buat yang nungguin fanfic ini aku sungguh berterimakasih, aku terharu... TnT

a naruto fanfiction

Disclaimer

Masashi kishimoto

Warning

OOC, typo mungkin banyak, gaje, humor ataupun romancenya mungkin hampir gak berasa, DLDR.

pair

sasohina

Stealer get love

By boa tezuka

.

.

.

let's begin

"bo-boleh temenin tidur gak?"

hshshshshshshshshs

"mas-nya juga masuk kamar ko..., gak nungguin diluar doang maksudnya."

hshshshshshshshshs

"aku sendirian di rumah, m-makanya aku minta temenin..."

hshshshshshshshshs

.

oke, sasori kalap. gerakan tubuh hinata yang malu-malu, wajahnya yang memerah, dan sinar mata yang memelas. apa yang harus dilakukan sasori sekarang?. satu, ia menolak permintaan dan melihat gadis itu pergi dengan raut kecewa. dua, menuruti apa kata hinata dan... hanya berduaan dengan seorang gadis. tiga, mengajak hinata ke hotel. baik, lupakan yang ketiga.

"m-mas?"

"e-eh, iya?" sasori tersadar dari lamunan singkatnya.

"boleh gak?"

"mm- iya." dan jawaban itu murni tanpa nafsu. Sasori menyessal menjawab begitu. "jadi, rumah mba dimana?"

Hinata langsung menarik pergelangan tangan sasori, membawa pemuda itu ke sebuah rumah minimalis bercat tosca-putih-biru. mereka berdua memasuki rumah, sekilas sasori mencium bau anyir yang pekat, namun hilang begitu memasuki kamar hinata.

kamar yang begitu feminim menurutnya, sungguh cocok dengan gadis manis di hadapannya. " Hinata, mas-nya?" dilihatnya gadis itu mengulurkan tangan di hadapannya. sasori menyambutnya, tangan hinata sangat halus.

"sasori" sasori tersenyum. niatnya senyum biar keren, tapi kalo diliat kaya senyum sok ganteng. " hinata. jadi.., kenapa minta temenin tidur?"

seketika ekspresi hinata berubah menjadi horor. sasori merasa bersalah kembali, mungkin ia sudah salah bicara.

"mas..-" mata hinata menatap kearah sasori, wajahnya pucat semakin membuatnya mirip sadako. sasori jadi ragu hinata manusia atau bukan.

"sebenarnya.., rumah ini terkutuk dan juga dihuni oleh makhluk halus." sasori duduk lesehan di lantai dan mendengarkan dengan seksama."- setiap tepat jam dua belas malam, mereka akan datang dan menggangguku.., dan sekarang-" hinata melirik kearah jam dinding " setengah jam lagi mereka akan datang."

"O."

tak peduli jawaban sasori, hinata melanjutkan perkataannya dengan wajah yang tak horor lagi. " maka dari itu.., mas temenin tidur ya!. kalo hantunya dateng pas aku tidur, mas usir hantunya ya?"

sasori kaget karena tiba-tiba hinata mendekat ke wajahnya . ia tak tahan melihat raut wajah hinata yang memelas sampai hampir menangis, maka sasori mengangguk.

dilihatnya sekitar, tak ada siapa-siapa."nngh.., terus kenapa minta tolong sama saya?. orang tua kamu, sodara, gak ada gitu?"

"ayah lagi keluar kota, hanabi..maksudku adek lagi nginep di rumah temennya. dan ibu..." hinata menatap kosong ke arah lantai, lagi-lagi sasori jadi merasa bersalah.

"eh, maaf"

"ya, gapapa. aku tidur dulu ya, mas nya jagain"

'oh jadi gini maksudnya 'temenin tidur'' sasori merasa kecewa, ia pun tak tahu mengapa ia kecewa. yang ia tahu sekarang mengantuk.

Hinata sudah tidur di atas kasur di seberangnya, cepet banget tidurnya.

'kok bisa ya, dia takut ma hantu. udah gede gitu.' sasori menutup mata, kemudian mata itu terbuka lagi.

'mang hantu itu ada? dia ngeyel kali yah, tapi ada untungnya juga sih bisa liatin bidadari tidur' sasori bersandar ke dinding terdekat, kemudian senyum-senyum sendiri kaya orang gila.

mata sasori menutup lagi, kemudian terbuka, lalu tertutup lagi, terbuka lagi, tertutup lagi, dan hal itu terjadi sepuluh kali lebih sampai akhirnya mata sasori terpejam karena kantuk.

terlintas di kepala sasori, jika hinata bangun dan melihatnya tidur, maka hinata akan kecewa karena ia gak 'jagain' hinata. sasori membuka matanya dengan berat.

yang sasori inginkan saat membuka mata adalah melihat hinata. namun, yang ia lihat sekarang adalah beberapa makhluk kecil hitam dengan mata berwarna merah sedang menggurubungi hinata.

"what the-"

salah satu makhluk yang kayaknya tuyul itu menyadari keberadaan sasori, ia melirik ke sasori yang gemeteran hebat mirip mesin cuci.

makhluk itu senyum penuh arti ke sasori, hayoloh jangan-jangan tu tuyul naksir sasori. 'KHIKHIKHIKHI'

"DEMI CELANA BOXER MIMI PERI!"

'bruk'

yak, sasori yang ngatain hinata udah-gede-masih-takut-hantu itu pingsan di tempat. bisanya ngatain orang doang lu.

o0o

'hnng.., dimana ini?'

pemuda berambut merah membuka pertama dilihatnya adalah warna putih yang mendominasi. ia bangkit berdiri, menjejakkan kakinya keatas sesuatu yang selembut kapas, lalu berjalan lurus ke depan. langkahnya terhenti ketika ia menemukan baliho besar berisi iklan shampo di tempat yang seperti kahyangan ini.

Entah apa yang ada dipikiran pemuda itu, ia memanjat baliho iklan shampo tersebut, sesekali berayun-ayun diantara besi-besi, mirip sekali dengan yang di hutan (itu lhoo., temennya dora) . saat sampai di puncak ia melihat ke sekeliling. matanya menangkap sesuatu yang menarik atensinya. segeralah ia loncat turun dari baliho dan berlari ke arah sesuatu tersebut.

sasori sampai di dekat sesuatu itu yang (masih) kemungkinan adalah manusia, lima jengkal lagi ia akan tepat dibelakang orang itu. sepintas dipenglihatan sasori ia adalah bidadari penghuni kahyangan ini, punggungnya terlihat elok berhias gaun hijau yang dikenakannya, terlihat anggun dan menawan.

' wahai adinda, siapakah gerangan?'

dengan keberanian sasori bertanya, yang ditanya hanya cekikikan dan membuat gesture gemulai. hal itu membuat sasori semakin penasaran.

'apakah adinda penghuni negri kahyangan ini?, bolehkah saya melihat wajah adinda?'

sang 'adinda' merespon dengan gerakan saja. namun akhirnya ia angkat bicara, ' maas~, saya...bukanlah bidadari penghuni kahyangan ini..-'

dan membailkkan badannya menghadap sasori, '-.. saya hanyalah seorang peri kesepian yang tersesat di kahyangan~..'

mata sasori terbelalak dengan horornya. 'nama saya...'

'ASTAGA!'

tanpa aba-aba kaki sasori berlari sekencang-kencangnya, tak peduli kemana yang penting menjauhi makhluk yang satu ini.

'mas~ kemana atuh.., chocol-'

'OGAH!'

'MAS!'

'PERGI LU!'

"mas!"

tamparan lembut yang berulang di pipi sasori sukses membuatnya terbangun dari mimpi. sasori mengerjapkan mata dan menguceknya sebentar. matanya menangkap sesosok gadis manis dengan tampang wajah mirip bidadari kahyangan, kemudian mata itu terbelalak.

" WAAA, PERI-" sasori teringat tentang mimpinya.

"peri?-" hinata menoleh kesamping kanan dan kirinya. "gak ada peri tuh. mas mimpi peri ya?, pasti cantik`kan peri nya?"

hinata bertanya sambil tersenyum yang membuat sasori salah fokus."i-iya, cantik..,bang-et" pipinya bersemu merah.

kembali sasori teringat akan mimpinya 'mas~ kemana atuh.., cho-' reflek sasori menutup mulutnya, jika ia benar-benar ingin memuntahkan isi perutnya di sini, kemungkinan banjir dadakan akan terjadi di kamar hinata. oke itu menjijikan, silahkan di lupakan.

Hinata bangkit berdiri. "mm.., makasih ya mas udah di temenin. pas hantunya datang, hantunya mas usir kan?"

"i-iya udah di usir kok.., tenang aja pas kamu tidur malam tadi aman kok." haha, bisa aja bohongnya sas.

sasori berdiri dan mengikuti hinata keluar kamar. "aku bikinin sarapan ya.., kalo mas mau cuci muka kamar mandinya ada di sebelah sana." hinata menunjuk sudut bagian kiri dimana letak kamar mandi satu-satunya di rumah ini berada. kemudian ia menuju dapur, membuat sarapan untuk sasori.

sambil mengelap mukanya yang basah dengan kerah baju, sasori berjalan ke arah meja makan. ditariknya salah satu dari empat kursi yang ada disitu kemudian mendudukinya. tempat duduknya tepat berhadapan dengan hinata yang sedang memasak. sasori pun memperhatikan gerakan demi gerakan yang gadis itu lakukan. entah kenapa menurutnya memperhatikan gadis itu jauh lebih menarik dari pada memperhatikan keajaiban dunia sapi bertelur sampai memperhatikan live concert isyana sekalipun.

perhatiannya hanya fokus pada hinata. rambut indigo yang lembut milik gadis itu, kulit putih kenyal gadis itu,iris mata gadis itu, sampai ujung kaki. bahkan sampai sasori tak sadar ada kecoa yang merayap di kakinya.

hinata berbalik, membawa sepiring nasi goreng untuk sasori. di taruhnya hidangan itu di depan sasori, sedangkan sasori sendiri masih menatap hinata lekat.

"hnng.., maaf ya, cuman masakin mas nasi goreng."

"iya, gak papa"sasori menjawab, ia mengambil sendok serta garpu tanpa memindahkan fokus pandangannya.

hinata tertawa kecil melihat sasori. "mas, sendok- garpunya kebalik tuh megangnya. hihi.."

"ah, iya." segera sasori menukar posisi sendok-garpu di tangannya.

"mas mau minum apa, mau dibikinin teh? kopi?" hinata bangkit dari duduknya

"terserah kamu aja, asal kamu yang bikin."

"ah, mas bisa aja. serius nih, mas mau dibikinin apa?"

"ya, terserah kamu mau bikinin apa."

"terserah mas aja." hinata agak kehabisan kesabaran.

"terserah kamu~" sasori ngotot

"terserah mas."

" Rainbow Frappuccino with 3D latte art, buatan kamu~" jawab sasori mantap.

"nghh.., aer putih aja ya.."

"oke~"

sasori mulai menyantap nasi goreng buatan hinata yang sama sekali belum tersentuh dari tadi, sambil memperhatikan hinata tentunya. Melihat gadis itu menuang air putih ke dalam gelas saja membuat dirinya terpesona. sasori sudah terlarut dengan sosok gadis bernama hinata tersebut.

TBC

makin gaje ya nih fanfic?

eh, mau curhat nih. aku kesel sama ketos di sekolahku.., masa kami tanding basket disuruh lawan sama kaka kelas yang dua tahun lebih tua?, gak sebanding banget ih, kalah telak pula, nyesel aku bilang kamu cakep kak, /mogadiagabaca

hiya-hiya, salah aku juga sih yang gak jago-jago amat main basket.

aku mau kasih tau, kurang lebih penetapan karakter tokoh utama seperti ini;

sasori: suka menolong dan bertanggung jawab, gak suka hal yang gak berguna.

hinata: polos, lugu, mudah terpengaruhi dan selalu berpikir positif.

moga suka dengan karakter tokoh yang OOC sekali dengan yang sebenarnya, yang gak suka ya gak papa.

itu saja, terimakasih.

see ya- boa.