Naruto©Masashi Kisimoto
Berawal Dari Kaleng© Green Maple
.
.
Warning : Humor garing ! Mohon tekan back jika Anda terpaksa tertawa karena fic ini. Sesungguhnya saya tahu terpaksa tertawa itu tidak enak.
.
.
.
Chapter 4
Selamat membaca
.
.
Cuaca cerah menyambut kota Konoha pagi hari ini. Burung-burung yang berkicau, matahari yang bersinar hangat, udara yang sejuk, suasana yang tenang, banyak pria tampan sedang jogging. Aah benar-benar pagi yang indah untuk menyambut awalnya hari. Sejuk dimata juga sejuk dihati. Hari ini adalah hari Minggu. Hari libur bagi beberapa para pencari uang. Hari yang panjang untuk bersenang-senang menghabiskan waktu bersama dengan keluarga, teman atau orang terkasih.
Benarkan Sakura?
Kuharap begitu mengingat semenjak itu semua tanggalan terasa tanggal merah. Shannaro..
Pagi ini Haruno Sakura terbangun dengan alarm seperti biasa, tunggu, ia merasa seperti dejavu.
"Tolong jangan katakan kalau aku harus mengulang kejadian di chapter satu lagi." Puppy eyes.
Ehem. Kita skip saja bagian yang ini.
Setelah terbangun dengan alarm dan sarapan roti panggang juga susu-tanpa perlu naik bus-Haruno Sakura memulai harinya.
Mari kita telisik kesibukan Sakura hari ini, jadwalnya adalah..
.
.
.
.
Kosong.
Ia bukanlah artis yang memiliki jadwal padat. Ia hanyalah seorang anak gadis polos 24th yang tidak mengenal kejamnya dunia, yang sedang mencari calon suami tampan kaya raya yang mau menampung hidupnya yang pengangguran ini.
Adakah diantara kalian yang bersedia?
Mungkin ia akan memulainya dengan.. bersih-bersih? Tidak. Mandi? Bukan. Sarapan? Sudah ia lakukan. Lalu apa?
Memberi makan Mochi hamster kesayangannya.
"Selamat pagi Mochi sayang, kau tidur nyenyak semalam? Maafkan Mama karena selama ini jarang memperhatikanmu." Jangan heran jika hal seperti ini akan sering terjadi mulai sekarang. Sinting? Belum. Kurang setengah ons? Hampir mendekati.
Sakura begitu menyayangi anak gembul berbulu coklat putihnya yang ia namakan Mochi. Saat pertama kali melihatnya di toko hewan ia langsung jatuh cinta dan meminta Sasori untuk membelikannya.
Sasori tidak bisa menolak, ia terpaksa harus melakukan apa kehendak imouto-nya karena ia tidak tahan dengan rengekan adik tercintanya ini. Sebelum Sakura mengamuk dan menjadi tontonan orang.
Setelah selesai memberi makan Mochi, Sakura mulai berbenah. Daripada bengong lebih baik membersihkan seluruh penjuru apartemen. Tanpa noda. Bersih mengkilap seperti baru.
Saat ia akan beranjak untuk mengambil alat bersih-bersih, handphonenya berdering.
Babi Gendut's calling.
"Halo Pig, ada apa?"
"Kau tidak lupa kan kalau kita ada rencana hari ini?"
"Iya aku tidak lupa."
"Baiklah, nanti aku jemput jam 10 ya?"
"Roger." Klik.
Setelah memutus sambungan telepon dari Ino, Sakura bersiap memulai rencananya. Ia kemudian mengambil vacum cleaner dan mulai membersihkan karpet di ruang tengah. Permadani merah motif bunga yang ia beli lumayan murah 3 tahun lalu dari pasar loak daerah Kaguya.
Pedagangnya bilang permadani ini di impor dari negeri Alladin dan merupakan bekas turun temurun dari raja-raja terdahulu pendiri Taj Mahal. Limited edition.Dan tidak di produksi lebih dari 100 buah di seluruh dunia.
Kau percaya itu?
Pedagangnya benar-benar memasang tampang serius saat mengatakannya!
Sakura yang mendengar hal itupun terperangah kagum dan pedagang itu memberi harga murah ini spesial untuk Sakura, tanpa pikir panjang ia langsung membelinya. Mungkin suatu saat ia bisa memiliki nasib seperti Alladin, menikah dengan seorang pangeran kaya raya.
Hei Alladin memiliki jin, kau ingat itu Sakura? Bukan dari kaleng tentu saja.
I got this feeling inside my bones.
It goes electric, wavey when I turn it on.
Tidak ada pria tampan jogging, Justin Timberlake pun jadi. Bekerja ditemani dengan suara Justin yang aduhai rasanya membuat pekerjaan terasa lebih menyenangkan.
Sakura pun bergoyang dan bernyanyi mengikuti irama dari salah satu lagu favoritnya. Musiknya memenuhi paginya yang indah hari ini-semoga saja, menyalurkan hal positif dan memberi semangat tersendiri padanya untuk segera menyelesaikan pekerjaan.
Hari ini rencananya ia dan Ino akan pergi berbelanja di distrik Kaguya yang merupakan salah satu pusat fashion di daerah Konoha. Banyak cafe dan butik-butik ternama berdiri di daerah tersebut. Sehingga jika akhir pekan seperti ini akan banyak muda mudi yang menghabiskan waktu disana.
Ting Tong.
Gerakan maju mundur cantik Sakura berhenti saat terdengar bunyi bel pintu apartemennya. Tumben ada orang yang bertamu ke apartemennya pagi-pagi begini. Biasanya hanya pengantar susu atau koran, itupun sekarang sudah tidak lagi.
Ting Tong Ting Tong.
"Iya sebentar." Meninggalkan sejenak acara nginemnya Sakura beranjak untuk membukakan pintu.
Terlihat seorang lelaki dengan kaos Marvel Captain America berjaket kulit coklat tua dengan sepatu boot tinggi layaknya koboi, celana jeans denim dan memakai kacamata hitam juga sebuah ransel di bahu kirinya berdiri di depan pintu nomor 28. Rambut merahnya berkibar melambai-lambai tertiup angin, kulit putihnya bercahaya, matahari bersinar di belakang punggungnya menambah background dramatis bagaikan superhero pembawa harapan. Penampilannya benar-benar tidak kalah dengan Steve Rogers.
Mungkin jika para gadis-gadis tetangga melihatnya aku jamin mereka akan mimisan dan rela menjadi kudanya si koboi merah Woody.
Sakura terpaku sejenak lalu kepalanya melongok ke depan pintu, menengadah melihat langit. Tidak mendung, tidak hujan. Lalu kepalanya kembali menatap lurus ke depan. Mengemut jari telunjuk kanannya dan mengacungkannya keatas. Tidak ada angin. Netranya menyorot lelaki merah di depannya tak berkedip. Merasa heran.
"Apa? Kenapa kau melototiku terus? Apa kau tidak mau mempersilahkan kakakmu ini masuk?" Haruno Sasori si koboi tampan baby face berdecak melihat adiknya yang tak kunjung mempersilahkan ia masuk tapi malah bengong di depan pintu. Bagaimana kalau ada setan lewat? Bisa-bisa ia kesurupan dan bertingkah layaknya orang tak waras.
Tenang saja Sasori mungkin setan akan berpikir ulang untuk merasukinya, karena memang pada dasarnya otaknya sudah gesrek.
Tak ingin menjadi tontonan tetangga karena ajang melotot-satu-sama-lain Sakura pun memiringkan tubuhnya untuk memberi akses kepada Sasori untuk masuk.
"Ada apa ini? Kenapa berantakan sekali?" Sasori yang sudah menginjakan kakinya ke dalam apartemen mulai membuka jaket kulitnya dan melempar seenaknya ke sofa. Sakura mengekor di belakangnya dan menyampirkan kain lap di bahu kanan. Benar-benar menghayati peran.
"Aku sedang bersih-bersih, ada hal apa kakak kemari?"
"Kenapa? Kau seperti tidak suka aku kemari." Sasori menoleh sebentar lalu menghempaskan badan ke sofa. Bersandar sembari melepaskan kacamata dan meletakannya. Kakinya ia selonjorkan di atas meja, melemaskan badan setelah perjalanan yang cukup jauh dari Suna. Apartemen adiknya masih sama saja tidak ada yang berubah.
"Kau masih memelihara tikus ini?" Ucap Sasori menunjuk hewan pengerat kecil yang sedang berlari di dalam kincir mini yang ada di kandang sebelah sofa. Jangan mengganggunya Sasori, Mochi sedang berlatih untuk ikut lomba lari maraton di Olimpiade Rio.
"Sudah kubilang berapa kali itu hamster, bukan tikus." Dasar Sasori apa dia tidak bisa membedakan mana tikus mahal dan mana tikus murah?
Sakura pun berjalan kembali mengambil vacum cleaner untuk melanjutkan acara bersih-bersihnya yang tertunda.
"Tidak ada bedanya bagiku dan aku masih tidak menyukainya." Sakura memutar bola mata bosan.
Ku beritahu satu hal kenapa Sasori tidak menyukai Mochi. Dulu Mochi pernah meloncat ke badan Sasori saat ia baru saja membeli teropong bintang baru. Sasori yang kaget melempar teropong bintang itu hingga jatuh dan lensanya pecah. Dan Mochi yang terlepas dari genggaman Sakura hampir saja mati ditangan kakaknya yang kejam.
Gara-gara hal itu Sakura harus menerima konsekuensinya. Menjadi bulan-bulanan Sasori selama satu bulan. Kasihan sekali Mochi sayang.
"Ayah dan ibu merindukanmu. Kapan-kapan kita harus ke Kiri." Sudah lama sekali Sakura tidak menemui ayah dan ibunya, terakhir kali ia kesana adalah 9 bulan yang lalu. Seperti ibu hamil saja tinggal menunggu HPL.
Awalnya ayah dan ibunya tidak setuju ia hidup sendiri di Konoha, mereka adalah orang tua yang kolot. Tidak ingin anaknya salah pergaulan dan berakhir dengan masa depan yang menyedihkan.
Karena hal itulah mereka meminta Sakura untuk tinggal saja bersama Sasori tapi memang dasarnya Sakura yang keras kepala ia bersikeras untuk hidup mandiri. Jadi orangtuanya meminta Sasori untuk selalu mengawasinya dan mengancamnya akan mencoret namanya dari surat warisan jika ia membangkang pada Sasori.
Dan itu memberikan keuntungan padanya-Sasori.
Walaupun Sakura dan Sasori tinggal berbeda kota, mereka tidak pernah melewatkan untuk memberi kabar satu sama lain.
"Aku ingin makan semangka dan memakan bubur kacang saat berada disana." Sakura senyum-senyum sendiri saat mengingat bagaimana masa kecilnya ia habiskan disana.
"Yeah, dan kita akan pergi memancing bersama ayah." Sasori mengangkat kakinya saat Sakura mulai membersihkan debu dibawah sofa.
"Aku akan mengabarimu lagi kak, ngomong-ngomong kau belum memberitahuku ada urusan apa kau kemari?" Ini aneh sungguh tidak biasanya Sasori akan repot-repot kemari. Walaupun orangtua Sakura menyuruh Sasori mengawasinya tapi sejauh ini kakaknya hanya mengawasi lewat telepon dan kunjungannya ke apartemennya bisa dihitung dengan jari.
"Tidak ada."
"Pembohong."
"Bawel."
"Aku akan memberitahu ibu jika kakak sudah punya pacar."
"Kau tidak akan bisa."
"Kenapa tidak?"
"Karena ibu sudah tahu."
Sakura terperangah, kaget. Tak disangka candaannya membuahkan berita tak terduga. Kakaknya yang jomblo akut karena susah move on dari mantannya yang dulu tiba-tiba saja memberi kabar bahwa ia sudah punya pacar bahkan sudah memberitahu ibu. Benar-benar luar biasa.
"Kenapa kau tidak memberitahuku?" Sakura berteriak lantang tidak terima jika ia adalah orang terakhir yang tahu akan berita-gosip-menggelepar ini.
Sayang sekali permirsa si koboi sudah memiliki kudanya sendiri.
Sasori yang mulai bosan beranjak menuju dapur,"Kenapa aku harus memberitahumu?"membuka kulkas dan melongok melihat isi di dalamnya,"kenapa tidak ada soda disini?"
"Kau terlalu banyak bertanya kenapa."
"Memangnya kenapa?"
Sakura memutar bola mata jengah."Terserah kau saja. Katakan padaku siapa wanita tidak beruntung itu?" Sasori melangkah kembali ke ruang tengah setelah sebelumnya mengaduk-aduk isi kulkas dan hanya mengambil sekotak jus jeruk dan sebungkus keripik kentang. Hah, keripik kentang!
"Kak itu keripik kentangku, kenapa kau ambil?! Kembalikan!" Keripik kentang adalah favorit Sakura dan tidak boleh ada satupun yang menyentuhnya.
Sasori mengangkat tangan yang menggenggam keripik kentang saat Sakura menerjangnya dan mencoba meraihnya. Sakura yang lebih pendek dari Sasori sampai harus berjinjit-jinjit demi sebuah keripik kentang.
"God, Sakura kau pelit sekali. Ini hanya sebungkus keripik kentang!" Ucap Sasori memekik tidak percaya. Adik siapa ini pelit sekali.
"Tapi itu keripik kentangku!" Sakura masih tidak menyerah. Ini semua demi keripik kentang di seluruh dunia,"kembalikan kak! Kau boleh mengambil yang lain asal bukan itu!"
"Tidak! Kau harus membaginya padaku!" Sasori jengkel. Mereka berdua tidak menyerah untuk saling berebut keripik kentang.
Sakura menjambak rambut Sasori, Sasori menyingkirkan wajah Sakura, berguling-guling, membentur meja, menendang vacum cleaner, keripik kentang terlempar, Sakura terperangah dan berlari menyambutnya. Sasori dengan sigap mencekal sebelah kaki Sakura, menindihnya, berguling-guling lagi..
Ah sudah cukup, aku lelah menceritakan adegan ini. Bisa-bisa satu scene hanya akan penuh dengan perkelahian konyol ini.
Setengah jam mereka habiskan hanya untuk berguling-guling tak karuan. Akhirnya mereka berdua ngos-ngosan, tergeletak di depan tivi tak berdaya. Sasori menyerah, Sakura tersenyum lebar. Ia tak percaya hanya demi sebuah keripik kentang, Sasori harus melakukan gulat dengan adiknya sendiri.
Siapa juga yang suruh?
"Hahaha, hah, hah, kauh tihdak hah ahkan bihsa-glek-memahkannya kak, haha.." Ucap Sakura terputus-putus, nafasnya tersengal-sengal. Ia mendekap keripik kentang favoritnya erat, benar-benar tidak boleh ada yang melewati batas teritorial Sakura dan keripik kentang. Namun hatinya puas bisa mengalahkan pegulat tangguh Haruno-The Rock-Sasori.
Sasori yang mendengar hal itu hanya melirik sekilas, nafasnya juga separuh-separuh. Karena separuh nafasnya ada pada author. Ciat. Tak peduli dengan ocehan adiknya ia berguling kesamping. Berniat pergi ke kamar mandi.
Sakura yang melihat kakaknya bangkit tidak segera ikut bangkit, ia masih berusaha mengumpulkan nyawa. Saat matanya tak sengaja melihat jam dinding ia terlonjak kaget. Sudah hampir jam 10 dan ia belum melakukan apa-apa. Apartemen belum selesai dibersihkan namun ia sudah lelah dan badannya berkeringat. Ia butuh membersihkan diri.
Seketika Sakura bangkit dan berlari menuju kamar mandi. Derap langkahnya menggebu-gebu di dalam apartemen. Pintu kamar mandi tertutup, kak Sasori masih di dalam. Dengan brutal Sakura menggedor pintu kamar mandi membabi buta.
Brak! Brak! Brak!
"Kaaak, kaaaak, tolong aku toloooonnggg, kakaaaakk!"
Kriet! Wuuush..!
"ADA AP..." Ucapan Sasori terputus saat ia membuka pintu dan tiba-tiba saja ada The Flash masuk ke kamar mandi dan membanting pintunya.
BLAM !
Kriet..
Tak ada tiga detik pintu itu terbuka kembali.
"Kau poop ya?! Kenapa tidak dibersihkan dulu?!" Sakura berteriak horor sesaat setelah masuk ke kamar mandi. Ia tak menyangka akan disuguhi dengan pemandangan tak mengenakan yang merusak mata saat masuk ke kamar mandinya sendiri.
Mendengar hal itu Sasori sweatdrop.
"Memangnya kenapa? Aku sudah menyiramnya tadi."
"Kau kan seharusnya bisa membersihkannya dulu sampai bersih!"
"Siapa tadi yang menggedor-gedor pintu seperti orang kesetanan?! Berteriak-teriak minta tolong, kau pikir aku tidak panik?! Kau mengganggu semediku. Untung saja pintunya tidak roboh dan menimpaku." Sasori menghela nafas, malas sekali meladeni sikap adiknya sendiri. Dasar Sakura siapa juga yang suka acara semedinya diganggu. Semedi itu butuh konsentrasi yang tinggi, jika konsentrasinya buyar aku tidak yakin wangsit itu bisa datang lagi untuk kedua kalinya.
Sakura hanya bisa meringis, ini memang salahnya karena sudah bertingkah seperti wanita barbar. Hei lagipula itu kan hanya Ino, kenapa kau heboh sekali seperti gadis yang akan dijemput oleh pacarnya.
Atau jangan-jangan, Sakura jangan bilang kalau kau dan Ino...?
Sasori yang melihat adiknya diam saja menyentil jidatnya untuk mengembalikan setengah nyawanya yang melalang buana entah kemana. Mungkin ke Brazil menonton Liliana Natsir di olimpiade.
Setengah nyawa Sakura yang melayang menyusup kembali setelah mendapat sentilan dijidatnya, ia berkedip sesaat setelah melihat kakaknya masuk dan menutup pintu di depan hidungnya.
Blam !
Sakura meringis mengelus-elus hidungnya, ia menggerutu memukul pintu sialan yang sudah berani menggencet hidung mininya. Semoga tidak tambah masuk kedalam.
Ia kemudian berbalik menuju ruang tengah dan membereskan vacum cleaner nya yang terbalik karena menjadi korban dari tawuran tadi. Meja ruang tengah jadi bergeser dan permadani Alladinnya jadi terlipat berantakan, rak dvd yang sempat tersenggol kakinya tadi juga jatuh berserakan.
Niatnya mau bersih-bersih kenapa malah jadi berantakan seperti ini.
Setelah menyelesaikan urusannya Sasori keluar dari kamar mandi dan disuguhkan dengan pemandangan adiknya yang beberes."Aku sudah selesai. Sebenarnya kau mau kemana?" Ucap Sasori setelah menutup pintu kamar mandi dan berjalan ke ruang tengah. Ia melewati Sakura dan duduk di sofa sembari menyalakan tivi. Melihat tingkah Sakura tadi yang seperti orang dikejar waktu pasti ia ada acara hari ini.
"Kaguya." Sakura menjawab sekenanya. Sekarang ia sudah selesai beberes. Saatnya mandi.
"Dengan siapa?" Perlu kalian ketahui Sasori adalah pribadi yang sedikit protektif pada adiknya. Setidaknya Ia harus tahu adiknya pergi dengan siapa terutama bergender apa.
Sakura sudah masuk ke kamar mandi saat Sasori bertanya. Ia jadi ingin tahu dengan siapa adiknya ini pergi. Menghendikan bahu, ia bisa mengintrogasinya nanti setelah Sakura selesai mandi.
Jarinya memencet-mencet tombol remote tivi, mengganti-ganti channel mencari acara kesukaannya. Sasori mengusap kepala bosan, tidak ada yang bagus isinya hanya acara gosip dan acara reality show yang presenternya benar-benar kepo. Mau putus saja harus ada liputannya, ribet. Heran apa asyiknya menonton acara seperti ini, tidak ada hal penting yang bisa di dapat.
Akhirnya pilihannya jatuh pada acara Discovery Channel. Setidaknya ini jauh lebih baik daripada acara tadi.
Tiba-tiba terdengar bel pintu apartemen berbunyi dan suara gedoran pintu yang tidak sabaran. Kelakuan orang dibalik pintu itu mengingatkannya pada kelakuan adiknya tadi.
Sasori menoleh ke arah pintu, batinnya membatin mungkin itu adalah teman kencan adiknya. Ia berdecak kesal saat gedoran dan bel pintu apartemen adiknya semakin menjadi-jadi saat dirinya tidak segera beranjak membukakan pintu. Benar-benar anarkis, apa adiknya ini tidak bisa memilih teman yang lebih baik lagi yang lebih kalem mungkin seperti dirinya. Mana mungkin ia membiarkan adiknya berkencan dengan orang barbar seperti ini. Orang barbar bertemu dengan orang barbar bisa-bisa dunia jadi jungkir balik untuk artian yang sebenarnya. Ini tidak bisa dibiarkan.
Dengan wajah yang digarang-garangkan ia berdiri dan berjalan hendak menyambut tamu yang berdiri di luar pintu. Tidak pintu kamar mandi tidak pintu depan apartemen lama-lama bisa roboh jika kelakuan tuan rumah dan tamunya sebelas dua belas.
.
Tiga puluh menit cukup bagi Sakura untuk menyelesaikan acara mandinya. Tidak perlu mandi bunga, untuk apa jika ia hanya pergi dengan Ino yang sekarang sedang duduk berdua dengan kakaknya di sofa tengah. Sakura melotot. Sejak kapan babi gendut datang.
"Pig, kau sudah datang dari tadi?" Ucap Sakura berjalan menghampiri Ino sambil mengusap-usap rambut pink-nya yang sedikit basah.
Anehnya wajah Ino memerah, dan ia duduk anteng di sofa bersama kakaknya. Sakura melirik sang kakak, kak Sasori hanya diam sambil menonton tivi. Tidak ada yang aneh. Matanya melirik kembali wajah Ino, dia tidak seperti babi gendut kesayangannya yang seperti biasa. Sasori yang melihat tingkah adiknya hanya melirik sekilas padanya, lalu matanya berbalik melirik gadis pirang disebelahnya. Ino yang tidak tahan dengan suasana awkward ini hanya melirik kearah lain. Dan author yang menjadi penonton hanya ikut-ikutan melirik.
Sakura berdehem mencairkan suasana aneh yang menyelimuti ruang tengah."Aku akan ganti baju dulu. Kau tunggu disini, kak tolong temani Ino." Sasori hanya menanggapi dengan mengacungkan jempol kanannya. Kemudian Sakura pun berlalu menuju kamarnya. Langkahnya terhenti di depan lemari hijau pastel yang penuh dengan tempelan foto. Kamar Sakura bernuansa hijau, ia memang menyukai warna hijau karena baginya hijau menggambarkan daun dan itu begitu sejuk di mata.
Kasur queen size terletak ditengah ruangan dan terdapat 3 boneka angry bird kesukaannya. Sakura menyukai angry bird, ia tergila-gila dengan kelucuan tingkah Red and the gank. Ia bahkan sudah menghajar habis semua game angry bird.
Samping kanan kasur dengan sprei hijau daun gugur terdapat balkon kamar, disana hanya terdapat satu kursi santai. Tempat dimana Sakura kadang menghabiskan harinya dengan membaca buku atau hanya sekedar duduk santai.
Hari ini ia akan pergi berbelanja dengan Ino yang berarti ini tidak akan sebentar. Lebih baik ia mengenakan celana jeans dan kaos juga sepatu boot. Sakura pun mengambil pilihan itu dan berjalan ke meja rias. Memakai make up minimalis dan menggerai rambut pink sebahunya. Dia tidak terlalu bisa berdandan seperti sahabat babinya.
Merasa make up nya sudah oke, Sakura berdiri dan berhenti di depan cermin besar. Badannya ia miringkan ke kanan ke kiri, membenarkan tata letak rambutnya. Saat dirasa penampilannya sudah sempurna ia mengambil tas punggung yang ada di dalam lemari, berjalan keluar kamar dan menemui Ino.
.
.
Di ruang tengah suasana aneh masih menyelimuti setelah Sakura meninggalkan dua makhluk berbeda gender ini. Sasori masih asyik menonton Discovery Channel, Ino masih duduk anteng layaknya putri keraton.
Jaga image di depan lelaki ganteng, kalem dan tidak boleh serampangan.
"Kau temannya Sakura?" Sasori bertanya dengan tampang datar. Kejadian tempo lalu di depan pintu masih berputar di otaknya.
Yang ditanya hanya nyengir. Merasa malu karena saat datang tadi tanpa melihat siapa yang membuka pintu ia menerobos masuk dan ngomel-ngomel perihal aniki-nya yang seenak jidatnya berani mengolok ukuran bra-nya yang kecil. Saat tidak terdengar balasan yang biasanya akan berakhir dengan nyinyiran satu sama lain, ia menoleh dan mendapati Steve Rogers berambut merah yang membuatnya ingin mengambil karung dan membawanya pulang.
Walaupun Sakura dan Ino adalah teman sejak SMP tetapi Ino belum pernah bertemu dengan Haruno Sasori. Mereka berdua bersekolah di sekolah khusus putri dan tinggal di asrama sampai SMA.
Namun saat SMA kelas dua Ino harus pindah sekolah karena ayahnya pindah tugas ke Konoha. Sasori yang badung jarang sekali pulang ke rumah. Saat lulus SMA ia kuliah di Universitas ArtKonoha dan harus ngekost disana. Ino hanya tahu bahwa Sakura memiliki kakak laki-laki bernama Haruno Sasori yang seorang seniman. Dan ia tidak menyangka bahwa kakak laki-laki sahabat jidatnya ini begitu mempesona. Ah baby Saso..
"I-iya." Aduh kenapa malah jadi gagap mendadak seperti ini.
"Siapa namamu?"
"Ino, Yamanaka Ino." Ino masih menunduk malu-malu.
"Ino?" Sasori membeo, ia merasa pernah mendengar nama ini."Jadi kau yang namanya Yamanaka Ino teman SMP Sakura dulu?" Sebuah lampu bohlam menyala di atas kepala merah Sasori. Ia ingat adiknya pernah bercerita memiliki teman bernama Ino saat dirinya menangis semalaman gara-gara ditinggal sahabatnya pindah keluar kota.
Ino hanya manggut-manggut, ia masih terpesona akan ketampanan seniman muda 29th ini. Membayangkan menjadi model lukisannya, berbaring telungkup diatas kursi kayu panjang dengan setengah badan telanjangnya tertutup kain putih dan menggigit jari telunjuknya sensual. Mencoba menggoda sang pelukis dengan kemole...
Stop Ino jangan diteruskan!
Khayalanmu tidak layak di dengarkan, kau bisa mencemari kepolosan para pembaca yang budiman.
Ingat kau sudah punya Aa' Sai. Apa kau tidak ingin menyandang marga Shimura di depan namamu lagi? Ino menggeleng. Tapi godaan sebelah sungguh sayang dilewatkan, Ino menggigit bibir. Hei ingat Shimura Sai, bos mu yang memiliki senyum sejuta makna ! Ino menggeleng lagi. Tapi wajah baby face-nya sungguh menggemaskan..
Sudah jangan kau perdulikan Ino dengan inner bodohnya. Lebih baik kita melihat babySaso sedang menonton tivi sambil memeluk bantal. Aku membayangkan betapa enaknya jadi bantal itu. Di peluk seorang Steve Rogers, didekap dalam kehangatan daripada menulis cerita absurd dengan tokoh-tokoh wanita yang susah diatur.
Perdebatan Ino buyar saat mendengar suara pintu tertutup, kepala berhelaian pirang itu menoleh melihat sahabat pink-nya sudah berganti baju."Ayo Pig kita pergi. Kak apa kau akan menginap disini?"tanya Sakura sambil berjalan ke rak sepatu mengambil sepatu boot koboinya. Kakak dan adik seleranya sama.
"Ya aku akan menginap, apa bajuku masih ada di lemari?"
"Ada, ditempat biasa. Kau bisa memanasakan makanan yang ada di kulkas atau memesan makanan jika kau lapar tapi jangan kau sentuh keripik kentangku!" Ugh ini lagi. Sasori hanya memutar bola mata bosan dan mengacungkan jempol kanannya. Tidak ingin membantah perintah kapten kalau tidak ingin ditendang dari apartemen.
"Jangan lupa kunci pintunya! Hati-hati dijalan, telfon aku jika kau butuh jemputan." teriak Sasori dan hanya dijawab dengan suara pintu tertutup keras.
Blam !
.
.
Perjalanan ke distrik Kaguya memerlukan waktu 20 menit berkendara menggunakan mobil silver milik Ino. Memang ada sedikit kemacetan tapi itu tak menghentikan semangat masa muda mereka. Ini seperti mencari kitab suci ke barat, demi belanja rintangan apapun akan mereka lewati bersama.
Mobil silver Ino berhenti di sebuah butik dengan papan nama tertulis Gutchi dengan huruf besar. Kedua sahabat itu memutuskan untuk turun dan berjalan ke seberang toko ke sebuah butik baju merk ternama.
Butiknya cukup ramai walaupun bisa di bilang barang disini lumayan menguras isi kantong. Sakura dan Ino berjalan mengitari etalase satu ke etalase lain, mencoba baju dengan model dan warna beragam, keluar tanpa barang belanjaan. Seperti itu terus dari toko ke toko yang lain.
Yeah ini hal biasa bagi kaum hawa, mereka akan jadi wanita yang kuat dan tahan banting saat berhadapan dengan fashion. Kesenangan tersendiri walaupun hanya datang untuk mencoba dan melihat. Dan jatuh cinta pada barang tertentu kemudian membelinya walaupun akhirnya menyesal atau menjadi barang tidak terpakai dirumah.
Setelah berkeliling dari butik satu ke butik lain, akhirnya Ino dan Sakura mendapatkan apa yang mereka inginkan. Ino membeli sebuah gaun merah dengan model V neck sehingga terlihat belahan dadanya yang seksi juga sepatu heels, dan sebuah dompet tangan yang cantik. Sakura mendapatkan long dress backless hijau pastel dengan payet-payet di sekitarnya. Ia tidak tahu untuk apa ia membeli ini hanya saja ia sudah terlanjur jatuh cinta pada pandangan pertama, dan ada sedikit provokasi dari Ino.
"Jidat, kita mau kemana lagi?" Tanya Ino, tangan kirinya menenteng 3 kantong belanjaan, tangan kanannya menyampirkan tas dan jarinya menjepit minuman. Mata birunya tak henti-hentinya melengok ke kanan ke kiri mencari tujuan selanjutnya.
Ugh, apa kau tidak lelah Ino? Aku sudah lelah mengikutimu berbelanja dari tadi. Lebih baik aku duduk dan melihat pria-pria tampan lewat daripada mengikutimu belanja.
"Aku tidak tahu, kita sudah berkeliling hampir tiga jam lebih dan aku lelah Pig. Bisa kita istirahat sebentar? Aku juga lapar." Sakura sudah menyerah, kakinya benar-benar lemas. Ia duduk di pembatas pinggir trotoar. Sakura benar Ino. Lebih baik kau menyerah dan kita istirahat saja.
Ino menoleh kearah Sakura membuat rambut pirang yang diikat ekor kudanya terhempas mengikuti arah kepalanya."Oke, aku akan mencarikan tempat untuk kita istirahat dan memesan makanan. Tempat ini lumayan ramai. Umm mungkin cafe disana. Aku akan mengeceknya. Apa kau mau ikut?"tawar Ino setelah ia menunjuk sebuah cafe yang berada di seberang mereka.
Melihat cafe seberang yang cukup ramai membuat Sakura langsung menggeleng, ia tidak sanggup berjalan lagi. Mungkin lebih baik memesan makanan saja dan memakannya di dalam mobil daripada ia harus mengantri panjang seperti itu.
"Apa kita tidak bisa ketempat lain saja Pig?" Wajah Sakura memelas. Ino yang melihatnya mengkerutkan alis, terlihat berpikir."Aku akan kesana memastikan ada tempat kosong atau tidak. Kau tunggu disini dulu."
Sakura hanya mengangguk dan melihat Ino yang berjalan ke seberang cafe. Ah syukurlah akhirnya kita bisa duduk dan makan. Jalanan di distrik Kaguya cukup ramai pengunjung, tidak heran mengingat ini adalah akhir pekan dan banyak muda mudi menghabiskan waktu disana walaupun hanya sekedar nongkrong.
Sakura yang bosan menunggu Ino mulai memainkan handphonenya, sesekali kepalanya mendongak melihat sekitar. Menunduk lagi mengecek beberapa chat group di handphonenya. Saat kepalanya mendongak dan melihat ke arah jam 3 tiba-tiba saja ia melihat seseorang yang ia kenal sedang berjalan kearahnya. Kelopak matanya berkedip-kedip, memastikan apakah ia sedang berfatamorgana sangking kelelahan dan dehidrasi.
Matanya memicing mencoba fokus saat pria itu semakin dekat. Ia tak salah lihat, benar, ia tak salah lihat lelaki itu adalah..
Si pantat ayam ! Hah!
.
.
.
.To be continued
.
.
.
Pojokan author :
Padahal saya sudah mengatakan kalau ada pertemuan dengan si pantat ayam chapter kemarin, maafkan saya *emot sedih. Sebenarnya tadinya mau saya publish di chap ini tapi berhubung word nya byk bgt, saya takut kalau pembaca jadi teler jadi saya belah diri jadi dua. Semua gara2 Sasori, berhubung dia baru pulang dari berkelana jadi saya perkenalkan sekalian.
