A/N: Kita kembali di fanfiksi (bukan) kesayangan kita semua, chapter dua~
Pembaca di rumah/sekolah/dimanapun anda berada, bagaimana kabarnya? Sekarang saya sedang libur panjang pasca ujian kuliah, jadi mohon doa anda supaya saya tidak mager menulis kisah :") (tapi kalau gak mau doa juga ya gak papa, saya gak maksa)
Untuk yang merekues fanfic dari ide chapter pertama, dimohon kesabarannya karena selaku idea dump a.k.a. kumpulan ide-ide yang menumpuk bagai sampah, saya sendiri tidak tahu kapan mereka bisa saya jadikan cerita ¯\_(ツ)_/¯ *ditabok bata*
OXDXC
Assassination Classroom Idea Dump (ACID) by Nyx Keilantra
Ansatsu Kyoushitsu by Yuusei Matsui
Warning(s): Yaoi, mungkin OOC, cerita tidak berkesinambungan (?), etc.
OXDXC
Aku Bukanlah Dia
Ini bukan cerita angst yang akan membuat anda bersimbah airmata. Ini bukan cerita tentang Karma berpura-pura menjadi saudari kembarnya yang sudah tiada, demi membahagiakan sang bunda yang terganggu jiwanya. Bukan juga tentang Karma menyembunyikan kepribadian aslinya demi menjaga kelanggengan hubungan dengan pacarnya yang tentunya ogah berpacaran dengan calon iblis macam Karma.
Tidak, tidak, ini hanya cerita tentang bagaimana klan Akabane punya anggota banyak luar biasa, dan bahwa tidak mustahil bila karenanya, ada dua anggota klan yang bernama sama. Bukan masalah, toh selain saat reuni keluarga, kecil kemungkinan mereka akan bertatap muka...
Tapi benarkah?
"^$#%*($^^&!"
Mulut Karma menyumpah sebanyak satu tempat pembuangan sampah. Ia yang tadi sedang tenang-tenang tidur siang di halaman belakang gedung kelas E Kunugigaoka tahu-tahu dibangunkan dengan tidak sopannya oleh segerombolan pemuda dari berbagai sekolah. Mereka mengaku berada di sana semata-mata hendak memberi "pelajaran" untuk Karma yang telah berdosa terhadap mereka.
Perihal ini, ada tiga masalah.
Sejak ia kedatangan bula—eh, guru gurita yang ajaib nan serba bisa, Karma sebenarnya sudah mulai mengurangi berbuat dosa. Dari malak tiap hari Senin dan Kamis sekarang jadi Selasa dan Jumat saja (lha itu mah cuma ganti hari kali namanya), gak lagi menantang sparring preman SMP sebelah (lebih karena dia udah keseringan menang lawan mereka sih sebenernya), bahkan sekali waktu ia memberi amal ke sumbangan korban gempa (pakai uang ketua OSIS yang dicurinya, tepat pas sang ketua OSIS menyusul Karma dalam kondisi banjir keringat dan terengah-engah).
...pokoknya, Karma sudah mulai mengurangi berbuat dosa.
Itu masalah pertama. Yang kedua adalah fakta bahwa sejago-jagonya Karma bertarung satu lawan beberapa, ia bukan super-bukan-hero yang bisa mengalahkan kurang-lebih lima puluh orang selagi dirinya sendirian dan tak bersenjata. Dan yang ketiga:
Karma tidak ingat pernah berbuat dosa pada mereka. Iya dia masih berbuat dosa, tapi enggak sama makhluk-makhluk ini pada.
Baru Karma ingin bertanya memastikan kebenaran tuduhan mereka—kan kali-kali Karma beneran sudah berdosa pada mereka tapi terus dia amnesia atau apa; kalau Karma kena Alzhemeir dini kan bahaya jadinya—para pemuda itu sudah tidak sabaran dan langsung menyerang Karma. Tidak lupa pakai seruan perang Skandinavia.
Karena Karma sedang tidak ingin mengetes kebolehannya menghadapi mereka semua, dia terpaksa menggunakan jurus beladiri yang paling mendasar nan utama, jurus yang dimulainya dengan mantap menapakkan satu kaki ke tanah dan kaki berikutnya di depannya dan terus berikutnya dengan speed yang terus bertambah—alias jurus Kabur Meninggalkan Arena.
Ye, mau ngacir melarikan diri bilang gitu aja napa, Karma.
Hari pertama, Karma masih mampu meloloskan diri dari para pengejarnya. Begitu juga dengan hari kedua dan ketiga—kan Karma sudah dilatih parkour oleh Pak Karasuma walaupun dia sering bolos pelajaran olahraga—tapi di hari keempat yang dianggap angka sial ini Karma sial juga. Pengejarnya mendapat ilham entah darimana dan telah menyewa sebuah angkot untuk mengejar Karma.
Gila, kejar-kejaran hari gini bukan lagi pake taksi tapi pake angkot, masa. Gak sekalian pake becak aja.
Terengah pasca meloncati kawat duri di atas tembok bata, Karma meluruskan tubuhnya yang tadi terbungkuk di depan tumpukan plastik penuh sampah, kemudian terperanjat mendapati sosok yang dijumpai matanya.
Sosok seorang manusia, kelamin pria, usia diperkirakan kitaran kelas 3 SMP atau 1 SMA, tinggi 175,5 cm (tau darimana?), mata merkuri dan rambut merah, tengah berselonjor ala Cleopatra di sebuah futon yang melapisi tangga darurat gedung di seberang gang tempat Karma tengah berada. Dan, ah ya, tengah nyengir menatap Karma.
Karma... Dengan penyesalan sedalam lapisan terbawah neraka, ia tahu pemuda ini siapa.
Pemuda yang tidak hanya berwajah serupa dengannya (serupa tapi tak sama; sulit dijelaskan dengan kata-kata tapi pokoknya struktur wajah mereka berbeda), lebih tinggi setengah senti darinya, berusia sebaya tapi setingkat di atasnya dalam urusan sekolah, tapi juga bernama sama dengan Karma.
"Yo, Karma-chan~ Capek ya abis kejar-kejaran?"
"Oh, Akabane-kun ya, gak kok biasa aja. Kau sendiri gak capek hidup di dunia? Gak mau kukirim ke neraka saja?"
Keduanya tersenyum menyipitkan mata.
Dilatari langit senja, hari itu terjadi sebuah masalah.
.
.
Gakugaku Ganda
Pagi yang cerah saat kediaman keluarga Asano didatangi Akabane Karma...
"Yo Asaaa—lah alamat ya. Maaf mengganggu, saya permisi ya."
Pintu gerbang yang ditutup Karma kembali terbuka, menampakkan sosok 'Asano-kun' yang sangat familiar di mata Karma (jangan tanya bagaimana bisa familiar meski ia di kelas E yang satu kilometer jauhnya dari kelas A di gedung utama). Hanya saja... agak berbeda.
"Kau... Asano-kun?"
Pertanyaan dilontarkan Karma dengan nada sangat ragu. Memperhatikan sosok yang—mungkin—adalah rival-tapi-mesra (?) di sekolah, Asano Gakushuu, mulai dari rambut jingga ber-highlight ungu dengan hair extension kepangan kecil di sisi dagu, kaus hitam dengan lengan disobek dan print nan elegan seolah dibuat dengan cat semprot ungu 'FUCK YOU', jins hitam sobek-sobek dengan sabuk logam berpaku, sampai sepatu bot hitam dengan ujung kaki sama-sama berpaku. Belum lagi tindikan keperakan di telinga, alis, dan ujung mulut serta tribal tattoo di lengan atas yang kukuh.
Terduga Asano Gakushuu menyibakkan poni dari dahi, matanya yang separuh terpejam menyapu balik sosok Karma dengan sorot mata yang begitu seksi. Suara serak-serak basah lantas menyahuti, "'course it's me, baby. Siapa lagi?"
"...saya beneran salah rumah deh kayaknya. Sekali lagi maaf mengganggu, permisi ya."
Karma (yang saking syoknya tiba-tiba jadi punya tata krama) sudah berbalik arah siap meninggalkan rumah yang ia makin yakin bukan kediaman saingannya saat ia merasakan lengan kukuh tadi datang dan mengistirahatkan diri di bahunya. Menolehkan wajah siap memprotes bukan-Asano-kun atas tindakannya karena bahu Karma bukan armrest di sofa, si surai merah justru terpaksa menyentakkan kepala dengan wajah memerah.
Kenapa?
Karena bukan-Asano-kun balas menatapnya, masih dengan mata terpenjam setengah, tapi ditambah senyum memesona nan berbahaya.
Sial, apa Karma terkirim ke alternative universe gara-gara dia memborong habis semua kemenyan yang mau dibeli Kirara, jadi cewek itu ingin balas dendam padanya?! Atau hari kebalikan Spongebob ternyata ada di dunia nyata juga?!
Otak Karma masih mengkalkulasi pro dan kontra menendang bukan-Asano-kun diantara kedua kakinya karena ia tidak yakin akan dibiarkan meninggalkan rumahnya begitu saja, saat pintu gerbang kembali terbuka—tidak digeser dengan tenang seperti sebelumnya, tapi praktis digebrak paksa—dan Karma tidak bisa tidak lega mendengar suara yang menghampiri telinganya.
"Gakuto, jangan ganggu temanku yang datang ke rumah! Mau kau kupaketkan lagi ke Rusia?!"
"Haaah, tau begini harusnya pintu kamar mandi tadi kusolder juga."
Bukan-Asano-kun menggelengkan kepala kecewa. Karma gundah antara ingin tertawa menyaksikan ekspresi Asano-kun (yang original) seperti ekspresinya tiap kali diisengi Karma, atau mendelik bukan-Asano-kun karena yang boleh menjahili Asano-kun tuh cuma Karma, ya.
(Kenapa cuma kamu, Karma?)
Akhirnya, Karma memutuskan pilihan ketiga: bertanya.
"Yo, Asano-kun, jadi ini saudaramu kembarmu atau apa?" tidak lupa tudingan jari tidak sopan ke muka. Asano mengerang lelah, tangan mengusap wajah yang seolah tengah berkata 'mengapa-Kau-berikan-cobaan-ini-pada-hamba-ya-dewa'.
"Sayangnya begitulah adanya, Karma-"
"Oi, aku bisa bicara juga, kenapa kau tidak menanyaiku saja-"
"Hoo, jadi kita sudah berada dalam basis dimana kita bisa bercakap-cakap seperti teman? Tidak sekalian basis dimana kau bisa seenaknya menjadikan bahuku tempat sandaran?" Karma rupanya masih sensi dengan apa yang—siapa tadi namanya? Gakuto?—lakukan. Omong-omong, dari tadi lengannya di leher Karma belum ia lepaskan...
"Tentu saja kita sudah bisa mengobrol biasa, kan kau yang mulai menyapa-"
"Menyapa apanya, aku sampai dua kali bilang aku salah rumah!"
"Oh iya Karma, aku sempat mendengarmu bicara kau salah rumah begitu sopannya, aku jadi ingin tertawa-"
"Asano Gakushuu tutup mulutmu!"
Rusuh semua. Dari balik jendela lantai dua, Asano Gakuhou kepo mengintipi mereka, tidak lupa sambil menyesap teh herbal dari cangkir porselen di tangannya.
Baguslah, pikir si pria. Tidak salah ia mengirim anaknya yang itu kembali dari sekolah militer Rusia. Ia bosan melihat hubungan Gakushuu dengan Akabane Karma nge-stuck di posisi yang sama. Kalau saja ini shoujo manga, mangaka-nya pasti sudah diprotes editor dan pembaca karena plotnya tidak maju-maju walau jumlah chapter-nya sudah masuk digit tiga.
Malam harinya...
"Jadi namanya Akabane Karma?"
Asano-kun—ah, kita sebut saja dengan nama kecilnya, Gakushuu—memutar mata jengah. "Kau bicara seolah-olah kau belum meng-hack seluruh data dirinya saja."
Gakuto angkat bahu, tersenyum tanpa dosa. "Dan kau bicara seolah-olah kau tidak peduli saja."
Gakushuu menyipitkan mata. "Aku yang akan memilikinya. Kau kembali saja ke Rusia dan mati hipotermia."
"Ahahaha! ...enak saja. Aku mau dia."
Dua pasang mata nan serupa beradu. Kedua pemiliknya berseteru.
"Kita lihat saja, siapa nantinya yang akan mendapatkan Akabane Karma."
Di rumahnya, Karma yang sedang memasak mie S****p rasa white curry bersin tiba-tiba.
"Duh, aku flu ya?"
~Tsuzuku~
A/N: Kenapa meski ngaku-ngaku punya enam ide lagi, yang saya munculkan cuma dua kali ini? Saya bukan mem-PHP-i, cuma merasa chapter ini sudah cukup panjang dengan hanya dua ide tertulisi.
Bagi yang sudah me-review sebelumnya mohon me-review lagi, yang belum ayo coba review kali ini~
