Baekhyun mengambil cincin putih berkilauan itu. Tampak besar. Matanya berbinar-binar. Jujur, Baekhyun suka dengan cincin ini. Ia hapal selera Jongin dalam memilih suatu hal.
"Oh iya. Yang menemani Jongin ke mari namanya adalah Kim Minseok. Tak kukira kakak Jongin wajahnya begitu tidak mirip."
Kim Minseok? Dahi Baekhyun berkerut. Dimasukkan benda mahal itu ke jari manisnya. Matanya membulat saat itu juga. Jantungnya memompa darah dengan cepat.
"Kyungsoo."
Kyungsoo bersandar di brangkas itu. "Ya?"
"Kim Minseok bukan kakak Jongin…," air matanya menetes. Siapa Kim Minseok? Tiba-tiba dada Baekhyun terasa sesak.
"Mungkin saudaranya," Kyungsoo menyaggah dengan enteng. Baekhyun menggeleng.
"Cincin ini terlalu besar untukku," ia melepaskan benda mahal itu dan mengembalikannya ke tempatnya semula. "Sepertinya ini bukan untukku, Kyungsoo-ya. Jongin tahu betul ukuran cincinku."
Dan kemudian hening menyelimuti mereka. Kyungsoo mengerutkan keningnya. Jadi, benar Jongin memutuskan Baekhyun?
.
.
Pergi dan Lari
By CekerJongin2
Gender switch, typo(s), absurd
Standard disclaimer applied
Note: {{… adalah flashback on…}}flashback off
Recommended song:
Speak now by Taylor Swift
Happy reading!
.
Chapter 2: I'll be your hero.
.
.
"Jika ini bukan untukmu lantas untuk siapa?"
"Mungkin untuk Kim Minseok?" gadis itu tersenyum pedih dan menyerahkan kotak merah hati itu kepada Kyungsoo.
"Baek… mungkin kekasih Minseok tidak dapat menemani gadis itu. Sehingga Jongin menemaninya."
Baekhyun menggeleng masih dengan senyumannya. Membuat Kyungsoo merasa bersalah.
"Tidak mungkin, Kyungsoo. Sesibuk apa pun sang pria ia akan menemani kekasihnya untuk memilih cincin. Lagi pula ini terlihat seperti cincin pernikahan."
"Jangan bicara macam-macam, Baek!" Kyungsoo membentaknya karena emosi.
"Kyungsoo, ini kenyataan. Kenyataan pahit. Jongin akan menikah dengan Minseok. Bukan aku," suara Baekhyun terdengar bergetar di akhir kalimatnya. Tapi, gadis itu masih tersenyum.
"Jangan bicara yang tidak-tidak," Kyungsoo menghelan napas. "Coba kau tanyakan Jongin."
Baekhyun mengangguk. "Terima kasih, Kyungsoo."
.
.
.
Setibanya di rumah, Baekhyun langsung menelpon Jongin. Tapi, yang didengarnya hanyalah suara operator yang mengatakan bahwa nomer tersebut sedang tidak aktif.
Baekhyun menghela napas kecewa. Apa ini artinya Jongin ingin menghindarinya? Gadis itu memijat keningnya. Pusing menderanya. Sebenarnya, ia masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada mereka. Yang ia tahu mereka putus. Ya, putus begitu saja.
Di kampus tadi dia juga tidak bertemu dengan lelaki tampan itu. Biasanya setiap ada kesempatan mereka pasti bertemu. Entah di tempat parkir, di perpustakaan, di kantin, atau bahkan di tempat-tempat tak lazim.
Apa Jongin sakit? Siapa Kim Minseok itu?
.
.
.
Siang itu Baekhyun terduduk di kantin. Kemarin gadis itu menelpon sahabat Jongin ini. Tapi, Sehun sedang mengerjakan tugas dengan deadline besok. Padahal Baekhyun belum sempat bertanya. Sehingga mereka berdua memutuskan untuk bertemu siang ini.
Segelas jus strawberry-nya sudah hampir kosong. Tapi Sehun belum menampakkan batang hidungnya. Dilihat jam berwarna biru muda di tangan kanannya.
Waktu makan siang akan segera berakhir.
"Apa kau sudah menunggu lama, noona?" Baekhyun menoleh ke sumber suara itu. Seorang pemuda kurus dengan kemeja putih dan sweater coklat. Dia Sehun.
"Makan siang akan segera berakhir dan kau masih bertanya seperti itu huh? Aku sudah menunggumu di sini bertahun-tahun! Dasar Oh Sehun jam karet! Dari mana saja kau?" omelnya panjang lebar tinggi yang hanya ditanggapi kekehan oleh Sehun.
"Maaf, noona. Aku sedang banyak tugas," pemuda tampan itu meletakkan barang-barangnya. Sepertinya ia memang sedang banyak tugas. Baekhyun menatapnya menyelidik.
"Ngomong-ngomong kau perlu apa denganku? Tumben sekali," cibirnya. Air wajah Baekhyun berubah menjadi serius. Ditatapnya manik coklat milik Sehun.
"Langsung saja, kau tahu siapa Kim Minseok?"
"Tentu saja aku tahu. Dia tetanggaku dulu. Ditambah dia akan menikah dengan Jongin," Sehun menjawab dengan begitu santai. Seakan Jongin bukan siapa-siapa bagi Baekhyun. Seakan Baekhyun tidak sakit mendengar penjelasan itu.
Hatinya remuk. Jongin dan Kim Minseok akan menikah. Itu kah alasan dia memutuskanku? Matanya memanas. Diremasnya ujung rok soft orange-nya. Dengan sekuat tenaga Baekhyun menahan air matanya.
"Jadi… itu alasan dia memutuskanku kemarin lusa."
"Kalian baru saja putus?"
Baekhyun mengangguk lemah. Sungguh ia tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi dalam hidupnya.
"Kupikir Jongin telah bercerita kepadamu. Keluarga Jongin telah menjodohkan mereka sejak beberapa bulan yang lalu, noona."
Jongin hanyalah anak lelaki yang penurut. Baekhyun menarik kedua ujung bibirnya. Menyembunyikan segala sakit di dada.
"Kapan mereka akan menikah, Sehun-ah?"
"Jongin tidak mengundangmu?"
Baekhyun menggeleng masih dengan senyuman terpaksanya.
"Mungkin belum terkirim, noona," Sehun mencoba menghiburnya. Sebenarnya diundang atau tidak Baekhyun akan tetap sakit. "Dia akan menikah akhir minggu ini."
Akhir minggu. Jongin akan melepas masa lajangnya. Seharusnya Baekhyun juga senang. Tapi, kenapa ia sedih? Kenapa dadanya begitu sakit? Seperti diserang ribuan pisau.
"Di mana?"
.
.
{{…
"Aku tidak bisa memutuskan Baekhyun, noona," Jongin mengacak-acak rabut hitamnya frustasi.
"Jongin," perempuan berambut panjang itu mengelus bahu adiknya. "Bisa atau tidak kau harus memutuskannya. Kau tau? Hubungan kalian tidak akan berlanjut. Kau akan menikah dengan Minseok."
Lelaki berkemeja kotak-kotak itu menghela napas. Yang dikatakan kakaknya ini benar. Benar sekali. Tidak salah. Yang salah, kenapa ia harus menikah dengan Minseok? Sungguh, ia tidak mencintai perempuan itu. Yang Jongin cintai hanyalah Baekhyun. Ia ingin gadis itu yang menjadi istrinya.
"Aku tahu ini berat untukmu, sayang," Junmyeon -kakak perempuan Jongin- merapikan rambut adiknya itu.
"Kau adalah penerus perusahaan keluarga kita. Kau tidak boleh menikah dengan orang yang salah."
"Baekhyun buka orang yang salah, noona. Ia tepat."
"Turuti kata-kata ayah, dear."
Jongin mendengus kesal. Ia lelah hidup di bawah bayang-bayang ayahnya. Sungguh, kali ini saja ia ingin menentukan pilhannya sendiri.
…}}
.
.
Baekhyun mengigit buku jarinya sambil berjalan ke sana ke mari. Mondar dan mandir membuat Kyungsoo memutar bola matanya kesal. Gadis bermata bulat itu meletakkan gelas coklatnya di meja.
"Baek, bisakah kau duduk?" pinta Kyungsoo yang tidak membuat sahabatnya itu berhenti.
"Aku sedang berpikir, Kyungsoo," sekarang ia berganti pose. Gadis itu mengigit bibir bawahnya dan melipat tangannya. Tapi, tetap saja ia berjalan ke sana ke mari. Membuat Kyungsoo yang sedang menonton tv terganggu.
"Apa yang kau pikirkan? Haruskah kau seperti itu saat berpikir?" dengan secepat kilat Baekhyun mengurucutkan bibirnya mendengar cibiran Kyungsoo.
"Katakan padaku apa yang kau pikirkan. Aku akan membantumu," ibu jarinya menekan warna merah di remote dan membuat TV layar datar itu menghitam.
"Benarkah?" mata Baekhyun berbinar. Ia menghentikan langkah kakinya juga. Ia duduk di samping Kyungsoo.
"Tentu saja," Baekhyun memekik girang dan memeluk Kyungsoo. "Apa yang kau pikirkan, Baek?" Baekhyun melepaskan pelukan itu.
"Aku memikirkan cara untuk menggagalkan pernikahan Jongin," jawabnya dengan senyuman ceria.
"APA?!" mata Kyungsoo melebar sebesar bola tenis.
"Baek, kau tidak gila kan?" gadis berkulit putih itu dengan khawatir memegang kening Baekhyun. Sedangkan sahabatnya itu hanya mendengus.
"Ini yang diinginkan oleh Jongin," sanggahnya dengan wajah tanpa dosa. Kyungsoo mendecak dan menggelengkan kepalanya. Sahabatnya ini sangat mencintai pemuda hitam itu hingga jadi seperti ini. Tidak waras. Gila!
"Oh Tuhan! Mana mungkin seperti itu Baekhyun sahabatku yang paling waras," sanggahnya dengan menekan kata waras.
"Iya! Dia seakan memberiku kode sebelum kami putus. Aku yakin yang dia cintai adalah aku, Kyungsoo-ya!"
"Memangnya kalian ini anak pramuka? Bermain kode-kode segala."
"Aku akan tetap memikirkannya. Aku tahu gelagat Jongin dan waktu itu dia benar-benar seperti tidak rela."
"Terserah kau saja. Aku hanya tidak mau kau dicap sebagai gadis pengacau pernikahan."
Baekhyun menunduk. Sedih juga jika nantinya dia dicap seperti itu oleh keluarga Jongin. Tapi, sebuah semangat terbakar di dalam dirinya. Jongin membutuhkan ini! Ia harus menyelamatkan Jongin!
Ia tersenyum pada Kyungsoo. Senyum yang mengerikan di mata gadis berbibir tebal itu.
"I am not the kind of girl who should be rudely barging in on white veil occasion," Kyungsoo menelan ludahnya susah payah. Sahabatnya seperti kerasukan saat mengucapkan kalimat itu. Begitu fasih. [Aku bukan tipe gadis yang ingin mengacaukan upacara pernikahan]
"But, Jongin is not the kind of boy who should be marrying the wrong girl," lanjutnya dengan sebuah seringaian. Seriangaian khas Jongin. Aura gelap terasa di sekitar Baekhyun. [Tapi, Jongin bukan tipe lelaki yang mau menikahi gadis yang salah]
Oh tidak! Bulu kuduk Kyungsoo berdiri. Pasti ada sesuatu setelah ini!
.
.
.
Hari itu. Hari yang dinanti oleh Baekhyun. Ia mengikat rambut pirangnya, menyembunyikannya di topi berwarna putih. Baekhyun duduk di samping Sehun. Setelah memohon-mohon akhirnya Sehun mau membantu rencana gilanya. Sepertinya Sehun sama-sama gila.
Ia memakai kemeja kotak-kotak dengan warna merah cerah. Itu kemeja Sehun. Lelaki kurus itu memberinya ide untuk menyamar menjadi pelayan. Pelayan lelaki. Baekhyun setuju. Yang penting hal tersebut bisa mensukseskan rencananya.
Sehun melepaskan seat belt-nya. "Kau tidak boleh ketahuan, noona," lelaki berjas gelap itu memberi nasehat.
Baekhyun mengangguk semangat. "Aku akan berjuang sekeras tenaga!" ucapnya berapi-api.
"Semangat!" seru Sehun dengan tangan mengepal di udara.
"Terima kasih, Sehun," mereka berdua turun dari mobil.
"Aku akan membawa snap back-mu ke dalam gereja. Kau temui saja Yixing noona. Dia tetanggaku."
Baekhyun hanya mengacungkan ibu jarinya. Dan berlari menjauhi Sehun. Petualangannya akan segera dimulai.
.
.
.
Gadis itu telah berubah menjadi pelayan lelaki. Baekhyun memakai kemeja berwarna pastel dan celana krem. Tak lupa rambut pirangnya ia gelung dan ia masukkan ke dalam topi.
Topi ini berguna untuk menutupi paras cantiknya dan juga rambut pirangnya yang panjang. Sebenarnya Yixing telah memintanya untuk melepaskan topi itu. Tapi, Baekhyun bersikeras untuk memakainya.
Wanita berdarah Cina itu hanya bisa menghela napas pasrah dan menyuruh Baekhyun membawa seloyang cup cakes berwarna pink ke dalam gereja. Gereja ini bergaya eropa klasik. Baekhyun memandang ke sana dan ke mari. Melihat tamu undangan yang datang.
Oh oh! Lihatlah! Itu Junmyeon unni, batinnya saat melihat seorang wanita cantik sedang berbincang-bincang dengan para tamu undangan. Maaf, unni, aku hanya ingin menyelamatkan Jongin, gumamnya sambil menatap kakak perempuan Jongin itu dari kejauhan.
"Wah cup cake!" Baekhyun seperti mengenal suara itu. Ia menoleh dan mendapati Zitao berjalan ke arahnya. Baekhyun menelan ludah. Jantungnya dengan cepat memompa darah.
Kenapa mereka mengundangnya sedangkan aku tidak diundang? Rasanya sedikit kesal. Digigitnya bibir bawah milihnya.
Zitao adalah gadis tukang gosip di kampus mereka. Dan akhir-akhir ini mereka tidak bersahabat. Baekhyun dengan cepat menundukkan kepalanya. Bagaimana ini? Bagaimana jika ketahuan?
Gadis dengan gaun pastel pink itu mengambil cup cakes di loyang yang dibawa Baekhyun. Cepat pergi! Cepat pergi, Baekhyun berdoa dalam hati. Tetapi, sialnya, Zitao tak kunjung pergi. Ia berdiri di depan Baekhyun dengan tatapan menilai.
"Kau harusnya melepas topimu itu! Tidak cocok dengan pakaianmu dan acara ini, mengerti?" komentarnya dengan sinis.
"Maafkan saya, nona," balas Baekhyun dengan suara berat yang dibuat-buat. Gadis itu sedikit membungkukkan badannya.
Ayo cepat pergi!
"Huh, selera fashion-mu sangat buruk!" hinanya lagi sebelum pergi. Baekhyun menghela napas lega dan mulai berjalan menuju meja di pojok ruangan. Meletakkan loyang itu dan melihat-lihat ke sekeliling.
Bangku di gereja itu masih banyak yang kosong. Bagus, aku bisa berjalan-jalan mencari ruangan Jongin. Setelah itu, aku mengajaknya pergi. Baekhyun tersenyum senang membayangkan ia dan Jongin berlari menjauhi gereja.
.
.
I sneak and see your friends
And her snotty little family all dressed in pastel
And she yelling at a bridesmaid
Somewhere back inside a room
Wearing a gown shaped like a pastry
.
.
Baekhyun mengendap-endap menuju ruang rias. Pasti di sana tempat sang mempelai pengantin berada, batinnya. Tak lupa ia membawa sebuah loyang untuk menipu mereka.
Terlihat beberapa lelaki dan perempuan seusia mereka memasuki ruangan itu. Dan membiarkan pintunya terbuka lebar. Kesempatan bagus! Baekhyun berteriak dalam hati. Senyumnya mengembang. Dengan segera ia mengambil posisi bersembunyi di belakang tong sampah.
Ia dapat melihat beberapa orang berpakaian pastel. Itu pasti keluarga dari pengantin putri. Lalu Baekhyun juga melihat seorang gadis cantik dengan pipi chubby. Ia memakai baju pengantin.
"Gaunnya seperti kue," hina Baekhyun dengan suara pelan.
Gadis itu berteriak senang pada beberapa orang yang baru masuk tadi. Orang-orang itu seperti memberi ucapan padanya. Betapa bahagianya gadis itu. Baekhyun terdiam menatap pemandangan di depannya. Hatinya perih.
Aku dengan senang hati memberimu ucapan selamat jika mempelai priamu bukanlah Jongin, katanya dalam hati.
"Zitao cepatlah sedikit! Aku ingin menemui sahabatku sebelum ia menikah!" terdengar suara sorang lelaki di ujung lorong sana.
Zitao… mata sipit milik Baekhyun otomatis melebar.
"Iya iya, Lu-ge yang manly! Aku mau membuang sampah dulu. Kau masuklah sana!"
Membuang sampah? Jantungnya langsung berpacu. Berarti gadis galak itu akan menuju ke tempat persembunyian Baekhyun. Gadis malang itu mengigit bibir bawahnya cemas. Bagaimana ini? Bagaimana ini? Tuhan tolong selamatkan aku!
Belum sempat Baekhyun menemukan cara untuk menghindari Zitao. Gadis bermata panda itu telah berada di depannya. Melempar sebuah tisu. Keningnya berkerut. Melihat pemandangan yang tersaji di depannya.
"Hey, fashion buruk!" panggilnya. Baekhyun diam saja. Masih berusaha menyembunyikan tubuhnya di tempat kecil itu. Yang sesungguhnya hasilnya adalah nihil.
"Apa yang kau lakukan di sana hah? Cepat berdiri!" hardiknya setengah emosi. Tangannya dilipat di depan dadanya yang sintal.
Mau tidak mau Baekhyun berdiri dari duduknya. Kepalanya menunduk. Menghindari tatapan dari Zitao. Mulutnya berkomat-kamit merapalkan do'a. Semoga Tuhan mendengarkan do'amu, Byun Baekhyun.
"Apa yang kau lakukan di sana huh?" tanyanya dengan tatapan menyelidik. "Kau punya gangguan mental? Aneh sekali."
"Ti-tidak! Aku tidak punya gangguan mental!" sanggahnya dengan suara yang diberat-beratkan.
"Lalu apa yang kau lakukan di sana? Menghitung semut? Oh please," ocehnya dengan nada sinis khas seorang Hwang Zitao.
"A-aku… aku…" kakinya bergerak-gerak gelisah. "Aku mencari brosku yang jatuh! Ya! Aku sedang mencarinya di sana," Baekhyun mengelus dadanya lega. Akhirnya ia menemukan alasan yang cukup logis.
Gadis bermata panda itu menatapnya selama beberapa detik. "Dasar lelaki aneh," komentarnya sebelum melenggang masuk ke dalam ruang rias. Lagi-lagi Baekhyun menghela napas lega. Sekarang ia mau berkeliling mencari ruangan Jongin sekali lagi.
"Jonghyun!" seseorang diujung lorong meneriaki nama palsunya. Tapi, Baekhyun tak terbiasa dengan nama itu. Jadi gadis cantik itu melanjutkan langkahnya semakin jauh dari wanita itu.
"Hey Jonghyun!" wanita manis itu berteriak sekali lagi. Ia berlari mendekati Baekhyun.
"Kau mau ke mana, Jonghyun-ah?" tanyanya tepat di depan Baekhyun. Membuat gadis mungil itu hampir menjerit.
"Oh-oh aku… aku ingin menemuimu, noona," ia menjawab sekenanya.
"Kalau begitu ayo bantu aku!"
.
.
.
"Bantu aku membereskan orang aneh," bisik Zitao pada kakak sepupunya. Lelaki itu mengkerutkan keningnya.
"Apa yang kau katakan?" tanyanya dengan ekspresi tak mengerti. Zitao hanya menatapnya kesal. Kakaknya ini lemot sekali pikirnya
"Ada seorang pelayan aneh. Wajahnya seperti Baekhyun," Zitao berbisik lagi. Lelaki di sampinya itu mulai mengerti dengan jalan pikiran Zitao.
"Kau mencurigai pelayan itu adalah Baekhyun?" Luhan bertanya lagi sambil melihat ke sekeliling. Mereka masih ada di ruangan Minseok. Luhan tak mau sahabatnya itu terganggu dengan hal seperti ini.
Zitao mengangguk mantap.
"Bergerak dengan mulut tertutup. Aku tak mau Minseok mendengar keributan ini," Zitao tersenyum mendengar perintah kakaknya.
"Aku tahu, ge. Ini adalah hari special untuknya."
.
.
.
Baekhyun lagi-lagi melihat ke sekeliling. Koridor ini sangat cantik. Ditambah lukisan bunga di dinding yang tampak nyata. Ia baru saja mengantar beberapa kue ke gereja. Dan di sela-sela perjalanannya ini lah dia mencari tempat di mana Jongin berada.
"Berhenti!" Baekhyun yang tak tau apa-apa pun berhenti. Ia menolehkan kepala melihat ke sumber suara yang ada di belakang punggungnya. Baekhyun menatapnya bingung. Di sini banyak orang, ia tidak tahu siapa yang dipanggil oleh lelaki cina itu. Jarak mereka semakin dekat.
"Aku memanggilmu, pelayan," lelaki itu memberitahu. Seakan ia tahu maksud hati Baekhyun.
"Kau memanggilku? Ada perlu apa tuan?" tanyanya dengan suara palsu. Baekhyun seperti pernah melihat pria ini. Tapi, ia tidak tahu di mana. Lelaki itu memegang lengannya.
"Berhenti berpura-pura, Byun Baekhyun," bisiknya setelah mendekatkan kepalanya dengan telinga Baekhyun. Bola mata Baekhyun membesar tanpa bisa dikendalikan. Jantungnya berpacu secepat kuda.
Penyamarannya. Oh tidak! Keringat dingin membasahi dirinya. Dadanya mulai susah untuk mengambil napas. Aku harus kabur! Kabur, batinnya dalam hati.
"Kau salah orang!" Baekhyun mencoba melepaskan cengkraman lengan lelaki bermata rusa itu. "Lepaskan! Aku bukan Baekhyun!" beberapa pasang mata melihat ke arah mereka berdua. Berbisik-bisik penasaran.
Ya Tuhan, aku harus bagaimana? Cengkraman itu semakin erat di lengannya. Kabur atau tidak penyamarannya telah gagal. Jongin tolong aku, pintanya dalam hati.
"Kalau begitu lepaskan topi itu, fashion buruk," Baekhyun dapat mendengar suara Zitao dari arah lain. Gadis itu memejamkan matanya pasrah. Ia baru ingat lelaki yang mencengkram lengannya adalah Luhan, kakak sepupu Zitao.
Jongin… aku datang ke sini untuk menolongmu. Tidak bisakah kau menolongku sekarang, sayang?
Sebuah tangan memegang topi putih yang ia kenakan. Dan dengan cepat tangan itu melepas topinya. Membuat rambut pirangnya yang panjang terpampang. Tamat sudah riwayatku. Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Ayah, ibu, aku akan menyusulmu sepulang dari gereja.
Seruan kaget terdengar dari tamu undangan yang ada di sana. Beberapa menghinanya. Beberapa mendukung berbuatan Zitao. Ada juga yang meminta Baekhyun pergi dari gereja ini.
Jongin, maafkan aku.
"Masih mau mengelak, Baekhyun?" Zitao menarik ikat rambut Baekhyun dengan kasar. Beberapa helai rambut Baekhyun rontok di tangannya. Rambut yang sebelumnya tergelung indah sekarang menguar.
"M-maaf."
"Untung saja Zitao mengetahui penyamaranmu," Luhan menghempaskan tubuh Baekhyun. Menyebabkan tubuh mungil gadis itu terjatuh ke lantai gereja yang dingin.
"Sekali lagi, maafkan aku," Baekhyun menundukkan dirinya. Ia tidak bisa menahan semua tatapan benci itu.
"Pergi dari sini!" Zitao memerintah seperti tuan tanah. Baekhyun terkaget mendengarnya. Didongakkan kepalanya menatap Zitao. Matanya panas begitu saja.
"Kumohon, aku hanya ingin melihat Jongin," air mata tiba-tiba saja turun dari mata sipitnya. "Kumohon, Zitao," dipegangnya kaki jenjang milik Zitao. Dengan mudah beberapa tamu undangan iba kepada Baekhyun.
"Izinkan saja, Zitao. Dia kan kekasih Jongin. Dia ingin melihat kekasihnya itu menikah," tamu undangan itu mulai menyuarakan pendapatnya. Zitao menghela napas kesal.
"Lepaskan kakiku!" ia menyeret kakinya menjauhi Baekhyun. "Kau boleh milihat Jongin tapi kau melihatnya dari jendela. Aku tidak mau kau berada di dalam sini," ucapnya dengan gaya angkuh.
"Jangan mengacau," Luhan memberi nasehat.
"Aku janji aku tidak akan mengacau," jika pengantin prianya bukan Jongin, lanjutnya dalam hati.
"Baguslah. Ayo kita pergi, ge," Zitao menggandeng Luhan dan mulai berjalan meninggalkan Baekhyun. Meninggalkan Baekhyun yang tersenyum seperti setan.
Biarkan aku menjadi pemeran antagonis untuk saat ini.
.
.
.
Inilah Jongin. Lelaki yang sangat dicintai oleh Baekhyun. Ia berdiri di depan cermin. Menatap bayangannya yang tak kalah tampan. Tuxedo berwarna pastel ini adalah pilihan dari Minseok, calon istrinya.
"Aku akan menikah beberapa menit lagi."
Jongin menghela napas. Ia belum menjelaskan apa-apa kepada Baekhyun. Apa aku harus terus menghindarinya? Aku tidak mungkin terus bersembunyi. Tangannya mengepal menahan emosi.
"Dasar pecundang!" umpatnya. Kilatan emosi terlihat saat Jongin menatap bayangannya. Hampir saja ia melempar kepalan tangannya di dinding. Namun, sebuah tangan lembut mencegahnya.
"Sabar, Jongin," pintanya dengan senyuman lembut. Ini baekhyun. Wanita yang ia cintai, wanita yang ia rindukan, wanita yang ia sakiti. Secara spontan Jongin memeluknya.
Menghirup aroma strawberry yang menguar dari rambut panjangnya. Jongin dapat merasakan tangan mungil Baekhyun mengelus punggungnya. Bertujuan untuk membuat Jongin tenang.
"Noona, bawa aku kabur dari sini," pintanya secara berbisik. "Aku hanya ingin menikah denganmu," ujarnya sungguh-sungguh. Sedetik kemudian mereka melepaskan pelukan itu. Saling bertukar padangan.
Baekhyun memegang pipi Jongin. Mengelusnya lembut. "Kau tampan sekali, Jongin," pujinya dengan tatapan memuja.
"Bawa aku kabur," lagi-lagi Jongin memohon dengan suara pelan. Kedua hidung mereka menempel. Mata mereka sama-sama terpejam. Menikmati momen yang entah bisa terjadi lagi atau tidak.
"Don't worry," Baekhyun tersenyum cerah. Tangannya masih mengelus pipi Jongin. "I'll be your hero," bibir lembut itu terasa di bibir tebal milik Jongin. Menyapu dengan lembut. Membuat Jongin semakin tenang.
"Jongin jangan melamun!" tepukan di pundak Jongin membuat lelaki itu kembali ke dunia nyata. Kekehan Sehun adalah yang ia dapatkan pertama kali. Pemuda kurus itu telah duduk tak jauh darinya.
Sial, itu tadi hanya khayalan. Lalu dengusan kesal Jongin lakukan.
"Kau pasti sedang memikirkan Baekhyun, kan?" tanyanya dengan logat sok tau.
"Aku belum menjelaskan apa-apa padanya," jawabnya penuh rasa bersalah. Jongin menatap cermin lagi merapikan dasi kupu-kupunya yang berwarna merah jambu.
"Kau ini memang pecundang sejati ya?" secepat kilat ia menoleh ke arah Sehun. Sahabatnya itu menyeringai puas.
"Apa maksudmu, Oh Mija?"
"Kau tidak paham, Kkamjong?" Sehun berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Jongin. Dengan angkuhnya ia melihat bayangannya di cermin. Lalu merapikan rambut coklatnya yang klimis.
"Jangan bertele-tele atau kau yang akan kunikahi!" ancamnya tak sabaran yang justru membuat Sehun terkekeh.
"Hidup ini pilihan, Jongin," Sehun duduk di meja rias. Seringainya begitu memuakkan. Kalau bukan sahabatnya mungkin sudah ia tendang keluar. "Kau tidak mau memilih hidupmu sendiri?"
Jongin mengerti sekarang.
"Ada saat kita harus patuh. Ada juga saat kita harus memberontak," Sehun memberi jeda beberapa detik. "Amerika tidak akan menjadi negara merdeka jika para pejuangnya tidak memberontak kepada pemerintah Inggris," lanjutnya seraya berdiri dan berjalan menjauhi Jongin.
Sehun menarik ujung jasnya untuk melihat jam mahalnya yang berwarna perak. Mengecek jam berapa sekarang. "Waktunya sudah habis," komentarnya sambil memutar gagang pintu. Lalu ia membalikkan sedikit badannya untuk menatap Jongin sekali lagi.
"Jadi, kau mau menjadi negara merdeka atau negara jajahan, Kim Jongin sahabatku?"
.
.
Bersambung….
.
.
a/n:
Hai saudara-saudara yang ceker sayangi. Seperti janji gue, gue ngepost ini pas Jongin ultah. Selamat ulang tahun untuk si dekil Kai :v /potong tumpeng/ makasih yang udah baca. Jangan lupa ripiu.
Oh ya, ff remakenya udah gue post.
Jangan lupa baca dan ripiu ya :v /promosi/
Ok, sekian dan terima kasih.
Dengan kasih sayang,
Cekernya Jongin.
