Author : Oh Zhiyu Lu

Light : Chaptered

Genre : Incest, Drama, Romance, Pedofilia.

Rate : M

Cast : Oh Sehun, Luhan

Other Cast : Baekhyun, Chanyeol, Kris.

~~HunHan~~

.

.

.

.

.

.

Oh Zhiyu Lu

Presant

~~ Let's Stop It! ~~

.

.

.

Dengan kepala yang terangkat ke atas, pria bertubuh mungil itu terus melangkahkan tungkai kakinya di sepanjang lorong - lorong sekolah. Bibir tipisnya tak pernah lelah mengukir sebuah senyuman lembut setiap kali seorang siswa menyapanya dengan ramah.

Mata rusanya yang berpendar indah, hidung bangirnya, kulit bak porselen serta bibir tipisnya yang melengkung indah terlihat begitu sempurna melekat pada dirinya. Dan kesempurnaan itu telah dibuktikan secara nyata hanya dengan melihat siswa - siswa lain yang dilewati oleh sosok tersebut.

Pria bertubuh mungil itu seolah - olah memiliki sebuah aura keindahan yang begitu menyilaukan hingga siapa saja yang ia lewati, rela menghentikan aktivitasnya sejenak untuk memandang sosok tersebut secara seksama. Guna menganggumi keindahannya atau pun malah mendengus iri karena kesempurnaan sosok tersebut tak mampu ia miliki.

Tubuhnya berbelok memasukki sebuah kelas dengan papan yang bertuliskan XII A tergantung di sisi atasnya. Seperti sudah menjadi kebiasaan, seluruh penghuni kelas itu langsung mengalihkan atensi mereka pada objek indah yang kini tengah mendudukkan tubuhnya di sebuah kursi yang terletak di barisan keempat di dekat jendela.

Pria bermata rusa itu langsung mencari sebuah komik yang ia bawa di dalam tasnya. Membacanya dengan seksama tanpa memperdulikan bisikkan - bisikkan samar yang setiap hari selalu ia dengar.

"Menurutmu, berapa orang yang akan datang?"

"Entahlah. Yang aku tahu pasti lebih dari satu."

"Kau benar. Aku iri padanya. Karenanya, kapten sepak bola kita yang terkenal straight sampai mati, malah mengajaknya kencan." Yang lain menganggukkan kepala mendengarkan ucapan wanita tersebut.

"Sudahlah! Lagi pula dia memang pantas mendapatkannya. Dia rupawan, pintar, kaya, segala kesempurnaan ada apadanya."

"Kau berkata seperti itu karena kau diajarkannya materi matematika sebelum ujiankan?"

"Kau saja yang tak mau ikut denganku. Padahal kalau kau ikut denganku, pasti nilai ujianmu tidak seburuk itu. Dan juga ak-"

"Mereka datang!"

Bisik gadis tersebut yang bertepatan dengan segerombolan pria memasukki kelas mereka dengan aura kekuasaan yang begitu kentara.

"Oppa~ ke mejaku please~" Ucap salah satu gadis yang berada di sana.

"Kau terlalu banyak berharap! Minho oppa pasti ke meja Luhan."

Dan benar saja, segerombolan pria itu menghampiri meja pria bermata bulat itu yang bisa kita panggil dengan Luhan. Luhan yang merasa di perhatikan oleh sosok pria yang berdiri di depan mejanya, hanya bisa menghela nafas beratnya lalu meletakkan komiknya di atas meja.

"Ada apa Minho-sii ?"

Lelaki yang ia panggil Minho itu tersenyum. "Bagaimana jawabanmu?"

Luhan memutar bola matanya mendengar pertanyaan itu, "Aku sudah bilang padamu bukan? Kalian bisa saja mengajakku kencan, tapi aku tak akan pernah manjalin hubungan spesial dengan kalian. Termasuk kau ataupun yang lainnya. Jadi aku tak akan menerimamu sebagia pacarku. Jika tak ada kepentingan lain, bisakah kau tinggalkan aku sendiri Minho-ssi?"

"Oke oke,,, aku tak akan memaksamu. Tapi kau maukan hari ini jalan denganku?"

Luhan menganggukkan kepalanya lalu kembali membaca komiknya yang sempat terlupakan selama beberapa menit karena kehadiran pria itu.

"Aku jemput kau di apartemenmu jam empat sore Lu." Sekali lagi Luhan menganggukkan kepalana tanpa mengalihkan fokusnya dari garis garis ilusrasi kejadian yang terpampang di hadapannya.

Yaa,,,, begitulah Luhan. Siapapun kau dan bagaimanapun engkau, dia akan menyetujui ajakkan kencan yang kau ajukan padanya tanpa penolakkan sedikitpun. Tapi jangan pernah berharap untuk memilikinya. Hingga saat ini pun tak ada pria atau wanita yang pernah bisa menyentuh hatinya. Memang Luhan bukanlah sosok berhati dingin yang sulit untuk disentuh. Ayolahhh,,, ia terlalu ramah dan ceria untuk dipanggil 'Ice Prince'. Dua kata itu sangat tidak pantas untuk menggambarakn dirinya.

Namun ada sebuah berita mengejutkan yang sempat beredar terkait pendirian Luhan yang tak ingin menjalin hubugan khusus dengan siapapun. Tapi aku tak bisa memberitahukannya pada kalian semua. Tak ada yang pernah berani membahas berita yang satu itu. Jika kau membahasnya, maka bersiap siaplah untuk dimusuhi oleh seorang Luhan seumur hidupmu.

.

.

.

~~ HunHan ~~

.

.

.

Seorang pria bertubuh mungil sedang berjalan dengan tergesa - gesa menuju lift. Jemari lentiknya langsung menekan tombol menuju lantai sembil setelah ia memasukki lift tersebut. Secara perlahan, pintu lift tertutup lalu membawa tubuhnya menuju lantai sembilan gedung pencakar langit yang ia masuki.

Drrt Drrrtt~~

Pria tersebut meraih sebuah benda persegi panjang yag berada di dalam saku celana jenasnya. Menggeser tombol hijau yang berada di layarnya ke arah kanan lalu menempelkannya ke daun telinganya.

"Wae?"

"..."

"Tentu saja. Aku sedang di lift."

"..."

"Aku tahu. Akan aku usahakan. Lalu bagaimana dengan kondisinya?"

"..."

"Huhh! Dasar bocah tegik. Aku mengerti. Bye Yeolie."

Pip

Pria bertubuh mungil itu kembali meletakkan ponsel miliknya ke dalam saku celananya bertepatan dengan pintu lift yang terbuka. Ia kembali melangkahkan kakinya menelusuri lorong demi lorong hingga akhirnya tungkai kakinya terhenti di sebuah pintu dengan label nomor empat ratus dua puluh.

Ting Tong!

Ting Tong!

Pria itu menunggu selama beberapa detik setelah ia menekan tombol bel apartemen tersebut. Namun ia tak menemukan tanda - tanda bahwa pintu tersebut akan terbuka.

Saat ia kembai menggerakkan tangannya untuk menekan tombol bel, sebuah suara asing mengintrupsi aktivitasnya.

"Kau siapa?"

Keningnya berkerut bingung dengan sosok pria yang baru saja menghampirinya. Mataya yang sipit ia bawa menelusuri seuruh jengkal tubuh pria yang berada di hadapannya dengan tatapan menyelidik. Membuat pria itu merasa sedikit kurang nyaman.

"Kau akan berkencan dengan Luhan?"

"Eoh! Kau tahu dari mana?"

"Dasar bocah tengil!" Umpat pria mungil itu yang kini terlihat emosi.

TingTongTingTongTingTong!

Pria itu menekan bel apartemen milik Luhan dengan brutal. Menimbulkan tatapan tak suka dari pria yang berada di sebelahnya.

"Ya! Kau siapa?! Tidak sepantasnya kau menekan bel apartemen calon kekasihku seperti itu!" Bentaknya setelah ia menghempaskan tangan pria bertubuh mungil itu dari tombol bel.

"Siapa namamu huh?"

"Aku Choi Minho. Aku calon kekasih Luhan dan kami akan pergi kencan hari ini. Jadi tolong ya adik kecil, jangan merusak rencanaku yang ingin menjadikan Luhan sebagai kekasihku!" Ucap Minho dengan nada sing a song pada pria bertubuhungil itu.

Pada dasarnya pria berubuh mungil itu memang sudah emosi sejak ia melangkahkan kakinya memasukki gedung pencakar langit ini. Dan emosi itu meningkat drastis saat mengetahui pria di depannya ini akan pergi berkencan dengan Luhan dan dengan seenak jidatnya memanggil dirinya dengan sebutan 'adik kecil'. Ke ubun - ubun sudah emosinya saat ini.

"Kau panggil aku tadi apa huh? Adik kecil?"

"Ya. Adik kecil. Ada masalah?"

Plaaakkk

Pria bertubuh mungil itu memukul kepala Minho hingga ia mengaduh sakit akan tindakkannya yang mendadak.

"Anak sekolah jaman sekarang memang tak tahu sopan satu. Sikapnya tak pernah ia jaga di depan orang tua. Mau jadi apa negara ini kalau masih muda saja sikapnya seperti ini."

"Heii adik kecil! Cara bicaramu itu seperti sesepuh desa."

Pllaakkk!

"Ya! Jangan memukulku terus. Aku bisa bodoh."

"Kau memang bodoh! Asal kau tahu ya. Usiaku sudah menginjak tiga puluh tahun!"

"Hah?! Hahahahaa.. kau bercanda eoh? Maaf - maaf saja ya. Aku ini tak bisa kau bodohi." Pria itu terus mengoceh jika sosok yang berada di hadapannya ini tengah membodoh - bodohinya selagi sosok tersebut sedang mengambil sebuh kartu yang berada di dalam dompetnya.

"Kau lihat ini bocah!"

Minho tertawa kecil sembari menatap kartu tanda kependudukkan milik pria bertubuh mungil itu. "Ternyata kau sudah punya kartu kependudukkan-" Minho menggantungkan kalimatnya mencari nama pria tersebut "–Baekhyunie?"

"Bocah menjijikkan! Kau lihat tanggal lahirku!" Dan reaksi pria itu selanjutnya kini terbelak lebar tak percaya akan deretan angka yang tertulis di kartu tersebut.

"U-umurmu tiga puluh enam tahun?" Baekhyun menatap remeh Minho yang balik menatapnya dengan ekspresi tak percaya.

"Heh! Seharusnya kau memanggilku ahjussi bocah!"

Pip!

Kedua pria itu mengalihkan pandangan mereka pada sosok Luhan yang baru saja keluar dari apartemennya. Celana jeans berwarna hitam serta sweater berwarna baby blue melekat begitu indah pada tubuh mungilnya.

Senyumnya yang merekah begitu indah tiba - tiba saja langusng hilang ketika melihat sosok Baekhyun yang menatapnya dengan intens. Jika dalam komik, mungkin sudah ada aliran listrik yang terhubung antara dahi milik Luhan dan dahi Baekhyun.

"Mau apa kau kesini?"

"Aku kesini untuk membawamu pulang Oh Luhan." Baekhyun menekankan kata 'Oh' dalam kalimatnya. Berusaha mengingatkan Luhan pada sosok yang telah memberikan Luhan marga tersebut.

Luhan memutar bola matanya mendengar ucapan Baekhyun. "Rumahku di sini. Untuk apa lagi aku pulang. Dan satu lagi, Aku terlalu sibuk untuk meladenimu ahjussi. Aku banyak urusan. Kajja!" Ujar Luhan dengan nada meremehkan. Berjalan melewati Baekhyun lalu menghampiri Minho yang menatapnya dengan tatapan memuja.

Baekhyun yang sudah berjanji untuk membawa Luhan kembali, merasa usahanya belum maksimal. Dan hell! Ingatkan Baekhyun jika nanti ia bertemu Sehun, ia harus memaksa pria berkulit pucat itu untuk mengajarkan anaknya tata krama.

"Oh Luhan, berhenti kau di situ!" Luhan dan Minho memang menghentika langkah kaki mereka. Namun mereka enggan untuk membalikkan tubuhnya untuk sekedar menatap Baekhyun.

Merasa jika Luhan tak akan mau menghampirinya, maka ia yang bergerak untuk menghampiri Luhan. Menatap pria bermata rusa itu dengan nyalang.

"Aku tak perduli sesibuk apapun urusan bodohmu itu. Apa yang aku katakan jauh lebih penting dari kencan tidak jelasmu yang kau katakan penting itu."

Luhan mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Merasa muak dengan kata - kata yang dilontarkan oleh bibir Baekhyun.

"Kau tak berhak mencampuri urusanku ahjussi. Urus saja ahjussi tiang listrik itu!"

"Oh Luhan! Berani kau melangkahkan kakimu sejengkal saja. Akan aku pastikan kau menyesal seumur hidup!"

"Arrrgghh! Apa maumu hah?!"

"Aku mau sekarang kau masuk ke dalam apartemenmu. Dan kau bocah tengil, tak ada kencan apapun malam ini. Pulang ke rumahmu, cuci kaki dan mukamu, gosok gigi, lalu pergi tidur."

"Ya! Aku bukan anak mami. Dan aku tak mau kencanku bersama Luhan batal. Kajja Luhan! Kita tinggalkan saja ahjuma cerewet ini." Kata Minho lalu menarik tangan Luhan menuju lift. Namun sayang, Baekhyun sudah terlebih dahulu meraih tangan Luhan dan menariknya berlainan arah dengan tarikkan Minho.

"Kau lepaskan tangannya bocah tengil!"

"Andwee!"

"Lepass!"

"Kau saja yang lepaskan Luhan!"

"Hehh! Lepaskan Luhan! Ini masalah keluarganya!" Minho terdiam mematung mendengar ucapan Baekhyun. Dan Baekhyun yang melihat Minho lengah, langsung menarik tubuh Luhan mendekat padanya.

"Benarkah Lu?"

"Iya! Dan kau pulang saja ke rumahmu sana. Tak ada kencan apapun malam ini!" Baekhyun langsung menjawab pertanyaan Minho sebelum Luhan sempat memikirkan jawaban yang tepat atas pertanyaan Minho.

Baekhyun yang melihat tak ada reaksi apapun dari pemuda di hadapannya, langsung menarik Luhan kembali ke apartemen miliknya. Namun sebuah teriakkan yang menggema di seluruh koridor tempat mereka berpijak, mengintrupsi gerakkan Baekhyun.

"LUHAAAANNN!"

"Henry?!" Gumam Minho saat pria itu kini telah berdiri di tengah tengah mereka.

"Hai Lu! Dan,,, untuk apa kau di sini Minho?"

"Seharusnya aku yang bertanya, untuk apa kau disini? Sebenarnya aku hari ini pergi kencan bersama Luhan. Tapi karena nenek lampir ini aku batal berkencan dengan Luhan."

"Ya! Siapa yang kau sebut nenek lampir eoh?"

"Benarkah? Tapi hari ini Luhan juga telah berjanji akan pergi kencan bersamaku di Namsan Tower."

"Mungkin kau salah hari Henry-ssi. Hari ini Luhan sudah janji akan pergi berkencan denganku." Sela Minho.

"MWOYA? KAU MENERIMA DUA AJAKKAN KENCAN DALAM SATU HARI EOH?"

"Isshh! Suara nyaringmu itu bisa membuatku tuli ahjussi!" Ucap Luhan acuh tak acuh sembari mengucap dauh telinganya."

"Jawab pertanyaanku Oh Luhan!"

"Kalau iya kenapa? Aku menarik, mempesona, pintar, kaya. Siapa yang tak menginginku? Tidak sepertimu yang mengejar kekasih orang lain?"

"Ha! Kau mengakuinya sebagai kekasihmu eoh? Ya! Ya! Ya! Mengakulah Oh Luhan."

"Ahjussi! Kekasih apanya? Siapa yang telah berani merebut hati Luhanieku?" Ucap Henry yang tak terima akan perkataan Baekhyun.

"Hehh! Lebih baik kalian berdua pulang ke rumah. Ada masalah keluarga yang perlu aku perbincangkan dengan Luhan." Kedua pria itu bukannya beranjak pergi, mereka malah berbicang - bincang menanyakan apakah mereka harus pergi atau tetap mempertahankan rencananya.

"Ya! Apa yang kalian tunggu. Ka!" Jeritan Baekhyun menggema begitu kuat di sepanjang lorong hingga membuat kedua pria itu tersentak kaget dan berlari pergi menuju lift.

"Kajja!"

"Isshhh kau tak perlu menarik tanganku!"

"Jika tidak begini kau akan kabur." Dengan sekuat tenaga Baekhyun menyeret Luhan menuju apartemennya.

"Berapa kodenya."

"Biar aku yang tekan tombolnya."

"Tidak tidak! Katakan apa passwordnya. Palli!"

"Isshh! 122004."

Baekhyun tersenyum penuh arti pada Luhan lalu menekan tombol password sesuai digit angka yang telah dikatkan Luhan. Hahahahaa.. Baekhyun tertawa bahagia dalam hatinya. Setidaknya Luhan masih mengingat tentang Sehun. Itu artinya, peluangnya membawa Luhan pulang akan semakin besar.

Pipp!

Begitu pintu terbuka, Baekhyun langsung mendorong tubuh Luhan memasukki apartemennya. Membuat Luhan bersungut geram akan perlakuan Baekhyun pada dirinya

"Ya! Ini apartemenku. Aku bisa saja memanggil keamanan untuk mengusirmu." Ucap Luhan sembari membenarkan pakaiannya yang sedikit berantakkan karena adegan tarik menariknya dengan Baekhyun.

"Kau pikir aku takut? Apartemen ini atas nama Sehun. Dan aku bisa memanggilnya ke sini jika aku mau." Dan ucapan tersebut membuat Luhan terdiam tanpa mampu membalas apapun.

"Cepat katakana apa yang kau inginkan! Setelah itu kau pergi dari sini. Kedatanganmu tidak diharapkan."

"Dengarkan aku baik - baik Oh Luhan! Aku tak ingin berdebat denganmu. Dan aku juga tak ingin berbuat kasar padamu. Jadi tolong dengarkan aku!"

Luhan hanya menganggukkan kepalanya acuh.

.

.

.

~~ HunHan ~~

.

.

.

Kris dan Chanyeol yang baru saja menginjakkan kakinya di perusahaan Sehun dibuat heran akan suasana yang mengikat di dalam perusahaan itu. Semua pegawainya terlihat begitu sibuk dan enggan mengeluarkan suara mereka. Hanya terfokus pada tugas masing - masing dengan raut wajah yang terihat tegang dan tertekan.

"Mungkin perusahaan Sehun akan melakukan kerjasama dengan perusahaan luar negri. Hingga semua persiapannya harus sematang mungkin."

Itulah yang dikatakan Kris ketika Chanyeol bertanya mengapa suasana di dalam perusahaan ini terlihat begitu mencekam.

Kita bisa memaklumi jika wajah para pegawai itu terlihat begitu tertekan, takut dan sedih karena harus mempersiapkan urusan kerjasama perusahaan ini dengan perusahaan luar negri. Tapi Apa mungkin para office boy dan office girl di perusahaan ini juga harus mempersiapkan berkas - berkas penting untuk kerjasama perusahaan ini dengan perusahaan luar negri?

"Ini terlihat aneh Kris. Aku bisa memaklumi jika yang memasang wajah itu para pegawai. Tapi apa mungkin para office boy dan office girl itu juga tertekan karena kerja sama itu?" Kris dan Chanyeol menghentikan langkahnya di depan lift. Salah satu dari mereka menekan tombol lift.

"Aku rasa ada yang salah di dalam perusahaan ini."

Ting

Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya pintu lift terbuka. Mereka berdua masuk ke dalam lalu menekan tombol bernomor sepuluh. Lantai paling atas dari perusahaan ini, dimana ruangan Sehun berada. Dan secara perlahan pintu itu kembali tertutup.

"Apa mungkin perusahaan Sehun terancam bangkrut?"

"Kau mendoakannya hyung?"

"Tidak. Hanya saja,,, eumm,,, mengapa seluruh pagawai diperusahaan ini terlihat tegang sekali."

Ting

Pintu lift kembali terbuka di lantai dua. Seorang office boy dan office girl masuk ke dalam lift dengan ekspresi resah. Salah satu dari mereka membawa sebuah nampan dengan segelas kopi di dalamnya. Pintu kembali tertutup.

"Kau saja." Bisik salah satu dari office boy yang memegang nampan.

"Aniya! Kau saja! Kan kau perempuan. Setidaknya dia lebih baik padamu karena kau perempuan."

"Kau bercanda huh? Setahuku presdir itu tidak pernah membedakan mana perempuan mana laki - laki. Jika salah dia akan memarahinya."

"Yaaa,,, aku tahu. Tapi kali ini presdir dalam mode siaga satu. Biasanya jika kesalahan kecil saja presdir tak akan mempermasalahkannya. Tapi kali ini, jika kopi yang di antarakan untuknya terdapat satu partikel kecil saja, dia sudah merepet dari a hingga z. "

Di belakang kedua petugas itu, Chanyeol dan Kris saling memandang dengan alis yang betaut. Seolah bertanya 'ada apa dengan Sehun. Mengapa mereka berdua berkata seperti itu?'

"Hei, setahuku presdir seperti itu semenjak tuan muda Luhan pergi dari rumah."

"Hmm! Yang aku dengar juga seperti itu. Semenjak tuan muda Luhan pergi dari rumah, presdir Oh menjadi sosok yang tepramental."

Yang office girl tersenyum bahagia. "Andaikan saja aku menjadi istrinya presdir Oh. Aku pasti akan sangat bahagia. Sudah tampan, kaya, berwibawa, sayang anak. Huhhh,,, dia benar benar suami idaman wanita."

Di sisi lain, Chanyeol dan Kris malah mati matian menahan tawanya mendengar pendapat gadis itu tentang Sehun. Mereka hanya tidak tahu saja hubungan anak dan ayah yang sebenarnya antara Sehun dan Luhan.

"Heiii! Kau kebanyakkan menghayal. Presdir Oh itu terlalu sempurna untukmu."

"Bilang saja kau iri! Sudah dua kali menyataka perasaanmu padaku, aku tetap menolakmu. Iyakan?"

Si office boy hanya memutar bola matanya melihat tingkah perempuan di sampingnya.

Ting!

Pintu lift kembali terbuka di lantai sepuluh. Dan Chanyeol maupun Kris tak mampu menahan rahang mereka agar tidak jatuh ketika melihat kondisi lorong di depan pintu ruangan Sehun.

Kalian mau tahu kenapa?

Saat ini di depan pintu ruangan Sehun, banyak sekali para pegawai yang sedang berdiri dengan resah. Ada yang terus menghafal isi kertas di genggaman mereka, ada yang terus memeriksan hasil kerjanya, dan yaaa,,, sebagian lagi ada wanita - wanita penggosip yang sedang menempelkan kuping mereka di depan pintu ruangan Sehun.

Braaakk

"PERBAIKI APANYA?!"

Dan yang terakhir, membuat Kris maupun Chanyeol berjengit ngeri. Suara itu terdengar begitu jelas dari dalam ruangan Sehun.

.

.

.

~~ HunHan ~~

.

.

.

"Bagaimana bisa kau membuat laporan keuangan yang seperti ini?!" Ucap seorang pria berkulit bak albino pada seorang wanita yang kini berdiri di hadapannya dengan nyali yang menciut. Tangannya menggerak gerakkan sebuah file di depan wajah wanita itu

"Ma-maaf sajangnim. Tapi aku sudah memperbaiki yang kau katakana tadi."

Braaakk

"PERBAIKI APANYA? Bahkan laporan ini terlihat semakin buruk daripada yang sebelumnya. Apa kau menyuap masuk ke perusahaan ini?" Nyalinya semakin menciut ketika pria itu menghembapskan file itu di atas mejanya dengan keras, hingga menimbulkan suara gedebum(?) yang cukup keras. Dan mungkin terdengar hingga ke luar.

Jika bisanya wanita ini hanya akan memberikan senyuman menggodanya pada pria yang berada di hadapannya, kini wanita itu hanya mampu menahan laju air matanya yang semakin deras dari detik ke detik. Mendengar ucapan sosok di hadapannya yang begitu menusuk ke hatinya.

"Aku tak mau tahu. Kau harus buat ulang laporan keuangan yang baru! Jika masih kutemukan kesalahan, kau ku' pecat!" Wanita itu menganggukkan kepalanya dengan cepat setelah berhasil bangkit dari keterkejutannya atas ucapan pria yang berada di hadapannya. "Silahkan keluar!"

Wanita bertag name Krystal itu pun mengambil sebuah map biru yang terletak di atas meja dan segera pergi dari ruangan tersebut setelah ia membungkuk hormat pada sang atasan.

Sedangkan pria berkulit putih itu langsung menghempaskan tubuhnya di atas kursi kerjanya. Tangan kanannya ia gunakan untuk mengurut kecil keningnya yang terasa pusing. Tanpa ia sadari, setetes cairan bening mengalir dari sudut matanya.

"Arrrgggghhh!" Pria itu mengusak tatanan rambutnya dengan kasar. Mencoba menghilangkan rasa pusing yang terus mendera kepalanya. Hingga akhirnya, ia menundukkan kepalanya di atas lipatan kedua tangannya yang ia letakkan di atas meja kerjanya. Air matanya menetes semakin banyak tanpa bisa ia tahan.

To Be Continue . . .

Oke! Ini dia chapter pertamanya. Buat yang bertanya, Ini fanfic memang opernah di post di sebuah page facebook. Tapi berhenti karena ada sedikit masalah di page itu, dan alhasil Zhi keluar. Jadi ga di lanjut di sana.

Dari pada nganggur di dalam folder, zhi putuskan untuk nge-post FF ini untuk meramaikan ultah Sehun dan Luhan. Kan rasanya sedih gimana gitu kalau ultahnya Sehun sama Luhan FF di ffnet, FF HunHan seikit.

Buat author lain juga, Cusss up date! Kita meriahkan FFnet dengan FF HunHan!

.

.

.

Terakhir, Review Pleasee...