Angelus Ruinosus
•
by willis.8894
•
•
•
Casts: Oh Sehun, Kim Jongin/Kai, Oh Shixun
Addictional Casts: Jung Krystal, EXO, Lee Taemin, Victoria Wu.
•
•
•
Pairing: KaiHun vs XunHun. TaeStal. SeStal!Friendship. SuDo.
•
•
•
Warning: Kemungkinan Incest Shixun-Sehun.
•••
CHAPTER SIX: BROKEN
"Hun-ah! Oh, Tuhan! Hun-ah! Kumohon bangunlah!" suara lembut dan panik Krystal menarik Sehun dari kesadarannya.
Sehun membuka matanya dan menatap langit-langit hotel yang ia tempati itu. Nafasnya terengah-engah, wajahnya basah bersimbah air mata, dan seluruh tubuhnya berkeringat. Ia gemetar.
Ia baru saja terbangun dari mimpi buruknya.
Krystal memeluknya erat sambil terisak. Ia menciumi kepala Sehun dan menyeka keringatnya. Mengusap semua air mata Sehun meski mereka terus mengalir tanpa bisa dihentikan. Sehun hanya terdiam bagaikan mayat hidup dipelukan Krystal dan jantungnya masih berdetak begitu keras karena mimpi buruknya itu.
Ini pertama kalinya dalam 3 tahun terakhir ia kembali memimpikan kejadian paling mengerikan dan keji di dalam hidupnya. Kejadian yang hampir membuatnya mengakhiri hidupnya 5 tahun lalu. Kejadian yang hanya ia sendiri yang tahu dan bahkan psikolognya sendiri tak tahu. Bahkan Krystal-pun tak tahu.
Kejadian yang membuatnya benci disentuh oleh orang lain.
Sehun berpikir otaknya sudah melupakan kejadian itu. Tapi sepertinya sesuatu memicu ingatan itu kembali. Ciuman Kai. Itulah yang memicu kembali ingatan mengerikan itu. Ingatan mengerikan yang disebabkan oleh Kai, Chanyeol, dan Luhan.
Ini cukup mengerikan bagi Sehun. Sejujurnya, saat bersama Kai, hatinya yang dingin sedikit mulai merasakan sesuatu. Seperti ketika Kai memanggil namanya dengan lembut namun tegas, dan bagaimana ketika Kai menyuruhnya untuk tidur, Sehun merasakan sesuatu. Sedikit kebahagiaan yang menghangatkan hatinya dan sangat banyak kebingungan yang memenuhi kepalanya begitu menatap mata Kai. Karena mata Kai memancarkan sesuatu yang lain, sesuatu yang sulit Sehun mengerti. Dan entah kenapa, itulah yang membuat Sehun menuruti perkataan Kai meskipun masih ada pekerjaan yang ingin ia selesaikan.
Tapi semua itu lenyap ketika tiba-tiba Kai menciumnya. Ya, lenyap. Bibir Kai terasa dingin bagi Sehun, detak jantungnya tak berubah, tak ada gairah, tak ada apa-apa. Hanya hampa. Sehun tak tahu kenapa itu terjadi dan sejujurnya ia sangat panik di dalam dirinya. Kai menciumnya adalah impian Sehun sejak umurnya 13 tahun. Ia telah mendambakan bibir Kai sejak pertama kali ia bertemu Kai! Tapi tubuhnya— tubuhnya tak bereaksi apapun dan itu sangat menakutkan.
Sehun bahkan tak tahu apa yang ingin ia rasakan. Ia tak tahu sama sekali. Apakah ia ingin merasakan bahagia karena akhirnya Kai menciumnya? Apakah ia ingin merasakan sedih karena ia tahu hati Kai hanya untuk Shixun tapi melampiaskan hasratnya pada Sehun? Apakah ia ingin merasakan marah karena Kai menciumnya tanpa izin? Atau malah ia… jijik? Sehun sama sekali tak tahu.
Tapi apapun itu, tak ada yang bisa menyingkirkan rasa hampa ini. Rasa hampa yang paling dibenci oleh Sehun.
"Hun-ah, bicaralah padaku, kumohon," bisik Krystal cemas dalam isakannya.
Tapi Sehun tak bisa membuka mulutnya. Ia tak bisa menggerakan badannya. Seakan seluruh sarafnya lumpuh sesaat. Ia hanya berbaring dalam perlukan hangat Krystal bagaikan tubuh tanpa nyawa.
—A•R—
Pertemuan akan dimulai jam 9 pagi. Sehun sudah siap dengan kemejanya sebelum sarapan bersama yang lainnya. Ia menatap pantulannya di cermin sambil memakai dasinya. Wajahnya terlihat dingin dan mati. Seperti ayah dan kakeknya, bedanya bentuk wajah feminim Sehun masih terlihat jelas meski tanpa ekspressi. Sehun tak menyukai ini. Ia ingin bisa seperti ibunya yang tersenyum bagai malaikat apapun keadaannya. Namun seberapa keraspun Sehun mencoba, ia tak bisa. Krystal dan teman-teman Sehun yang lain sudah berusaha keras untuk menjaga kemanusiaan yang tersisa dalam diri Sehun, tapi tetap semua itu tak mengembalikan Sehun yang dulu.
"Hun," panggil Krsytal pelan. "Apa kau tak ingin memberitahuku apa yang terjadi?" tanya Krystal cemas.
Sehun tahu yang Krystal maksud adalah mimpi buruknya. Krystal sudah mendampinginya selama 9 tahun, ia tahu mana mimpi buruk yang hanya sekedar ingatannya pada Shixun dan yang lainnya, mana mimpi buruk yang mengingatkannya dengan kejadian traumatis. Perbedaan Sehun akan terlihat jauh dan sangat jelas. Krystal hanya tak tahu tentang apa mimpi buruk traumatis yang Sehun hadapi itu.
"Aku belum bisa memberitahumu, Krys," kata Sehun datar. "Jiejie juga datang ke sini, kemungkinan besar Jiejie ikut pertemuan juga, tapi kalau kau mau aku akan minta Jiejie menemanimu," kata Sehun mengubah topik.
Krystal cemberut namun tak mendesak Sehun lebih jauh tentang mimpi buruk itu. "Siapa pengawal yang akan tinggal bersamaku?" tanya Krystal.
"Kris, Luhan, dan Tao," jawab Sehun berbalik menatap Krystal.
"3 orang? Itu terlalu banyak," kata Krystal heran.
"Jiejie tak ingin melihat mereka, aku tak bisa membiarkan mereka mengawalku ke pertemuan. Lagipula 4 pengawal sudah cukup bagiku."
Krystal mengangguk mengerti, tak ingin mendebat apapun.
Sehun merangkul Krystal dan menuntunnya untuk keluar kamar mereka. Sarapan sudah tersedia dan yang lain sudah berkumpul dan mulai sarapan. Sehun memastikan Krystal duduk dengan nyaman sebelum pergi membuatkan susu untuk Krystal. Kyungsoo dengan baik hati mengambilkan sarapan yang Krystal inginkan.
"Bos, ada telepon dari Minseok-hyung," kata Baekhyun memberikan ponsel itu pada Sehun.
Sehun mengangguk dan meletakkan gelas susu Krystal di meja dihadapan Krystal sebelum mengambil ponsel itu lalu pergi ke balkon. Pembicaraan itu termasuk berat untuk dibicarakan pagi-pagi, tapi jelas itu tak bisa dihindari. Minseok memberitahu masalah yang terjadi di Jenguk Grup dan menanyakan bagaimana keputusan Sehun selaku pemegang saham 50% perusahaan itu.
"Tolong kirimkan dokumen-dokumennya, Hyung. Aku akan memutuskan setelah memeriksanya," kata Sehun sambil menatap pemandangan kota Moskow pagi itu.
"Chen sudah mengirimkannya padamu. Aku tahu kau sibuk, tapi apa kau bisa memberi kepastian kapan kau akan memutuskan?" tanya Minseok.
Sehun tahu kondisi ini mendesak dan ia tak bisa menunda apapun. "Beri aku waktu setidaknya 1-2 hari, Hyung."
"Aku mengerti. Terima kasih, Sehun-ah. Semoga pertemuannya sukses," kata Minseok.
"Oh. Terima kasih, Hyung," jawab Sehun lalu menyudahi pembicaraan mereka.
Sehun segera menuju meja kerjanya selesai menelepon, memeriksa emailnya dan mulai membuka dokumen-dokumen kiriman dari Chen.
"Kau perlu sesuatu, Bos?" tanya Seulgi menawarkan.
"Kopi tolong," jawab Sehun tanpa mengalihkan pandangannya dari laptopnya.
Seulgi mengangguk dan pergi untuk membuatkan kopi.
"Seulgi," panggil Krystal ketika hendak ke dapur kecil di Suite mereka. "Jangan buatkan Sehun kopi. Bisakah tolong kau ambilkan obat di koperku? Itu ada dikantong kecil di paling dalam," kata Krystal lagi.
Seulgi mengangguk dan langsung pergi ke kamar Sehun dan Krystal. Jelas ia akan lebih menuruti Krystal karena jika Krystal sudah mengamuk, Seulgi benar-benar seakan takkan pernah melihat matahari lagi.
10 menit setelahnya, Krystal meletakkan 3 tablet obat dan segelas air putih di hadapan Sehun. "Tidak sekarang, Krys," kata Sehun tak mengalihkan pandangannya dari laptopnya.
"Kau membutuhkannya, Sehun," kata Krystal lembut namun tak ada bantahan. "Kondisimu memburuk."
Sehun melirik obatnya itu. Telah cukup lama ia berhenti mengkonsumsinya. Mungkin terakhir sekitar dua atau satu setengah tahun yang lalu karena kondisi kesehatan mentalnya membaik apalagi dengan bantuan Krystal dan teman-teman Sehun. Sehun berpikir Krystal tak lagi menyimpan obat-obatnya itu.
"Aku yang meminta langsung dari psikiatrismu," kata Krystal menjelaskan. "Sadar atau tidak kondisimu beberapa minggu ini memburuk, Sehun. Dan meski tak bisa kau akui, keberadaan Shixun dan yang lainnya berdampak buruk bagi kesehatanmu," kata Krystal pelan mencoba membujuk, memijat-mijat bahu kaku Sehun.
"Aku butuh bekerja, Krys. Aku akan minum setelah pekerjaanku selesai, aku janji," kata Sehun menutup matanya dan menghela nafas, menikmati pijatan Krystal.
Sejujurnya, Sehun bukan orang yang sulit minum obat. Ia tahu mentalnya sakit dan ia ingin sembuh, karena itu ia minum obat teratur. Tapi tidak sekarang. Efek obat itu memiliki kandungan obat tidur yang cukup tinggi, memaksa tubuh dan pikirannya beristirahat. Ia tak bisa melakukan itu sekarang terlebih Minseok menunggu keputusannya segera.
Pijatan Krystal berhenti dan tangan wanita itu menghilang dari pundaknya. Sehun membuka matanya dan melihat Krystal sudah berjalan meninggalkannya. Ia tahu Krystal sedang marah sekarang.
"Krys," panggil Sehun menghela nafas dan bangkit dari tempat duduknya, mengikuti Krystal.
Sayangnya Krystal menutup pintu kamar mereka di depan mukanya, membuat Sehun menghela nafas.
"Sehun, semua ok?" tanya Kyungsoo cemas, menghampiri Sehun hendak mengelus lengan Sehun.
Tapi secara refleks, Sehun menarik dirinya menjauh sebelum Kyungsoo sempat menyentuhnya. Ia bisa melihat kekecewaan dan sakit hati di mata Kyungsoo meski pria itu mencoba menutupi dengan senyum maklumnya. Sulit bagi Sehun untuk bersentuhan dengan orang lain apalagi setelah mimpi buruk itu kembali datang.
"Ma-maaf," kata Sehun pelan. "Jangan cemas, aku dan Krystal hanya berargumen kecil," katanya lagi datar.
Kyungsoo jelas tak mempercayai itu tapi mengangguk. Sehun selalu memiliki batasan dan tembok yang hanya bisa dilewati Krystal, ia beruntung teman-temannya yang lain menghormatinya untuk tidak mencoba menerobos dengan paksa masuk ke dalam dirinya.
"Kuharap kalian berdua mau sarapan," kata Kyungsoo mengingatkan sebelum berbalik pergi.
Sehun mengetuk-ngetuk pintu kamarnya dan Krystal itu dengan pelan. "Soojung-ah, kumohon buka pintunya, kau perlu sarapan," kata Sehun mencoba membujuk.
Masih tak ada respon dari Krystal.
"Aku janji akan meminum obatnya, Krys, setelah pekerjaanku selesai. Aku baik-baik saja sekarang," kata Sehun lagi mencoba membujuk.
Kali ini Krystal membuka pintunya dan menatap Sehun dengan air mata yang berurai di pipinya. Sehun segera memeluk Krystal dan membawanya masuk ke kamar mereka lalu menutup pintunya.
"Aku minta maaf, ok? Kumohon, jangan menangis," bisik Sehun mengusap air mata Krystal.
"Ganti pengawal kita. Jauhkan Shixun dan yang lainnya," kata Krystal memerintah dengan pelan.
Sehun terkejut mendengar itu dan mundur menjauh. "Apa?" tanya Sehun tak bisa menahan nada terkejutnya. "Kenapa? Aku tahu kau tidak membenci mereka, Krystal. Kau tak seperti Baekhyun dan Suho-hyung."
"Aku tak membenci mereka, tapi aku ingin mereka menjauh darimu. Kondisimu memburuk beberapa minggu ini, Sehun. Kurasa itu karena ikatan batinmu dengan Shixun yang belum terputus, seakan memperingati bahwa kalian akan segera bertemu. Memperingatimu dengan memori-memori tentang Shixun, Kai, dan yang lainnya."
Perkataan Krystal mengejutkannya. Ia tak pernah terpikirkan hal itu. Ia tak pernah terpikirkan bahwa ikatan batinnya dengan Shixun masih berfungsi setelah 7 tahun mati.
"Ketika melihat Shixun yang lainnya, aku berharap ini akan menjadi sebuah kemajuan untukmu, Sehun. Tapi nyatanya tidak," kata Krystal bergetar mencoba menahan tangisnya. "Secara sadar kau tak menunjukkan efek mereka terhadapmu, Sehun. Tapi alam bawah sadarmu yang menunjukkannya," kata Krystal terisak.
Sehun tahu yang dimaksud Krystal adalah mimpi buruknya semalam. Tapi ia tak tahu ini akan begitu mempengaruhi Krystal. Ia bahkan tak tahu bagaimana reaksinya tubuhnya saat ia bermimpi buruk.
"Apa yang terjadi padaku semalam? Sebelum aku terbangun?" tanya Sehun.
"Kau menjerit, Sehun. Kau menjerit dan berteriak agar tak ada yang menyentuhmu. Kau terus-terusan berteriak untuk berhenti. Kau menangis dalam jeritanmu dan aku sangat ketakutan. Aku takut dengan apa yang kau hadapi dalam mimpimu, Sehun. Aku ingin memanggil Baekhyun, tapi aku tahu kau takkan mau itu. Aku tak bisa melakukan apa-apa, Sehun. Aku hanya bisa melihatmu tersiksa karena mimpimu hingga menunggumu tenang dan aku bisa memelukmu," kata Krystal terisak keras. "Aku takut, Sehun. Aku takut dengan kondisimu, aku tak pernah ingin melihatmu seperti itu lagi. Dan bahkan setelah kau bangun, kau bagaikan tubuh tanpa nyawa. Aku tak ingin lagi kau seperti itu, Sehun-ah," bisik Krystal sambil terisak.
Sehun kembali memeluk Krystal dan mengusap rambutnya. Itu pasti mengerikan bagi Krystal. Responnya ketika bermimpi buruk itu sama seperti ketika awal-awal Shixun baru meninggalkannya. Sudah lama sekali ia tak seperti itu, jelas itu membuat Krystal terkejut dan takut.
"Aku minta maaf, aku tak bermaksud membuatmu takut," bisik Sehun mengecupi rambut Krystal penuh sayang.
"Usir mereka, Sehun-ah. Kumohon. Jika kau tak bisa melakukan itu demi dirimu sendiri, setidaknya lakukan demiku dan Aegi," pinta Krystal memohon.
"Aku tak bisa, Krys," kata Sehun pelan. "Dan aku tak mau. Hubunganku dengan Shixun memang takkan bisa kembali seperti dulu karena Shixun tak menginginkannya, tapi aku takkan melewatkan kesempatan 10 hari dalam hidupku untuk bisa melihat Shixun lagi. Bukan hanya Shixun tapi juga yang lainnya."
Krystal mengangkat wajahnya dan menatap Sehun. "Apa kau merindukannya? Merindukan mereka?" tanya Krystal mengusap wajah Sehun.
Sehun menggeleng. "Aku tak merindukan mereka karena aku tak bisa, Krys. Aku tak bisa merasakan emosi itu karena penyakit mentalku ini. Tapi jika aku bisa— jika aku bisa merasakan, Krys, aku pasti merindukan mereka," aku Sehun dan setetes air matanya gagal ditahannya. "Aku ingin bisa merasakan, Krys. Sangat ingin," aku Sehun lirih.
"Oh, Tuhan," bisik Krystal tak bisa menahan air matanya mendengar pengakuan Sehun dan memeluk erat tubuh Sehun.
Hanya Krystal yang tahu. Hanya Krystal yang tahu seberapa besar Sehun berjuang melawan dirinya sendiri setiap hari. Hanya Krystal yang tahu seberapa besar keinginan Sehun untuk bisa kembali menjadi Sehun yang dulu. Hanya Krystal yang tahu seberapa besar keinginan Sehun untuk bisa merasakan berbagai macam perasaan kepada semua orang, bukan terbatas. Hanya Krystal yang tahu… betapa Sehun membenci hatinya yang telah membeku.
Orang-orang berpikir Sehun menjadi dingin karena pilihannya sendiri. Teman-teman Sehun berpikir dampak seperti ini adalah yang diinginkan Sehun, untuk berhenti merasakan sakit. Teman-teman Sehun berpikir, Sehun menikmati hidupnya yang sekarang tanpa rasa sakit lagi. Ya, yang lain berpikir Sehun bahagia memiliki hati yang hanya bekerja untuk Krystal dan anak mereka, namun dingin kepada orang lain.
Hanya Krystal yang tahu semua itu. Dan juga Taemin, karena Taemin adalah suami Krystal dan Krystal pasti memberitahu semuanya kepada Taemin.
"Kumohon jangan bekerja hari ini. Tetaplah disampingku, Hun," bisik Krystal yang masih memeluk erat Sehun.
Sehun terdiam sejenak sebelum mengangguk.
Krystal melepaskan pelukan mereka dan mengusap air mata Sehun lalu mengecup pipinya. "Kau juga harus meminum obatmu," kata Krystal pelan sambil melepaskan simpul dasi Sehun dan membuka kemejanya.
Sehun hanya mengangguk dan menurut. Ia membiarkan Krystal melepaskan kemeja kerjanya sehingga ia hanya menggunakan kaos putih tipis. "Ayo, sarapan," kata Sehun menuntun Krystal keluar setelah wanita itu melemparkan kemeja dan dasi Sehun ke tempat tidur mereka.
"Oh, Tuan dan Nyonya Oh, ini masih pagi," goda Baekhyun melihat penampilan Sehun dan Krystal yang keluar kamar itu.
Sehun hanya menggeleng dengan respon temannya itu, sambil membantu Krystal duduk di sofa yang kosong.
"Oh, itu diperlukan, agar suamiku tak diambil orang," balas Krystal menatap Baekhyun galak, membuat Baekhyun, Seulgi, Suho, dan D.O tertawa terbahak-bahak.
"Apa maksudnya?" tanya Tao penasaran.
"Aku tak mengerti," kata Sehun tampak bingung di wajah datarnya semakin membuat teman-temannya itu tertawa.
"Oh, Sehunnie memang selalu polos," goda Baekhyun semakin menjadi-jadi.
Kening Sehun sedikit berkerut dan bibirnya sedikit melengkung ke bawah.
SNAP!
Sehun berkedip mendengar suara kamera itu. Ia menatap Shixun yang memfoto wajahnya itu. "Apa yang kau lakukan?" tanya Sehun masih dengan ekspressi yang sama.
"Mengabadikan momen seorang CEO Oh berubah menjadi anak kucing yang ngambek," jawab Shixun kembali mengambil foto Sehun yang cemberut itu, membuat yang lain tertawa mendengarnya.
"Hapus itu," suruh Sehun.
"Tidak," jawab Shixun menyeringai.
"Kirimkan fotonya padaku," minta Baekhyun mengadahkan tangan.
"Aku takkan memberikannya secara gratis."
"Katakan nominalnya dan akan segera kukirimkan," kata Suho tampak begitu berminat.
"Deal."
Kyungsoo sedang memegang ponsel Shixun memperhatikan foto mengambek Sehun itu. "Kita harus jadikan foto ini sebagai cover majalah perusahaan," kata Kyungsoo mengangguk mantap membuat yang lain semakin tertawa terbahak-bahak –apalagi Baekhyun dan Seulgi– mendengarnya.
"Shixun, kupikir kau akan selalu membelaku," protes Sehun dengan kening semakin mengkerut dan bibir yang tertekuk.
SNAP!
"Aku dapatkan fotonya," kata Kai mengumumkan sambil menyeringai sementara satu tangannya berusaha menyingkirkan Tao yang berusaha merebut ponselnya.
"Cetak foto itu dan perbesar," perintah Krystal pada sepupunya itu.
Kai menaikan alisnya. "Dan apa yang kudapatkan dari itu, Jung?" tanya Kai menggoda.
"Anggap saja sebagai ucapan selamat atas kehamilanku," balas Krystal galak.
"Oh," kata Sehun tiba-tiba sebelum Kai sempat membalas perkataan Krystal. Kai menatapnya tampak tak mengerti. "Dia Oh Soojung sekarang," koreksi Sehun datar.
"Oh! Oh! Oh! Oppareul saranghae~" Baekhyun justru menyanyikan lagu dari girlband favoritenya itu, semakin menjadi-jadi dalam menggoda Bosnya itu.
"Ah! Ah! Ah! Mani mani hae!" Seulgi malah ikut-ikutan rekan kerjanya itu menggoda Sehun. Krystal tak bisa menahan tawanya lagi mendengar itu. Yang lain? Jangan tanya, mereka sudah tertawa terbahak-bahak karena ulah dua orang itu.
Sehun melemparkan bantal sofa terdekat yang bisa diraihnya kepada dua bawahannya itu. Tentu saja, Sehun yang paling muda diantara mereka. Meskipun Sehun dikenal sebagai Manusia Es, tapi tetap tak membuatnya lolos dibully Asisten Pribadi dan Sekretarisnya ini.
"Baiklah, cukup kalian berdua menggoda bos kalian," kata Kyungsoo menyudahi namun tak bisa menahan senyum gelinya melihat Sehun cemberut. "Jadi Sehunnie tak ikut pertemuan hari ini?" tanya Kyungsoo.
"Nyonya Oh tak mengizinkan," jawab Sehun duduk disamping Baekhyun dan mulai mengambilkan sarapan untuknya.
"Tenang saja, aku bisa urus dibawah," kata Suho menenangkan Sehun. "Jadi siapa yang mengawal kita siapa yang mengawal Sehun dan Krystal?"
"Kris, Luhan, dan Tao tinggal disini. Yang lain mengawal ke pertemuan," jawab Sehun memutuskan tak memberi waktu untuk para Agen itu menjawab.
"Hei, kau tak bisa memutuskan itu begitu saja," protes Chanyeol tak setuju.
"Shixun tak bisa ikut dengan kita, Sehun-ah," kata Suho mengabaikan protesan Chanyeol.
"Dan kenapa begitu?" tanya Luhan heran.
"Tidakkah kalian lihat? Shixun mirip dengan Sehun. Kita tak bisa membiarkan yang lain tahu mereka kembar apalagi Shixun sebuah—" Suho mencoba mencari kata yang tepat. "Kecacatan."
Suasana langsung berubah kaku dan tegang karena perkataan Suho itu.
Shixun langsung bangkit berdiri dan hendak menghajar Suho, namun Irene dan Kris sigap menahan pria itu.
"Shixun adalah adik kembarku, tak ada yang bisa mengubah itu dan aku tak perlu menutupi apapun dari fakta itu," balas Sehun dingin.
"Shixun sendiri yang menegaskan bahwa ia memutuskan ikatan dengan keluarga Oh, Sehun. Dia sendiri yang mengatakan bahwa ia bukan adikmu lagi," balas Suho tak sabaran.
Suasana hening dan kaku karena perdebatan itu. Shixun masih ditahan oleh Kris dan Irene karena ia tampak begitu marah, seperti ingin mencabik-cabik Suho.
"Benar. Dia sendiri yang mengatakan, bukan aku. Jadi terserah padaku apakah aku masih menganggapnya adikku atau bukan. Terserah padaku jika aku memperkenalkannya sebagai adikku atau bukan. Itu keputusanku, bukan kau, Suho," balas Sehun dingin.
Perkataan itu membuat Shixun berhenti memberontak dari pegangan Kris dan Irene. Ia menatap Hyungnya tampak terkejut.
"Sekarang kutanya padamu, Shixun. Apa kau mau ke bawah dan mengekspos dirimu sebagai keluarga Oh? Aku memberikanmu pilihan," kata Sehun menatap lurus pada adik kembarnya itu.
Shixun terdiam sebentar mendengar pertanyaan itu. "Aku akan disini. Aku lebih suka mengawal Hyung," jawab Shixun.
Sehun hanya mengangguk tanpa ekspressi dan bangkit berdiri menatap Suho yang masih tampak tak setuju dengan argumen Sehun itu. "Hyung, kita perlu bicara sebentar tentang Jenguk Grup," kata Sehun pada Suho dan berbalik pergi ke balkon.
Sehun selalu memanggil Suho dengan sebutan Hyung. Hanya dalam beberapa kondisi ia memanggilnya dengan 'Suho'. Seperti tadi. Dan Suho tahu jika Sehun sudah kembali memanggilnya dengan Hyung artinya mereka sudah baik-baik saja.
"Baiklah," jawab Suho menghela nafas dan mengikuti Sehun ke balkon.
e)(o
Shixun berdiri di ambang pintu kamar Sehun dan Krystal. Sehun sedang tidur disana, tampak begitu tenang bagaikan putri tidur. Setelah yang lain pergi ke pertemuan, Sehun dan Krystal mengajak Shixun, Kris, Tao, dan Luhan menonton film yang disediakan disana sebagai hiburan. Tapi baru 30 menit Sehun sudah tertidur. Krystal menyuruh Shixun yang memindahkan Sehun ke kamar, yang lain tak boleh menyentuhnya.
Krystal mengatakan Sehun tertidur karena pengaruh obat, tapi tak menjelaskan lebih lanjut obat apa sebenarnya. Shixun tak bertanya lebih jauh, ia takkan bertanya pada Krystal, ia akan langsung bertanya pada Hyung-nya itu.
Istri kakaknya itu termasuk orang yang begitu aktif meski usia kandungannya sudah cukup tua. Ia bahkan pergi berjalan-jalan begitu Sehun tertidur pulas dikawal oleh Luhan dan Tao. Krystal baru kembali saat makan siang bersama dengan yang lainnya.
Shixun menghela nafas dan berbalik. Ia tahu ada sesuatu yang salah dalam diri Sehun. Tentu Shixun sadar Sehun begitu berubah dan itu semua karenanya, karena kebodohannya meninggalkan Sehun, berharap rasa cintanya pada Hyungnya itu bisa menghilang. Tapi ia benar-benar tak tahu dampak kepergiannya akan sebesar ini pada Sehun. Shixun tak pernah menyangka ia akan menyakiti Sehun sedalam ini.
Hyungnya itu selalu mandiri. Ya, tentu Shixun selalu protektif pada Sehun dan tak memperbolehkannya pergi sendirian, tapi bukan berarti Hyungnya adalah Tuan Putri yang selalu perlu dilayani setiap saat. Tidak sama sekali. Sehun selalu jadi sosok kakak terbaik, ia mandiri, bertanggung jawab, dan tidak egois. Ia sosok ideal bagi semua orang. Ya, Sehun selalu mandiri dan tak bergantung pada siapapun, itulah yang membuat Shixun berpikir kepergiannya dalam hidup Sehun takkan berdampak sebesar ini.
Sehun telah berubah. Sangat berubah. Tapi Shixun adalah adik kembarnya, ia bisa melihat jauh ke dalam diri Hyungnya. Seberapa jauhnya perbedaan Sehun yang dulu dan sekarang, Sehun tetaplah Sehun. Sehun selalu menerima Shixun kembali pulang meski ia tak bisa menunjukkannya dengan benar sekarang ini.
"Shixun adalah adik kembarku, tak ada yang bisa mengubah itu dan aku tak perlu menutupi apapun dari fakta itu."
"Benar. Dia sendiri yang mengatakan, bukan aku. Jadi terserah padaku apakah aku masih menganggapnya adikku atau bukan. Terserah padaku jika aku memperkenalkannya sebagai adikku atau bukan. Itu keputusanku, bukan kau, Suho."
Perkataan Sehun kembali terngiang dalam benak Shixun. Sehun masih menganggapnya adik. Meskipun 5 tahun lalu Shixun meninggalkannya dengan kejam, tapi Sehun tak pernah berhenti menganggap Shixun sebagai adik. Shixun tak tahu harus merasa bahagia karena itu atau merasa sedih karena telah menghancurkan Sehun hingga seperti ini.
Tentu perkataan Sehun di bandara kemarin mengejutkan Shixun, dimana Sehun mengutamakan Krystal daripada Shixun. Sejujurnya, Shixun benci itu. Ia tak bisa menerima itu. Shixun selalu menjadi prioritas utama Sehun. Selalu. Tapi Krystal kini menggantikannya dan Shixun masih belum bisa menerima itu dengan baik. Shixun yakin ada alasan lain kenapa Sehun mengutamakan Krystal, ada alasan lain. Dan Shixun akan menemukan jawabannya cepat atau lambat sebelum kembali merebut tahtanya di hati Sehun.
Shixun pergi ke dapur dan mengambil minuman. Krystal dan Baekhyun disana. Krystal sedang membuat susunya sedangkan Baekhyun menemaninya. Shixun kini menyadari Baekhyun, Seulgi, Suho, dan Kyungsoo selalu menjaga Krystal dengan baik terlebih jika Sehun tak ada disamping Krystal. Mereka sigap memastikan Krystal duduk dengan nyaman, berjalan dengan aman, dan melayani semua kebutuhan kecilnya. Melayani bagaikan Tuan Putri…
…seperti Shixun dulu selalu memperlakukan Sehun sebagai Tuan Putri.
Bedanya Sehun tak terlalu suka dilayani. Ia sempat marah pada Shixun karena Shixun membuat teman-teman Sehun melayani Sehun bahkan sampai membawakan tas dan buku-buku Sehun. Shixun terpaksa mengalah dan akhirnya mereka setuju dengan syarat Sehun tak boleh kemana-mana sendirian. Setidaknya harus ada satu orang yang mengawal menemaninya.
"Apa Sehun takkan ikut makan siang dengan kita?" tanya Baekhyun.
"Tidak, biarkan dia tertidur. Semalam ia mengalami gangguan tidur," jawab Krystal mencicipi susunya itu. "Ewh, ini tak seenak buatan Sehunnie atau Taeminnie. Bagaimana cara mereka membuat sebenarnya?" protes Krystal sebal.
Baekhyun tersenyum sambil menggeleng sebelum mengambil kotak susu Krystal dan mulai membuatkan yang baru. "Apa Sehun mulai bermimpi buruk lagi?" tanya Baekhyun pelan.
Krystal tampak terkejut mendengar itu. "Kau tahu?"
"Sehun pernah bermimpi buruk ketika kami dalam perjalanan bisnis 4 tahun lalu. Sekitar 2 atau 3 kali ia pernah bermimpi buruk. Ia menjerit, berteriak, dan menangis. Aku dan Seulgi sama sekali tak tahu harus berbuat apa, Krys. Setiap kami mendekat, setiap aku hendak menyentuhnya, ia menjerit semakin keras. Seakan akulah yang menyiksanya," kata Baekhyun lirih. "Itu adalah mimpi buruk bagiku, Krys. Melihat Sehun tersiksa dalam mimpinya dan tak bisa berbuat apa-apa. Pada akhirnya Seulgi memanggil dokter dan beberapa perawat, mereka menyuntikkan Sehun obat penenang."
Krystal meremas lengan Baekhyun pelan, seakan mengatakan ia mengerti perasaan Baekhyun. "Sehun tak tahu ini, kan? Ia tak tahu kau dan Seulgi pernah melihatnya melewati mimpi buruk itu," tanya Krystal lirih.
Baekhyun menggeleng. "Kami selalu bilang bahwa ia pingsan. Kami tak bilang soal mimpi buruk itu," jawab Baekhyun.
Krystal tersenyum. "Terima kasih," bisiknya lega.
"Hanya itu yang bisa kulakukan untuknya," kata Baekhyun pelan.
Shixun berbalik pergi dari dapur, ia merasa dirinya sudah cukup banyak mendengar. Ia hanya perlu waktu untuk berpikir. Memproses semua yang terjadi tentang Sehun. Shixun memutuskan untuk pergi ke balkon dan mendinginkan kepalanya.
"Boleh aku duduk disini?" tanya Krystal membuyarkan lamunan Shixun.
Shixun hanya mengangguk dan membantu istri Hyungnya itu untuk duduk. Tak lama Suho keluar dengan selimut. "Kau tak boleh kedinginan," kata Suho tersenyum.
Shixun mengambil selimut itu dari tangan Suho dan menyelimuti kaki Krystal. Ia mengabaikan tatapan protes Suho dan mengangguk ketika Krystal mengumamkan 'terima kasih'. Suho tak mengatakan apa-apa dan kembali masuk ke dalam.
"Sudah lama Sehun tak bermimpi buruk, kau tahu," kata Krystal memulai, memandang lurus ke depan. "Aku ingat terakhir ia mimpi seperti kemarin malam adalah 3 tahun lalu."
Shixun hanya bergumam tanda ia mendengarkan.
"Aku akan jujur padamu, Shixun," kata Krystal kali ini lebih tegas dan menatap Shixun. "Sejujurnya, ketika aku melihatmu dan yang lainnya dibandara, aku berharap kalian bisa mengubah Sehun kembali seperti yang dulu. Aku tak benci kalian, sama sekali tidak. Okay, awalnya aku benci kalian karena meninggalkan Sehun begitu saja, tapi Sehun selalu mengingatkankan bahwa setiap orang bebas menentukan masa depannya sendiri. Ia bisa menerima keputusanmu tanpa membencimu atau yang lain, jadi kenapa aku tidak? Jadi, ya, aku tak membencimu. Aku tahu kebebesanmun adalah hakmu."
"Sehun terlihat tak senang bertemu dengan kami," komentar Shixun datar.
"Tidak siap bukan berarti tak senang," koreksi Krystal. "Yang terluka karena ditinggalkan bukan hanya Sehun, Shixun-ah. Kau jelas sadar bagaimana Suho menghindari Kai. Suho menyalahkan Kai atas apa yang terjadi pada Jenguk Grup meski itu bukan salah Kai yang hanya ingin bebas. Dan bagaimana Baekhyun benci pada kalian karena meninggalkan Sehun begitu saja. Dan Jiejie yang Sehun maksud adalah Victoria-unnie, Unnie tak ingin bertemu dengan Kris, Luhan, dan Tao—"
"Intinya kalian tak menyukai keberadaan kami. Aku mengerti," potong Shixun tak sabar.
"Intinya, keberadaan kalian berdampak emosional pada kami semua," balas Krystal mengoreksi. "Dan mereka disini untuk pekerjaan, Shixun. Ini adalah pekerjaan yang besar dan mereka harus fokus, disatu sisi dampak emosional yang kalian sebabkan pada mereka bukanlah sesuatu yang bisa diabaikan. Sehun, sebagai CEO, merasa bertanggungjawab atas itu semua. Apa kau mengerti?"
Shixun terdiam dan memproses omongan itu. Ia kini menyadari, tanggung jawab Sehun, prioritas Sehun, sudah jauh berbeda dari 5 tahun lalu ketika ia meninggalkannya. Dulu Sehun baru lulus kuliah, prioritasnya hanyalah Shixun dan nilai-nilai akademiknya. Tapi sekarang, Hyungnya adalah seorang CEO Huntak Grup. Prioritasnya adalah Huntak Grup termasuk bawahannya dan juga Krystal. Keadaan sudah terlalu berubah dan Shixun baru menyadari ini sekarang.
"Jadi apa? Kau ingin mengusir kami dan mencari pengawal baru?" tanya Shixun dingin, tak ingin mengakui bahwa ia yang salah disini.
"Awalnya, ya. Terlebih aku melihat dampak keberadaan kalian pada psikis Sehun. Sehun memang tak menunjukkannya ketika ia sadar, tapi itu terlihat jelas ketika ia tak sadar. Dalam tidurnya, misalnya. Keberadaan kalian memicu mimpi buruknya, Shixun, dan itu tak baik bagi Sehun. Itu sebabnya aku meminta ia mengganti kalian tadi pagi," kata Krystal.
Shixun merasa wajahnya memucat mendengar itu. Sehun bereaksi buruk ketika berada di dekatnya? Apakah ini artinya ia takkan bisa berada disamping Hyungnya lagi? Apakah ini artinya seharusnya tak pernah kembali ke dalam kehidupan Sehun?
"Tapi Sehun menolaknya," lanjut Krystal membuyarkan pikiran Shixun. "Sehun mengatakan; 'Hubunganku dengan Shixun memang takkan bisa kembali seperti dulu karena Shixun tak menginginkannya, tapi aku takkan melewatkan kesempatan 10 hari dalam hidupku untuk bisa melihat Shixun lagi. Bukan hanya Shixun tapi juga yang lainnya.'. Itulah yang ingin kusampaikan padamu, Shixun. Waktu kalian mungkin hanya 10 hari, tapi tolong jangan sia-siakan itu. 10 hari bersamamu sangat berharga bagi Sehun," kata Krystal menatap Shixun.
Shixun terdiam mendengar itu. Tebakannya benar, seberapa jauhpun Sehun berubah di dalamnya tetaplah Sehunnya. Malaikatnya. Orang yang paling menyayanginya.
"Itu saja. Jangan sia-siakan waktumu, Shixun," kata Krystal sambil bangkit berdiri lalu masuk ke dalam.
e)(o
ANOTHER CLUE HAS BEEN DROPPED!!! hehehehe
Makasih banyak yg udah dukung dan kasih review meski chap sebelumnya full XunHun. Hehe
Di chap ini banyak dibahas kondisi Sehun yang sebenarnya. Dan perasaan Sehun ke Kai pas kejadian Kai nyium Sehun di chap. 4.
Semoga clue lain dan beberapa penjelasannya udah cukup jelas hehehe.
Jadi udah paten #teamKaiHun or #teamXunHun(?) Wkkwkwkwk
Ngomong-ngomong karena cerita ini banyak sedih-dramanya daripada yg kiyowo kiyowonya, gimana kalau aku bikin cerita baru "AR Drabbles" yang isinya KaiHun-XunHun?? Setuju gak??
Oh yg terakhir: MAKASIIIIH BANYAK REVIEWNYAAAA :DD
Semoga gak bosen-bosen ngereview ya~~ dan aku juga masih belajar bikin KaiHun momennya makin romantis hehehehehe
P.S: Chap berikutnya Sehun konfrontasi Kai soal ciuman mereka EAAAK :D
-willis.8894
