Title : Our Hero Academia

Disclaimer : Naruto : Masashi Kishimoto. Boku No Hero Academia: Kohei Horikoshi

Warn : PowerfulNaru, OOC, Typo. Etc.

Summary : Ini hanyalah kisah Uzumaki Naruto melewati jalur yang panjang untuk menjadi pahlawan terkuat sepanjang masa.

P.s. : don't like, don't read.

Chapter 8 : Me

Happy Reading

.

.

.

.

Flashback dikit

Menma dan Naruto berhadapan. Menma kemudian berjalan mendekati Naruto.

"Huh, apa yang bisa kau lakukan? Kau tau kan kalau kau kalah kehormatan keluarga kita akan jatuh" ucap Menma pelan sambil memejamkan mata dan melipat tangan di depan dadanya.

Naruto yang mendengar itu perlahan menunduk dan mengepalkan tangannya dengan kuat.

Rambut kuning(tai)nya menutupi bagian matanya karena menunduk. Mengeratkan gigi, tangannya perlahan mengeluarkan darah karena dia menancapkan kukunya pada telapak tangannya.

"Kenapa..."

Naruto menggantung kalimatnya membuat Menma membuka matanya karena dia mendengar bahwa suara Naruto mulai berubah.

"Apanya yang kenapa?" Tanya Menma karena tak mengerti apa yang akan Naruto ucapkan.

"Kenapa kalian semua hanya perduli dengan KEHORMATAN? Kenapa kalian tak perduli jika KEHORMATAN milik Naruko akan di renggut oleh anak itu, kenapa?" Naruto bertanya secara pelan di barengi dengan ia mengangkat kepalanya.

Menma terkejut melihat ekspresi sang 'kakak', wajah Naruto tampak begitu tenang dan dingin. Naruto memasang wajah malasnya, sisi kedua dirinya mulai muncul.

"Ya.. itu karena-"

"Karena apa? Karena anak itu bisa dibuat? Apa setelah dibuat anak boleh di sepelekan atau tak di perdulikan? Kau seorang kakak bukan? Apa yang kau rasakan jika adikmu di rendahkan oleh orang lain bahkan 'keluarga'? Oh iya, kau terlalu lama berada di Amerika atau apalah. Sehingga kau tak mengetahui kejadian yang ada di 'rumah'" Menma melebarkan matanya karena mengerti apa yang dimaksud kakaknya itu.

"Kau begitu beruntung Menma, Prodigy? Kalian berdua tak lebih dari seorang anak yang dalam masa mencari 'jati diri'. Tenang.. aku mengerti masa-masa itu. Eh tunggu... aku rasa aku tak pernah merasakannya. Aku sudah menemukan jati diriku sejak aku berumur 4 tahun" ucap Naruto dengan malas lalu berdiri dan berjalan melewati Menma dan berhenti di ambang pintu.

Dia mengeluarkan sebuah ikat kepala putih bersimbol Uzumaki dari dalam bajunya.

"Ini dibuat oleh Naruko, dia pasti memerlukan waktu yang lama untuk membuat ini. Dia itu... hebat dalam tak melakukan apapun" ucap Naruto dengan sedikit terkekeh lalu memasang ikat kepala itu kepalanya.

"Menma... kalau aku kalah, gantikan aku untuk menjaga Naruko. Oke? Ini adalah permintaan terakhir dari seorang kakak kepada adik tertuanya" Ujar Naruto lalu berjalan keluar meninggalkan Menma yang membeku karena ucapan Naruto.

"Nii-Chan"

Flashbacknya udah lewat

"Ya... Quirkmu cukup indah Reichi" jawab Naruto sambil kembali memasang kuda-kuda.

Reichi hanya tersenyum lalu mengarahkan kepalan tangannya kearah Naruto.

"Matilah Naruto" ucap Reichi santai.

Duar!

Secara tiba-tiba tanah tempat Naruto berpijak meledak membuat kepulan asap yang sangat tinggi. Penonton jadi heboh.

Reichi kembali tersenyum karena merasa serangannya telah berhasil.

"Air dalam sekala besar dan dengan kecepatan tinggi yang di tekan ke ukuran sekecil mungkin agar tak terlihat. Lalu di tembakkan dalam bentuk satu peluru ke arah satu titik vital. Hm.. pintar"

Reichi melebarkan matanya. Itu adalah suara Naruto, tapi dia yakin kalau serangannya itu mengenai Naruto.

Wush!

Angin yang kencang bertiup menghilangkan asap yang mengepul itu.

Sehingga Naruto dapat terlihat. Dia menyilangkan tangannya sambil memejamkan mata.

Baju atasannya sudah amburadul dan tak layak pakai terutama di bagian tangannya yang tampak sebuah luka menganga di bagian lengan Naruto.

Naruto membuka matanya secara perlahan.

"seranganmu lumayan menyakitkan"

Naruto tersenyum lalu menurunkan kedua tangannya.

"Tapi.."

Bzt!

Percikan-percikan listrik muncul di sekeliling tubuh Naruto, 3 guratan di pipi Naruto menjadi tampak lebih kasar dan rambut Naruto tampak berdiri.

"Permainan kita baru di mulai"

Wush!

Naruto menghilang dalam kilat berwarna biru.

"K-kemana-"

Duak!

Ucapan Reichi terpotong oleh sebuah kepalan tangan menghantam mulutnya dan membuatnya terlempar.

Reichi bersalto kebelakang dan menyeimbangkan tubuhnya agar tak terlempar lebih jauh.

"Cih" Dia mendecih sambil mengusap bibirnya yang tampak pecah dan mengalirkan darah dengan deras.

Reichi kemudian berlari ke arah Naruto. Di pertengahan jalan keluar air dari pinggang Reichi dan air itu berubah menjadi kloningan Reichi.

"Hooh... Bunshin kah?" Naruto bergumam lalu membuat handseal menyilang.

"Bunshin No Jutsu"

Poft

Muncul kepulan asap yang memadat di samping Naruto dan asap yang memadat itu membentuk tubuh Naruto.

Reichi langsung menyerang Naruto ketika sudah dekat sedangkan kloningnya menyerang bunshin Naruto.

Tap!

Naruto menangkis serangan itu dengan tangan kirinya dan Reichi membalas dengan lowkick.

Hap!

Naruto melompat menghindari lowkick Reichi dan menendang perut Reichi sehingga Reichi terdong beberapa langkah.

"Grrr" Reichi Mengeram sambil memegang perutnya.

"Heh... gimana?" Tanya Naruto yang dengan suara berat. Naruto kemudian menepuk-nepuk bajunya yang kotor.

Darah di lengannya masih mengalir karena serangan Reichi tadi tali tampaknya dia tak menghiraukan rasa sakitnya itu.

"Kau... KEPAR*T! AAARRRGGGHHH!" Reichi tiba-tiba berteriak dengan keras sambil menghadap ke langit.

Brrrggg

Tanah berguncang, arena mulai retak dan angin menjadi badai. Awan di langit menembakkan petir kesekitar arena.

Klon Reichi yang bertarung dengan Bunshin Naruto mundur dan bersatu dengan sang tuan.

"GGGGRRAAAAHHHH!" Reichi mulai meraum dengan jelas. Naruto juga dapat melihat kulit Reichi mulai retak dan mengeluarlan darah.

"Heh... sepertinya menarik" gumam Naruto sambil tersenyum evil ke arah Reichi.

"GRRAAAAHHHH!"

DUAR!

tubuh Reichi meledak. Darahnya bercecer kemana-mana. Penonton menjadi histeris melihatnya.

Di bangku keluarga Phenex. Mereka menatap ke arah Reichi seolah tak percaya.

"Tou-san, bagaimana ini?" Tanya Reiko kepada sang ayah dengan pandangan khawatir.

"Tenang saja, Dia tak akan apa-apa"

Darah Reichi yang bercecer tiba-tiba bergerak.

Mereka menumpuk dan memadat. Mengeluarkan tulang dan daging. Sehingga akhirnya menghasilkan seekor burumg raksasa.

"Hoohh... Phenex eh maksudku Phoenix" ucap Naruto masih dengan evil smilenya.

"GRAAAHH!" Meski bentuknya burung suaranya lebih mirip monster.

Reichi melebarkan sayapnya.

Brush!

Tiba-tiba sayapnya mengeluatkan api dan lalu dia mulai terbang melayang di udara.

"Kau akan mati. Naruto" Reichi menembakkan bola api yang besar dari paruhnya ke arah Naruto.

Naruto yang dari tadi duduk langsung berdiri dan melompat kesamping menghindari serangan itu.

Dum!

Sebagian dari arena hancur karena serangan itu.

Naruto yang melihat itu langsung memasang beberapa Handseal lalu mengarahkan tangannya kebawah dengan posisi terbuka.

"Chidori!"

Bzztt!

Percikan listrik muncul di tangan Naruto dengan menghasilkan suara yang nyaring.

Naruto melesat ke arah Reichi dengan cepat.

Reichi lalu mengepakkan sayap apinya ke arah Naruto dan menghasilkan dua buah angin puting beliung yang terbakar lalu mengarah ke Naruto dengan cepat.

Naruto berhenti berlari dan tangan kirinya membentu satu handseal.

Bzt!

Naruto menghilang melewati puting beliung pertama.

Naruto berhenti dan terengah-engah. Dan listrik di tangan kanannya mulai mengecil.

Puting beliung ke dua melesat cepat ke arah Naruto dan tak dapat Naruto hindari.

Duar!

Ledakan besar kembali terjadi.

"Hahaha! Mati juga kau, Naruto" Ucap Reichi dengan suaranya yanga mengerikan.

Terlihat sebuah dinding batu berbentuk setengah lingkaran yang melindungi Naruto dari ledakan itu.

"Kau pikir aku bisa kau bunuh dengan mudah? Jangan mimpi!"

Naruto melompat tinggi melewati dinding itu lalu kembali berlari ke arah Reichi.

Naruto kembali membaut handseal tunggal dengan tangan kirinya dan memunculkan sebuah kunai.

Naruto melemparkan kunai itu ke arah kanan Reichi (kalau dari Naruto itu sebelah kiri) dan secara reflek Reichi bergeser ke arah kini (dari Naruto Kanan) tepat ke atas jalur Naruto.

"Die!"

Naruto melompat ke arah kepala Reichi yang masih melihat ke arah kunai Naruto. Naruto mengarahkan Chidori ke arah Leher Reichi.

"Hyaaah!"

JRASH!

.

.

.

"Wah... Aniki.. sangat hebat" ucap Naruko kepada Naruto yang tengah berbaring di kasur rumah sakit. Naruko tengah duduk di kursi di sebelah kanan Naruto dan memegang tangan Naruto

"Haha... tidak kok"

"Hm... tidakkah kau terlalu cepat mengalahkannya? Dia bahkan belum banyak mengeluarkan serangannya" kali ini Menma yany tengah bersandar di dinding kamar rumah sakit itu berucap.

"Kau menyuruhku membiarkannya menyerangku lagi!?" Naruto menjawab dengan sewot.

"Iya.. biar kau cepat mati" jawab Menma memalingkan wajahnya ke arah lain.

"Apa kau bilang!?" Naruto mencoba berdiri.

Krak!

"Kyaahhh! Punggung ku!" Teriak Naruto dan membuat kedua adiknya itu tertawa.

Naruto tersenyum melihat kedua adiknya tertawa. Terutama Menma dari dulu dia jarang sekali tersenyum apalagi tertawa.

Di arena bertarung tempat terjadinya King's Game tadi... darah masih berceceran dan belum di bersihkan. Arena hancur dan terdapat sebuah bangkai burung besar tanpa kepala yang tergeletak di tengah arena.

Di ruang rumah sakit keluarga Phenex. Tampak Reichi sedang menungging karena pantarnya terluka cukup parah.

"Mou~ Reichi! Kau sudah berlebihan sampai berubah menjadi burung Phoenix. Untung hanya pantatmu yang terbelah. Bagaimana kalau kepalamu hah!?" Seorang Wanita paruh baya sedang memarahi Reichi yang masih nungging.

"Gomen Kaa-chan!" Ucapnya pelan.

Kembali kepada Naruto. Tampak keluarga Naruto sudah berkumpul di ruangan Naruto.

"Ehem!" Seorang pria tua berambut merah pendek bernama Uzumakai Arashi berdehem.

Dia berjalan kesamping tempat tidur Naruto.

"Apa kau mau menjadi penerus keluarga Uzumaki. Naruto-kun?" Tanyanya kepada Naruto. Membuat kaget semua orang. Terutama sang penerus Menma.

Naruto membuka matanya dengan malas.

"Hm? Apa aku tak salah dengar? Kau memintaku menjadi penerus keluarga Uzumaki?" Naruto tertawa dengan keras.

"Kau memintaku menjadi penerus setelah kau melihat kemampuanku. Dengarya... aku tak sudi menjadi penerus keluarga ini. Kalau bukan karena adik-adikku sudah kutinggalkan keluarga ini. Kau camkan Itu!" Ujar remaja berambut kuning itu. Arashi hanua menutup mata dan tersenyum tipis.

"Baiklah.. kalau itu maumu" ucapnya lalu keluar dari ruangan itu.

Mereka hanya terdiam mendengar ucapan Naruto. Sudah bukan rahasia lagi kalau Naruto itu membenci keluarganya sendiri. Dan hanya pulang untuk melihat keadaan Naruko. Dan semua juga sudah tau kalau orang yang paling Naruto benci adalah kakeknya dan juga 'kedua orang tuanya' banyak yang sudah menasehatinya kalau tak boleh membeci orang yang telah memlahirkan dan membesarkan kita. Namun apa yang ia jawab " ibuku hanya berjasa dalam melahirkanku itupun dengan cara sesar jadi tak terlalu memberinya beban. Untuk ayahku, bahkan jika ia menganggur ia tetap akan mendapatkan gaji besar dari para tetua. Dan yang membesarkan aku adalah pembantu, ibuku juga membayar ibu susu untuk menyusuiku" itulah jawabnya. Jadi kejadian seperti ini sudah bukan sesuatu yang ameh nagi mereka.

.

.

Dua hari berlalu semenjak kejadian itu. Naruto sudah mulai sekolah.

"Hoam!" Naruto berjalan malas sambil menguap lebar, dia melihat kekiri dan kanan. Gerbang masih sepi mengingat masih jam 6 lebih 15 menit. Dia sekilas melihat seorang remaja berambut putih meperhatikannya dari balik pohon. Tetapi ketika dia melihat kembali orang itu sudah hilang.

"Aku masih setengah sadar kayaknya. Sebaiknya aku bergegas dan langsung tidur di kelas" ucapnya dan langsung berlari ke arah kelas.

.

.

"Uzumaki Naruto, 'Quirk'mu... sangat menggumkan"

.

.

Naruto yang sudah sampai di kelas tiba-tiba teringat.

Dengan wajah malasnya dia menepuk jidatnya.

.

.

"Aku belum mengambil, Reiko."

.

.

.

.

TBC

YO... SAYA LAGI SEMANGAT.. JADI LANGSUNG UPDATE DAN... MAKASIH LUCHIFER-SAN.. ANDA MEMBUAT SAYA SEMANGAT. HAHA!

SAYA GAK NYANGKA KALIAN MASIH MAU MEMBACA FIC INI.. SAYA KIRA BAKAL ADA FLAME YANG NYANGKUT HEHE.

DAN... BAGI YANG BARU PERTAMA KALI BACA FIC SAYA... SAYA SARANKAN UNTUK MEMBACA FIC SAYA SAMPAI HABIS.. KARENA SAYA ADALAH TIPE AUTHOR YANG KUALITAS CERITA BISA CHAP 1 JELEL TAPI CHAP 2NYA BAGUS. HEHE!

KALAU BEGITU..

SEE YOU NEXT CHAP~

Bima Ootsutsuki~ LogOut.