Title : Our Hero Academia
Disclaimer : Naruto : Masashi Kishimoto. Boku No Hero Academia: Kohei Horikoshi
Warn : PowerfulNaru, OOC, Typo. Etc.
Summary : Ini hanyalah kisah Uzumaki Naruto melewati jalur yang panjang untuk menjadi pahlawan terkuat sepanjang masa.
P.s. : don't like, don't read.
Chapter 7 : Reichi
Happy Reading
.
.
.
.
Naruto POV
Aku menatap tajam bocah aneh yang tak memakai seragam olahraga dan memilih memakai baju hijau ketat anehnya.
"HAJIME!"
.
.
Duak!
.
.
Kejadiannya terjadi begitu cepat. Aku tak dapat begitu mengingatnya, yang ku ingat hanya rasa sakit ketika daguku di beri Uppercut oleh Lee dengan segenap kekuatannya. Dan... aku jatuh pingsan seketika.
Dan ketika terbangun.. aku sudah ada di ruang perawatan Recovery Girl. Cih! Bagaimana aku bisa mengalahkan anak ayam itu kalau aku masih berada di bawah standar? Aku terlalu membanggakan pelatihan yang di beri oleh All Might, padahal pelatihan itu tak lebih dari 2 atau 3 hari saja sebelum dia berkata bahwa aku sudah siap. Mungkin karena ucapannya itu aku menjadi pemalas dan tak pernah latihan lagi.
Sekarang aku sadar. Bahwa aku... belum siap.
.
.
"Bagaimana perasaanmu, Huh?" Anak berambut model nanas bertanya dengan malas sambil membaca buku tentang Fashion yang dia ambil dari rak buku perpustakaan di ruang bawah tanah kamarku.
"Apa maksudmu?" Tanyaku sedikit menyernyitkan alisku karena tak mengerti maksud dari ucapannya.
"Ya, bagaimana perasaanmu akan melawan seorang anak bangsawan Phenex. Kau taukan kalau keluarga itu adalah keluarga tipe petarung?" Dia berucap malas sambil tetap membaca buku Fashion jadul itu sambil duduk di lantai.
"Tentu saja aku tau, tetapi..-"
"Kau belum siap, Huh! kau adalah orang yang merepotkan" ucapnya lalu bangkit dari duduknya lalu berjalan mencari buku yang ia ingin dia lihat.
"Ini!"
Dam!
Sebuah buku yang sangat tembal di hempaskannya pada meja belajarku dan membuatku kaget dan hampir terjungkal kebelakang.
"Apaan nih?"
"Kau baca saja judulnya. Hah... Mendokusai" jawabnya malas lalu kembali ke posisi duduknya dan membaca bukunya.
Hah! 'Cara Cepat Untuk Siap' aku tak tau ini ada. Aku membaca beberapa halaman dan sangat tertarik buku ini begitu tebal namun isinya sangat mudah di mengerti dan juga detail. Aku penasaran siapa yang membuatnya.
Arigatou Na... Shika!
.
.
.
Naruto POV : OFF
"Baiklah pertandingan ini akan segera di mulai dalam 30 menit" sebuah suara dari speaker di sebuah bangunan yang tampak seperti kembaran dari kolesium menggema.
Sebuah arena pertandingan yang lumayan luas 100x100 meter untuk King's Game telah di siapkan untuk pertarungan perebutan hak ini.
Sudah banyak keluarga bangsawan datang dan duduk di kursi yang sengaja melingkari arena dan duduk secara bertingkat sesuai dengan derajat keluarga, keluarga Uzumaki sendiri duduk di tingkat ke 3 dari 5 tingkat sedangkan Phenex duduk di tingkat 4.
Di tempat lain. Lebih tepatnya ruang ganti untuk petarung. Tampak Naruto duduk di depan cermin dengan keringat yang mulai keluar dari pori-pori kulitnya. Beberapa kali dia memegang bagian dadanya sambil mengatur nafas. Dia memakai baju khusus untuk petarung di King's Game yaitu bagian atas yang di bentuk seperti kimono berwarna putih dengan terusan celana panjang yang juga berwarna putih dengan obi yang melilit pinggangnya yang juga berwarna putih(yaelah Nar. Lu mau maen karate?)
Ceklek!
Tiba-tiba pintu terbuka. Naruto langsung menoleh untuk mengetahui siapa yang masuk ke ruang ganti tanpa ketok pintu. Bagaimana kalau tadi dia masih bugil?
"Heh. Lemah seperti biasa ya. Onii-Sama"
Seorang remaja yang lebih muda dari Naruto dengan rambut berwarna merah cerah serta pupil mata Darkblue dan menggunakan t-shirt hitam dengan terusan jeans berwarna hitam dan sebuah jam tangan berwarna hitam juga. (Yaelah Men.. mau layatan loe?)
"Heh.. ucapanmu masih tajam seperti biasa ya, Menma"
.
.
"Baiklah! Pertandingan akan segera dimulai. Dan langsung saja saya perkenalkan anak pertama dari klan Uzumaki! Uzumaki Naruto!"
Naruto berjalan dengan gagah menuju arena dengan tambahan sebuah ikat kepala putih dengan lambang Uzumaki yang entah dari mana ia dapat.
"Melawan! Penerus klan Phenex! Anak ke 2 dari keluarga Phenex! Phenex Reichi!"
Sama seperti Naruto tadi. Reichi keluar dari sebuah lubang didinding (eh coeg dari lorong!) Lalu berjalan ke arena secara santai dengan senyum sombongnya.
Mereka sekarang sudah berhadapan satu sama lain. Dengan dogi putih itu mereka terlihat sangat gagah dan kuat.
"Heh. Adikmu akan menjadi milikku. Dan keper-"
"Bukankah tak baik seorang anak bau kencur sepertimu mengucapkan hal itu" Naruto memotong ucapan Reichi yang membuat Reichi langsung memanas.
"Heh... setidaknya aku lebih kuat dari-"
"Setidaknya aku tak seceroboh dirimu" potong Naruto lagi lalu Naruto langsung memasang kuda-kuda bertarungnya ( bayangin aja kuda-kuda yang keren)
"Cih!" Reichi hanya bisa mendengus kesal sambil ikut memasang kuda-kudanya.
"Sebelum pertandingan akan di beritahukan beberapa peraturan di King's Game di zaman modern ini. Yaitu dilarang membunuh, dilarang menggunakan senjata selain 'Quirk', dilarang melakukan penyembuhan di luar kemampuan 'Quirk', dilarang menggunakan penguat di luar kemampuan 'Quirk', dilarang memanggil bantuan di luar kemampuan 'Quirk', dan menyerah itu dilarang. Kemenangan akan di tentukan ketika salah seorang dari peserta pingsan atau jogai(keluar arena)namun jika salah seorang peserta melakukan Jogai secara sengaja akan di kenakan hukuman yaitu penurunan kasta keluarga. Baiklah. Jika sudah jelas mari kita mulai pertandingan ini. King's Game..." suara dari loud-speaker itu menggantung.
"Hajime!"
Setelah teriakan mulai. Para penonton yang tadi riuh seketika terdiam.
Antar Naruto dan Reichi masih terdiam, belum ada yang bergerak sedikitpun dan menunggu waktu yang tepat.
Suara angin yang berhembus terjengan dengan jelas karena kesunyian yang tercipta.
Naruto dan Reichi masih bersikap dengan kuda-kuda mereka dan menatap tajam satu sama lain.
Di bangku penonton.
Naruko yang merasakan hal aneh lalu menoleh ke arah sang ayah yang menatap kedua orang bocah itu dengan serius.
"Nee, kenapa pertarungannya belum dimulai?" Tanya Naruko kepada sang ayah.
Minato kemudian melipat tangannya di depan dadanya lalu meletakkan kaki kanannya di atas kaki kirinya.
"Pertarungannya sudah di mulai. Kau dengar tadikan?"
"Iya.. tapi..."
"Wait and see then learn" ucap sang ayah tiba-tiba membuat Naruko hanya bisa menarik nafas dalam. Kemudian dia menoleh ke kanan ke arah kakak keduannya yang juga tak kalah serius dengan sedikit aura iri di sekitar kakaknya itu sehingga ia tak berani bertanya.
"Sudah!"
Ayahnya berteriak secara tiba-tiba membuatnya langsung melihat kearah Naruto dan Reichi yang ternyatu baru menggerakkan sedikit kakinya.
"Mou~"
Kembali ke Naruto dan Reichi.
Naruto mengeratkan giginya bukan karena benci tapi karena dia sudah mulai pegal dalam posisi kuda-kudanya.
'Angin tak berhembus cukup kencang di langit membuat awan bergerak dengan lambat. Aku tak yakin masih tahan menunggu dalam posisi ini. Namun jika aku pertindak gegabah... bisa-bisa aku akan kalah dengan telak. Bagaimana ini?' Naruto membatin. Dia sangat bingung dengan keadaan yang terjadi.
"Baiklah..." Reichi bergumam pelan namun masih dapat di dengar oleh Naruto.
"Kalau kau tak maju, maka... aku yang akan maju" sejurus dengan ucapannya Reichi langsung melayangkan tendangan ke arah wajah Naruto karena mereka berdua berada di titik 'tembak' yang sangat pas.
Naruto menahan tendangan itu dengan sisi kanan dari lengan kananya lalu membalas dengan pukulan lurus kearah wajah Reichi.
Reichi yang melihat itu langsung bersalto kebelakang dan dengan waktu yang tepat menendang dagu Naruto yang tak di lindungi.
Serangan yang mendadak itu tak dapat Naruto hindari dan dengan terpaksa dia menghadap langit kareba hantaman tempurung kaki Reichi ke dagunya.
Reichi yang bersalto dengan sempurna lalu menatap Naruto dengan senyum sombongnya yang biasa.
"Apa hanya segitu?" Tanyanya mencoba memprovokasi Naruto.
Naruto hanya diam dan melesat ke arah Reichi dengan kecepatan tinggi lalu memberikan tendangan memutar kearah wajah Reichi namun dapat di hindari dengan mudah.
Duak!
Dengan cepat kaki Kanan Naruto menghantam pipi kiri Reichi yang fokus dengan kaki kiri Naruto.
Reichi terjatuh dan terseret beberapa meter.
"Aku masih memiliki beberapa jurus lagi lho" ucap Naruto dengan Grin di wajahnya.
"Hoh... begitukah?"
Sebuah suara dingin yang merasuk telinga kiri Naruto.
Naruto langsung berbalik dan melompat mundur beberapa meter.
Itu adalah Reichi dia berdiri dengan senyum sombong nya.
Naruto yakin kalau Reichi telah ia tendang dan tak sadarkan diri. Naruto menoleh ke kanan menatap 'tubuh' Reichi yang perlahan mencair lalu bergerak masuk kedalam tubuh Reichi.
"Bagaimana? 'Quirk'ku... indah bukan?"
.
.
.
TBC
Hm... saya.. agak La*y untuk melanjutkan cerita ini. Karena kurangnya minat pembaca. Ok ok... saya mengaku kalau cerita saya memang buruk untuk menarik minat dari pembaca. Mungkin setelah menamatkan cerita ini saya akan pensiun saja. Haha.. moga aja kagak mati luan di tengah jalan.
Ok..
See you next chap
Bima Ootsutsuki~ LogOut.
