"Arrrgggghhh!" Pria itu mengusak tatanan rambutnya dengan kasar. Mencoba menghilangkan rasa pusing yang terus mendera kepalanya. Hingga akhirnya, ia menundukkan kepalanya di atas lipatan kedua tangannya yang ia letakkan di atas meja kerjanya. Air matanya menetes semakin banyak tanpa bisa ia tahan..
..
..
..
Author : Oh Zhiyu Lu
Light : Chaptered
Genre : Incest, Drama, Hurt&Comfort
Rate : Mature
Cast : Oh Sehun, Luhan
Other Cast : Baekhyun, Chanyeol, Kris.
Disclaimer : Seluruh cerita, karakter, dan alur merupakan karangan saya sendiri. Kecuali nama tokoh.
WARNING!
JIKA TAK SUKA, MAKA JANGAN DI BACA, JIKA INGIN MENGKRITIK, GUNAKAN BAHASA YANG SOPAN DAN TAK MENYINDIR. JUJUR SAYA ADALAH ORANG YANG SANGAT PERASA DAN PEKA. JIKA REVIEW KAMU HANYA BERISI SINDIRAN DAN HUJATAN, LEBIH BAIK UNTUK TIDAK MEINGGALKAN REVIEW APAPUN!
~~HunHan~~
..
..
..
Oh Zhiyu Lu
Present
Let's Stop It!
..
..
..
Chapter 2
..
..
..
"Sebelumnya aku ingin bertanya padamu? Apa penyebab kau melakukan ini semua?"
Bukannya menjawab, pria bermata rusa ini malah memutar bola matanya dengan jengah. Wajahnya yang terlihat sangat manis itu menampilkan ekspresi bosan akan pertanyaan yang diajukan oleh Baekhyun.
"Ya! Apa kau tak punya mulut hingga tak bisa bisa menjawab pertanyaanku? Bersikaplah lebih sopan padaku!." Bentak Baekhyun yang sepertinya benar - benar sudah tidak tahan dengan sikap Luhan yang terlihat kurang ajar padanya yang pada dasarnya lebih tua daripada pemuda di hadapannya ini.
"Bagaimana jika sekarang aku yang bertanya?" Baekhyun menautkan kedua alisnya mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Luhan.
"Kau ini siapaku? Apa hubunganmu dengan ayahku?" Baekhyun terdiam mendengar pertanyaan Luhan.
"Kau bukan siapa – siapa bagiku ataupun ayahku. Dan apa perlu kau ikut campur dalam masalahku?"
Skakmat!
Baekhyun tertegun mendengar pertanyaan Luhan yang terdengar lebih seperti pernyataan.
Baekhyun memang bukan siapa - siapa dalam hidup sepasang ayah dan anak ini. Namun, setidaknya dia pernah memasukki hidup mereka bukan? Dan sebagai sahabat yang baik, Baekhyun ingin sekali membantu masalah Sehun dengan anaknya. Dan juga, ditambah rasa kesalnya akan perbuatan Luhan yang meninggalkan Sehun setelah sebelumnya pria bermata rusa ini malah merebut Sehun dari genggamnya.
"Kenapa kau diam paman? Kau merasa kalah denganku?" Tatapan meremehkan itu Luhan lemparkan pada Baehkyun yang tertunduk dalam menahan rasa kesalnya yang telah mendidih hingga ke ubun - ubun. Namun, sedetik kemudian ia mendongkakkan kepalanya dengan senyuman percaya diri.
"Aku memang bukan siapa – siapa, Oh Luhan. Tapi perlu kau tahu! Aku ini sahabat yang sangat perhatian pada sahabatnya. Aku tak tega jika harus melihat sahabat terdekatku itu seperti zombie. Tidak makan, tak pernah tersenyum, tak memiliki gairah hidup dan tak pernah memperdulikan kondisi tubuhnya yang semakin lemah. Ia terus berkerja hampir dua puluh empat jam agar ia bisa melupakan sosok yang bahkan tak pernah memikirkannya. Padahal, orang tersebut hanya memikirkan egonya yang terlalu tinggi. Tubuhnya semakin kurus, bagaikan tulang berjalan." Luhan memang menatap ke depan dengan ekspresi dingin. Tapi kalian perlu tahu jika saat ini hati kecilnya sedang mencelos sakit mendengar perkataan Baekhyun.
Apakah benar semua yang dikatakan oleh Baekhyun tadi? Seburuk itukah kondisi Sehun semenjak ia meningglakan pria itu sendirian?
Tapi sekai lagi, Luhan memang selalu mengagung - agungkan egonya. Ia tak mau kalah lagi oleh perasaannya. Terakhir kali ia menomor satukan perasaanya, ia malah dikucilkan di sekolahnya. Dianggap aneh dan tak ada yang mau berteman dengannya. Untungnya saat itu masih ada Xiumin yang sudi berteman dengannya.
"Kau tahu Luhan? Sehun sangat mencintaimu. Lebih dari apapun yang dimilikinya di dunia ini, ia hanya akan memilihmu. Tapi kenapa kau selalu mementingkan egomu? Apakah dengan ego yang terlalu tinggi itu akan membuatmu bahagia huh?" Baekhyun mulai memelankan perkataannya, berusaha membuat Luhan sedikit melunak.
"Setidaknya, dengan egoku yang tinggi itu aku tak akan dikucilkan lagi oleh orang lain."
"Jika aku menjadi kau, aku akan lebih memilih dikucilkan oleh seluruh dunia yang hanya menatapku ketika bersinar daripada kehilang sosok yang selalu memelukku ketika aku lemah dalam kesepian."
Kini malah Luhan yang terdiam. Memori - memori rusak yang berusaha ia lupakan kini kembali terkuak dalam pikirannya. Kebersamaanya dengan Sehun terlintas di dalam pikirannya sedikit demi sedikit. Saat pria itu membelikannya boneka rusa, mengabulkan setiap permintaanya, merawatnya ketika sakit, dan memeluknya ketika dulu ia takut akan petir. Yaa,,, pria itu selalu ada di sampingnya saat ia susah maupun senang.
"Apa perduliku?" Dan pada akhirnya, tetap egonya yang ia nomor satukan.
"Lagi pula ini semua salah. Aku anaknya. Darah dagingnya yang seharusnya ia nikahkan bersama orang lain. Bukan malah mencintainya."
"Kau!"
"Apa? Aku benarkan? Jika kau tanyakan pada orang di seluruh dunia ini, aku yakin mereka semua akan sependapat sepantasnya kegilaan ini diteruskan. Dia sudah cukup dewasa untuk mengetahui jika ini semua salah. Seharunya ia mencari wanita atau pria lain untuk ia nikahi. Bukan malah mencintai anaknya."
"Jaga ucapanmu Oh Luhan! Kau sendiri yang dulu mengatakan padanya jika kau mencintainya. Kau bahkan melarangnya mendekati siapapun. Ini murni kesalahanmu Oh Luhan"
"Hell! Apa yang bisa dipikirkan anak berusia sepuluh tahun Tuan Park Baekhyun? Mereka hanya tahu apa kesenangan mereka, lalu berusahan untuk mendapatkannya. Dan inilah peran dan tugas seorang ayah untuk memberikan jalan yang benar untuk anaknya. Bukan malah menjerumuskannya. Lagi pula aku tak perlu menjaga ucapanku. Tak ada yang salah dari ucapanku Park Baekhyun! Hubunganku dengannya tak normal! Hanya lelaki bejat yang berani memperkosa anaknya sendiri!"
Plaaaakk!
"Kali ini kau benar - benar keterlaluan Oh Luhan!" Luhan tak memperdulikan ucapan Baekhyun. Tanganya masih memegangi bekas tamparan Baekhyun yang terasa begitu perih di bagian pipi kiriannya.
"Jika aku tahu seperti ini, aku tak akan pernah melepaskan Sehun saat itu. Aku akan mempertahankannya sekuat apapun, tak perduli sebenci apapun kau padaku. Sekuat apapun usahamu untuk menyuruh Sehun mengusirku dari hidup kalian. Karena itu demi kebaikkannya. Sehun benar - benar salah karena selama ini ia selalu menomor satukan dirimu. Tak pernah membuka hatinya untuk orang lain hanya karena dirimu yang tak menginginkan ibu tiri"
Di balik tubuhnya, pria bermata rusa ini tengah mengepalkan tangannya dengan erat. Menahan emosi dan kemarahannya akibat ucapan Baekhyun.
"Sekali lagi aku tanya padamu Oh Luhan. Kau mau ikut denganku atau tidak, huh?"
1 detik
Luhan tak menunjukkan pergerakkan apapun
2 detik
Baekhyun mulai menggeram marah
3 detik
Luhan mengalihkan wajahnya dari pandangan Baekhyun
"Kesabaranku sudah habis padamu Oh Luhan. Aku tak akan mengunjungimu lagi. Berbahagialah kau dengan keegoisanmu!" Baekhyun beranjak dari posisi duduknya dan berjalan dengan tergesa - gesa menuju pintu utama apartemen Luhan. Mengambil jeketnya dengan kasar di sisi pintu hingga gantungan itu hampir jatuh karena emosinya yang meluap - luap.
Baekhyun membuka pintu apartemen Luhan dengan tarikkan yang kuat. Namun sebelum ia benar - benar pergi, Baekhyun menghentikan langkah kakinya dan membalikkan tubuhnya menghadap Luhan.
"Aku yakin, suatu saat nanti kau akan menyesali keegoisanmu itu Oh Luhan."
Braaakk!
Baekhyun membanting pintu apartemen Luhan dengan keras hingga membuat beberapa pajangan milik Luhan sedikit bergetar. Melampiasakan kekesalannya pada pintu yang tak bersalah.
Sepeninggal Baekhyun, Luhan langsung melangkahkan kakinya memasukki kamar miliknya. Niatnya ingin mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang terasa sangat lelah karena pertengkaran singkatnya bersama Baekhyun.
Namun saat ia telah berdiri di depan pintu, Luhan langsung membatalkan niatnya itu ketika sudut matanya melihat sebuah foto yang terpajang di sudut koridor apartemen Luhan. Sebuah foto yang berisikan seorang pria dewasa dengan paras rupawannya yang sedang memeluk seorang anak kecil berusia delapan tahun dengan senyuman bahagia yang menghiasi bibir keduanya. Lokasi dimana bingkai foto itu berada begitu gelap tanpa cahaya. Bahkan jika dilihat lebih dekat, foto itu tertutupi oleh debu yang cukup tebal. Terlihat jelas jika foto itu memang tak pernah diperhatikan oleh pemiliknya.
Tangan Luhan mengepal dengan erat diiring sebuah cairan bening yang semkin lama semakin menggenangi kelopak matanya. Namun memang pada dasarnya ego Luhan yang terlalu tinggi hingga ia enggan untuk melepaskan sebutir saja air matanya. Ia mendongakkan kepalanya menahan laju air matanya yang terasa akan jatuh.
Setelah merasa yakin jika air matanya tak akan jatuh lagi, Luhan langsung berjalan cepat menuju foto tersebut. Melepaskannya lalu meletakkannya di lantai dengan keadaan bagian depan foto itu menghadap dinding.
Sebegitu bencikah dirimu pada masa lalumu Oh Luhan?
..
~~ HunHan ~~
..
"Arrrgggghhh!" Sehun mengusak tatanan rambutnya dengan kasar. Mencoba menghilangkan rasa pusing yang terus mendera kepalanya. Hingga akhirnya, ia menundukkan kepalanya di atas lipatan kedua tangannya yang ia letakkan di atas meja kerjanya. Air matanya menetes semakin banyak tanpa bisa ia tahan.
Sehun tidak cengeng. Ia pria kuat yang selalu bersikap dingin, kritis, disiplin dan berwibawa. Hanya saja setiap orang juga perlu menangis saat hatinya telah lelah menahan semua beban meyakitkan yang terus menumpuk di dalam hatinya.
Dan kali ini Sehun sudah mencapai puncaknya.
Sehun memiliki seorang mata - mata yang ia tugaskan untuk mengawasi setiap gerak gerik Luhan selama tiga tahun ini. Dan laporan yang diberikan oleh mata matanya beberapa menit lalu benar - benar telah menghancurkan Sehun.
Apa benar ia ini bajingan?
Apakah ia sudah gila?
Apakah ia memang harus melupakan perasaanya?
Dan... apakah ia memang harus mencari pengganti Luhan?
Pertanyaan - pertanyaan itu terus terngiang – ngiang di dalam pikirannya. Membuat kepalanya terasa seakan mau pecah. Terlebih lagi kenangan di masa lalu saat Luhan memutuskan untuk meninggalkan dirinya kembali menguar di dalam pikirannya.
..
~~ HunHan ~~
..
"Enghhh~~ Lu… shhh." Sehun terus menggerakkan pinggulnya semakin cepat. Suara khas persatuan tubuh keduanya semain kencang terdengar. Sedangkan Luhan yang berada di bawahnya, kini tengah memejamkan matanya dengan erat. Kedua tangannya menggenggam piggiran bantal yang tengah ia pakai dengan erat. Bahkan kukunya pun memutih karena genggamannya yang terlalu erat.
Setetes air mata mengalir dari sudut kelopak matanya. Namun cairan itu mengalir bersama keringat di wajahnya, hingga membuat Sehun tak menyadari keberadaan air mata itu.
"Daddy~~" Luhan mendesahkan daddynya ketika cairan sprmanya mengotori tangan Sehun. Sedangkan pria itu kini semakin mempercepat genjotan penisnya pada lubang sempit milik Luhan. Geramannya semakin kencang ketika ia merasakan cairan kental di dalam tubuhnya semakin mendesak untuk keluar. Dan pada tiga hentakkan terakhir,
"Luuuhh!"
Luhan memandang Sehun dengan tatapan sendu. Pria di atasnya tengah menembakkan sperma miliknya di dalam lubang milik Luhan. Kepalanya ia dongkakkan ke atas, meresapi kenikmatan yang mendera setiap sel di dalam tubuhnya.
"Saranghae Lu." Sehun mengecup kening Luhan dengan lembut. Setelah itu, ia mengeluarkan penisnya dengan lembut dan berguling untuk merebahkan tubuhnya di samping Luhan. Tangan kekarnya ia gunakan untuk merengkuh tubuh Luhan ke dalam pelukkan hangatnya. Dengan bantuan kakinya yang panjang, ia menyelimuti tubuh mereka berdua dengan selimut.
"Jaljayo Lu." Sehun terdiam sejenak menunggu Luhan menjawab ucapannya. Namun pemuda mungil yang kini tengah berada di dalam pelukkannya tak kunjung mengucapkan balasan apapun
Entah kenapa, Sehun merasakan hatinya sedikit mencelos sakit. Ia merasa ada yang aneh dengan sikap Luhan belakangan ini. Ia jauh lebih diam dari pada biasanya.
Jika biasanya Luhan akan bersikap 'nakal' dan manja kepadanya, kini Luhan bersikap lebih diam dan murung. Yaaa,,, walapun ia tak pernah menjauhi Sehun ataupun menolak sentuhannya. Tapi hal itu membuat Sehun merasa kecewa, menyesal, marah dan sedih.
Terkadang pikirannyanya menyuruhnya untuk menanyakannya langsung kepada Luhan. Namun hatinya tak sejalan dengan pikirannya. Dan pada akhirnya, ia hanya mencoba membujuk Luhan ke toko es krim langganannya.. Setidaknya dengan cara itu ia berhasil mebuat Luhan tersenyum.
"Saranghae Lu. Jeongmal sarangahae." Sehun pun ikut menyusul Luhan yang ternyata telah pergi ke dunia mimpi selagi ia termenung di dalam dunianya sendiri.
..
~~ HunHan ~~
..
Sehun berjalan menaiki tangga di rumahnya sembari menyematkan setelan jas di tubuh tegapnya. Ia memasang jam tangannya sebelum ia mengetuk pintu kamar Luhan dengan sedikit tergesa – gesa mengingat jam masuk sekolah Luhan yang tinggal setengah jam lagi.
Tokk tokk tokk…
"Lu~ Kau sudah selesai?"
Namun Sehun tak mendapati jawaban apapun dari dalam. Ia membuka pintu kamar Luhan dengan perlahan. Ternyata nihil. Ia tak menemukan sosok bertubuh mungil yang tadi malam ia peluk dengan begitu erat.
Sehun berjalan mendekati pintu kamar mandi ketika telinganya mendengar suara gemercik air yang berasal dari kamar mandi. Namun, kepalan tangannya menggantung di udara ketika suara dering ponsel Luhan mengintrupsi gerakkannya yang akan mengetuk pintu kamar mandi.
Ia memutar arahnya menuju nakas di samping tempat tidur Luhan. Jemarinya bergerak mengusap layar datar tersebut. Dan pada akhirnya, ia membuka sebuah notifikasi yang berasal dari e-mailnya.
Lu! Bahkan mereka membuat sebuah artikel tentangmu dan daddymu itu. Kau baca ini!
"Oh Luhan, murid terpandai di Genie Junior High School ternyata memiliki hubungan special dengan ayahnya sendiri. Bahkan salah satu saksi mengatakan, mereka telah melakukan hubungan badan sejak Luhan masih kecil. Saksi tersebut mengatakan jika Luhanlah yang menggoda ayahnya sendiri untuk melakukan hal tersebut."
Lebih baik hari ini kau tak usah sekolah Lu. Anak - anak jurnalistik itu memang tak punya otak. Kau pasti akan dibully habis - habisan jika kau datang. Lagi pula hari ini hanya pembagian hasil kelulusan. Nanti akan kuberitahu padamu, bagaimana hasil ujianmu. Tapi jangan lupa belikan aku bakpao yahhh…
Good Luck Lu
Semuanya akan baik baik saja.
Sehun mengepalkan tangannya dengan erat. Bahkan kini buku - buku jarinya memutih. Rahangnya menegang keras serta wajahnya yang memerah padam menahan emosi.
"Brengsek." Maki Sehun dengan pelan. Saat ia membalikkan tubunya, ia melihat Luhan tangah bediri di depan pintu kamar mandi dengan kedua tangannya yang ia lipat di depan dadanya.
"Bagaimana daddy? Kau sudah membacanya?" Kedua alis Sehun saling bertaut menandakan ia tak paham dengan deretan kata yang diucapkan Luhan.
"Maksudmu Lu? Daddy ta-"
"Lulu tak ingin tinggal bersama daddy lagi! Lulu mau tingga di apartemen sendiri." Bentak Luhan sebelum Sehun dapat menyelesaikan kalimatnya.
"Lu,,, tenanglah!" Luhan langsung menepis tangan Sehun yang berusaha meraih bahunya. Dadanya naik turun karena napasnya yang tak teratur menahan emosi.
"Daddy tahu?! Mereka semua mengatakan aku jalang! Tak ada yang mau berteman denganku selain Xiumin. Mereka semua menjahuiku dan mengucilkanku diantara murid - murid yang lain. TAK TAHUKAH DADDY BETAPA TERSIKSANYA AKU?!"
Sehun hanya dapat menundukkan kepalanya dengan dalam ketika mendengar penuturan Luhan yang begitu menusuk ke hatinya. Pantas saja jika selama ini Luhan paling susah untuk di ajak pergi ke sekolah. Ia selalu beralasan jika ia tak siap tugas sekolah ataupun guru yang akan masuk pada hari itu sangat kejam. Dan Sehun langsung menolak permintaan Luhan ketika anaknya itu meminta untuk di liburkan. Bahkan ia pernah minta untuk pindah sekolah. Namun sekali lagi, Sehun tak setuju.
"Baiklah, daddy akan mengurus surat kepinda-"
"Tidak! Aku ingin semuanya berakhir." Sehun langsung mengangkat kepalanya ketika ucapan itu keluar dari bibir Luhan dengan nada yang sangat dingin dan menusuk. "Aku tak ingin tinggal bersamamu lagi daddy. Aku ingin pindah dan aku ingin hubungan ini berakhir saat ini juga."
"Luhan! Tenanglah. Kita bisa menyelesaikan masalah ini. Daddy mohon jangan begini. Masih banyak cara untuk menyelesaikannya."
"Banyak cara? Satu - satunya cara untuk menyelesaikan masalah ini adalah dengan mengakhiri hubungan tak wajar ini!"
"Tidak! Sampai kapanpun itu tidak akan tejadi!"
"Daddy egois! Daddy hanya mementingkan kesenangan daddy sendiri. Selama ini aku selalu dibully oleh teman - temanku. Mengatakan bahwa aku pria jalang yang tak normal. Aku tak memiliki siapapun di sekolah. Aku di kucilkan."
"Jika itu masalahnya, kau bisa pindah sekolah! Jika perlu kita akan tinggal di luar negri. Di sana tak akan ada yang mengenalmu."
"Kau tahu daddy? Hubungan kita yang tidak normal. Kau ayahku! Bukan kekasihku. Dan selamanya itu tidak akan berubah! Kau tetaplah ayahku, tidak akan pernah berubah menjadi kekasihku. Aku mau hubungan gila ini berakhir!"
"Daddy tak akan mengizinkanmu keluar dari rumah ini Lu!" Ucap Sehun ketika ia melihat Luhan yang sedang memasukkan beberapa pakaian dan buku - bukunya ke dalam tas dan koper miliknya yang ia ambil dari lemari pakaiannya.
"Aku tak perduli. Aku dan daddy memerlukan waktu sendiri untuk menghilangkan perasaan ini."
Sreeeettt
Luhan menarik resleting kopernya lalu memakai tas ranselnya di punggung dan berjalan mendekati Sehun bersama dua buah koper yang di seret menggunakan tangan kanan dan kirinya.
"Aku harap daddy tidak pernah menemuiku lagi jika bukan untuk mengenalkan kekasihmu padaku. Dan aku akan kembli ke rumah ini jika daddy sudah menikah!"
Dan itu adalah kata - kata terakhir yang meluncur dari bibir ranum Luhan kepada Sehun. Karena setelah itu, Luhan benar - benar tak pernah mau menemui dirinya lagi.
..
~~ HunHan ~~
..
"Maaf, tapi anda harus membuat janji terlebih dahulu jika ingin bertemu dengan presdir Oh."
"Astaga! Kami sahabatnya Sehun. Dia tak akan marah karena kami datang tanpa membuat janji terlebih dahulu."
"Saya tahu anda sahabatnya Presdir Oh, tapi kali ini saya benar - benar tidak bisa membiarkan anda masuk ke ruangan Presdir Oh." Jika saja hukum tak berlaku di Korea, mungkin Kris sudah mencampakkan wanita sok cantik ini dari lantai sepuluh ke lantai satu. Dirinya begitu kesal karena tak diizinkan masuk ke ruangan Sehun. Padahal wanita itu sering kali melihat Kris dan Chanyeol datang menemui Sehun tanpa membuat janji padanya terlebih dahulu. Hanya menyelonong masuk seperti rumah miliknya sendiri.
"Maaf tuan. Saya takut Presdir Oh memecat saya." Well,,, Kris mengerti wanita ini takut dianggap lalai dari pekerjaannya lalu dipecat oleh Sehun. Mengingat Sehun menjadi sosok yang tepramental belakangan ini.
Sudah dua tahun lebih Luhan meninggalkan Sehun dalam kesendirian. Hal itu membuat Sehun mengalami emosi yang tak menentu. Ia sering kali marah - marah kepada pegawainnya karena hal - hal yang sepele. Padahal sebelum itu Sehun merupakan pemimpin yang sangat baik. Dia tak akan marah pada pegawainya yang membuat kesalahan - kesalahan kecil. Malah ia akan mengajarkan pegawai itu bagaimana tugas itu seharusnya dikejakan. Sehun baru akan memarahinya jika ia membuat kesalahan besar. Wajar bukan?
Namun, dengan emosi Sehun yang belakangan ini merubah pandangan pegawai terhadap Sehun. Dari pemimpian yang berwibawa menjadi pemimpian yang menakutkan
Dan salahkan juga pada Chanyeol dan Kris yang terlalu sibuk pada perusahaan milik mereka dan kekasih masing - masing hingga tidak terlalu memperhatikan perkembangan emosi Sehun.
"Aku tak menyangka jika Sehun sudah separah ini hyung." Ucap Chanyeol dengan menekankan kata 'separah ini' pada kaliamatnya.
Ckleeekk...
"Hikkss! Hikss!" Kris dan Chanyeol yang sedang termenung di depan meja skertaris Sehun, langsung berjengit ngeri melihat seorang gadis bertage name Kristal Jung yang baru saja keluar dari ruangan Sehun dengan keadaan yang mengenaskan. Tubuhnya bergetar kecil dengan air matanya yang bahkan telah membuat eyelinernya luntur. Bisakah kalian membayangkannya?
Bukannya merasa kasihan pada wanita itu, pegawai lain malah semakin gugup memikirkan diri mereka yang akan bernasib sama dengan wanita itu.
Kris kali ini tak perduli lagi jika wanita itu akan memanggil satpam. Ia langsung melangkahkan kaki jenjangnya menuju pintu ruangan Sehun saat seorang wanita dengan kacamata tebal yang betrtenger di batang hidungnya tengah berjalan gugup ke ruangan Sehun di atas kedua kakinya yang bergetar kecil..
"Kau tak perlu khawatir ok? Jika Sehun marah dan memecatmu, kau bisa berkerja di perusahaanku." Itulah yang diucapkan Chanyeol sebelum ia berlari menyusul Kris.
"Sebaiknya kau jangan masuk dulu. Berkas berkasi ini bukannya membuat Sehun bersikap baik padamu, malah membuat Sehun semakin frustasi. Kau tahu 'kan apa yang terjadi jika Sehun frustasi?"
Wanita itu hanya mengangguk gugup dengan tubuhnya yang menegang kaku. "Kalian semua bubarlah. Jangan temui Presdir Oh dulu. Emosinya saat ini sedang tidak stabil." Pegawai - pegawai lain pun ikut membubardan dirinya masing - masing. Termasuk para wanita penggosip yang sejak tadi menempelkan kuping mereka di depan pintu ruangan Sehun.
"Apa kita harus masuk sekarang hyung? Aku rasa Sehun perlu waktu sendiri."
"Tidak! Kali ini kita harus menemuinya. Dia tak bisa terus begini. Lama - lama perusahaannya akan hancur jika ia terus bersikap seperti ini." Ucap Kris final.
Drrrttt... Drrrtt~~
Chanyeol merogoh saku celananya, lalu menarik sebuah benda persegi panjang dari sana.
"Siapa?" Tanya Kris berusaha melirik ID pemanggil.
"Baekhyun." Balas Chanyeol. Ia pun menggese tombol berwarna hijau ke arah kanan, lalu menmpelkannya ke telinganya.
"Ke-"
"Yeollliiiiee~~" Belum sempat Chanyeol mengutarakan pertanyaannya, Baekhyun yang berada di seberang line sudah memanggil namanya dengan manja. Walau lebih tepatnya, pria itu kini tengah merengek padanya.
"Kenapa Baekie?"
"Aku kesal setengah mati pada Luhan. Anak itu tak menghargaiku Yeol! Kata - katanya sungguh kasar ketika kami membicarakan Sehun. Bahkan ia menyebut Sehun bajingan."
Kris mendesah putus asa ketika mendengar penuturan Baekhyun yang sebelumnya telah diloundspeaker Chanyeol.
"Lalu bagaimana? Dia mau pulang?"
"Tentu saja tidak. Bahkan emosiku sudah sampai ke ubun - ubun ketika berbicara bersamanya beberapa menit saja. Ia tak mau kembali ke rumah Sehun lagi. Dia bersikukuh jika keputusannya adalah yang terbaik."
"Ya Tuhan... apa yang sebenarnya dipikirkan anak itu. Aku yakin sebenarnya ia masih sangat mencintai Sehun."
"Entahlah. Dia bilang saat itu dia masih terlalu kecil untuk mengerti hal yang seperti itu. Dan sekarang ia mengerti jika ada yang salah antara hubungannya dengan Sehun. Maka dari itu ia meninggalkan Sehun."
"Apa dia masih sering berkencan dengan teman - temannya?"
"Iya! Bahkan tadi saja ia akan berkencan dengan dua pria sekaligus. Oh Tuhan! Pantasan saja belakangan ini emosi Sehun benar - benar meningkat drastis." Kris dan Chanyeol menganggukkan kepalanya saat tahu apa sebab naiknya emosi Sehun beberapa minggu belakangan ini
"Sakarang kau ada di mana?"
"Sedang di taksi dalam perjaanan pulang ke apartemen. Apa nanti kau akan malam makan di rumah?"
"Tentu saja. Nanti malam aku akan makan di rumah bersamamu. Dan aku akan 'memakanmu' sebagai pencuci mulut." Kris memutar bola matanya jengah mendengar percakapan sahabat mesumnya yang satu ini.
"Aku tutup dulu ya sayang. Sampai jumpa nanti malam."
"Ne. Pai pai Yeolieee~~"
Pip
"Sudah?" Tanya Kris dengan muka asamnya.
"Heiii,,, kau sirik padaku eoh?"
"Untuk apa aku sirik padamu. Aku memiliki padaku di rumah. Setidaknya aku tahu tempat di mana aku harus bemesra - mesraan dengan pandaku." Sindir Kris.
"Sudahlah! Lebih baik sekarang kita masuk."
..
..
..
To Be Continue
Last, bagi yang mau review, follow atau favorit, silahkan. Saya ucapkan banyak terima kasih untuk kalian.
Dan yang memutuskan untuk membacanya saja, silahkan.
.
.
.
Next : Unexpected Way
