Title : Our Hero Academia

Disclaimer : Naruto : Masashi Kishimoto. Boku No Hero Academia: Kohei Horikoshi

Warn : PowerfulNaru, OOC, Typo. Etc.

Summary : Ini hanyalah kisah Uzumaki Naruto melewati jalur yang panjang untuk menjadi pahlawan terkuat sepanjang masa.

P.s. : don't like, don't read.

Chapter 5 : Don't Touch My Younger Sister

Happy Reading

.

.

.

.

Naruto sedang duduk di salah satu meja makan di kantin sekolah sambil menyantap nasi kari yang telah di sediakan salah satu pahlawan yang ahli dalam masakan.

"Hm... ini lumayan enak" gumam Naruto lalu kembali menyendokkan kari itu memasuki mulutnya.

"Ah...Naruto-san!" Naruto menoleh ke arah kiri tempat suara itu berasal dan dia melihat Izuku bersama dengan dua orang yang tak ia kenal dan salah satunya adalah anal berkacamata yang pernah mengatakan bahwa Izuku terlalu berisik saat pertemuan pertama sebelum ujian penerimaan di mulai.

"Hm.. duduklah" ucap Naruto kemudian mereka duduk di samping Naruto dan Naruto kembali memakan kari itu.

"Ah... Naruto-san, perkenalkan ini adalah Lida-san dan Uraraka-san" ucap Izuku memperkenalkan kedua teman barunya itu.

"Hm... Naruto Uzumaki" ucap Naruto lalu menoleh ke arah lida.

"Hm.. kau bukannya adik pahlawan yang mengenakan kostum seperti 'knight' itu ya" Naruto bertanya kepada Lida dan Izuku terkejut karena dia mengetahui siapa pahlawan yang dimaksud oleh Naruto.

"Ah.. benar kakakku adalah-"

"Sudah tak perlu di beritahu, aku juga tak perduli" ucapan Naruto membuat Lida langsung pundung di pojokan dengan Izuku yang mencoba menghiburnya.

Naruto hanya menatap datar kejadian yang sedang di lakukan oleh Lida dan Izuku.

Uraraka yang duduk berhadapan dengan Naruto memperhatikan wajah Naruto dengan seksama.

"Ha!" Uraraka berteriak sambil menunjuk Naruto yang kaget menatapnya dengan tatapan datarnya dan Lida serta Izuku juga kaget serta menghentikan kegiatan mereka.

"Ada apa Uraraka-kun?" Tanya Lida yang penasaran melihat Uraraka yang berteriak sambil menunjuk Naruto.

"B-bukannya kau anak orang kaya yang pernah memberi proyek kepada perusahaan bangunan keluarga kami untuk membangun ruang bawah tanah di rumahmu itukan?" Uraraka bertanya dengan antusias sedangkan Izuku kaget ketika mengetahui kalau Naruto adalah anak orang kaya.

"Ya.. benar... memangnya ada apa?" Naruto bertanya dengan nada datar sedangkan Uraraka menjulurkan tangannya seperti meminta sesuatu.

"Uangnya kurang 25 sen"

Dubrak!

Izuku dan Lida langsung terjatuh dari tempat duduk ketika mendengar Uraraka menagih kekurangan uang bayaran yang hanya sebesar 25 sen.

"Oh.. begitu" Naruto kemudian merogoh kantung celanannya dan mengambil 25 lembar uang 100 poundsterling

"Hm.. ambil kembaliannya"

"Ano... Naruto-san.. kami tau kau anak orang kaya.. tapi bukannya itu berlebihan?" Izuku mencoba memberi tahu Naruto mengenai perbuatannya.

"Begitukah? Bukannya Yen lebih besar dari Pounds?"

Duak!

Izuku meninju Naruto sampai terbang.

"POUNDSTERLING ITU MATA UANG TERTINGGI, BAKA!"

"Oh.. begitu" mereka kaget melihat Naruto yang sudah duduk di samping mereka.

"Tetap ambil saja kembaliannya" lanjut Naruto dan nampak Uraraka tampak senang dengan uang yang di berikan Naruto.

"Ah.. iya.. kau kemarin ada di posisi berapa ketika latihan itu?" Izuku bertanya antusias kepada Naruto. Naruto sebenarnya ingin pundung di pojokan seperti Lida tadi tapi entah kenapa tubuhnya tak mau mengikuti perintah otaknya.

"106" jawab singkat Naruto kemudian kembali memakan sisa nasi karinya.

"Eehh!" Dan di mulailah teriakan yang di benci oleh Naruto.

"Kenapa jauh sekali?" Tanya Izuku lagi.

"Tiba-tiba bakatku menghilang" jawab Naruto singkat dan mereka bertiga langsung melakukan diskusi.

"Ehm... apa kau melihat seorang pria yang seperti berandalan dengan tali putih yang ada di leher dan memakai setelan hitam?" Tanya Izuku dengan nada ragu.

"Hem? Tidak.. yang ada hanya pria tua bangka dengan baju ketat berwarna hijau dengan rompi aneh" jawab Naruto dan mereka bertiga tampak bernafas lega.

"Memangnya ada apa?"

"Ah.. tidak. Hanya saja-"

Obrolan panjang mereka pun akhirnya berakhir ketika bel masuk berbunyi.

.

.

Naruto kini tengah berada di depan sebuah rumah dengan pagar yang lumayan tinggi dengan simbol keluarga Uzumaki dengan pos penjagaan.

"Selamat datang Naruto-sama" 2 orang penjaga yang berada di sana langsung menyapa Naruto.

"Ah iya.. Izumo ehm.. kalau tak salah kau itu kotetsu kan?"

"Ah.. itu-"

"Sudah tak perlu di lanjutkan" Naruto membuat gestur tangan bertanda dia harus menghentikan ucapannya lalu Naruto berlalu melewati mereka dan memasuki rumah besar yang tampak (atau memang) seperti mansion berwarna perpaduan kuning dan putih dengan sedikit berwarna hitam.

Naruto membuka pintu ganda yang terbuat dari kayu itu secara pelan dan langsung di sambut oleh maid atau servant atau lebih lokal dengan nama pembantu yang berjajar rapi menyambut kepulangan dirinnya.

"Hm? Sedang apa kau disitu?" Naruto menyernyitkan matanya ketika melihat seonggok orang berambut kuning yang ikut-ikutan sedikit membungkuk menyambutnya.

"Naruko.. kau dimana!?" Tiba-tiba dari pintu yang ada di sebelah kiri di dekat tangga keluar seorang wanita paruh baya berambut merah yang berjalan terburu-buru.

"Ah.. Naruto.. okaeri" ucap wanita itu lalu berjalan mendekat ke Naruto dan memberi gestur tangan untuk menyuruh para maid untuk membubarkan diri.

"Apa kau melihat Naruko?" Tanya Wanita itu aka Kushina dan Naruto melirik seonggok orang dengan rambut kuning dan memakai baju maid yang sedang menaruh jari telunjuk di depan bibir.

"Ah.. itu... aku... tak melihatnya" ucap Naruto dengan wajah datarnya sehingga Kushina tak bisa menemukan celahnya berbohong.

"Ah.. souka? Hah.. adikmu melarikan diri.. padahal dia sudah di jadwalkan untuk bertemu dengan anak teman ibu dari keluarga phenex" Kushina menunduk lemas memikirkan tingkah anaknya itu.

"Begitu.. ibu seharusnya tak perlu memaksanya untuk taarufan begitu. Dia juga masih berusia 13 tahun" ucap Naruto datar dan membuat Kushina makin lemas.

"Tetap saja ini agar nama keluarga kita terpandang"

"Begini ya, aku tak perduli sebenarnya dengan betapa terpandanganya keluarga kita ini. Dan aku juga tak begitu perduli seberapa lama keluarga kita akan terpandang. Bahkan menurutku aku sudah mulai tak dapat memandang keluarga yang memaksa anaknya yang 'berbakat' untuk menikah. Aku merasa bersyukur tak memiliki bakat. Tapi.. aku perduli dengan nasib adik-adikku aku tak ingin masa depan yang kelam menimpa adik-adiku" Ucap Naruto membuat hati Kushina agak teriris.

"Bukan begitu.. hanya saja-"

"Kalau kalian masih ingin memaksa adikku menikah dini, aku menantang calon tunangannya itu dalam King's Game" ucap Naruto datar lalu berlalu melewati Kushina yang masih memikirkan ucapan Naruto.

King's Game adalah pertarungan yang mirip dengan yang di lakukan oleh gladiator beberapa ratus tahun yang lalu di roma Italia. Kalau dulu di lakukan untuk menghibur para bangsawan, King's game adalah pertandingan untuk membuktikan seberapa kuat seorang bangsawan itu. Dan dalam King's game terdiri dari 1 babak dengan waktu 2 jam dan ditentuka dengan yang paling banyak mendapat luka yang kalah atau akan di hentikan ketika salah satunya meninggal atau menyerah.

"Naruto..." Kushina berucap pelan.

Di sisi lain Naruto sedang berada di kamarnya sambil menulis di buku diari.

"Kakashi-sensei, tadi... ketika aku melewati Ujian tadi... bakatku tiba-tiba hilang"

Tinta yang di torehkan di buku diari Naruto tadi menghilang. Buku ini 'Book Of Kakashi' yang secara tiba-tiba muncul sehari setelah Kakashi kembali ke dimensinya. Buku ini seperti aplikasi berkirim pesan dengan Kakashi yang jauh di sana.

"Apa kau memakainya berlebihan sebelumnya?" Tinta Naruto yang hilang tadi muncul kembali dengan tulisan yang berbeda.

"Sedikit sih"

"Begitukah? Begini..., kekuatan itu perlu pelatihan. melihat dari ceritamu itu aku berani bertaruh kalau kau baru memakai kekuatan paling banyak 3x setelah aku pergi. Kekuatan itu harus sering kau gunakan agar 'Chakra' yang di pakai berkurang dan batas penggunannya semakin panjang" balas Kakashi dari dunia yang jauh di sana.

"Jadi... berapa lama aku harus menunggunya?"

"Setidaknya 2 minggu"

"Begitukah? Terimakasih" tulis Naruto dan langsung menutup buku itu. Besok genap sudah 2 minggu dia tak bisa menggunakannya.

Naruto senang dalam hati tanpa melihat balasan terakhir dari Kakashi.

.

.

Naruto kini sedang duduk di bangku panjang di taman belakang rumahnya dengan Naruko yang bergelayut manja di bahunya.

"Ne.. Nii-chan. Apa kau akan menemaniku untuk berjumpa dengan anak dari keluarga phenex itu besok?" Tanya Naruko dengan nada sedikit sedih.

"Kalau kau mau. Aku akan menemanimu" jawab Naruto.

Naruko memaklumi sikap siscon Naruto kepadanya atau Brocon kepada kakaknya yang satu lagi yang sedang berada di luar negri. Tapi dia tak habis pikir ketika mendengar gosip yang beredar di kalangan para pembantu kalau Naruto ingin menantang anak keluarga phenex itu untuk melakukan King's Game, dia bukan tak senang. Dia hanya takut kalau kakak tersayangnya itu terluka atau mungkin terbunuh karena dia tau kakaknya tak akan menyerah seberapapun luka atau seberapapun ia kehilangan organ kalau itu demi dia dan kakaknya yang satu lagi. Dan dia juga tau kalau kakaknya ini hanya memiliki semangat dan tekat yang tinggi tanpa bakat. Ya.. setidaknya itu yang ia ketahui.

"Ruko-chan?" Suara Naruto membuyarkan lamunan Naruko dan Naruko malah memeluk tangan Naruto dengan erat seolah meminta Naruto menghentikan apapun yang Naruto rencakan.

.

.

Hari ini seperti yang di janjikan oleh Naruto ia ikut menamani adiknya itu untuk menemui keluarga Phenex.

Mereka sedang duduk di dalam mobil yang sedang mengarah ke rumah keluarga phenex.

Kemarin Naruto sempat mencari sedikit informasi tentang keluarga itu. Itu adalah cabang keluarga dari keluarga pahlawan kelas atas Endeavor. Ya walau keluarga phenex masih keluarga cabang tetap saja anak-anak yang di lahirkan wanita yang dinikahi lord phenex memiliki bakat-bakat hebat.

"Kita hampir sampai" Kushina yang duduk di depan Naruto dan Naruko berucap dan Naruko sedikit merapikan pakaiannya lalu mencoba untuk rileks dan menggenggam tangan Naruto dengan erat seolah tak ingin kehilangannya dan Naruto dengan wajah datarnya yang biasa sedang memejamkan matannya entah sedang melakukan apa.

MINDSCAPE NARUTO

Bzzt!

Jduar!

Bzzt!

Bzzt!

Wush!

Duar!

Blaar!

REAL WORLD

Mobil itu kemudian melambat dan parkir di tempat di samping mansion utama Phenex.

Naruto membuka matanya dan keluar dari mobil dengan santai. Lalu dapat melihat mansion phenex yang mewah atau mungkin lebih mewah dari mansion. Namun tetap saja itu tak penting baginya sehingga dia tak perduli.

"Naruto ayo kita masuk" ucap Kushina dan Narutopun mengekor di belakang untuk berjalan ke mansion itu.

Setelah memasuki mansion itu mereka di sambut oleh maid dan salah satu keluarga putra phenex itu namun dia belum berjumpa dengan putra yang di 'ocopkan' dengan Naruko. lalu mereka berjalan ke arah ruang tamu.

Naruto hanya mengekor daru belakang mereka sambil memperhatikan beberapa lukisan tua mereka.

'Mereka hanya memajang gambar dari leluhur yang memiliki bakat' batin Naruto ketika melihat leluhur mereka yang masing-masingnya mengeluarkan kekuatan masing-masing.

Jrek!

Pintu ganda ruang tamu yang besar terbuka dan mereka masuk untuk duduk di kursi yang terbuat dari emas dan di taburi oleh permata itu.

"Tunggu sebentar ya" ucap anak gadis dari keluarga itu yaitu Reiko Phenex.

"Nee-san.. tadi cantik ya Nii" ucap Naruko mencoba menggoda Naruto. Dan Naruto melihat Reiko yang duduk berhadapan dengannya.

"Tidak. Dia biasa saja"

Berbeda dengan yang Naruto utarakan. Reiko memiliki wajah yang cantik dan putih mulus tanpa cacat dengan rambut hitamnya yang panjang dan gaun berwarna putih yang indah dan ukuran aset yang lumayan. Namun Naruto tak tergoda, aneh.

Tap!

Suara langkah kaki terdengar dan mereka semua kecuali Naruto menoleh ke arah suara itu dan tampak seorang pemuda yang mungkin seumuran dengan Naruto berjalan dengan angkuhnya dengan 2 bodyguard di belakangnya.

"Ah.. maaf terlambat" ucapnya dengan senyum yang menurut Naruto menyebalkan.. lalu duduk berhadapan dengan Naruko yang berada di samping Naruto.

"Wah... anak dari keluarga Uzumaki sangat cantik ya" ucapnya sambil memandangi Naruko dari atas sampai bawah.

"Ternyata anak dari keluarga phenex itu bertampang menyebalkan" bukan Naruko. Tetap Naruto yang berucap hal tersebut sedang Naruko dan Kushina yang ada di samping kiri Naruko terkejut.

"Hm... siapa kau?" Anak dari keluarga phenex itu bertanya dengan nada yang sedikit di tinggi kan.

"Bukankah tak sopan bertanya nama seseorang tanpa memberitahu namamu sendiri" jawab Naruto dengan nada datarnya yang biasa.

"Kau benar.. perkenalkan... aku adalah Reichi Phenex. Penerus keluarga Phenex" ucap Reichi dengan nada angkuhnya.

"Aku adalah Naruto Uzumaki. Kakak dari Naruko Uzumaki"

"Hoh... jadi kau ya.. keturunan tak berbakat yang tak dapat menjadi penerus keluarga Uzumaki" tiba-tiba atmosfer yang yang ada di sana menjadi berat dan Naruto dan Reichi saling bertatapm dengan pandangan tajam.

"Sudah... turunkan killing intens kalian" dari arah pintu datang 2 orang pria yang satu memiliki rambut kuning dan satu memiliki rambut hitam berjalan berdampingan. Mereka berdua adalah Lord Uzumaki dan Lord Phenex.

"Ah.. Tou-sama" Reichi langsung berdiri untuk mempersilahkan ayahandanya duduk.

Berbeda darinya Naruto malah tak berdiri dan tak perduli kalau ayahandanya duduk di bangku sebelah kanannya.

"Baiklah kita lanjutkan perbincangan kita" Lord Phenex berucap dan lalu dia menatap Naruko sekilas.

"Anak Lord Uzumaki sangat cantik" ucapnya lalu tersenyum ke arah Lord Uzumaki.

"Ah.. domo" ucapnya sambil membalas senyum dari Lord Phenex.

"Dan.. Lord Phenex ternyata memiliki sifat pedopil"

Semua orang yang ada di sana langsung menatap tak percaya kepada bau kencur ini baru saja menghina Lord Phenex.

"Hahaha! Lelucon yang bagus anak muda" mungkin karena otak yang sedikit 'Selek' Lord Phenex menganggap hinaan dari Naruto sebagai candaan.

"Jadi... kapan bisa kedua anak kita ini dapat di tunangkan?" Tanya Lord Phenex to the point yang membuat Naruto menggertakkan giginya dan Reichi hanya tersenyum ke arah Naruto.

"Ah... kalau bisa sih secepat-cepatnya" Kushina berucap sambil tersenyum dan menggosok-gosokkan kedua tangannya.

"Ohh... begitukah? Bagaimana menurutmu Reichi?" Sang Lord Phenex bertanya kepada putra satu-satunya keluarga itu.

"Ya... aku tak apa-apa" jawabnya santai sambil tersenyum puas seolah dia merasa menang.

"Ba-"

"Aku menantangmu untuk melakukan King's Game!"

Terjadi hening sesaat karena shok dari kubu Uzumaki.

"Apa yang kau ucapkan Naruto?" Lord Uzumaki bertanya karena kaget.

"Aku katakan sekali lagi. Aku menantangmu untuk melakukan King's Game" kali ini ia berucap dengan lebih kuat dan menunjuk Reichi.

"Baiklah.. aku menerimanya" ucap Reichi santai dengan wajah yang songong.

"Ya.. kalau begitu.. kita akan mengadakan King's Game. 2 hari dari sekarang" ucap Lord Phenex mengejutkan mereka semua.

Saat itu banyak perdebatan diantara mereka semua namun.. tak ada yang dapat membuat amarah dari seorang Naruto Uzumaki meredup.

.

.

.

.

TBC

Author's note : Yosh! Kalau ada yang percaya.. ini adalah Arc pertama saya (biasanya setiap arc habis dalam satu chap atau chap tunggal) ini saya perkenalkan keluarga bangsawan karena menurut saya cerita tentang status sosial yang ada dalam BNHA sangat minim karena terlalu fokus pada Izuku bahkan berita penting seperti Todoroki itu anaknya Endeavor itu telat banget dan baru muncul di arc festival olahraga.

Hm... apa? BNHA rasa DXD? Yah... itu karena saya sedikit mengadaptasinya. Karena jika ada yng percaya arc tunangan Rias adalah ARC yang paling saya sukai dan membuat saya bersemangat.. tapi saya tetap benci ama Issei :v

Dan.. kalau ada yang nyadar saya melakukan beberapa parodi di chap ini.. kalau ada yang percaya ya..

Hm... untuk pair sih... saya masih belum tau yang 'ha'kemarin pun belum pasti bakal jadi pair hehe..

Yang cocok jadi pair sih yang kuat dan cantik dan imut dan seksi dan dan dan lain lah..

Hehe...

Oklah..

RnRnya di tunggu ya.. (kalau ada yang percaya ane sedih karena cuma 2 orang aja yang setia nge riveiw tapi tetap.. arigatou na... devil-san Luchifer-san 😆)

See You Next Chap...

Bima Ootsutsuki~ LogOut~