Pagi itu XIumin hendak berangkat kerja. Rasa pening sisa mabuk semalam masih terasa olehnya, walau sudah berkurang akibat obat penghilang mabuk yang ia temukan di tasnya.

Di dalam lift apartemennya Xiumin masih bingung memikirkan bagaimana ia bisa pulang kerumah. Ia ingat kalau ia berhasil menghabiskan enam botol soju semalam setelah gagal menggoda salah satu rekan kerjanya.

Xiumin sudah berusia 28 tahun, dan sudah menjadi karyawan senior sekaligus kepala divisi di perusahaan tempat ia bekerja. Ibu dan ayahnya sudah mulai rewel dan berisik menyuruhnya untuk segera mencari pasangan dan menikah. Tapi Xiumin masih menikmati masa lajangnya yang bebas. Bermain bersama temannya, pergi ke klub setiap akhir pekan bahkan berganti partner untuk memuaskan nafsu dan kebutuhan birahinya.

Malam itu Xiumin ingat, ia sedang berusaha menggoda salah satu seniornya. Lelaki itu seorang duda, dan mereka pun sudah pernah beberapa kali tidur bersama. Tapi godaan dan rayuannya tidak berhasil, sepertinya seniornya itu sedang mengincar karyawan yang lebih muda dari pada Xiumin.

Xiumin kesal bukan hanya karena rayuannya gagal, tapi juga kesal karena sudah lima bulan ia tidak melakukannya. Terakhir, ia berhubungan seks dengan seorang pria yang ia temui di klub malam. Hingga akhir-akhir ini mereka bertemu kembali beberapa kali, tapi pria itu sepertinya sama sekali tidak mengingatnya.

Kembali dari lamunannya. Xiumin berjalan keluar dari gedung apartemennya menuju ke parkiran. Ketika sudah mengeluarkan kunci mobil dari tasnya dan hendak masuk ke dalam mobil. Ia mendengar seseorang memanggil namanya. Lalu ia berbalik.

"Xiumin-ssi.." ia melihat seorang pria berlari-lari kecil menghampirinya.

Ketika sampai di hadapannya pria itu sedikit terengah-engah dan berusaha mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum kembali berbicara pada Xiumin. "Maaf Xiumin-ssií.."

"Iya,,, ada yang bisa saya bantu?" Xiumin berusaha menenangkan nada bicaranya.

Ia tahu siapa pria ini.

Pria itu menghampirinya sedikit kikuk sambil menggaruk belakang kepalanya. Pria itu pun tersenyum canggung. Bentuk dari sudut bibirnya yang melengkung membuat pria itu sungguh terlihat lucu dan imut.

"Ah ini… saya hanya ini berbicara mengenai tadi malam…"

"TADI MALAM…?" Xiumin kembali bertanya dengan sedikit berteriak. Berfikir dalam kepalanya apa yang sudah ia lakukan ketika mabuk. Ingatannya masih jelas bahwa lima bulan yang lalu lelaki itulah yang mabuk dan Xiumin menggodanya. Tapi apa Xiumin kembali menggodanya walau ia yang sedang mabuk. Tapi Xiumin juga bingung dimana mereka bertemu.

Ya, pria ini adalah pria yang Xiumin temui lima bulan yang lalu. Yang membuat Xiumin masih mengingat malam panas mereka adalah perlakuan pria itu kepadanya. Walaupun sedang mabuk percintaan mereka tidak menggebu-gebu, tapi justru perlahan dan manis. Sentuhannya pelan tapi sensual. Matanya tak pernah berhenti menatap Xiumin. Membuat sensasi yang ditimbulkan bertambah. Itu merupakan pengalaman baru bagi Xiumin, walau ia yakin bahwa pria itu benar-benar mabuk.

Dan belakangan ini mereka bertemu kembali. Dari situlah Xiumin tahu bahwa pria itu bekerja sebagai supir panggilan dan bernama Kim Jongdae.

"Eh..?" Jongdae sedikit kebingungan kenapa Xiumin berteriak kepadanya.

"Ah.. Maafkan aku. Kenapa dengan tadi malam?"

"Sebenarnya seseorang memanggilku semalam untuk menjadi supir pengganti, dan ternyata Xiumin-ssi lah yang harus aku antar. Dan maaf, tapi tadi malam aku belum mendapat bayaranku." Jongdae tersenyum canggung lagi.

"Maafkan aku." Pipi Xiumin merona, entah karena malu belum membayarnya, atau karena melihat senyuman Jongdae yang mempesona. Ia segera mengeluarkan dompet dari tasnya. Kemudian membayarkan sejumlah uang kepada Jongdae.

"Sekali lagi aku minta maaf. Aku telah merepotkanmu."

"Ah tidak masalah." Jawab Jongdae

Xiumin kemudian mengangguk berniat untuk menyudahi pertemuan ini, lalu berbalik hendak membuka pintu mobilnya. Tapi suara pria itu kembali memanggilnya.

"Maaf Xiumin-ssi."

Xiumin kemudian berbalik lagi, sedikit kaget. Ia menaikkan alisnya seolah bertanya ada apa.

"Anu… apa kau akan berangkat ke kantor?"

"Iya, memangnya kenapa?"

"Bolehkah aku menumpang. Ah aku akan menyetir untukmu. Kali ini gratis."

"Eh?" Xiumin sedikit kaget. Kemudian Jongdae menarik lengannya, mengantarnya ke sisi lain mobil itu. Kemudian membukakan pintu mobil. Mempersilahkan Xiumin masuk kedalam mobil. Masih sedikit bingung, Xiumin menuruti permintaan Jongdae, masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang dibagian depan.

Jongdae kemudian menyalakan mobil dan mengemudikannya menuju kantor Xiumin. Baru saja keluar dari parkiran komplek apartemennya Xiumin berniat untuk menaruh tasnya di bangku belakang. Tapi ia menemukan beberapa tisu berserakan di lantai mobilnya. Dia meraihnya satu lalu tercium bau yang cukup familiar. Xiumin terkejut, tiba-tiba ia ingat apa yang ia lakukan kemarin diperjalan pulang.

Semenjak ia menghabiskan malam bersama Jongdae, Xiumin selalu membayangkan pria itu ketika ia bermain solo. Ia terlalu kesepian malam itu. Dan Xiumin yakin bahwa ia melakukannya lagi. Melakukannya lagi didepan Jongdae. Dan bahkan meneriakan namanya saat klimaks.

'Sial…! Apa yang aku lakukan tadi malam? Jika tadi malam aku benar-benar melakukan itu berarti aku melakukannya di depan Jongdae. Ya Tuhan. Aku sudah gila. Jongdae pasti sengaja datang pagi ini. Oh bunuh saja aku.'

Xiumin benar-benar malu. Ia memalingkan wajahnya dari Jongdae. Memilih untuk melihat pemandangan di luar kaca mobilnya. Berharap Jongdae tidak menyadari perubahan warna wajahnya yang sekarang sudah merona merah.

Tapi sepertinya Xiumin sedang benar-benar tidak beruntung.

"Ehm,, Ehm,,"

"Sepertinya kau baru saja mengingat kejadian semalam."

Xiumin merutuk dalam hatinya 'Haruskah aku meloncat dari mobil. Perjalanan sampai kantor masih jauh. Tolong bunuh saja aku.' Xiumin masih saja terdiam, dan memilih untuk terus menatap ke jendela mobilnya sembari berpura-pura tidak mendengar apa yang Jongdae baru saja katakan.

Jongdae kembali menambahkan. "Terima kasih."

Xiumin berbalik menatap pria yang sedang mengemudi tersebut. 'Terima kasih? Memang apa yang sudah aku lakukan? Ralat! Apa yang sudah kita lakukan? Apa aku menggodanya lagi?' Mata Xiumin membelalak, seolah memberi tanda tanya besar.

Jongdae hanya menoleh sebentar sambil menaikkan salah satu sudut bibirnya. "Terima kasih. Aku sangat menikmatinya."

Terbersit dalam fikiran Xiumin jika ia benar-benar menggoda Jongdae lagi, habis sudah harga dirinya. Ia harus melawan balik. Ia memutuskan untuk berpura-pura tidak mengerti. Ia memutuskan untuk mempermainkan lelaki itu.

Kesempatan emas.

"Apa yang kau nikmati memangnya?" Xiumin memiringkan posisi duduknya sehingga ia bisa menatap Jongdae dengan jelas

"Yang semalam."

"Memangnya apa yang terjadi semalam?" Balas Xiumin ditambah dengan tatapan sensual yang ia berikan.

Lelaki yang duduk di sebelahnya itu mulai gelapan. Mulai bingung mencari cara yang tepat untuk menjelaskannya. Sedangkan Xiumin semakin menatapnya dalam-dalam. Dengan tatapan dan posisi yang menggoda tentunya.

"Kau tahu.. semalam kau mabuk dan melakukan sesuatu." Wajah Jongdae memerah. Haruskah ia menyebutkannya secara gamblamg.

Xiumin masih menatapnya intens. Mengerling ketika mata mereka bertemu. Berharap lelaki itu sadar bahwa ia sekarang sedang diserang balik.

"Apa yang aku lakukan? Aku tidak ingat."

"Kau semalam mabuk dan membuka pakaianmu, kemudian…." Belum sempat menyelesaikan perkataannya Jongdae sudah dibuat kaget dengan perkataan Xiumin.

"Kau membuka pakaianku? Apa kau memanfaatkanku?"

"Tidak! Aku bilang kau membuka pakaianmu sendiri, bukan aku yang membuka pakaianmu. Dan juga aku tidak melakukannya dengan wanita mabuk."

"Oh. Tapi kau melakukannya ketika kau mabuk!"

Jongdae tergelak. Dia tidak mengerti perkataan wanita yang duduk disebelahnya ini."Apa maksudmu?"

"Tidak ada."

"Jelas-jelas kau tadi bilang aku melakukannya ketika mabuk."

"Apa aku berkata seperti itu?"

"Jangan mempermainkanku!" Jongdae menaikkan nada suaranya. Tidak bisa berkonsentrasi lagi untuk mengemudikan mobil yang saat ini mereka tumpangi. Kemudian memutuskan untuk menepikan kendaraan mereka.

Jongdae teringat kejadian lima bulan yang lalu. Ketika itu ia mabuk disebuah klub bersama teman-temannya. Tapi ketika ia bangun dipagi hari, ia menemukan dirinya berada di kamar sebuah motel tanpa satu pun pakaian menempel di tubuhnya. Dan tanpa satu orang pun berada di ruangan yang sama dengannya. Jongdae takut jika ia melukai seseorang. Jongdae takut jika ia menyakiti seseorang, lagi.

.

Jongdae membuka sabuk pengaman yang ia kenakan, lalu merubah posisi duduknya sehingga menghadap Xiumin yang duduk disebelahnya. Sorot matanya berubah. Xiumin merasa ia bisa terbakar hanya dengan tatapan pria disebelahnya tersebut. Rasa takut menyelimuti hatinya.

"Apa kita pernah bertemu lima bulan yang lalu?" Jongdae bertanya dengan nada yang tenang, tetapi ada sesuatu yang mengintimidasi dibalik itu.

"Aku tidak mengerti maksudmu." Entah kenapa Xiumin ingin berkata jujur tapi otaknya tidak mengizinkannya.

"Jangan mempermainkan aku. Aku bertanya baik-baik"

"Apa kau dan aku pernah melakukan sesuatu lima bulan yang lalu?"

"Aku tidak menger…." Xiumin merutuk dalam hati, kenapa bibirnya tidak bisa berkata jujur.

"Lalu kenapa kau mendesahkan namaku ketika kau bermasturbasi?"

'sial, aku benar-benar melakukan hal itu dihadapannya' Xiumin malu dan merasa terpojok. Ia seperti tikus yang berada dalam perangkap sang kucing. "Kapan aku melakukannya?" Xiumin berkelit, tetapi tatapannya menantang pria di depannya.

"Haruskah aku mengingatkanmu?"

Manik mata Xiumin membulat, mencapai kapasistas maksimum dari mata sipitnya.

Sebelum Xiumin bisa membalas perkataan itu. Jongdae sudah meloncat dan berada di atasnya. Pria tersebut menciumnya dengan kasar dan dalam. Xiumin berusaha mendorong pria tersebut. Xiumin ingin menolak tapi tubuhnya menikmati perbuatan lelaki ini. Kepalanya tertekan ke sandaran kursi. Dengan dua tangan melingkupi pipinya dan sesekali membelai lehernya. Xiumin sudah lama tidak merasakan hal seperti ini. Bibir bagian atasnya dihisap dengan kencang dan juga dijilat dengan kasar. Tanpa menunggu persetujuannya pria itu menggigit bibirnya lalu memaksa masuk kedalam mulutnya, lidah mereka bertemu saling bertautan. Bagian dalam mulutnya dijamah. Pria dihadapannya melumat mulutnya seolah-olah bisa dimakan. Xiumin benar-benar tidak mengerti mengapa pria dihadapannya ini menciumnya seperti ini. Tidak seperti dipertemuan pertama mereka. Seluruh tubuhnya mulai memanas. Dia ingin membalasnya tapi entah kenapa ia tak mampu. Aura yang keluar dari pria tampan yang sedang menikmati bibirnya ini sangat mengintimidasinya. Mulut Xiumin hanya terbuka pasrah untuk dinikmati, lidahnya ingin ikut bermain tapi seolah ciut oleh kepiawaian lidah asing yang berada dalam mulutnya.

Bukannya hanya bibir dan lidahnya yang yang tidak bisa berkutik, tapi tubuhnya juga lemas. Dan Xiumin tidak mengerti apa penyebabnya.

Detik selanjutnya Xiumin merasa dadanya ditekan dengan kuat, dan diremas secara kasar. Lumatan pada bibirnya semakin menggila ditambah oleh remasan di payudaranya membuat semua indra ditubuhnya seolah lumpuh. Ia ingin mendorong pria yang berada di atasnya ini. Cukup sadar apa yang terjadi padanya merupakan pelecehan. Tapi dorongan yang tangannya lakukan sama sekali tidak membuahkan hasil.

Nafas Xiumin sudah terengah-engah dibalik ciuman gila yang sedang ia alami. Kemudian ia melenguh ketika merasakan sentuhan secara langsung di puting dan payudaranya. Entah kapan kancing kemejanya sudah terlepas, dan Xiumin sungguh menyesal menggunakan bra dengan pengait di depan. Ia juga merasakan pilinan di puncak payudaranya tersebut, disusul dengan tekanan dan remasan pada payudaranya. Tubuhnya menggelinjang merespon sentuhan tersebut. Xiumin sadar jika sekarang selangkangannya mulai basah. Tapi dengan lenguhan tadi Xiumin bisa bernafas dengan bebas karena mulutnya sudah berhenti dikerjai oleh seseorang.

Tapi sekarang ia merasakan nafas seseorang di lehernya. Ia sadar jika lehernya sedang dihujani oleh ciuman disemua sisi, lalu ia juga merasakan lidah, jilatan, basah dan hawa dingin yang menggelitik lehernya, bercampur dengan remasan dan permainan tangan disemua bagian payudaranya. Matanya membelalak ketika sadar ada tangan yang membelai selangkangannya dibalik celana dalam yang sudah basah. Tidak hanya berhenti disitu ia merasa rok yang ia kenakan ditarik ke atas lalu celana dalam yang ia kenakan ditarik paksa hingga robek, dan sekarang tangan itu bersentuhan langsung dengan vaginanya.

Dengan kasar jari tangan itu masuk ke dalam vaginanya mencari klitorisnya kemudian memainkan dan memilin bagian tubuh sensitifnya itu. Permukaan kulit tangan yang kasar semakin menambah sensai yang dinding vagina Xiumin rasakan. Lalu dengan paksa jari itu masuk ke dalam dirinya dan digerakkan keluar masuk seolah sedang menggenjot lubang kewanitaannya. Ditambah dengan hisapan dan gigitan di puting payudaranya.

"aahhh… tolooonnggg…. Ah. Ahh.. ahhh.. hen… ti… kan…." Xiumin tau hal ini sudah tidak benar. Air mata sudah mengalir dikedua pipinya walau ia tak terisak. Otaknya tau bahwa hal yang sedang dilakukan pria tersebut salah, tapi tubuhnya berkata tidak dan memilih menikmatinya. Pikirannya sudah kosong, kabut sudah menyelimuti matanya. Ia tahu ia tidak memiliki tenaga untuk melawan pria tersebut. Ia merasa tusukan jari diselangkangannya semakin kencang bersamaan dengan kedutan yang ia rasakan di dinding vaginanya. Sensasi remasan, hisapan, jilatan, dan usapan tangan yang kasar di payudaranya semakin menebalkan dan mengeruhkan penglihatannya ditambah air mata yang masih menggenang di sana. Pinggangnya ikut bergerak berlawanan arah dengan jari yang sedang menggagahinya. Semakin cepat ketika ia merasakan kenikmatan langit ketujuh akan segera ia rasakan. Lenguhan dan desahan tak henti ia keluarkan dari mulutnya. Kemudian gigitan di putingnya dan tusukan jari yang keras kedalam vaginanya membuat ia sampai pada puncak kenikmatan itu. Tubuhnya terasa panas dan ringan, sedikit terangkat sambil vaginanya mencengkram jari yang berada didalamnya. Kepalanya pening seketika. Vaginanya basah ketika merasakan cairan mengalir keluar dari dalam tubuhnya. Tubuhnya lemas, tidak bertenaga. Ia memejamkan matanya merasakan apa yang baru saja tubuhnya alami.

Xiumin bisa merasakan bahwa jari yang berada dalam dirinya perlahan keluar. Lalu merasakan sesuatu menyentuh permukaan vaginanya, kemudian ia memutuskan sedikit membuka matanya. Melihat bahwa pria didepannya sedang berfokus pada bagian bawah dirinya. Tatapannya serius, ekspresi wajahnya datar. Xiumin tidak bisa membacanya. Kemudian sadar bahwa lelaki tersebut sedang membersihkannya. Mengelap cairan yang meleleh diantara pahanya dengan tisu. Setelah itu menurunkan roknya yang sudah naik ke perut. Entah kemana celana dalamnya yang robek tadi. Kemudian pria itu juga mengelap tubuhnya yang penuh dengan keringat bercampur air liur pria tersebut. Mengaitkan kembali branya. Mengancingkan kemejanya yang sudah kusut. Lalu jari pria itu sekarang berada di bibirnya, mengusapnya. Kemudian beralih ke wajahnya, mengelap air mata dan keringat yang bercampur dan mulai mongering. Merapihkan rambutnya yang berantakan. Mata mereka kemudian bertemu, tatapan mata itu masih tak bisa dibaca oleh Xiumin. Kemudian jarak wajah mereka semakin menipis. Pria tersebut kembali menciumnya tapi begitu lembut dan sensual. Xiumin kembali teringat perasaan yang ia rasakan lima bulan yang lalu. Pikirannya kacau.

.

.

"Kau masih harus bekerja. Aku akan mengantarkanmu."

Jongdae kemudian kembali ke kursi pengemudi, sadar bahwa Xiumin masih terdiam ia memasangkan sabuk pengaman Xiumin. Menahan diri agar tidak melumat kembali wanita itu. Kemudian memasangkan sabuk pengamannya sendiri dan menyalakan mesin mobil. Mengendarainya menuju tempat Xiumin bekerja.

.

Mereka sampai di basement kantor Xiumin.

"Kita sudah sampai." Jongdae kemudian melepaskan sabuk pengamannya. Kemudian berpindah ke sabuk pengaman yang Xiumin kenakan.

Plak… Xiumin menampar pipi Jongdae.

"Akal sehatmu sudah kembali. Syukurlah." Jongdae berkata sambil memegangi pipinya tetapi raut mukanya tetap datar. Tatapan mereka bertemu. Xiumin menatapnya tajam. Ditatapan itu ada kemarahan, tapi justru kekecewaanlah yang mendominasi. Rasa bersalah mulai menyelimuti perasaan Jongdae.

"Aku akan menemuimu lagi nanti malam." Ucap Jongdae sambil menangkupkan tangannya di pipi Xiumin dan mencium kening Xiumin. Walau ia tidak tahu apa yang sebenarnya ia lakukan.

.

.

.

.

.

TBC


XIUCHEN – CHENMIN – XIUCHEN – CHENMIN – XIUCHEN – CHENMIN – XIUCHEN – CHENMIN

.

.

Halo,,, terimakasih yang sudah follow, favorit dan reviews. Terimakasih juga buat yang sudah membaca. Ditunggu review selanjutnya.

Buat new reader yang penasaran kelanjutannya silahkan difollow story sama authornya juga boleh.

Semoga tulisan aku tidak mengecewakan. Buat yang berkenan tolong kritik dan sarannya. Terimakasih.

Jangan lupa streaming Kokobop yaa. :D :D