Angelus Ruinosus

by willis.8894

Casts: Oh Sehun, Kim Jongin/Kai, Oh Shixun

Addictional Casts: Jung Krystal, EXO, Lee Taemin, Victoria Wu.

Pairing: KaiHun vs XunHun. TaeStal. SeStal!Friendship. SuDo.

Warning: Kemungkinan Incest Shixun-Sehun.

•••

CHAPTER FOUR: Frozen Heart

Krystal mengenal Oh Sehun sejak umurnya 13 tahun dan langsung menyukai anak laki-laki itu. Tidak, bukan suka secara romantis tapi secara platonis. Firasatnya dari awal mengatakan mereka akan berteman dengan baik dalam waktu yang lama. Awalnya pertemanan mereka tak ada yang spesial, Sehun memang ramah pada semua orang, tapi ia hanya membuka seluruh dirinya pada Shixun yang merupakan Adik Kembarnya itu. Semua orang tahu Shixun bukan hanya sekedar adik kembarnya, ia adalah sahabat terbaik Sehun.

Kedekatan Krystal dan Sehun dimulai ketika umur mereka 16 tahun. Krystal begitu terkejut Sehun rela mengorbankan dirinya hanya demi menolong perusahaan keluarganya dari kejatuhan, terlebih Sehun mendukung hubungannya dengan Taemin. Sehun adalah malaikat pelindungnya, pegangan hidupnya, dan Krystal hanya ingin bisa terus mendampingi Sehun seumur hidupnya untuk membalas kebaikan Sehun.

Pertemanan mereka berubah menjadi persahabatan, persahabatan mereka berubah menjadi saling membutuhkan satu sama lain. Tidak, bahkan sampai detik ini mereka tak saling mencintai secara romantis, tapi mereka membutuhkan satu sama lain. Hubungan mereka sulit diterima logika oleh orang lain, tapi memang hanya diantara Sehun-Krystal-Taemin yang mengerti hubungan ini.

Setiap harinya Krystal akan berdoa agar Sehun membuka hatinya pada orang lain. Agar ia bisa menemukan pendamping hidupnya yang sebenarnya. Agar ia bisa merasakan kebahagiaan yang Krystal dan Taemin rasakan. Krystal beberapa kali memancing menanyakan apakah Sehun tertarik dengan perempuan atau masih tertarik pada laki-laki, tapi Sehunnya itu menjawab ia tak tertarik pada siapapun. Krystal bahkan bersedia mencarikan seseorang jika dibutuhkan untuk memuaskan kebutuhan badani Sehun, tapi Sehun menolak. Krystal menyadari Sehun menolak bukan karena masih menyimpan rasa pada Kai, tapi karena Sehun telah berubah menjadi aseksual. Sehun bahkan tak memiliki nafsu seksual sama sekali.

Sebuah selimut yang diletakkan dengan lembut menutupi kakinya, membuat pikirannya buyar. Ia menatap Sehun yang memakaikan kakinya kaos kaki dan memastikan kakinya tertutup dan tak kedinginan. Mereka semua, termasuk Shixun dan yang lainnya, baru saja makan malam di President Suite yang telah dipesan.

Sehun telah memesankan 2 President Suite dengan 2 kamar setiap Suite-nya. Sehun menawarkan untuk memesankan satu Suite lagi karena ia baru tahu pengawal mereka sampai 7 orang, tapi Kris menolaknya. Di Suite ini, kamar utama akan ditempati oleh Sehun dan Krystal sedangkan kamar kedua akan ditempati oleh Seulgi dan Irene. Kai, Shixun, dan Kris akan tidur di sofa untuk jaga-jaga jika sesuatu yang buruk terjadi. Sisanya mereka tidur di Suite sebelah.

"Kau ok?" tanya Sehun cemas. Ia masih berlutut dikarpet Suite mereka sambil memijat-mijat kaki Krystal.

"Hm-mm," gumam Krystal bersandar nyaman, menikmati pijatan Sehun. Hormon kehamilannya membuatnya selalu ingin dimanjakan dan diperhatikan. Sebenarnya Krystal tak ingin menyusahkan Sehun karena ia tahu Suaminya yang satu itu sudah cukup lelah, tapi ia benar-benar tak bisa menahannya.

"Aku sudah membuatkan susumu, setelah minum ini kau bisa tidur," kata Sehun pelan memberikan segelas susu ibu hamil rasa cokelat.

Krystal menerimanya namun bau susu cokelat itu begitu tajam dipenciumannya membuatnya tak bernafsu. "Aku tak mau ini," katanya lagi merajuk mengembalikan gelas itu pada Sehun.

"Kau harus meminumnya, Krys," kata Sehun memberitahu.

"Aku tiba-tiba tak suka baunya. Ganti rasanya!" perintah Krystal cemberut.

Sehun dengan nurutnya, kembali meletakkan gelas itu di meja. "Kau ingin rasa apa?" tanya Sehun menurunkan kaki Krystal dari pahanya lalu bangkit berdiri.

"Stroberi," gumam Krystal.

"Akan kubelikan nanti," katanya mencium puncak kepala Krystal dengan kilat sebelum membawa pergi gelas susu cokelat Krystal itu.

Krystal memperhatikan suami publiknya itu membuang susunya ke wastafel dan mencuci gelasnya lalu kembali untuk mengambil mantelnya dan memakainya.

"Aku harus kembali ke bandara untuk menjemput orang. Kalian lakukan apapun sesuka kalian, tapi tetap jaga Krystal," kata Sehun mengumumkan pada yang lainnya.

"Biarkan aku mengawalmu," kata Shixun bangkit berdiri.

"Tidak," tolak Sehun.

Krystal bisa mengerti, Sehun masih belum terbiasa dengan kembalinya Shixun dan yang lainnya.

"Anda harus dikawal, CEO Oh," kata Kris datar.

Sehun terdiam sebentar sambil menatap datar Kris. "Agen Irene akan mengawalku," kata Sehun pada akhirnya.

"Aku tak suka itu," kata Krystal dongkol. Yep, hormon kehamilannya kembali berulah. Hormonnya sedang menuntut besar-besaran agar Sehun jauh-jauh dari wanita manapun tanpa pengawasannya. Ia tak cemburu demi Tuhan, ini hanya tuntutan hormonnya.

Tawa Baekhyun dan kikikkan Seulgi semakin memperparah suasa hati Krystal itu. Ia benar-benar ingin memakan dua orang itu meski Sehun akan sangat kesulitan jika kehilangan kedua pendamping kerjanya itu.

"Oh, CEO Oh, sepertinya Ny. Oh sedang mengamuk," goda Baekhyun.

Byun Baekhyun, aku benar-benar ingin memakanmu.

Sehun menatap tajam pada asistennya itu sebelum menatap Krystal memohon. "Aku akan jelaskan nanti setelah kembali, ok?" kata Sehun mengecupi rambutnya, berharap Krystal tenang.

Tidak sekarang, Tn. Oh.

Krystal tak bicara apa-apa dan bangkit berdiri lalu pergi ke kamarnya. Sehun mengerang dan mengikuti istrinya itu. Sayangnya bahkan sebelum ia sampai di kamar, Krystal sudah melemparinya dengan bantal, guling, dan selimut.

"Kau," tunjuk Krystal tampak marah. "Tidur diluar malam ini," lanjutnya sebelum menutup pintu kamar dan menguncinya.

Terdengar beberapa tawa yang meledak dari luar kamar tapi tawa Byun Baekhyun yang paling keras. Krystal sendiri, di dalam kamarnya tak bisa menahan senyum bahagianya diatas penderitaan Sehun.

Maaf, Sehunnie. Sepertinya Aegi sedang senang melihatmu menderita sekarang ini. Hormonku sedang meluap-luap ingin menyusahkanmu.

e)(o

Sehun tahu waktunya sedang tiba. Waktu dimana ngidamnya Krystal adalah melihatnya tersiksa. Ciri-cirinya sudah jelas, Krystal akan terus berdebat dengannya, mempermasalahkan hal sekecil mungkin, lalu akan marah dan menghukum Sehun. Yep, Sehun kebal dengan itu. Ia bahkan pernah dipaksa pulang dari kantornya hanya karena Krystal ingin melihatnya memanjat. Ya, memanjat bak spidermen ke atap rumah mereka, ke pohon-pohon tnggi di halaman mansion mereka, bahkan Sehun harus memanjat tembok pembatas mansion mereka! Ya, setidaknya itu lebih baik daripada Taemin yang harus menjadi maid Krystal lengkap dengan seragamnya selama 3 hari. Percayalah, ini sudah terjadi berkali-kali dalam masa kehamilan Krystal.

Sehun hanya tak menyangka ia akan diusir dari kamar didepan teman-temannya juga Shixun dan yang lainnya.

"Aku tak percaya ini! CEO Oh Sehun ditendang keluar kamar oleh istrinya!" seru Baekhyun tertawa terbahak-bahak.

"Tertawalah, Byun Baekhyun. Nanti malam kau yang akan kutendang keluar dari kamarmu," balas Sehun datar memungut bantal, guling, dan selimut yang dilemparkan Krystal itu lalu meletakkannya di sofa.

Baekhyun menatap horor atasannya yang berhati dingin itu sedangkan yang lainnya tertawa terbahak-bahak atas nasib Baekhyun. Apa perlu diperjelas Tao, Luhan, Chanyeol, dan Seulgi yang tertawa paling keras? Sepertinya tidak.

"Agen Irene, kita berangkat sekarang," kata Sehun mengancingkan mantelnya itu.

"Kau akan meninggalkan Krystal begitu saja? Meski dia sedang mengamuk?" tanya Kai mengangkat satu alisnya.

"Ia akan baikan beberapa jam atau paling lama besok pagi. Sebentar lagi ia pasti akan tertidur karena sudah kenyang," jawab Sehun.

"Kau hafal sekali, bukan pertama kalinya diusir dari kamar?" tanya Chanyeol menggoda.

Sehun hanya menatapnya datar. "Itu privasiku," jawabnya dingin dan beranjak pergi keluar diikuti Irene. Meninggalkan suasana dingin dan kaku di dalam sana.

A•R—

Sehun hanya memandang keluar jendela selama perjalanan ke bandara. Agen cantik disampingnya, Irene –seperti yang diinfokan ketika ia meninggalkan Korea–, terus-terus menatapnya membuat Sehun risih. Sehun tahu ia memiliki wajah yang menarik yang diminati pria ataupun wanita, tapi takkan ada yang bodoh untuk mencoba menggodanya apalagi tahu bahwa ia adalah suami Oh Krystal. Wanita cantik, dingin, dan begitu galak. Sehun selalu terhibur melihat Krystal mengusir semua orang yang mengganggunya itu, pria atau wanita takkan ada yang bertahan melawan Krystal.

Mengganggu. Ya, sangat mengganggu karena tak satupun orang bisa menarik perhatian Sehun. Wanita secantik apapun tak bisa membuatnya berhasrat. Pria setampan yang gagahpun tak menarik perhatian Sehun. Pria cantik ataupun manis juga sama sekali tak menarik minatnya. Bahkan setelah bertemu kembali dengan Kai, cinta pertamanya, ia masih tak merasakan apa-apa. Ya, tak ada rasa apa-apa. Tak ada rasa rindu, sakit hati, cinta— semua itu tak ada. Tapi Sehun tahu dirinya menginginkan itu. Sehun ingin bisa kembali jatuh cinta meski itu harus dengan Kai yang takkan pernah mencintainya.

Jika memang Tuhan mengizinkannya bisa mencintai orang secara romantis, secara eros, untuk kedua kalinya, maka Sehun ingin kembali jatuh cinta pada Kai. Hanya Kai, meski pria itu mencintai saudara kembarnya dan takkan pernah melihatnya.

Mungkin benar, cinta itu bisa membuat orang bodoh. Seharusnya Sehun senang hatinya tak perlu lagi merasa sakit, tapi kenapa ia malah ingin mencintai orang yang salah dan malah tersakiti lagi? Sehun sendiri tak tahu. Mungkin karena selama ini Sehun tak pernah berpikir dirinya akan mampu mencintai orang lain selain Kai.

Atau mungkin ada seseorang tak terduga yang bisa membuat Sehun jatuh cinta kembali meski itu bukan pada Kai.

Sehun hanya menghela nafas memikirkan itu. Bertahun-tahun hidup tertimbun dalam pekerjaannya dan menjadi suami Krystal, Sehun tak pernah memikirkan lagi tentang cinta. Selama bertahun-tahun ia tampak tak membutuhkan cinta yang romantis hadir kembali dalam kehidupannya. Tapi hanya bertemu kembali dengan Kai dan Shixun, membuatnya ingin bisa kembali mencintai. Mencintai Kai secara romantis dan mencintai Shixun sebagaimana dulu ia mencintai adik kembarnya itu.

"Kita sudah sampai, Mr. Oh," kata supirnya itu dengan bahasa Inggris dengan logat Rusia yang kental.

Sehun mengangguk dan turun dari mobil sedan itu bersama Irene. Ia segera menuju ke ruang tunggu VVIP untuk kedatangan non-domestik. Ia bisa melihat Victoria duduk dengan tak sabar disana, ujung bibirnya sedikit terangkat melihat Jiejie-nya itu.

"Akhirnya kau menampakkan batang hidungmu, Tn. Oh!" omel Victoria bangkit berdiri dalam bahasa mandarin semakin membuat Sehun tak bisa menahan senyum kecilnya.

"Maaf, Jiejie, Krystal ingin aku mengikutinya ke hotel dan menemaninya makan malam dulu," kata Sehun berjalan dengan tenang menghampiri rekan lamanya itu.

Victoria cemberut namun membuka lebar tangannya. Ini adalah caranya meminta persetujuan apakah Sehun ingin disentuh atau tidak, dan Sehun tak segan untuk memeluk rekan yang sudah bagaikan kakak perempuannya itu. Victoria langsung balas memeluknya erat.

"Changmin-hyung," sapa Sehun setelah berpelukan dengan Victoria, menjabat tangan CEO QiYing Grup itu.

"Sehun-ah, senang melihatmu kembali," kata Changmin tersenyum lega.

Sehun menyeringai kecil mendengar itu dan mengangguk sopan. "Kurasa lebih baik kita ke hotel. Pengawalmu sudah siap semua?" tanya Sehun.

Victoria mengangguk, mengapit lengan Sehun dan Changmin disisinya. "Oh, siapa ini?" tanya Victoria melirik Irene dari atas sampai bawah.

Ah, Sehun sampai lupa ia kesini dengan Irene. "Agen Irene, dia pengawalku," jawab Sehun namun tak memperkenalkan keduanya.

Victoria hanya mengangguk-angguk.

"Sebenarnya ada yang ingin kuberitahu pada kalian," kata Sehun ketika mereka mulai berjalan keluar bandara menuju mobil-mobil jemputan mereka. "Mereka disini. Mereka yang menjadi pengawalku," kata Sehun datar.

Langkah Victoria terhenti dan menatap Sehun terkejut. Changmin langsung sigap merangkul istrinya, sudah langsung mengerti siapa 'mereka' yang Sehun maksudkan. Pandangan terluka, kebencian, namun juga rasa rindu yang dalam bisa Sehun lihat jelas dalam manik mata Victoria Wu itu. Sehun jadi berpikir, jika memang hatinya tak membeku, apakah ia akan memiliki pandangan yang sama seperti Victoria ketika tadi bertemu kembali dengan Shixun dan yang lainnya?

"Aku ingin mengganti pengawal, tapi setelah kupikir ulang sulit bagiku untuk mempercayai keselamatan Krystal disini pada pengawal yang tak kukenal," kata Sehun menjelaskan sambil menuntun kedua pasangan Wu itu kembali berjalan. "Tapi aku bisa mengatur jika kau tak ingin melihat wajah Kris, Tao, ataupun Luhan," lanjut Sehun menawarkan.

Victoria menghela nafas mendengar itu, namun mengangguk. "Jauhkan saja ketiga orang itu dariku, Sehun-ah. Aku benar-benar tak ingin melihat mereka," kata Victoria masih terlihat sakit hati karena kepergian adik dan kedua sepupunya itu.

"Aku akan urus itu, Jiejie. Kalian harus fokus untuk pertemuan besok," kata Sehun mengingatkan, mempersilahkan Victoria dan Changmin masuk ke mobil limo jemputan mereka. Ia menatap Irene yang masih memandangnya dengan kerterarikan itu. "Kau kembali ke hotel dengan mobil tadi. Aku akan naik mobil ini."

"Ta-tapi saya harus mengawal Anda, CEO Oh," kata Irene malu-malu.

"Ada pengawal mereka yang mengawalku juga," jawab Sehun dan langsung masuk ke dalam limo tanpa sepatah kata lagi dari Irene.

A•R—

Sehun dan Irene kembali ke Presiden Suite mereka ketika waktu telah melewati tengah malam. Sehun harus menemani Victoria dan Changmin makan malam dan membahas beberapa dokumen juga persiapan presentasi QiYing Grup selama 10 hari pertemuan ke depan. Tak hanya itu, Sehun juga menginfokan Changmin orang-orang penting yang akan hadir dalam pertemuan itu dan memastikan Changmin menghafal mereka semua. Setelah itu semua, Sehun dan Irene kembali keluar dari hotel, berkeliling kota mencari susu ibu hamil milik Krystal yang rasa stroberi.

Pagi besok akan menjadi neraka jika Sehun tak mendapatkannya malam ini. Sehun yakin itu.

"Tidurlah langsung," kata Sehun pada Irene begitu mereka memasuki Suite mereka.

Irene hanya mengangguk, sudah terlalu lelah untuk mengaggumi ketampanan Sehun.

Sehun membuka mantelnya dan meletakkannya di sofa. Shixun masih di sofa, bermain dengan ponselnya. Kris sudah tertidur sedangkan Kai tampak tak ada disana.

"Oh, kau sudah kembali," kata Shixun melirik Sehun.

Sehun hanya mengangguk dan menuju meja kerja yang disediakan disana. Laptopnya sudah ada disana, seakan mengingatkan masih ada beberapa pekerjaan yang belum ia selesaikan.

"Apa Krystal masih tak keluar dari kamarnya?" tanya Sehun pelan, tak ingin membangunkan Kris sambil meletakkan susu Krystal di meja itu.

"Ia sudah keluar tadi, sempat berjalan-jalan sebentar melihat-lihat sekeliling hotel dikawal olehku, Kris, dan Kai. Aku tak tahu apakah ia mengunci kamarnya lagi atau tidak," jawab Shixun bangkit dari posisi berbaringnya. "Kenapa kau kembali begitu larut?" tanya Shixun, terselip nada tak sabar dan cemas di nadanya.

"Urusan pekerjaan," jawab Sehun singkat dan pergi ke kamarnya dan Krystal.

Tampaknya hormon Krystal sudah membaik karena pintu kamar tak dikunci. Ia melihat istrinya itu tertidur lelap dan nyaman disana. Sehun mengecup pelipis Krystal sebelum menarik selimutnya perlahan hingga perut buncit gadis itu tak tertutupi selimut.

"Baik-baik, Aegi-yah, jangan membuat mamamu kelelahan, hm?" gumam Sehun menciumi perut Krystal. "Papa sudah belikan susu stroberi untukmu, jangan nakal lagi, ya. Papa menyayangimu."

Setelah itu Sehun menyelimuti Krystal, mengecup keningnya, dan pergi ganti baju. Ia hanya memakai celana pendek dan kaos putihnya, namun ketika ia berbalik hendak keluar, ia baru menyadari Shixun berdiri disana, bersandar dipintu entah sejak kapan. Sehun terdiam sesaat dan hanya memandang Adik Kembarnya itu, begitu juga dengan Shixun. Ada sesuatu di mata Shixun, kerinduan masih tersisa dimatanya yang tajam, tapi juga terselip amarah disana. Dan ada sesuatu yang sangat intens yang tak Sehun mengerti.

Sehun memutuskan kontak mata mereka dan berjalan secara kasual ke arahnya. Shixun hanya diam ketika Sehun melewatinya dan langsung duduk di meja kerjanya.

"Kau tak ingin menutup pintunya?" tanya Shixun pelan namun terdengar jelas dikeheningan malam itu.

"Tidak. Dengan pintu terbuka aku bisa mendengar dengan jelas jika Krystal terbangun," jawab Sehun sebelum menghidupkan laptopnya.

Shixun berjalan dan duduk dihadapan Sehun. Bahkan cara mereka duduk juga sangat berbeda. Sehun duduk dengan tegap dan anggun, Shixun duduk dengan santai dengan bersandar bagaikan preman yang siap disewa. Mereka terlalu berbeda namun tak pernah membenci satu sama lain.

Ya, bahkan sampai sekarang Sehun tak pernah sedikitpun membenci Shixun.

Tapi Sehun hanya tak tahu bagaimana menunjukkannya dengan emosi yang minim dan hatinya yang sudah membeku ini.

"Apa kau selalu seperti ini? Kerja hingga larut?" tanya Shixun.

Sehun mengangkat bahu. "Itu sudah seharusnya," jawab Sehun dan mulai fokus pada laptopnya.

Hening untuk sesaat.

"Apa kau tak ingin tahu kabarku?" tanya Shixun lagi.

Sehun mengangkat wajahnya dan menatap adik kembarnya. Shixun terlihat terluka karena sikap dingin Sehun, lagi masih terselip amarah dimata Shixun yang entah ditunjukkan pada Sehun atau pada yang lain. Sehun masih tak mengerti sepenuhnya. Sejujurnya, Sehun tak menanyakan hal itu karena ia lupa. Ia sudah tak peduli lagi dengan Shixun sejak 5 tahun lalu sehingga ia bahkan tak penasaran sama sekali dengan kabar adik kembarnya ini. Itulah yang membuatnya melupakan pertanyaan sesimpel itu. Tapi Shixun tak perlu tahu kenyataan yang hanya membuatnya semakin terluka itu.

"Bagaimana kabarmu?" tanya Sehun datar.

"Sebelumnya aku baik. Tapi sekarang melihatmu seperti ini rasanya begitu menyedihkan dan membuatku ingin mengamuk. Dan aku merindukanmu," kata Shixun dengan tajam, menatap intens ke mata kakak kembarnya itu.

Sehun hanya menatapnya sebelum mengangguk mengerti dan kembali ke pekerjaannya tanpa berkata apa-apa. Sejujurnya ia tak tahu harus mengatakan apa. Ia tak merasakan apa-apa. Ia tak marah, ia tak kesal, dan bahkan tak ada satupun kerinduan yang muncul di hatinya meski Shixun dihadapannya. Apakah ia harus mengatakan semua itu dan membuat hati Shixun terluka? Tentu tidak bukan? Sehun memang tidak bisa merasakan apa-apa pada Shixun dan yang lainnya, tapi ia bukan bajingan yang akan mengatakan semua itu hanya untuk menyakiti mereka.

Hanya karena ia memiliki hati yang tidak bisa merasakan sakit bukan berarti Sehun akan dengan sengaja menyakiti hati orang-orang lain. Cukup banyak yang sudah tersakiti secara tak sengaja karena ketidakpeduliannya, Sehun tak perlu menambah lagi daftar orang-orang yang disakitinya dengan kesengajaan.

Pintu Suite tertutup dengan kasar membuyarkan pikiran Sehun. Ia mengangkat wajahnya dan tak ada Shixun disana. Apakah Shixun baru saja pergi? Hah, apa Sehun melakukan kesalahan lagi?

e)(o

Kai baru saja keluar dari lift hotel mewah itu ketika seseorang menabraknya. Shixun, dialah yang menabraknya. Shixun tampak begitu marah saat ini. Marah dan terluka membuat Kai bingung ada apa dengan sahabatnya itu. Sayangnya, sebelum Kai sempat membuka mulutnya untuk bertanya, Shixun telah mendorongnya menjauh dan masuk ke lift lalu menekan tombol untuk menutup pintu.

Kai berdiri sejenak disana, cukup terkejut. Ia mengangkat bahunya dan memilih untuk tak memikirkan itu. Kai melangkahkah kakinya melewati lorong-lorong dengan karpet mewah dan dekorasi yang harganya selangit. Kai ingat ia tak lagi hidup mewah sejak ia memilih menjadi Agen. Itu sudah jelas, keluarganya telah membuangnya dan ia tak memiliki tempat untuk pulang kembali.

Seandainya Sehun bisa menjadi tempatnya untuk pulang… seperti dulu.

Kai mendapatkan jawabannya ketika ia memasuki Suite mereka. Sehun duduk disana, di meja kerjanya terfokus pada pekerjaannya. Pria cantik itu bahkan tak mengangkat kepalanya untuk tahu bahwa Kai sudah pulang, hanya terfokus dengan laptopnya.

Dulu Sehunnya selalu menyambutnya dengan senyum yang hangat dan manis.

Dulu Sehunnya selalu menyambutnya dengan suara yang begitu merdu dan membuatnya darahnya berdesir setiap kata 'Jongin-ah' terucap dari mulut manisnya.

Dulu Sehunnya selalu menatap dengan mata berbinar yang penuh dengan cinta ketika ia kembali pulang.

Tapi sekarang… Sehun bukan lagi rumahnya.

Sehun telah ia tinggalkan dan telah menjadi milik Krystal. Sekarang Sehun adalah rumah Krystal.

A•R–

FLASHBACK FEW HOURS AGO, WHEN SEHUN GO TO AIRPORT WITH IRENE.

"Bisa sekarang kau jelaskan kenapa Sehun seperti itu, Byun?" tanya Kris setelah keheningan yang cukup lama.

Seulgi terlihat tak nyaman dengan situasi ini. Kai tak heran. Seulgi satu-satunya yang tak mengenal Sehun yang dulu. Seulgi bahkan belum muncul dihidup Sehun ketika Kai meninggalkan Sehun 5 tahun lalu.

"Aku akan berjalan-jalan dulu, mencari udara segar," kata Seulgi mengambil mantelnya.

"Aku akan menemanimu," kata Kyungsoo bangkit berdiri, ikut mengambil mantelnya. "Kuharap kalian membicarakannya baik-baik," katanya memperingati sebelum pergi dengan Seulgi.

"Apa yang terjadi pada Sehun sebenarnya?" tanya Luhan pelan. "Sehunnie… berubah terlalu banyak."

"Tak heran, terlalu banyak yang ia tanggung karena orang-orang egois yang pergi dari hidupnya," kata Baekhyun penuh kedengkian.

"Bisakah kau bicara langsung pada intinya?" balas Shixun tajam, tak sabaran.

"Oh, kau peduli padanya sekarang? Apa perlu kuingatkan KAU yang meninggalkannya 5 tahun lalu, mengatakan kau tak ingin memiliki ikatan apapun lagi dengan Sehun. Sehun menangis dan memohonmu untuk jangan menghilang lagi. Ia hanya memintamu untuk mengabarinya dan jangan membuangnya. Ia tak memintamu untuk tinggal dan membiarkanmu membawa Luhan, Chanyeol, dan Kai. Tapi apa yang kau katakan? Kau ingin kebebasanmu sepenuhnya dan lepas sepenuhnya dari keluarga Oh! Kau meninggalkannya, Shixun! Ia menangis tanpa henti dan ia mulai perlahan kehilangan dirinya! Dan apa yang kau lakukan, huh? APA YANG KAU LAKUKAN?! KAU MENINGGALKANNYA MENANGIS DAN MEMBIARKANNYA TERSUNGKUR, SHIXUN! KALIAN SEMUA MENINGGALKANNYA MALAM ITU, TANPA MENENGOK KE BELAKANG SEDIKITPUN! KALIAN BERSENANG-SENANG DENGAN KEBEBASAN KALIAN SEMENTARA SEHUN KEHILANGAN DIRINYA!" seru Baekhyun tak bisa menahan air matanya.

Kai menutup matanya dan mengingat kembali malam itu. 5 tahun lalu. Ia masih mengingat dengan jelas ketika Sehun menangis dan berlutut dihadapan mereka. Sehun tak meminta mereka untuk tinggal, tidak sama sekali. Sehun hanya meminta mereka untuk tidak menghilang dari hidupnya. Sehun hanya meminta mereka untuk memberi kabar, tidak menghilang seperti yang Shixun, Kris, dan Tao lakukan selama 2 tahun sebelumnya. Ia hanya meminta mereka untuk tak memutuskan ikatan itu, ikatan diantara mereka dan Sehun. Tapi mereka meninggalkannya. Mereka meninggalkannya begitu saja meski Sehun menangis begitu kencang.

Kai masih menyesali malam itu hingga detik ini.

"Kalian tahu? FUCK YOU! LEBIH BAIK KALIAN TAK PERNAH MUNCUL LAGI DI HIDUP KAMI!" seru Baekhyun dan pergi mengambil mantelnya dan keluar dengan membanting pintu.

Suho menghela nafas melihat emosi Baekhyun yang meluap-luap. Semua orang diruangan itu bisa melihat jelas seberapa pedulinya Baekhyun terhadap Sehun. Mungkin benar Baekhyun diam-diam menyukai Sehun, mungkin yang di mobil tadi bukanlah sekedar lelucon.

"Pembicaraan tak berjalan baik?" tanya Krystal yang berdiri di pintu kamarnya.

Mereka semua menatap wanita hamil yang berjalan ke arah mereka dan duduk di sofa satu orang itu. Suho dengan sigap langsung mengambil selimut dan menyelimuti kaki Krystal itu dan sepupunya menggumamkan 'terima kasih'.

"Baekhyun hanya terbawa emosi. Sehun menjadi seperti ini bukan hanya karena kalian," kata Krystal memberitahu keenam pria itu dengan pelan. "Seperti yang Baekhyun bilang, tanggung jawabnya terlalu banyak."

"Huntak Grup?" tanya Tao bingung.

Suho mendengus mendengar itu, membuat Kai mengerutkan kening ketika menyadari sesuatu yang terlewatkan. Apa yang sebenarnya Suho lakukan disini? Suho adalah sepupunya juga seperti Minseok dan Chen. Suho seharusnya mengurus Jenguk Grup, perusahaan keluarga mereka, tapi kenapa Suho bersama Sehun? Apa Suho… COO Huntak Grup? Kenapa begitu?

"Bukan hanya Huntak Grup, ia bahkan menanggung beban perusahaan kita dan perusahaan keluarga kalian," kata Suho datar menatap pada Kai. "Jenguk Grup mengalami kemunduran dan kami hampir bangkrut, Sehun yang membantu kami menyelesaikan masalah dengan membeli setengah dari perusahaan kita. Minseok-hyung menjadi CEO Jenguk Grup sedangkan Chen menjadi COO-nya. Sebagai gantinya, aku bekerja sebagai COO di Huntak Grup."

"Perusahaan Shinhwa tak lagi terselamatkan jika Sehun tak membeli sepenuhnya. Ayahmu hampir terkena Struk karena kejatuhan perusahaan kalian, Chanyeol. Tapi Sehun mengirimnya pergi berlibur jauh dari Korea dan mengurus semuanya," kata Krystal memberitahu.

"A-ayahku?" tanya Chanyeol bergetar, terkejut, dan tak menyangka kehancuran yang datang selama 5 tahun ini.

Kai tak heran, bahkan ia terkejut perusahaan keluarganya juga jatuh jika bukan Sehun yang menolongnya. Tapi kabar tentang keluarga Park ini jelas-jelas sangat mengejutkan sahabatnya itu.

"Beliau sedang menjalani rehabilitasi dan tinggal di Jerman sekarang, bersama Ibumu, Chanyeol-ah. Kakakmu baik-baik saja, ia sudah menikah dan punya anak," kata Krystal dengan baik hati mengabari kondisi keluarga mereka.

"Jadi apapun alasannya, Sehun seperti ini karena kepergian kita," kata Kai tanpa bisa menahan mulutnya.

Hatinya begitu terasa sakit menyadari bahwa ia selalu mengambil, mengambil, dan mengambil apapun dari Sehun tanpa memberi sedikipun sebagai gantinya. Ia terus mengambil hingga tak ada yang tersisa bagi Sehun selain kehampaan.

"Bagus kalian menyadari itu," kata Suho dingin. "Setidaknya tebus saja dengan menjalankan tugas kalian dengan benar dan jangan membuat ulah," katanya datar dan pergi dari ruangan itu.

Krystal menghela nafas melihat Suho yang pergi. "Aku minta maaf soal mereka. Yang tersakiti karena kepergian kalian bukan hanya Sehun, tapi mereka juga. Mereka menanggung beban tanggung jawab kalian karena kalian pergi dan Sehun selalu berusaha untuk membantu mereka semua, membantu kita semua. Mereka merasa berhutang banyak pada Sehun karena itu mereka menyalahkan kalian," kata Krystal memberitahu dengan pelan. "Semua omongan Baekhyun dan Suho, apapun itu jangan dimasukkan ke hati. Mereka hanya emosi. Sudah terlalu banyak yang terjadi dalam 5 tahun ini."

Kai baru menyadari Krystal juga sudah berubah jauh. Wanita itu jadi begitu lebih sabar dan dewasa. Krystal yang dulu tidak terlalu peduli dengan orang lain dan kadang keras kepala. Siapa sangka sekarang Krystal menjadi begitu peduli dengan sekitarnya? Kai bisa melihat bahwa Krystal akan menjadi ibu yang baik nantinya.

Bersama dengan Sehun yang menjadi Ayah yang baik.

Jantung Kai kembali teremas ketika pikiran itu terlintas dalam benaknya. Hampir seluruh darah Kai menjerit ingin memiliki Sehun. Setiap detak jantungnya seakan bagaikan pemandu sorak untuk merebut Sehun dari Krystal. Tapi apakah ia sanggup? Apakah ia bisa seegois itu mengambil Sehun dari Krystal yang sedang mengandung 7 bulan? Ia sudah hidup egois 25 tahun lamanya, tapi kenapa ia begitu ragu sekarang.

Tapi yang paling penting… apakah Sehun mau kembali membuka hatinya untuknya? Entah kenapa Kai meragukan itu.

A•R—

Kai masih menatap Sehun untuk semenit ke depan, berharap pujaan hatinya yang cantik itu menyadari keberadaannya. Ia kembali menunggu semenit berikutnya, tapi Sehun masih terfokus pada laptopnya. Kai berdehem, mencoba menarik perhatian Sehun, telah siap dengan memasang seringai seksi yang bisa membuat pria dan wanita melemparkan diri padanya.

Pria cantik itu mengangkat wajahnya dan menatap Kai. Sehun hanya mengangguk sebelum kembali pada laptopnya. Seringai Kai luntur. Sambutan Sehun begitu dingin dan kaku. Hanya sebuah anggukan. Tidak seperti dulu.

"Pekerjaanmu banyak?" tanya Kai basa-basi, duduk dihadapan Sehun. Tentu saja, Kai. Pertanyaan bodoh apa lagi itu? Suho dan Krystal sudah memberitahu tadi betapa banyak tanggungan Sehun sebagai CEO Huntak Grup.

"Lumayan," jawab Sehun masih terfokus pada laptopnya.

"Kau harus beristirahat," komentar Kai lagi.

Sehun mengangguk.

Hanya anggukan. Itulah yang diterima Kai. "Sehun," panggil Kai kini lebih tegas.

Sehun menegang sedikit, tangannya berhenti mengetik dan pria cantik itu mengangkat wajahnya. Wajahnya datar, tapi mata cokelat indah itu masih memiliki tanda kehidupan. Sangat minim hingga Kai tak bisa mengerti emosi dalam pancaran mata Sehun.

"Beristirahatlah," kata Kai lembut, pelan, namun tak bisa diargumentasikan.

Sehun hanya terdiam sejenak, hanya menatapnya sedang berbagai macam emosi yang campur aduk. Kai benar-benar tak mengerti. Ia tak mengerti sama sekali apa yang Sehun pikirkan dan rasakan saat ini. Sehun kaku bagaikan patung, tapi matanya masih hidup. Sulit sekali untuk menebaknya karena Sehun begitu tertutup. Terasa begitu jauh meski jarak mereka hanya terpisah oleh meja kayu mewah yang lebarnya 1 meter.

"Baiklah," kata Sehun menghela nafas setelah keheningan beberapa saat.

Kai terkejut. Ia benar-benar terkejut Sehun mau mendengarkannya. Ia berpikir ia harus menyeret pria cantik itu dengan paksa untuk segera tidur. Mungkin ia memaksa Sehun untuk tidur di sofa dengannya dan memeluknya erat agar pria itu tak kabur lagi. Ia jadi menyesali kenapa Sehun langsung menurut padanya, imajinasinya yang barusan tampak begitu menantang bagi Kai.

Sehun menutup laptopnya dan bangkit berdiri. "Selamat tidur, Jongin-ah," kata Sehun datar dan pergi ke kamarnya.

Kai baru menyadari pakaian Sehun. Kaos lengan putih lengan pendek yang melekat pada tubuhnya yang kurus itu membuat Kai ingin memeluk Sehun dengan erat. Lengannya yang panjang dan seputih susu itu terekspos dengan jelas, membuat Kai ingin melingkarkan lengan itu dilehernya sementara ia mencumbu Sehun. Celana pendek itu bahkan hanya menutupi setengah paha mulus Sehun, membungkus dengan baik bokong bulat Sehun yang menawan dan memperlihatkan kaki jenjangnya yang putih mulus. Kai sangat ingin melingkarkan kaki jenjang Sehun dipinggangnya dan meremas-remas bokong lembut itu.

Sial. Hasratnya benar-benar tak tertahankan.

Kai tak bisa lagi mengendalikan dirinya. Ia menghampiri Sehun yang hendak masuk ke kamarnya itu dan membalikan badan pria cantik itu. Mata Sehun memancarkan kebingungan dan berusaha menarik lengannya dari Kai, tapi Kai mencengkramnya erat.

Kai menangkup leher belakang Sehun dengan lembut namun pasti. Membawa wajah Sehun mendekat dengannya dan menyatukan bibir mereka. Gejolak memenuhi tubuh Kai ketika bibir mereka bersentuhan. Begitu manis dan lembut. Kai tak pernah merasakan seperti ini sebelumnya. Ia telah mencium banyak orang, tapi rasa ini begitu baru bagi Kai. Ia memiringkan wajahnya dan mencium lebih dalam, melumat bibir bawah Sehun dengan lembut, ingin lebih menikmati sensasi menakjubkan itu lebih lama.

Tapi Sehun hanya terdiam bagaikan patung. Ia hanya terdiam bagaikan patung disana. Tak menolak ataupun membalas ciuman Kai. Hanya diam bahkan ketika Kai menghisap bibir bawahnya untuk terakhir kalinya dan memberi kecupan terakhir dibibir manisnya sebelum menarik wajahnya menjauh.

Sehun hanya terdiam. Matanya memancarkan berbagai emosi jauh lebih jelas dari yang tadi. Tapi Kai sama sekali tak bisa mengerti. Sensasi menakjubkan yang Kai rasakan kini berganti menjadi rasa bersalah. Mungkin Sehun tak menginginkan ini. Mungkin Sehun sekarang jijik padanya karena seenaknya menciumnya tanpa izin. Mungkin Sehun akan semakin membencinya sekarang.

Kai menunggu Sehun bereaksi. Berpikir Sehun akan menampar ataupun menonjoknya. Atau mengatakan kata-kata yang menyakitkan, menghinanya habis-habisan. Tapi Sehun tak melakukan itu, ia hanya diam lalu berbalik pergi. Menutup pintu kamarnya dengan pelan.

Hati Kai kembali hancur karena itu. Ia merasa bahwa ciuman itu tak berarti apa-apa bagi Sehun sementara tubuhnya begitu mendambakan sensasi menakjubkan sesaat tadi. Sehun bahkan tak marah padanya, ia tak bereaksi apa-apa seakan itu bukan hal yang pantas untuk membuang energinya. Seakan itu benar-benar tak ada artinya.

Mungkin memang itu tak ada artinya. Karena hati Sehun bukan lagi milik Kai, hati Sehun telah menjadi milik Krystal.

•••e)(o•••

UH-OH! Sehun bikin Shixun marah, Kai maen nyosor aja ke Sehun kekekekeke

sejujurnya aku gak tau feeling chap ini dapet atau enggak. aku ngerasa dibagian terakhir kurang bagus, tapi udah aku edit berulang-ulang tetep aja jadinya begitu T_T

Bagi yg gerah sama momen sestal, maaf aja ya. Aku udah berusaha buat minimin sestal tapi inspirasiku bikin aku nulis gitu. Disana juga banyak clue sebenernya kalau kalian mau baca lebih teliti. Hehe.

Soal rated-nya bakal ganti ke M gak?

Aku gak tau soal ini, aku masih gak yakin nulis rated M. Tapi kita liat aja ke depannya. Hehehe.

SPOILER: next chap full XUNHUN NO SESTAL wkwkwkwk

Siap-siap abis baca next chap tentukan #teamKaiHun atau #teamXunHun. Ambil ancang2 aja dulu dari chap ini :DD

terakhir, Makasih banyaaak reviewnya dan terus review yah jangan sider mulu. Kasih apresiasi ke author itu gak bayar kok. Hehe.

-willis.8894