Previous Chapter

Sakura yang bosan menunggu Ino mulai memainkan handphonenya, sesekali kepalanya mendongak melihat sekitar. Menunduk lagi mengecek beberapa chat group di handphonenya. Saat kepalanya mendongak dan melihat ke arah jam 3 tiba-tiba saja ia melihat seseorang yang ia kenal sedang berjalan kearahnya. Kelopak matanya berkedip-kedip, memastikan apakah ia sedang berfatamorgana sangking kelelahan dan dehidrasi.

Matanya memicing mencoba fokus saat pria itu semakin dekat. Ia tak salah lihat, benar, ia tak salah lihat lelaki itu adalah..

Si pantat ayam !

Naruto©Masashi Kisimoto

Berawal Dari Kaleng© Green Maple

.

.

.

Chapter 5

Selamat Membaca

.

.

Sakura membeku, matanya melotot, otaknya berusaha bekerja cepat. Saat ini sungguh ia sedang tidak ingin bertemu dengan pria itu lagi.

Sial, bagaimana ini?

Apa yang harus ia lakukan?

Pura-pura tak melihat? Bodoh si pantat ayam akan tetap saja melihatmu.

Pura-pura jadi pohon? Oh yeah bagus dan aku akan pura-pura jadi ulatnya.

Sakura panik, kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri. Ia harus sembunyi, sembunyi. Tapi dimana? Ingin sekali ia bisa menjadi ninja di anime Shippuden dan bersembunyi dengan baik dimanapun.

Dengan cepat matanya menyeleksi benda-benda terdekat yang bisa ia gunakan untuk bersembunyi.

Orang lewat?

Tiang listrik?

Tong sampah?

Papan reklame?

Hah!

Tanpa pikir panjang Sakura berbalik arah dan bersembunyi dibalik papan reklame yang berdiri didepan sebuah toko. Papan reklamenya lumayan besar untuk badan kecilnya. Semoga saja pantat ayam tidak melihatnya duduk disini.

Sakura mencoba berkamuflase, duduk berjongkok di balik papan reklame. Tas belanjaannya ia dekap. Tangannya terlipat, kepalanya menunduk mencoba menyembunyikan wajahnya. Ia komat kamit dalam hati semoga si pantat ayam tidak melihatnya.

Oh Kami-sama tolonglah kali ini kasihani Sakura. Jadikanlah ia wanita yang cantik luar biasa atau setidaknya ubah dia menjadi patung selamat datang.

Dalam hati Sakura benar-benar dag dig dug, tidak ingin hal-hal yang tidak ia inginkan terjadi. Ia menggigit bibir cemas, mencoba menghitung berapa lama cobaan ini lewat. Jika melihat jarak terakhir kali ia melihat si pantat ayam dari jarak terdekatnya dengan waktu ia bersembunyi dan tak terjadi apapun maka jawabannya adalah ia lolos.

Sakura pun memberanikan diri untuk mengintip. Saat ia mendongak tubuhnya mematung, wajahnya pucat. Harapan tinggalah harapan. Mimpi yang tertinggal. Asa yang kabur. Melihat sorot tajam yang ia kenal rasanya ia ingin tenggelam sekali lagi atau membenturkan kepalanya ke tembok agar ia bisa pura-pura jadi orang tak waras. Wajahnya memerah, bola matanya liar melirik kanan kiri, bibir bawahnya ia gigit.

Sasuke tak menyangka bahwa ia akan bertemu lagi dengan gadis aneh waktu itu. Dan lihat kelakuannya kali ini. Apa ia tidak bisa bermain petak umpet ditempat lain saja?

"Ha-hai pa-pantat ayam." Sakura nyengir mencoba menutupi rasa malu bercampur takut. Ia masih dalam posisi berjongkok, mendongak melihat si pantat ayam yang berdiri menjulang di depannya dengan sorot mata laser Supermannya.

Sasuke menunduk, matanya menyipit tajam saat mendengar julukan tak terhormat dari gadis di depannya. Pantat ayam? Berani sekali dia.

"Selain jidatmu yang lebar ternyata kelakuanmu juga aneh." Sasuke menyeringai, memasukan kedua tangan ke dalam saku dan berlalu pergi dengan santai.

Wajah Sakura semakin merah padam, ia menyadari kelakuannya yang aneh. Bagaimana tidak, berjongkok di balik papan reklame. Bodohnya kenapa ia tidak berlari menyusul Ino saja.

Sakura kesal dengan dirinya sendiri, semakin kesal saat melihat si pantat ayam yang semakin diatas angin. Dengan cepat ia berdiri, hatinya bergemuruh penuh amarah, dadanya naik turun. Menyingkir kawan-kawan Sakura dalam mode beast.

Tanpa babibu ia membanting tas belanjaannya dan menendang papan reklame disampingnya. Brengsek, sialan pantat ayam itu sudah dua kali mengejeknya.

Seketika ia tersadar saat orang-orang berkerumun di dekatnya. Sakura menggigit bibir bawahnya, merutuki diri sendiri. Bodoh apa yang sudah ia lakukan? Kenapa kakinya suka sekali menendang tanpa dikomando? Sakura malu sekali. Wajahnya semakin memerah, ia menunduk menahan malu mencoba membenarkan letak papan reklame. Setelah membenarkannya tanpa pikir panjang ia ngacir berlari tunggang langgang menjauh dari sana.

Belum ada lima detik ia kembali lagi, lupa jika tas belanjaannya masih tergeletak mengenaskan di depan toko. Bisa rugi bandar. Setelah menyabetnya Sakura berjalan cepat kembali sembari menunduk menutupi wajahnya dengan rambutnya. Berjalan tanpa menoleh ke belakang menuju letak mobil Ino berada untuk mendaftar klub sepakbola putri setelah ini.

.
.

Yamanaka Ino berlari ngos-ngosan mencari sahabatnya saat ia tidak melihat keberadaan Sakura di pinggir trotoar. Ternyata ia sudah berdiri di samping mobilnya dengan wajah tertekuk.

"Jidat! Kau kemana saja? Sialan, aku mencarimu kemana-mana. Kau membuatku panik." Dengan nafas tersengal-sengal Ino menyembur sahabatnya dan berdiri menyandar di samping mobil mengikuti sahabat pink-nya.

Sakura tidak menjawab dan hanya menekuk wajahnya semakin dalam.

"Ada apa denganmu?"

Tiba-tiba terdengar dering telepon menginterupsi pertanyaan Ino. Jari lentik berkuku biru mudanya mengobrak-abrik isi tas demi mendapatkan hanpdone silver blink-blink nya.

"Halo Sai-kun ada apa?"

Sai-kun? Sakura menoleh mendapati Ino yang wajahnya merona. Ia menyipit curiga.

"Ya benar aku sedang berada di Kaguya. Ada apa? Oh benarkah? Kebetulan sekali. Hihihi ya tentu saja aku akan kesana. Tapi aku sedang bersama temanku. Ooh, baik-baik, oke." Klik.

Sakura semakin menyipit curiga melihat gelagat sahabat babinya yang masih merona dan terlihat binar-binar bahagia di wajahnya.

"Sai-kun?" Ino berdehem menyembunyikan wajah malu-malunya.

"Jidat, kau lapar kan? Ayo kita makan. Aku sudah mendapatkan tempat makan yang bagus."

"Siapa Sai-kun?"

"Hish nanti aku ceritakan," Ino mengamit lengan Sakura, tidak mengacuhkan gerutuan gadis pink disampingnya,"tadi Sai meneleponku katanya ia sedang berada disekitar sini dan mengajakku makan. Pas sekali kan jidat. Katanya dia sedang bersama sahabat-sahabatnya, mungkin kau bisa berkencan dengan salah satu dari mereka. Hehe." Ino terkekeh geli dengan perkataannya sendiri. Sedangkan Sakura hanya pasrah saja diseret-seret oleh Ino. Tidak masalah mau lelaki tampan atau buluk yang penting ia bisa duduk dan mengisi perut.

.
.

Kling kling.

Bunyi lonceng disebuah cafe terdengar saat kepala berhelaian pirang membuka pintu cafe di ikuti oleh gadis merah muda di belakangnya. Wah lumayan ramai juga, kepalanya menoleh ke kanan kiri. Mata birunya memindai seisi ruangan mencari si target.

Seorang pelayan datang menyambut mereka dengan senyum."Selamat datang. Anda mencari tempat untuk dua orang saja nona?" Mendengar hal itu Ino menggeleng."Ah tidak, saya mencari teman saya."

"Kalau boleh tahu atas nama siapa nona?"

"Shimura Sai."

"Ah tuan Shimura, mari saya antar ke tempat tuan Shimura. Beliau sudah memesan salah satu ruang vip kami."

Pelayan perempuan berambut cokelat yang menyambutnya tadi menuntun Ino dan Sakura ke ruang vip di lantai dua.

Sesampainya disana pelayan itu pamit undur diri dan meninggalkan mereka di depan pintu cokelat. Saat mereka masuk ke dalam ruangan terlihat dua orang lelaki yang duduk bersisian. Ino tersenyum lebar saat melihat Shimura Sai yang tersenyum kepadanya kemudian ia menarik kursi di depannya dan duduk disana.

Sakura dengan malas-malasan mengekori Ino dan menarik kursi di samping sahabatnya itu, saat kepalanya mendongak ia kaget setengah mati. Lelaki di depannya juga tidak kalah kaget.

"Kau/Kau." Sakura dan Sasuke berseru bersamaan. Mereka melotot satu sama lain. Tidak menyangka akan bertemu lagi hari ini. Ah jodoh memang tak kemana kan saudara-saudara?

Sai dan Ino sama-sama heran, mereka memandang Sakura dan Sasuke bergantian."Kalian sudah saling kenal?" Tanya Sai.

"Tidak/Tidak." Uuw bahkan kalian benar-benar kompak.

Memicing/Memicing.

Memicing/Menatap malas.

Memicing/Menaikan sebelah alis.

Ino hanya bisa bengong saja melihat mereka berdua. Lalu saat melihat lelaki di depan Sakura secara otomatis otaknya mereload percakapan mereka berdua tempo hari.

"Tidak. Tentu saja tidak. Akan aku beritahu. Dia tinggi, putih, hidungnya mancung, matanya hitam, sorot matanya tajam, dan rambutnya aneh seperti pantat ayam, dia sepertinya pria yang dingin."

"Pantat ayam?" Ino membeo saat otaknya menangkap kesamaan antara cerita Sakura dengan pria di depannya.

Sakura yang mendengar perkataan Ino mendadak tersentak dan secepat kilat menginjak kaki Ino di bawah meja hingga membuatnya memekik dan

DUAG !

Lututnya membentur bawah meja dengan keras.

Ino meringis mengusap-usap lutut kakinya, bibirnya mengerucut sebal dengan tingkah sahabatnya yang mendadak aneh. Sakura hanya memelototinya, memberi kode agar mulut si babi tidak mengucapkan sepatah kata apapun atau ia akan berakhir di dalam kwali.

"Kau tidak apa-apa Ino?" Tanya Sai mengkhawatirkan Ino yang meringis.

Ino yang mengerti kode-kodean Sakura pun tidak ingin ambil masalah dan mengikuti skenario."Ah ya Sai-kun aku tidak apa-apa. Mendadak tadi ada kaki gorila yang menginjak kakiku." Ino hanya melengos dengan candaannya, Sakura sendiri sibuk mencari-cari kaki Ino dibawah meja yang sudah empunya amankan dengan menyingkirkannya sejauh mungkin.

Pelayan pun tiba dengan membawa beberapa pesanan mereka. Sejenak suasana sedikit tenang saat pelayan datang.

"Kalian hanya berdua saja?"tanya Ino mulai menyantap hidangan yang berada di atas meja.

"Tidak, tadi ada satu teman kami tapi ia sedang menjemput kekasihnya dulu." Sai menjawab dengan tersenyum.

"Ooh, ngomong-ngomong aku Ino dan ini temanku Haruno Sakura." Ino memulai perkenalan mereka. Melirik kearah Sakura yang sedari tadi diam saja.

Sasuke memang pribadi yang dingin dan terlihat cuek. Tapi ia bukanlah orang yang lupa akan sopan santun saat seseorang memperkenalkan diri.

"Sasuke."

"Sasuke-san, senang berkenalan denganmu. Ngomong-ngomong apa kau sudah punya pacar?" Ino tersenyum penuh arti saat mengatakannya. Pernah aku bilang bahwa Ino dan rasa ingin tahunya adalah hal yang menyebalkan?

Sasuke hanya melirik mendengar pertanyaan wanita pirang bernama Ino. Ia tidak ingin menjawab pertanyaan yang terlalu pribadi pada orang yang baru ia kenal.

"Maaf kalau aku lancang Sasuke-san, hanya sekedar informasi sahabatku ini belum punya pacar." Ino berkata dengan enteng mengacuhkan pelototan garang dari sebelahnya.

"Kau tidak perlu mengatakannya Pig. Untuk apa kau mengatakan hal itu untuk orang yang tidak penting seperti dia?" Desisan Sakura terdengar hingga ke telinga Sasuke.

"Tidak penting? Huh kau benar. Tidak penting untuk gadis aneh sepertimu." Sakura memicing mendengar sindiran tajam dari Sasuke. Sepertinya lelaki ini benar-benar berbakat memancing emosinya.

"Oh ya dan kenapa kau masih disini? Tidak ikut berkeliaran bersama dengan teman-teman sepeternakanmu?" Sindiran dibalas dengan sindiran, oo yeah dan kali ini Sakura tidak akan mau kalah lagi.

Jika ini diimajinasikan sebagai sebuah anime, kau akan melihat kilatan yang beradu diantara mata mereka berdua.

"Gadis aneh." Deathglare.

"Pantat ayam." Memicing.

"Jidat lebar." Deathglare.

"Dasar unggas." Memicing.

"Dada rata." Menyeringai.

"Apa kau bilang?!" Melotot, melotot.

Sakura terlonjak berdiri menggebrak meja tidak terima dengan perkataan pria di depannya. Telunjuk kanannya mengacung di depan wajah Sasuke.

Ino yang menyadari gelagat Sakura bergerak cepat dengan menahan tangan Sakura yang sudah siap mengayun. Woah hampir saja tawuran diruang tengah Sakura berpindah.

Sasuke yang menjadi target dan penyebab kekesalan Sakura hanya diam anteng sembari melipat tangannya di dada. Matanya menyorot wajah Sakura, bibirnya masih menyeringai. Wajahnya benar-benar menyebalkan. Benar-benar menyebalkan.

Suasana ruangan vip itu mendadak panas. Pendingin ruangan seakan tidak berfungsi dengan optimal. Sai dan Ino merasakan hawa permusuhan yang tinggi.

Mendadak pintu coklat ruangan menjeblak dan terlihat sosok pemuda pirang dengan seorang gadis cantik berhelaian indigo. Pemuda itu nyengir tersenyum lima jari, tangan kanannya berada pada pinggang gadis itu dan menuntunnya masuk.

"Hehe, maaf lama ada sedikit masalah tadi." Saat kepala pirangnya menoleh ia mendapati dua gadis cantik yang ikut bergabung bersama mereka.

"Sakura-chan? Kaukah itu?"

Pria itu menarik kursi disamping Sakura untuk kekasihnya dan ia menarik kursi disamping Sasuke.

"Naruto? Astaga, apa yang kau lakukan disini?" Sakura terkejut saat mendapati pria pirang yang sangat dikenalnya.

"Hehe, aku sekarang tinggal di Konoha. Setelah menyelesaikan kuliahku di Jerman aku harus mengambil alih perusahaan Tou-san. Sudah lama sekali ya kita tidak bertemu. Oh ya ngomong-ngomong ini kekasihku, Hyuga Hinata."

Naruto menunjuk gadis yang datang bersamanya tadi. Gadis yang duduk di samping Sakura memperkenalkan dirinya dengan malu-malu."Aku Hyuga Hinata senang berkenalan denganmu."

"Aku Sakura dan ini sahabatku Ino, senang berkenalan denganmu juga Hinata." Sakura tersenyum melihat tingkah malu-malu kekasih sahabat lamanya.

Naruto adalah sahabat Sakura saat ia SD sekaligus tetangganya, namun setelah lulus SD ia mendadak harus pindah rumah keluar kota. Walaupun kebersamaan mereka terhitung begitu singkat namun mereka sudah berteman akrab layaknya saudara.

Mereka berenam asyik bercengkerama hingga tak terasa langit sudah mulai beranjak sore.

"Aku ingin ke toilet dulu sebentar." Sakura berdiri hendak berlalu menuju pintu keluar.

"Aku ikut Sakura-san." Hinata menyusul dibelakangnya. Ino masih terkikik-kikik bercanda dengan Sai. Saat Sakura dan Hinata kembali, teman-teman mereka sudah bersiap untuk pulang.

"Teme, Sai aku duluan ya. Aku sudah berjanji pada Paman Hiashi untuk tak membawa pergi Hinata lama." Naruto menepuk pundak Sasuke dan kepalanya bergulir menoleh kearah Sakura dengan senyum lebar."Sakura-chan lain kali aku akan meneleponmu. Titip salam untuk Sasori-nii. Sampai jumpa." Naruto melambai dan berlalu pergi bersama Hinata.

"Jidat, aku akan pulang bersama Sai-kun. Kau pulang bersama Sasuke-san saja ya." Ino nyengir tanpa ada rasa bersalah. Sakura langsung protes dengan nada tinggi."Tidak! apa-apaan kau Pig meninggalkanku seenaknya saja! Aku tidak mau jika harus pulang bersama ayam ini. Lebih baik aku jalan kaki sampai kerumah!" Hidung Sakura kembang kempis dan wajahnya bersungut-sungut. Sasuke langsung melirik sinis tidak terima.

"Maaf jidat, aku dan Sai-kun ada urusan. Nah Sasuke-san aku titip sahabat tercintaku ini padamu ya?" Ino tersenyum manis dan Sakura menatap tak percaya padanya. Ino berlalu pergi tanpa memperdulikan lagi sahabat jidatnya yang terus berteriak-teriak memalukan.

"Oh sialan kau babi, seenaknya saja meninggalkanku dengan pria mesum kurang ajar. Apa dia tidak khawatir jika sahabatnya ini diapa-apain. Ih amit-amit!" Sakura terus saja menggerutu tidak jelas. Tangannya bergerak memeluk dirinya sendiri seakan hal buruk akan menimpa dirinya. Matanya melirik pria menyebalkan yang masih setia berdiri disampingnya.

"Apa kau lihat-lihat?!" Sasuke mendecih dengan tatapan malas. Siapa juga yang liat-liat?

"Aku akan menelepon kakakku." Sakura mulai mengobrak-abrik tasnya. Mencari ponsel pintarnya dan mendial nomor kak Sasori.

"Halo, kak bisakah kau menjemputku? Ha? Apa? Kau bilang tadi aku bisa menelponmu jika butuh jemputan. Alasan macam apa itu? Kau tidak mengkhawatirkan adikmu ini? Hei ! Halo? Halo?"

Bip.

"Kak Sasori sialan!" Sakura tidak percaya, hanya karena ngantuk dan malas beranjak dari sofa Anikinya tidak mau menjemput adik tercintanya ini. Omong kosong. Lelaki hanya manis dimulut saja.

"Sudah selesai mengamuknya?" Sakura melirik sinis pria pantat ayam disebelahnya. Ia merasa tersindir berat. Hatinya jengkel bukan main.

"Aku akan pulang naik bus." Sekali lagi Sakura mengobrak-abrik isi tasnya dan mencari kartu bus dalam dompet. Ia tidak mau kalah. Namun kesialan datang lagi menghampirinya, kartu busnya tidak ada, nihil. Sakura mulai menggigit bibir bawah cemas. Matanya terus curi-curi pandang kearah samping.

Apakah ia harus merendahkan diri dan meminjam kartu bus pada pantat ayam ini?

Tidak. Tidak.

Kemana harga dirimu Sakura?

Kau tidak ingin kan melihatnya tertawa terbahak-bahak diatas harga dirimu?

"Apa?!" Sakura tersentak dan meringis kecil. Ia tertawa garing dengan muka merah padam. Gelisah antara iya dan tidak.

"Ti-tidak apa-apa, he-he."

Sasuke memutar bola mata malas dan berlalu pergi dari sana."Terserah kau saja." Sakura kaget dan tidak percaya bahwa laki-laki itu akan meninggalkannya begitu saja.

"He-hei, kau mau kemana?!"

"Tentu saja pulang bodoh."

Sakura mulai berlari kecil mengejar langkah kaki Sasuke dari belakang dan terus menggerutu. Ia mengekor langkah kaki Sasuke yang terlihat lebar dan cepat.

Dan oh lihat itu Sakura. Lihat itu rambut pantat ayamnya. Apa dia sedang mengejekmu? Sepertinya dia memang mengejekmu. Lihat rambut pantat ayamnya yang bergoyang-goyang, rasanya minta dijambak.

Kau lamban dan jalanmu seperti kura-kura. Kau pikir aku akan bersedia memberimu tumpangan? Enak saja. Mimpi !

Sakura mulai tak tahan saat sekelebat bayangan imaginer rambut Sasuke tertawa senang dan mengolok-oloknya. Tangannya gatal ingin menjambak rambut mencuat pria langka didepannya. Ia hanya bisa meremas jari tangannya atau sesekali menggigit kepalan tangannya.

Hingga Sasuke tiba-tiba berhenti dan membuat Sakura menubruk punggungnya.

"Aduh, apa yang kau lakukan?!" Sakura terbatuk-batuk, hampir saja ia menelan kepalan tangannya sendiri.

Pria di depannya hanya diam mematung tak bergerak. Ada apa dengannya? Apa dia kesambet sesuatu? Sakura bingung dan ia penasaran dengan apa yang membuat pria ayam di depannya ini berhenti tiba-tiba. Ia pun melangkah ke depan, melihat ekspresi Sasuke. Lelaki itu hanya memandang kedepan tak berkedip.

Sakura pun penasaran dan mengikuti arah pandangan Sasuke. Terlihat seorang gadis bersama seorang lelaki berdiri di depan toko. Namun, apa yang istimewa dari itu?

"Hei ayam, ada apa denganmu? Kau aneh. Apa kau kebelet poop?" Sakura tertawa terpingkal-pingkal saat ia membayangkan lelaki songong sepertinya bertampang pucat menahan poop. Sasuke menoleh dan memandang malas Sakura yang masih tertawa terbahak-bahak.

"Apa?"Alis Sakura berkerut terus ditatap malas seperti itu oleh Sasuke.

Saat pandangan Sasuke kembali ke depan ia terkejut melihat gadis yang tadi berlari kecil kearahnya.

"Sasuke-kun kaukah itu?" Mata coklat gadis itu berbinar dengan senyum cerah diwajahnya. Sakura menatap penasaran siapa gerangan gadis manis ini. Dan ia menatap wajah Sasuke yang terlihat serius.

Gadis itu memiliki rambut coklat sebahu dengan gaun mini berwarna putih.

"Sudah lama kita tidak bertemu." Gadis itu tersenyum manis dan seorang laki-laki tiba-tiba menghampirinya."Sayang ada apa?" Pria itu bertanya sembari melilitkan tangan di pinggang sang gadis.

"Ah tidak apa-apa. Utakata-kun perkenalkan ini Sasuke."

Pria berambut hitam yang bernama Utakata itu hanya menganggukkan kepala kearah Sasuke. Sasuke memang mengangguk membalas sapaan pria itu tapi seperti ada yang salah, wajahnya seperti menahan sesuatu. Apa ia memang sedang menahan poop? Sakura menaikan sebelah alis, ia mengamati wajah Sasuke yang menatap kearah Utakata yang menatap kearah gadis itu yang menatap kearahnya.

"Wah apakah dia pacarmu?" Alis Sakura mengkerut mendengar pertanyaan gadis itu. Ia hendak menyelanya namun tak disangka tak dinyana secepat kilat kalimat itu terucap secepat kilat juga sebuah tangan membelit pinggangnya. Tubuhnya tertarik hingga menubruk Sasuke.

"Ya benar, dia pacarku Sakura." Sakura seperti tercekik mendengar kalimat yang terlontar dari si pantat ayam. Kepalanya menoleh dengan alis yang menukik tajam seperti sebuah turunan.

Saat mulutnya membuka hendak protes tak disangka Sasuke malah memajukan kepalanya dan mengecup puncuk kepala Sakura.

"Benarkan sayang?" Sakura merinding mendengar panggilan itu. Wajahnya pucat dan Sasuke menyadarinya.

Gadis itu malah tertawa cekikikan seperti melihat sebuah dagelan. Oke, ini memang lucu. Sakura juga ingin ikut tertawa. Tertawa garing seperti orang gila.

"Wah wah pacarmu cantik juga Sasuke-kun. Ku kira kau tidak akan bisa move on dariku." Sasuke tersenyum kecut mendengar harga dirinya dengan mudahnya dijatuhkan begitu saja di depan umum. Apalagi senyumnya semakin kecut saat matanya menangkap tawa tertahan dari gadis bar-bar disampingnya.

"Leluconmu lucu sekali Matsuri. Aku dan sayangku ini sudah berpacaran selama 2 tahun." Sakura tersedak ludahnya sendiri dan ia terbatuk-batuk parah mendengarnya. Rasanya ia ingin muntah.

"Apa kau tidak apa-apa?" Tanya Matsuri khawatir.

"Ya dia tidak apa-apa." Jawab Sasuke cepat seraya menepuk-nepuk punggung Sakura dengan keras.

"Dia memang sedang sakit batuk. Aku harus segera membawanya ke dokter sebelum semakin parah dan membuatnya mati." Ujar Sasuke dengan entengnya. Secepat kilat kaki Sakura melayang menginjak kaki Sasuke hingga membuatnya memekik. Matanya melotot garang kearah Sasuke yang merintih menahan sakit. Enak saja dia mendoakannya mati. Sakura pantang mati sebelum dia bertemu dengan jodohnya dan menikah lalu memiliki anak dan cucu yang lucu.

Matsuri yang melihatnya terbengong-bengong bingung dengan kelakuan mereka berdua.

"Yah kuharap kau cepat sembuh Sakura-san. Ngomong-ngomong aku harus pergi dulu. Sampai jumpa nanti." Tangannya melambai kearah dua pasangan absurd yang berdiri di depannya. Sepasang kekasih itu berlalu menyeberangi jalan dengan mesra. Sejurus kemudian tatapan maut melayang kearah Sasuke.

"Kau berhutang penjelasan padaku ayam!" Desisnya tajam.

Dalam hati Sasuke hanya bisa merutuki dirinya sendiri. Ia menyesal terjebak dalam skenario menggelikan bersama gadis aneh berambut gulali.

.

.

Bersambung

A/N :

Halo lama tak jumpa, maaf ya hehe. Beberapa hari lalu aku menemukan sebuah video di youtube. Video dance Sasuke, Sai dan Neji dari lagu Kara-Lupin. Mungkin beberapa dari kalian pernah menontonnya, hehe. Videonya keren. Coba search dengan keyword Naruto Kara-Lupin di Youtube. Aku gak bisa share link disini.