"Sudah?" Tanya Kris dengan muka asamnya.

"Heiii,,, kau sirik padaku eoh?"

"Untuk apa aku sirik padamu. Aku memiliki pandaku di rumah. Setidaknya aku tahu tempat di mana aku harus bemesra mesraan dengan pandaku." Sindir Kris.

"Sudahlah! Lebih baik sekarang kita masuk."

..

..

..

Author : Oh Zhiyu Lu

Light : Chaptered

Genre : Incest, Drama, Hurt&Comfort

Rate : Mature

Cast : Oh Sehun, Luhan

Other Cast : Baekhyun, Chanyeol, Kris.

Disclaimer : Seluruh cerita, karakter, dan alur merupakan karangan saya sendiri. Kecuali nama tokoh.

WARNING!

JIKA TAK SUKA, MAKA JANGAN DI BACA, JIKA INGIN MENGKRITIK, GUNAKAN BAHASA YANG SOPAN DAN TAK MENYINDIR. JUJUR SAYA ADALAH ORANG YANG SANGAT PERASA DAN PEKA. JIKA REVIEW KAMU HANYA BERISI SINDIRAN DAN HUJATAN, LEBIH BAIK UNTUK TIDAK MEINGGALKAN REVIEW APAPUN!

~~HunHan~~

..

..

..

Oh Zhiyu Lu

Present

Let's Stop It!

..

..

..

Chapter 3

..

..

..

Chanyeol membuka pintu ruangan kerja Sehun dengan perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara apapun, diikuti oleh sosok bertubuh tinggi dengan rambut pirangnya. Ketika kedua pria dengan tubuh menjulang ini telah berada di ruangan Sehun, Chanyeol kembali menutup pintu tersebut dengan perlahan.

Ketika dua pria ini mengalihkan fokusnya mencari sosok Sehun di ruangan tersebut, mereka hanya mampu menghela napas panjang.

Sehun kembali menangis dalam diam.

Pria bertubuh tinggi itu sedang berdiri menghadap dinding kaca yang terletak di belakang meja kerjanya, tangan kirinya berada di dalam saku, sedangkan tangan kanannya yang terkulai di sisi tubuhnya kini tengah menggenggam selembar foto.

Apa itu foto Luhan?

Dari tempat Chanyeol dan Kris berdiri, mereka bisa melihat dengan jelas air mata yang beranak sungai di wajah rupawan Sehun.

"Kenapa kalian kemari?"

Kedua pria itu langsung tersentak kecil ketika suara berat itu menyadarkan mereka dari lamunan masing - masing. Saat Chanyeol dan Kris berjalan mendekati Sehun, pria itu langsung menyimpan foto yang tadi ia genggam di tangan kanannya ke dalam saku celananya. Menghapus jejak - jejak air mata yang menodai wajahnya lalu beranjak menuju kursi miliknya.

"Apakah salah jika aku mengunjungi sahabatku?" Kris dan Chanyeol mendudukkan tubuh mereka pada sebuah kursi yang terletak di hadapan Sehun diiringi sebuah tatapan ganjil milik Sehun.

"Kenapa? Ada yang salah?"

Sehun tertawa kecil mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir Chanyeol.

"Hahh~" Sehun menghela napas beratnya lalu memandang kedua sahabatnya dengan tatapan sendu. "Apakah aku terlihat sangat memprihatinkan di mata kalian?"

"Ya Tuan Oh yang terhormat. Kau terlihat sangat memprihatinkan. Lihat tubuhmu itu! Aku yakin jika koki di rumah mewahmu itu selalu menghidangkan makanan - makanan lezat. Tapi kenapa tubuhmu bahkan terlihat lebih kurus dari pada pengemis jalanan. Wajahmu seperti kakek - kakek yang sudah tua. Apa aku perlu membawa setrika milik Baekhyun untuk menggosok wajahmu agar telihat lebih rapi dari pada yang saat ini kau pakai untuk berhadapan dengan kami, huh?"

"C'mon Sehun! Apakah ini wajah yang selalu dipuja - puja wanita di luar sana huh? Wajahmu itu tak lebih kusut dari pada seprai kasur yang aku pakai ketika bercinta dengan Tao. Lihat itu! Oh Tuhan! Coba kau berkaca dan lihat sudah berapa banyak kerutan di wajahmu Oh Sehun."

Sehun tertawa maklum melihat tingkah kedua sahabtnya ini. Dan Sehun acungi jempol untuk keduanya karena dengan kata - kata sindiran itu, mereka berhasil membuat Sehun tersenyum.

"Heiiii… untuk apa aku berpenampilan menarik jika orang yang aku cintai saja tak ingin melihatku."

Tatapan keduanya langsung berubah sendu. Bukannya semakin sedih. Sehun malah semakin tertawa melihat kedua sahabatnya menatapnya dengan tatapan prihatin.

"Kau tahu Sehun? Kau terlihat sangat berantakkan. Sebegitu besarnya 'kah pengaruh dirinya terhadap hidupmu? Sebegitu besarnya cintamu padanya hingga kaupun menelantarkan hidupmu?"

Kini gantian Sehun yang terdiam mendengar pertanyaan Kris. Sehun menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi miliknya lalu memijat batang hidungnya yang terasa berdenyut - denyut nyeri. "Bisakah kita mengganti topik pembicaraan ini? Kepalaku selalu sakit jika memikirkannya."

Chanyeol menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Tatapannya berubah tajam ketika Sehun mengibaskan tangannya di depan wajahnya.

"Aku bosan dengan topik yang ini. Sudah terlalu sering kalian membahas topik ini padaku. Bahkan kalian membahas topik ini padaku seperti memberiku obat. Tiga kali sehari. Aku bosan. Bisakah kita membahas yang lain? Seperti kurva penjualan produk yang kita pasarkan kemarin. Atau kau ingin membahas nilai won Korea yang hampir mendekati nilai US Dollar?"

"Hahhh~~" Sehun untuk yang kesekian kalinya kembali menghela napas beratnya ketika tatapan Chanyeol dan Kris malah berubah menjadi sengit. Seolah tak suka dengan arah pembicaraan yang diajukan oleh Sehun.

"Baiklah! Apa yang ingin kalian tanyakan padaku? Aku hanya punya waktu satu jam saja sebelum aku pergi ke ruang meeting."

"Apa kau tak pernan berusaha untuk menemuinya?"

Sehun menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Teleponku saja tak pernah ia angkat. Bahkan ia mengganti nomor ponselnya tanpa memberi tahukannya padaku. Bukankah itu pertanda bahwa ia tak ingin bertemu denganku?"

"Astaga Sehun! Kenapa hanya segitu usahamu? Kau ini mencintainya atau tidak 'sih? Kau itu seperti kalah sebelum bertempur!" Kris benar - benar emosi dengan jawaban yang dilonarkan oleh Sehun. Pria ini seolah - olah tak mau berusaha untuk membawa Luhan kembali ke dalam hidupnya.

"Kris, aku mengetahui bagaimana anakku itu lebih dari dia mengenali dirinya sendiri. Jika kau mengekangnya, maka ia akan semakin memberontak. Aku tak mau dengan sikapku yang terlalu memaksakan kehendakku malah membuatnya semakin menjauhiku. Terakhir kali aku memaksakan kehendakku, ia memutuskan untuk meninggalkanku Kris."

"Aku tahu. Tapi setidaknya lakukan sesuatu. Buat dia kembali padamu. Aku yakin kalian masih saling mencintai. Aku yakin hanya Luhan yang bisa merubahmu. Saat ini kau benar - benar terlihat seperti zombie Oh Sehun."

"Aku sependapat dengan Kris hyung. Aku yakin Luhan masih mencintaimu. Kau hanya perlu memperjuangkan cintamu dan kau akan mendapatkan Luhan kembali dalam hidupmu."

Sehun menggeleng dengan sebuah senyuman getir yang terpatri di bibir tipisnya.

Kris dan Chanyeol kembali berkerut bingung ketika Sehun merogoh saku celananya dan menarik selembar foto dari sana. Meletakkannya tepat di hadapan Kris dan Chanyeol.

Kris dan Chanyeol hanya mampu membelakkan matanya dengan lebar saat melihat isi photo yang sejak tadi digenggam Sehun. Setelah berapa detik berlalu, menatapi foto itu dengan intens, mereka berdua mengalihkan tatapan mereka pada Sehun dengan matanya yang masih membola lebar.

"Kau gila Oh Sehun?"

"Tidak. Ini sungguhan Kris. Yang gila adalah apa yang aku lakukan selama ini pada Luhan. Dia benar. Aku hanya pria bajingan yang dengan tak beradapnya malah menikmati tubuh anaknya sendiri."

Kris mendecak putus asa dengan Sehun. Ia menumpukan tangan kananya pada meja lalu mengurut kepalanya yang terasa mendenyut denyut.

"Dengarkan aku Oh Sehun!" Chanyeol beranjak dari duduknya dengan kasar –bahkan kursi yang didudukkinya hampir terjatuh- dan memegang kedua bahu Sehun dengan erat. "Aku, Baekhyun dan Kris hyung akan membantumu mencari jalan agar kau bisa bersama dengan

Luhan. Kau tak perlu khawatir. Kami akan berusaha sekuat mungkin agar kalian bisa kembali bersama. Kami tak akan berhenti atau lelah untuk mengusahakannya. Kau hanya perlu duduk diam dengan tenang, dan kami akan membuat Luhan kembali padamu."

Sehun kembali tertawa getir lalu menyingkirkan kedua tangan Chanyeol yang menggenggam kedua bahunya dengan erat.

"Keputusanku sudah final. Aku sudah benar - benar lelah dengan semua ini. Dia anakku. Tidak seharusnya aku mencintainya. Aku hanya boleh menyayanginya sebagai anakku dan tidak sepantasnya aku mencintainya seperti saat ini. Ini semua salah."

"Shit! Kenapa kau jadi cepat menyerah seperti ini Oh Sehun!"

"Cepat menyerah kau bilang?! Ini bahkan sudah hampir tiga tahun Wu Yi Fan! Dan aku lelah. Ini yang dia mau. Aku menyayanginya dan aku akan selalu menuruti apa yang ia mau!"

Kris tertawa sinis melihat kemarahan Sehun. "Aku rasa kau memerlukan waktu untuk berpikir dengan jernih Oh Sehun. Pikirkan semuanya baik - baik. Kau terlalu gegabah dalam mengambil keputusan kali ini." Kris berdiri dari posisinya dan berjalan menuju pintu.

"Pikirkan tentang kau dan Luhan selama ini Sehun. Tenangkan hati dan pikiranmu. Kau akan mendapatkan jawabannya." Chanyeol pun ikut beranjak dari posisinya dan berjalan menuju pintu ruangan Sehun diiringi oleh tatapan tajam milik pria berkulit pucat itu.

Sehun mengalihkan fokusnya pada sebuah foto yang tergeletak di atas meja kerjanya. Dan tatapannya berubah menjadi sendu.

Hahhh~

Berkali - kali helaan nafas berat penuh beban itu Sehun keluarkan melalui belahan bibir tipisya. Tangan kananya ia bawa untuk memijat pelipisnya yang terasa semakin mendenyut nyeri dari waktu ke waktu.

"Apakah aku memang harus melakukannya?"

~~ HunHan ~~

Masih dengan suasana dan keributan yang sama, Luhan melangkahkan kakinya memasukki kelas terakhir miliknya di sekolah bertaraf internasional ini. Ia mengambil langkah menuju sebuah kursi urutan ke tiga di sebelah jendela, lalu mendudukkan bokongnya di kursi tersebut.

"Lu! Berapa detik?" Tanya sosok pria berpipi chubby dengan tag name Xiumin yang melekat pada seragamnya.

Luhan mengedikkan bahunya acuh. "Entahlah. Menurutmu berapa?"

Pria itu menunjukkan ketiga jarinya di depan Luhan. "Menurutku tiga."

Kalian mengerti apa yang sedang kedua pria manis ini bicarakan? Tidak? Mungkin akan lebih baik jika kalian saksikan saja apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Aku hitung." Pekik Xiumin. Ia melipat jari manisnya. "Satu."

Kemudian jari tengahnya. "Dua."

Sebelum Xiumin sempat melipat jari telunjuknya, sebuh suara yang bisa dibilang cukup nyaring menggema di seluruh antero kelas.

"LU BABYYYY!" Mau tak mau para penghuninya pun harus menutupi kuping mereka jika tak ingin kehilangan kemampuan mendengar mereka.

"Aku merasa malu." Luhan menutupi wajah rupawannya di atas kedua lipatan tangannya saat seluruh penghuni kelas menatapnya dengan tatapan yang terusik.

Hell! Pria itu yang berteriak dengan tak tahu dirinya, namun mengapa Luhan yang mendapatkan tatapan seperti itu?

"Ck! Bahkan aku belum menghitung sampai hitungan terakhir." Umpat Xiumin dengan pelan.

Pria itu pun berlari menuju meja milik Luhan dengan terburu - buru lalu menampilkan senyuman bodohnya ketika ia telah berada di hadapan Luhan.

"Mwo?" Tanya Luhan dengan nada tak perduli.

"Kan semalam ahjussi gila itu membatalkan kencan kita, bagaimana jika hari ini kita berkencan. Mau ya?"

Luhan memutar bola matanya jengah mendengar pertanyaan sosok pria bertag name Henry, di bagian kanan seragam sekolahnya.

"Jika semalam aku tak jadi kencan denganmu karena nenek lampir itu, berarti tandanya itu mamang takdir yang tak mengizinkan aku pergi bersamamu. Sudahlah! Kau pergi sana! Sebentar lagi bel akan berbunyi."

"Luhanieee~~ Jebal." Henry menyatukan kedua telapak tangannya di depan wajahnya yang terlihat sangat mengenaskan.

"Andwe!"

"Luhanie~~"

"Aku bilang tidak ya tidak!"

"Baik! Aku tak akan pergi dari sini sebelum kau menyetujui rencana kencanku besamamu!" Luhan mendesah putus asa mendengar nada perintah telak yang terkandung dalam suara milik Henry.

Alih – alih menganggukkan kepalanya, Luhan malah menjerit nyaring ketika sebuah tangan menarik tubuhnya beranjak dari kursi miliknya. Meninggalkan Xiumin dan Henry yang tengah menatap kepergian kedua pria itu dengan ekspresi tak terbaca.

Tanpa membiarkan Luhan menatap wajahnya, pria itu terus menarik tangan Luhan menuju ke arah tangga. Tak menghiraukan teriakkan –sangat- nyaring Luhan yang meronta ronta meminta dilepaskan.

Tapi pria itu terlihat tak perduli dengan reaksi yang diberikan oleh Luhan. Tanpa mengalihkan wajahnya pada Luhan sekali pun, ia terus melangkahkan tungkai jenjangnya menuju atap sekolah yang hampir tak pernah diinjak oleh murid murid lain.

"Ya! Kau gila?" Sentak Luhan sembari mengusap tangannya yang telah memerah karena tariakkan kencang pria itu. Namun setelah beberapa detik Luhan mengeluarkan sumpah serapahnya tentang bercak merah di tangannya, pria itu juga tak kunjung mengeluarkan suaranya.

"Hahahahaa,,, kau mengingatku?" Tanya Pria itu ketika Luhan mendongkakkan kepalanya. "Bagaimana?"

Kedua alis tebal milik Luhan menyatu guna menggambarkan raut kebingungan yang tak terbantahkan dari wajah rupawan miliknya. Lain lagi halnya dengan sosok tersebut yang masih mempertahankan senyumannya menunggu ingatan Luhan tentang dirinya.

"Tidak." Luhan menggelengkan kepalanya tanpa beban yang malah dibalas desahan kecewa yang keluar dari bibir pria itu.

"Ohhhh... ayolaaahh! Kau harus mengingatku!" Geram sosok tersebut ketika mendapati ekspresi bingung yang sangat kentara di wajah milik Luhan

"Kau siapa hingga aku harus mengingatmu? Kau membuang - buang waktu, kau tahu itu. Sebentar lagi masuk dan aku tak mau berurusan dengan guru – guru galak yang mengawasi murid - murid yang selalu berkeliaran di saat pelajaran berlangsung. Aku tak mau mendapati reputasi buruk di mata guru." Kata - kata sarkas yang dikeluarkan Luhan membuat pria itu hanya melongok tak percaya. Kedua matanya ia kerjabkan dengan cepat, mencoba menyadarkan dirinya akan sebuah kenyataan.

Luhan dengan tak berperikemanusiaannya melangkahkan kakinya acuh menuju pintu, meninggalkan pria itu yang kini tengah memiringkan kepalanya sembari mengingat - ingat suatau hal yang dapat mengembalikan ingatan Luhan tentang dirinya. Dan gumaman kecil yang dikeluarkan oleh pria itu membuat Luhan menghentikan langkahnya dengan keping bening wajahnya yang terlihat membola.

"Apa aku harus menjadi anak anjing yang kesasar lagi agar dia mengingatku?"

~~ HunHan ~~

"Ini." Luhan mendudukkan tubuhnya di atas kursi sembari meletakkan sebuah gelas di atas meja yang berada di hadapannya. Setelahnya, ia pun menyeruput minuman miliknya dengan khidmat.

"Ini apa?" Pria yang berada di hadapan Luhan berjengit jijik melihat sebuah gelas yang berisikan cairan berwarna ungu pucat dengan beberapa bulatan - bulatan hitam di bagian bawahnya.

Luhan mendecih kesal ketika pertanyaan pria yang berada di hadapannya membuatnya harus melepaskan sedotan berwarna ungu tersebut dari bibir tipisnya.

"Itu bubble tea. Ohhh Tuhaan! Kim Kai! Kau itu kuno sekali. Sudah sejak beberapa tahun yang lalu aku mengenalmu dan kau masih bersikap seperti orang pedalaman dari bangsa aborghini." Umpat Luhan sembari menatap Kai dengan ekspresi yang risih.

"Di planetku, cairan ini seperti muntahnya unicorn,-" Ucapnya lalu membuka tutup bening dari minuman tersebut. Lalu mengambil bulatan - bulatan hitam yang berada di dalamnya dengan sedotan. "-dan yang ini seperti kotoran kelinci." Kai mengarahkan sedotan miliknya yang tertancap bulatan tapioka ke depan wajah Luhan.

"Cih!" Luhan mendecih kesal sembari menepis tangan Kai dengan sedikit hentakkan keras hingga bulatan tapioka yang berada di ujung sedotan miliknya terlempar ke lantai. "Saat dulu aku memberikanmu brownis pun kau berkata seperti itu. Mengatakannya seperti tanah. Nyatanya, bahkan punyaku pun kau embat."

"Hehehee,,, bukannya begitu. Aku hanya merasa asing dengan apa yang kau berikan kepadaku jika aku menghampirimu." Kai menggaruk kepalanya merasa sedikit canggung. Pria berkulit tan ini mungkin berpikir, ia telah menyinggung perasaan Luhan. Memberikan tatapan jijik pada sesuatu yang telah diberikan seseorang kepadamu itu merupakan sikap yang sangat tidak sopan. Bahkan itu bisa menyakiti perasaan sang pemberi.

"Minumlah dulu. Jika rasanya memang tak enak kau bisa membuangnya." Luhan kembali meneruput sedotan miliknya dengan khidmat. Tanpa memperdulikan Kai yang tengah menatapnya dengan bingung. Melihat Luhan yang begitu menikmatinya, Kai mulai penasaran akan rasa yang ditawarkan oleh cairan yang ia sendiri sebut muntahan unicorn. Bagaimana kedua pipi gembil milik Luhan yang menggembung karena terisi penuh oleh butiran butiran tapioka atau kedua mata rusanya yang melengkung karena terlalu bahagia ketika cairan dan bulatan itu membalut indra pengecapnya dengan lembut dan mengalir menuju kerongkongannya.

Dengan keraguan yang tak terbantahkan, Kai mengulurkan tangannya dengan pelan untuk mengambil gelas miliknya. Mendekatkan sedotan tersebut pada bibir penuhnya yang terkatup rapat. Ketika pipet itu menempel pada bibirnya, ia pun menyedotnya dengan pelan.

Kedua matanya terpejam erat ketika gigi - gigi putihnya mengunyah bulatan tapioka yang berada di dalam mulutnya. Reaksi Kai seperti tengah mengunyah granat di dalam mulutnya, tinggal menunggu kapan bulatan itu akan meledak dan menghancurkan seluruh tubuhnya.

"HWOOOO!"

"Uhuukk!" Luhan tersedak minuman miliknya sendiri ketika tubuhnya tersentak kaget akibat terikakkan Kai yang begitu membahana. Bahkan seisi cafe memperhatikan dirinya yang tengah menatap gelas di tangannya dengan mata puppy yang berbinar cerah.

"Luhan! Kau tahu? Ini minuman paling nikmat yang pernah melewati tenggorokkanku!" Pekik Kai lalu kembali menyeruput minuman miliknya dengan nikmat. Tak memperdulikan Luhan yang tengah menepuk nepuk dadanya cukup keras dengan wajah yang memerah padam.

Setelah berjuang menetralkan rasa sakit yang berasal dari tenggorokkannya, Luhan pun kembali membenarkan posisi duduknya. Tak lupa sebuah tatapan kebencian serta tatapan ingin membunuh yang ia layangkan kepada sosok berkulit tan di hadapannya yang sedang menyeruput minumannya tanpa ampun. Bahkan ketika cairan di dalamnya telah raib, Kai mengambil bulatan tapioka yang tersisa di bawahnya dengan menggunakan tangan.

Dasar munafik, pikir Luhan.

"Yaaa,,, Lu! Sudah habis. Aku mau lagi!"

Luhan langsung merampas gelas kosong yang berada di genggaman tangan Kai lalu melemparkannya dengan tepat ke dalam tong sampah yang hanya berjarak beberapa meter dari posisinya berada. "Aku akan membelikannya lagi untukmu tapi sebelumnya aku ingin bertanya."

"Tanya apa?" Walau ia menanggapi pertanyaan Luhan –walau hanya dengan bertanya kembali, matanya malah terfokus pada gelas milik Luhan yang di selimuti oleh embun embun air karena perbedaan suhu.

"Apa tujunmu kembali menemuiku?"

"Hah?"

"Aku tanya, apa tujunmu menemuiku?"

~~ HunHan ~~

Sang penguasa siang mulai bergulir ke arah barat. Menimbulkan guratan - guratan jingga dan oranye di tempatnya meninggalkan bumi. Detik demi detik bayangan yang ditimbulkannya pada instrumen - instrumen bumi mulai menghilang. Cahayanya yang tanpa batas itu pun mulai menghilang tergantikan pekatnya langit di atas. Dan mulilah sang purnama yang begitu suci menggantikan tugasnya. Namun, cahaya bulan kalah terangnya dengan cahaya - cahaya buatan manusia yang berjejer di atas dataran bumi. Cahaya - cahaya itu seolah - olah mengejek bulan, bahwa dirinya bahakan lebih terang dari pada sang purnama. Seakan tak membutuhkan keberadaannya hingga terkdang sang purnama menyembunyikan diri di balik pekatnya awan - awan yang menggantung di bumi. Sangat miris bukan?

Dan perasaan yang sama juga dialami oleh sosok pria bertubuh jenjang dengan kulit pucatnya yang tengah mengendarai mobil mewah miliknya di anatar padatnya kemerlap kota Gangnam. Mata tajamnya memang tak pernah teralihkan dari jalanan yang berada di hadapannya. Namun kedua alis tebalnya mengkerut menandakan ia tengah memikirkan sesuatu yang lain. Tentunya jauh dari persoalan jalanan kota Gangnam yang terlihat sedikit macet.

Otaknya terus ia pacu untuk berpikir lebih keras tentang pilihan mana yang seharusnya ia ambil demi kebaikkannya. Namun semua terasa begitu samar dan buntu. Pilihan manapun tak ada yang dapat membuatnya bahagia, menikmati hidup –yang katanya- singkat ini. Sesekali tangan kanannya yang tak memegang kemudi ia ulurkan ke batang hidunya, mengurutnya pelan untuk menghilangkan sedikit saja rasa sakit yang mendera kepalanya.

Pria itu menghentikan laju mobilnya dengan perlahan ketika lampu lalu lintas menunjukkan warna merah. Terdiam dengan segala pikiran yang memenuhi kepalanya membuatnya ingin meledak. Kedua telapak tangannya ia usapkan pada wajahnya dengan kasar, berusaha menyegarkan pikirannya yang terasa kusut.

"TAK TAHUKAH DADDY BETAPA TERSIKSANYA AKU?!"

Bukan hanya Luhan, Sehun bahkan juga tersiksa lebih dari apa yang bisa dibayangkan oleh Luhan. Hidupnya seolah - olah berakhir. Tak ada satu hal pun yang membuatnya ingin menjalani hari esok. Semuanya begitu gelap dan suaram. Ia seolah berjalan sendiri di tengah padang pasir yang mampu membuat siapapun menyerah dalam kesulitan yang begitu pelik

"Tidak! Aku ingin semuanya berakhir."

Bahkan kata - kata itu tak pernah sekalipun dipikirkan oleh Sehun. Namun, kenyataan yang lebih menyakitkan lagi, kata - kata itu malah keluar dengan keras dari kedua belah bibir yang selalu ia kecup setiap malam.

"Daddy egois! Daddy hanya mementingkan kesenangan daddy sendiri."

Yaaa... ia akui ia memang sangat egosi. Sejak dulu yang ia pikirkan adalah cara agar ia bisa bahagia. Bukan cara agar semua ini membaik untuknya dan Luhan. Hanya memikirkan jalan keluar yang dapat membuatnya bahagian tanpa memikirkan kebahagiaan Luhan. Yaaa... Sehun memang egois

"Hubungan kita yang tidak normal. Kau ayahku! Bukan kekasihku."

Sehun bukan sosok yang terlalu bodoh hingga ia tak tahu bahwa mengencani anaknya sendiri merupakan sebuah kesalahan besar. Tapi sekali lagi Sehun tak perduli. Persetan dengan semua hujatan dari manusia yang membenci dirinya dan hubungan yang tengah ia jalani. Ia mencintai Luhan. Hanya kelimat itu yang begitu jelas di dalam benaknya.

"Aku mau hubungan gila ini berakhir!"

Namun, sekeras apapun Sehun berusaha untuk tak memperdulikan tentang semua hal itu, Luhan tetap bersikeras untuk mengakhiri hubungan yang tengah ia lakoni.

"Dan aku akan kembali ke rumah ini jika daddy sudah menikah!"

Dan pada kenyataannya Sehun tak akan pernah bisa menolak apapun yang diinginkan oleh anak yang paling ia cintai. Walaupun permintaan itu dapat membuat hidupnya dan hatinya hancur hingga menjadi partikel - partikel kecil yang tak mempu terlihat lagi wujudnya.

Tinnn! Tinn!

Sehun tersadar dari lamunanya ketika suara - suara klakson yang berderu tak sabar memasukki indra mendengarannya. Tangannya langsung menggenggam persneling dan menginjak pedal gas mobilnya dengan kecepatan sedang. Dan beberapa detik kemudian Sehun menghentikan laju mobilnya di sebuah basment hotel berbintang lima. Pintu tersebut terbuka dan menampikan sosok Sehun yang begitu sempurna dengan setelan jas mahal yang membalut tubuh atletisnya.

Awalnya Sehun ragu untuk melanjutkan langkahnya. Bahkan ia akan bergegas masuk kembali ke dalam mobilnya lalu tancap gas menuju rumah mewah miliknya. Namun ia kembali menarik napasnya dengan dalam dan membuangnya perlahan melalui hidungnya.

Ia mencintai Luhan. Emm,,, tidak Oh Sehun. Mulai sekarang kau harus menggantinya.

Ia menyayangi Luhan sebagai anaknya. Yaa,,, itu benar. Dan selamanya itu tidak dan tak akan pernah bisa berubah. Memang itulah takdir yang telah digariskan untuk dirinya. Ia berjanji setelah ini semua selesai, ia akan membawa Luhan kembali. Menjalani kehidupannya sebagai ayah dari Luhan sembari melupakan tentang semua perasaannya yang selama ini berusaha ia tahan. Sehun sudah terlalu lelah untuk bertahan selama tiga tahun ini. Dan inilah saatnya ia untuk mengibarkan bendera putih pada keadaan.

Selanjutnya Sehun menutup pintu mobilnya dengan pelan lalu melangkahkan kaki kanannya menuju lift basement. Tapi, baru satu langkah Sehun berjalan, hatinya langsung bergetar lirih. Tubuhnya merinding seolah berusaha untuk mengatakan jangan padanya. Namun hatinya terus berkata lanjutkan. Dan pikirannya pun ikut mendukung. Maka dari itu ia pun kembali melanjutkan langkahnya dengan pasti. Dan kepulangan Luhan manjadi penguatnya untuk terus melangkahkan kakinya.

~~ HunHan ~~

Saat bulan purnama mulai merangkak naik, Luhan tidak langsung melangkahkan kakinya menuju apartemen miliknya. Ia malah membawa tubuhnya ke sebuah taman yang terletak tak jauh dari kedai bubble tea tempat ia bertemu dengan pria bertkulit tan itu.

Ngomong ngomong tentang Kai, sejak tadi yang Luhan lakukan hanyalah duduk termenung di sebuah ayunan kecil yang terletak di tengah tengah taman. Mata rusanya menatap sepasang sepatu hitam yang terpasang dengan apik di kedua kaki jenjangnya, dan pikirannya berlabuh pada setiap kata demi kata yang diucapkkan oleh Kai tadi sore padanya.

"Maksudmu?"

"Kau tak mungkin menemuiku yang begitu jauh dari planetmu jika tak ada hal penting yang harus disampaikan. Maka dari itu di sini aku bertanya, apa tujuanmu menemuiku?"

"Ohh,,, itu," Kai membenarkan posisi duduknya yang semulanya bersandar menjadi tegak dengan kedua tangannya yang ia lipat di atas meja. "Kyung baby menyuruhku menyampaikan sesatu padamu."

"Kyung baby? Siapa dia."

"Dia kekasihku! Tapi sekarang itu bukan hal yang penting. Kata Kyung baby, kau harus mewanti - wanti setiap hal yang terjadi di dalam hidupmu. Akan ada sebuah kegelapan yang mendekati dirimu Lu."

"Kegelapan? Maksudmu aku ini sedang didekati oleh jin - jin jahat?"

Kai menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Ini lebih seperti aura yang menguar di dalam tubuhmu. Dan ini bersangkutan dengan kejadian yang sedang kau alami Lu."

"Maksudmu, aku tak mengerti."

"Kau pikir aku mengerti? Kyung baby hanya mengatakan hal itu padaku. Saat aku bertanya apa maksudnya, dia malah membentakkku. Dia berkata, kau sendiri pasti akan tahu jawabnnya."

"Sudahlah! Mungkin aku akan bertemu dengan teman semasa junior high school 'ku, dan aku akan dibully habis - habisan oleh mereka."

"Entahlah mungkin." Kai mengedikkan bahunya tak perduli lalu merebut minuman milik Luhan dan menyeruputnya hingga tak tersisa.

Tadi sore Luhan memang tak memperdulikan apa yang dikatakan oleh Kai. Namun semakin lama, apa yang diucapkan oleh Kai membuat perasaannya semakin tak tenang. Kata - kata peringatan itu terus terngiang di dalam pikirannya bagaikan nyamuk yang mendengung di sekitar telinganya. Sangat mengganggu.

Apa mungkin teman - teman semasa junior high school-nya akan datang lagi ke dalam hidupnya dan mulai merusak segala kebahagiaan yang ia dapatkan saat ini? Menyebarkan cerita masa lalunya pada teman - teman yang telah ia dapatkan saat ini di senior high school-nya.

Semilir angin kencang yang menyapu helaian rambut caramelnya, membuat hati Luhan semakin kalut. Pikirannya semakin gelisah menduga - duga maksud dari ucapan pria berkulit tan itu.

"Apa ini ada kaitannya dengan pria itu?" Luhan bergumam pelan ketika sosok Sehun terlintas dalam pikirannya. Namun cepat - cepat ia menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Hidupnya tak akan terlalu berpengaruh terhadap hidupku. "

"Ya! Oh Luhan! Untuk apa kau memikirkan pria itu? Tak ada gunanya juga." Luhan tertawa renyah dengan apa yang baru saja ia lakukan. Namun sayang tawanya itu terihat sangat menyedihkan. Terlalu dipaksakan. Siapapun tahu di balik tawa lebar itu, terdapat sebuah kesakitan yang sangat dalam.

"Hahaha,,, sudahlah! Lebih baik aku pulang." Luhan beranjak dari ayunan tersebut dengan perlahan. Membersihkan celana bahan kainya dari beberapa pasir yang menempel. Setelah menghela nafasnya, Luhan membawa langkah kakinya keluar dari taman tersebut. Berjalan dengan kepala yang tertunduk dalam di sepanjang trotoar yang mengarah pada gedung apartemennya.

Bruuukkk

Yaa,,, Luhan terlalu fokus dengan sepatu yang tengah ia gunakan –walau sebenarnya, bukan sepatu bermerek miliknyalah yang tengah ia pikirkan- hingga ia tak melihat orang - orang yang berjalan di sekitarnya dan menabrak seorang wanita yang menurut Luhan sudah memasukki usia tiga puluh tahun ke atas. Pasti wanita ini akan menyemprot Luhan dengan segala macam umpatannya dengan melihat cara berdandannya yang seperti ahjuma - ahjuma cerewet.

"Maaf ahjuma. Saya tak sengaja."

"Semudah itu kau bilang maaf? Kau lihat ini lututku! Kau pikir ini tak sakit hah?" Bentaknya sembari mengarahkan telunjuknya pada lutut sebelah kanannya yang berhiaskan beberapa luka lecet yang tak terlalu parah.

Cihh... manja! Umpat Luhan dalam hatinya.

"Luka seperti ini akan membuat bekas hitam di lutuku. Kau tahu? Aku mengahabiskan banyak uang dan waktu untuk merawat tubuhku. Tapi dengan seenak jidatmu kau membuat luka di lututku." Luhan meringis kesal karena dirinya dan wanita cerewet ini menjadi pusat perhatian di tengah tengah keramaian kota Seoul. Apakah hidup Luhan harus sesial ini?

"Ohhh... ayolah ahjuma. Itu hanya lecet sedikit. Dalam beberapa minggu bekasnya juga hilang. Kau kan banyak uang, luka lecet seperti ini pasti bukan masalah yang besar untukmu. Lagi pula siapa suruh kau berjalan dengan sepatu hak tinggi seperti itu."

"Dasar bocah ingusan! Bukannya memita maaf kau malah mengataiku."

"Aku tidak mengataimu ahjuma. Aku hanya memberi tahu jika tak baik menggunakan sepatu setinggi itu. Dan hey! Aku sudah meminta maaf padamu tadi. Apa kau lupa merawat telingamu?"

"Kau ini!"

"Sudahlah ahjuma. Aku benar benar lelah seharian ini. Kau juga pasti lelah kan? Aku minta maaf, oke? Aku sungguh tak ingin berdebat denganmu. Suara nyaringmu itu membuat telingaku berdengung. Bye ahjuma."

"Ya! Bocah tak tahu diri! Kemari kaaauuu!" Luhan tetap melangkahkan kakinya menuju gedung apartemennya tanpa memperdulikan wanita itu yang kembali terjatuh karena berusaha mengejar dirinya. Siapa suruh memakai sepatu hak tinggi seperti itu?

To Be Continue

.

.

.

.

And,,, yeahhh... Begitulah...

Untuk dua chapter selanjutnya saya bisa up date seminggu sekali. Karena dua chapter itu memang sudah rampung. Tapi untuk selanjutnya akan saya usahakan.

Rencananya fanfic ini akan saya selesaikan lebih dahulu. Fanfic lain akan dilanjutkan satu persatu setelah ini selesai.

Dan untuk fanfic Popobawa, entahlah. Saya masih berusaha untk merevisinya. Sudah hampir tiga kali saya sudah merevisi tiga sampai empat chapter, dan ketiga hasil revisi itu hilang entah karena flashdisk saya yang hilang atau terkena virus. Dan di situ saya merasa down. Niatan yang mulanya menggebu - gebu jadi hilang.

Sekali lagi maaf...

Saya masih ada niat untuk lanjutkan semua fanfic saya, tapi butuh waktu yang sangat lama.

Karena saya sudah sangat lama meninggalkan dunia ini. Butuh waktu yang cukup lama untuk mengembalikan semua mood saya.

Sekali lagi saya mohon maaf yang sebesar - besarnya.