Hari biasa dengan aktivitas yang juga biasa saja. Itulah yang dirasakan oleh Kadota. Ia bangun sebelum matahari menampakkan diri seperti biasa. Menata kasurnya, mandi, dan berpakaian. Lalu keluar apartemen dengan memasukkan dompet di saku belakang.
Ia berjalan santai menuju pusat perbelanjaan, memperhatikan awan mendung yang menggantung di langit, 'apa akan turun hujan?'. Karena ini hari libur, tempat perbelanjaan terasa tiga kali lipat lebih ramai. 'Ahh tapi ini juga biasa saja.' Kadota hanya menggumam sambil memilih daging. Setelah selesai berbelanja, dengan santainya Kadota berjalan meuju sebuah apartemen yang berkali lipat lebih mewah dari miliknya.
Mengeluarkan kartu berwarna perak dan memasukkannya ke dalam sebuah alat. Dalam beberapa saat pintu terbuka. Dan Kadota masuk ke dalamnya. Melepas sepatunya, meletakkan belanjaan di dapur, lalu lanjut berjalan menuju sebuah pintu. Membukanya dan mendapati 'mantan' tuannya tertidur dalam posisi duduk di depan komputernya.
Menghela napas, laki-laki berambut coklat itu membopong Izaya ke kasur. Menyelimutinya dan membereskan meja komputer yang berantakan dengan kertas, kabel usb, bahkan cipratan kopi. Selesai dengan meja komputer, ia kembali ke dapur. Memasak beberapa jenis makanan untuk sarapan.
Selesai dengan segala urusan dapur, ia kembali menuju kamar. Hanya untuk dikejutkan oleh Izaya yang sudah rapi dengan kaos putih yang diberi kemeja hitam abu kotak kotak. Dipadu dengan celana pensil warna hitam.
"Oh Dottachin! Ayo jalan-jalan?!" Izaya berlari keci mendekati Kadota. Lengkap dengan cengiran lebar terpasang. Dan kamar Izaya yang berdinding kaca tersebut sunyi. Kadota lebih memilih melempar pandangan ke samping. Memperhatikan awan mendung yang sejak tadi menggelayuti langit tiba-tiba berangsur hilang. Digantikan langit biru berawan putih dengan sinar matahari yang hangat. 'Izaya sedang senang rupanya.'
"Baiklah. Tapi sebelumnya makanlah dahulu." Kadta menjawab dengan mengacak rambut setengah basah orang di depannya.
.
.
Di meja makan, Izaya sibuk berceloteh soal apa yang akan ia lakukan selama jalan-jalan nanti.
"Nee nee, nanti kita jalan ke taman dulu. Di sana ada penjual es krim baru. Katanya enak banget lho! Terus-terus kita nanti ke—" ocehan Izaya putus karena Kadota tiba-tiba mengelap sisa makanan yang entah kenapa bisa belepotan di pipi cowok raven itu.
"Makan yang benar Izaya." Kadota menghela napas lelah.
"Ha~i" Izaya kemudian makan dengan tenang. Ah tapi semenit kemudian ia kembali bersuara tentang betapa semangatnya ia untuk mencoba berbagai wahana di taman bermain nanti. Yang ditanggapi dengan dengusan.
.
.
Taman Ikebukuro. Ramai seperti yang diduga. Tapi di mana Izaya? Kadota langsung panik mencarinya. Ia bahkan sempat misuh misuh tak karuan karena banyaknya pengunjung taman.
"Ahh kenapa aku tak gunakan cara itu?!" di sini Kadota merasa dongkol.
Mengambil napas dalam-dalam, lalu berteriaklah ia "URAGIRI NO YUUYAKE!"
Selang beberapa detik ada yang menyahut, "YAKKAI NI KARAMITSUKU ASE O!", ya kalian benar. Izya lah yang menanggapi teriakan absurd dari Kadota.
Sontak tindakan dari mereka berdua menuai banyak perhatian. Bahkan bisa di dengar obrolan dari tiga siswi dengan dandanan aneh di sebelah. 'Ya ampun itu orang kenapa norak banget ya?' atau 'bukannya rambut raven itu Orihara Izaya?' berlanjut ke 'Orihara Izaya yang itu? Eh eh kudengar—'
Sebaiknya kita abaikan omongan para gadis itu yang sudah berlanjut ke gosip panas Orihara Izaya.
"Di situ kau. Sudah kubilang untuk tidak jauh-jauh dari ku! Kemarikan tanganmu!" Kadota menyambar tangan Izaya.
Di lain tempat...
Shizuo menghela napas, 'sudah kuduga kalau berbaring di bawah pohon memang sejuk. Tapi tidak dengan banyaknya orang yang berlalu lalang di sekitarmu.'
Ya, Heiwajima Shizuo. Si monster Ikebukuro tengah mengeluh karena kebosanan. Sejujurnya ia sedikit-ingat hanya sedikit- merindukan si kutu itu. Orihara Izaya.
"Coba kalau si kutu itu ada. Pasti tidak akan semembosankan ini." ia bergumam, namun sedetik kemudian ia bangun dari acara tidur-tidurannya.
"Tidak-tidak-tidak. Maksudku bukan seperti itu! Ah itu lebih seperti- emm seperti—yahh pokoknya tidak yang seperti itu. Itu lebih menjurus kalau ada dia maka akan ada yang aku kejar dan hajar! Ya! Seperti itu!" entah kenapa makhluk pirang itu malah panik sendiri dengan omongannya. Padahal sama sekalu tidak ada yang menyimak perkataannya.
Saat masih sibuk dengan penyangkalannya (?) ia melihatnya. Ia melihat Kadota tengah mengomel pada seorang laki-laki pendek. 'Siapa laki-laki itu?'
Di dorong rasa penasaran. Shizuo pun pergi mendekat. Dengan cra mengendap-endap. Walau percuma juga, pasalnya ini taman. Tempat publik. Tempat terbuka.
'Eh? Itu Izaya? Kenapa mereka berdua ada di sini? Kenapa tangan Kadota menggandeng tangan Izaya? Kenapa si kutu itu malah berwajah ceria mirip cewek shojo manga yang kemarin di baca Kasuka? Kemana wajah sinis nya pergi? Kenapa ia tidak pernah bersikap manis begitu pada—ku?'
"ARRGGGHHH!" tiba-tiba saja Shizuo berteriak. Dan Izaya yang tidak jauh darinya langsung menoleh bingung. Sedetik kemudian muncul seriangaian di wajah si raven.
"Dottachin, aku mau main dulu sama shizu-chan ya!" Izaya langsung kabur mengejar Shizuo yang sudah mulai berlari menuju pusat pertokoan.
.
.
Sudah lebih dari 30 menit Izaya berputar-putar di deretan pertokoan Ikebukuro. Berusaha mencari keberadaan Shizuo. Saat Izaya melewati celah antara dua gedung tinggi, tiba-tiba ada yang menariknya.
"Wahhh!"
"Diamlah Iza-chan."
"Eh?"
Izaya langsung mentap penuh selidik pada pelaku yang telah menariknya tadi. Izaya sempat berpikir itu Shizuo. Orang itu juga punya rambut pirang dan tubuh tinggi. Ia memaai kacmata berlensa bening dengan kemeja putih dan celana hitam panjang. Tapi bukan, ia bukan Heiwajima Shizuo. Jika Shizuo mempunyai mata sewarna madu, maka orang dihadapannya punya iris emas yang berkilat ketika terkena cahaya matahari.
"Shitsuo-kun?"
Remaja itu hanya tersenyum saat Izaya dengan tiba-tiba menubruknya dan dengan tidak tahu malunya menangis di dada si pirang.
"Jangan menangis Iza-chan. Aku sudah ada di hadapanmu kan sekarang? Jadi jangan menangis lagi. Atau aku akan pergi sekarang juga?"
Izaya bergumam "Tidak, jangan pergi." Dengan suara serak.
"Kulihat sekarang kau dekat dengan seseorang ya?" Tubuh Izaya menegang saat Shitsuo mengatakan itu.
"Siapa namanya, Iza-chan? Ahh kalau tidak salah, Shizu-chan kan?"
"Karena itu saat ini aku memakai pakaian yang sama persis dengan milik Shizu-chan itu. Bukankah aku terlihat lebih menarik ketimbang Shizu-chan? Ne... Iza-chan."
Shitsuo lalu memeluk erat remaja di depannya. menyembunyikan seringai an di balik punggung kecil itu. Dan Izaya hanya bisa mematung di tempat, terdiam takut saat tatto mawar di belakang lehernya mulai bergerak membentuk sulur tanaman liar. Bergerak cepat menuju lengan dan sebagian punggungnya.
.
.
TBC
Sorry aku lama up date. Nggak tahu tiba-tiba aja buntu dan lagi dapat pencerahan pas kemarin ngemil nastar (?)
