.

.

"Sakura belum datang juga, sih? Lama sekali dia Ten.."

Seorang wanita ber-ponytail pirang mengaduk-ngaduk sedotan dalam gelasnya dengan gerakan tak semangat. Tangannya ia topang untuk menyangga dagunya.

"Neji-kun ayo buka mulutnya. Aaa~"

Karena yang diajak bicara mengabaikannya, Ino melirikan mata biru cantiknya itu pada pasangan suami-istri di hadapannya. Sedikit menjijikan memang main suap-suapan begitu—sebenarnya hanya Tenten yang bersikap 'sok romantis' dan Neji hanya membuka mulutnya dengan pasrah. Mengingat kondisi Tenten yang sedang mengandung. Eh, tapi setelah dipikir-pikir dirinya pun juga tak ada bedanya dengan Tenten. Ia pun menghela.

"Sai... Aku membutuhkanmu.. huftt.." gumamnya bete.

Bermenit-menit lamanya mengumbar keromantisan unjuk pasangan pada Ino, iris coklat milik Tenten tak sengaja melihat kebelakang sahabat pirang yang duduk di depannya itu—suatu arah kerumunan yang tiba-tiba menjadi ramai—satu yang menarik. Di banyaknya gadis-gadis di situ, ia melihat sesosok wanita berambut pink. Dan Tenten yakin bahwa itu Sakura.

Di sudut pandangnya juga, wanita berhelaian pink itu tidak sendiri. Disampingnya ada seorang pria yang mengenakan topi dan berusaha menyeruak kerumunan para gadis-gadis yang menjeritkan—entahlah sepertinya—nama pria itu.

Tanpa berpikir dua kali, Tenten memanggil Ino dengan heboh. Membuat sang wanita seksi berambut pirang itu tersentak dari lamunannya.

"Ino! Itu Sakura 'kan? Wah~ pacarnya keren sekali.."

Tenten berdecak kagum lalu menyangga kedua wajahnya sambil menatap pasangan itu yang berusaha menuju kemari dengan kagum. Seperti melihat artis saja, pikirnya.

"Uchiha-san! Aishiteruuu! Kyaa~ dia benar-benar tampan."

"Sasuke-kunn aku mau foto denganmu dulu~"

"Ya Tuhan! Tampan sekalii polisi iniii~"

"Jadi pacarku dongg~"

Begitulah kira-kira keadaan yang tercipta sekarang. Cafe yang tadinya tidak terlalu bising, sekarang amat sangat berisik dengan jeritan dan teriakan oleh para gadis remaja.

Sepertinya lain hal-nya dengan Neji, pria berambut panjang dengan mata perak itu agak sedikit jengkel saat mendengar kalimat pujian yang terlontar untuk lelaki lain. Neji berdehem—cemburu—untuk menyadarkan Tenten bahwa dia masih ada di sini.

Tenten pun hanya bisa memamerkan deretan gigi putihnya pada suaminya. Ia kelepasan.

"Hehe.. lebih kerenan kamu ko, Neji-kun.."

Mengabaikan mereka, Ino mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Dia keluarkan suaranya sedikit kencang agar wanita yang dipanggilnya bisa mendengar.

"Sakura! Di sini."

Berhasil. Emerald itu menoleh lalu menepuk pundak pria di sampingnya untuk mengikuti langkahnya menuju meja nomor 67.

Lumayan lama, mengingat banyak sekali—dari ibu-ibu sampai anak kecil—yang meminta foto bareng dengan pria berambut raven itu. Membutuhkan perjuangan untuk sampai ke sini, sampai-sampai dibantu pihak security untuk menenangkan pengunjung yang mulai ramai.

"Maaf ya telat." ucap Sakura setelah duduk dan sampai di meja nomor 67.

"Ah, tak apa-apa. Aku mengerti ko." jawab Ino ceria. Ia kerlingkan tatapannya pada pria tampan di samping Sakura. "Jadi... inikah pacarmu Sakura, hm?"

"Aah! I-iya! Dia adalah kekasihku plus calon suami. Perkenalkan dirimu, sayang."

Sedikit gelagapan saat ditanya, Sakura tetap berusaha senyaman mungkin dengan situasi ini.

Apakah begini rasanya saat datang bersama seorang kekasih lalu berkumpul bersama?

"Hahhhh?! Ternyata itu kekasihnya!?"

"Tidak mungkin!"

"Tapi serasi sih.."

"Biasa aja."

Desas-desus orang-orang yang mulai mengomentari dirinya, seketika membuatnya sedikit awkward, apalagi bila mereka semua menatap Sakura dengan pandangan menilai, ingin sekali rasanya wanita itu segera pergi dan mencari tempat yang sekiranya lebih nyaman. Ia menggigit bibir bagian dalamnya. Tidak. Kenapa dirinya mendadak jadi bermental lemah seperti ini?

Santai saja Sakura, kau pasti bisa! Abaikan gumaman-gumaman itu, pikirnya berusaha tenang.

"Hn. Aku kekasihnya. Sasuke Uchiha. Salam kenal." ucap Sasuke singkat, padat, dan jelas pada teman-teman wanita pink di hadapannya. Dan menekankan sedikit maksud dari kata 'kekasih' untuk orang-orang yang tadi berkomentar agar mendengar dengan jelas.

Setelah beberapa detik saat Sasuke memulai perkenalan juga maksud tujuannya datang bersamanya, membuat Sakura mau tak mau melirik pelan pada Sasuke. Sedikit terhenyak, nyatanya onyx itu pun balas menatapnya dan menghadirkan sebuah senyum tipis.

Deg!

Sakura sangat yakin pipinya pasti bersemu merah saat ini.

Kenapa di saat semuanya sudah ingin berakhir, Sasuke malah menghadirkan suatu kenangan manis yang membekas baginya? Ini sulit.

"Aku Ino Yamanaka, salam kenal, Sasuke!" balas Ino ramah sambil tersenyum manis.

"Tenten Mitarashi-desu! Yoroshiku ne!" ucap Tenten ceria.

"Hyuuga Neji. Salam kenal." Neji berujar dingin.

Mungkin, pria bermarga Hyuuga itu sedikit tak suka akibat insiden Tenten tadi, yang baru pertama melihat langsung memuji seperti itu pada pria ini.

Sementara Ino, tidak bosan-bosannya melihat wajah Sasuke. Bukan karena cinta melainkan ia berusaha mengingat sesuatu yang begitu familiar akhir-akhir ini di otaknya, yang ada sangkut pautnya dengan Sasuke. Tapi apa?

Dan Sakura resah sekaligus bingung sendiri ditempatnya. Pikiran negatif mulai menyeruak masuk dalam benak kecilnya.

Kenapa Ino melihat Sasuke seperti itu?

Apa dia curiga?

Tangannya tanpa sadar memainkan ujung kuku jarinya dengan cemas.

Semua gelagat Sakura tentu saja tidak lepas dari onyx hitam kelam milik Sasuke, pria itu melihat Sakura yang sepertinya gelisah dan mendengus kecil. Wanita itu bukankah pernah memperingatkannya supaya terlihat tidak mencurigakan? tapi kenapa malah gadis itu sendiri yang terlihat mencurigakan?

Brak!

Meja cafe tiba-tiba digebrak tidak santai oleh Ino membuat semuanya yang ada di cafe menoleh dengan pandangan jengkel.

"HA! Sekarang aku tahu siapa kekasihmu ini."

Jantung Sakura berdegup kencang dan menatap Ino dengan pandangan cemas. Bibirnya tiba-tiba terasa kering. Apa Ino tahu kalau Sasuke sudah punya kekasih? pikirnya tiba-tiba kacau.

.

.

.

That One Person, You

Naruto © Masashi Kishimoto

Story by cimoeleventy

AU, OOC, misstypo everywhere, bahasa campur aduk, alur kecepetan, de-el-el.

Genres: Romance, Drama.

Main pair: SasuSaku

.

.

.

Pria berambut raven sendiri terlihat biasa-biasa saja. Ia masih duduk dengan tenang, tidak terlihat satu pun gelagat panik atau apapun itu. Tidak mungkin wanita pirang ini tahu sesuatu apapun tentang dirinya. Ia adalah pribadi yang tertutup pada media, terutama untuk urusan kekasih.

"Aku ingat! Dia kan Sasuke si polisi tampan yang lagi booming masuk tv akhir-akhir ini! Iya nggak sih, Ten?"

Penuturan Ino bisa membuat Sakura yang tidak sadar menahan napasnya bisa menghembuskannya dengan lega.

Dasar Ino. Bikin jantungan aja sih, rutuknya kesal dalam hati.

"Eh? Masa sih?" tanya Tenten sedikit tak percaya.

"Iyaa! Aku nge-fans loh sama Sasuke, Sakura! Kau beruntung sekali ya dapat Sasuke—Sai!"

Tangan kanan Ino terangkat sedikit ke belakang Tenten untuk memanggil kekasihnya yang bernama Sai itu untuk bergabung kemari.

Pria berambut eboni itu lantas melajukan langkahnya untuk sampai ke meja 67. Sedikit terburu, karena ia sangat menyesal—telat dari waktu yang ditentukan Ino. Tapi apa yang bisa ia lakukan kalau dalam menuju perjalanan ke sini jalanan sangat macet, tidak seperti biasanya.

"Maaf semuanya jika aku lama." Sai berujar dengan nada menyesal lalu mendudukan dirinya di sebelah Ino.

Kalau saja tidak ada kehadiran Sasuke dan Sakura, mungkin Ino sudah mengomel dengan retetan panjang. Berhubung mood-nya masih dalam keadaan bagus. Wanita berambut pirang itu berkata dengan nada seperti seorang fangirl yang sedang bertemu idola di depan mata.

"Sai, lihat deh! Benar apa katamu dia menawan. Hyaa~"

Sai mengernyit tak paham lalu mengikuti arah pandang sang kekasih yang sedang menatap seseorang di hadapan mereka. Raut kaget seketika terpampang jelas saat melihat sosok pria itu di hadapannya.

"Uchiha-san?"

Alis Sasuke mengernyit samar. Sepertinya pria itu juga familiar dengan wajah Sai.

"Kau.."

Pria berkulit pucat itu tersenyum hangat sampai matanya menyipit lalu sedikit ber-ojigi.

"Aku Sai dari divisi bawahanmu. Kita pernah bertemu beberapa kali," lalu masih dengan wajah ramah ia meneruskan perkataannya ketika melihat Sakura. "Kukira kekasihmu yang rambutnya berwarna merah, tahunya aku salah lihat, ternyata warna pink. Dan kebetulan sekali ya, Ino dan Sakura adalah teman baik."

Ino menoleh dengan pandangan heran, "Merah?"

Sasuke memang masih duduk dengan tenang, tapi tatapannya detik demi detik berubah menjadi sedikit tajam menatap pada satu inti. Sai. Apa-apaan senyum bodoh dan kalimatnya itu? Penuturannya kenapa seakan-akan ingin memojokannya. Ia lupa dan baru ingat, Karin memang pernah datang sekali tanpa diminta ke kantornya. Itu pun sudah lama sekali, sebelum Karin pergi ke New York. Dan ia yakin bahwa waktu itu sudah sangat sepi sekali.

"Haha, aku melihat Uchiha-san menggandeng Sakura dari belakang dan sekelebat saja. Wajar, bila aku salah mengondisikan warna rambut. Lagipula hari itu sudah gelap sekali." jelasnya masih menampakkan seulas senyumnya pada Ino.

"Benarkah kau seperti itu Sakura?"

Ino menyipit menatap Sakura, seakan-akan meminta penjelasan yang sejelas-jelasnya.

"Ah? I-iya. Itu satu bulan yang lalu kalau tidak salah. Kukira tak ada yang melihat aku jadi malu.." Sakura berujar gugup. Matanya sedikit melirik pada Sai yang masih menampakkan senyumnya itu.

Ada apa dengan Sai? Apa dia tahu sesuatu? Tapi kalau memang dia tahu Sasuke sudah memiliki pacar, kenapa malah seakan menutupinya bahwa itu adalah dirinya? Pertanyaan itu masih tersimpan dengan rapih di benak milik Sakura tanpa terucap sedikitpun. Ia lirik juga Sasuke lewat ekor matanya. Pandangan pria itu pun sama; masih tertuju ke arah Sai.

"Sejak kapan kalian berpacaran?"

Baguslah. Tenten mengalihkan suasana yang mungkin terkesan agak kaku beberapa saat, membuat Sakura bisa rileks sedikit.

"Iya, sejak kapan?" tanya Ino juga dengan pandangan ingin tahu.

"6 bulan yang lalu." / "5 bulan yang lalu."

Sasuke dan Sakura menjawab serempak tanpa terduga. Membuat mereka berdua menoleh dengan sedikit kaget. Sementara Ino, Tenten, dan Neji mengkerutkan alisnya dengan bingung. Sai sendiri sekarang tampak menikmati hidangan daging steak yang tersaji dengan tenang. Rautnya nampak biasa saja.

"Sakura orang yang pelupa. Aku yang benar. Kami sudah 6 bulan menjalani hubungan ini. Iya kan..'sayang' ?"

Tangan putih milik Sasuke tiba-tiba terulur untuk mengambil sehelai rambut Sakura yang melewati batas dahi dan menyingkirkannya pada cuping telinga wanita itu. Sakura tiba-tiba terpaku akan perlakuannya. Baru kali ini. Baru kali ini emerald miliknya melihat sosok Sasuke, orang yang selama ini selalu ketus dan dingin kepadanya kini berubah 180 derajat menjadi sosok malaikat dengan senyum menawan. Dan baru kali ini juga hatinya bisa menerima perlakukan yang terkesan agak romantis tanpa berlebihan oleh seorang pria, meskipun hanya sandiwara. Ya. Sandiwara yang perfect, sampai-sampai membuat pipinya merona dengan jantung yang terus berpacu. Ia tersenyum getir.

"Iya. Maafkan aku ya.. sayang.."

Sakura menunduk.

Ada apa? Kenapa hatinya juga harus ikut andil dalam drama konyol ini? Sakura sudah mengingatkan beribu kali sedaritadi pada hatinya bahwa ini hanya pura-pura. Bukankah dirinya sendiri yang meminta Sasuke untuk bersikap tidak mencurigakan di hadapan teman-temannya? Bukankah seharusnya ia merasa senang sekarang? Mereka semua percaya akan akting bagusnya, juga Sasuke. Tapi.. kenapa didalam hati kecilnya ia ingin egois, berharap bahwa pria itu akan mencintainya dengan tulus seperti ini. Meskipun mustahil, tanpa sadar ia berharap.

"Oohh so sweett!" komentar Ino dengan berbinar-binar.

"Eh, tidak apa-apa ko, Saki! Sasuke pasti memaafkanmu, Neji-kun kadang juga seperti itu. Dan aku akan dengan mudah memaafkannya."

Tenten berusaha menenangkan Sakura yang nampak murung di pandangannya. Neji yang mendengarnya hanya mendengus kecil.

"Hah? Bukankah kau sendiri Tenten yang pelupa?" Ino kembali menyahut dengan heran.

"Masa sih aku begitu.."

"Huu! Dasar!" Ino tertawa kecil sambil menyeruput minumannya yang sempat terabaikan. Aquamarine miliknya tidak sengaja menemukan sesuatu yang menarik. Yaitu sebuah cincin perak yang menghiasi jari manis Sasuke.

"Eh? Sasuke... pakai cincin? Kenapa kau tidak, Saki?" tanya Ino heran.

Sai yang ada disamping Ino menatap ke arah mereka berdua seakan menunggu konfirmasi jawaban. Begitu juga Tenten dan Neji.

"Ah? Aku..." Emerald itu melirik sekilas ke arah Sasuke. Sedikit terkejut juga mendapati pertanyaan tidak terduga ini, "Cincinku... tidak sengaja waktu itu jatuh ke selokan saat aku berlari. Tapi, Sasuke itu pengertian, dia bilang; tidak apa-apa. Yang penting 'kan hatinya bukan dilihat dari cincinnya." jelasnya susah payah.

Sasuke sendiri nampak acuh dengan mendengus dan memberikan seringainya saat mendengar kebohongan lancar wanita di sampingnya. Pria itu tak berkomentar apapun seolah-olah menyetujui apa yang diucapkan 'kekasih pura-puranya' itu dan mulai mengambil beberapa daging serta sushi yang ada di hadapannya.

"Awww! Manisnyaaa..."

Lagi-lagi Ino berkomentar jahil. Sampai suatu ingatan penting tiba-tiba meluncur didalam kepalanya. Ia menepuk jidatnya dan mengambil sesuatu dari tas yang dibawanya.

"Hampir saja lupa. Nih."

Tangan mulus milik wanita berambut pirang seksi itu menyodorkan dua buah kertas undangan masing-masing kepada Tenten dan Sakura. Kenapa dua? Karena, Ino pikir satu undangan saja sudah cukup bagi orang yang sudah berpasangan, bukan?

"Itu undangan pernikahanku dengan Sai- kun. Jangan lupa datang ya! Gandeng pasangan masing-masing. Neji dan Sasuke! Kalian harus menemani mereka. Titik."

"Wahh~ Lucu ya.." puji Tenten saat menerima undangan itu.

"Terima kasih~"

Semua terasa hambar sekarang di indera pendengaran Sakura saat mendengar penuturan dari Ino. Bisa saja memang, dia memaksa pria itu lagi untuk mendatangi pesta pernikahan sahabatnya. Tapi, apa Sasuke mau? Dirinya hanya memberi kesepakatan untuk menjalin hubungan kepalsuan ini sampai di sini saja. Lalu, bagaimana?

Dengan tatapan kosong ia membaca isi dari undangan itu.

Mokuto Sai and Yamanaka Ino.

Invites you, Haruno Sakura to wedding party.

"Maaf kalau tak ada nama Sasuke ya. Soalnya kau kan menolak untuk memberitahuku, padahal aku bertanya untuk ini. Kutunggu undangan menyusul dari kalian berdua, hehe. "

Sakura hanya tersenyum hambar menanggapi gurauan penuh makna dari sahabat pirangnya itu. Digulirkan pandangannya pada sosok Sasuke yang sedang mengunyah makanan dengan tenang.

.

.

…That One Person, You…

.

.

"Tugasmu sudah selesai. Terimakasih." ucap Sakura pelan. Dalam hati merutuk kenapa nadanya jadi terdengar aneh.

Mereka sudah pulang. Dan Sakura sedang berada dalam mobil milik pria itu. Sasuke sendiri yang mengusulkan bahwa ia yang akan menjemputnya ke rumah, setelah dirinya memberi tahu alamatnya, tentu saja.

Kepala gadis itu dipenuhi berbagai macam pikiran-pikiran aneh yang sebenarnya tak ingin dia pikirkan, tapi sedikit demi sedikit walaupun enggan, pikiran itu mulai menyeruak masuk, membuat dia sendiri juga bingung. Entah kenapa hari ini terasa begitu.. indah untuknya. Dan dia tidak ingin hari ini cepat berlalu begitu saja.

"Hn."

"Kau sendiri bagaimana?"

"Apanya?"

Sakura menghela napas, lalu membuang pandangannya pada jendela samping. Air tiba-tiba turun menciptakan bintik-bintik kecil pada kaca mobil, dan tak lama menjadi aliran yang deras. Hujan turun. Dan Sakura merasa bahwa itu adalah gambaran suasana hatinya saat ini. Ia suka menikmati kondisi ini dengan beberapa obrolan kecil dalam hujan, berdua dengan.. Sasuke.

"Apa keluargamu benar-benar membenciku dengan perbuatanku kemarin malam?"

Pertanyaan itu meluncur bebas begitu saja tanpa bisa ditahan oleh Sakura. Dia juga bingung, kenapa ingin tahu jawaban yang mungkin sudah bisa ditebak sendiri dalam hatinya?

Tidak.

Jawaban yang diberikan pria itulah yang benar-benar bisa membuatnya percaya, bahwa ia memang benar. Bukan dugaan semata.

Dua detik dalam kehingan membuat jantung Sakura entah kenapa berpacu untuk mendengar jawaban Sasuke.

Aneh.

Kenapa dirinya menjadi takut menerima kenyataan kalau dia tidak akan berhubungan lagi dengan pria itu?

"Hn.. Sepertinya."

Dan setelahnya, hati kecilnya pun mencelos begitu saja.

"Ayame melarangku untuk melanjutkan hubunganku denganmu yang dikiranya sungguhan." lanjut Sasuke tanpa menoleh pada fokus menyetirnya.

"Begitu ya.." gumam Sakura agak kecewa.

Onyx itu melirik sedikit ke arah samping."Hn?"

Wanita berambut pink itu membenahkan posisi duduknya dengan benar. Agak sedikit salah tingkah ia mencoba menjelaskan supaya Sasuke tidak curiga.

"Ah tidak! M-maksudku, bagus lah! Berarti aktingku hebat kan? Sampai-sampai kakak iparmu langsung percaya dan tidak suka padaku."

Sasuke kembali fokus sepenuhnya kejalan. Dia mendengus kecil sebelum menjawab, "Iya."

Sakura agak bernapas lega. Dengan hati-hati.. ia mengeluarkan pertanyaan yang sedari tadi terpendam menyiksa batin. Dia mengembuskan napas sedikit lalu menatap lekat-lekat sosok pria yang membuat jantungnya terus meronta jika didekatnya.. jika melihatnya.. dan jika.. mendengar suaranya.

Entah darimana perasaan ini tumbuh.

Apakah karena senyum indah dan tatapan lembutnya tadi? Tapi kenapa... padahal Sasuke cuma pura-pura. Sebenarnya ia sudah sering menonton drama picisan ini berulang-ulang di tv. Sakura juga tidak menyangka bahwa sekarang. Saat ini. Ia benar-benar merasakannya. Pernah terlintas dalam otaknya ia berpikir, Sasuke akan sama saja dengan makhluk bernama cowok lainnya. Nyatanya, tidak. Entahlah, ia tidak tahu bagaimana ia bisa menyimpulkan secepat ini. Bahkan mengenal pria itu secara intens pun belum.

Apa yang membuatnya bisa menyimpulkan secepat itu?

Begitu banyak tanda tanya berputar dalam otaknya. Apa mungkin karena sifat tulus Sasuke yang bisa mencintai satu wanita di benaknya. Dan menurutnya pria itu adalah salah satu dari sekian banyak lelaki yang hanya akan mencintai satu wanita dalam hidupnya. Mungkin, pepatah yang mengatakan bahwa semuanya bisa terbaca oleh mata, wanita itu akan menyetujuinya. Sasuke adalah sosok pria ysng rela melakukan apapun untuk memperjuangkan wanita beruntung itu. Dan Karin, adalah orangnya.

Wanita cantik itu tersenyum kecil.

Tapi...

Ia pegang dadanya yang sedang mengeluarkan gemuruh kecil.

... Apa beginikah rasanya jatuh cinta?

Kenapa begitu.. mendebarkan dan menyakitkan di waktu yang bersamaan?

"Jadi... kau akan melanjutkan hubunganmu yang tertunda dengan Karin?"

Ia gigit bibir bawahnya, bersiap apapun dengan ucapan Sasuke nanti.

"Ya. Dan aku akan berencana pindah dalam waktu dekat. Menyusulnya."

Sial!

Kenapa pandangannya jadi memburam seperti ini?

Wanita itu membuang kembali pandangannya pada jendela mobil, ia bertanya dengan helaan napas. Berusaha agar suaranya tidak bergetar saat berbicara.

"B-benarkah?"

Pria itu tidak menyadarinya. Mungkin, Sakura bertanya padanya hanya untuk basa-basi; menghilangkan keheningan yang bisa saja tercipta. Mengingat Sasuke adalah pria yang sangat acuh dan tidak mau tahu urusan pribadi orang lain.

"Hn. Ke New York." jawabnya.

Emerald itu mengamati setiap aliran air hujan yang turun mengalir pada kaca jendela di sampingnya. Pandangannya sayu. Ia angkat telunjuknya dan mengikuti aliran itu, bibirnya membentuk sebuah senyum getir.

"Menurutmu.. apa kita masih bisa bertemu lagi?"

Sekali lagi, onyx itu melirik wanita yang duduk disamping kanannya. Meski sedikit agak aneh ia tetap menjawab.

"Hn. Mungkin."

Tes.

Dan setitik air mata lolos begitu saja.

Kenapa rasanya tidak rela? Kenapa rasanya kurang?

.

.

…That One Person, You…

.

.

"Tadaima."

Suara baritone berat terdengar dari arah luar. Kemudian sesosok pria tampan berkemeja semi santai itu pun hadir dalam kediamanan ruang tamu uchiha.

"Okaeri.. Oh? Sasuke? Kau sudah memutuskannya kan?"

Tiba-tiba wanita berambut coklat panjang menyerukan pertanyaan, membuat lelaki disampingnya—yang sedang memangku seorang bocah laki-laki—mengerutkan keningnya.

"Hah? Memutuskan siapa?" tanya pria berambut raven dengan dua garis mata di bawah matanya dengan bingung.

Ayame melirik malas pada Itachi—pria dengan dua garis di bawah matanya.

"Gadis pinky itu. Ia sangat tidak sopan. Datang kemari dalam keadaan mabuk lalu menyuruh Ibu suntik botox dan mengkritik tentang mataku supaya di perbesar sedikit." jelasnya, sedikit ada nada emosi terselubung di sana saat mengingat kejadian sehari yang lalu.

Bocah lelaki tampan turun dari pangkuan Itachi dan menghampiri Sasuke dengan pandangan sedih.

"Yahh... Paman Sasuke putus dengan Bibi cantik itu? Padahal Yuki belum sempat bermain dengannya.."

Ayame menghampiri anaknya itu, dan mengelus rambutnya perlahan, mencoba memberi pemahaman agar bocah itu bisa mengerti.

"Yuki.. Bibi itu bukan wanita baik-baik."

Tangan kecil milik Yuki menepis tangan Ibunya pelan. Ia berlari ke hadapan Mikoto yang sedang duduk tenang menonton televisi tanpa mau ambil pusing dalam pembicaraan ini. Tubuhnya ia naikkan pada sofa dan memeluk leher neneknya itu. Memberi pengaduan atas hatinya yang tiba-tiba sedih. Tidak tahu kenapa, Yuki sepertinya sangat menyukai Sakura.

"Obaachan! Paman putus dengan Bibi itu.."

Tangan lembut milik Mikoto mengelus rambut tebal milik Yuki. Ia tersenyum menenangkan. "Pamanmu bisa menentukan mana yang terbaik di matanya, sayang.."

"Semuanya.."

Sebuah suara Sasuke tiba-tiba terdengar menginterupsi keadaan yang terjadi dan membuat semuanya yang ada menoleh pada satu pusat. Laki-laki bungsu dari keluarga Uchiha itu menghela napas sesaat.

"Aku ingin menetap beberapa hari di New York. Maaf, jika mendadak."

Karin, kali ini aku benar-benar akan berhasil mengenalkanmu pada keluargaku.

.

.

…That One Person, You…

.

.

Cklek.

"Okaeri—eh? Sakura? Kau kenapa?"

Mebuki terkejut akan raut wajah anaknya yang sudah penuh dengan air mata saat pulang.

"Kaasan..."

Buk!

Sakura kemudian memeluk Ibunya yang ada di hadapannya tanpa berpikir dua kali. Ia butuh sandaran. Butuh mencurahkan segala isi hatinya saat ini dan Mebuki baginya adalah sosok yang tepat.

"Kau kenapa? Di mana laki-laki tampan yang tadi menjemputmu?" tanya Ibu dari anak tunggal Haruno itu pelan.

Kepala merah muda Sakura menggeleng pelan, dia tidak menjawab dan membiarkan air mata penuh kesesakan ini keluar terus menerus. Ia gigit bibir bawahnya keras-keras saat isakan-isakan kecil mulai terdengar.

Mebuki menghela napas, tangannya bergerak untuk balas memeluk dan mengusap puncak kepala merah muda itu. Tidak ingin banyak bertanya, ia tahu anaknya sedang patah hati saat ini. Baru ia lihat Sakura-nya bisa menangis sampai seperti ini hanya karena seorang pria.

.

.

…That One Person, You…

.

.

Sore hari yang indah di negeri paman sam, terutama kota New York. Di sini juga sedang musim gugur, lihatlah daun-daun kering yang berwarna-warni berjatuhan satu-persatu. Membentuk sebuah sampah alami, namun indah jika dipandang.

"Kau kenal pada orang ini?"

Seorang pria oriental berwajah tampan dengan rambut khas raven mencuatnya bertanya tanpa basa-basi menggunakan bahasa inggris pada sekumpulan gadis yang sedang berjalan membawa laptop dan buku. Ia memperlihatkan sebuah foto di layar ponselnya.

"Tentu saja. Dia sangat terkenal di sini."

Salah satu dari mereka menjawab sambil menganggukan kepalanya.

"Kau tahu di mana dia?" tanya pria itu lagi.

"Tidak tahu, tapi sepertinya aku melihat arahnya yang menuju taman belakang sana."

Kali ini, gadis dengan kaca mata yang menjawab. Tangannya mengarah ke arah yang berlawanan arah dengannya. Onyx pria itu mengikuti arah tunjuk gadis itu. Ia pun mengangguk.

"Terima kasih." ucapnya tanpa tersenyum lalu berlalu.

"Kembali." jawab gadis itu masih memperhatikan lekat-lekat sosok pria itu.

"Tampannya ya.."

Salah satu temannya menyenggol yang lain, meminta persetujuan.

"Iya.. Iri sama Karin selalu dapat pria kaya, tampan, dan populer. Padahal dia bukan warga lokal. Selena saja hampir tersaingi."

Dan yang lain mengangguk setuju.

.

.

.

"Ngg... jangan di sini.. nanti kalau ada yang lihat bagaimana?"

Iris merah mencolok milik wanita bernama Karin melirik was-was kesana kemari. Ia tak begitu mengerti, kenapa para pria bule selalu mengikuti hawa nafsunya tanpa tahu tempat. Beberapa detik yang lalu ia baru saja berciuman. Baiklah kalau sekedar berciuman ia tak masalah. Dan ini hal yang lumrah jika dilihat disini. Tapi.. sampai meraba-raba dadanya, sepertinya itu sudah melanggar batas norma kedisiplinan. Ini masih area belajar. Dan ia juga masih tahu malu, mengingat matahari sore masih bersinar.

"C'mon.."

Pria barat itu merajuk dengan bibir yang didekatkan pada leher Karin. Ia hembuskan napas memburunya pada wanita cantik berambut merah itu.

Karin memutar bola matanya jengah. Ia enyahkan jauh-jauh kepala pirang pria itu.

"Nanti malam saja. Di apartemenmu. Kita lakukan sepuasnya. Tapi..." Ia menggantung kalimatnya dan seringai penuh maksud keluar dari bibirnya. "Jangan lupa belikan tas kulit limited edition yang akhir-akhir ini ramai di perbincangkan ya."

Cup.

Pria itu mencium bibir merah menggoda milik Karin.

"Segalanya untukmu, sweetie.."

Ia rangkul wanita manis itu. Tangannya menggenggam tangan halus milik Karin dan mencium tangan wanitanya penuh damba. Mata birunya menatap lekat sosok kekasihnya dengan sungguh-sungguh.

"Pria jepang bernama Sasuke itu, kau singkirkan saja." pintanya.

Karin menghela. Ia genggam balik tangan besar itu. Dirinya membentuk sebuah senyum simpul. "Iya. Nanti, di saat yang tepat."

Enak saja. Aku akan lebih memilih Sasuke dibandingkan dirimu! Aku hanya memanfaatkan dompet tebalmu dan muka tenarmu di sini, bodoh!

Baru saja kedua pasang insan kekasih itu mendekatkan kepalanya untuk berciuman, sebuah suara menginterupsi kegiatan mereka. Orang itu mendengus, tangannya terkepal dan rahangnya mengeras.

"Tak usah repot-repot. Aku yang akan memutuskanmu langsung. Di sini dan di hadapan pria brengsek ini." ucap pria itu kemudian dengan tatapan tajam mengarah ke keduanya.

Mata merah milik Karin membulat kaget, sedangkan pria disampingnya hanya mengerutkan kening. Tidak paham. Karena pria asia itu menggunakan bahasa jepang.

Karin berdiri dan melepas genggamannya pada pria barat itu.

"S-Sasuke? Kenapa kau..?"

Pria tampan bernama Sasuke itu kembali mendengus. Kedua tangan masih terkepal dan ia melangkahkan laju langkahnya setapak demi setapak mendekati Karin berada. Tatapan tajamnya masih mengarah ke arah Karin, membuat wanita itu agak sedikit limbung dan juga takut.

Bagaimana ia sampai bisa tidak tahu Sasuke akan menyusulnya kemari? Dan... kenapa tiba-tiba tanpa memberi kabar sedikit pun? Apa Naruto sudah membocorkan rahasianya yang tidak-tidak?

"Hebat sekali kau. Sudah berapa lama aku tak sadar akan sikapmu dibelakangku selama ini, hn? Sudah berapa banyak pria yang jadi korbanmu, eh?" ucap Sasuke, sedikit ada nada getir dalam ucapannya.

Pria itu menyesal sekarang tidak menghiraukan perkataan sahabat pirangnya tentang Karin. Dan sekarang beginilah memang Karin yang sesungguhnya. Wanita licik dan brengsek. Kenapa ia bisa menutup mata akan kemungkinan yang terjadi seperti ini?

Apa karena cintanya yang tulus dan terlalu besar terhadap Karin, yang membutakannya selama berbulan-bulan lamanya? Pria itu merutuk dirinya sendiri sekarang.

"Tunggu. Aku b-bisa j-jelaskan." Karin berujar cepat sedikit gugup sambil menatap dua pria di depan dan sampingnya dengan khawatir.

"Silahkan jelaskan." jawab Sasuke dingin.

Karin melirik ke kanan dan ke kiri bingung akan penjelasan seperti apa yang perlu di ucapkannya. Ia gigit bibir bawahnya.

"P-Pria ini itu.. d-dia hanya... t-teman—"

"Kau Sasuke? Baguslah. Sweetie, jelaskan pada dia bahwa aku adalah pacarmu sekarang."

Ternyata bule ini baru menyadari situasi setelah berpusing-pusing menangkap arti dari bahasa tubuh mereka. Ia tersenyum mengejek pada Sasuke. Dan merangkul wanita bernama Karin yang merupakan kekasihnya dengan mesra.

"Kau! Ergh!" geram Karin putus asa juga bingung.

"Oh, pacarmu ya?" Sasuke mendecih. "Kau tahu kenapa aku ke sini sekarang?"

Tangan Sasuke yang mengepal membuka kotak beludru kecil berwarna merah dan terlihatlah sebuah cincin berlian itu di dalamnya. Ia ambil cincin itu dari kotaknya dan menunjukannya benar-benar di hadapan Karin dan pria itu sekalian.

"Aku ingin memberikanmu ini. Tapi saying, sepertinya sudah tak berguna lagi."

Lalu selanjutnya, Sasuke melemparkan jauh-jauh cincin mahal itu tanpa berpikir dua kali. Emosi menyelimutinya saat tentu saja terkejut menatap kelakuan yang barusan dilakukan oleh Sasuke. Ia maju satu langkah sampai mereka benar-benar mendekat. Baru Karin sadari, pandangan menajam itu sekarang berubah jadi sendu.

"Kurasa ini adalah pertemuan terakhir kita. Dan aku janji. Seperti permintaanmu dulu, aku takkan pernah mengganggumu lagi untuk 'kuliah' di negeri ini."

Setelah mendengar itu Karin menunduk dengan rasa bersalah. Ia tak tahu harus bersikap bagaimana sekarang. Karin memang sempat memperingatkan Sasuke untuk tidak mengganggunya jika ia benar-benar sudah tinggal di sini, ia beralasan ingin sungguh-sungguh belajar dan supaya cepat menyelesaikan kuliahnya dalam waktu singkat. Dan sekarang, entah kenapa ia menyesal saat menyadari kalau Sasuke memang benar-benar menuruti permintaannya tanpa curiga sedikitpun.

BUAGH!

"SASUKE!?"

Mata merah giok milik Karin kembali membulat saat dirasakannya pria barat yang sempat merangkulnya kini tumbang dengan suara pukulan pada pipi yang sangat jelas di indera telinganya. Ia sudah tak kuasa menahan air matanya lagi.

"Tch. Kau pantas mendapatkannya, keparat!"

Sasuke kembali menendang pria yang sudah jatuh tersungkur tanpa rasa kasihan sedikitpun. Kali ini emosi dan amarah benar-benar menguasainya.

"Sasuke...!" Karin menahan kaki panjang milik Sasuke dengan berlutut, ia dongakkan pandangannya yang penuh air mata itu. "Kumohon.. maafkan aku.. aku menyesal. Aku janji.. akan berubah tapi jangan tinggalkan aku! Kumohon.. Sasukeee...hiks.. hiks!"

Wanita itu benar-benar menyesal sekarang, ia berjanji pada dirinya sendiri jika Sasuke mau memaafkannya, ia akan berubah. Benar-benar berubah. Ia takut ditinggalkan oleh pria itu dalam hidupnya. Di satu sisi ia memang memanfaatkannya, tapi di sisi lain.. sekarang.. ia benar-benar mencintai pria itu. Sangat.

Rahang Sasuke bergemulutuk. Ia singkirkan dengan kasar kepala wanita yang sempat ada di hatinya itu.

"Minggir."

Dan berhasil, Karin pun menyingkir dari hadapannya tapi suara tangis dan ucapan memohonnya masih sangat bisa terdengar jelas di indera telinganya. Pria itu memejamkan mata dan melangkahkan kakinya lebar-lebar dari tempat ini.

Sial.

Air apa ini yang jatuh dari kedua matanya?

Sasuke mengusapnya cepat dan menghembuskan napasnya kasar.

"Arghhh!"

Buagh!

Tangannya memukul salah satu pohon besar untuk melampiaskannya. Tak peduli bahwa tangan putih itu akan memar atau berdarah sekalipun. Rasa benci juga sakit hati terus menerus bertubi-tubi datang di hatinya ketika mengingat kejadian tadi.

Sasuke mendecih untuk kesekian kalinya. "Kau brengsek Karin."

TBC

a/n:

As-ta-ga part apa inii #ngumpet sumpah gak jago bikin scene galaauuuu masaa #padahalseringgalau #gananyathor yaudahlah nikmati aja yaa adegan penuh sinteron ini hehe :v

Yosh! Seperti biasa aku akan balas review yang ada dari kalian :)

AmmaAyden : halo jugaa Amma-san :) baca pen nama aku sendiri jadi gimanaa gitu XD haha, kalau kesusahan bisa panggil aku dengan rosa aja :) btw, itu nama asli dan aku orang biasa kok. Terima kasih pujiannya ya, padahal masih bnyk kekurangannya gini dan aku juga seneng kalo banyak yg suka sama ini ff.

Hetti-Chan : Aku gak php kaan? buktinya nih udh update. Mksh ya udh mau nunggu.

catleaf : duh, kayaknya untuk adegan Sakura interaksi dgn keluarga Sasuke cukup sampai kemarin saja yaa :D dan makasih udah suka sama karakter Sakura di sini :)

jcook0601 : sankyuu buat semangatnya ya^^ huaa aku apdet sesuai mood nih.. gimana ya?

Nita Shuhei : ini bukan termasuk hiatus kaann? author cuma menghilang beberapa minggu aja (?) iya, semoga nanti Sakura-chan bisa membuat Sasuke move on yak.

kakikuda : baca komenanmu ko aku nyengir ya berasa ff ku aneh atau terlalu kenceng alurnya sampe2 kebohongannya udah harus terbongkar di awal-awal chapter XD yahh gpp ya semoga bisa menghibur aja :v #ditendang Iyaa itu Karin yang menjadi penolong buat Sasuke waktu itu :) Makasih udah suka sama scene-nya yg chapter kemarin dan semoga suka juga yg ini.

williewillydoo : Masa sih? Nggak jahat cuma kejem aja dia #apabedanya #plak

Ss : tenang aja, aku juga ga suka kalo karakter Sakura dibuat lemah kayak gitu (?) kuusahain semoga nanti endingnya manis ya :) hehe

KujyoNozara : Hmmmm, jadi merasa payah nih kayaknya Sasuke OOC banget yah :v ? terima kasih buat semangatnya :) aku apdet sesuai moodd.. gimana dong?

donat bunder : penasarannya karna apa tuh? wahh kalo mebuki-kizashi diadain, tamatnya jadi panjang dong.. mungkin ada, tapi gak bakal banyak.

KanonAiko : Iya tuh Sak dengerin #ehapa? haha :D hmmm kayaknya di chapter ini Sasuke belum menunjukan rasa apapun pada Sakura-chann :( sebenernya aku gak tega ngebuat Sasuke seakan-akan tertindas di chapter ini.. tapi apa boleh buat? #dichidoriSasuke semoga suka chapter ini ya ^^

Laifa: iya Sasuke dengerin tuh, lupain Karin *krik krik* readers baru dong ya kalo baru baca? selamat datang (?) di cerita abalku dan syukurlah kalo menurut kamu seru yaa. Terima kasih semangatnya dan semoga chapter ini gak mengecewakan ya :)

fujiwaraa: Saku-chan gak mabuk kok, cuma pura-pura mabuk aja (?) masa sih jarang ada padahal kyknya ide beginian pasaran bgt tau #hiks lanjutannya semoga suka ya ^^

sitilafifah989 : hmmm.. mungkin karena Karin adalah perempuan pertama yang membuatnya manjadi sosok yang berharga dalam hidupnya kali ya, jadi Sasuke seakan dibutakan oleh cinta :)

Nurulita as Lita-san : Haha semoga suka lanjutannya ini ya :) Hidup SasuSaku :v