.
.
.
Xiumin sudah berkendara selama dua jam. Entah kemana tujuannya dia hanya terus mengemudi tak tentu arah. Dan sekarang ia telah berada di pinggir Sungai Han.
Perasaannya benar-benar kacau sekarang. Pertama, ciuman itu. Ketika Jongdae selesai membersihkan dan merapihkan keadaan Xiumin, pria tersebut malah menciumnya lembut. Dan manis. Keinginannya untuk marah dan memaki seketika sirna.
Kedua, ketika kemarahannya kembali terkumpul. Bahkan ia mampu untuk menampar pria itu, tapi bukan kemarahan balik yang ia dapatkan. Justru kecupan di keningnya yang sarat makna membuat hatinya menghangat.
Ciuman dan kecupan lembut yang dilakukan Jongdae membuatnya bingung. Jongdae seperti menyiramkan alkohol dilukanya. Rasa sakit dan perih luar biasa datang setelahnya, tapi itu juga dimaksudkan agar luka itu tidak terkena infeksi atau bertambah parah.
Xiumin sudah mengabari rekan kantornya bahwa ia tidak akan masuk untuk bekerja. Ia pun memutuskan untuk tidak pulang ke apartemennya untuk beberapa hari karena pasti pria itu akan mencarinya. Ia belum siap.
Ia belum siap bertemu lagi dengan pria itu.
Ia belum siap untuk mendengar penjelasan pria itu.
Ia belum siap untuk mengakui apa yang membuatnya sampai sesakit hati ini.
ia belum siap.
Hatinya tidak siap.
Walau ia tahu pria itu sudah mempunyai tempat di hatinya.
Ia takut luka akan kembali tertoreh di hatinya.
.
.
.
.
.
.
Sudah seminggu lebih Jongdae tidak bisa bertemu dengan Xiumin. Dihari Jongdae 'menyentuh' Xiumin, sepulangnya kerja ia langsung berjalan ke kantor Xiumin. Kemudian masuk ke basement parkir kantor tersebut menuju area tempat Jongdae memarkirkan mobil Xiumin pagi tadi. Tapi mobil itu tidak ada di tempatnya.
Jongdae memutuskan untuk mencari mobil tersebut. Setelah 30 menit berkeliling di parkiran itu ia masih tidak bisa menemukan mobil berwarna biru metallic milik Xiumin. Ia yakin ini masih sore dan waktu kerja kantoran belum berakhir. Dan juga parkiran itu masih penuh dengan mobil karyawan lainnya.
Jongdae memutuskan masuk ke dalam kantor dan bertanya apakah ia bisa menemui Xiumin. Tapi jawaban dari resepsionis kantor itu mengatakan bahwa hari ini Xiumin tidak masuk kerja.
Lalu ia pergi ke komplek apartemen tempat Xiumin tinggal, tapi tetap tidak menemukan mobil Xiumin di parkiran apartemen itu. Ia masuk ke dalam gedung apartemen itu, memencet bel di pintu rumah Xiumin tapi tidak ada jawaban apa-apa dari dalam. Ia menunggu sampai tengah malam. Tapi tetap tidak ada tanda-tanda kehadiran Xiumin.
Keesokkan hari dan beberapa hari setelahnya ia tidak dapat mencari atau menemui Xiumin. Karena tidak focus dengan pekerjaannya ia melakukan kesalahan. Dan berakhir dengan harus bekerja lembur selama beberapa hari. Bahkan harus masuk kerja diakhir pekan.
.
.
.
Sekarang sudah tepat 10 hari ia tidak dapat bertemu dengan Xiumin. Ia sudah hampir menyerah.
Ini sudah jam 8 malam. Dan langit sudah gelap. Jongdae berjalan gontai kearah tempat tinggal Xiumin. Hatinya membuncah ketika melihat mobil yang ia kenali terparkir dibarisan terdepan parkiran apartemen itu. Ia segera masuk kedalam gedung apartemen.
Tidak sabar menunggu pintu lift terbuka ia memutuskan untuk menaiki anak tangga ke lantai empat. Memencet bel apartemen Xiumin, bersembunyi ke samping agar ia tidak terlihat ketika Xiumin membuka pintu.
Begitu pintu terbuka Jongdae segera melompat sehingga berada tepat didepan pintu. Xiumin berdiri disana dengan celana pendek yang memamerkan paha putih nan mulusnya, beserta kemeja baby blue oversize dengan tiga kancing teratas terbuka dan ditarik kebelakang badannya, memperlihatkan lehernya yang putih beserta bahu dan tulang selangkanya yang begitu sexy.
Jongdae belum pernah melihat Xiumin dengan balutan pakaian casual seperti ini. Dan ia pun tahu wanita yang berada di depannya ini selalu mempunyai pesona tersendiri. Pesona yang selalu memikatnya.
Pesona yang membuat sekujur tubuhnya panas dan terbakar. Yang membuatnya ingin merengkuh tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.
"Aku tidak ingin bertemu denganmu." Jongdae tersadar dari lamunannya. Melihat bahwa Xiumin sudah mundur selangkah dan akan menutup pintu apartemennya.
Dengan sigap ia pun segera menahan pintu itu. Sedikit mendorongnya dan menerobos masuk kedalam. Lalu berbalik memandangi Xiumin. Tangan wanita itu masih berada di gagang pintu, dan pintu pun masih terbuka.
"Keluar sekarang atau aku akan berteriak!" Matanya menatap Jongdae dengan tajam. Tapi Jongdae tidak bergeming.
"TOLOOOOONG…"
'BLAM'
Jongdae menabrakkan dirinya pada Xiumin, mendorong wanita cantik itu hingga punggungnya menempel ke pintu hingga tertutup. Tidak hanya itu. Jongdae membungkam mulut cantik itu agar tidak berteriak. Tapi bukan dengan tangan, melainkan oleh mulutnya sendiri.
Berniat hanya untuk membungkam mulut si cantik yang berhadapan dengannya. Sensasi yang ditimbulkan dari sentuhan kedua bibir itu justru memabukkan Jongdae. Ia tidak bisa melawan keinginan alamiah dari tubuhnya untuk menikmati bibir Xiumin.
Jongdae menciumnya dengan rakus. Melumat bibir Xiumin. Menyesap rasa manis dari bibir wanita itu seolah tidak ada habisnya. Xiumin pun tidak menghalangi Jongdae untuk masuk dan menjelajah kedalam mulutnya. Lidah mereka bertemu dan saling bertautan. 10 hari tidak bertemu benar-benar menyiksa mereka berdua. Mereka seolah haus dan lapar akan rasa dari masing-masing.
Nafsu dan kerinduan begitu mendominasi saat ini.
Menutupi kemarahan dan akal sehat mereka.
Tidak hanya mulut yang bekerja. Sekarang tangan Jongdae pun mulai melakukan pergerakan. Bermula dengan mengelus bahu wanita yang sedang dicumbunya. Lalu berpindah ke pipi dan turun ke leher. Lalu semakin turun perlahan ke dada Xiumin. Awalnya ia hanya mengusap lembut, kemudian sedikit remasan. Lalu tekanan di bagian puncak dada itu oleh ibu jarinya. Kemudian remasan, cubitan dan tekanan semakin liar di payudara yang masih terbungkus kain tersebut menyebabkan lenguhan dari Xiumin.
Akal sehat Jongdae kembali. Ia menyudahi ciuman tersebut, lalu mundur perlahan. Ia tahu ini salah. Tujuannya bertemu dengan wanita ini adalah untuk berbicara, meminta maaf dan mencari tahu apa yang terjadi lima bulan yang lalu. Bukannya malah menerkam dan mencumbunya seperti seorang bajingan.
Ah Jongdae ingat.
Ia memang seorang bajingan.
.
Xiumin masih memejamkan matanya menikmati sensasi dari sentuhan yang ia rasakan didadanya. Tapi ciuman di bibirnya dan juga sentuhan ditubuhnya mendadak hilang. Hawa dingin dari pendingin ruangan dapat kembali ia rasakan karena sentuhan ditubuhnya telah berhenti. Ia kemudian membuka matanya dan melihat lelaki yang baru saja mencumbunya sudah menciptakan jarak diantara mereka. Dengan kepala menunduk, menatap lantai dan ekspresi penyesalan tersirat di wajahnya yang tegas itu.
Hatinya serasa ditikam sebilah pisau, sakit. Ia tidak ingin bertemu pria itu, karena sampai sekarang hatinya belum siap. Tapi ketika pria itu menerkamnya dan merengkuhnya ke dalam ciuman yang memabukkan itu, ia juga tahu tubuhnya tidak dapat berbohong. Ia menginginkan pria itu. Walau ia tahu bahwa ia akan terluka. Karena pria itu hanya menginginkan tubuhnya. Karena ia tahu pria itu sudah memiliki wanita lain di hatinya.
.
"Maaf."
"Aku tidak bermaksud untuk menciummu."
Xiumin masih berdiri mematung, menundukkan kepalanya. "Menciumku pun tak masalah." Seringai pahit menghiasi wajah Xiumin. "Tenang saja. Aku tahu kau hanya menginginkan tubuhku."
"Tidak! Tolong jangan berfikir seperti itu."
"Tolong jangan salah paham!" Nada putus asa terdengar di telinga Xiumin.
Pria dihadapannya masih menatap lantai dengan raut muka bersalah. Tapi Xiumin sudah tidak peduli lagi. Ia sakit hati karena ditinggalkan begitu saja setelah ciuman panas mereka tadi. Setengah berlari Xiumin melemparkan badannya pada tubuh pria itu. Mencium dan melumat bibir pria yang masih berdiri mematung. Kemudian menyelipkan lidahnya, berharap pria dihadapannya mau membuka mulutnya. Tapi dorongan dibahunya yang ia terima.
'Balaslah ciumanku'
Tak peduli dengan penolakan yang dilakukan pria itu. Xiumin semakin memperdalam ciumannya. Melingkarkan lengannya dileher pria yang ia dambakan. Tapi dorongan penolakan kembali ia terima.
'Kumohon habiskan malam ini bersamaku'
Xiumin mulai frustasi. Ia kemudian memindahkan lengannya ke dada sang pria, berusaha menggodanya dengan memainkan nipple sang pria dari balik bajunya. Dorongan dan penolakan yang ia terima mulai melemah.
'Ya.. malam ini saja. Untuk terakhir kalinya."
Dan serangan terakhir Xiumin, tangannya sudah berada diantara paha pria tersebut. Membelai dan meremas gundukan yang membesar itu. Memainkannya dari luar celananya. Xiumin mulai merasakan remasan di pundaknya bukan dorongan, dan juga ciumannya berbalas. Bahkan sekarang sang pria yang mendominasi.
Rasa frustasi masih menyelimuti perasaan Xiumin. Tapi sekarang ia tidak peduli. Yang ia inginkan hanyalah meraih puncak kenikmatan bersama pria yang ia dambakan.
Perasaannya, bisa ia urus nanti.
.
.
Xiumin mendorong Jongdae hingga jatuh terduduk di sofa apartemennya. Kemudian segera melepaskan pakaian yang ia kenakan. Menyisakan bra dan celana dalamnya. Dengan gesit Xiumin duduk mengangkang di pangkuan Jongdae. Ia harus bergerak cepat, takut jika pria itu berubah pikiran lagi.
Bibir mereka kembali berpagutan, terjeda ketika melepaskan kaos yang Jongdae kenakan. Tidak hanya mulutnya yang bekerja, Xiumin pun menggerakkan pinggangnya menggesekkan bagian bawah tubuh mereka yang masih terhalang oleh pakaian.
Xiumin merasakan tangan Jongdae bergeriliya di punggungnya, melepaskan kaitan bra yang dipakainya. Lalu pagutan bibir mereka terlepas dan Xiumin merasakan bibir yang lainnya bergerak menciumi pipinya, lalu pindah ke telinganya dengan jilatan dan sedikit gigitan. Sekarang lehernya pun terjamah, yakin akan melihat kissmark disana keesokkan paginya.
Xiumin sudah merasakan sentuhan dan remasan di dada dan putingnya. Dan sekarang ia pun merasakan daging tak bertulang bermain juga disana. Puncak payudaranya yang sudah menegang itu dihisap dengan kencang, seolah cairan berwarna putih akan keluar dari sana.
Remasan di pantatnya pun ia rasakan. Xiumin mendorong tubuh Jongdae agar bersandar pada sofa. Sekarang gilirannya untuk sedikit memanjakan pria yang ia dambakan itu. Dimulai dari gigitan ditelinga terus menjalar ke leher, kemudian turun ke bahu. Tidak hanya bibir dan mulutnya saja yang bekerja tangannya pun terus menjelajah tubuh pria yang ada dihadapannya tersebut.
Bahu yang kekar, lengan yang berotot dan perut kencang yang memiliki tonjolan-tonjolan bakal sixpack sudah dijamah oleh tangan Xiumin. Bagian selatan dari tubuh Jongdae pun sudah Xiumin belai, sekarang ia sedang berkutat dengan kancing celana jeans dan juga resletingnya. Menyelinap kebalik jeans itu merasakan kejantanan yang sudah mengembung.
Mendadak sebuah dorongan Xiumin rasakan, dan sekarang ia sudah berbaring di sofa dengan Jongdae di atasnya. Takut ketika interaksi sentuhan mereka sedikit berkurang, Xiumin segera melingkarkan tangannya ke leher Jongdae menyatukan kembali bibir mereka dalam ciuman yang dalam dan panas.
.
Mereka berdua sudah bertelanjang bulat sekarang. Xiumin tau bahwa ia sudah tidak bisa mundur lagi. Ia memang yakin jika dirinya ingin melakukan ini. Tapi dia bimbang apa ia bisa menanggung sakit hati yang akan hadir setelah semuanya telah terjadi.
Xiumin mendorong tubuh Jongdae dengan mantap. Ia menghentikan sentuhan dan belaian yang Jongdae lakukan pada tubuhnya. Merasa ia sudah cukup siap dan basah untuk menerima pria itu di dalam tubuhnya.
Ia kembali memposisikan Jongdae untuk duduk dan bersandar di sofa abu-abu apartemennya. Duduk mengangkang di pangkuan Jongdae dan kembali memagutkan bibir mereka. Tanpa melepas ciuman mereka Xiumin sedikit mengangkat tubuhnya. Satu tangannya berada di pundak sang pria, dan satu lagi tangannya memegang penis pria itu kemudian mengarahkannya ke lubang kenikmatannya sendiri.
Sekali hentakan dan mereka telah menyatu. Xiumin ingin berada di atas kali ini. Ia bertekad untuk memuaskan pria yang ada dihadapannya saat ini. Walaupun ia tidak dapat merebut hati sang pria, tapi ia ingin memastikan bahwa setidaknya pria ini tidak akan melupakan rasanya. Rasa tubuhnya. Rasa bercinta dengannya. Rasa ketika kulit mereka bergesekkan. Dan rasa ketika mereka bersama-sama mencapai puncak kenikmatan.
.
"Ah.. Ah… Ah…"
Xiumin menaikturunkan pinggangnya. Ia sudah mencapai klimaksnya dua kali. Tapi lelaki dihadapannya ini belum sama sekali. Dan entah kekuatan dari mana ia tetap bisa berada di atas. Menaikturunkan dan bergerak cepat diatas Jongdae.
Ia sudah akan klimaks lagi.
"Jongdae~ah.. aahh.. ahh.. come with me."
Xiumin semakin cepat menggerakan pinggangnya. Tangannya berada di dada Jongdae memainkan nipple sang pria untuk meningkatkan rangsangannya.
"Come with me Jongdae~aahhh…"
Xiumin berbisik ditelinga Jongdae. Tapi pinggang dan tangannya tetap bekerja.
Ia merasakan dekapan Jongdae semakin erat di tubuhnya. Pertanda bahwa pria itu akan segera mencapai puncak kenikmatan. Xiumin meningkatkan kecepatan gerakannya. Instingnya sudah mengambil alih. Klimaksnya sudah berada di ubun-ubun. Pinggangnya bergerak tidak beraturan. Mendadak tubuhnya terasa ringan dan kepalanya sedikit pening.
"Say my name please…"
Tubuh mereka berdua bergerak semakin tidak beraturan. Tangan Xiumin bermain di rambut Jondae. Meremas dan menjambaknya sebagai pegangan. Sedangkan tangan Jongdae sudah berada di pantat Xiumin, meremas gemas sembari menyalurkan birahinya.
"Jongdae~aaahh.."
"Xiuminaaahhhh.."
Mereka berhasil merengkuhnya bersama.
.
.
Xiumin berdiri, memunguti pakaiannya dan segera mengenakannya kembali. Sebelumnya ia berbaring dalam dekapan sang pria beberapa jam. Kelelahan dengan kegiatan panas yang telah mereka lakukan.
"Tunggu… Jujur tujuanku datang kesini bukan untuk ini semua (baca:seks)."
"Aku hanya ingin mengetahui apa yang terjadi lima bulan yang lalu."
Xiumin masih memunggunginya dan terdiam.
"Apakah aku melukaimu?"
'Tolong katakan tidak´ batin Jongdae
"Aku sedikit tidak terkendali jika mabuk."
Xiumin masih terdiam, tidak bergeming.
"Aku hanya takut jika aku melukaimu waktu itu." terdengar putus asa di telinga Xiumin.
"Kumohon katakan sesuatu padaku."
"Tolong katakan padaku jika memang aku melukaimu!" Nada bicaranya sedikit meninggi.
"JANGAN MEMPERMAINKAN AKU DENGAN SEMUA KETIDAKJELASAN INI!" Jongdae tiba tiba berteriak suaranya keras dan tegas. Ia sudah tidak tahan lagi dengan perasaan bingung dan bimbangnya.
Xiumin terkejut mendengar teriakan Jongdae. Tubuhnya sedikit bergetar. Tiba-tiba rasa takut menyelimuti perasaannya. Ia semakin menundukkan kepalanya. Dan tetap pada posisi membelakangi pria yang baru saja berteriak padanya.
"Ya, kita bertemu lima bulan yang lalu." Ucap Xiumin pelan.
"Ya, kita memang menghabiskan malam bersama." Nada suaranya bergetar.
"Dan Ya. Kau telah melukaiku." Hiks. Akhirnya satu isakan lolos dari tenggorokkannya.
.
.
.
.
TBC
Happy Chen Day ! (walau telat)
Terima kasih untuk yang sudah review, favorite dan follow.
Dan tolong jangan berharap banyak sama saya untuk update cepet. Saya cuman gak mau kalian sakit hati aja.
Sekali lagi, review, kritik dan saran kalian sangat berharga buat saya. Soalnya saya ingin bisa improve cara penulisan saya untuk kedepannya.
Untuk yg saran jangan ada nc tiap chapter, Maaf emang dasar otak saya sudah tercemar, jadilah seperti ini. Silahkan dinikmati aja. Hheee. Soalnya tadinya cuman mau bikin twoshoot aja tapi kebablasan.
Oh ya,, ada yang bisa sugest author XiuChen/ChenMin gak? Aku belum nemu soalnya di ffn ini, gak kaya HunHan, ChanBaek atau KaiSo yg bertebaran. Padahal ini official pair kan? aku masih baby EXO-L soalnya. Baru setaun lebih umurnya.
Maaf malah jadi curhat disini. Buat yang berbaik hati silahkan review, favorite dan follow yaa…
Oh iya aku ada twitter di MyeonSoo_L sama instagram di YuMyeonSoo. Siapa tau ada yang mau kenalan. Hehehee.
Terima kasih. :D
