Naruto©Masashi Kisimoto

Berawal Dari Kaleng© Green Maple

.

.

.

Chapter 3
Selamat membaca

.

.

Yamanaka Ino mulai tidak tahan dengan rengekan dan umpatan gadis yang sedang meneleponnya saat ini.

Beberapa waktu lalu ia sedang sibuk mempersiapkan berkas yang akan ia bawa untuk rapat besok pagi. Tugasnya sebagai sekertaris membuatnya harus menyiapkan amunisi untuk kemungkinan adanya serangan fajar.

Namun 21 menit 17 detik yang lalu handphonenya berdering. Saat ia ingin mengangkatnya dan menjawab teleponnya saat itu pula Shimura Sai berjalan melewati mejanya dan ia tersenyum manis untuk menyambut bos tampannya yang kece badai baginya.

Fokusnya langsung buyar saat ia langsung diserang dengan brutal oleh rentetan suara melengking yang meletup-letup milik sahabat tak diuntungnya diseberang sana.

Apa ia tidak tahu? Dia kan ingin tebar pesona dulu di depan si bos.

Ino berdecak kesal, ia tahu sahabatnya memang sedang dirundung duka karena baru saja dipecat dari tempat kerja. Namun mulutnya yang terus nyerocos tanpa bisa direm membuatnya menghela nafas.

Ampuni Aim ya Allah.

Namun mendadak keheningan menyelimutinya. Ini aneh, kemana gerangan suara berisik tadi?

"Halo? Jidat? Kau masih disana?"

Hening, hanya terdengar deru nafas yang tersengal-sengal di seberang sana.

"Halo? Sakura, kau tidak apa-apa kan?" Ino mulai khawatir, takut kalau sahabatnya terkena sakaratul maut.

"Iya, Pig. Aku hanya capek ngomong terus. Mulutku sampai berbusa."

Dan seketika Ino menyesal karena mengkhawatirkannya.

Tentu saja berbusa! Kau dari tadi berbicara terus tanpa henti. Dasar saus tartar!

Yamanaka Ino cuma bisa mengelus dada menghadapi kelakuan sahabat absurdnya. Sabar, sabar, orang sabar subur.

Ia kemudian berusaha menenangkan sahabatnya dan berjanji akan mengunjungi apartemennya nanti setelah pulang kerja. Begini-begini Ino juga mengkhawatirkan sahabatnya walaupun kelakuannya membuat darah tingginya naik. Ia kemudian mematikan sambungan telepon setelah mengucapkan sampai jumpa.

.

.

Oke baiklah mari jangan ganggu Yamanaka Ino yang sedang bekerja, kita lihat apa yang terjadi pada sosok tokoh wanita utama kita. Aku akan membawa kalian menuju kediamannya. Tapi aku peringatkan terlebih dahulu, jangan kaget dan mohon jangan mengatakan sepatah kata apapun. Aku tidak ingin ada orang yang menelepon 911 gara-gara melihat gorila mengamuk.

Ingat ! Diam itu emas.

Pantas saja Sakura selalu mengeluh tidak punya uang. Karena dia cerewet tidak bisa diam.

.

.
Pada suatu hari ada sebuah apartemen kecil nan jauh disana yang didalamnya menghuni seorang gadis cantik yang sepertinya sedang...

Emm, sedang apa kau hei Sakura?

Sakura masih meringkuk di sofa setelah menelepon Ino dan sedikit lega setelah curhat dengan sahabat babinya. Ia masih memikirkan nasibnya.

Sekarang ia seorang pengangguran yang berarti ia tidak punya pekerjaan yang berarti ia tidak akan punya uang yang berarti ia tidak akan bisa membeli makanan yang berarti ia akan mati kelaparan yang berarti membusuk di dalam apartemen sendirian.

Sendirian. Sendirian. Sendirian. Sendirian. Sendirian. Sen..

Hentikan itu !

Huaaa, rasanya ia ingin menangis mengingat nasibnya yang malang seperti ini. Pengangguran.

Dan ia BELUM menikah !

Tidak ingin meratapi nasibnya terlalu lama Sakura pun memilih beranjak ke dalam kamar. Ia ingin tidur, hibernasi. Tidak perduli dengan gempa bumi atau tsunami yang sering melanda Jepang. Bodo' amat. Asalkan ia tidak mengingat kejadian tentang kopi tubruk dan lelaki pantat ayam.

Lelaki pantat ayam.

Sakura mengerang mengingat kejadian kaleng soda tadi. Ia sungguh malu, tapi lelaki itu sungguh menjengkelkan, tapi ia malu. Ingin rasanya ia mengulang kembali waktu hari ini.

Tapi itu tidak mungkin. Mustahal. Semoga saja ia tidak lagi bertemu dengan lelaki pantat ayam itu.

Huh, pantat ayam.

Ia terkikik geli mengingat julukan yang ia berikan kepada pria apes yang terkena tendangan pisangnya. Mungkin ia berbakat untuk menjadi pemain sepakbola dengan nomor punggung 10, seperti kapten Tsubata Ozawa favoritnya.

Kakinya melangkah menuju kamar, menghempaskan badannya ke ranjang hingga membuatnya sedikit bergoyang naik turun. Mata hijaunya menutup mencoba menyelami alam mimpi hingga beberapa menit kemudian ia jatuh terlelap.

.

.
Hari sudah beranjak sore, dering telepon membuatnya terbangun dari mimpi. Meraih ponsel pintarnya di atas nakas, ia melihat siapa gerangan yang telah mengganggu tidurnya.

Yamanaka Ino.

Sakura berdecak kesal. Dasar babi, mengganggu tidurnya saja. Minta dikecap.

"Halo."

"Jidat kau masih hidupkan? Aku akan segera kesana. Pekerjaanku sudah selesai."

"Hm."

"Jangan coba-coba kau melakukan hal-hal aneh yang ada di otakmu!" Sakura mengernyit, apa maksud si babi ini?

"Hm."

Setelah memutus sambungan telepon, dengan malas-malasan Sakura beranjak ke kamar mandi. Mungkin berendam bisa membuat kesialannya melebur.

.

.
Yamanaka Ino mulai membereskan mejanya. Sebenarnya ia khawatir dengan sahabat sejak SMP nya kalau-kalau otaknya konslet lagi saat tidak ada pendamping didekatnya.

Ah pendamping ya?

Lihat, calon pendamping hidupnya sedang berjalan kearahnya.

Tunggu !

Ino membeku, matanya tidak salah lihat. Setahunya si bos tadi beranjak keluar dari ruangan beberapa menit yang lalu. Dia pikir si bos akan pulang saat ia pergi ke pojok ruangan untuk memfotokopi berkas.

"Yamanaka-san, kau masih disini?"

Matanya berkedip, wajahnya sedikit linglung. Melihat senyuman yang selalu tersungging di wajah tampan si bos seketika membuatnya merona. Ia salah tingkah.

"Ah, ya Shimura-sama. Saya memang bersiap-siap untuk pulang." Dengan senyum malu-malu Ino menjawab pertanyaan si bos.

"Bagaimana kalau aku antar pulang?"

Ino tercengang, bola matanya melebar. Ia tidak salah dengarkan? Ino megap-megap ia tidak percaya hari ini akan terjadi.

Demi Kami-samaia sudah lama menantikan hal ini.

"Tidak usah Shimura-sama. Saya bisa pulang sendiri. Tidak perlu repot-repot." Dengan melambaikan kedua tangan di depan wajah Ino berpura-pura menolak, ia sedikit mengeluarkan trik jual mahal agar lelaki di depannya ini memaksanya memohon untuk ikut.

"Oh begitu ya. Sayang sekali."

Hanya dalam mimpimu Yamanaka, hahaha !

Ino melongo, merutuki diri sendiri. Bodoh, bodoh. Ia menyesal, ia tidak ingin kesempatan emas ini pergi begitu saja.

"Tapi jika Shimura-sama memaksa, apa boleh buat." Ino nyengir dan hanya di balas dengan senyuman andalan Shimura Sai.

What the hell !
Siapa juga yang memaksa?!

Kemudian mereka berdua pun beranjak pergi. Mengobrol sepanjang jalan melewati koridor kantor yang sudah sepi.

.

.
Terlihat sebuah mobil sedan hitam yang menepi didepan sebuah apartemen sederhana. Yamanaka Ino turun dari mobil itu. Biarkan saja mobilnya menginap dikantor. Besok pagi ia bisa meminta niisan-nya untuk mengantarnya.

"Terimakasih Shimura-sama." Ino membungkuk memberi hormat atas rasa terimakasih kepada si bos karena sudah mengantarnya.

"Panggil saja Sai, Ino." Ucap Sai sambil tersenyum.

Aku heran, apakah pipinya tidak lelah menarik bibir terus seperti itu?

Mendengar hal itu Ino merona, hatinya girang bukan main. Rasanya ia ingin salto nyemplung kedalam kolam ikan depan apartemen. Ini merupakan kemajuan besar baginya, sebentar lagi impiannya untuk menyandang nama Shimura akan segera terwujud. Buahahahaha...!

"Baik, kalau begitu terimakasih Sai." Ino semakin merona malu, wajahnya sudah merah seperti kepiting rebus. Semoga saja tidak ada uap yang keluar dari kedua telinganya.

Sai hanya membalas dengan tersenyum. Kemudian menutup kaca mobil ia lalu melajukan mobilnya menjauh.

Disana Ino masih berdiri, tidak ingin melewatkan barang sedetikpun pujaan hatinya pergi. Walaupun itu hanya mobilnya. Hatinya berbunga-bunga dengan menapak riang ia beranjak menuju apartemen sahabatnya.

.

.
Sebelumnya Ino sempat mampir dulu ke kedai ramen untuk membelikan makanan sahabatnya karena ia selalu ingat akan nasihat ibunya untuk memberi makan fakir miskin dan anak terlantar.

Menyedihkan sekali kau Sakura.

Sepanjang jalan Ino senyam senyum sendiri. Mungkin jika bisa dilihat dengan kasat mata kau akan bisa melihat banyak bunga menebar di sepanjang jalan yang ia lewati.

Ino tahu salah satu kebiasaan buruk Sakura, jarang menutup pintu apartemen. Maka saat menemukan pintu dengan nomor 28 tanpa pikir panjang ia memutar kenop pintu.

BLAM !

Namun dalam sekejap ia menutupnya lagi. Ia merinding. Saat dirinya membuka pintu tadi tiba-tiba saja hawa dingin menerpanya. Aura suram menyelimuti ruangan depan apartemen.

Ino mulai menggigit bibir, tangannya masih berada di atas kenop pintu. Ia mulai menarik nafas untuk menenangkan diri sendiri.

Tarik. Buang. Tarik. Buang. Tarik. Buka !

Kriet..

BLAM !

Secepat kilat ia membukanya secepat kilat itu juga ia menutupnya. Kali ini Ino berhasil masuk. Mata Aquamarine-nya mulai memindai seisi ruangan yang masih gelap mencari keberadaan seonggok manusia merah muda. Ia tidak menemukannya. Kemana dia?

Kakinya melangkah masuk semakin kedalam. Kepalanya menoleh ke kanan ke kiri.

"Sakura?" Hening, tidak ada jawaban.

"Sakuraa?" Sekali lagi, hening tidak ada jawaban.

Ino mulai bingung dalam hati ia khawatir takut ada apa-apa. Jangan-jangan ada orang yang masuk lalu menculik Sakura-walaupun kemungkinan ini tidak akan terjadi-atau Sakura bunuh diri dengan melompat dari lantai 3. Memikirkan hal itu ia lari ke balkon di dekat ruang tengah. Tangannya mencengkeram pembatas pagar, kepalanya melongok ke bawah.

Gelap, sedikit gelap namun tidak apa-apa. Kosong.

"Ino! Hentikan!" Tiba-tiba saja ada suara tak sedap yang masuk ke telinganya, ia menoleh. Namun seseorang langsung menubruk badannya. Ia hampir saja terjungkal ke belakang dan mati mengenaskan jika saja tangannya tidak kuat mencengkeram pembatas pagar.

"Jangan berpikiran pendek. Aku tahu kau kalah cantik denganku, kalah seksi denganku tapi jangan seperti ini. Pikirkan Mochi, siapa yang akan memberikan makan dia jika kau bunuh diri?" Sakura dengan brutal menggoncang-goncangkan tubuh teman Barbie-nya.

Yamanaka murka. Sahabatnya ini benar-benar.. benar-benar.. saus tartar, rajungan. Lama-lama ia benar-benar akan masuk Rumah Sakit jika seperti ini terus. Tenang Ino, tenang.

Ino berusaha melepaskan cengkraman Sakura yang berada dilengannya kemudian menggeplak kepala dengan helaian merah muda itu. Ia menatap sepasang mata hijau itu dengan tajam. Ia benar-benar ingin meledak.

"Dengar ya jidat! Kau hampir saja membunuhku. Dan apa itu tadi? Kau menganggapku tidak lebih berharga dari seekor hamster? Fyi, aku tidak ada niatan bunuh diri !"

Sakura hanya bisa menutup mata. Bukan, bukan karena takut akan amarah Ino. Hanya saja, ia berteriak tepat di depan wajahnya. Ia jadi teringat semburan oase Pak Orochimaru.

"Eew Ino bisakah kau tidak melakukannya lagi?" Sakura mengernyit jijik sembari mengelap wajahnya yang basah karena banyaknya titik air sari pati dari mulut penuh gosip Ino Yamanaka.

Ino yang melihatnya ikutan meringis jijik seraya mengelap mulut. Sebegitu banyaknyakah air ludahnya?

Tidak ingin memperpanjang urusan kedua sahabat itupun beranjak dari sana menuju meja makan.

"Aku membawakanmu makanan. Apa kau sudah makan?"

"Belum." Sakura memelas.

"Sudah kuduga. Ini cepat panaskan. Kita makan bersama-sama dan aku ingin mendengar semua ceritamu."

"Bisakah kita skip saja bagian yang itu?" Wajah Sakura cemberut tidak ingin mengingat kembali kilasan-kilasan kesialannya hari ini.

"Tidak bisa. Kau harus menceritakannya." Ino dan rasa ingin tahunya adalah hal yang menyebalkan.

Akhirnya Sakura pun pergi untuk memanaskan ramennya. Ino yang tidak tahan dengan wajahnya yang sudah lengket, pergi ke kamar mandi. Sakura duduk di kursi meja makan sambil menunggu microwave berbunyi.

Ia tidak sedang memikirkan apa-apa. Hanya suara ketukan jarinya di meja makan yang mengisi keheningan ruangan. Tangannya berpindah menopang dagu, bibirnya maju menunggu ramennya matang. Suara langkah kaki dari luar ruang makan terdengar, Ino sudah selesai dengan urusannya. Terlihat ia masuk kedalam ruang makan dengan wajah yang sedikit basah.

"Kau kenapa?" Tanya Ino seraya menarik kursi, ia heran saat masuk ruangan disambut dengan wajah tertekuk seperti itu.

"Tidak apa." Sakura menjawab sekenanya.

"Lalu kenapa wajahmu jelek sekali? Oh iya aku lupa kalau wajahmu memang seperti itu." Sakura mendengus, enteng sekali sahabat babinya ini menyindirnya.

Ting !

Bunyi microwave menginterupsi percakapan mereka. Sakura beranjak mengambil dua mangkuk ramen yang sudah dipanaskan dibantu dengan Ino yang mengambil sendok dan minuman.

Mereka berdua kemudian melangkah menuju ruang tengah. Berniat memakan ramen disana mungkin sembari menikmati acara di televisi.

Sakura duduk di karpet menyila kaki, Ino menyusul di belakangnya ikut menyila kaki. Bau ramennya benar-benar lezat, tak sabar Sakura segera menghajar ramennya.

"Jadi ceritakan padaku secara detail apa yang terjadi!" Ino memulai mengintrogasi. Pasalnya saat ditelepon tadi sahabatnya ini hanya bercerita kalau dia dipecat hanya karena kopi, selebihnya hanyalah rengekan dan umpatan.

Sakura masih belum menjawab ia masih semangat menyeruput ramennya. Ino masih menunggu.

"Awku jwatuh teswandung, kwopinywa telwempaw, swilwuman ulaw mwemwecakuw, swudah sweleswai." Sakura masih asyik menyeruput ramennya tanpa memperdulikan mulut Ino yang menganga.

Ngomong apa bocah ini?

"Bicara yang benar, telan dulu makananmu!" Selain otaknya yang sering konslet sahabatnya ini jorok juga.

Sakurapun menelan mie ramennya.

"Waktu itu aku ngantuk sekali jadi aku membuat kopi di pantry dapur, mesin pembuat kopinya benar-benar hebat, dan rasa kopinya enak juga lho Ino. Tidak jauh beda dengan kopi Starback, tapi mungkin itu bisa jadi karena tanganku yang hebat dalam membuat kopi, kau tidak akan berhenti meminumnya kalau kau sudah.."

"Hentikan! Jangan berbelit-belit. Kita tidak sedang membicarakan soal mesin pembuat kopinya yang enak. Ceritakan padaku ada apa dengan kopi sampai kau di pecat." Ino mulai geram.

"Aku jatuh tersandung, kopinya terlempar, siluman ular memecatku, sudah selesai."

Sekali lagi Ino menganga. Kalau bisa cerita itu dikategorikan sebagai sebuah cerpen, mungkin itu merupakan cerita terpendek yang pernah ia dengar.

Tiba-tiba Ino mencubit pinggang Sakura dan membuatnya memekik menyemburkan mie ramen yang sedang ia makan. Sakura tersedak.

"Ah, Jidat kau tidak apa-apa?" Ino meringis ngeri.

Aku tidak mau membayangkan bagaimana rasanya tersedak mie ramen yang panas dan pedas.

Sakura terbatuk-batuk, mata dan hidungnya berair, wajahnya memerah. Rasanya perih sekali. Secepat kilat tangannya meraih botol di depannya lalu memutar tutup botol agar ia bisa segera menghentikan siksaan ini. Sialnya botol minumannya tidak mau bekerjasama, tutupnya tidak mau diputar. Tangannya kemudian beralih meraih minuman Ino. Sama. Nihil. Mungkin besok akan muncul berita di koran seorang wanita mati tersedak ramen.

Sakura kemudian berlari pontang-panting menuju dapur, membuka kulkas dengan brutal dan melihat minuman apa yang bisa membantu meredakan siksaan neraka ini. Matanya menangkap keberadaan kaleng minuman.

Oh No jangan kaleng lagi !

Tanpa pikir panjang Sakura menyambar kaleng minuman itu lalu meneguknya dengan liar.

cless gluk gluk..

uhuk.. uhuk..

Aneh rasanya panas sekali. Sakura kemudian memutar minuman kaleng itu untuk melihat minuman apa yang sudah ia minum. Fenti Stroberi Minuman Soda Zero Sugar.

Sialan, pantas saja rasanya semakin membuat tenggorokannya terasa terbakar.

Sepertinya ia harus mengingat untuk tidak berurusan dengan kaleng soda mulai sekarang.

Tiba-tiba saja ada segelas air tersorong di depan wajahnya sontak ia menoleh demi mendapati Ino yang nyengir. Sakura mendelik lalu segera menyambar gelas yang ada ditangan Ino meneguknya dengan dua kali teguk. Ah, yang ini rasanya baru benar-benar oase ditengah kekeringan.

Ino mengelus-elus punggung Sakura ia merasa bersalah,"Maaf ya jidat." Sungguh ia tidak ingin membuat sahabatnya menderita seperti ini. Sudah cukup dirinya sendiri tidak perlu ia ikut menambah beban.

"Kau sih tidak langsung menceritakan secara detail padaku."

"Aku hanya tidak ingin membahasnya lagi Pig."Setelah meneguk habis air yang diberikan Ino, ia meletakan gelasnya di atas meja. Tangannya masih memegang kaleng soda terkutuk tadi, ia meringis takut jika suatu saat kesialan akan datang lagi gara-gara benda laknat ini.

Ino yang menyadari sahabatnya yang mengamati kaleng soda seperti ingin meleburkannya dengan sekali tatap pun penasaran.

"Ada apa?"

"Sepertinya aku memang tidak ditakdirkan dengan kaleng soda," Ino memutar bola mata bosan,"tadi siang setelah siluman ular memecatku, aku kesal lalu aku menendang kaleng di tepi jalan. Kaleng soda itu mengenai pantat ayam."

"Pantat ayam?" Ino membeo, bingung. Apa hubungan kaleng soda, menendang, dengan pantat ayam.

"Huun, pria itu model rambutnya aneh seperti pantat ayam. Walaupun dia tampan tapi dia menyeramkan." Oke Ino mulai bingung.

"Lalu tiba-tiba saja dia menghampiriku. Karena aku sedang kesal jadi aku langsung saja meninju wajahnya, menghajarnya lalu dia lari terbirit-birit ketakutan." Sakura berkacak pinggang sembari tersenyum bangga.

Emm, sepertinya ada yang salah disini.

"Jadi, kau menghajar seseorang disini?" Ino mencoba memperjelas. Sakura manggut-manggut.

"Kau meninju wajahnya?"

Sakura manggut-manggut lagi.

"Dan dia lari ketakutan?"

Sakura mulai berdecak tapi ia masih manggut-manggut.

"Kau berbohong."

Sakura manggut-manggut. Ino tersenyum lebar. Ikan bodoh berhasil dipancing. Sakura menganga.

"Mana mungkin orang sepertimu menghajar laki-laki. Melihat kecoak terbang saja kau lari ketakutan." Seperti kau tidak saja.

"He-hei aku tidak berbohong." Sakura gelagapan, bola matanya liar melirik kanan kiri.

Ino memajukan wajahnya ke depan, matanya menyipit mengamati gelagat Sakura."Kau tidak bisa membohongiku jidat. Katakan padaku seperti apa ciri-ciri pria itu?"

"Mau apa kau?"

"Tentu saja untuk mencarinya, kau bilang ia tampan."

"Kau tidak akan menemukannya!"

"Ada apa denganmu? Kau takut jika kebohonganmu itu terbongkar?" Ino menyeringai.

"Tidak. Tentu saja tidak. Akan aku beritahu. Dia tinggi, putih, hidungnya mancung, matanya hitam, sorot matanya tajam, dan rambutnya aneh seperti pantat ayam, dia sepertinya pria yang dingin." Ino mulai berpikir sepertinya ciri-cirinya merujuk ke seseorang yang ia tahu.

"Dimana kau bertemu dengannya?"

"Di daerah distrik Mangekyou."

Ino hanya manggut-manggut sambil bergumam. Ia akan menyimpan informasi ini.

"Baiklah jidat. Sekarang apa rencanamu?"

"Rencana apa?"

Ino berdecak kesal,"tentu saja pekerjaan."

"Aku tidak tahu." Sakura cemberut.

Ino menghela nafas,"Dengar ya jidatku sayang. Aku akan membantumu mencari info pekerjaan. Kau tidak perlu khawatir. Mungkin ada lowongan pekerjaan di tempat kerjaku."

Sakura berkaca-kaca, ia tidak menyangka sahabat babinya ini begitu peduli padanya.

"Baiklah untuk saat ini kau nikmati dulu harimu, ambil sisi positifnya. Kau jadi bisa punya banyak waktu untuk bersantai, membersihkan apartemen, tolong sekalian apartemenku-Sakura mendelik. Mungkin hari Minggu besok kita bisa pergi berbelanja." Ini dia kebiasaan Ino, suka sekali berbelanja. Tapi untuk kali ini mungkin ia bisa menolerir. Kalau dipikir-pikir ia sudah lama tidak belanja. Tidak salahnya menghabiskan uang sendiri untuk berbelanja.

"Oke Pig, hari Minggu besok kita akan bersenang-senang."

Mereka berdua kompak tersenyum lebar, acara Teletubies pun berpindah ke ruang makan Sakura. Dua sahabat yang saling menyemangati satu sama lain. Berbagi suka dan duka bersama.

Indahnya persahabatan.

.

.

.

To be continued

.

Pojokan author :

Maaf kalau chap kali ini terkesan membosankan (saya bukan orang yang pandai merangkai kata) karena saya pengen ceritanya pelan-pelan, tidak terburu-buru. Sungguh sebenarnya saya pengen mulai chap ini ceritanya sedikit serius, tapi tiap kali ngetik cerita serius saya jadi ngantuk. Chap ini mengedepankan persahabatan. Mungkin chap depan akan ada pertemuan SasuSaku lagi. Terimakasih.