"Jongin jangan melamun!" tepukan di pundak Jongin membuat lelaki itu kembali ke dunia nyata. Kekehan Sehun adalah yang ia dapatkan pertama kali. Pemuda kurus itu telah duduk tak jauh darinya.
Sial, itu tadi hanya khayalan. Lalu dengusan kesal Jongin lakukan.
"Kau pasti sedang memikirkan Baekhyun, kan?" tanyanya dengan logat sok tau.
"Aku belum menjelaskan apa-apa padanya," jawabnya penuh rasa bersalah. Jongin menatap cermin lagi merapikan dasi kupu-kupunya yang berwarna merah jambu.
"Kau ini memang pecundang sejati ya?" secepat kilat ia menoleh ke arah Sehun. Sahabatnya itu menyeringai puas.
"Apa maksudmu, Oh Mija?"
"Kau tidak paham, Kkamjong?" Sehun berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Jongin. Dengan angkuhnya ia melihat bayangannya di cermin. Lalu merapikan rambut coklatnya yang klimis.
"Jangan bertele-tele atau kau yang akan kunikahi!" ancamnya tak sabaran yang justru membuat Sehun terkekeh.
"Hidup ini pilihan, Jongin," Sehun duduk di meja rias. Seringainya begitu memuakkan. Kalau bukan sahabatnya mungkin sudah ia tendang keluar. "Kau tidak mau memilih hidupmu sendiri?"
Jongin mengerti sekarang.
"Ada saat kita harus patuh. Ada juga saat kita harus memberontak," Sehun memberi jeda beberapa detik. "Amerika tidak akan menjadi negara merdeka jika para pejuangnya tidak memberontak kepada pemerintah Inggris," lanjutnya seraya berdiri dan berjalan menjauhi Jongin.
Sehun menarik ujung jasnya untuk melihat jam mahalnya yang berwarna perak. Mengecek jam berapa sekarang. "Waktunya sudah habis," komentarnya sambil memutar gagang pintu. Lalu ia membalikkan sedikit badannya untuk menatap Jongin sekali lagi.
"Jadi, kau mau menjadi negara merdeka atau negara jajahan, Kim Jongin sahabatku?"
.
.
Pergi dan Lari
By CekerJongin2
Gender switch, typo(s), absurd
Standard disclaimer applied
Note: {{… adalah flashback on …}} flashback off
Recommended song:
Speak now by Taylor Swift
Happy reading!
.
Chapter 3: Don't say 'yes'!
.
.
Jongin terdiam cukup lama. Apa yang Sehun katakan benar-benar mind blowing baginya. Selama ini dia selalu menuruti kata-kata orang tuanya. Apa dia boleh menjadi anak nakal sekali saja dalam seumur hidupnya?
Lelaki tampan itu memejamkan matanya. Sungguh, entah dia harus berterima kasih atau mengumpat pada Sehun karena membuatnya berpikir begitu rumit.
Pikirannya memikirkan Baekhyun, gadis yang ia sayang. Bagaimana perasaan Baekhyun saat diputuskan olehnya demi seorang wanita lain? Helaan napas berat tercipta. Jongin merasa bersalah, sangat bersalah.
"Maafkan aku, noona. Maafkan aku Ayah, Ibu, Minseok noona," gumamnya pelan sebelum terdengar suara ketukan pintu.
"Iya? Buka saja, aku sudah siap," jawabnya sambil berdiri dan berjalan mendekati pintu.
.
...
And if you hurt me
That's okay baby, only words bleed
Inside these pages you just hold me
And I won't ever let you go
Wait for me to come home
...
.
{{...
Kadang orang-orang tidak mengerti, kenapa Baekhyun sangat menyukai matahari. Salah satu impiannya adalah datang ke Sebang Nakjo Observatory, tempat yang sangat indah untuk melihat sunset. Padahal itu jauh sekali dari Seoul. Tapi gadis itu berhasil meraih impiannya berkat Jongin.
Wajahnya nampak bahagia walaupun hari telah gelap. Tangannya tidak lepas dari lengan Jongin. Ia memeluk lelaki itu dengan erat. "Jongin terima kasih. Aku benar-benar senang sekali, bukankah tadi sangat keren? Nanti kalau sudah di Seoul kita cetak fotonya dan pajang di kamarmu ya," ocehnya panjang lebar.
Memang benar kebahagiaan itu bisa menular. Buktinya Jongin jadi ikut tersenyum mendengar ocehan Baekhyun. "Tenang saja, kau bisa pegang janjiku, Bi."
"Ngomong-ngomong, apa kau mau makan dengan posisi seperti ini?" Jongin melirik tangan mereka. "Aku sih tidak masalah. Tapi kau harus makan dengan nyaman dan banyak," Baekhyun hanya terkekeh dan melepaskan pelukannya.
"Maaf, aku terlalu senang sih. Lain kali kita berlibur ke tempat yang lain lagi ya," Baekhyun mulai mengambil sumpit dan sendok untuk dirinya dan Jongin karena mereka bisa melihat pelayan mulai mendekati mereka.
"Harum sekali... membuatku semakin lapar," Baekhyun mengangguk tanda setuju dengan kata-kata Jongin.
"Seafood-nya terlihat sangat segar. Selamat makan! Terima kasih untuk makan malamnya, Jongin!" serunya dengan bersemangat. Mereka berdoa sebelum menyantap aneka hidangan seafood tersebut.
"Jongin, aku jadi berpikir bahwa menikah di pantai saat sunset sangatlah indah dan memiliki makna yang dalam. Sunset seperti akhir dari sebuah hari dan juga awal dari sebuah malam," jelasnya sambil menatap Jongin penuh harap.
"Benar juga. Kenapa aku tidak berpikir seperti itu ya? Kebanyakan orang menikah di pagi hari."
Baekhyun tersenyum sangat lebar mendengarnya. Seperti senyumnya akan mencapai telinga karena lebarnya. "Kau harus bekerja keras, Jongin. Supaya kita bisa menikah di pantai saat sunset," sindirnya dan diakhiri dengan kekehan.
"Tunggu saja. Aku berjanji akan menuruti keinginanmu yang satu ini," balas Jongin. Tangan kirinya terangkat lalu mengusap pipi Baekhyun yang chubby. Menatapnya begitu dalam penuh dengan arti. Membuat pipi yang terusap itu mengalami 'kebakaran'. Warna merah mendominasi di sana.
"Impian utamaku adalah bisa menghabiskan seluruh hidupku bersamamu, Jongin. Sungguh," terangnya dengan jujur.
Jujur saja, kalau ini bukan di tempat umum dan mereka sedang tidak makan. Jongin ingin menarik leher kekasihnya yang cantik ini. Mendaratkan ciuman di bibir tipis itu hingga sang kekasih kehabisan napas.
Namun Jongin harus menahan keinginannya. Ia hanya menepuk pipi Baekhyun penuh dengan kasih sayang, lalu ia mengatakan, "Makan yang banyak. Habiskan semua pesanan kita," sambil tersenyum manis yang membuat Baekhyun semakin jatuh hati pada Jongin.
Rasanya ingin cepat-cepat menjadi istri dari seorang Kim Jongin yang tampan dan juga pengertian.
.
...}}
Fond gestures are exchanged,
And the organ starts to play
A song that sounds like a death march
...
.
Baekhyun benci ini. Benci saat rencananya tidak berjalan dengan lancar. Ditambah dengan alunan Organ yang mulai memainkan lagu pernikahan. Biasanya dia ikut bahagia dengan mendengar alunan Organ di acara pernikahan.
Tapi, sekarang tidak. Di telinganya, lagu ini seperti lagu kematian. Dia ingin menangis, memarahi dirinya sendiri, atau bahkan kalau dia sanggup, dia ingin membakar gereja indah ini. Apapun demi menyelamatkan Jongin, kekasihnya tersayang.
Gadis malang itu bersembunyi di balik kue tart yang besar yang berada tidak jauh dari altar. Berharap pendeta tidak mengetahui keberadaannya.
Jongin mulai naik ke altar. Tatapannya nampak putus asa. Baekhyun bisa merasakan itu. Sebenarnya Jongin bukanlah orang yang terbuka. Tapi ada saat dimana dia begitu lelah, hal itu akan terlihat jelas di wajahnya.
Hatinya bertambah sedih melihat Jongin yang seperti itu. Seharusnya dia tau dari awal dan semua tidak akan sejauh ini.
"Psst... Jongin," panggilnya lirih. "Psst... psst...," ulangnya terus menerus hingga Jongin menyadari kehadirannya. Memang membutuhkan waktu cukup lama. Tapi dia cukup beruntung karena pengantin perempuan belum datang.
Sedangkan reaksi Jongin begitu kaget melihat Baekhyun berada di sana. Matanya melebar. Mulutnya terbuka sedikit. Dengan buru-buru Baekhyun mengarahkan jari telunjuknya ke bibir. Mengisyaratkan lelaki tampan itu untuk diam.
"Bagaimana kau bisa ada di sini?" katanya dengan gerakan bibir saja. Baekhyun hanya tersenyum penuh arti.
Jari-jarinya menunjuk ke arah pintu belakang gereja. "Ayo lari! Aku akan menunggumu di luar, di mobil Sehun," mereka masih berkomunikasi dengan isyarat dan gerakan bibir. Matanya begitu memohon pada Jongin.
Jongin nampak begitu bingung. Apa yang harus dia lakukan? Dia sudah pernah sekali menyakiti Baekhyun. Tapi gadis itu tidak menyerah. Dia melakukan apapun, mencari informasi, nekat kemari, tidak hanya diam menonton tapi menyuruhnya kabur!
Bukankah itu artinya gadisnya ini sangat kuat? Dia tidak ingin menyakiti Baekhyun sekali lagi. Jongin mengangguk sebagai balasannya. Raut wajah Baekhyun nampak berkali-kali lipat bahagia.
Baekhyun mulai melangkah mengendap-endap keluar lewat pintu belakang yang sepi. Sesekali ia mengintip ke dalam, menunggu Jongin bergerak.
Jujur saja, Baekhyun memang senang bertemu Jongin. Tapi itu tidak mengurangi rasa khawatirnya, gugup, bahkan jantungnya seperti melompat-lompat di dalam sana. Tuhan, kumohon ampuni aku... aku melakukan ini demi kebaikan. Berkatilah kami, bantulah kami, doanya dalam hati sambil memejamkan matanya.
.
...
"Don't say yes, run away now,
I'll meet you when you're out,
Of the church at the back door,
Don't wait or say a single vow,
You need to hear me out,"
And they said, "Speak now."
.
{{...
Sudah pernah dengar bagaimana cerita Baekhyun bertemu keluarga Jongin? Jongin adalah seorang gentle man. Seminggu setelah berpacaran dia langsung mengenalkan Baekhyun ke keluarganya sebagai gadisnya.
Saat itu Baekhyun menggunakan off the shoulder dress berwarna biru tua dengan motif bunga. Membungkus tubuhnya hingga lutut. Rambut hitamnya ia biarkan terurai sempurna di pundaknya yang terbuka. Jangan lupa sepatu high heels berwarna senada. Malam itu gadis itu terlihat sangat cantik dan feminim. Rasanya Jongin ingin menikahinya malam itu juga.
"Jongin, kenapa kau tidak bilang jika akan mengenalkanku?" bisiknya pelan. Jongin hanya tersenyum.
"Aku ingin melihat spontanitasmu," lalu lelaki itu terkekeh pelan. Genggaman tangannya mengerat. Memberi support kecil pada Baekhyun.
"Tapi- aku- aku gugup sekali Jongin," berkali-kali Baekhyun mengigit bibir bawahnya. Sekali lagi, Jongin hanya tersenyum dan mulai menuntun Baekhyun ke ruang makan.
"Siapa gadis cantik ini, Jongin?" tanya nyonya Kim. Meski ibu Jongin tersenyum manis, Baekhyun masih gugup.
"Umma, perkenalkan. Ini Byun Baekhyun, kekasihku," Jongin mulai mengenalkan. "Dan Baekhyun, perkenalkan ini ayah, ibu dan juga noona-ku."
Baekhyun memberikan senyum terbaiknya. Walau dia gugup dia tidak mau memperlihatkannya. "Selamat malam, nama saya Byun Baekhyun," ujarnya sambil membungkuk sopan selama beberapa detik. "Senang bertemu dengan keluarga Jongin."
"Byun? Apa kau penerus Byun Entertainment?" ayah Kai yang sedari tadi diam dan menatap Baekhyun akhirnya bersuara. Baekhyun nampak bingung beberapa detik.
"Baekhyun hanya gadis biasa yang memiliki karakter yang baik, ayah," Jongin menjelaskan dengan tegas. Genggaman tangannya menguat. Kadang Jongin tidak suka saat ayahnya memandang seseorang dari status mereka.
"Duduklah Baekhyun. Maaf atas pertanyaan tadi ya. Makanlah seperti di rumahmu sendiri," ibu Jongin mempersilakan. Tidak lupa tangannya menggandeng Baekhyun untuk mengurangi awkward di antara mereka.
.
...
.
Tidak butuh waktu lama bagi Baekhyun untuk dekat dengan ibu dan kakak perempuan Jongin. Hanya butuh mengobrol sedikit, lalu dengan sedikit bercanda yang sopan. Mereka berdua sudah menyukai Baekhyun.
Yah, walaupun malam itu ayah Jongin masih menatapnya dengan tajam dari atas ke bawah. Seperti sedang menilainya dalam diam. Itu bukan masalah bagi Baekhyun. Suatu saat nanti ayah Jongin akan menjadi ayahnya juga. Mungkin ayah Jongin bukan tipe orang yang mudah bergaul dengan anak muda sepertinya.
"Kau akan mengantar Baekhyun pulang sekarang?" ibu Jongin nampak begitu kecewa.
"Menginaplah di sini Baekhyun. Besok aku harus ke New York selama seminggu," Jumyeon-kakak Jongin- menawarkan. Baekhyun hanya tersenyum.
"Benar sekali. Umma akan sendirian di rumah. Menginaplah saja, Baekhyun. Ya?"
Sungguh. Baekhyun sudah lama kehilangan sosok ibu. Ia tidak bisa mengatakan tidak saat ibu Jongin menatapnya dengan tatapan memohon. Dengan mudah ia menganggukan kepalanya dan berkata, "dengan senang hati aku akan menemani umma di sini."
Lalu tak lama mereka berdua berpelukan dengan hangat. Jongin sendiri senang melihat Baekhyun dan keluarganya dekat dengan begitu mudah. Ya meskipun, ayahnya masih terlihat tidak bisa menerima Baekhyun.
.
...}}
Selepas Baekhyun pergi. Butuh beberapa detik dia sadar bahwa ayah Minseok beserta Minseok telah berdiri di depannya. "Kim Jongin?" ayah Minseok terlihat ragu akan menyerahkan anak perempuannya.
Jongin menghela napas berat. "Maaf paman Kim," lalu menatap kedua orang di depannya dengan penuh rasa maaf.
"Minseok noona, ayah, ibu, semuanya. Maaf, aku tidak yakin untuk menikahi Minseok noona," Jongin melepas satu persatu kancing jasnya lalu melepas jasnya.
Seluruh gereja tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Mungkin ini pertama kali dalam hidup mereka melihat peristiwa seperti ini.
"Jongin! Mau ke mana kau?" ayah Jongin berteriak dari tempat duduknya saat mengetahui anaknya sudah berlari meninggalkan altar. Ibu Jongin masih shock. Dia begitu sedih dan bingung dengan apa yang terjadi.
"Cepat kejar dia! Bagaimana bisa dia menjadi tidak bertanggung jawab seperti ini," amarah tidak bisa dibendung oleh ayah Jongin. Beberapa bawahan keluarga Kim langsung berlari mengikuti Jongin.
Sayang sekali Jongin sudah berada di tempat parkir menggandeng tangan gadis kesayangannya. Byun Baekhyun. Berlari menuju mobil Sehun yang memang sudah dipinjamkan ke Baekhyun untuk kabur.
"Tenang, Jongin. Aku sudah membawa baju ganti, surat-surat mobil Sehun dan juga uang," jelasnya sambil menunjuk back pack-nya dan membuka pintu mobil Sehun.
"Aku juga tidak tau kenapa di hari perikahanku, aku membawa dompet lengkap dengan surat izin mengemudi," Jongin juga sudah memasuki mobil, memakai seatbelt dan menyalakan mobil mahal milik sahabatnya itu.
"Ngomong-ngomong kita mauke mana?" tanyanya saat mobil mulai melaju kencang meninggalkan gereja. Baekhyun menatap wajah Jongin, lalu menjawab pertanyaan lelaki itu dengan mantap, "ayo kita ke Sebang Nakjo Observatory."
Mendengar jawaban Jongin. Membuat memori lelaki itu memutar kenangan lama mereka. Jongin ingat tempat itu. Dia tidak pernah lupa. Tempat di mana mereka melihat sunset, memakan seafood, berbagi kasih dan juga rencana menikah. "Bibi Byun pasti sudah merindukanku. Kita menginap di sana saja."
Lelaki tan itu hanya mengangguk setuju. Dia benar-benar terkesan dengan Baekhyun. Gadis kuat yang merencakan hal gila ini. Bahkan Jongin yang seorang lelaki saja kalau tidak dikompori oleh Sehun mungkin dia tidak akan berontak seperti ini.
Salah satu tangannya menggenggam tangan Baekhyun sambil menyetir. "Fokuslah menyetir saja Jongin. Nanti tertabrak," nasehat Baekhyun seraya menyembunyikan rona merah di pipinya.
"Aku merindukanmu, Bi. Sangat merindukanmu," ungkapnya tanpa sedikitpun melepaskan genggaman tangan itu. Bahkan semakin erat.
"Aku juga," balas Baekhyun lirih. Rasa bahagia yang begitu dalam menggunjang mereka. Kedua sejoli itu sangat-sangat bersyukur. Tanpa Baekhyun mungkin Jongin tidak akan mudah kabur dari pernikahan tadi. Dan tanpa Jongin, tidak ada artinya seluruh rencana Baekhyun ini.
Senyuman tercetak dengan indah di wajah mereka. Menuju Sebang tidak pernah terasa semenegangkan, membahagiakan, dan penuh rasa syukur seperti ini. "Terima kasih dan juga maaf."
"Tidak perlu mengatakan hal itu Jongin. Bagiku, yang terpenting adalah kau. Woah lihatlah," Baekhyun melihat Kai dari atas lalu ke bawah.
"Kau tampan sekali hari ini. Seperti akan menikah," Baekhyun terkekeh diakhir pujiannya.
"Iya, aku akan menikah dengan Byun Baekhyun di pulau Sebang," Baekhyun semakin tenggelam dalam tawanya. Tawa yang mengangkat segala beban dalam diri Kai.
"Padahal tadi kau sangat tampan menggunakan tuxedo. Seharusnya jangan dilepas...," jelasnya sambil mengusap-usap lengan Jongin.
"Di masa depan kau akan memilihkanku tuxedo yang lebih bagus dari itu."
Dan ya, Jongin tidak pernah gagal membuat pipi gadis itu merona. Ribuan kubu-kubu terbang di dalam perutnya. Seperti jatuh cinta untuk pertama kalinya.
...
And you say, "Let's run away now,
I'll meet you when I'm out of my tux at the back door,
Oh baby, I didn't say my vow,
So glad you were around when they said, "Speak now."
...
Minseok masih shock dengan apa yang terjadi padanya dan ia setuju-setuju saja saat Oh Sehun, yang notabene sahabat baik Kim Jongin membawanya ke kedai BBQ untuk minum bir. Kuulangi lagi, minum bir. Iya, kalian tidak salah dengar.
Saat orang-orang sibuk mencari Jongin. Sehun dengan baik hati menawarinya untuk menghilangkan stres dan di sinilah gadis dewasa itu. Duduk di sebuah restoran BBQ Korea terkenal dengan sebuah jas milik Oh Sehun menutupi pundaknya yang terbuka.
"Maaf noona. Aku tidak tega melihatmu terkejut seperti tadi. Kau ingat aku?" lelaki dengan proporsi tubuh sempurna itu mulai memecahkan keheningan.
Ingat dia bilang? Minseok melihatnya dari atas sampai bawah. Tinggi badan 185cm, pundak yang lebar nampak begitu cocok dengan kemeja, dada bidang, rambut coklat yang ditata rapi, alis yang indah, bibir yang tipis, kesimpulannya dia tampan. Sangat tampan!
Sebenarnya Minseok sama sekali tidak mengenalnya. Iya, dia tahu kalau Sehun adalah teman Jongin itupun dari si Sehun sendiri. "Maaf, aku tidak ingat, Sehun-ssi."
Lawan bicaranya hanya tersenyum penuh arti. Sayangnya Minseok terlalu polos untuk mengerti apa arti senyumannya itu. "Meski kau sudah tahu namaku?" tanyanya lagi.
Minseok menautkan keningnya. Tanda dia sedang berpikir keras. Kemudian diakhiri dengan senyuman maaf.
Sehun memberikan sumpit untuknya. "Kau sudah lupa kalau kau pernah ditembak oleh bocah SD saat SMA?"
Seperti tersambar petir. Segala memori memalukan itu terputar ulang di dalam otaknya. Sumpit yang Sehun berikan terjatuh ke lantai secara slow motion. Semuanya terasa lambat seperti hidupnya berjalan secepat 1kbps.
Demi Tuhan dia adalah bocah yang dulu menembak Minseok? Cupu, kurus kering, ditambah dengan wajah polosnya memberi Minseok bunga mawar merah. Kenapa dia setampan ini sekarang?
Ya, baiklah. Boleh saja dia tampan. Tapi kenapa mereka bertemu lagi di saat seperti ini? Di saat dia ditinggal pergi oleh calon suaminya? Wajah Minseok berubah berwarna merah.
Sehun tertawa melihat reaksi Minseok. Memang saat-saat kita masih muda dan tak tahu apa itu cinta yang sesungguhnya bisa menyebabkan hal-hal yang tak terduga ya?
"Eum... lebih baik kau antar aku pulang sekarang," Minseok berdiri dari duduknya. Tidak mau menatap Sehun sama sekali.
"Ya noona... aku kan sudah memesan daging terbaik pagi ini. Apa kau tega meninggalkannya?" tangan Sehun langsung memegang pergelangan tangan Minseok. Menahan wanita yang lebih tua 4 tahun dengannya untuk tetap tinggal.
Mau tidak mau Minseok melihat ke wajah lelaki tampan itu. Tatapan mata Sehun yang memohon membuat hati Minseok berat. Dia ingat pertama kali melihat tatapan mata itu. Saat Minseok menolaknya.
Minseok duduk kembali. Tidak ingin menyakiti lelaki ini dua kali. "Hari ini makanlah yang banyak. Maaf telah menyinggung itu, kupikir tadi kau ingat siapa aku."
Sedikit informasi. Dulu Minseok dan Sehun adalah seorang tetangga. Tidak tahunya, ternyata Sehun yang saat itu masih duduk di kelas 6 SD jatuh hati padanya yang sudah menginjak bangku SMA.
Sebenarnya Minseok menolak bukan karena Sehun masih cupu. Tapi menurutnya usia seperti Sehun yang paling utama adalah belajar, bukan berpacaran. Apalagi dengan anak SMA sepertinya. Tidak lama setelah insiden penolakan itu keluarga Sehun pindah rumah.
"Kau juga, Sehun-ah. Makanlah yang banyak, hari ini noona akan mentraktirmu," Minseok mulai mengambil sepotong daging sapi dari panggangannya. Memakannya dengan perlahan-lahan.
"Noona, saat seorang lelaki dan perempuan keluar. Laki-lakilah yang akan membayarnya. Jangan menganggap aku sebagai anak SD lagi. Aku sudah kuliah dan punya pekerjaan sambilan," Sehun menjelaskan dengan tegas. Minseok justru tertawa.
"Memangnya kau bekerja apa? Apa kau sanggup membayar daging kita ini?" tanyanya sedikit meledek mencairkan suasana.
"Aku bekerja sebagai asisten ilustrator. Bagaimana? Kalau aku menembakmu lagi apa kau akan menerimanya sekarang?"
Sial. Hanya karena satu pertanyaan saja bisa membuat wajah Minseok memerah. Siapa yang mengajarkan Sehun yang polos untuk menggoda noona-noona sih?
"Bahkan kau nikahi sekarang pun aku akan terima," jawab Minseok menantang Sehun. Lelaki muda itu hanya bisa menyeringai. Sehun tidak akan mundur jika sudah ditantang seperti ini.
.
...
.
Setelah menaiki kereta selama 10 jam dan juga bus. Akhirnya mereka sampai di pulau Sebang. Baekhyun berlari-larian menuju pembatas tebing. Karena langit telah berwarna jingga.
"Astaga, Jongin! Hampir saja kita terlambat melihat mata hari terbenam!" serunya sambil memegang kayu yang membatasi tebing itu. Mata Baekhyun tidak bisa lepas dari lautan dan juga matahari di depannya.
"Cantik sek-," perkataan Baekhyun terhenti karena Jongin memeluknya dari belakang. Kedua ujung bibirnya terangkat secara natural.
"Lebih cantik kau, Byun Baekhyun," sanggahnya sambil meletakkan kepala di pundak Baekhyun. Menghirup aroma gadis itu. Gadis yang ia rindukan.
Baekhyun mengusap tangan Jongin yang ada di pinggangnya. "Terima kasih sudah membawaku ke mari lagi, Jongin."
"Karena aku sudah berjanji padamu, untuk menikahimu di pantai di saat matahari tenggelam," jawabnya sambil mengecupi pundak dan leher Baekhyun. Jongin benar-benar merindukan gadisnya. Hampir kehilangannya membuat Jongin benar-benar posesif sekarang.
Dengan cepat langit yang tadinya berwarna jingga berubah menjadi gelap. Baekhyun menghela napas lega, "awal yang baru akan segera di mulai, Jongin."
Jongin membalikkan badan kekasihnya, supaya mereka bisa berbicara seraya saling menatap. "Kita mungkin berhasil kabur dari ayahmu. Tapi aku yakin setelah ini dia akan mencarimu."
"Meski dia tahu di mana aku. Aku tidak akan membiarkan dia atau apapun itu memisahkan kita, Bi..."
Baekhyun mengangguk mengerti. Tangannya ia lingkarkan di leher Jongin. "Aku tidak ingin kehilanganmu la-," belum selesai Baekhyun berbicara. Jongin sudah melumat bibirnya dengan lembut. Memeluk pinggang Baekhyun begitu erat, seperti mereka akan terpisah sebentar lagi.
Mata mereka sama-sama memejam. Menikmati cinta mereka detik itu. Karena mereka tau. Setiap detik sangatlah berharga. Mereka tidak tahu kapan mereka akn terpisah lagi. Serangan Jongin menggila saat Baekhyun membalas lumatannya.
Lelaki itu memiringkan kepalanya. Memperdalam ciuman mereka bersamaan dengan mendalamkan cinta mereka. Disaksikan oleh tebing, laut, angin, bintang dan juga bulan.
.
...
TAMAT
...
.
A/N:
Yah akhirnya tamat juga FF ini setelah bertahun-tahun tiada kabar. Makasih buat semuanya yang udah baca. Jangan lupa reviewnya ya. Ada yang tertarik buat epilog atau apa teh itu namanya ff lanjutan? Tapi jangan deh ntar gue phpin doang. Lol.
Maafkan atas segala keterlambatan dan juga typo di dalam sana. Kayanya ini pertama kali gue bikin ff sepanjang ini dalam waktu kurang dari 24 jam. Jadi mohon dimaklumi ya.
