapa menaruh aku seranjang dengan perempuan itu? Kan ia bisa tidur dengan Celty dan jika kau tidak mau tidur denganku, kau bisa menaruhku di sofa!"
"Perempuan? Mungkin ini sedikit mengejutkanmu Shizuo. Tapi orang yang kau bawa kemarin itu laki-laki tulen."
"HAH!" Teriak Shizuo lagi.
"Awalnya kukira ia perempuan jadi aku menyuruh Celty melihatnya dulu. Walau Celty tidak memiliki kepala ia bisa bernafas dan melihat dengan benar tahu. Dia hanya tidak bisa bicara. Apa kau meragukan kemampuan seorang dullahan?"
"Ah itu..." Shizuo hanya membuka tutup mulutnya, mirip ikan yang tidak bisa bernapas.
Beruntung keadaan canggung itu dihentikan oleh suara bel. Tanda bahwa ada orang yang hendak bertamu di rumah Shinra. Shinra berdiri dari kursinya, berjalan menuju pintu diikuti Shizuo. Setelah membuka pintu terlihat dua anak perempuan sekitar umur 11 tahun. Yang satu berwajah datar dan berambut pendek. Sedang yang lainnya berambut panjang dikepang satu serta menggunakan kacamata.
"Maaf mengganggu. Aku Mairu Orihara." Ucap si kacamata.
"Kururi Orihara. Iza-nii?" Tambah si rambut pendek, Kururi.
"Maksud Kuru-nee adalah apa kakak kami, Izaya Orihara ada di sini?"
"Kakak?" Tanya Shizuo.
"Etto rambutnya hitam panjang, kulitnya pucat dengan warna mata merah." Jelas Mairu.
"Ah dia! Ada kok. Silahkan masuk dulu, akan kupanggil kakakmu." Celetuk Shinra.
Shizuo pergi, menggiring dua anak itu ke ruang tamu. Mereka bertiga hanya diam. Tak tahu apa yang harus dikatakan.
"jadi orang itu bernama Izaya Orihara?" Tanya Shizuo.
"Betul sekali. Kami disuruh papa untuk mencari Iza-nii kemarin. Tapi aku malas sekali dan perayaan natal di kota Ikebukuro tidak boleh dilewatkan." Mairu menanggapi.
"Berbeda." Kururi berkata.
"Apa maksudnya?" Tanya Shizuo lagi.
"Suasana natal di Ikebukuro dan Shinjuku itu berbeda."
Sepertinya Mairu punya semacam kemampuan untuk mudah akrab dengan orang lain. Bahkan monster Ikebukuro itu dengan mudah berbicara soal perayaan natal kemarin. Beberapa saat kemudian Shinra datang, tanpa Izaya.
"Maaf tadi aku membangunkan Izaya, katanya Izaya mau berpakaian dulu. Hehe."
"Berpakaian? Jadi semalam Izaya tidur tanpa pakaian?" beo Shizuo.
"Bukan begitu. Kau memperhatikannya juga kan kalau tadi Izaya memakai bajuku. Tapi saat tadi kubangunkan ia meminta hakamanya lagi. Untung saja hakama hitamnya sudah di jahit oleh Celty ku sayang karena bagian perutnya robek."
"Kau yang mengobatinya kan? Apa kau menemukan tatto di tubuhnya?" tanya Mairu.
"Tatto? Ya aku menemukan tatto mawar hitam di belakang lehernya."
"Syukurlah." Kururi menghela napas.
"Memangnya kenapa?" Shizuo terlanjur penasaran.
"Bukan urusanmu Protozoa!" Bukan Kururi ataupun Mairu yang menjawab. Namun seseorang diambang pintu.
Sontak semua menoleh ke sana. Seorang pria berwajah cantik, dengan mata beriris merah dan berbulu mata lentik. Poni panjangnya disisir sebelah kanan.
"Apa maksudmu dengan Protozoa HAH!" geram Shizuo.
"Karena kau itu bodoh. Mengataiku pendek, menerjang badai salju dengan luka di tubuh. Dan yang paling kubenci dari semua itu adalah bahwa kau menyebutku PE-REM-PU-AN."
Shizuo tidak bisa menahan emosinya. Siapa sangka orang yang ditolongnya kemarin akan dengan santainya mengatakan hal-hal buruk tentangnya. Bahkan wajahnya menyeringai senang karena berhasil membuat emosi Shizuo hampir meledak. Meja di ruang tamu diangkat dengan satu tangan. Dilempar ke arah Izaya, dan yang mengejutkan adalah Izaya berhasil menghindar. Padahal selama ini tak ada yang berhasil menghindar dari pukulan atau lemparan Shizuo.
"Uwahh, kau hebat Iza-nii." Puji Mairu.
"Hebat." Tambah Kururi.
"Heh kalian pikir kakakmu ini siapa?" ucap Izaya sombong.
Shizuo meralat ucapannya kalau Izaya itu lucu. Soal Izaya itu laki-laki Shizuo memang kaget tapi setidaknya ia berpikir bahwa Izaya akan menjadi temannya. Mengingat Izaya adalah satu-satunya orang yang mampu melukainya. Dan orang di depannya ini sangat menyebalkan. Lihat wajahnya yang terus menyeringai mengejek. Mengatakan kalau ia ini orang terhebat di dunia. Shizuo benci orang yang mudah membuatnya marah.
"Oh iya Iza-nii. Butuh gunting?" Mairu berkata lagi.
"Tentu saja. Aku benci rambut panjang." Jawab Izaya.
"Aku mau pergi. Shinra terimakasih untuk pengobatannya. Kemarin aku tidak pulang, Kasuka pasti menungguku." Shizuo beranjak meninggalkan tempat itu. Sebisa mungkin menjauh dari Izaya.
Di jalan, Shizuo mengeluarkan segala sumpah serapahnya. Memaki Izaya dengan berbagai sebutan. Bagaimana ia tidak kesal coba? Sudah ditolong malah bersikap seperti itu. Setelah sampai di rumah Shizuo segera menemui Kasuka.
"Okaeri, Shizuo-nii." Kasuka memberi salam.
"Tadaima Kasuka."
"Kenapa denganmu Shizuo-nii?"
"Kemarin aku menolong seseorang."
"Tumben. Bukankah itu bagus?"
"Iya sih tapi orangnya itu ngeselin."
"Hehh."
"Muka saja boleh cantik, tapi sikapnya itu sangat buruk."
"Jadi dia sangat cantik ya?" Kasuka mulai memancing kakaknya.
"Ya sangat cantik. Sangat imut, lucu sekali."
"kalau tubuhnya?"
"Aku belum tahu sih, tapi tangannya kecil. Ramping. Jadi mungkin ia punya tubuh yang langsing."
"Jadi dia orang asing pertama yang kau tolong?"
"Benar."
"Dan kau menolongnya tanpa sebab."
"Kurang lebih begitu."
"Bagaimana kalau Shizuo-nii jatuh cinta pada pandangan pertama?"
"Mungkin saja."
Jeda beberapa detik sebelum Shizuo menyadari perkataannya. Dan segera menoleh pada Kasuka yang tersenyum puas.
"Aku tidak mencintainya Kasuka."
"Tapi nii-san memanggilnya cantik tadi."
"Sialan kau!"
Sedang di rumah Shinra, Kururi tengah memotong rambut Izaya mengikuti arahan yang diberikan adik kembarnya.
"Bagaimana Iza-nii?" tanya Kururi.
"Bagaimana apanya hah! Kau tidak memotong apapun!" teriak Izaya kesal.
"Kuru-nee sudah memotongnya kok. Lihat rambut iza-nii sudah lebih pendek." Mairu menimpali.
"Tadi kan sepanjang lutut." Kururi kembali angkat suara.
"Dan sekarang hanya sebatas pinggang." Mairu melengkapi perkataan kakak perempuannya.
"Aku ingin dipotong pendek." Izaya hanya berucap lirih.
"Tapi Iza-nii lebih cantik kalau rambutnya panjang lho."
"Pokoknya aku mau dipotong pendek! Kalau aku tidak dipotong pendek akan kusita semua gadget kalian." Izaya mulai mengancam.
"Baiklah." Si kembar itu menyahut bersamaan.
