Naruto©Masashi Kisimoto
Berawal Dari Kaleng© Green Maple
.
.
Warning : Humor garing ! Mohon tekan back jika Anda terpaksa tertawa karena fic ini. Sesungguhnya saya tahu terpaksa tertawa itu tidak enak.
.
.
.
Chapter 2
Selamat membaca
.
.
Pagi ini Sasuke berencana ingin cuti bekerja. Berkas-berkas di meja kantor yang selalu menyambutnya saat membuka pintu ruangan membuatnya stres. Ia ingin bersenang-senang melepas penat, mungkin ia akan mengajak Naruto-dobe untuk menemaninya.
Mengambil handphone yang berada di atas nakas di dalam kamar apartemennya, Sasuke hendak mencoba menghubungi bakaaniki-nya. Alasan apa yang harus ia gunakan kali ini?
Akhirnya dengan alasan bahwa ia terserang penyakit flu dan batuk-batuk parah, dan amandel, ia berhasil mengelabui Itachi untuk menggantikan pekerjaannya hari ini dikantor. Ia menyeringai, misi berhasil.
Selanjutnya ia hanya harus menghubungi Naruto.
To : Baka Dobe
Temani aku hari ini. Diam dan turuti saja! Temui aku di cafe Eternal di dekat distrik Mangekyou jam 10.
Setelah mengirimi pesan kepada sahabat sejak orok-nya, matanya melirik jam yang bertengger di dinding kamar. Sudah jam 6.30 pagi, ia kemudian bangkit dan berjalan menuju kamar mandi.
.
.
.
Selayaknya orang pada umumnya, Sasuke bersenandung menyiapkan sarapan. Walaupun ia hidup sendiri ia masih bisa memasak meskipun hanya menggoreng telur.
Hei, jangan tertawa! Itu sudah kemajuan besar untuknya.
Masih segar di ingatannya saat ia belajar menggoreng telur untuk kali pertama.
Awalnya semua berjalan lancar. Hal pertama yang ia pelajari adalah cara yang benar memecahkan telur dengan melihat tutorial di U-tube.
Setelah percobaan telur yang ke 23 ia berhasil untuk memecahkan telur dengan benar tanpa benar-benar memecahkannya.
Sasuke sumringah. Setelahnya ia menyiapkan wajan, minyak dan kompor.
Ia sedikit kaget saat menyalakan kompor, apinya membesar dalam sekejap namun seketika itu pula apinya mulai mengecil. Ia mengelus dada, tidak pernah berkutat didapur membuatnya sedikit gugup.
Bodoh, semua kompor juga akan seperti itu jika dinyalakan pertama kali ! Memalukan keluarga Uchiha saja.
Mengesampingkan umpatan-umpatan yang terlontar dari mulut author yang bau, berisik, yang tidak punya kerjaan, yang bisanya cuma tertawa senang saat dirinya dinistakan, yang sukanya mandi sehari sekali saat libur, yang sukanya..
God dammit Sasuke, bisa kau hentikan itu?!
Sasuke menyeringai, dengan masa bodoh ia mengambil wajan kemudian menaruhnya di atas kompor.
Ia tidak tahu sebanyak apa minyak yang digunakan untuk menggoreng. Jadi ia menakarnya dengan gelas takar sesuai petunjuk di tutorial U-tube.
Kurang kerjaan.
Saat dirasa pas ia menuangkan minyak kedalam wajan. Beberapa menit kemudian minyak didalam wajan sudah terlihat mulai meletup-letup kecil. Dengan hati-hati ia mulai memecahkan telur yang sudah ia pelajari sebelumnya.
Cressss..
Lelaki 26th ini kemudian mengambil spatula dan bersiap untuk acara memasak yang sesungguhnya.
Mungkin suatu saat ia bisa ikut ajang pencarian bakat memasak Chef Master.
Tangan kekar yang biasanya memegang bolpoin kali ini mengubah senjatanya dengan spatula kaliber K55-210 made in USA. Tangannya mulai bekerja dengan sedikit menekan-nekan telur di dalam wajan.
Namun tiba-tiba saja terjadi letupan minyak yang mengagetkan. Reflek ia terlonjak mundur, tak disangka saat ia mundur ia menabrak meja makan di belakangnya. Bagai adegan slow motion telur yang berada di dalam wadah bergoyang-goyang lalu miring seketika saat tidak ada keseimbangan.
Sasuke hanya bisa menganga saat wadah telur itu menabrak lantai keramik dapur dengan keras.
Lihatlah.
Cairan telur yang amis menyebar di seluruh lantai. Beberapa bagian menempel di dinding dan lemari dapur. Ia mengumpat saat celana jeans yang ia pakai terkena noda telur.
Fuck!
Ini tidak akan sebentar, butuh waktu lama baginya untuk membersihkan kekacauan ini. Tanpa pingkir panjang ia beranjak dari dapur mengambil peralatan bersih-bersih.
Beberapa menit kemudian ia kembali dengan baju tempurnya.
Mari kita cek kelengkapannya Sasuke.
Check list :
- Sarung tangan? Ready
- Penutup kepala? Ready
- Masker? Ready
- Apron? Ready
- Pel lantai? Ready
- Semprotan anti kuman? Ready
- Pacar? Rea.. not ready
Kalian dengar itu? Masih ada kesempatan-berbisik.
Sasuke menyeringai dibalik masker melihat penampilannya. Sekarang ia siap bertempur. Tiga detik kemudian seringaian itu luntur saat hidung mancungnya mencium bau tak sedap. Matanya melebar saat ia teringat sesuatu.
Holy shit, telurnya!
Dalam sekejap ia berlari pontang panting menuju dapur. Saat memasuki dapur bau gosong itu semakin menyengat. Sasuke yang panik kemudian segera beranjak untuk mematikan kompor. Ia lupa jika telur-telur itu masih berceceran di lantai. Kejadian selanjutnya adalah...
.
.
.
.
.
.
Hening.
.
.
.
.
.
.
Hening.
.
.
.
.
.
.
Masih hening.
.
.
.
.
.
.
.
Hening yang lama.
.
.
.
.
.
.
Cukup lama hingga para pembaca mulai bosan menunggu kejadian selanjutnya.
.
.
.
.
.
.
Masih menunggu ya? -menyeringai
.
.
.
.
.
.
Maaf aku tidak bisa memberitahukan kalian. Sasuke mengancamku (meringis).
Sasuke mulai bernafas lega setelah berhasil mematikan kompor. Saat mata jelaganya melihat sekitar, ia mengerang. Sungguh sial.
.
.
.
Begitulah cerita saat kali pertama Sasuke belajar menggoreng telur. Sekarang saatnya kembali ke laptop maksudku kembali ke asal, Yang Mulia Sasuke yang mulai lihai menggoreng meninggalkan sejenak masakannya. Mengambil stok tomat dalam kulkas untuk membuat segelas jus tomat kesukaannya, memasukan roti tawar ke dalam toaster dan mengiris beberapa tomat. Walaupun hanya dengan bahan seadanya ia ingin membuat sandwich ekstra tomat ala Chef Sasuke ganteng.
Jam sudah menunjukan pukul 8.30 pagi, masih ada satu setengah jam lagi untuk bertemu dengan Dobe.Sasuke pun beranjak dari dapur ke kamarnya untuk mengecek handphone. Saat netranya menangkap keberadaan setumpuk cucian, ia mengerang. Ia lupa untuk me-laundry pakaiannya. Kemana saja petugas laundry selama ini?
Sebenarnya apartemennya memiliki fasilitas jasa laundry namun ia baru tersadar jika beberapa hari ini petugas laundry tidak mengambil cuciannya. Akhirnya Sasuke berinisiatif untuk membawa setumpuk cucian kotornya ke tempat laundry.
.
.
.
Jika menelisik lebih dalam ternyata ia tidak tahu dimana jasa laundry berada yang dekat dengan apartemennya. Hah, merepotkan. Ia berpikir ingin menghubungi aniki-nya saja untuk menanyakan tempat laundry terdekat. Tangan kanannya yang semula membawa sekantung cucian kemudian memindahkannya ke tangan kiri. Merogoh kantung jeans untuk mencari benda persegi pembawa pesan. Saat menemukannya ia langsung saja mencari kontak aniki-nya untuk men-dial nomor itu.
Namun jempolnya tiba-tiba saja berhenti di atas ikon telepon, ia lupa jika ia baru saja meminta tolong Itachi untuk menggantikan pekerjaaanya karena sakit. Hampir saja ia membocorkan rencana bodohnya.
Mana ada orang sakit mengantar cucian ke laundry.
Otak jeniusnya mulai berpikir mengingat-ingat siapa gerangan makhluk yang bisa menolongnya.
Ting !
Baka Dobe.
Tanpa menunggu lama ia segera saja mendial nomor sahabatnya. Nada sambung memenuhi indra pendengarannya. Hingga dering keenam sama sekali tidak diangkat, kemudian ia mendial lagi. Saat dering kedua orang diseberang sana langsung menyerbunya.
"Halo, ada apa? Apa kau tidak bisa bersabar sedikit saja Teme? Ini bahkan belum jam 10. Kau tidak tahu aku ini pebisnis yang sibuk-Sasuke mendecih-seenaknya saja kau memaksaku untuk menemani pergi di jam kerja."
"Hn."
Naruto mulai berdecak kesal.
"Apa maumu?"
"Apa kau tahu tempat laundry di sekitar apartemenku?"
"Kau menelfonku hanya untuk menanyakan hal itu?"
"Jawab saja Dobe"
"Mana aku tahu Teme, seharusnya kau yang lebih tahu kau kan.."
Tut tut tut tut..
Sambungan telepon tiba-tiba diputus secara sepihak sebelum Naruto sempat menyelesaikan perkataannya.
Dasar tidak sopan.
Ia merasa tidak perlu mendengar tetek bengek omelan Naruto, yang jelas Naruto tidak bisa membantunya.
Menyerah, ia pun mulai berjalan mencari tempat laundry. Hitung-hitung sekalian olahraga.
.
.
.
Setelah 20 menit berjalan berkeliling mencari kesana kemari akhirnya ia menemukan jasa laundry. Sasuke kemudian masuk dan mulai untuk me-laundry bajunya.
Ternyata tempat laundry yang ia masuki adalah tempat laundry dimana pelanggan harus me-laundry bajunya sendiri. Ia mengumpat kemudian menghela nafas.
Oke, ini tidak akan selesai sendiri jika kau hanya mengumpat.
Tanpa pikir panjang Sasuke pun mulai menggunakan jasa laundry tersebut.
.
.
.
Setelah urusannya selesai ia melirik jam tangan di pergelangan kirinya. Sudah pukul 9.47. Ia mungkin akan sedikit terlambat.
Berniat untuk menghubungi si Baka Dobe, ia merogoh kantong celana jeans hitam tempat menyimpan handphone keluaran terbaru sembari keluar dari toko.
Saat men-dial nomor Naruto tak disangka kepala belakangnya ketiban sesuatu dengan keras dan sedetik kemudian terdengar bunyi kemlontang.
"Aaw !"
Sial, apa itu tadi?
Ia meringis mengusap-usap kepala belakangnya. Demi memenuhi rasa ingin tahunya Sasuke menoleh ke belakang dan menunduk melihat benda laknat yang berani-beraninya melecehkan pride Uchiha-nya.
Kaleng soda.
Saat ia mendongak untuk mencari si pelaku, ia hanya menemukan seorang gadis berambut merah muda yang bertampang bodoh, mulutnya menganga, mata hijaunya tak berkedip, penampilannya berantakan.
Aneh !
Badannya kecil, kerempeng tapi tenaganya seperti monster.
Matanya memicing tajam kepada si gadis. Mencoba mengeluarkan hawa menusuk untuk mengintimidasi si pelaku.
Menusuk. Menusuk. Menusuk.
Lihat, dia mulai takut. Saat ia mulai melangkah untuk mendekati si gadis ia bisa melihat bibir gadis itu komat kamit seperti sedang membaca doa.
Sasuke mengernyit, memangnya dia setan?
"Ma-mau apa kau?" Ia bisa mendengar ada nada kegugupan di dalamnya. Tiba-tiba saja gadis aneh itu memasang kuda-kuda. Sasuke mengangkat sebelah alisnya, gadis ini seperti menantangnya berkelahi. Ia mendengus ingin sekali tertawa. Dasar sok berani.
Saat jarak diantara mereka mulai terpangkas, entah pikiran darimana tiba-tiba saja ia mencengkeram kedua lengan gadis itu dan menariknya mendekat. Sasuke tahu gadis ini benar-benar takut.
Jika dilihat dari dekat wajah gadis itu lumayan cantik juga. Mata hijaunya yang bulat benar-benar jernih, serasi dengan rambut merah muda sebahunya. Ia jadi teringat akan bunga sakura di musim semi. Mata hitamnya dengan liar turun kebawah kearah bibir gadis pink itu. Benar-benar kissable, minta ingin dicium.
Ia menggeleng, apa-apaan itu tadi? Seakan tersadar, matanya mulai menyalang tajam menatap mata hijau didepannya.
"Hei, a-aku minta maaf soal tadi. A-aku benar-benar tidak sengaja. Bisa tolong lepaskan aku?" Gadis itu nyengir meminta belas kasihan. Tubuhnya gemetar, wajahnya memelas, badannya berkeringat dingin.
Sebenarnya ia ingin menyembur gadis itu, namun saat ia akan membuka mulut gadis itu malah menutup mata. Tak tahan dengan kelakuan gadis didepannya ia pun urung untuk melakukannya. Sasuke kemudian melepaskan cekalannya, matanya tanpa sengaja melihat jidat lebar gadis itu. Seakan ada magnet, tanpa dikontrol jarinya langsung melesat menyentil jidatnya.
Gadi itu meringis, mengusap-usap jidatnya yang memerah. Dan lihat bibirnya mengerucut. Lucu sekali.
Sasuke menyeringai saat dirasa mereka impas. Sebelum beranjak pergi ia mengambil kesempatan menoyor kepala gadis itu.
"Rasakan itu, dasar jidat lebar."
Ia masih bisa mendengar gadis itu menggerutu saat dirinya mulai beranjak pergi. Sepanjang jalan ia hanya bisa menahan tawa.
Ah sepertinya ia benar-benar terlambat.
.
.
To be continued.
Pojokan author :
Jumpa lagi, jumpa Green-san kembaliii... ya disini.. cilukbaa...
Halo bertemu dengan saya lagi dalam acara Pojokan Author Berawal dari Kaleng. Maaf, awalnya mau jadi oneshoot saja karena saya lg malas menulis dan kering ide -_-'. Tapi berhubung ada yang minta sequel jadi lebih baik saya bikin multichap saja hehe *berpikir keras untuk membangun ide. Entah kenapa ini ffn di kasih enter tanpa titik gak mau jalan, jadi maaf kalau banyak titik *pemula. Oh iya mulai chap ini rated aku naikin jadi M.
Terimakasih buat reviewers dan silent readers.
