Naruto©Masashi Kisimoto
Berawal Dari Kaleng© Green Maple
.
.
Chapter 6
Selamat Membaca
.
.
Sasuke tidak mengerti dengan kinerja otaknya. Biasanya ia dikenal sebagai pria jenius yang bisa memecahkan segala masalah sepelik apapun dengan kepala dingin. Namun ia tak habis pikir hanya dengan suasana yang menyudutkannya seperti tadi ia jadi merasa seperti orang idiot. Huh, tolol. Ya harga dirinya mengalahkan kejeniusannya hanya karena ia tidak ingin di cap sebagai Uchiha yang gagal move on. Dan ia harus menerima kenyataan pahit akibat mulut dan otaknya yang tidak bekerja dengan baik.
"Sasuke ayam, berhenti kau sialan! Aku bisa saja menuntutmu dengan pasal pencemaran nama baik!" Kaki berbalut sepatu boot coklat menghentak-hentak penuh emosi. Sasuke hanya diam tak menanggapi teriakan-teriakan Sakura yang menurutnya menjengkelkan.
Sore itu orang-orang yang sedang melewati trotoar di jalan berpaling dan menatap dengan pandangan heran ke arah gadis berambut merah muda yang menurut mereka begitu heboh dan berisik sedari tadi.
"Ayam, jika kau tidak berhenti dalam hitungan ketiga maka aku akan menendangmu!"
Sasuke masih diam kalem berjalan santai menyusuri jalanan Konoha yang ramai lalu lalang orang-orang. Ia berusaha tak mengacuhkan Sakura yang berteriak-teriak seperti orang gila. Tsah, bodo' amat.
"Berhenti sekarang juga kau dasar ayam! Kau berhutang penjelasan padaku!" Sakura sudah mulai kalap, hidungnya kembang kempis menahan kesal.
Jangan hiraukan dia Sasuke, pura-pura tidak kenal dan kau akan pulang kerumah dengan muka tampan tanpa kekurangan apapun.
"Kau tuli ya? Dasar pantat ayam sialaaan!"
"Berhenti memanggilku ayam atau ku cium kau!" Sakura berjenggit kaget luar biasa saat Sasuke mendadak berbalik dan memandangnya dengan tajam.
Sasuke mulai jengah dengan teriakan-teriakan Sakura yang terdengar menjengkelkan ditelinganya. Telinganya panas dan ia sudah kehilangan kesabaran. Apalagi saat ia terus saja memanggilnya ayam. Tampan mempesona seperti ini disandingkan dengan seekor unggas? Meh.
Sasuke menaikkan sebelah alisnya saat melihat Sakura yang diam tak berkutik setelah ia bentak. Sedetik setelahnya seringai terbit di ujung bibirnya saat ia menyadari bahwa gertakannya berhasil bekerja pada wanita bar-bar seperti Sakura. Lucu sekali. Digertak begitu saja dia langsung kicep, huh!
"Kuncir bibirmu itu dan berhentilah mengoceh jika tidak ingin sesuatu hal terjadi. Diam dan ikuti saja!" Sasuke mulai menegakkan badan dan berbalik melanjutkan langkahnya dengan menyeringai senang.
"Untuk apa aku mengikutimu jika tidak ada jaminan kau tidak akan melakukan hal apapun padaku!" Mata Sakura memicing curiga, sepasang tangannya menyilang di depan dada melakukan sikap defensif.
Langkah Uchiha prodigy itu terhenti, netra hitamnya melirik ke kanan dan kiri. Beberapa orang terlihat mulai mengamati mereka dan berbisik-bisik. Sudut bibirnya berkedut. Brengsek! Dia terlihat seperti seorang pria mesum yang melecehkan wanita ditempat umum. Reputasinya tercoreng.
"Berhentilah bertingkah layaknya kau gadis perawan!" Desisnya tajam.
"Aku memang masih perawan!" Teriaknya histeris, Sakura memicing sengit merasa tidak terima mendengar ucapan Sasuke.
Sasuke sedikit terkejut. Dahinya mengernyit. Tahun 2017 ia masih bisa menemukan seorang gadis perawan di Jepang? Ini seperti sebuah harta karun yang berharga ditengah modernisasi jaman dimana orang mulai menganggap keperawanan adalah sebuah hal langka. Para pria sudah mulai pesimis dengan sebuah keperawanan hingga perawan bukan menjadi sebuah patokan untuk menjalin sebuah komitmen. Dan kau akan menjadi bajingan beruntung jika bisa mendapatkan gadis perawan yang cantik seperti Sakura.
Tunggu! Apa kau baru saja mengakui kalau Sakura cantik Sasuke?
Sasuke mengepalkan tangan menutup mulutnya, berdeham dan merasa kikuk sendiri. Ia memalingkan wajah menyembunyikan pipinya yang sedikit bersemu.
"Sebaiknya kita cepat pulang atau kau akan ku tinggal." Secepat itu ia mengucapkannya secepat itu pula ia berbalik dan berjalan meninggalkan Sakura yang terkejut melihatnya.
Sakura berlari mengejar Sasuke dengan serentetan umpatan menuju mobil audi hitam yang terparkir di depan sebuah toko baju.
.
.
"Apa kau semenyedihkan itu hingga mengaku-ngaku memiliki pacar?" Sakura tersenyum sengit kearah Sasuke. Namun diam-diam dalam hati ia mengagumi interior mobil Audi milik Sasuke ayam. Dari dulu ia selalu menginginkan memiliki mobil pribadi, namun kak Sasori selalu tidak memperbolehkannya untuk membeli mobil. Disisi lain ia juga tidak sanggup jika harus membeli mobil sebagus ini. Tck, mungkin nanti sesampainya di apartemen ia akan mencoba lagi untuk merubah pemikiran kakaknya.
Sasuke mendengus jengkel. Sepanjang jalan gadis itu hanya terus mengomelinya. Rasanya telinganya sudah panas.
"Itu bukan urusanmu. Asal kau tahu saja ada banyak wanita yang mengantri untuk jadi pacarku." Sasuke membanting setir ke kiri saat melihat belokan. Dengusan sombong keluar dari bibirnya.
"Apa itu sebuah lelucon? Kau bahkan menyeretku untuk mengikuti skenario menyedihkan yang kau buat." Mata hijaunya melotot garang. Tangannya bersidekap di depan dada. Sasuke berdecak kesal, merasa pusing sendiri dengan kelakuan wanita bawel disampingnya.
Ia melirik sinis kearah Sakura. Gadis itu mengerucutkan bibir dengan muka merah padam menahan kesal. Matanya berpaling dari Sakura dan melihat ke jalanan.
"Kau sengaja melakukannya?"
Dahi Sakura mengernyit, merasa tidak mengerti dengan ucapan Sasuke.
"Apa maksudmu?!"
Sasuke membanting setir ke kanan secara tiba-tiba dan berhenti di tepi jalan. Ia menoleh kearah Sakura dan dengan gerakan cepat ia mencondongkan tubuh kearahnya. Sakura berjenggit dengan reaksi Sasuke yang tiba-tiba. Secara spontan ia mundur hingga punggungnya membentur pintu mobil sedikit keras. Ia meringis namun tangannya maju menahan tubuh Sasuke yang mendekat.
"Bukankah beberapa saat yang lalu aku menyuruhmu diam. Kau menantangku untuk menciummu?" Oniks hitam Sasuke berkilat.
Bola mata Sakura sukses membelalak lebar. Reflek ia mendorong keras wajah Sasuke ke belakang. Sasuke terdorong dan menarik diri. Matanya mendelik kesal kearah Sakura yang memasang muka merah padam. Pipinya merona dengan hidung yang kembang kempis.
"Kau! kau! Pria mesum! Brengsek! Kalau kau berani mendekat lagi akan aku sumpal hidungmu!" Teriaknya keras merasakan kekesalan di ubun-ubun. Juga malu disisi lain.
Sasuke diam tak menyahut. Gadis ini benar-benar barbar. Terbuka dan apa adanya. Berbeda dengan gadis-gadis yang biasa ia temui yang kebanyakan jaim dan munafik. Entah kenapa ada sedikit kesenangan saat ia menggoda gadis ini. Ia suka saat Sakura berteriak-teriak jengkel kepadanya. Sasuke menggeleng pelan dengan pemikirannya, merasa aneh sendiri. Dengan diam ia mulai melanjutkan lagi mobilnya yang sempat berhenti.
Setengah jam kemudian ia mendapati dirinya berhenti di depan sebuah apartemen sederhana. Sasuke mendongak mencoba melihat penampakan apartemen itu.
"Kau tinggal disini?"
Sakura menatap sinis kearah Sasuke.
"Iya aku tinggal disini. Kenapa?! Ada masalah?!"
Sasuke mendengus dan menatap bola mata hijau Sakura.
"Tidak, untuk apa? Itu bukan urusanku. Cepat keluar dari sini!" Sakura mencebik dan dengan serampangan ia keluar dari mobil dan membanting keras pintu mobil Sasuke. Biar saja, biar pintunya runtuh sekalian. Jendela kaca mobil itu terbuka dan Sakura menaikan sebelah alisnya bingung saat melihat Sasuke mencondongkan tubuh dan menatapnya.
"Kau tahu nona. Ada sesuatu yang sebenarnya ingin aku katakan padamu dari tadi." Dahi Sakura berkerut menanti kelanjutan ucapan Sasuke dengan serius.
"Ada kotoran dimatamu." Sasuke mendengus geli dan dengan cepat melajukan mobilnya meninggalkan area apartemen.
Sakura terkesiap mendengarnya, reflek tangannya menjalar menyentuh sudut matanya dengan tergesa-gesa. Tidak ada apa-apa. Brengsek! Laki-laki itu mengerjainya.
"Sialan!"
.
.
Sasori sedang asyik-asyiknya bermain gitar saat pintu apartemen dibanting dengan sangat keras hingga membuat gelas jusnya bergetar. Ia menoleh dan mendapati Sakura yang menggerutu. Tangannya bergerak mencomot kripik kentang dan menatap heran kepada adiknya yang membanting tas ke sofa.
"Sialan, kalau aku bertemu lagi dengannya akan aku cincang kepalanya dan aku gunduli rambut pantat ayamnya!" Sakura mondar-mandir. Tangannya berkacak pinggang dan erangan jengkel terus keluar dari mulutnya.
"Siapa yang ingin kau gunduli?"
"Tentu saja Sasuke ayam!" Mulutnya menyahut dengan emosi. Bola matanya bergulir menatap sang kakak yang sedang asik bersantai. Ia pun ikut duduk membanting tubuhnya ke sofa hingga membuat tubuh Sasori sedikit terlonjak. Tangannya menyambar bungkusan snack yang sudah terbuka diatas meja. Memakannya dengan liar sembari tak lupa terus menggerutu.
"Siapa Sasuke ayam?" Tanya Sasori.
Pertanyaan Sasori tak di acuhkan Sakura, ia malah berhenti mengunyah saat rasa yang familier terasa dimulutnya. Bola matanya bergulir ke bawah menatap nama dari snack yang ia makan dan langsung memekik saat menyadarinya.
"Kak! Sudah ku bilang berapa kali?!"
"Bilang apa?" Sahut Sasori enteng tak mengalihkan pandangan dari gitarnya.
"Jangan memakan kripik kentangku!" Sasori menghentikan petikan gitarnya dan menghembuskan nafas. Oh sial, ia merasakan dejavu. Haruno-The Rock-Sasori sudah merasa siap jika harus melakukan gulat ronde kedua.
"Itu keripik kentangku Sakura. Aku membelinya tadi di minimarket." Sahutnya sedikit menahan jengkel.
"Oh." Jawab Sakura enteng seakan tak pernah terjadi apa-apa sambil mengangguk-angguk mengerti dan mulai lagi memakan keripik kentangnya kak Sasori hingga habis.
Gumaman Sasori memecah ruang tengah Sakura. Sebelah kakinya naik menyangga badan gitar. Ia bersenandung mengikuti irama dari petikan gitarnya. Tangan lentiknya dengan cekatan memetik dawai-dawai gitarnya hingga menciptakan sebuah mahakarya yang mampu membuat semua orang terdiam. Antara terkagum atau bengong.
Biarkan sang maestro berbicara gadis-gadis.
"Kak."
"Hm?"
"Kenapa bulu hidungmu panjang?"
"Diamlah!"
Desiran angin dari balkon apartemen Sakura membuatnya terbuai dan memejamkan mata.
"Kak."
"Hm?"
"Tidak ada."
Sasori berdecak dan mulai merasa kesal. Dosa apa yang telah ia lakukan hingga mempunyai adik menyebalkan seperti ini.
"Kak."
"Apalagi?!" Nada suaranya sedikit naik. Sasori mulai jengah. Ia meletakkan gitarnya di sofa dan merubah posisinya kearah Sakura.
"Bolehkah aku membeli mobil?" Sakura nyengir. Memperlihatkan deretan giginya. Sasori berdecak dan meraih gitarnya sekali lagi. Dikiranya apa, ternyata hanya itu.
"Tidak." Jemarinya mulai memetik lagi dengan tempo teratur hingga menciptakan nada dari sebuah lagu berjudul C-h-a-o-s-m-y-t-h.
Sakura cemberut dan meraih pundak kak Sasori. Mulai mengguncang-guncang badan kakaknya heboh.
"Ayolah kak, ijinkan aku membelinya!"
"Tidaaaak..." Kepala Sasori bergoyang maju mundur akibat efek dari gempa lokal di apartemen Sakura.
Sakura mencebik, namun hal itu tak meruntuhkan kegigihannya.
"Kak, kumohon! Aku sudah bosan menaiki bus. Aku ingin membeli mobil. Biarkan aku melakukannya." Goyangan tangan monster Sakura semakin kencang dan Sasori mulai merasakan efeknya. Dengan cepat ia menyentak tangan Sakura di pundaknya dan meraih tubuh gadis itu hingga terhuyung ke depan. Sakura terkesiap. Sasori meraih leher Sakura dan menjepitnya di ketiak.
"Sudah aku katakan. Tidak."
"Kak, lepaskan aku! Ketiakmu bau!" Tangan Sakura berayun menampar-nampar lengan Sasori yang tak tertutup kaos Marvelnya. Suaranya tercekat dan mencicit.
"Berhentilah merengek! Nikmati saja. Ini adalah bau dari orang yang memiliki talenta dan masa depan cerah." Seloroh Sasori.
Sakura memeletkan lidah."Omong kosong. Aku tidak mau menjadi orang yang bertalenta jika memiliki ketiak yang berbau busuk seperti celanamu yang tak pernah kau cuci berminggu-minggu." Cicitnya, masih berusaha lepas dari jeratan maut si koboi merah Sasori. Jemari Sakura terulur menangkap sedikit lemak di perut Sasori dan memberikannya cubitan sebanyak satu putaran.
Sasori berjenggit dan berteriak mengaduh. Spontan ia melepas jeratannya dan Sakurapun terhuyung dan terjatuh dari sofa dengan bunyi gedebuk yang keras.
"Bangsat!" Umpatnya, meringis dan mengelus-elus pantatnya.
"Nah, kau berhutang 10 Yen padaku bola kapas." Sasori berseru senang dan menaik turunkan alisnya jenaka. Bibirnya tersenyum penuh arti sembari mengulurkan tangan kanannya di depan wajah Sakura. Jemarinya bergerak-gerak, meminta konsekuensi dari hasil kesepakatan mereka berdua.
Sakura mengerucutkan bibir dengan mata melotot sebal. Ia keceplosan. Ibarat pepatah mengatakan, sudah jatuh ditagih uang pula. Dengan susah payah ia bangkit dari jatuhnya dan meraih tas diatas sofa. Tangannya mengobrak-abrik dan mengambil dompet berwarna merah.
Dengan masih bertampang kesal dan ogah-ogahan ia mengulurkan tangan dan memberikan konsekuensi karena ia telah melanggar kesepakatan.
Tidak boleh mengumpat di depan orang.
Sasori menatap tak sabar saat tangan Sakura mengambang di udara. Lumayan 10 Yen, hitung-hitung buat beli roti di warung sebelah.
PLAK !
"Tapi bo'ong."
Wuuush...!
Sasori berkedip. Bengong. Menatap telapak tangannya yang ditepuk keras. Tidak ada selembar uang disana. Tidak ada. Kosong. Hanya udara dan telapak tangan yang memerah. Dan angin yang berhembus kencang saat mulutnya terbuka.
Tawa kencang meledak dari arah jam dua bersamaan dengan bedebum pintu yang tertutup keras. Sasori berpaling dari telapak tangannya dan menyadari bahwa ia telah dibodohi oleh adiknya sendiri.
"Makan tuh angin!" Teriak Sakura sembari tertawa cekikikan. Adik durhaka!
Tubuh Sasori gemetar, merasakan kejengkelan merayap kepermukaan. Ia menghela nafas dalam, mengisi paru-parunya dengan udara segar sebanyak mungkin. Membersihkan pikiran dari tawa cekikikan Sakura yang sudah seperti setan. Tenang Sasori.
"Tadinya aku berpikir untuk membeli mobil baru-" suara cekikikan Sakura mulai memelan.
"-tapi sepertinya seseorang membuatku tersadar bahwa... Tidak akan ada mobil baru mulai sekarang!"
Mendadak tawa Sakura tak kembali terdengar. Sasori berjalan santai memasuki kamarnya. Pintu bercat hijau itu tiba-tiba menjeblak keras dengan kepala merah muda yang menyembul dengan bola mata melebar kaget.
"Kak! Kau bercanda kan?!" Pekiknya panik dan hanya di jawab dengan bedebum pintu Sasori.
Haaah... hari yang indah bukan?
.
.
Sakura berjalan menapaki jalanan Konoha dengan senyum lebar yang menyilaukan mata. Pagi yang indah seindah harinya saat ini. Dadanya membusung, dagunya terangkat, langkahnya 100% mantap. Seminggu setelah kejadian absurdnya dengan si pantat ayam saat itu, ia menemukan secarik surat diatas lantai apartemennya.
Mata Sakura berbinar dengan jantung yang berdegup kencang. Darahnya berdesir dan tangannya gemetaran. Apakah ini yang disebut dengan jatuh cinta? Ah..
Secara perlahan tangannya terulur meraih secarik kertas berlambang sebuah perusahaan berinisial M.C. Semenjak ia di pecat dari perusahaan pak Orochimaru, ia berusaha untuk melamar pekerjaan sebanyak mungkin. Entah sudah berapa banyak lamaran yang ia kirim.
Tangannya gemetaran membuka amplop itu dan langsung memekik-membuat Sasori menyemburkan kopinya karena kaget-saat membaca satu kata yang bagaikan ditulis dengan tinta emas berkilauan.
DITERIMA.
Beginilah akhirnya Sakura berada, di depan sebuah bangunan tinggi pencakar langit. Bangunan yang akan menjadi tempatnya mencari uang untuk berfoya-foya. Yeah. Hari pertamanya bekerja di perusahaan besar bernama Marble Corp. Hatinya terasa meletup memikirkan bahwa ia tidak menjadi pengangguran menyedihkan lagi mulai saat ini.
"Halo selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?" Seorang wanita cantik berambut pirang yang bername tage Gemari menyambutnya dengan senyuman manis.
"Ehm, aku karyawan baru disini. Bisakah aku bertemu dengan bagian HRD?" Gadis bernama Gemari itu mengangguk-angguk dan menunjukan arah direksi yang Sakura maksud.
"Naik saja lift di seberang sana. Bagian HRD ada di lantai 6, keluar dari lift lurus lalu belok ke kanan lalu belok kiri ikuti saja panduan. Memang agak rumit. Kau akan melewati beberapa bilik karyawan HRD dan ku harap itu tidak mengganggumu. Ruang kepala HRD ada di pintu sebelah kiri. Selamat bekerja."
"Aa, terimakasih Gemari-san."
"Sama-sam...Eh?" Gadis itu berkedip, bingung. Menatap kejauhan Sakura yang sudah memasuki lift.
"Ada apa Temari?"
Seseorang menepuk pundaknya. Ia menoleh dan mendapati rekan kerjanya sesama resepsionis.
"Tidak ada, hanya karyawan baru yang salah memanggil namaku." Gadis Temari itu menghendikan bahu dan melanjutkan pekerjaannya kembali.
.
.
Sakura mendapati dirinya berkeliling-keliling di kantor barunya. Ia baru saja bertanya pada seseorang yang ia asumsikan adalah petugas kebersihan. Namun sekarang ia harus mengakui bahwa ia terjebak dalam situasi rumit. Tersesat. Pria itu bilang belok kanan terus belok kiri, lalu kenapa yang di depannya bukannya pintu HRD melainkan pintu toilet? Yang benar saja?
Sakura bingung, ia berdecak dan berbalik lagi menyusuri jalannya tadi sembari celingukan. Berharap ada seseorang supaya ia bisa bertanya kembali. Tapi tiba-tiba tubuhnya oleng saat ia menubruk seseorang yang sedang berbelok di lorong.
"Aduh!"
"Ah maafkan aku. Apa kau tidak apa-apa?" Suara baritone memecah telinga Sakura. Kepalanya mendongak dan mendapati pria berambut merah, mengingatkannya pada sang kakak namun hanya saja lelaki ini memiliki tato di dahinya. Tangan pria itu terulur di depan wajahnya, Sakura berkedip dan menyambut uluran tangan tersebut.
"Iya, aku tidak apa-apa. Terimakasih." Tangannya bergerak menepuk-nepuk pantatnya. Pria itu tersenyum manis, sebelah tangannya membawa sebuah map.
"Maafkan aku. Aku tidak melihat jalan hingga menabrakmu." Pria itu tersenyum menampakan raut menyesal. Sakura terkesiap dan menggelengkan kepala dramatis.
"Tidak, tidak apa-apa. Sungguh. Aku juga minta maaf. Maafkan aku." Sakura berojigi. Lelaki itu tersenyum lagi. Senyumnya bikin meleleh. Jantungnya jadi doki doki. Sejenak Sakura terpaku akan senyumnya. Wajahnya rupawan. Kemeja biru dongker melekat pas di tubuhnya. Matanya tajam namun tidak terlihat mengintimidasi.
"Ngomong-ngomong sepertinya aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Kau memiliki rambut yang mencolok. Apa kau orang baru?" Tanya pria itu.
Sakura berkedip. Mengembalikan nyawanya yang melalang buana."Ya, aku karyawan baru disini. Ini hari pertamaku bekerja jika tersesat bisa dianggap sebagai bekerja." Sakura menunduk dan tersenyum canggung dengan pria tampan mempesona di depannya.
"Memangnya kau mau kemana?" Tanya pria itu sedikit penasaran.
"Umm, aku ingin ke ruang HRD tapi seseorang memberiku arahan yang salah." Sakura menggigit bibir bawahnya malu.
"Wah kebetulan sekali. Aku juga mau kesana." Sahut pria itu mengangkat sebuah map yang dari tadi dia bawa."Lebih baik kita kesana bersama-sama." Tangannya bergerak mempersilahkan Sakura berjalan duluan.
"Terimakasih." Sakura mengangguk-anggukkan kepala. Mengambil langkah untuk berjalan ke ruang HRD.
"Jangan sungkan. Ngomong-ngomong siapa namamu?" Pria itu memiringkan kepala dan sedikit membungkuk. Jika diasumsikan mungkin tingginya sekitar 178 cm.
"Aku Haruno Sakura."
"Emm, Sakura-san ya? Aku Sabaku Gaara. Panggil saja aku Gaara."
"Ah Gaara-san." Sakura tersenyum malu-malu, merasakan letupan kebahagiaan hadir dalam hatinya. Hari pertama bekerja sudah berkenalan dengan pria tampan kece badai dan baik seperti Gaara.
"Gebetan baru Gaara?" Seorang laki-laki berambut coklat tiba-tiba datang dan menepuk pundak Gaara sembari menyeringai.
"Lucu sekali Kotetsu. Ku pikir justru kau yang memiliki gebetan baru di departemen marketing." Gaara berhenti berjalan dan menepuk dua kali punggung pria bernama Kotetsu tersebut. Kotetsu hanya bisa menahan senyum malu.
"Rahasiakan ini Gaara. Kau tahukan rahasia sesama pria? Hei nona, maaf jangan tersinggung ya?" Mata Sakura melebar sedikit gelagapan. Tangannya melayang ke udara dan bergerak-gerak dramatis.
"Tidak, tidak, sama sekali tidak."
"Wah Gaara, kau dengar itu? Nona ini benar-benar orang yang pengertian. Nona, jika orang ini melukaimu, kau bisa hubungi aku. Oke? Kotetsu dari bagian HRD." Ucap Kotetsu merujuk pada pria berambut merah yang berdiri diam disampingnya. Sakura berkedip-kedip bingung, melirik pada Gaara yang hanya diam saja.
Gaara memutar bola mata. Mendorong jenaka wajah Kotetsu yang menurutnya menjengkelkan.
"Berhentilah membual atau Terumi akan lari darimu. Sampai nanti." Sebelah tangan Gaara yang bebas terangkat, melambaikan tangan kearah Kotetsu.
"Maaf atas yang tadi ya?" Sakura menoleh dan menggelengkan kepala kecil. Ia merasa bahwa itu tak masalah baginya.
"Tak apa Gaara-san. Aku sama sekali tidak keberatan." Oh well Sakura itu bermakna ganda. Itu mengartikan jika kau tidak keberatan jika seseorang memanggilmu sebagai gebetan Gaara.
Gaara tersenyum kecil disudut bibir. Lelaki ini benar-benar pria yang mempesona. Sakura pikir pasti banyak wanita yang menyukai sosok pria seperti Gaara-san dan berharap bisa menjadi kekasihnya.
"Kita sudah sampai." Sakura mengangkat kepalanya dan mengedarkan pandangan saat pintu ruang kepala HRD terbuka.
.
.
Sakura merapikan beberapa berkas yang bertebaran diatas meja. Ini sudah waktunya makan siang dan perutnya yang keroncongan sudah memberontak minta di isi.
"Sakura-san, apa kau ingin makan ke kantin bersama-sama?" Sakura mendongak dan mendapati seorang gadis bercepol dua yang kalau tidak salah ingat bernama Tenten.
"Ya, Tenten-san. Perutku sudah keroncongan sedari tadi." Tenten tersenyum dan menarik pergelangan tangan Sakura. Beberapa saat lalu ia sudah berkenalan dengan beberapa teman barunya di kantor. Ia ditempatkan di bagian produksi tak jauh-jauh dari pekerjaannya dulu.
"Hei Ayame kau tidak ingin ke kantin?" Tenten sedikit berteriak keras saat dirinya masih melihat Ayame yang bertahan di kursi kerjanya.
"Aku menitip sandwich tuna saja Ten. Oh dan juga es coklat." Serunya dari bilik kerja. Tenten mengangguk-angguk dan mulai kembali berjalan bersama Sakura.
"Apa kau sudah lama bekerja disini Tenten-san?" Tenten menyapa beberapa orang yang ia kenal saat menyusuri lorong ke arah kantin."Yah sudah 4 tahun Sakura. Kantor ini begitu menyenangkan. Orang-orangnya. Kau tahu kan manager divisi kita benar-benar baik dan tampan." Pipinya sedikit bersemu namun sebisa mungkin Tenten menutupinya dari Sakura.
"Maksudmu Hyuga-san? Kau menyukainya?" Tenten sedikit tersentak dengan tebakan Sakura. Apa wajahnya mudah sekali dibaca?
"Ti-tidak Sakura, hanya aku merasa kagum dengannya." Sakura tersenyum miring, menyeringai melihat Tenten yang sedikit gugup.
"Tak apa Tenten-san, aku mengerti perasaanmu. Tak heran karena menurutku Hyuga-san memang pria yang berwibawa." Sakura terkikik geli dan Tenten tersenyum malu.
"Panggil aku Tenten saja Sakura. Kuharap kita bisa berteman baik." Sakura manggut-manggut dan langkahnya terhenti saat melihat kantin yang memiliki dekorasi yang memukau.
Kantinnya terlihat seperti garden cafe. Hijau, terbuka dan ada banyak tanaman sebagai interiornya. Ada sebuah sungai kecil buatan membelah ditengah ruangan. Gemericik suara airnya membuat suasana semakin syahdu dan tentram. Sakura benar-benar mengagumi kantin kantor barunya. Ini sih namanya bukan kantin.
"Berkediplah Sakura." Tenten tertawa saat melihat wajah Sakura yang bengong seperti orang bodoh. Sakura tersenyum kikuk dan menggigit bibir bawahnya menahan malu.
"Ini luar biasa Ten." Mereka berjalan menuju petugas penjaga kantin dan memesan makanan. Ada dua orang pria, yang satu kurus dan satu lagi bertubuh gempal, dan dua gadis muda yang bertugas melayani pesanan para karyawan yang sedang kelaparan.
"Ya kau bisa melihatnya. Bos memang membuat kantin menjadi tempat yang paling nyaman di kantor. Kau tahu kan beberapa orang menyukai suasana yang bersih dan tentram saat makan." Sakura mengangguk-angguk menyetujui ucapan Tenten. Ia pun ikut antrian untuk bisa memesan makanan bersama. Perusahaannya memang menunjang kesejahteraan para karyawan. Mereka tidak ingin para karyawan stres dan kelelahan karena bekerja. Bahkan ada kursi santai dan kursi goyang di pojok ruangan.
"Kenichi berikan aku satu gelas cappucino dan spageti saus pedas ya. Aku ingin menyegarkan mataku agar tidak mengantuk." Seru Tenten pada pria muda berambut coklat dan bermata coklat. Sakura meneliti beberapa menu yang berada pada daftar menu diatas pantry. Wow. Diam-diam dia berdecak dengan daftar menu yang kantin kantor barunya miliki. Telunjuknya mengabsen deretan daftar makanan dalam menu. Sangking banyaknya, ia sampai bingung mau memilih yang mana.
"Masih belum menemukan yang cocok?" Sakura berjenggit saat seseorang berdiri disampingnya secara tiba-tiba. Pria itu menyenderkan kedua tangannya di meja pantry dan tersenyum manis ke arah Sakura.
"Astaga Gaara-san. Kau mengangetkan aku saja." Sakura mengerucutkan bibir dan Gaara semakin membuat beberapa wanita meleleh karena senyumannya yang semakin menawan. Beberapa dari mereka mulai berbisik-bisik dan melirik ingin tahu kearah gadis merah muda yang tengah mengobrol dengan salah satu pria incaran di MC.
"Ku beritahu satu hal. Makanan disini dijamin enak-enak. Jangan ragu untuk mencicipi semuanya. Jika perutmu kuat untuk menahan itu semua. Benarkan Chouji?" Gaara tersenyum dan mengerling kearah pria gempal yang sedang berdiri melayani pesanan Tenten. Sakura menoleh dan ia bisa melihat gadis muda di belakang Chouji bersemu merah. Sakura paham betul bahwa pesona Gaara-san memang tidak bisa ditolak.
"Tentu saja. Kita memiliki koki yang handal dan semua bahan diracik dengan bahan-bahan terpilih berkualitas luar biasa." Seloroh Chouji dengan mengacungkan dua jempol ke depan wajah Sakura. Kenichi tertawa kecut dan bergumam berlebihan disela tawanya. Sakura tersenyum dan merasakan kehangatan di sela candaan kawan-kawan barunya.
"Baiklah ku harap kau menikmati masakan koki terhebat di kantin ini. Semoga harimu menyenangkan Sakura." Gaara menepuk kepala merah muda Sakura pelan dan tak lupa menyeduh senyuman tipis sebelum berlalu pergi ke salah satu sudut meja bersama teman-temannya.
"Hmm, aku jadi penasaran." Ucap Sakura sambil bingung memilih menu yang akan dia pilih. Pembicaraan Gaara tadi membuatnya semakin penasaran untuk mencicipi.
"Hmm, aku juga penasaran." Jemari lentiknya berhenti dan kepalanya menoleh bingung dengan ucapan Tenten baru saja.
"Bukannya kau sudah lama bekerja disini Ten? Seharusnya kau sudah merasakan semua menu makanan ini kan?" Tenten berdecak kesal dan matanya melirik ke kanan dan ke kiri. Sakura pun ikut melirik merasakan bahwa tingkat kewaspadaan Tenten meningkat walaupun ia tidak tahu untuk apa.
"Kau tidak tahu Sakura?" Desis Tenten tepat di depan wajah Sakura. Sakura tak mengerti, apa yang ia tidak tahu. Setahunya semua makanan sudah ada di daftar menu dan Tenten yang sudah bekerja selama 4 tahun menurut informasinya seharusnya sudah mencicipi itu semua. Ia hanya bisa menggeleng pelan dengan bibir yang terkatup rapat penuh kebingungan.
Tenten menoleh ke arah Chouji dan berseru untuk menyamakan pesanannya. Sakura hendak protes namun sebelah tangannya keburu di cekal dan ditarik oleh Tenten menuju meja kosong. Ia hanya bisa pasrah dengan wajah cemberut.
"Kau tidak tahu?" Tanya Tenten sekali lagi dan itu membuat alis Sakura semakin berkerut. Ayolah Ten, aku tidak suka berteka-teki ria.
Tenten berdecak kesal dan semakin memajukan tubuhnya kearah Sakura. Sakura merasakan duduknya semakin gelisah dan tiba-tiba atmosfer tempat ini menjadi mencekam. Harap-harap cemas Sakura menanti ucapan Tenten yang sedari tadi hanya membuka menutup bibirnya.
"Kau harus berhati-hati jika ingin berdekatan dengan Gaara-san." Bisik Tenten lirih tepat di depan wajah Sakura dengan muka horor. Sakura mengerutkan alis tak mengerti. Apakah Gaara-san memiliki sebuah tabiat buruk? Atau jangan-jangan dia adalah seorang womanizer? Atau dia orang yang penyakitan? Sakura menggeleng-geleng tidak terima.
"Apa maksudmu Ten?"
"Lihatlah sekelilingmu!"
Sakura memutar kepala melihat beberapa orang yang duduk di kantin sembari menyantap makan siang dan mengobrol. Sesekali ia dapat melihat beberapa karyawati curi-curi pandang kearahnya.
"Oke, sudah. Aku hanya melihat orang makan. Lalu apa?" Tanyanya polos. Masih menunggu jawaban Tenten yang menurutnya seperti sebuah teka-teki silang yang dulu biasa ayahnya kerjakan saat waktu luang.
Tenten menepuk dahinya dan tak sabaran saat menyeruput minuman yang sudah tersaji di depan meja."Para wanita disini beberapa adalah fans Gaara-san," telunjuknya mengetuk meja dua kali dengan penuh tekanan,"kau harus berhati-hati jika berdekatan dengan Gaara-san karena fansnya terkenal ganas atau kau akan... " Tenten menaikan sebelah tangannya dan menggerakkan tangan itu secara horisontal di depan leher, memperagakan menggorok lehernya sendiri dengan dramatis.
Sakura meneguk ludah dengan mata sedikit melebar tak percaya.
"Semengerikan itukah?"
Tiba-tiba Tenten tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Sakura yang menurutnya bodoh. Air mata berkumpul disudut matanya. Dan Sakura merasa konyol sendiri menatap gelak tawa Tenten.
"Tidak, bodoh. Tentu saja aku hanya melebih-lebihkan."
Sakura cemberut dan berdecak kesal. Ia mulai menggulung spaghetti Tenten dengan garpu.
"Tapi aku sungguh-sungguh jika Gaara-san memiliki banyak fans disini. Dia adalah salah satu pria incaran di MC. Tapi masa bodoh dengan para fansnya. Hajar saja jangan pedulikan mereka. Sebelum janur kuning melengkung semua milik bersama." Tenten terkikik dengan mata coklatnya yang menyipit dan masih berair. Beberapa orang yang duduk disana memerhatikan mereka yang heboh akibat gelak tawa yang lumayan kencang. Termasuk si topik pembicaraan.
"Tenten. Aku bukannya ingin menggaet Gaara-san. Bahkan aku saja baru mengenalnya." Sakura langsung berhenti menyomot spageti yang Tenten pesan tadi. Ia tersedak saat merasakan betapa pedasnya spageti yang Tenten pesan. Kepalanya memerah. Buru-buru Sakura menyambar minuman Tenten dan menyeruputnya tak sabaran.
"Oh sial. Spaghetti ini hampir saja membuatku menggigit lidahku sendiri. Sial Tenten, makanan jenis apa yang kau pesan ini?" Serunya panik, Sakura masih belum berhenti menyeruput minuman dinginnya. Dahinya berkeringat deras dan lidahnya seakan mau lepas. Ia ngos-ngosan membuat Tenten meringis tak enak.
"Inilah namanya makanan yang bisa membuatmu menyegarkan mata. Semua orang tidak akan mengantuk lagi setelah mencicipi makanan legendaris di kantin MC ini." Sakura melotot, tingkat kepedasan makanan ini benar-benar luar biasa. Perut dan lidahnya tidak bisa mentolerir dan lihat Tenten dengan tenangnya memakan spaghetti itu.
"Tentu saja menyegarkan mata. Bahkan kau akan mondar mandir ke toilet hingga kau tak sempat memejamkan mata." Ucap Sakura sarkartis. Tawa Tenten meledak dan ia mengucapkan kata maaf disela tawanya yang riuh. Kenichi datang dengan membawa pesanan Sakura, yang sialnya sama persis seperti milik Tenten. Bahu Sakura langsung merosot. Ia menatap nanar pada spaghetti pedas yang melambai-lambai kepadanya.
"Uhm, Kenichi-san!" Serunya, membuat Kenichi berhenti berjalan dan menoleh padanya.
"Bisakah tolong kau bungkuskan ini untukku?" Tenten mendongak dari makannya dan tertawa tertahan melihat gelagat Sakura yang tak sanggup memakan spaghetti itu. Tanpa menjawab, Kenichi pun kembali dan mengambil nampan Sakura. Sakura sempat menyambar minuman dinginnya sebelum Kenichi benar-benar beranjak semakin jauh.
.
.
Hari sudah mulai sore dan beberapa bilik karyawan di kantor MC sudah mulai kehilangan penghuni tetapnya. Beberapa dari mereka sudah mulai membereskan pekerjaan dan bersiap-siap untuk menyambut kasur yang melambai-lambai dirumah, termasuk Sakura.
Setelah selesai men-shut down komputernya, Sakura langsung mencari sepatu heelsnya dibawah meja dan menyambar tas selempangnya sebelum berlalu pergi.
Tenten mengajaknya untuk minum-minum sebentar namun ia menolak dengan halus. Sakura adalah orang yang payah soal minum-minum. Ia tidak ingin teman-temannya tahu kelakuan buruknya saat ia di bawah kendali alkohol. Tidak. Sebelum ia mendapatkan pacar atau para pria akan kabur setelah melihatnya menjadi orang setengah sinting.
Sakura harus menaiki bus dan berjalan kaki melewati taman sebelum sampai di kawasan apartemennya. Taman itu memiliki lapangan yang luas dan biasanya orang-orang menghabiskan harinya untuk bermain softball, sepakbola atau hanya sekedar duduk-duduk menikmati udara sejuk.
Sakura berjalan meniti sepanjang taman sambil sesekali mengamati anak-anak muda dengan gairah masa mudanya bermain sepakbola. Seru sekali. Dulu semasa kecil ia selalu merengek kepada kakaknya untuk mengajaknya bermain sepakbola bersama teman-temannya di lapangan. Walaupun hanya dia satu-satunya gadis kecil diantara teman lelaki kakaknya, hal itu sama sekali tak membuatnya menjadi minder atau tersisih. Sakura tersenyum mengingat sekelebat memori menyenangkan saat bersama kakak tersayangnya.
"Awas...!" Sakura kaget saat tiba-tiba ia mendengar teriakan anak laki-laki dari arah lapangan, secara spontan Sakura menggerakan kepalanya ke arah sumber suara. Matanya membelalak lebar saat ia melihat sebuah bola sepak melayang cepat kearahnya. Reflek Sakura langsung berjongkok dan menutup sisi kepalanya dengan kedua tangan.
"Aduuh...!" Suara seorang pria mengaduh terdengar sedetik setelah suara dentuman benda beradu dengan keras. Ia menyimpulkan bahwa bola itu telah mengenai seseorang yang benar-benar sial. Untung saja bola itu tidak mendarat mulus di wajahnya.
Pria itu merintih kesakitan dan limbung membuat Sakura langsung melepas pertahanannya dan menegakkan badan. Ia berlari kecil kearah pria tua yang terduduk diatas rerumputan sembari memegangi kepalanya.
"Apa kau tidak apa-apa kek?" Sakura sedikit meringis empati kepada pria tua malang yang sudah mendapat sepakan bola secara tak terduga. Itu pasti sakit sekali apalagi dengan bola sebesar itu. Sakura merasa sedikit bersalah karena dia merasa ikut andil karena telah menghindari sepakan terjal bola tersebut. Tapi, disisi lain ia merasa bersyukur karena bukan dia yang merintih kesakitan.
"Gelap sekali nak, apakah aku sudah mati?" Sakura tersenyum kecut mendengar rintihan si kakek.
"Tentu saja gelap karena kakek tidak membuka mata." Jawabnya sinis.
"Oh iya." Urat di pelipis Sakura berkedut mendengar jawaban enteng si kakek. Dalam sekejap kakek itu membuka matanya dan menampilkan bola mata hitam pekat. Sakura membantu menopang tubuh si kakek dengan salah satu kakinya. Kakek itu masih merintih dan memegangi kepalanya.
"Maaf, apa kakek tidak apa-apa?" Suara gugup bercampur takut seorang anak laki-laki menyela diantara percakapan Sakura dan si kakek. Bocah itu berdiri sambil merunduk takut, sebelah tangannya mengapit bola sepak yang telah menghantam pria tua malang dalam dekapan Sakura.
Raut wajah Sakura langsung berubah sangar."Kau, dasar bocah! Lihat apa yang sudah kau lakukan! Kau bisa saja membuat kakek ini mati. Walaupun dia sudah tua tapi setidaknya jangan membuatnya mati hanya karena sepakan bola. Itu sama sekali tidak elit. Orang-orang akan mengenangnya karena mati konyol. Setidaknya biarkan kakek mati secara terhormat. Bukan dengan bola sepakan dari bocah seperti..."
"Ehem, nak!" Ucapan Sakura terhenti saat suara kakek menginterupsi rentetan letupannya yang menggebu-gebu. Dadanya naik turun ngos-ngosan dan dengusan kasar keluar dari hidungnya.
"Kau dari tadi membicarakan tentang kematianku. Apa kau benar-benar menginginkan aku mati?" Sakura terkejut dan meringis kecil menyadari ucapannya yang tak terkontrol dan blak-blakan. Ia tertawa canggung dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia merasa malu dan untuk memecah keadaan yang awakward itu ia menoleh kembali ke bocah yang sedari tadi berdiri menatapnya melongo dengan bibir yang terbuka.
"Hei, bocah. Cepat minta maaf!" Teriaknya garang, menutupi rasa malu akibat bibirnya yang tak terkontrol tadi.
Wajah bocah itu sudah pucat dengan keringat yang sudah meluncur di pelipis. Gerakannya yang patah-patah menandakan bahwa ia takut setengah mati dengan kakak galak yang sedari tadi terus memelototinya.
"Ma-maafkan aku kek." Cicitnya takut yang justru membuat Sakura semakin ingin menindasnya.
"Dasar bocah. Lain kali hati-hati. Kalau ingin menendang tidak perlu keras-keras. Pelan-pelan saja. Kau tahu kan akibatnya jika sepakan bolamu itu mengenai kepala orang? Atau lain kali akan ku ganti kepalamu itu dengan bola sepak sialan itu!" Bocah laki-laki itu terkejut luar biasa. Batinnya semakin ciut oleh rasa ketakutan saat membayangkan kepalanya yang lepas akibat sabetan sadis dari si kakak cantik yang galak.
"Ma-maafkan aku kak. Lain kali aku akan berhati-hati dan pelan-pelan." Emm, apakah kau pernah melihat pertandingan sepakbola yang bermain pelan-pelan? Mata bocah laki-laki itu sudah mulai berkaca-kaca. Masa bodoh dengan argumen bermain pelan-pelan tadi yang menurutnya tak masuk akal. Yang penting ia harus selamat dari singa betina yang siap melepaskan gigitan mematikan. Rawr. Hii..
Bocah itu begidik geli membayangkan ia diterkam dan digigit oleh wanita galak di depannya.
"Ya sudah sana. Enyah dari sini!" Tak butuh waktu lama setelah kalimat itu terucap, bocah laki-laki itu berlari tunggang langgang menyelamatkan diri sebelum si singa galak berubah pikiran.
"Kek, apa kakek baik-baik saja?" Raut khawatir sebisa mungkin ia pasang agar si kakek tahu bahwa ia juga memiliki hati malaikat-yang sebenarnya mencoba mengalihkan image akibat pembicaraan kematian tadi.
"Sudah oke. Terimakasih atas bantuannya nak." Sakura tersenyum lebar mendengar perkataan si kakek. Dengan hati-hati ia membantu si kakek berdiri. Sakura heran, si kakek memang terlihat sudah tua namun jika ditelisik baik-baik ada guratan sisa kegantengan dalam keriputnya. Rambutnya masih hitam, panjang pula kaya landak. Apa si kakek sering memakai minyak rambut ya? Sakura jadi ingin bertanya. Siapa tahu bisa dibagi tips-tips untuk menjaga rambut agar tetap hitam dan indah. Ngomong-ngomong rambutmu kan tidak hitam Sakura.
"Hentikan tatapanmu itu nona. Kau membuatku takut." Kakek itu berusaha menyingkirkan lengannya dari Sakura dengan gestur seakan jijik jika ia bersentuhan dengannya.
"Ganteng-ganteng gini, kakek masih setia dengan mendiang istri kakek. Jadi, hilangkan fantasimu itu nak!" Sakura tersedak dengan ucapan si kakek. Ia tersenyum kecut mendengar penuturan si kakek yang kelewat percaya diri. Walaupun Sakura jarang berkencan dengan pria namun bukan berarti ia menurunkan seleranya dan beralih pada kakek-kakek.
"Hahaha candaan kakek lucu sekali. Mana mungkin aku berfantasi dengan kakek. Lebih masuk akal jika aku berkencan dengan cucu kakek." Sakura tertawa garing, tidak tahu dengan maksud ucapannya. Kakek itu sedikit melebarkan bola matanya yang memang sipit.
"Jadi kau mau dengan cucu kakek? Kakek punya dua cucu tampan lho. Tapi yang satu memiliki keriput. Walaupun begitu dia masih tetap tampan seperti kakek yang awet muda." Oke, well biarkan saja apa terserah kata kakek. Jangan merusak kebahagiannya. Sakura tidak ingin jadi anak durhaka. Cukup kesialan saat bertemu dengan si pantat ayam saja.
Sakura cuma bisa menanggapi dengan tertawa paksa. Ia kemudian mendudukkan kakek pada sebuah bangku dibawah pohon.
"Kakek tinggal dimana? Apa kakek mau ku antar pulang?"
"Tidak usah nak." Jawab kakek itu sembari mengacungkan telapak tangan di depan wajah Sakura. Sakura berkedip bingung dengan gestur kakek yang seakan menahannya untuk berbicara lebih banyak.
Kakek itu kemudian merogoh celana pendeknya. Dan terlihat ia mengeluarkan sebuah benda canggih yang membuat Sakura takjub.
Hollyshit.
Itu adalah ponsel keluaran merk ternama yang baru saja rilis minggu lalu. Dan Sakura harus menggigit jari saat tahu harga beli yang dipatok benar-benar mahal.
"Hei, nona. Air liurmu menetes." Sakura terkesiap dan segera mengelap sudut bibirnya. Ia malu ketahuan mupeng akibat ponsel canggih yang dikeluarkan si kakek.
"Halo. Iya ini aku, kakek tampanmu satu-satunya. Jemput aku di taman biasanya. Tidak usah bawel Sasu-chan. Lakukan saja!"
Klik.
"Dasar, cucu kakek yang satu ini benar-benar susah diatur dan keras kepala." Gerutu kakek, tak mengacuhkan Sakura yang bengong disampingnya. Sasu-chan? Itu seperti nama perempuan, tapi kata kakek tadi dia hanya memiliki dua cucu pria. Hmm.
Merekapun berbincang dibawah rindangnya pohon momiji yang sedang berdaun kuning. Sakura bercerita tentang masa kecilnya yang suka bermain sepakbola dan terkadang kenakalan masa kecilnya yang suka memanjat pohon. Sang kakek menceritakan bagaimana masa mudanya dulu yang begitu berbeda dengan anak-anak muda jaman sekarang hingga ia bercerita tentang cucunya.
"Cucu kakek yang paling kecil mungkin seumuran denganmu Sakura-chan. Namanya adalah..."
TIN TIN !
Kedua pasang kepala berbeda warna itu kaget dan menoleh bersamaan mendapati sebuah mobil sedan hitam yang menunggu di belakang mereka.
"Nah itu cucu kakek sudah datang." Seru kakek.
Sakura tak bisa melihat seperti apa rupa dari cucu kesayangan kakek. Kaca mobilnya yang berwarna gelap benar-benar menghalanginya untuk sekedar tahu walaupun hanya siluet.
"Terimakasih sudah membantu kakek dan menunggui kakek Sakura-chan."
Sakura tersenyum dan melambaikan tangan kepada kakek.
"Sama-sama kek. Hati-hati di jalan. Sampai jumpa." Sakura pun beranjak dan berlalu meninggalkan taman saat sang cucu keluar dari mobil dan membantu sang kakek masuk ke dalam mobil.
"Kau ini lama sekali Sasu-chan."
Pria yang dipanggil Sasu-chan itu berdecak kesal dan dengan malas-malasan membukakan pintu untuk kakeknya.
"Berhenti memanggilku dengan nama menjijikan itu kek!"
"Ya, ya kau sudah mengatakan itu beratus kali Sasuke." Ucap si kakek. Menyamankan diri duduk di kursi penumpang.
Sasuke pun menempatkan diri dibalik kemudi dan bersiap menyalakan mobil.
"Tadi kakek berbicara dengan siapa?" Sasuke tidak tahu siapa yang tadi menemani kakeknya duduk di bangku taman. Cahaya matahari yang bersinar dari arah barat membuat sosok itu hanya terlihat berbentuk siluet hitam saja.
"Seorang gadis yang baik."
"Ooh." Sahut Sasuke sekenanya dan ia pun tanpa pikir panjang melajukan mobilnya meninggalkan area taman.
.
.
"Tadaima."
"Okaeri." Sahut Sasori menenteng sebuah sikat gigi yang sudah teroles pasta gigi berwarna putih.
"Bagaimana pekerjaan barumu?" Tanyanya sedikit tidak jelas karena teredam oleh sikat gigi yang berada di dalam mulutnya dengan buih-buih menempel ditepian bibir.
"Luar biasa kak. Kantornya benar-benar seperti sebuah bangunan hotel berbintang 6. Fasilitasnya bahkan sangat memadai dan keren bahkan ada gedung bioskop dan lapangan sepakbola di dalamnya." Jelas Sakura penuh antusias dengan terselip nada kesombongan dan binar-binar mata di kedua manik hijaunya.
"Benarkah?" Sahut Sasori tidak kalah antusias.
"Tentu saja tidak! Kau pikir kantorku stadion apa ada lapangan sepakbolanya." Sakura tergelak saat melihat sang kakak yang memasang wajah malas. Ia merasa diatas angin karena berhasil menjahili kakaknya. Sasori pun memilih tak menanggapi adiknya dan berjalan kambali memasuki kamar mandi. Merasa ditipu.
"Pegalnya. Capek juga jalan kaki pakai sepatu heels lama-lama. Mungkin besok aku akan membawa sandal saja." Gumam Sakura pelan yang sudah duduk diatas sofa sambil memijit tumit kakinya. Sebuah bungkusan ia letakkan di atas meja. Ia pun bersandar dan mengambil remote tivi dan menyalakan sebuah infotaiment. Sakura tersenyum mengingat hari ini. Hari ini benar-benar hari pertama bekerja yang luar biasa menurutnya. Dan ia menyukai ini. Setidaknya bosnya tak segalak seperti pak Orochimaru.
"Kenapa kau senyum-senyum sendiri?" Sasori keluar dari kamar mandi dengan menenteng handuk di pundaknya. Ia kelihatan segar dengan aroma mint khas pria yang keluar dari tubuhnya. Kakaknya terlihat tampan dengan rambut merah menyala seperti Gaara-san. Sakura tersentak dan sedikit tersipu malu atas pemikirannya.
"Kau aneh. Apa kau sakit?" Telapak tangan Sasori hinggap di jidat lebar Sakura dan detik berikutnya telapak tangan itu berpindah ke pantatnya yang tertutup celana.
"Sedikit hangat." Ejeknya enteng dan dibalas wajah merengut dari Sakura.
"Hentikan itu!" Tangannya menggeplak keras tangan Sasori yang dibalas dengan tawa keras dari pria tampan berambut merah itu. Sasori pun mengambil tempat duduk di samping Sakura dan tanpa pikir panjang Sakura mengangkat sebelah kakinya keatas paha Sasori.
"Kak. Pijitin!" Bibirnya mengerucut dengan tampang memelas, Sasori hanya berdecak dan menyingkirkan kaki adiknya yang ena-ena di pahanya.
"Tidak! Mandi sana dan segera istirahat. Aku akan membelikan makan malam nanti." Sakura semakin mencebik. Gagal sudah mendapatkan kenikmatan duniawi yang jarang sekali kakaknya berikan padanya.
"Kau ini pelit sekali! Setidaknya pijitin sebentar sajalah kak. Atau belikan aku mobil."
"Aku memang sedang memikirkan hal itu." Sahut Sasori yang tak menunggu waktu lama langsung membuat binar mata Sakura bersinar menyilaukan sepersekian detik.
"Benarkah?" Ucapnya semangat. Tak percaya akan pemikiran kakaknya yang kolot berubah menjadi murah hati seperti ini. Kami-sama, apa yang sebenarnya terjadi pada kakaknya hari ini? Apapun itu Sakura berterimakasih dan berjanji tidak akan menjahili kakaknya lagi.
"Tentu saja tidak! Kau pikir aku akan semudah itu mengijinkanmu membelinya." Binar mata cerah itu memburam seketika. Mulutnya yang menganga senang sekarang hanya membulat huruf O seperti orang idiot.
"Bangke." Desis Sakura lirih.
"Apa tadi kau bilang?" Alis Sasori mengkerut, telinganya sensitif dengan kata-kata umpatan yang dikeluarkan oleh adiknya bagaikan recehan uang koin yang berjatuhan.
"Apa? Aku tak mengatakan apapun." Elak Sakura.
"Aku mendengarnya tadi." Sasori berdecak.
"Mendengar apa?"
"Mendengar kau mengumpat bangke."
"Nah ! Kakak mengumpat. Kakak berhutang 10 Yen padaku." Sahut Sakura senang merasa diatas angin karena telah berhasil mengerjai Sasori. Sebenernya bisa dikatakan uang 10 Yen adalah hal kecil bagi mereka. Namun bukan itu bagian yang menyenangkan. Disaat lawannya kalah dan lepas kendali adalah hal terbaik dalam permainan konyol dua bersaudara ini.
Sasori menggeram. Ia merasa heran dengan otaknya yang kalah pentium dengan sang adik. Bisa-bisanya ia kena jebakan batman berkali-kali. Adiknya memang licik dan licin.
Sasori pun dengan enggan mengeluarkan uang 10 Yen dalam dompetnya. Lembaran berwarna abu-abu itu seperti benda berharga yang tak ingin ia lepaskan. Jika kertas uang itu jatuh ke tangan adiknya, berarti ia mengakui kekalahannya dan ia adalah seorang pecundang.
Sakura terkikik geli saat melihat uang 10 Yen yang jatuh ke tangannya. Kakaknya benar-benar mudah sekali dikerjai. Ia berharap semoga saja kak Sasori tidak melakukan hal yang membuatnya rugi alias balas dendam. Yang tentu saja diam-diam itu membuatnya takut juga.
Sakura tanpa pikir panjang segera beralih dari ruang tamu ke kamar setelah mendapat uang jatah konsekuensi dari sang kakak. Sasori yang masih bermuka masam menangkap keberadaan sebuah bungkusan makanan diatas meja.
"Hei bola kapas! Ini apa?" Teriaknya keras dan dibalas dengan teriakan lagi oleh Sakura.
"Makan saja!"
Tanpa curiga Sasori pun membuka bungkusan itu dan melihat sepiring pasta yang terlihat menggiurkan dimatanya. Sasori pun mengambil garpu dan segera menghajar pasta yang terus melambai-lambai kepadanya.
"Brengsek!" Umpatnya keras saat rasa pedas yang luar biasa mencecap di lidahnya yang memang tak terlalu menyukai pedas. Tawa meledak Sakura terdengar dan dibarengi dengan suara gedebuk yang bersahut-sahutan. Sakura berlari penuh semangat dari kamar menuju ruang tengah hanya untuk mendapati sang kakak mengumpat sekali lagi.
Seringai kemenangan tercetak di wajahnya. Dan Sasori menggeram penuh amarah sekali lagi.
Kena kau!
.
.
Bersambung
