Sudah hampir kenaikan kelas. Dan Shizuo masih setia dengan kejar-kejarannya bersama Izaya. Tapi kini Shizuo menambahkan kata-kata yang khusus diucapkan jika mengejar Izaya. Seperti 'aku membencimu kutu', 'aku ingin membunuhmu', 'jangan pernah menampakkan wajahmu itu di Ikebukuro'. Soal Shizuo yang memanggil Izaya itu kutu, karena pemikiran Shizuo yang kelewat cerdik. Ia menganganggap Izaya itu sangat mengganggu seperti kutu. Apalagi kemampuan parkournya yang melebihi ahli parkour profesional. Loncat sana, loncat sini, sulit ditangkap seperti kutu. Setidaknya itu yang dipikirkan Shizuo.

Terlalu pagi sebenarnya untuk berangkat ke sekolah. Tapi entah kenapa ia ingin berangkat lebih awal. Dan saat memasuki gerbang, ia melihat orang itu. Izaya Orihara, tengah dikelilingi siswa kelas 3. Karena rasa ingin tahu Shizuo, ia berusaha mencuri dengar.

"Katakan padaku." Seorang kakak kelas bertindik bertanya.

"Katakan padamu apa?" dengan santai Izaya menjawab.

"Apa yang membuat serangan Shizuo tidak mempan terhadapmu?" si tindik itu bertanya lagi.

"Mungkin karena aku pintar dan kalian itu bodoh. Karena aku melawannya bukan hanya dengan otot tapi juga otak." Izaya menampilkan senyum miringnya.

"Cih, kalau begitu beri tahu aku kelemahan monster itu. Kau bisa dengan mudah membuatnya melawanmu dengan seluruh kekuatannya. Dan kau selalu berhasil menjebaknya seperti insiden kau menyebrang dan ternyata secara kebetulan truk juga lewat dan membuat truk itu menabrak Heiwajima."

"Jika kau menginginkan informasi dariku, kau harus membayar." Izaya masih terlihat main-main.

"Apa!"

"Aku ini informan. Aku menjual informasi, semakin sulit informasi yang kau inginkan. Semakin mahal kau akan membayarku."

"Kalau begitu berapa yang kau mau untuk informasi tentang Shizuo Heiwajima?"

"Aku menjual semua informasi, tapi aku hanya akan memberikan informasi pada orang yang menarik perhatianku. Dan kalian benar-benar tidak menarik perhatianku."

"Apa maksudmu?"

"Aku bilang aku tidak mau memberikan informasi apapun tentang Shizuo Heiwajima pada kalian. Karena sekalipun aku memberikannya pada kalian, kalian belum tentu bisa menghiburku. Jadi aku tidak dapat keuntungan apapun."

Selesai mengatakan itu, Izaya dihajar habis-habisan. Tidak seperti biasa. Izaya yang biasanya akan dengan cepat menyerang. Tapi kenapa ia tidak membalas satupun serangan mereka? Kenapa juga Izaya tidak mau menjual informasi tentang dirinya? Padahal selama ini Izaya selalu mengejeknya, selalu berkata kalau ia membenci Shizuo. Apa mungkin, Izaya tidak benar-benar membenci Shizuo? Bisakah ia berharap?

Para anak kelas 3 itu meninggalkan Izaya dalam keadaan yang sangat menggenaskan. Hampir seluruh terluka, babak belur. Pakaiannya sudah jadi lusuh. Baru Shizuo ingin menghampiri Izaya, sebelum sampai, Izaya sudah berdiri dan pergi dari tempat itu. Shizuo mengikutinya dengan diam-diam. Mirip seperti penguntit. Izaya berhenti di depan lokernya. Membuka loker itu dan mengeluarkan seragam Raira. Pasalnya Izaya tidak pernah memakai seragam Raira dan terus memakai seragam hitamnya. Sebenarnya Shizuo sedikit heran, ia tidak pernah melihat Izaya memakai pakaian dengan warna lain. Sekalipun warna lain, pasti warna itu akan disandingkan dengan warna hitam. Bahkan saat dulu Shinra meminjamkan pakaiannya,warnanya juga hitam. Sesekali Shizuo ingin melihat laki-laki itu memakai baju selain warna hitam.

"Haah, aku tidak mau memakai seragam Raira." Keluh Izaya.

"Sekali-kali taatilah peraturan di sekolah ini Izaya." Suara orang lain terdengar. Berada di belakang loker Izaya. Dan ternyata itu Kadota. Shizuo cukup beruntung mereka berdua tak sadar akan kehadirannya.

"Kenapa Dottachin ada di sini?"

"Kenapa kau babak belur Izaya?"

"Bukan urusanmu, aku hanya melindungi sebuah informasi."

"Lain kali pikirkan dirimu sendiri."

Kadota beranjak dari tempatnya. Mendekati Izaya, memeluknya dari belakang. Dan menyandarkan dagunya pada pundak sebelah kanan Izaya. Yang diperlakukan demikian hanya diam saja. Tak memberontak ataupun melawan.

"Aku tidak mau kehilanganmu Izaya." Kadota berbisik pelan, namun masih bisa didengar Shizuo yang memiliki ketajaman telinga di atas rata-rata.

"Aku tidak akan mati semudah itu Kadota-kun." Izaya membalas perkataan Kadota. Jawaban Izaya cukup mengejutkan Shizuo, ia menyebut nama Kadota dengan benar. Bahkan dengan embel-embel –kun di belakang namanya.

Shizuo pergi meninggalkan tempat itu dengan berbagai pertanyaan di pikirannya. Kenapa Izaya tidak mau memberi tahu apapun tentang dirinya pada kakak kelas tadi? Kenapa Izaya membiarkan dirinya dipukuli seperti itu? Apa hubungan Izaya dengan Kadota? Kenapa ada banyak hal yang tak ia ketahui tentang Izaya?

Sementara Shizuo pergi, Kadota kembali bertanya. "Apa aku harus menyiapkan pakaianmu? Atau kau mau memakai seragam Raira?"

"Apa kau masih mau menyiapkannya untukku?"

"Tentu saja. Selagi aku masih bisa."

Sudah hampir 1 tahun Kadota dan Izaya bersekolah di Raira. Yang mengejutkan adalah Izaya yang selalu menjadi peringkat pertama. Setiap ia diajukan untuk mengikuti sebuah pertandingan pasti ia akan kembali dengan menyandang gelar juara 1. Awalnya Izaya disanjung-sanjung. Tapi 1 tahun itu waktu yang cukup untuk mengenal kepribadian orang lain. Murid-murid yang dulu baik pada Izaya mulai menjauh saat tahu sikap Izaya yang kelewat sinis. Gaya bicaranya tetap sama, namun kini mereka mulai menyadari adanya nada sinis yang mengistimewakan dirinya. Sikapnya juga dianggap menyebalkan karena kerap mencampuri urusan orang lain. Mereka menganggap kalau siapapun yang dekat dengan Izaya pasti akan ketiban sial.

Pernah suatu hari ada seorang gadis yang menyatakan perasaan sukanya pada Izaya di depan umum, disaksikan hampir seluruh sekolah. Dan saat itu juga Izaya sedang berada di atap. Dengan seringainya ia menatap gadis itu. Selanjutnya Izaya berbicara dengan lantang. Bukan kata-kata manis tanda ia menerima, atau kata-kata lembut tanda ia menolak.

"Kau mau aku jadi pacarmu begitu?" tanya Izaya.

"Eh, emm iya Orihara-kun."

"Kau tahu aku mencintai manusia. Aku yakin kau menganggap kejadian saat aku menjengukmu di rumah sakit adalah suatu tanda bahwa aku memperhatikanmu iyakan?"

"Kalau itu..."

"Aku menjengukmu waktu itu hanya untuk mengirimkan obat yang kau pesan dari Shinra. Ia tak bisa mengirimnya, jadi ia memintaku. Aku hanya mau melihat reaksi apa yang akan manusia berikan kalau ada lawan jenis yang menjenguk. Dan kau harus tahu ini, aku tidak pernah mencintai seseorang secara personal."

"A-apa yang kau katakan Orihara-kun, aku-aku sangat mencintaimu." Gadis itu tetap ngeyel.

Yang selanjutnya terjadi adalah salah satu pisau lipat Izaya yang melesat dari atap menuju lapangan. Sengaja dilempar untuk memberi peringatan. Pisau itu menggores pipi kanan gadis itu dan menancap dalam di tanah.

"Bukankah sudah kubilang kalau aku tidak mencintai seseorang secara personal." Izaya mengatakan itu dengan suara rendah yang mengancam. Mata merahnya menyala menakutkan. Sejak saat itu pula beredar sebuah peringatan 'jagalah jarak dengan Izaya Orihara sejauh mungkin'.

Tapi tidak ada yang tahu setelah kejadian itu apa yang dilakukan Izaya. Hanya Izaya, Tuhan yang tak dianggap oleh remaja tanggung itu dan Kadota. Kenapa Kadota? Karena setelah itu Kadota menyusul Izaya di atap. Ia datang dan langsung memegang pundak Izaya. Memutar tubuh yang lebih kecil darinya.

"Kenapa kau lakukan itu Izaya?" Kadota bertanya dengan nada yang menuntut jawaban.

"Kalau aku dekat dengan orang lain selain Dottachin dia bisa marah."

"Lalu kenapa kau mau dekat dengan Shizuo?"

"Aku tahu kalau Shizuo-kun punya kekuatan monster. Sehingga kalau aku dekat dengannya mungkin aku akan dalam bahaya yang bisa mengancamku. Dan mungkin saja dia akan datang menyelamatkanku lagi ya kan?" Izaya berkata sambil menatap Kadota dengan pandangan kosong.

"Dia tidak akan datang bodoh! Dia pergi meninggalkanmu!" suara Kadota meninggi.

"Dia tidak pergi meninggalkanku Dottachin. Dia hanya mengambil jatah liburnya."

"Kapan kau akan sadar?! Dia telah pergi. Dia hanya berpura-pura menyayangimu." Kadota mulai lepas kendali. Jeda sebentar sebelum ia melanjutkan apa yang ada di pikirannya.

"Ingat ini Izaya, dia itu anak seorang yakuza. Dan dia mendekatimu untuk memonopolimu. Kau anak yang istimewa Izaya. Jadi jagalah dirimu sendiri."

"Tapi aku tidak mau menjadi anak yang istimewa Dottachin. Itu membuat hidupku jadi sulit."

"Bertahanlah Izaya. Coba pikirkan kalau kau mati. Siapa orang yang cukup kuat menerima kekuatan besar itu selain dirimu?"

"Tidak ada. Dan mereka akan mati karena kutukan ini."