Sekolah itu membosankan. Yang dilakukan hanyalah duduk diam sambil mendengar dan mencatat apa yang di bicarakan guru. Meski sesungguhnya tak terlalu diperlukan. Seperti buat apa mempelajari ilmu hukum dan tetek bengeknya? Toh ia tidak bercita-cita jadi politikus. Aku dengar dari beberapa orang yang aku lewati. Katanya, katanya loh ya akan ada murid baru di Raira. Dua anak sekaligus.

Guru yang masih berusia muda itu masuk kelas dan langsung mempersilahkan si murid baru untuk masuk kelas. Seorang laki-laki berambut coklat, rambutnya tak begitu panjang dan di taruh belakang. Beberapa helai jatuh di dahinya. Wajahnya, banyak membuat siswi di kelas berteriak. Anak ini, dilihat dari penampilannya seperti orang kaya. Ia sudah memakai seragam Raira. Kemeja putih dengan celana dan blazer hijau.

"Kadota Kyohei. Mohon bantuannya untuk dua tahun ke depan."

Sedang di kelas Shinra, Izaya berdiri dengan senyum yang terkesan main-main.

"Namaku Izaya Orihara. Aku menyewa apartemen di Shinjuku. Ah, aku sudah kenal beberapa orang di Ikebukuro. Ada Shinra dan Shizu-chan. Aku ke sini bersama Dottachin."

Izaya memperkenalkan diri kelewat semangat. Dan itu mendapat tanggapan positif pada awalnya. Banyak siswi yang langsung menarget Izaya sebagai gebetan. Sedang para siswa berasumsi kalau Izaya akan dekat dengan banyak perempuan, jadi mereka bisa bertanya soal gebetannya pada Izaya. Walau begitu mereka sedikit kurang yakin kalau Izaya bisa diajak bermain olahraga. Melihat tubuh langsing yang lebih tepat disebut kurus.

Pelajaran berlangsung seperti biasa. Shizuo tak menyangka kalau Kadota itu anak pintar. Yah sebenarnya sudah terlihat dari wajahnya. Jam istirahat akan datang dalam 1 menit lagi, namun guru itu sudah memperbolehkan anak didiknya pergi ke kantin. Kadota duduk di baris ke 3 dari depan, dekat dengan jendela besar yang menghadap lapangan. Ia hanya duduk sambil membaca buku entah apa judulnya. Sambil sesekali melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Seperti menunggu sesuatu. Sekitar tiga menit kemudian pintu kelas terbuka. Menampilkan seorang siswa dengan celana hitam dan kemeja berlengan panjang namun tinggi kemeja itu hanya sebawah dada yang juga berwarna senada. Kaus berwarna merah terang menjadi dalamannya. Sedikit ke atas. Shizuo melihat mata lentik berwarna merah, hidung bangir dan bibir tipis yang membentuk seringaian. Tak salah lagi. Ini Izaya Orihara, dalam tampilan berbeda. Rambut panjang selututnya dipangkas pendek. Poninya juga. Baru terlihat kalau Izaya itu laki-laki dengan rambut pendek.

"Yo, Dottachin. Sudah lama menungguku?" Izaya melangkah santai.

"Kenapa kau tahu aku di kelas ini Izaya."

"Karena aku tahu semua tentangmu. Aku tahu semua hal tentang manusia-manusia yang aku cintai."

"Berhenti mengucapkan hal-hal yang aneh Izaya."

Izaya memutar kursi di depan meja Kadota dan duduk berhadapan dengannya. Bisa ditebak kalau mereka ini dulunya satu sekolah.

"Izaya, kemarin kau ke mana?" tanya Kadota.

"Kenapa Dottachin bisa tahu?"

"Kau mengetahui semua hal tentangku kan? Maka dari itu aku juga mengerti kau Izaya."

"Tidak ke mana-mana."

"Oh, lalu kenapa rumahmu jadi seperti itu?"

"Mereka menipuku."

"Menipu?"

"Ya, ternyata selama ini mereka hanya memanfaatkanku saja."

"Bahkan Kaa-san mu juga?"

"Kaa-san ku juga. Dia... itu palsu. Dan yang paling parah."

"Siapa yang tersisa?"

"Tou-san, Kururi, Mairu."

"Tou-san mu? Bukankah kau tidak menyukainya?"

"Aku tidak menyukainya. Tapi setidaknya ia mengkhawatirkanku."

"Lalu si kembar itu?"

"Aku harus menyisakan keturunan untuk mereka."

"Pandai sekali Izaya. Bagaimana kalau ini sampai tercium anjing?"

"Anjing-anjing itu tak akan tahu."

"Apa yang kalian bicarakan?" Shizuo menyela.

"Bukan urusanmu Shizuo Heiwajima." Kadota menjawab tegas.

"Segitunya kau ingin tahun tentang aku Shizu-chan. Sayangnya aku hanya mencintai manusia. Dan kau itu monster." Izaya malah mengejeknya.

"Apa-apaan panggilanmu itu Izaya! Dan siapa yang ingin tahu!" Selesai mengatakan itu sebuah bangku melayang.

Izaya dengan mulus menghindarinya. Aksi kejar-kejaran itu masih berlanjut. Izaya selaku target yang dikejar berlari. Seperti tak menyadari bahaya yang akan menimpa jika berani membuat marah Shizuo, ia terus saja mengejeknya.

-0000o0000—

Shizuo, sebisa mungkin tahan dengan keberadaan Izaya yang selalu membuatnya naik pitam. Shizuo bahkan sudah menetapkan Izaya sebagai musuhnya. Padahal niatnya hanyalah menanyakan apa yang sedang dibicarakan Kadota dan Izaya tempo hari. Tapi sialnya Izaya malah memprovokasinya. Dan hari ini ia terjebak dengan Kadota dalam ruangan tidak menyenangkan bernama perpustakaan. Salahkan guru yang memilih mereka untuk menjadi 1 kelompok. Setiap kelompok ada dua orang dan ditugasi untuk membuat makalah bebas. Yang penting berhubungan dengan Yunani. Entah raja-rajanya, atau legendanya tidak masalah.

"Kenapa guru itu menugasi kita hal yang tidak penting?" rutuk Shizuo.

"Kudengar ia punya obsesi aneh dengan mitologi."

"Kau, Kyohei-san. Terlihat sangat dekat dengan Izaya."

"Panggil namaku saja. Tidak enak kalau ada orang yang memanggilku dengan marga. Soal itu, ya aku memang dekat dengan Izaya."

"Apa kau tidak gerah dengan tingkahnya?"

"Gerah?"

"Ya, maksudku. Suka menyeringai, mengejek orang lain, bertingkah kalau ia itu Dewa, dan terus mengatakan kalau ia mencintai manusia."

"Benarkah?" Kadota berhenti membaca buku di hadapannya dan menatap Shizuo.

"Iya! Dia itu benar-benar licik. Kau tahu ia pernah menjebakku, dan membuatku harus berurusan dengan polisi."

"Ehh. Izaya itu atheis."

"Atheis?"

"Iya. Ia tidak percaya dengan adanya Tuhan ataupun Dewa."

Shizuo tidak menjawab.

"Walaupun begitu, Izaya sebenarnya orang yang baik. Ia sangat perhatian, cengeng, dan sangat takut melukai orang lain. Juga terlalu mudah merasa bersalah." Tambah Kadota.

"Bah, itu pasti bohong."

"Aku tidak berbohong Shizuo. Itu kenyataannya. Tapi ia menutupi sikapnya itu."

"Kenapa?"

"Kau penasaran juga? Mungkin karena Izaya menganggap sikap-sikapnya itu hanya akan membuatnya tampak lemah. Itu hanya tebakanku saja, Izaya itu orang yang sulit dipahami."

"Kau yang dekat dengannya saja tidak mengerti dia. Apalagi aku."

"Hahaha, kau punya perasaan pada Izaya ya? Sampai penasaran begitu."

"Tidak, bukan seperti itu. Aku hanya penasaran saja."

"Begini ya. Aku tahu Izaya. Semua perasaan dan rahasianya. Meski begitu aku tidak sepenuhnya mengetahui jalan pikiran dia."

"Kenapa kau bisa tahu rahasia Izaya? Apa kalian sedekat itu?"

"Aku ini sebenarnya anak seorang pelayan di rumah Izaya."

"Pelayan?! Apa Izaya sekaya itu?"

"Tentu saja. Waktu itu Izaya tidak punya teman. Jadi ayahnya, secara khusus menyuruhku untuk menjadi pelayan pribadi sekaligus temannya. Tapi seiring berjalannya waktu aku tidak hanya menganggap Izaya tuanku lagi. Tapi aku benar-benar menganggap Izaya orang yang paling berharga untukku."

"Aku ingin tahu apa yang dilakukan Izaya itu hingga kau menganggapnya sebagai orang yang berharga."

"Sebenarnya Izaya sudah membebaskanku."

"Membebaskanmu?"

"Ia tidak menganggapku pelayannya. Aku bebas pergi ke manapun aku suka. Tapi ia masih membayar gajiku. Bukankah aku ini beruntung?"

"Pasti Izaya menganggapmu sebagai orang berharga, melihat semua sikap yang ia tunjukkan padamu." Entah kenapa shizuo sedikit kesal saat mengatakan ini.

"Yahh, walaupun begitu aku tetap tidak bisa menggantikannya."

"Hah?" Shizuo bingung dengan apa yang dikatakan Kadota.

"Sekeras apapun aku berusaha, aku tidak bisa menggeser posisi orang itu dari hati Izaya. Walau hanya 1 mm."

"Kadota. Mungkin ini aneh, tapi maukah kau jadi temanku?"

"Tentu."

Saat ini kelas Izaya sedang mendapat jam kosong. Dan sebagai siswa yang masih terbilang baru, meja Izaya dikelilingi oleh banyak murid di kelasnya.

"Jadi Orihara-san kenapa kau pindah ke mari?" tanya seorang siswa.

"Hmmm aku hanya sedang mencari seseorang saja." Jawab Izaya.

"Siapa? Apa dia pacarmu?"

"Pacar? Hahaha kalian lucu. Kami itu sangat dekat. Tapi bukan pacar."

"Kenapa kau bisa berpikir kalau orang yang kau cari itu ada di sini?"

"Aku tidak tahu. Tapi di sekolah ini ada seseorang yang penampilan fisiknya sangat menyerupai dia. Seperti doppelganger."

"Jadi kau kemari hanya untuk melihat doppelgangernya ya..." seorang siswa mulai mengejek Izaya.

"Ah romantisnya. Itung-itung untuk pengobat rindu." Yang lain ikut menimpali.

-ooo00ooo—

Makasih buat yang mau menyempatkan untuk membaca fic gaje ini ^^

Yah sebenarnya ini fic pertama Rika-chan, jadi Rika-chan sedikit takut kalau-kalau ceritanya nggak nyambung.

Sekali lagi makasih ya... oh kalau mau review silahkan nggak usah sungkan hehe